cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Evaluation of problem-based learning models in the integrated midwifery curriculum Ari Indra Susanti; Rani Nurparidah; Ariyati Mandiri
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63498

Abstract

Evaluation of the Problem-Based Learning (PBL) model in the integrated curriculum aims to encourage midwifery students' learning abilities, evaluate the effectiveness of learning, and test students' abilities in midwifery knowledge. This article aims to evaluate the PBL model's evaluation in the integrated midwifery curriculum. The research method uses descriptive cross-sectional. Data was collected by administering content-validated questionnaires to 113 D4 Midwifery Study Program students, and then the univariate data was analyzed descriptively. The research results showed that the majority of students rated the implementation of the tutorial method and practice with lab activities, evaluation of theoretical learning with Multiple Choice Questions (MCQ) and Structure Oral Case Assessment (SOCA), and practice evaluation using the Direct Observation of Procedural Skills (DOPS) method. Apart from that, the majority of students agree that evaluation of field practice learning (clinic/community) can improve clinical abilities and advocacy skills across sectors (56.6%), and students are satisfied with lecturers as tutors during the learning process. This research concludes that the integrated curriculum uses tutorial learning strategies with MCQ and SOCA evaluations, thereby improving clinical and cross-sector advocacy skills based on student perceptions. AbstrakEvaluasi model Problem Based Learning (PBL) pada kurikulum terintegrasi bertujuan mendorong kemampuan belajar mahasiswa kebidanan, mengevaluasi keefektifan pembelajaran dan menguji kemampuan mahasiswa dalam pengetahuan kebidanan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi model PBL pada kurikulum kebidanan terintegrasi. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner yang telah tervalidasi content kepada 113 mahasiswa Program Studi D4 Kebidanan, kemudian data univariat dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar mahasiswa menilai baik terhadap pelaksanaan metode tutorial dan praktik dengan lab activity, evaluasi pembelajaran teori dengan Multiple Choice Question (MCQ) dan Structure Oral Case Assesment (SOCA), dan evaluasi praktik dengan metode Direct Observation of Prosedural Skills (DOPS). Selain itu, sebagian besar mahasiswa setuju terhadap evaluasi pembelajaran praktik lapangan (klinik/komunitas) dapat meningkatkan kemampuan klinis dan keterampilan advokasi pada lintas sektor, serta mahasiswa puas terhadap dosen sebagai tutor saat proses pembelajaran. Simpulan pada penelitian ini bahwa kurikulum terintegrasi menggunakan strategi pembelajaran tutorial dengan evaluasi MCQ dan SOCA sehingga meningkatkan keterampilan advokasi klinis dan lintas sektor berdasarkan persepsi mahasiswa.Kata Kunci: Evaluasi; kurikulum terintegrasi; problem-based learning
Identification of curriculum and empirical needs for the writing BIPA 4 GBL model Dewi Suharyanti; Suci Sundusiah; H. Halimah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65868

