cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Introducing Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA): Method and challenges of teaching Indonesian as a Foreign Language (IFL) Tira Nur Fitria
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.60374

Abstract

This research describes the method and challenges in teaching Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) or Indonesian as a Foreign Language (IFL) to foreign learners. Effective teaching BIPA relies on various factors, including teaching methods. BIPA teachers should consider effective teaching methods for learners’ language acquisition. Teachers can build a pleasant initial atmosphere in the BIPA class using direct methods, grammar translation, audio-linguistic, community-based learning, and communicative approaches. Several obstacles may occur while teaching BIPA. The internal aspects are the teacher, learners, teaching and learning process, media, and teaching materials. Indonesian learners’ challenges are pronunciation or spelling, limited practice time, self-confidence, student motivation or interest, age factors, personality or characteristics, and student abilities. Teachers’ challenges are related to teaching experience, low competence, and urgent needs of the teacher. The other obstacles are the availability of teaching materials in the textbooks, audio video, and additional online sources of BIPA teaching materials, time teaching, and BIPA curriculum. The external factors are inadequate educational support facilities and infrastructure, cross-cultural learning, different perspectives, students’ cultural and linguistic background, self-adaptation, heterogeneous class situations, search for cultural similarities, and students’ needs, environment, overseas administration, place of residence, weather, natural conditions, and geography of the country, even government policy. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan metode dan tantangan dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) atau Indonesian as a Foreign Language (IFL) kepada pembelajar asing. Pengajaran BIPA yang efektif bergantung pada berbagai faktor, termasuk metode pengajaran. Guru BIPA harus mempertimbangkan metode pengajaran yang efektif untuk pemerolehan bahasa pembelajar. Guru dapat membangun suasana awal yang menyenangkan di kelas BIPA dengan menggunakan metode langsung, tata bahasa terjemahan, audio-linguistik, pembelajaran berbasis masyarakat, dan pendekatan komunikatif. Beberapa kendala dapat terjadi selama pengajaran BIPA. Aspek internal adalah guru, peserta didik, proses belajar mengajar, media, dan bahan ajar. Tantangan pembelajar bahasa Indonesia adalah dalam pengucapan atau ejaan, waktu latihan yang terbatas, kepercayaan diri, motivasi atau minat siswa, faktor usia, kepribadian atau karakteristik siswa, dan kemampuan siswa. Tantangan guru terkait dengan pengalaman mengajar, rendahnya kompetensi guru, dan kebutuhan guru yang mendesak. Kendala lainnya adalah ketersediaan bahan ajar berupa buku teks, audio video, dan tambahan sumber online bahan ajar BIPA, waktu pengajaran, dan kurikulum BIPA. Faktor eksternal adalah sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang kurang memadai, pembelajaran lintas budaya, perbedaan perspektif, latar belakang budaya dan bahasa siswa, penyesuaian diri, situasi kelas yang heterogen, pencarian kesamaan budaya, dan kebutuhan siswa, lingkungan, administrasi luar negeri, tempat tempat tinggal, cuaca, kondisi alam, dan geografi negara, bahkan kebijakan pemerintah.Kata Kunci: Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing; Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing; BIPA; IFL; mengajar Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing
Infusion PCTS Syntax in the Implementation of the Middle School Science Curriculum Nia Kurniawati; Rudi Susilana; Budi Setiawan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62812

