cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Kurikulum Merdeka untuk pemulihan krisis pembelajaran Tono Supriatna Nugraha
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.45301

Abstract

Transformation is natural and will always happen, meaning everything in life will continue to experience transformation, including education. The learning crisis, accompanied by the emergency condition of the COVID-19 pandemic, has dramatically impacted transformation in education in Indonesia. Kurikulum Merdeka, as one of the Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) efforts to overcome the learning crisis after the COVID-19 pandemic, has begun to be designed and implemented in ready schools. The article examines government policies regarding implementing the Kurikulum Merdeka, which is given to education units as an additional option to restore learning during 2022-2024. Implementing the Kurikulum Merdeka focuses on using technology and the learning community to share best practices between teachers, students, and academics. Various strategies and platforms have been developed to implement the Merdeka Curriculum, so it is hoped that all stakeholders involved can use all about the Kurikulum Merdeka optimally to restore learning after the COVID-19 pandemic. AbstrakPerubahan merupakan sesuatu yang alamiah dan selalu akan terjadi, artinya segala sesuatu dalam kehidupan ini sudah pasti akan terus mengalami perubahan, termasuk dalam dunia pendidikan. Krisis pembelajaran yang telah terjadi diiringi dengan kondisi kedaruratan pandemi COVID-19 sangat berdampak terhadap perubahan pendidikan di Indonesia. Kurikulum Merdeka sebagai salah satu upaya dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) untuk mengatasi krisis pembelajaran pasca pandemi COVID-19 mulai dirancang untuk diimplementasikan pada sekolah-sekolah yang sudah siap. Artikel mencoba mengkaji kebijakan pemerintah mengenai pengimplementasian Kurikulum Merdeka yang diberikan kepada satuan pendidikan sebagai opsi tambahan dalam rangka melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Implementasi Kurikulum Merdeka ini berfokus pada pemanfaatan teknologi dan komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik antara guru, siswa, dan akademisi. Berbagai strategi dan platform telah banyak dikembangkan untuk implementasi Kurikulum Merdeka, sehingga diharapkan seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengimplementasian ini dapat memanfaatkannya dengan optimal sebagai upaya untuk pemulihan pembelajaran pasca pandemi COVID-19.Kata Kunci: Ketertinggalan pembelajaran; krisis pembelajaran; Kurikulum Merdeka; pemulihan pembelajaran
Evaluasi Kurikululum Terpadu dalam Mengembangkan Karakter Peserta Didik S. Sudayat; Ishak Abdulhak
Inovasi Kurikulum Vol 12, No 2 (2015): Inovasi Kurikulum, August 2015
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v12i2.48232

Abstract

Background ofthis study is that social problems of increasingly widespread phenomenon ofmoral decline among learners, especially in primary schools in West Java province, for example: the habit ofcheating, skipping school, pemalakkan, brawl, and smoke due to the practice ofeducation in schools is not integrated in the deveiopment of the human person as a whole . This study aims to assess the integrated curriculum SDIT in developing the character of learners in the province of West Java dimensional views of the philosophy of education, community support, curriculurn documents, the learning process and learning outcomes as a unified whole and integrated. This study uses a model evaluation CIPP (Context, Input, Process, and Product) by using purposive randorn sampling and analysis techniques combined (rnixed methods). The results of the analysis indicate that: First: the cornerstone of the philosophy of an integrated curriculum that is used SDIT has the right to develop the character of learners in the province of West Java, Second: the integrated curriculum documents used SDIT effective in developing the character of learners in the province of West Java, Third: integrated curriculum leaming process SDIT effective in developing the character of learners in West Java, Fourth: support means infrastructures in an integrated curriculum SDIT used effectively to develop the character of learners in the province of West Java. Fifth, the results ofan integrated curriculum that is used SDIT have developed the character of learners in West Java. Recommendations research in the form of context, input, process and results are given to Policy Makers, School Principal, Electric Education, Parents of Students and Further research.
Pengembangan E-Modul Sex Education sebagai penguatan pendidikan karakter pada mahasiswa Asnur Lidayni; A. Arnidah; Citra Rosalyn Anwar
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.45411