Abstract

As a skill that experts place at the highest level in language acquisition, writing skills become considered the most difficult. BIPA level 4 is the initial level of complex writing according to the SKL BIPA Permendikbud No. 27 of 2017. Writing skills considered difficult should be packaged with a fun and meaningful learning model, one of which is developing a Game-based Learning model. Identifying curriculum and empirical needs is the initial stage carried out in developing Game-based Learning. This research aims to identify the curriculum and syllabus of BIPA 4 writing, which aligns with identifying empirical learning needs through field studies of BIPA teachers at home and abroad. The results showed that argumentation text is the most challenging text to learn, while the most accessible text to learn is persuasion text. In terms of grammar, the affixes me-kan, ke-an, and ter- are the most difficult languages to learn, while the most accessible grammar to learn is sentence expansion, conjunctions, rephrases, and technical terms. The results also found that BIPA 4 learners need to read texts related to Indonesian insights, including culinary, biodiversity, culture, local wisdom, and tourism. AbstrakKeterampilan menulis sebagai keterampilan yang ditempatkan para ahli pada tataran paling tinggi dalam pemerolehan bahasa menjadi sebuah keterampilan yang dianggap paling sulit. Jenjang BIPA 4 merupakan jenjang awal pembelajaran menulis yang kompleks menurut Standar Kompetensi Lulusan BIPA Permendikbud No. 27 Tahun 2017. Keterampilan menulis yang dianggap sulit sebaiknya dikemas dengan model pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, salah satunya dengan mengembangkan model pembelajaran berbasis game edukasi atau Game-based Learning. Identifikasi kurikulum dan kebutuhan empiris di lapangan merupakan tahap awal yang dilakukan dalam pengembangan Game-based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kurikulum dan silabus menulis BIPA 4 yang kemudian diselaraskan dengan identifikasi kebutuhan pembelajaran secara empiris melalui studi lapangan terhadap pengajar BIPA di dalam dan luar negeri. Hasil penelitian didapatkan bahwa teks argumentasi merupakan teks yang paling sulit dipelajari sedangkan teks yang paling mudah dipelajari adalah teks persuasi. Dari segi kebahasaan, imbuhan me-kan, ke-an, dan ter- merupakan kebahasaan yang paling sulit dipelajari sedangkan kebahasaan yang paling mudah dipelajari adalah perluasan kalimat, kata hubung, kata ulang dan istilah teknis. Hasil penelitian juga menemukan bahwa pemelajar BIPA 4 memerlukan teks-teks bacaan yang berkaitan dengan wawasan nusantara atau wawasan ke-Indonesiaan, di antaranya yaitu kuliner, keanekaragaman hayati, budaya, kearifan lokal dan wisata.Kata Kunci: BIPA 4; GBL; identifikasi kurikulum; kebutuhan pembelajaran empiris; keterampilan menulis
Evaluation of antenatal care competency with Objective Structure Examination Blended Learning (OSCE-BL) Ari Indra Susanti; Ariyati Mandiri
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66495

Abstract

Midwifery students must possess clinical competency before entering clinical practice in the practice area. Assessing clinical competency using Objective Structure Clinical Evaluation (OSCE) is necessary. However, OSCE examiners are limited, so blended learning is carried out. The research aims to determine the learning outcomes of midwifery students using OSCE Blended Learning (BL) in the pregnancy care module. This research used a descriptive cross-sectional method using OSCE scores from 2020 to 2022. That research sample was 92 people using a total sampling technique. Competencies tested in the OSCE are anamnesis, physical examination in the second and third trimester, laboratory examination, and counseling. Processing and analyzing univariate data descriptively. The anamnesis competency score was the greatest mean in 2021 (91.45), physical examination in the second trimester (88.79), and third trimester (88.03). Meanwhile, supporting examinations in 2020 (88.36) and counseling (88.31). In the OSCE evaluation in 2021, only a small number of students did not pass the anamnesis (2 people), physical examination second trimester (2 people), and third trimester (2 people), support (2 people), and counseling (1 person). Method OSCE BL can be used to evaluate pregnancy care competency before midwifery students do clinical practice in the practice area. AbstrakKompetensi klinis harus dimiliki oleh mahasiswi kebidanan sebelum memasuki praktik klinis di lahan praktik sehingga perlu dilakukan penilaian kompetensi klinis menggunakan Objective Structure Clinical Evaluation (OSCE). Akan tetapi, penguji OSCE terbatas, maka OSCE dilakukan dengan blended learning. Penelitian bertujuan mengetahui hasil belajar mahasiswi kebidanan dengan OSCE Blended Learning (OSCE BL) pada modul asuhan kehamilan (ANC). Penelitian dengan metode deskriptif dengan cross sectional menggunakan nilai OSCE dari tahun 2020 (36 orang), 2021 (25 orang), dan 2022 (31 orang) sehingga jumlah sampel penelitian sebanyak 92 orang dengan teknik total sampling. Kompetensi yang diujikan pada OSCE, yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik trimester 2 dan 3, pemeriksaan laboratorium, dan konseling. Pengolahan dan analisis data univariat secara deskriptif (nilai mean, standar deviasi, nilai maksimal, dan minimal). Nilai kompetensi anamnesa paling besar tahun 2021 (mean=91.45), pemeriksaan fisik trimester 2 (mean=88.79) dan trimester 3 (mean=88.03). Sedangkan pemeriksaan penunjangtahun 2020 (mean=88.36) dan konseling (mean=88.31). Pada evaluasi OSCE hanya sebagian kecil mahasiswa yang tidak lulus kompetensi anamnesa (2 orang), pemeriksaan fisik trimester 2 (2 orang), dan trimester 3 (2 orang), penunjang (2 orang), dan konseling (1 orang) tahun 2021. Metode OSCE BL dapat digunakan untuk evaluasi kompetensi asuhan kehamilan sebelum mahasiswi kebidanan praktik klinis di lahan praktik.Kata Kunci: Blended learning; evaluasi: kompetensi; mahasiswa kebidanan; OSCE
Development of animation video assistant teaching science courses in SD Negeri 056 Lamasariang P. Purnama; P. Pattaufi; Nurhikmah H
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.61315