Abstract

Curriculum implementation is an important stage in supporting the success of a curriculum designed by educational institutions. This research aims to apply the PCTS syntax in one of the science learning materials in junior high schools. PCTS is a learning model that focuses on improving students' critical thinking abilities through solving contextual problems. The method used in this research is a qualitative method using a descriptive approach. Data was collected through document study. Data analysis techniques through reduction, presentation, and conclusion. The findings obtained are that the PCTS model is quite easy to apply to science learning as a form of curriculum implementation, and is very supportive of improving students' critical thinking through the PCTS syntax, especially in the last two steps of the syntax. The conclusion is that the PCTS model is believed to support the implementation of the Merdeka Science Curriculum for Middle Schools in improving the critical thinking of individual students through the infusion of PCTS model syntax in science learning at the middle school level. AbstrakImplementasi kurikulum merupakan tahapan penting dalam menunjang keberhasilan suatu kurikulum yang dirancang oleh institusi pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan syntax PCTS dalam salah satu materi pembelajaran IPA di SMP. PCTS merupakan model pembelajaran yang berfokus pada peningkatan kemampuan berfikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah kontekstual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui study dokumen. Teknik analisis data melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Temuan yang didapat yaitu model PCTS ini cukup mudah diaplikasikan kedalam pembelajaran IPA sebagai bentuk implementasi kurikulum, dan sangat mendukung terhadap peningkatan critical thinking siswa melalui syntax PCTS, khusunya pada dua langkah terakhir syntax tersebut. Kesimpulannya bahwa Model PCTS ini diyakini akan mendukung implementasi Kurikulum Merdeka IPA SMP dalam meningkatkan critical thinking siswa secara individu melalui infusi syntax model PCTS dalam pembelajaran IPA tingkat SMP.Kata kunci: Critical thinking; implementasi kurikulum; model PCTS; pembelajaran IPA
Integration of integrated Islamic school curriculum into Kurikulum Merdeka R. Rahmat
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63071

Abstract

Integrated Islamic Schools (SIT) is a unique entity specifically born in Indonesia at the same time as the Nurul Fikri Integrated Islamic Elementary School in Depok in 1993. This school model developed rapidly until 2003 when the Integrated Islamic Schools Network was declared, and more than 1000 schools were established throughout Indonesia. This research discusses the stages and layers in developing a typical curriculum for Integrated Islamic Schools. The research results show that integrated Islamic schools organize themselves, including organizing the curriculum to align with all applicable rules and regulations in Indonesia. On the other hand, it aligns with the established institutional vision. In this way, integrated Islamic schools carry out a curriculum development process. This development process is carried out through various stages and layers, namely through conceptual aspects to realize belief in the creator, aspects of subject matter containing religious knowledge (kauliyah) and worldly knowledge (kauniyah), as well as integration in implementation to create education that is academic, spiritual, ethics, and social. AbstrakIntegrated Islamic Schools merupakan entitas unik yang secara spesifik lahir di Indonesia bersamaan dengan hadirnya Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri di Depok pada tahun 1993. Model sekolah ini berkembang pesat, hingga tahun 2003 saat Jaringan Integrated Islamic Schools dideklarasikan telah tercatat lebih dari 1000 sekolah berdiri di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang tahapan dan lapisan yang dimaksud dalam konteks pengembangan kurikulum khas Integrated Islamic Schools. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekolah islam terpadu melakukan penataan dirinya termasuk menata kurikulum agar sejalan dengan seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia dan disisi lain sejalan dengan visi kelembagaan yang didirikan. Dengan demikian maka sekolah islam terpadu melakukan proses pengembangan kurikulum. Proses pengembangan ini dilakukan melalui berbagai tahapan dan lapisan, yaitu melalui aspek konseptual untuk mewujudkan keyakinan kepada pencipta, aspek materi pelajaran yang mengandung ilmu agama (kauliyah) maupun ilmu duniawi (kauniyah), serta integrasi dalam implementasi untuk menciptakan pendidikan yang bersifat akademis, spiritual, etika, dan sosial.Kata Kunci: Integrated Islamic Schools; kurikulum merdeka; kurikulum nasional; kurikulum terpadu; pengembangan kurikulum
A comparative curriculum analysis from the perspective of data science Adi Susanto; Dian Endang Lestari; Maulina Fakhrunnisa Salsanabila
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.66317