Abstract

The results of the initial observation of an online survey of students from the faculty of education representing the class of 2021 showed that when they hear the word sex, they are only introduced to their surroundings and get a lot of information about sex education via the internet. Of the 45 respondents from various media that were offered, they agreed that sex education could be taught through e-modules, and many did not even realize that sexual behavior reflects our character education. Researchers want to make e-modules (text, images, videos), and sex education must be equipped with character education. There has been no research on sex education as strengthening character education or in the form of E-Modules. The purpose of sexual education is not to arouse curiosity and want to try sexual relations between adolescents but to prepare adolescents about sexuality and its consequences if it is done without complying with the rules of law, religion, and customs as well as one's mental and material readiness. This development research refers to the steps of the development model S. Thiagarajan et al., 3D models, which consist of three stages: definition, design, and development. AbstrakHasil observasi awal survei online mahasiswa fakultas ilmu pendidikan perwakilan angkatan 2021 bahwa dalam mendengar kata sex hanya diperkenalkan oleh lingkungan sekitar dan banyak mendapatkan informasi mengenai sex education melalui internet. Dari 45 responden berbagai media yang ditawarkan menyetujui sex education dapat diajarkan melalui e-modul bahkan banyak yang belum menyadari bahwa perilaku seksual mencerminkan pendidikan karakter kita. Peneliti ingin membuat dalam bentuk e-modul (teks, gambar, video) dan sex education harus dilengkapi dengan pendidikan karakter dikarenakan sebelumnya belum ada membuat penelitian sex education sebagai penguatan pendidikan karakter maupun dalam bentuk E-Modul. Tujuan dari pendidikan seksual bukan untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi untuk mempersiapkan Remaja mengetahui tentang seksualitas dan konsekuensinya jika dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta mental dan materi kesiapan seseorang, Penelitian pengembangan ini mengacu pada langkah-langkah model pengembangan S. Thiagarajan, et.al., model 3D yang terdiri atas tiga tahap yaitu: pendefinisian (define), tahap Perancangan (design), dan tahap pengembangan (development).Kata Kunci: Pendidikan karakter; pendidikan seks; perguruan tinggi; sumber belajar.
Pendidikan Profesi Guru untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Syamsidah Lubis
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 2 (2020): Inovasi Kurikulum, August 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v17i2.51713

Abstract

Learning innovation by vice principal of curriculum at integrated Islamic high school N. Nirmalasari; Sofyan Iskandar
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.53845

Abstract

Based on the functions and objectives of National Education in Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 schools as educational institutions that carry out formal education have an essential role in realizing the implementation of national education following general provisions for organizing education based on Pancasila and the 1945 Constitution rooted in religious values, Indonesian national culture and responsive to the demands of changing times. Learning as a form of curriculum implementation must be designed considering the elements of novelty and adapted to developments or conditions in society. This renewal in learning can be called an innovation. So, leadership at SMA IT Nurul 'Ilmi Jambi needs a strategy for learning innovation. This study uses a qualitative research method, a case study approach. The procedure for determining the sample is Combination purposeful sampling. Data through interview technique triangulation, observation, and document collection were then analyzed through data reduction, interpretation, and conclusion. Based on the results of the research, it was found that several forms of learning innovation by the vice principal in the field of curriculum at SMA IT Nurul 'Ilmi Jambi were implementing technology-based learning, combining the national curriculum and the Integrated Islamic School Network (JSIT) curriculum, the learning methods used were exciting and currently, conducting outing classes, language strengthening programs and by implementing Blended Learning. AbstrakBerdasarkan fungsi dan tujuan dari Pendidikan Nasional dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan secara formal memiliki peran penting dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan nasional yang sesuai ketentuan umum untuk menyelenggarakan pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pembelajaran sebagai bentuk implementasi dari sebuah kurikulum harus dirancang dengan mempertimbangkan unsur kebaruan dan disesuaikan dengan perkembangan ataupun kondisi yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Pembaharuan dalam pembelajaran ini dapat disebut sebagai sebuah inovasi. Maka dibutuhkan strategi dalam melakukan inovasi pembelajaran oleh kepemimpinan di SMA IT Nurul ‘Ilmi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan studi kasus. Dengan Prosedur penentuan sampel adalah Combination purposeful sampling. Data melalui triangulasi teknik wawancara, observasi dan pengumpulan dokumen selanjutnya dianalisis melalui reduksi data, interpretasi dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa beberapa bentuk inovasi pembelajaran oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum di SMA IT Nurul ‘Ilmi Jambi adalah: menerapkan pembelajaran berbasis teknologi, mengombinasikan antara kurikulum nasional dan kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), metode pembelajaran yang digunakan menarik dan kekinian, melakukan outing class, program penguatan bahasa serta dengan menerapkan Blended Learning.Kata Kunci: Inovasi pembelajaran; inovasi pendidikan; kepemimpinan wakil kepala sekolah
The effectiveness socialization of the Kurikulum Merdeka independently change in high schools Siak District Wenny Fitria; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.53644