Abstract

This development research focuses on making teaching materials in animated videos for science subjects at SDN 056 Lamasariang. Science subjects at SDN 056 Lamasariang. This research aims to improve learning effectiveness using an exciting visualization approach for students. This research uses technology and animation media to increase the involvement of students in the learning process, especially in learning process science subjects. Besides, it can help learners understand complex concepts that can be easily understood. The research method used is Research and Development with the ADDIE development model, which consists of 5 stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The results showed that teaching materials based on animated videos are very effective in applying Class V science subjects, as seen from the acquisition of learning outcomes before (pretests) and after (posttest). The conclusion is that the results of developing teaching materials based on animated videos fulfill effective use in the learning process. AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berfokus pada pembuatan bahan ajar berupa video animasi untuk mata pelajaran IPA di SDN 056 Lamasariang. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan menggunakan pendekatan visualisasi yang menarik bagi peserta didik. Penelitian ini menggunakan teknologi dan media animasi sehingga dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran IPA selain itu dapat membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep yang kompleks dan dapat dengan mudah memahami pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan yaitu Research and Development dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahapan, yakni: analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis video animasi sangat efektif di terapkan pada mata pelajaran IPA Kelas V, dilihat dari perolehan nilai hasil belajar sebelum (pretes) dan sesudah (posttes).Kesimpulannya bahwa hasil pengembangan bahan ajar berbasis video animasi memenuhi efektif digunakan dalam proses pembelajaran.Kata Kunci: Bahan ajar; pengembangan produk pembelajaran; video animasi
Teacher competency: Descriptive study of Guru Penggerak Kinanti Geminastiti Hilmiatussadiah; Eeng Ahman; D. Disman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63482

Abstract

Teachers must have competence in teaching. There are four competencies that teachers must have, namely pedagogical competence, professional competence, personality competence, and social competence. The Guru Penggerak program is hoped to increase competence in learning activities. This research aims to determine whether there are differences in the competencies of driving and non-moving teachers and describe the indicators of each competency. Based on a questionnaire distributed to students in classes X and XI, the greater pedagogical competence of driving teachers and no-moving teachers is found in the indicator that economics teachers speak politely and politely when delivering learning material, there is an ability to adapt to the surrounding environment, which is the highest average in social competences. The research instrument was given to students taught by Guru Penggerak and non-moving teachers. The results of the research show that for each competency indicator, there are indicators that have the same average value of driving teachers and non-moving teachers, but there are differences in professional, pedagogical, and personality competence between driving teachers and non-moving teachers, while social competence is the same between driving teachers and non-moving teachers. AbstrakGuru harus memiliki kompetensi dalam mengajar, terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Adanya program Guru Penggerak diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pada kegiatan pembelajaran. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan kompetensi yang dimiliki Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak dan mendeskripsikan indikator dari setiap kompetensi. Instrumen penelitian diberikan kepada siswa yang diajar oleh Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak. Berdasarkan angket yang disebar kepada siswa kelas X dan XI sejumlah 23 pertanyaan tentang kompetensi guru, hasil penelitian menunjukkan kompetensi guru berada pada kategori tinggi, kompetensi profesional yang dimiliki Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak memiliki nilai rata-rata tertinggi pada penguasaan materi nilai rata-rata Kompetensi pedagogik Guru penggerak dan bukan Guru Penggerak yang lebih besar terdapat pada indikator Guru ekonomi berbicara santun dan sopan pada saat menyampaikan materi pembelajaran, terdapat kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar merupakan rata-rata tertinggi pada kompetensi sosial. Tetapi terdapat perbedaan kompetensi profesional, pedagogik dan kepribadian antara Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak sedangkan untuk kompetensi sosial sama antara Guru Penggerak dan bukan Guru Penggerak.Kata Kunci: Guru; guru penggerak; kompetensi guru
Developing an animation video for earthquake mitigation education for elementary school students Novita Nirmala; Meini Sondang Sumbawati; Nurmida Catherine Sitompul
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64853