Abstract

The importance of data science in the mathematics curriculum at the elementary school level is to encourage data literacy from an early age and support the increasing demand for a data-literate society. This study aims to determine how and to what degree data science and related abilities are taught in Indonesian mathematics curricula, especially at the elementary school level. The research method used in this research is a qualitative research method with a literature study approach. Data was collected through documents obtained from the 2013 curriculum and Kurikulum Merdeka. The research results show that data material in the Kurikulum Merdeka has been given to students in phase A, or generally grades 1 and 2. However, in the 2013 curriculum, data material is given to grade 3 or phase B students. Moreover, the data material used in the Kurikulum Merdeka is explicitly related to data from many objects and data from measurements. In contrast, the 2013 curriculum relates to student data and their environment. Additionally, in representing data and material in the field of study, there are differences in the order between the curriculum of 2013 and the Kurikulum Merdeka. AbstrakPentingnya ilmu data dalam kurikulum matematika di tingkat sekolah dasar untuk mendorong literasi data sejak dini dan mendukung peningkatan permintaan masyarakat yang melek data. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami bagaimana dan sejauh mana pengetahuan dan keterampilan data dipelajari dalam kurikulum matematika di Indonesia utamanya di tingkat sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data dikumpulkan melalui instrumen dokumen yang diperoleh dari dokumen yang berkaitan dengan kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi data dalam kurikulum merdeka sudah diberikan kepada siswa pada fase A atau umumnya kelas 1 dan 2, namun dalam kurikulum 2013 materi data baru diberikan kepada siswa pada kelas 3 atau setara dengan fase B. Selain itu, materi data yang digunakan dalam kurikulum merdeka secara eksplisit terkait dengan data dari banyak benda dan data hasil pengukuran, sedangkan dalam kurikulum 2013 terkait data diri peserta didik dan lingkungannya. Tidak hanya itu saja, dalam merepresentasikan data dan juga materi bidang kajian, terdapat perbedaan urutan dalam kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka.Kata Kunci: Ilmu data; kurikulum Matematika; sekolah dasar; studi komparatif.
The development of student’s soft skills in Tutorial Webinar (Tuweb) at Universitas Terbuka A. Afriani; Paulina Pannen; Sri Dewi Nirmala; I. Isfarudi; Sendi Ramdhani
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.62881

Abstract

This study aims to see the development of student soft skills in online learning at Universitas Terbuka (UT). The case study focused on postgraduate students at UT. The soft skills aspects are teamwork and communication in webinar tutorials (Tuweb) at the UT Postgraduate Program. The selected two aspects departed from the results of previous research, which observed the development of student soft skills in several aspects. Two aspects stand out in learning, namely teamwork and communication. The data collection instrument used was Focused Group Discussion (FGD). Data analysis uses content analysis. An important result of the research is that the two aspects of students' soft skills on Tuweb have developed as expected in online learning at UT. This result is an interesting reason for students to study at UT, considering that UT conducts online learning. Students' ability develops not only from the aspect of hard skills but also from the aspect of soft skills. The study's findings suggest that online learning can be an effective way for students to develop their soft skills.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melihat perkembangan soft skill mahasiswa dalam pembelajaran daring di Universitas Terbuka (UT). Studi kasus berfokus pada mahasiswa pascasarjana di UT. Aspek soft skill yang dilihat adalah aspek kerjasama tim dan komunikasi dalam tutorial webinar (Tuweb) di Program Pascasarjana UT. Dua aspek yang dipilih berangkat dari hasil penelitian sebelumnya yang mengamati perkembangan soft skill mahasiswa pada beberapa aspek. Ada dua aspek yang menonjol dalam pembelajaran, yaitu kerjasama tim dan komunikasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah Focused Group Discussion (FGD). Analisis data menggunakan content analysis. Hasil penting dari penelitian ini adalah pengembangan kedua aspek soft skill mahasiswa pada tuweb telah berkembang sesuai dengan yang diharapkan dalam pembelajaran daring di UT. Hasil tersebut menjadi alasan menarik mahasiswa untuk kuliah di UT, mengingat UT melaksanakan pembelajaran secara daring. Kemampuan peserta didik berkembang tidak hanya dari aspek hard skill saja tetapi juga dari aspek soft skill. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran online dapat menjadi cara yang efektif bagi siswa untuk mengembangkan soft skill mereka.Kata Kunci: Kerjasama; komunikasi; soft skill; tutorial online; tutorial webinar
Teachers' perceptions of media literacy in Junior High School Ahmad Fajar Fadlillah; Mohammad Ali; Asep Herry Hernawan; Cepi Riyana
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.61704

