cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
What they understand is not necessarily important to practice: Exploring halal literacy learning in high school students Iis Aisyah; Dian Friantoro; Muhammad Dzulfaqori Jatnika
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68545

Abstract

Halal literacy has not become an important thing for high school students. Even though high school students or teenagers, in the future, will be the main consumers of halal products in Indonesia. The purpose of this study is to determine the Halal Literacy Index in high school students using the level of approval and the level of importance to be practiced. This study uses a quantitative descriptive approach. The respondents studied were 334 high school students in Tasikmalaya, West Java. The results showed that high school students have a higher level of approval than the level of importance to practice. It was found that of all the items, the student's level of approval has an average of 4.327 so it falls into the "Agree" criteria towards the halal concept. While the level of importance to be practiced has an average of 3.047 so it falls into the "Neutral" criteria for the importance of practicing the concept of halal in everyday life. This shows that what is approved is not necessarily important to be practiced for high school students. AbstrakLiterasi halal belum menjadi hal yang penting bagi kalangan Siswa Sekolah Menengah Atas. Padahal Siswa SMA atau remaja, di masa depan akan menjadi konsumen utama produk halal di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan Indeks Literasi Halal pada siswa sekolah menengah atas menggunakan tingkat persetujuan dan tingkat kepentingan untuk dipraktekkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Responden yang diteliti sebanyak 334 siswa SMA di Tasikmalaya, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah atas memiliki tingkat persetujuan yang lebih tinggi daripada tingkat kepentingan untuk mempraktikkan. Ditemukan bahwa dari semua item, tingkat persetujuan siswa memiliki rata-rata 4.327 sehingga masuk dalam kriteria "Setuju" terhadap konsep halal. Sedangkan tingkat kepentingan untuk dipraktikkan memiliki rata-rata 3.047 sehingga masuk dalam kriteria "Netral" terhadap kepentingan untuk mempraktekkan konsep halal dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa apa yang disetujui belum tentu penting untuk dipraktikkan bagi kalangan siswa sekolah menengah atas.Kata Kunci: literasi halal; sekolah menengah atas; pembelajaran literasi halal; peserta didik
Implementation of the compassion-based curriculum at Lazuardi Athaillah GCS M. Muhajir; A. Arnidah; Farida Febriati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68414

Abstract

The compassion-based curriculum in this study refers to a systematically planned learning experience as well as hidden curriculum practices aimed at transmitting compassionate values to students. It can take the form of standalone subjects, integration into the school's curriculum and programs, or through informal learning experiences via social interactions in school. The purpose of this research is to understand the implementation of a compassion-based curriculum at Lazuardi Athaillah Global Compassionate School (GCS) to assess its urgency in fostering students' love, sympathy, empathy, altruism, and anti-violence (non-aggression) attitudes. The research method used is qualitative with a phenomenological approach. Deep interview transcripts are analyzed using interpretative phenomenological analysis (IPA). The research results indicate that the implementation of the compassion-based curriculum at Lazuardi Athaillah is carried out by teaching 20 compassionate characters named Lazuardi 20 through character-building subjects, integrated into the Cambridge Curriculum and the National Curriculum, trained through special school programs and hidden curriculum practices. Overall, the implementation of the compassion-based curriculum is going well. Through the implementation of the compassion-based curriculum, students are taught to always love God, others, and themselves. They are also taught to be tolerant, help alleviate others' suffering, care for the environment, and reject violence. AbstrakKurikulum berbasis welas asih dalam penelitian ini mengacu pada pengalaman belajar yang direncanakan secara sistematis maupun melalui praktik kurikulum tersembunyi yang bertujuan mentransmisikan nilai-nilai welas asih kepada peserta didik. Bentuknya bisa berupa mata pelajaran yang berdiri sendiri, integrasi ke dalam kurikulum dan program sekolah, maupun berupa pengalaman belajar yang terjadi secara informal melalui interaksi sosial di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami implementasi kurikulum berbasis welas asih di Lazuardi Athaillah Global Compassionate School (GCS) guna melihat urgensinya dalam menumbuhkan rasa cinta, simpati, empati, altruisme, dan sikap anti-kekerasan (non-agresi) peserta didik. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Transkrip wawancara mendalam dianalisis dengan menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan, implementasi kurikulum berbasis welas asih Lazuardi Athaillah dilaksanakan dengan mengajarkan 20 karakter welas asih bernama Lazuardi 20 melalui mata pelajaran character building, diintegrasikan ke dalam Kurikulum Cambridge dan Kurikulum Nasional, dilatih melalui program khusus sekolah dan praktik kurikulum tersembunyi. Secara keseluruhan, implementasi kurikulum berbasis welas asih berjalan dengan baik. Melalui implementasi kurikulum berbasis welas asih, peserta didik diajarkan untuk selalu mencintai Tuhan, orang lain, dan dirinya sendiri. Peserta didik juga diajarkan untuk toleran, membantu mengurangi penderitaan orang lain, peduli terhadap lingkungan, dan menolak kekerasan.Kata Kunci: implementasi kurikulum; pendidikan karakter; pendidikan moral; welas asih
The contribution of project-based Learning to improve basic literacy at junior high school Elisabet Janul; Dadang Sunendar
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66018