Abstract

In the 2022/2023 school year, the Ministry of Education, Culture, and Research provides an opportunity for schools not Sekolah Penggerak to implement the Kurikulum Merdeka independently. Government support for schools that implement the IKM independently change is provided primarily by the Platform Merdeka Mengajar (PMM). In PMM, all information about the Kurikulum Merdeka is available and can accessed by teachers and schools. Socialization of the Kurikulum Merdeka is no longer provided through training and education, but teachers and schools learn independently by accessing the platform. Although PMM is a breakthrough in the world of Indonesian education, the implementation at the education unit level still reaps the pros and cons. There are still many teachers in Indonesia who are unaware of this government program regarding PMM. Using a qualitative method, the author wants to know how the effectiveness of the socialization of the Kurikulum Merdeka through PMM in schools in Siak District that implement the Kurikulum Merdeka through independent change. The results showed that using PMM in these schools was not optimal, teachers preferred that the socialization be carried out face-to-face with a capabilities trainer. AbstrakPada tahun ajaran 2022/2023 Kemendikbudristek memberi kesempatan kepada sekolah yang bukan Sekolah Penggerak untuk menerapkan Kurikulum Merdeka secara mandiri. Dukungan utama yang diberikan pemerintah kepada sekolah yang menerapkan IKM jalur mandiri adalah dengan menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Di PMM tersedia semua informasi tentang Kurikulum Merdeka yang bisa diakses oleh guru dan sekolah. Sosialisasi mengenai Kurikulum Merdeka tidak lagi diberikan melalui diklat-diklat dan pelatihan berjenjang, melainkan guru dan sekolah belajar mandiri dengan mengakses platform tersebut. Walaupun PMM merupakan terobosan baru di dunia pendidikan Indonesia, tetapi penerapan dan penggunaannya di lapangan, masih menuai pro dan kontra. Masih banyak guru-guru di Indonesia yang belum mengetahui program pemerintah mengenai PMM ini. Dengan menggunakan metode kualitatif, penulis ingin mengetahui bagaimana efektivitas sosialisasi Kurikulum Merdeka melalui PMM di sekolah-sekolah di Kabupaten Siak yang menerapkan Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri berubah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PMM di sekolah-sekolah tersebut belum maksimal, masih banyak guru yang tidak mengetahui keberadaan PMM tersebut, guru-guru lebih memilih sosialisasi dilakukan secara tatap muka dengan narasumber yang mempunyai kapabilitas di bidangnya.Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; Platform Merdeka Mengajar; sosialisasi Kurikulum Merdeka
Development of the French language curriculum for special purposes (Français Sur Objective Spécifique/ FOS) in the field of tourism through a Functional Approach Lina Syawalina
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.54257