Abstract

Earthquakes cause damage and often cause casualties, where 30% of the victims are children and adolescents. Earthquake mitigation education should be conducted to improve earthquake literacy in children. The National Search and Rescue Agency organizes an education program to provide knowledge on natural disaster mitigation facilitated by instructors who give PowerPoint-assisted lectures. This delivery strategy is ineffective because earthquake mitigation content must visualize earthquake events and emergency responses. Experts determined the most effective video-based media for earthquake mitigation, so animated videos needed to be developed for this program. This study aims to develop an animated video of earthquake mitigation when it occurs in elementary schools. Products are developed with the ADDIE model. The instrument consists of a questionnaire containing criteria on the Likert scale. The analysis technique uses percentages. Animated videos developed are considered feasible as instructional media by experts. Field trials of elementary school students showed that almost all students could give the correct disaster mitigation.  AbstrakPeristiwa gempa bumi mengakibatkan kerusakan dan sering mendatangkan korban jiwa, dimana 30% diantara korban adalah anak-anak dan remaja. Pendidikan mitigasi gempa bumi harus dilakukan untuk meningkatkan literasi gempa bumi pada anak-anak. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan menyelenggarakan program Pendidikan untuk memberikan pengetahuan mitigasi bencana alam yang difasilitasi oleh para instruktur dengan memberikan ceramah berbantuan power point. Strategi penyampaian ini tidak efektif karena konten mitigasi gempa bumi harus memvisualisasikan kejadian gempa dan tanggap darurat. Para pakar menetapkan media berbasis video yang paling efektif untuk mitigasi gempa bumi sehingga video animasi perlu dikembangkan untuk program ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan video animasi mitigasi gempa bumi bila terjadi di sekolah dasar. Produk dikembangkan dengan model ADDIE. Instrumen terdiri atas kuesioner yang berisikan kriteria-kriteria dalam skala Likert. Teknik analisis menggunakan persentase. Video animasi yang telah dikembangkan dinilai layak sebagai media pembelajaran oleh sejumlah pakar. Uji coba lapangan kepada para siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa hampir semua siswa dapat memberikan jawaban yang benar dan siswa dapat memberikan contoh-contoh tanggap darurat. Video animasi ini layak dan efektif dipakai sebagai media pendidikan mitigasi bencana gempa bumi untuk siswa sekolah dasar.Kata Kunci: Media pembelajaran; mitigasi gempa bumi; siswa sekolah dasar; video animasi
Kurikulum Merdeka planning in schools: Case study at SMA N 1 Kalidawir Evy Ramadina
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.66012

Abstract

Changes in the learning system caused by adjustments to conditions and needs during the pandemic, as well as gaps in the use of digital platforms, have an impact on strengthening learning loss and learning gaps. Educational programs and learning processes focusing on student needs will reduce learning loss. Effective curriculum management is encouraged to meet the resources students need so that learning gaps do not occur in educational institutions. This research aims to analyze Merdeka curriculum planning in high schools for guidance for other schools facing similar challenges regarding Kurikulum Merdeka planning amidst educational changes in Indonesia. This research was designed using a qualitative research method with a case study approach. The research began by collecting, processing, analyzing, and compiling a report. The research results explored Kurikulum Merdeka's planning at SMA Negeri 1 Kalidawir. Planning is the first step in realizing curriculum management. The Merdeka curriculum planning stages at SMA N 1 Kalidawir began with forming a special team, understanding information from the Merdeka curriculum guide from the government and resource persons, holding House Training (IHT), and then developing KOSP (educational unit operational curriculum). AbstrakPerubahan sistem pembelajaran yang disebabkan penyesuaian kondisi dan kebutuhan saat pandemi, serta kesenjangan penggunaan platform digital berdampak pada menguatnya learning loss dan learning gap. Program pendidikan dan proses pembelajaran yang fokus pada kebutuhan peserta didik akan mengurangi adanya learning loss. Pengelolaan kurikulum yang efektif didorong untuk memenuhi sumber daya yang dibutuhkan peserta didik sehingga tidak terjadi learning gap pada lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan kurikulum merdeka pada sekolah menengah atas, supaya dapat memberikan panduan bagi sekolah-sekolah lain yang tengah menghadapi tantangan serupa terkait perencanaan kurikulum merdeka di tengah perubahan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini didesain menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data, dan menyusun laporan. Hasil penelitian mengeksplorasi perencanaan Kurikulum Merdeka di di SMA Negeri 1 Kalidawir, perencanaan merupakan langkah awal dalam mewujudkan pengelolaan kurikulum. Tahapan perencanaan kurikulum merdeka di SMA N 1 Kalidawir dimulai dengan pembentukan tim khusus, memahami informasi dari panduan kurikulum merdeka dari pemerintah dan narasumber, mengadakan In House Training (IHT), kemudian mengembangkan KOSP (kurikulum operasional satuan pendidikan).Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; manajemen kurikulum; perencanaan kurikulum
Undergraduate thesis proposal writing: Problems and causes Novia Hayati; Via Luviana Dewanty; S. Sudjianto
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.63241