Abstract

Collaboration is one of the skills needed in the 21st century. Santa Angela Middle School responded to this demand by designing a collaborative project between subjects. This research aims to analyze the contribution of collaboration projects between subjects to developing students' literacy skills. Based on the results of observations and interviews, the collaborative learning model has a major contribution to the development and mastery of students' basic literacy. This is possible because students can learn several subjects in the collaboration model between students in one project. This approach pattern allows students to be trained to analyze, understand, and find solutions to every problem encountered in everyday life. Collaborative projects provide opportunities for students to collaborate with peers. This research uses a descriptive method with a qualitative approach. This research shows that collaborative projects between subjects contribute to students' literacy skills. Through collaborative learning activities between subjects of various types, students' basic literacy skills experience significant changes and improvements. This happens because, in the collaborative learning process between subjects, students must have more reading comprehension by looking for important information related to the discussed topic. AbstrakKolaborasi merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan diabad 21. Sekolah Santa Angela menjawab kebutuhan ini dengan mendesain proyek kolaborasi antar mata pelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi proyek kolaborasi antar mata pelajaran terhadap pengembangan kemampuan literasi peserta didik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara model pembelajaran kolaborasi memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan dan penguasaan literasi dasar peserta didik. Hal ini dimungkinkan karena dalam model kolaborasi antar mata pelajaran, peserta didik dapat belajar beberapa mata pelajaran dalam satu proyek. Pola pendekatan ini memungkinkan peserta didik dilatih untuk menganalisis, memahami dan menemukan solusi dari setiap persoalan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Proyek kolaborasi memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menjalin kerja sama dengan teman sebaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proyek kolaborasi antar mata pelajaran memberi kontribusi terhadap kemampuan literasi peserta didik. Melalui kegiatan pembelajaran kolaborasi antara mata pelajaran berbagai jenis kemampuan literasi dasar peserta didik mengalami perubahan dan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini terjadi karena dalam proses pembelajaran kolaborasi antar mata pelajaran peserta didik dituntut untuk lebih banyak membaca pemahaman dengan mencari informasi-informasi penting yang berkaitan dengan topik yang dibahas.Kata Kunci: literasi; pembelajaran berbasis proyek; pembelajaran kolaborasi
Implementation of think pair share model to improve mathematics learning outcomes Jose Bonatua Hasibuan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66900