Abstract

The research entitled "Development of the French Language Curriculum for Specific Purposes (Français sur Objectif Spécifique/FOS) in the Field of Tourism through a Functional Notional Approach'' The research method is a mixed methodological design which combines two approaches at once, namely the qualitative and the quantitative approach. This research aims to create an FOS Curriculum Development Design and describe student needs for the French Tourism course. The test results for the two language skills, Written Production (writing) and Oral Production (speaking), are not used to assess the student's abilities. Still, the test results are only supporting data to determine the effectiveness of the FOS program based on a functional notional approach in the Travel Management Study Program of the Polytechnic Institute of Tourism NHI Bandung. AbstrakPenelitian yang berjudul " Pengembangan Kurikulum Bahasa Prancis untuk Tujuan Khusus (Français sur Objectif Spécifique/ FOS) Bidang Kepariwisataan melalui Pendekatan Notional Fungsional’’ Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode mixed methodology desing yang menggabungkan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian bertujuan untuk Membuat Desain Pengembangan Kurikulum FOS dan mendeskripsikan kebutuhan mahasiswa terhadap mata kuliah Français du Tourisme.Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi, kuesioner, studi pustaka dan tes dengan populasi dan sampel penelitian adalah karakteristik mahasiswa semester 3 Program Studi Manajemen Pengatur Perjalanan Jurusan Manajemen Bisnis Perjalanan Politeknik Pariwisata-NHI Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Desain Kurikulum FOS bidang kepariwisataan yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan efektif. Hasil tes dua keterampilan bahasai production écrite (menulis) dan production orale (berbicara) bukan untuk menilai kemampuan mahasiswa tetapi hasil tes hanya sebagai data pendukung untuk mengetahui efektivitas Kurikulum FOS berdasarkan pendekatan notionel fungsional di Program Studi Managemen Pengatur Perjalanan Politeknik Pariwisata-NHI Bandung.Kata Kunci: Français Sur Objectif Spécifiqu;: French For Specific Purposes; Kurikulum FSP/FOS; Metodologi Fsp/Fos.
Teacher strategy in curriculum development at SMP Negeri 1 Sawoo Ponorogo Astin Diassari; Dana Ainal Hasan
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.52939

Abstract

Current curriculum development is practical, static, and materialistic. There may be delays in conducting educational programs in schools. To design a curriculum, it is first necessary to understand the various trends that characterize life in the global era. The purpose of this study was to find out the strategies used by teachers in developing the curriculum at SMP Negeri 1 Sawoo. The method used in this research is qualitative research with data collection techniques through interviews and accompanied by literature studies from various relevant sources. At the same time, the data obtained is data in SMP Negeri 1 Sawoo. The data source or informant in this study was the deputy head of the curriculum. The teacher must provide the results in developing the ability to implement the curriculum, namely planning, developing, and evaluating. The competencies used are pedagogic, professional, personality, and social competencies. These obstacles are influenced by less than optimal time because some teachers are dissatisfied with teaching methods that make students inactive and lack time to be effective. After observing and discussing that, this study aims to reveal how successful the strategies implemented by teachers are in developing the current curriculum at SMP Negeri 1 Sawoo in an education system that can answer future lives. AbstrakPengembangan kurikulum saat ini bersifat praktis, statis dan materialistis. Mungkin ada keterlambatan dalam melakukan program pendidikan di sekolah. Untuk merancang kurikulum, terlebih dahulu perlu memahami berbagai tren yang menjadi ciri kehidupan di era global. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kurikulum yang ada di SMP Negeri 1 Sawoo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan data yang ada di SMP Negeri 1 Sawoo melalui wawancara yang dilakukan dengan waka kurikulum pada tanggal 7 November 2022 dan disertai dengan studi literatur dari berbagai sumber yang relevan. Hasilnya menunjukkan bahwa yang harus dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kemampuan untuk mengimplementasikan kurikulum, yaitu merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi. Kompetensi yang digunakan adalah kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Hambatan tersebut dipengaruhi oleh waktu yang kurang optimal karena beberapa guru yang kurang puas dengan metode pengajaran yang membuat siswa tidak aktif, tidak memiliki waktu yang cukup efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap seberapa sukses strategi yang diterapkan guru dalam mengembangkan kurikulum saat ini di SMP Negeri 1 Sawoo dalam suatu sistem pendidikan yang dapat menjawab kehidupan masa depan.Kata Kunci: Guru; materialistis; pendidikan; pengembangan kurikulum; strategi.
Analysis of Nationalism in Kurikulum Merdeka Gupi Rohman Nurmansyah
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.54167