Abstract

Teachers play an essential role in the success of school media literacy programs. This study analyzes teachers' current perceptions of media literacy competence in junior high schools in West Java, Indonesia. Descriptive research methods have been used to describe and summarize data using statistical techniques. The sample consisted of 381 respondents obtained using a purposive sampling technique. Data collection was obtained from questionnaires distributed through online platforms. The results analyze teachers' perceptions of their knowledge, skills, and attitudes towards media literacy. Teachers understand this concept strongly, recognizing that it goes beyond traditional literacy concepts, including reading and writing. Expertise is also demonstrated in accessing various forms of media. However, media skills are still relatively weak in content analysis and integration into teaching practice because teachers lack the necessary skills to integrate concepts into their teaching practice effectively. A particularly positive attitude towards this concept, recognizing the ability to equip students with the 21st-century skills necessary for today and the future. The research implications describe their literacy conditions as a basis for developing media literacy education. AbstrakGuru memegang peranan penting dalam keberhasilan program literasi media di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru saat ini terhadap kompetensi literasi media di sekolah menengah pertama di Jawa Barat, Indonesia. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan dan merangkum data dengan menggunakan teknik statistik. Sampel berjumlah 381 responden yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data diperoleh dari kuesioner yang disebar melalui platform online. Hasilnya menganalisis persepsi guru saat ini mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka terhadap literasi media. Para guru memiliki pemahaman yang kuat tentang konsep ini, menyadari bahwa konsep ini melampaui konsep literasi tradisional yang mencakup membaca dan menulis. Keahliannya juga ditunjukkan dalam mengakses berbagai bentuk media. Namun, keterampilan media masih relatif lemah dalam bidang analisis isi dan integrasi ke dalam praktik mengajar karena guru kurang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk secara efektif mengintegrasikan konsep ke dalam praktik mengajar mereka. Sikap yang sangat positif terhadap konsep ini, mengakui kemampuan membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21 yang diperlukan untuk saat ini dan masa depan. Implikasi penelitian tersebut menggambarkan kondisi literasi mereka sebagai landasan dalam mengembangkan pendidikan literasi media.Kata Kunci: Literasi media; persepsi guru; sekolah menengah pertama
Eco-literacy components on Kurikulum Merdeka: 5th-grade elementary school’s IPAS textbook analysis Kartika Nofiyanti; Yulia Maftuhah Hidayati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64029

Abstract

The study was conducted to analyze eco-literacy components in Kurikulum Merdeka, especially those contained in IPAS textbooks for grade 5th elementary school students, to facilitate the development of students' environmental literacy skills. The method for this study uses a qualitative approach, with data collection using content analysis techniques. Test the validity of the data using an expert judgment approach. The research finding that the six components of eco-literacy have been included in Kurikulum Merdeka, in the IPAS textbook for grade 5th elementary school students. There are many Cognitive Knowledge components and Knowledge of Environmental Issues components in books, but the Affection components, Ecological and Natural History knowledge components, Socio-political Knowledge components, and Environmentally Responsible Behavior (ERB) components still receive less attention. The results of this study from the analysis of eco-literacy components suggest that there should be further study and development regarding eco-literacy-based learning media to support eco-literacy education in Indonesia. AbstrakKajian ini dilakukan guna menganalisis komponen ekoliterasi pada Kurikulum Merdeka, terutama yang termuat dalam buku teks Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) siswa kelas V Sekolah Dasar, sehingga dapat memfasilitasi pengembangan kecakapan literasi ekologi siswa. Jenis metode kajian ini adalah pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan datanya menggunakan desain analisis isi (Content Analysis). Metode keabsahan data yang digunakan adalah penilaian ahli (Expert Judgement). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa enam komponen ekoliterasi telah termuat pada Kurikulum Merdeka, yaitu di dalam buku teks IPAS siswa kelas V Sekolah Dasar. Komponen Pengetahuan Kognitif serta Komponen Pengetahuan terhadap Masalah dan Isu Lingkungan merupakan komponen yang banyak ditemukan di dalam buku teks. Namun, komponen Afeksi, Pengetahuan Ekologi dan Sejarah Alam, Pengetahuan Sosial-Politik, serta Komponen Perilaku Bertanggung Jawab terhadap Lingkungan masih belum banyak mendapatkan perhatian. Hasil dari kajian tentang analisis komponen ekoliterasi ini menyarankan adanya kajian dan pengembangan lebih lanjut terkait media pembelajaran berbasis ekoliterasi untuk mendukung pendidikan literasi lingkungan di Indonesia.Kata Kunci: Buku teks; ekoliterasi; Kurikulum Merdeka; Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Foundations of Kurikulum Merdeka development in elementary education (from a philosophical perspective) Abdul Rahman; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65859