Abstract

The mathematics learning outcomes of students in class X APHP 1 SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau in the 2022/2023 academic year show that the percentage of classical achievement is only 35.9 percent. From the reflection of the learning process carried out by the teacher, the following conclusions: (1) the learning process was still teacher-centered; (2) during the teaching and learning process, only a small number of students actively participated in the teaching and learning process; (3) there were still students who did not do their work and only copied their friends' work. This study aims to increase students' activity and learning outcomes by applying the Think Pair Share cooperative learning model. This type of research is Classroom Action Research with two cycles. The subjects of this study were 39 students of class X APHP 1 at the SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau. The results showed that applying the TPS type of cooperative learning model can be active in learning outcomes, as seen by an increase from cycle I to cycle II. The number of students who achieved KKM in the first cycle was 79.5 percent, while in the second cycle, it was 89.7 percent. Therefore, the TPS-type cooperative learning model can be used as an alternative to learning mathematics to improve student learning outcomes. AbstrakHasil belajar Matematika peserta didik kelas X APHP 1 SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau semester ganjil tahun ajaran 2022/2023 menunjukkan bahwa persentase ketercapaian secara klasikal hanya sebesar 35,9 persen. Dari hasil refleksi proses pembelajaran yang dilakukan guru diperoleh kesimpulan bahwa: (1) proses pembelajaran masih berpusat pada guru; (2) pada saat proses belajar mengajar berlangsung hanya sebagian kecil peserta didik yang melakukan aktif untuk berpartisipasi dalam proses belajar mengajar; (3) masih terdapat peserta didik yang tidak mengerjakan pekerjaannya dan hanya selalu meniru pekerjaan temannya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Subyek penelitian ini adalah 39 peserta didik kelas X APHP 1 SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat aktivitas dan hasil belajar, terlihat dengan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Jumlah peserta didik yang mencapai KKM pada siklus pertama 79,5 persen, sedangkan pada siklus II 89,7 persen. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran Matematika untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.Kata Kunci: hasil belajar; pembelajaran kooperatif; penelitian tindakan kelas; think pair share
Interactive economics learning with audio-visual media (Sales Ratio Assessment case study) Damas Dwi Anggoro; Tommy Anggriawan; Deni Agus Setyono
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68826

Abstract

Tax education in secondary or vocational schools has an essential role in forming a good understanding of the tax system. This research aims to increase students' understanding of the Assessment Sales Ratio (ASR) method in economics learning through audio-visual media. ASR, often used in property valuation for tax purposes, was selected as a case study. The audio-visual media used includes video tutorials and interactive quizzes. Video tutorials are designed to explain ASR concepts and applications with engaging animations and diagrams, while interactive quizzes test students' understanding after watching the videos. This research uses a Research and Development (RnD) approach to develop and test the effectiveness of this learning media. The research results show that using audio-visual media can increase students' understanding significantly compared to traditional teaching methods. Student feedback also shows that audio-visual media makes learning more interesting and easier to understand. These findings indicate that integrating audio-visual media in economics learning can effectively overcome difficulties in understanding complex concepts. The recommendation of this research is the further development of interactive educational content for economics and accounting subjects at the secondary school level. AbstrakPembelajaran perpajakan di sekolah menengah atau kejuruan memiliki peranan penting dalam membentuk pemahaman yang baik tentang sistem perpajakan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang metode Assessment Sales Ratio (ASR) dalam pembelajaran ekonomi melalui penggunaan media audio visual. ASR, yang sering digunakan dalam penilaian properti untuk keperluan perpajakan, dipilih sebagai studi kasus. Media audio visual yang digunakan meliputi video tutorial dan kuis interaktif. Video tutorial dirancang untuk menjelaskan konsep dan aplikasi ASR dengan animasi dan diagram yang menarik, sementara kuis interaktif menguji pemahaman siswa setelah menonton video. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (RnD) untuk mengembangkan dan menguji efektivitas media pembelajaran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dapat meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional. Umpan balik siswa juga menunjukkan bahwa media audio visual membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi media audio visual dalam pembelajaran ekonomi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi kesulitan dalam memahami konsep yang kompleks. Rekomendasi penelitian ini adalah pengembangan lebih lanjut dari konten pendidikan interaktif untuk mata pelajaran ekonomi dan akuntansi di tingkat sekolah menengah.Kata Kunci: media audio visual; nilai jual objek pajak; penilaian rasio penjualan (ASR)
Bridging theory, policy, and practice: Stakeholder engagement in Ghana's NPEC Richard Lionel Gorni; Asep Suryana; Eka Prihatin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71208