Abstract

Writing a research proposal is one of the requirements for university students to be able to write an undergraduate thesis. It requires high academic writing skills that most students find challenging. Even so, this skill can still be taught as long as lecturers have knowledge of students’ abilities and difficulties in writing. This qualitative study is conducted to serve this purpose. They involve two data collection methods: document analysis and Focused Group Discussion (FGD). This case-study research investigated problems and causes in writing a research proposal faced by students studying Program Japanese Language at a public university in Bandung in writing a research proposal. The results were analyzed from general and specific factors as follows: generally, their problems lie in the lack of students’ knowledge of systematicity, components, and elements supporting the components of a research proposal. Further, three factors were responsible for the causes of the problems, including low-quality references, insufficient information provided in the teaching materials and the teaching, and less exposure and effort on readings. The results of identifying the problems and causes will be used as a reference for developing teaching materials for writing research proposals in the Research Methodology Course. AbstrakSebagian besar mahasiswa jenjang pendidikan Sarjana menganggap penulisan proposal cukup menantang karena membutuhkan keterampilan menulis akademis yang tinggi. Pengetahuan tentang menulis akademik memegang peranan penting untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan dan meminimalisir kesulitan mereka dalam menulis proposal penelitian skripsi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melibatkan dua jenis metode pengumpulan data yaitu analisis dokumen (dokumen proposal penelitian) dan Focus Group Discussion (FGD). Penelitian studi kasus ini menyelidiki apa yang menjadi penyebab permasalahan dalam penulisan proposal penelitian yang dihadapi mahasiswa Program Studi Bahasa Jepang di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Dokumen dan data FGD dianalisis berdasarkan faktor umum dan faktor khusus, dan memiliki hasil sebagai berikut; permasalahan secara umum terletak pada kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai sistematika, komponen, dan unsur pendukung komponen proposal penelitian; sedangkan permasalahan khusus yang ditemukan adalah kesulitan mahasiswa dalam menentukan tema atau topik, mengorganisasikan ide dan teks, dan menggunakan fitur-fitur kebahasaan. Lebih jauh lagi, terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab permasalahan-permasalahan tersebut, yaitu rendahnya kualitas referensi, kurangnya informasi yang diberikan dalam bahan ajar dan pengajaran, serta kurangnya upaya dalam membaca. Hasil identifikasi masalah dan penyebab yang didapat dari penelitian ini akan dijadikan acuan pengembangan bahan ajar penulisan proposal penelitian pada Mata Kuliah Metodologi Penelitian.Kata Kunci: Proposal penelitian; masalah; mata kuliah metodologi penelitian; menulis; skripsi.
Application of the Stake Evaluation Model to evaluate Kurikulum Merdeka in creating student well-being Risti Dwi Lestari
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.58908

