cover
Contact Name
Taufik Samsuri
Contact Email
empiric.journal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
empiric.journal@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Lingkar Permai Blok Q4 LK Sembalun, Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Empiricism Journal
ISSN : -     EISSN : 27457613     DOI : https://doi.org/10.36312/ej
Empiricism Journal was published by Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM). This journal publishes empirical original research papers in the field of education and natural science.
Articles 87 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 4: December 2025" : 87 Documents clear
Analysis of the Role of Algorithms in the Analysis of Organic Molecular Structures: A Study of Formal Charges and Their Reactivity Muhali, Muhali; Hulyadi, Hulyadi; Gargazi, Gargazi; Azmi, Irham; Bayani, Faizul
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/q58j9193

Abstract

This study aims to identify students' competency in understanding the formal charge and reactivity of organic molecules through algorithm-based learning and mathematical formulations. A quasi-experimental pretest–posttest design was used with Chemistry Education students who had taken the topic of chemical bonding and Lewis structures. Essay and multiple-choice tests were used to measure the accuracy of Lewis structures, formal charge calculations, charge symbol interpretation, and reactivity predictions. The pretest results showed an average student score of 32.4, while the posttest score increased to 74.1, with an N-gain of 0.62 (moderate–high category). Students showed significant improvement in identifying reactivity centers (electrophilic/nucleophilic) and linking charge distribution to structural stability. The application of algorithms also strengthened their ability to visualize electronic structures, particularly in the context of sp3and sp3 hybridization. Computational chemistry simulations helped students develop stronger symbolic and predictive representations of chemical reactions. This study concludes that the integration of algorithms and symbolic approaches in learning effectively improves students' conceptual and computational literacy in organic chemistry.
Evaluasi Break Even Point (BEP) Terhadap Proses Perencanaan Laba Pada UMKM Pengrajin Furnitur Lokal di Kotamobagu Hullah, Abdurrahman Rigel; Makalalag, Magdalena
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/c3hfs278

Abstract

UMKM pengrajin furnitur lokal memainkan peran penting dalam ekonomi berbasis komunitas, namun kerap menghadapi tantangan dalam merancang strategi perencanaan laba yang terstruktur. Dalam konteks ini, konsep Break Even Point (BEP) menjadi relevan namun belum terinternalisasi secara luas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pelaku UMKM memaknai dan menghadapi praktik perencanaan laba, serta hambatan dan strategi adaptasi mereka terhadap pendekatan manajerial modern. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus, penelitian ini menggali narasi mendalam dari enam partisipan di Kota Kotamobagu yang telah menjalankan usaha lebih dari dua tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen sederhana, kemudian dianalisis secara induktif menggunakan teknik analisis tematik berbasis koding terbuka. Penelitian ini mengidentifikasi empat tema utama: keputusan finansial yang berbasis intuisi, ketegangan antara warisan tradisional dan kebutuhan adaptasi sistemik, pemaknaan laba sebagai keberlanjutan sosial, serta kebutuhan akan pengetahuan keuangan yang dapat diakses dan relevan secara kontekstual. Temuan ini menggarisbawahi bahwa perencanaan laba dalam sektor informal adalah proses sosial yang sarat nilai, bukan sekadar teknik kalkulasi. Secara konseptual, studi ini memperluas pemahaman tentang integrasi pengetahuan lokal dalam teori manajerial. Secara praktis, hasil ini merekomendasikan desain intervensi kebijakan dan pelatihan yang lebih partisipatif, adaptif, dan kontekstual. Penelitian ini juga membuka peluang eksplorasi lebih lanjut dalam mengembangkan model pendidikan keuangan berbasis budaya untuk UMKM di wilayah lain. Kata kunci: UMKM; Break Even Point; Perencanaan Laba; Keuangan Berbasis Konteks, Studi Kualitatif. Break-Even Point Based Profit Planning: A Qualitative Study of Local Furniture-Crafting MSMEs in Kotamobagu Abstract Local furniture-crafting MSMEs play an important role in community-based economies, yet they often face challenges in designing structured profit-planning strategies. In this context, the concept of the Break-Even Point (BEP) is relevant but has not been widely internalized. This study aims to explore how MSME actors interpret and navigate profit-planning practices, as well as the barriers and adaptive strategies they employ in response to modern managerial approaches. Using a qualitative case study design, this research elicited in-depth narratives from six participants in Kotamobagu City who had been operating their businesses for more than two years. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and simple document analysis, and were then analyzed inductively using thematic analysis with open coding. The study identified four main themes: intuition-based financial decision-making, tensions between traditional legacies and the need for systemic adaptation, the meaning of profit as social sustainability, and the need for accessible and contextually relevant financial knowledge. These findings underscore that profit planning in the informal sector is a value-laden social process rather than merely a calculative technique. Conceptually, this study broadens understanding of how local knowledge can be integrated into managerial theory. Practically, the results recommend policy and training interventions that are more participatory, adaptive, and contextual. This study also opens opportunities for further exploration in developing culturally grounded financial education models for MSMEs in other regions.
Implementasi Kebijakan Desentralisasi Daerah Otonomi Baru: Strategi Pembangunan Manusia di Kabupaten Bandung Barat Muhammad, Fahri Juarsa
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/6hnje679