Abstract

Ghana's education system is transforming significantly by implementing the National Pre-Tertiary Education Curriculum Framework (NPECF), emphasizing critical thinking and problem-solving skills over traditional rote learning. Translating these ambitious policy goals into effective classroom practices within a centralized system presents challenges. This research addresses this challenge through stakeholder analysis, examining how the involvement of policymakers, educators, parents, and local communities can bridge the gap between NPECF's theoretical ideals and practical classroom application. The research identifies potential roadblocks and opportunities for successful curriculum adoption by analyzing these diverse perspectives. Understanding the interactions and influences among policymakers, teachers, parents, and communities is crucial for transitioning smoothly from rote learning to a student-centered approach. This analysis highlights areas where stakeholders might need additional support or resources to embrace the new curriculum effectively. Ultimately, the findings can inform future educational reforms in Ghana and similar contexts, paving the way for a more effective and engaging learning experience for all students. AbstrakSistem pendidikan Ghana sedang mengalami transformasi signifikan dengan implementasi National Pre-Tertiary Education Curriculum Framework (NPECF) yang menekankan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah - lebih dari pembelajaran tradisional. Tetapi menerjemahkan tujuan kebijakan ambisius ini ke dalam praktik kelas yang efektif dalam sistem terpusat - pada gilirannya menyajikan tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menangani tantangan ini melalui analisis terhadap pemangku kepentingan, memeriksa bagaimana keterlibatan pembuat kebijakan, pendidik, orang tua, dan komunitas lokal dapat menjembatani kesenjangan antara cita-cita teoritis NPECF dengan aplikasi kelas praktis. Melalui analisis terhadap perspektif yang beragam ini, penelitian ini mengidentifikasi potensi hambatan dan peluang untuk penerapan kurikulum yang sukses. Memahami interaksi dan pengaruh antara pembuat kebijakan, guru, orang tua, dan komunitas sangat penting untuk transisi yang lancar dari pembelajaran sebelumnya yang rusak ke pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Analisis ini menyoroti bidang-bidang di mana pemangku kepentingan mungkin membutuhkan dukungan atau sumber daya tambahan untuk mengaplikasikan kurikulum baru secara efektif. Akhirnya, temuan ini dapat menginformasikan reformasi pendidikan di masa depan di Ghana. Dan konteks serupa, membuka jalan bagi pengalaman belajar yang lebih efektif dan menarik bagi semua peserta didik.Kata Kunc: layanan pendidikan Ghana; pendekatan yang berpusat pada peserta didik; keterlibatan pemangku kepentingan
Need assessment of Al-Mumtaaz Islamic Elementary School students’ food literacy competencies Haura Dzakira Sahla; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71522

Abstract

Al-Mumtaaz Islamic Elementary School Karawang has created various programs to support students' food literacy knowledge and skills. However, the programs implemented by schools have not been supported with systematic curriculum planning and clear food literacy competencies that meet students’ needs. Therefore, this research aims to develop food literacy competency and identify the student's actual performance in food literacy. This research uses McNeil's Need Assessment Model method, which consists of 4 stages. The first stage produces several learning objectives with insight into food literacy from various literature sources. The second stage produces food literacy competencies for elementary school students, which multiple experts have validated. The third stage is an initial formative assessment to look for gaps between food literacy competencies and the conditions of 58 Phase A (Level 1 2) students. The initial formative assessment results show that 98,3% of students are above the minimum competency category. Even so, there is still a gap in food literacy knowledge among students. The final stage is to provide program recommendations for schools according to the analysis of student performance. AbstrakSD Islam Al-mumtaaz Karawang telah membuat beragam program untuk mendukung pengetahuan dan keterampilan siswa sekolah dasar untuk memperoleh kecakapan literasi pangan. Namun, program yang telah dilakukan oleh sekolah belum ditunjang dengan perencanaan kurikulum yang baik dan tujuan kompetensi literasi pangan yang jelas dan sesuai kebutuhan usia peserta didik, latar belakang budaya, latar belakang agama, dan lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tujuan kompetensi literasi pangan dan mengidentifikasi kemampuan aktual siswa berdasarkan tujuan kompetensi yang telah disusun. Penelitian ini menggunakan metode Need Assessment Model dari McNeil yang terdiri dari 4 tahapan. Tahap pertama menghasilkan sejumlah tujuan - tujuan pembelajaran yang memiliki wawasan literasi pangan dari berbagai sumber literatur. Tahap kedua menghasilkan peta kompetensi literasi pangan untuk jenjang SD yang telah divalidasi oleh berbagai ahli. Tahap ketiga adalah melakukan asesmen formatif awal untuk mencari kesenjangan antara kompetensi literasi pangan dengan kondisi aktual siswa SD Fase A sejumlah 58 siswa. Dimana hasil asesmen formatif awal menunjukkan bahwa 98,3% murid SD Fase A menunjukkan tingkat kompetensi literasi pangan pada kategori cakap dan mahir. Meskipun begitu, masih terdapat kesenjangan pengetahuan literasi pangan pada siswa. Tahap terakhir adalah memberikan program rekomendasi untuk sekolah sesua dengan analisis kemampuan siswa.Kata Kunci: pengembangan kurikulum; literasi pangan; asesmen kebutuhan
Pop-up book Putri Tujuh to improve the ability to read aloud Rizka Ardini; S. Safran
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72906