Abstract

The mismatch of philosophical foundations often causes the ineffectiveness of curriculum implementation. Ideally, the philosophical basis of a curriculum guides its implementation direction. This research examines the philosophical foundation for developing primary education curricula, particularly the Kurikulum Merdeka. The method employed Library Research by sourcing data from nationally and internationally indexed journals. This study is crucial to understanding the philosophical basis underlying the "Kurikulum Merdeka" in primary education. Findings reveal diverse approaches in the learning process, reinforcement of specific values, and a unique focus in preparing students for complex societal life. The Kurikulum Merdeka in basic education is based on various philosophical schools ranging from idealism, realism, pragmatism, existentialism, and perennialism to progressivism, reconstructivism, postmodernism, and humanism in education to create a learning environment that is diverse, responsive, and relevant for students' overall development. By applying these streams, the curriculum aims to create a responsive and holistic learning platform that caters to students' needs in this ever-evolving era. Abstrak Ketidakefektifan implementasi kurikulum sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian landasan filosofi yang digunakan. Landasan filosofi sebuah kurikulum memperjelas arah implementasinya. Penelitian ini bertujuan mengamati landasan filosofis yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar, khususnya Kurikulum Merdeka. Metode pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pengambilan data dari jurnal yang terindeks nasional dan internasional yang memiliki kaitan dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini penting untuk memahami dasar filosofis yang melandasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar. Hasilnya menunjukkan beragam pendekatan dalam proses pembelajaran, penguatan nilai-nilai khusus, dan fokus unik dalam mempersiapkan siswa menghadapi masyarakat yang kompleks. Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar didasarkan pada berbagai aliran filsafat mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme, hingga progresivisme, rekonstruktivisme, postmodernisme, dan humanisme dalam pendidikan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang beragam, responsif, dan relevan bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan menerapkan aliran-aliran ini, kurikulum tersebut bertujuan menciptakan platform pembelajaran yang responsif dan holistik bagi kebutuhan siswa di era yang terus berkembang. Kata Kunci: Landasan filosofis; pengembangan kurikulum; pendididkan dasar
The need analysis of BIPA speaking materials and modules for foreign athletes Ray Ardi Putra; Nuny Sulistyani Idris; Suci Sundusiah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66856