Abstract

Pemekaran setiap daerah di Indonesia dengan mewujudkan daerah otonom baru (DOB) sebagai langkah dalam meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, termasuk pembangunan manusia. Namun, dalam praktiknya, banyak DOB justru tertinggal dalam pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan pemekaran daerah dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Bandung Barat, dengan menggunakan model Van Meter dan Van Horn dengan penambahan indikator kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, pengumpulan data melalui wawancara mendalam, studi dokumen, dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan di Kabupaten Bandung Brat masih menghadapi berbagai kendala, seperti tidak sinkronnya tujuan kebijakan dengan indikator kinerja daerah, keterbatasan sumber daya, fragmentasi birokrasi, dan lemahnya kapasitas serta motivasi agen pelaksana. Penambahan elemen kepemimpinan terbukti menjadi variabel penting dalam menjembatani kesenjangan antara kebijakan pusat dan realitas lokal, serta meningkatkan efektivitas koordinasi dan komunikasi lintas lembaga. Temuan ini berkontribusi terhadap pengembangan teori implementasi kebijakan dengan memperluas kerangka analisis klasik. Penelitian ini relevan bagi para pembuat kebijakan, terutama dalam merancang strategi implementasi kebijakan daerah yang lebih adaptif, responsif, dan berbasis konteks lokal.   Kata kunci: Desentralisasi; Implementasi Kebijakan; Indeks Pembangunan Manusia; Kepemimpinan   Implementation of the New Autonomous Region Decentralization Policy: Human Development Strategy in West Bandung Regency Abstract The expansion of each region in Indonesia by establishing new autonomous regions (DOB) is a step to improve public services and community welfare, including human development. However, in practice, many DOBs are lagging behind in achieving the Human Development Index (HDI). This study aims to analyze the implementation of regional expansion policies in improving the Human Development Index (HDI) in West Bandung Regency, using the Van Meter and Van Horn model with the addition of leadership indicators. This study uses a qualitative approach with a case study method, collecting data through in-depth interviews, document studies, and participant observation. The results show that policy implementation in West Bandung Regency still faces various obstacles, such as a lack of synchronization of policy objectives with regional performance indicators, limited resources, bureaucratic fragmentation, and weak capacity and motivation of implementing agents. The addition of leadership elements has proven to be an important variable in bridging the gap between central policies and local realities, as well as increasing the effectiveness of coordination and communication between institutions. These findings contribute to the development of policy implementation theory by expanding the classical analytical framework. This research is relevant for policymakers, especially in designing regional policy implementation strategies that are more adaptive, responsive, and based on local contexts.  Keywords: Decentralisation; Policy Implementation; Human Development Index; Leadership.
INTERNALISASI NILAI-NILAI TRADISI RAJU PADA REMAJA DI DESA MBAWA KECAMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA Rano, Rano; Sunarto, Sunarto
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/4vf13d54

Abstract

  Penelitian ini bertujuan untuk mengettahui nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Raju, proses internalisasi nilai pada remaja, serta tantangan yang dihadapi dalam konteks modernisasi di Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Teknik pengumpulan yaitu melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Raju mengandung nilai sosial, budaya, religius, moral, dan etika yang berfungsi sebagai sarana pendidikan sosial nonformal. Proses internalisasi nilai berlangsung secara bertahap melalui pengenalan, pemahaman dan penghayatan, hingga pengintegrasian nilai dalam kehidupan sehari-hari remaja. Keterlibatan langsung dalam praktik tradisi mendorong terbentuknya perilaku sosial remaja yang inklusif, toleran, dan bertanggung jawab. Namun demikian, proses ini menghadapi tantangan berupa pengaruh budaya luar, pergeseran orientasi nilai generasi muda, menurunnya partisipasi remaja, serta keterbatasan dukungan struktural.   Kata kunci: Tradisi Raju; internalisasi nilai; remaja. Internalization of the Values of the Raju Tradition among Adolescents in Mbawa Village, Donggo District, Bima Regency  
Optimalisasi Kinerja PPPK: Model Adaptif Berbasis Umpan Balik di Kabupaten Sumbawa Barat Sulhan, Heri; Umar, Umar
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/1wq17008