Abstract

This study aims to develop an interactive learning medium in the form of a pop-up book titled Putri Tujuh to enhance the reading-aloud ability of third-grade students at SD Negeri 057751 Simpang UPL. The study followed the ADDIE development model, which involved five stages. Firstly, the analysis stage revealed the need for more engaging learning media. Secondly, the design stage focused on creating a pop-up book design using simple materials as an interactive learning tool. Thirdly, the development stage involved validation by material and language experts, resulting in a high feasibility rating. Fourthly, the implementation stage included an effectiveness test that showed a significant improvement in reading skills and a practicality test that indicated the media's usefulness. Finally, the evaluation stage concluded that the product did not require further improvement based on the positive results of the tests conducted. The media effectively increased students' reading-aloud skills and reading interests. The implications of this research suggest that the use of pop-up books can be an effective alternative in teaching reading aloud in elementary schools, providing a solution to increase student motivation and engagement and assisting teachers in delivering more interactive and engaging learning materials. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berupa buku pop-up berjudul Putri Tujuh untuk meningkatkan kemampuan membaca nyaring siswa kelas III SD Negeri 057751 Simpang UPL. Penelitian ini mengikuti model pengembangan ADDIE yang meliputi lima tahap. Pertama, tahap analisis mengungkapkan perlunya media pembelajaran yang lebih menarik. Kedua, tahap desain difokuskan pada pembuatan desain buku pop-up sebagai alat pembelajaran interaktif dengan menggunakan bahan ajar sederhana. Ketiga, tahap pengembangan melibatkan validasi oleh ahli materi dan bahasa, menghasilkan peringkat kelayakan yang tinggi. Keempat, tahap implementasi meliputi uji efektivitas yang menunjukkan peningkatan keterampilan membaca yang signifikan, serta uji praktikalitas yang menunjukkan kegunaan media. Terakhir, tahap evaluasi menyimpulkan bahwa produk tidak memerlukan perbaikan lebih lanjut berdasarkan hasil positif dari uji yang dilakukan. Media efektif meningkatkan keterampilan membaca nyaring dan minat baca siswa. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan buku pop-up dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pengajaran membaca nyaring di sekolah dasar, memberikan solusi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, serta membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik.Kata Kunci: buku pop-up; cerita rakyat; membaca nyaring
Implementation of the Independent Curriculum at SMA Negeri 1 Pontianak Iwan Ramadhan; I. Imran; S. Suriyanisa
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The determination of the independent curriculum to become the national curriculum reflects the determination to adopt innovative approaches in teaching and adapt the curriculum to the changing needs of the times, as measured by assessment results, changes in student character, and competence in recent years. This research aims to determine the success of schools in adopting an independent curriculum. The research method used is a descriptive qualitative type to explore the curriculum implementation in the school environment and the intracurricular and co-curricular processes of SMA Negeri 1 Pontianak. Data collection techniques include observation of lessons and assessments, interviews with one sociology teacher and two teaching staff, and documentation. The research results on intracurricular and co-curricular intracurriculars regarding learning differentiation, and assessment were well conducted—measurable learning process activities from start to finish and assessment. Meanwhile, P5 activities are planned and carried out in detail to trigger students to develop their talents and potential in work and future challenges. Implementing differentiated learning and assessment and P5 went according to plan, and students at all levels achieved the P5 strengthening project. AbstrakPenetapan Kurikulum Merdeka, menjadi kurikulum nasional mencerminkan tekad untuk mengadopsi pendekatan inovatif dalam pengajaran, serta menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman yang terus berubah, terukur dari hasil asesmen, perubahan karakter dan kompetensi peserta didik beberapa tahun ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan sekolah mengadopsi Kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif jenis deskriptif untuk mendalami penerapan kurikulum di lingkungan sekolah dan proses intrakurikuler dan kokurikuler SMA Negeri 1 Pontianak. Teknik pengumpulan data melalui observasi pada pembelajaran dan asesmen, wawancara 1 guru Sosiologi dan 2 tenaga pendidik, serta dokumentasi. Hasil penelitian pada intrakurikuler dan kokurikuler, Intrakurikuler menyangkut diferensiasi pembelajaran dan asesmen terlaksana sangat baik. Terukur dari aktivitas proses pembelajaran dari awal hingga akhir dan asesmen. Sedangkan kegiatan P5, terencana dan terlaksana secara detail sehingga memicu peserta didik mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki dalam dunia kerja dan tantangan ke depannya. Penerapan pembelajaran serta asesmen berdiferensiasi dan P5 berjalan sesuai rancangan dan peserta didik semua jenjang mampu mencapai ketercapaian projek penguatan P5.Kata Kunci: Implementasi kurikulum; intrakuriler; kokurikuler; Kurikulum Merdeka
Development of modules based on project-based learning material on block nets and cubes Aliza Wulandari; Siti Quratul Ain; Fitriana Yolanda
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69323