Abstract

The demographic bonus has become unavoidable for Indonesia in 2030–2045. Will this condition be advantageous or disadvantageous depending on how HR is currently managed? The scope of HR management in this study is in the field of education, and the main actor is the government. Bearing in mind that in accordance with the mandate of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia Article 31 (1) and its Amendment Chapter XIII concerning education and culture, obliges the government to be responsible for educating the life of the nation and creating general welfare? This study aims to determine the appropriate evaluation model to assess the implemented curriculum with regard to the welfare of students through the characteristics of a "humanistic approach". The research method used is descriptive-qualitative through a literature study with a review of books, articles, journals, and other relevant sources of information. This literature found that stakeholder evaluation is suitable for evaluating the implementation of the Independent Curriculum, considering that this model compares implementation in the field with official standards or references in implementing a program through two components, namely description, and assessment. These two things were broken down into the three main components of the first educational program: antecedents (inputs), transactions (processes), and outcomes (results). However, empirical results are still needed to support this research, such as case studies, which are intended to get more concrete results. AbstrakBonus demografi sudah menjadi hal yang tidak dapat dihindari Indonesia pada tahun 2030-2045. Akankah kondisi tersebut menjadi kelebihan / kerugian tergantung dari bagaimana saat ini mengelola SDM itu sendiri. Cakupan dalam pengelolaan SDM pada penelitian ini yaitu di bidang pendidikan dan aktor utamanya adalah pemerintah. Mengingat sesuai dengan amanat UUD Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 (1) dan Perubahannya bab XIII tentang pendidikan dan kebudayaan. Di mana mewajibkan pemerintah bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui model evaluasi yang tepat untuk menilai kurikulum yang diimplementasikan dengan kesejahteraan siswa melalui karakteristik “pendekatan humanistic”. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan dengan telaah buku, artikel, jurnal, dan sumber informasi lainnya yang relevan. Dari studi literatur ini ditemukan bahwa evaluasi stake cocok digunakan untuk mengevaluasi implementasi Kurikulum Merdeka mengingat model ini membandingkan antara pelaksanaan di lapangan dengan standar atau acuan yang resmi dalam melakukan sebuah program melalui dua komponen yaitu deskripsi dan penilaian. Kedua hal tersebut, diturunkan kembali menjadi tiga komponen utama program pendidikan pertama, antecedent (masukan), transaction (proses), dan outcomes (hasil). Namun, masih dibutuhkan hasil empiris untuk mendukung penelitian ini, seperti studi kasus yang dimaksudkan agar mendapatkan hasil yang lebih konkrit.Kata Kunci: Evaluasi kurikulum; Kurikulum Merdeka; Model Evaluasi Stake
The role of sex education in tackling early marriage Sofi Mutiara Insani; Aam Sumia; Bintu Labibah; Salsa Nurahma; Syahrul Ahmad Gunawan; Adi Prehanto
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63079

Abstract

The practice of early marriage is a serious problem currently occurring. Even though marriage is everyone's right, in its implementation, you must still pay attention to applicable regulations. Education is essential in preventing early marriage, but in some cases, sex education is not widely conveyed in schools because it is considered taboo. This research was conducted to see an overview of early marriage, especially in the Pagerageung, Tasikmalaya, and how education, especially sex education, can play a role in preventing this. The method used is a qualitative research methodology with a case study approach with data collection techniques using four stages, including (1) in-depth interviews, (2) participant and non-participant observation, (3) documentation, and (4) literature review. The subjects in this research were 23 people, including government elements, community leaders, and subjects who married at an early age. Factors influencing early marriage include promiscuity, economics, culture, education, and religion. In this phenomenon, education has a role in providing adequate understanding and information to the community, especially in the Pagerageung area, so that the phenomenon of early marriage can continue to be reduced. AbstrakPraktik pernikahan usia dini menjadi masalah serius yang terjadi saat ini. Meskipun pernikahan merupakan hak setiap orang, namun dalam pelaksanaannya tetap harus memperhatikan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pendidikan memiliki peran yang penting pada pencegahan pernikahan dini, namun pada beberapa fenomena, pendidikan seks tidak banyak disampaikan di sekolah karena dianggap tabu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran mengenai fenomena pernikahan dini khususnya di daerah Pagerageung, Tasikmalaya dan bagaimana pendidikan khususnya pendidikan seks dapat berperan untuk mencegah hal tersebut. Adapun metode yang digunakanan adalah metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data menggunakan 4 tahapan, meliputi (1) Wawancara in depth interview, (2) Observasi Partisipan dan Nonpartisipan, (3) Dokumentasi, dan (4) Kajian Literatur. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 23 orang, meliputi elemen pemerintahan, tokoh masyarakat, dan subjek yang menikah usia dini. Faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini, yaitu pergaulan bebas, ekonomi, budaya, pendidikan, dan agama. Pada fenomena ini, pendidikan memiliki peran untuk memberikan pemahaman dan informasi yang memadai kepada Masyarakat, khususnya di daerah Pagerageung agar fenomena pernikahan dini dapat terus dikurangi.Kata Kunci: Pendidikan seks; pernikahan; pernikahan usia dini; peran pendidikan; pola pendidikan seks