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan sistem manajemen kinerja Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang masih bersifat kaku dan berorientasi pada penilaian tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana PPPK memaknai dan menginterpretasikan peran Perjanjian Kerja dalam proses manajemen kinerja sehari-hari di Kabupaten Sumbawa Barat. Metode yang digunakan berupa studi kasus kualitatif, data utama dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 13 orang PPPK dan didukung oleh observasi di lingkungan kerja. Temuan utama menunjukkan bahwa PPPK memaknai Perjanjian Kerja bukan sebagai panduan kinerja yang dinamis, melainkan sebagai "dokumen formalitas tahunan" yang baru berfungsi saat evaluasi akhir. Proses ini dipersepsikan minim dialog dan umpan balik, sehingga menimbulkan ketidakpastian dan kecemasan terkait perpanjangan kontrak. Temuan observasi mengkonfirmasi minimnya praktik komunikasi kinerja antara atasan dan staf. Simpulan dari penelitian ini adalah adanya kesenjangan signifikan antara fungsi ideal Perjanjian Kerja dengan realitas implementasinya di lapangan, yang menegaskan kebutuhan mendesak akan sebuah model manajemen kinerja yang lebih dialogis dan berkelanjutan bagi PPPK. Secara teoretis, penelitian ini menyumbang pada literatur manajemen kinerja adaptif di sektor publik, sementara secara praktis, menawarkan cetak biru untuk pengembangan model umpan balik berkelanjutan dalam konteks birokrasi daerah. Optimizing PPPK Performance: A Feedback-Based Adaptive Model in West Sumbawa Regency Abstract The performance management framework for Indonesia's Government Employees with Work Agreements (PPPK) is constrained by a rigid, annually-focused appraisal system. This study addresses this challenge by exploring how PPPK employees in West Sumbawa Regency perceive and interpret the role of their Work Agreements in day-to-day performance management. Employing a qualitative case study approach, we gathered primary data from in-depth interviews with 13 PPPK staff, complemented by workplace observations. A primary finding reveals that participants construe the Work Agreement not as a dynamic tool for performance guidance, but as a ceremonial 'annual formality' invoked solely for terminal evaluation. This process, perceived as being devoid of meaningful dialogue and feedback, consequently fosters uncertainty and anxiety surrounding contract renewal. This perception was corroborated by observational data, which indicated a scarcity of routine performance communication between supervisors and their staff. Ultimately, this study concludes there is a profound disconnect between the intended function of the Work Agreement and its lived reality in practice. This gap underscores the critical need for a more dialogic and sustainable performance management model tailored to the PPPK context. Theoretically, this study contributes to the literature on adaptive performance management in the public sector, while practically, it offers a blueprint for developing a continuous feedback model within the context of regional bureaucracy.
Gambaran Pelaksanaan Pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Bidang Pengawasan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Utara Unu, Meiliska Novensia Elisabeth; Kawatu, Paul Artur Tennov; Kaunang, Wulan Pingkan Julia
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/zzmryx62

Abstract

Pelaksanaan pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Utara merupakan instrumen penting dalam menjamin penerapan standar K3 di perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan K3 dilaksanakan melalui kegiatan pemeriksaan, pembinaan, serta pengujian objek K3 oleh pengawas ketenagakerjaan dan spesialis K3 yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan teknis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pengawasan K3 pada Bidang Pengawasan Disnakertrans Provinsi Sulawesi Utara dengan fokus pada tiga aspek utama, yaitu kompetensi sumber daya manusia (SDM) pengawas ketenagakerjaan, faktor-faktor pendukung, serta faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pengawasan K3 di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pengawas ketenagakerjaan dalam melaksanakan pengawasan K3 tergolong baik, yang ditunjukkan melalui pemahaman terhadap regulasi K3 serta kemampuan teknis yang diperoleh dari pelatihan dan pembinaan rutin. Namun demikian, pelaksanaan pengawasan belum berjalan secara optimal karena keterbatasan jumlah pengawas yang tidak sebanding dengan banyaknya perusahaan yang harus diawasi, sehingga masih terdapat perusahaan yang belum terjangkau pengawasan secara berkala. Selain itu, keterbatasan anggaran operasional serta minimnya sarana dan prasarana, seperti kendaraan dinas dan alat pemeriksaan K3, menjadi hambatan utama dalam efektivitas pengawasan. Oleh karena itu, optimalisasi pengawasan K3 memerlukan peningkatan jumlah pengawas ketenagakerjaan, penguatan dukungan anggaran, serta penyediaan fasilitas operasional yang memadai guna menunjang kinerja pengawas di lapangan. Overview of the Implementation of Occupational Health and Safety (OHS) Supervision at the Department of Manpower and Transmigration of North Sulawesi Province Abstract The implementation of Occupational Health and Safety (OHS/K3) supervision by the Provincial Office of Manpower and Transmigration of North Sulawesi is an important instrument in ensuring that companies apply OHS standards in accordance with applicable laws and regulations. OHS supervision is carried out through inspection, guidance, and testing of OHS objects by labor inspectors and OHS specialists who have undergone technical education and training. This study aims to analyze the implementation of OHS supervision in the Supervision Division of the North Sulawesi Provincial Office of Manpower and Transmigration, focusing on three main aspects: the competence of labor inspector human resources (HR), supporting factors, and inhibiting factors in the implementation of OHS supervision in the field. The results show that the competence of labor inspectors in carrying out OHS supervision is classified as good, as indicated by their understanding of OHS regulations and technical skills obtained through regular training and guidance. However, the implementation of supervision has not been optimal due to the limited number of inspectors that is not proportional to the number of companies that must be supervised, resulting in some companies not being regularly covered by supervision. In addition, limited operational budgets and inadequate facilities and infrastructure, such as official vehicles and OHS inspection equipment, are major obstacles to the effectiveness of supervision. Therefore, optimizing OHS supervision requires an increase in the number of labor inspectors, strengthening of budgetary support, and the provision of adequate operational facilities to support inspectors’ performance in the field.
Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Biji Chia (Salvia hispanica L.) Sebagai Pangan Fungsional Wati, Sri Sukma; Permana, Denih Agus Setia; Pertiwi, Yuniariana
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/v7zdrt36