Abstract

The project-based module learning model is one learning method that follows current technological developments. This model is an innovative and student-centered learning approach and aims to improve student learning outcomes. The project-based learning module developed aims to improve students' abilities in solving project problems so that students can complete the module containing this project. The research aims to create a project-based learning module for class IV block and cube network materials. This research is research and development using qualitative and quantitative approaches. The method used is Research and Development with a 4D model. The 4D model consists of four main steps. The first step is to define, which involves determining the product to be developed. The second step is design, which involves creating a predetermined product design. The third step is development. Material, design, and language experts are given questionnaires for module testing. Data was evaluated using a Likert scale. The validation results showed that material experts received 82.9 percent of presentations in the very appropriate category, design experts received 81.2 percent, and language experts received 83.1 percent of presentations in the very appropriate category. AbstrakSalah satu metode pembelajaran yang mengikuti perkembangan teknologi saat ini adalah model pembelajaran modul berbasis proyek. Model ini adalah pendekatan pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada peserta didik dan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian adalah untuk membuat modul pembelajaran berbasis proyek untuk materi jaring balok dan kubus kelas IV. Modul project-based learning yang dikembangkan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah proyek, sehingga modul berisi proyek ini dapat diselesaikan oleh peserta didik. Metode penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode yang digunakan ialah Research and Development dengan model 4D. Model 4D terdiri dari empat langkah utama, yaitu: define, yang melibatkan penentuan produk yang akan dikembangkan. Langkah kedua adalah design, yang melibatkan pembuatan desain produk yang telah ditentukan sebelumnya. Langkah ketiga adalah development, angket diberikan kepada ahli materi, ahli desain, dan ahli bahasa untuk pengujian modul. Data dievaluasi dengan skala likert. Hasil validasi menunjukkan bahwa ahli materi mendapatkan presentasi 82,9 persen kategori sangat layak, ahli desain mendapatkan presentasi 81,2 persen kategori sangat layak, dan ahli bahasa mendapatkan presentasi 83,1 persen kategori sangat layak.Kata Kunci: media pembelajaran; modul; pembelajaran berbasis proyek