Abstract

Nationalism is related to problems related to many people in a nation and country, such as corruption, radicalism, discrimination, and racism in culture. The concept of nationalism, according to experts from different countries, is almost entirely the same, as differences will not make a problem. Especially in Indonesia, the concept of nationalism has a critical position, even entering the realm of education. The Kurikulum Merdeka emphasizes Profil Pelajar Pancasila, who follows all the precepts in their design on the competence of graduates, but whether the five precepts are already in the mapping of the Kurikulum Merdeka needs to be carried out in-depth analysis. This research uses a qualitative approach to the literature study, which analyzes the Kurikulum Merdeka on Profil Pelajar Pancasila. The result is that the third precept, namely "Unity of Indonesia", which has the concept of nationalism, has not yet fully emerged comprehensively. So, it is necessary to map the concept of nationalism related to the material to the strategy, especially on the idea of the third precept, namely "Unity of Indonesia" in all disciplines of study for students. AbstrakNasionalisme dianggap berhubungan terhadap permasalahan yang berkaitan dengan banyak orang pada sebuah bangsa maupun negara seperti korupsi, radikalisme, diskriminasi, rasisme hingga budaya. Konsep nasionalisme menurut para ahli dan dari berbagai negara hampir sepenuhnya sama, adapun perbedaan tidak akan membuat sebuah permasalahan. Khususnya Indonesia konsep nasionalisme memiliki kedudukan yang sangat penting, bahkan masuk dalam ranah pendidikan. Kurikulum merdeka yang menekankan profil pelajar Pancasila yang mengadopsi semua sila dalam desainnya pada kompetensi lulusan, namun apakah ke lima sila sudah ada dalam pemetaan kurikulum merdeka perlu dilakukan analisis yang mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka, yang menganalisis kurikulum merdeka pada profil pelajar Pancasila. Hasilnya bahwa, sila ke-tiga yaitu “Persatuan Indonesia” yang terdapat konsep nasionalisme di dalamnya belum sepenuhnya muncul secara komprehensif. Sehingga perlu adanya pemetaan konsep nasionalisme terkait materi hingga strateginya khususnya pada konsep sila ke-tiga yaitu “Persatuan Indonesia” pada semua disiplin kajian untuk siswa.Kata Kunci: Kurikulum; Kurikulum Merdeka; nasionalisme; Profil Pelajar Pancasila
Study of Ki Hadjar Dewantara's educational thinking and its relevance to Kurikulum Merdeka Aditya Anugrah Dwipratama
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 1 (2023): Inovasi Kurikulum, February 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i1.54416

Abstract

Education is essential in advancing a nation, especially in building human resources. Teaching and valuable education for shared life is to liberate humans as community members. The Ministry of Education and Culture issued the Kurikulum Merdeka to restore learning due to the COVID-19 pandemic. Curriculum development must consider several foundations, such as philosophical, psychological, sociological, and science and technology foundations. The foundation of the curriculum is essential, and it is intended that the curriculum compiled has a firm footing and foundation. In its journey, the development of the independent curriculum was influenced by various ideas from educational figures, one of which was Ki Hadjar Dewantara. The concepts of Ki Hadjar Dewantara have influenced education development in Indonesia, including curriculum development. This article examines the thoughts of Ki Hadjar Dewantara and their relevance to the independent curriculum. Ki Hadjar Dewantara's ideas are still relevant today in the independent curriculum. Ki Hadjar Dewantara's ideas are used as philosophical, theoretical, and learning principles in the Kurikulum Merdeka. AbstrakPendidikan memegang peran penting dalam memajukan suatu bangsa, terutama dalam membangun sumber daya manusia pada sebuah bangsa. Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk peri-kehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota dari persatuan (masyarakat). Kemendikbud mengeluarkan kurikulum merdeka sebagai upaya pemulihan pembelajaran akibat adanya pandemi Covid-19. Pengembangan kurikulum harus memperhatikan beberapa landasan seperti landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis dan landasan IPTEKS. Landasan kurikulum merupakan hal yang sangat penting, hal tersebut bertujuan agar kurikulum yang disusun memiliki pijakan dan landasan yang kuat. Pada perjalanannya pengembangan kurikulum merdeka dipengaruhi oleh berbagai gagasan tokoh pendidikan salah satunya Ki Hadjar Dewantara. Gagasan pemikiran Ki Hadjar Dewantara telah mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia termasuk dalam pengebangan kurikulum. Artikel ini menelaah pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya pada Kurkulum Merdeka. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara masih relevan sampai saat ini, pada kurikulum merdeka pemikiran Ki Hadjar Dewantara digunakan sebagai landasan filosofis, landasan teoritis dan prinsip pembelajaran dalam kurikulum merdeka.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara; Kurikulum Merdeka; landasan pengembangan kurikulum

Page 10 of 30 | Total Record : 295