Abstract

BIPA (Indonesian Language for Foreign Speakers) is very popular among the international community. This situation can be seen in many foreign students studying Indonesian. BIPA students come from various backgrounds, including business, health, military, academics, and sports. The BIPA sports learning module has also become necessary for BIPA sports students. This is driven by the interest of foreign athletes in studying BIPA, such as Danish badminton players who want to learn Indonesian. This research is an analysis of research and development (RnD) needs with the ADDIE concept, which will produce a product that is developed and validated for the world of education, intending to renew or innovate the development of existing educational products. There are five RnD research procedures with the ADDIE analysis concept: needs, planning and design, development, implementation, and evaluation. Analysis steps were carried out on BIPA students to get responses regarding Indonesian language needs. The type of product being developed is an open BIPA speaking skills module for BIPA athletes learners. However, this research analyzes the need to develop BIPA modules for athletes. Analysis of needs for developing BIPA modules is necessary for BIPA teachers to provide an overview of what modules should be developed. AbstrakBahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) saat ini sangat populer di kalangan masyarakat internasional. Situasi ini terlihat dari banyaknya pelajar luar negeri yang belajar bahasa Indonesia. Pemelajar BIPA berasal dari berbagai latar belakang, antara lain bisnis, kesehatan, militer, akademik, dan olahraga. Modul pembelajaran BIPA olahraga juga sudah menjadi kebutuhan bagi Pemelajar BIPA olahraga. Hal ini didorong oleh minat olahragawan mancanegara untuk mempelajari BIPA, seperti pebulu tangkis Denmark yang ingin belajar bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis kebutuhan penelitian dan pengembangan (RnD) dengan konsep ADDIE yang akan menghasilkan suatu produk yang dikembangkan dan divalidasi bagi dunia pendidikan, dengan tujuan memperbaharui atau menginovasi pengembangan produk pendidikan yang sudah ada. Terdapat lima prosedur penelitian RnD dengan konsep ADDIE, yaitu analisis kebutuhan, perancangan dan desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Langkah analisis dilakukan terhadap mahasiswa BIPA untuk mendapatkan tanggapan mengenai kebutuhan bahasa Indonesia. Adapun jenis produk yang dikembangkan yaitu modul ajar BIPA keterampilan berbicara bagi pembelajar BIPA olahragawan. Namun, dalam penelitian ini berfokus pada analisis kebutuhan pengembangan modul BIPA untuk para olahragawan.Analisis kebutuhan untuk pengembangan modul ajar BIPA menjadi suatu kebutuhan bagi para pengajar BIPA agar dapat memberikan gambaran seperti apa modul sebaiknya dikembangkan.Kata Kunci: Bahasa Indonesia; BIPA; modul; olahragawan
Development of Character Education digital book students class VIII SMPIT Al-Hikmah Pangkajene Sitti Arifah; A. Arnidah; Abdul Haling
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.58633

Abstract

This study aims to produce digital books that will be used as learning resources for class VIII SMPIT Al-Hikmah Pangkajene because character education requires learning resources consisting of pictures, videos, and audio. This study uses Research and Development. The approach uses a 4-D model (Define, Design, Development, and Disseminate). This study aims to determine the need and design development level and describe the validity and practicality of Character Education Digital Books. Data collection uses written interviews and product creation. The study results showed that students needed character education digital books, while teachers felt that character education digital books were needed. In addition, subject teachers, through written interviews, felt that character education digital books were needed. Digital book development designs were created using the CorelDraw and Flipbook PDF Professional applications. The results of content validation are very good qualifications. Two target users conducted the practicality test, namely student responses, to obtain good qualifications. The subject teacher's response was very well-qualified. This analysis shows that the Character Education Digital Book is valid and practical. AbstrakPenelitian ini bertujuan menghasilkan sebuah buku digital untuk digunakan sebagai sumber belajar di kelas VIII SMPIT Al-Hikmah Pangkajene dikarenakan pada mata pelajaran pendidikan karakter membutuhkan sumber belajar yang terdiri dari gambar, video, dan audio. Peneliti menggunakan pendekatan Research and Development dan dikembangkan menggunakan model 4D (Define, Design, Development, Disseminate) yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan, desain pengembangan, serta mendeskripsikan tingkat validitas dan kepraktisan Buku Digital Pendidikan Karakter. Pengumpulan data menggunakan wawancara tertulis dan pembuatan produk. Hasil penelitian menunjukkan buku digital Pendidikan karakter sangat dibutuhkan oleh siswa, sementara bagi guru buku digital pendidikan karakter dirasa dibutuhkan, selain itu, guru mata pelajaran melalui wawancara tertulis merasa bahwa buku digital pendidikan karakter tersebut dibutuhkan. Desain pengembangan buku digital dibuat menggunakan aplikasi CorelDraw dan Flipbook PDF Professional. Adapun hasil validasi isi berada pada kualifikasi sangat baik. Uji kepraktisan dilakukan dua sasaran pengguna yaitu tanggapan siswa memperoleh kualifikasi baik. Tanggapan guru mata pelajaran mendapat kualifikasi sangat baik. Hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa Buku Digital Pendidikan Karakter telah valid dan praktis untuk digunakan.Kata Kunci: Buku digital; pendidikan karakter; sumber belajar