Abstract

Biji chia (Salvia hispanica L.) adalah sumber pangan dengan aktivitas antioksidan tinggi. Senyawa bioaktif biji chia yaitu senyawa fenolik, flavonoid, peptida bioaktif, asam omega-3 (ALA). Senyawa bioaktif ini mampu menangkap radikal bebas, meningkatkan daya reduksi, dan perlindungan terhadap peroksidasi lipid. Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular akibat pola makan modern menuntut inovasi dalam pengembangan pangan fungsional alami tinggi antioksidan. Data perdagangan internasional menunjukan Indonesia mengimpor sekitar 2,8 juta kg biji chia pada tahun 2023, menunjukan permintaan domestik yang tinggi dan peluang pengembangan komoditas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen bioaktif utama dalam biji chia dan mengevaluasi mekanisme aktivitas antioksidan berdasarkan hasil uji pra klinis sebagai pangan fungsional untuk meningkatkan antioksidan dalam tubuh. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pedoman PRISMA menggunakan basis data Scopus pada periode 2017–2025. Sebanyak 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa biji chia mengandung senyawa fenolik total sekitar 1201.94 mg GAE/kg, flavonoid sekitar 233.98 mg CE/kg, ALA sekitar 60-70% dari total asam lemak, dan peptida bioaktif. Data kuantitatif menunjukan inhibisi radikal mencapai 70%-90% pada uji pra klinis, menunjukan aktivitas antioksidan yang tinggi. Kesimpulan, senyawa fenolik total sekitar 1201.94 mg GAE/kg, flavonoid sekitar 233.98 mg CE/kg menjadi kandidat utama antioksidan pada biji chia dengan senyawa bioaktif lainnya yang memiliki potensi kuat dalam pengembangan pangan fungsional. Bioactif Compounds and Antioxidant Activity Chia Seeds (Salvia hispanicaL.) as Functional Food Abstract Chia seeds (Salvia hispanica L.) are a food source with high antioxidant activity. The bioactive compounds in chia seeds include phenolic compounds, flavonoids, bioactive peptides, and omega-3 fatty acid (ALA). These bioactive compounds are capable of scavenging free radicals, enhancing reducing power, and providing protection against lipid peroxidation. The increasing prevalence of non-communicable diseases such as diabetes, hypertension, and cardiovascular disorders due to modern dietary patterns demands innovation in the development of natural functional foods with high antioxidant content. International trade data shows that Indonesia imported approximately 2.8 million kg of chia seeds in 2023, indicating high domestic demand and opportunities for developing local commodities. This study aims to identify the main bioactive components in chia seeds and evaluate the mechanism of antioxidant activity based on preclinical test results as functional foods to increase antioxidants in the body. The method used is a systematic literature review following PRISMA guidelines using the Scopus database for the period 2017–2025. A total of 10 articles meeting the inclusion criteria were analyzed descriptively. The results show that chia seeds contain approximately 1201.94 mg GAE/kg of total phenolic compounds, 233.98 mg CE/kg of flavonoids, 60-70% ALA of total fatty acids, and bioactive peptides. Quantitative data shows radical inhibition reaching 70%-90% in preclinical tests, indicating high antioxidant activity. In conclusion, total phenolic compounds at approximately 1201.94 mg GAE/kg and flavonoids at approximately 233.98 mg CE/kg are the primary antioxidant candidates in chia seeds, along with other bioactive compounds that have strong potential in the development of functional foods.