cover
Contact Name
Rikha Widiaratih
Contact Email
ijoce@live.undip.ac.id
Phone
+6281310097666
Journal Mail Official
ijoce@live.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. H. Soedarto, S.H, Tembalang, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Oceanography
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27148726     DOI : -
Indonesian Journal of Oceanography is published by Department of Oceanography, Universitas Diponegoro. The Indonesian Journal of Oceanography is published four times a year in February, May, August and November containing research articles and literature review on Oceanography and Marine aspects in general. Indonesian Journal of Oceanography (IJOCE) encourages submission of manuscripts dealing with all research papers and review on all aspects of oceanography, coastal management, marine science, marine biology, marine conservation, marine ecology, marine microbiology, marine culture, marine geology, air and ocean dynamics, estuary, renewable energy, disaster mitigation, ocean technology, ocean and coastal resources, ocean satellite, ocean remote sensing, other ocean topics.
Articles 276 Documents
Hubungan Parameter Perairan dengan Struktur Komunitas Rumput Laut di Perairan Pulau Maspari, Sumatera Selatan Riris Aryawati; Tengku Zia Ulqodry; Heron Surbakti; Isnaini Isnaini; Andi Agussalim; Rezi Apri; Muhammad Hendri; Rozirwan Rozirwan; Hilmaturosyidah Hilmaturosyidah
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.29656

Abstract

Pulau Maspari merupakan pulau kecil dan terpencil yang terletak di bagian selatan Selat Bangka, Provinsi Sumatera Selatan. Pulau Maspari diketahui memiliki beberapa potensi sumber daya hayati laut, termasuk rumput laut. Sampai saat ini belum ada informasi ilmiah mengenai kondisi rumput laut yang berada di  Pulau Maspari dan minimnya data terkait parameter lingkungan perairannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara parameter perairan dan keanekaragaman rumput laut di perairan Pulau Maspari, yang dilaksanakan pada Juli 2024 menggunakan metode eksploratif di tujuh stasiun sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan spesies rumput laut yang teridentifikasi dari tujuh stasiun, yaitu Caulerpa lentillifera, Cladophora prolifera, Derbesia sp., Ulva lactuca, Padina minor, Sargassum polycystum, Acanthophora spicifera, dan Gracilaria salicornia. Hasil analisis komponen utama (PCA) menunjukkan bahwa parameter perairan seperti suhu, kecerahan, kecepatan arus, salinitas, oksigen terlarut, pH, nitrat, dan fosfat memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur komunitas rumput laut, dengan persentase total sumbu F1 dan F2 mencapai 69,51% serta sumbu F1 dan F3 mencapai 41,59%. Indeks keanekaragaman dan keseragaman tertinggi ditemukan di stasiun 7, sedangkan indeks dominansi tertinggi terdapat di stasiun 3, 4, dan 6. Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan data dasar tentang struktur komunitas rumput laut di perairan Pulau Maspari, yang berguna dalam membantu pengambilan keputusan dalam pengelolaan serta konservasi ekosistem perairan.
Logam Berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Wike Ayu Eka Putri; Anna Ida Sunaryo Purwiyanto; Jeni Meiyerani; Melki Melki; Rozirwan Rozirwan; Beta Susanto Barus; Gusti Diansyah; Ani Haryati; Yulianto Suteja
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.29900

Abstract

Logam berat merupakan salah satu komponen bahan pencemar yang umum dijumpai di perairan. Informasi tentang logam berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di air dan sedimen Sungai Musi bagian hilir masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Ni dan Zn pada air dan sedimen yang dipengaruhi aktivitas antropogenik di Sungai Musi bagian hilir. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Maret, September dan November di sepanjang Sungai Musi Bagian Hilir yang dibagi menjadi 3 zona penelitian atau 11 stasiun. Sampel air dan sedimen dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat dalam air berkisar berkisar antara 0,003-0,005 mg/L untuk logam Ni dan 0,002-0,017 mg/L untuk logam Zn. Adapun konsentrasi logam berat dalam sedimen ditemukan lebih tinggi yaitu 42,63-74 mg/Kg untuk logam Ni dan 10,33-20,56 mg/Kg untuk logam Zn. Secara keseluruhan konsentrasi logam berat Ni dan Zn dalam sampel air dan Zn dalam sedimen masih dibawah baku mutu, namun konsentrasi logam Ni dalam sampel sedimen telah melebihi baku mutu yang menjadi rujukan. Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan konsentrasi logam Ni maupun Zn baik pada sampel air maupun sampel sedimen antar 3 zona pengamatan. 
Evaluasi Algoritma Estimasi Klorofil-A di Muara Sungai Sengkarang, Pekalongan Muhamad Nur Al Fajrin; Lilik Maslukah; Aris Ismanto; Muhammad Zainuri; Anindya Wirasatriya
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.30228

Abstract

Klorofil-a merupakan salah satu pigmen yang dimiliki oleh fitoplankton yang berfungsi membantu proses fotosintesis, sehingga dapat dijadikan indikator penting untuk mendeteksi eutrofikasi di perairan. Pengukuran konsentrasi klorofil-a dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode penginderaan jauh menggunakan suatu algoritma yang diterapkan untuk mengonversi data nilai numerik reflektan dari citra satelit menjadi nilai estimasi konsentrasi klorofil-a. Metode tersebut memiliki keunggulan hemat waktu dan biaya dibandingkan dengan analisis laboratorium. Penerapan algoritma yang sesuai dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang mendekati nilai aktual di lapangan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi performa tiga algoritma klorofil-a dari penelitian terdahulu, yaitu: algoritma Maslukah; algoritma Case 2 Regional CoastalColour (C2RCC); dan algoritma Putri di perairan Muara Sungai Sengkarang, Pekalongan dengan menggunakan citra Satelit Sentinel 2. Pengambilan sampel lapangan dilakukan pada tanggal 30 Mei 2024 dengan jumlah stasiun sebanyak 37 titik stasiun pengamatan. Konsentrasi klorofil-a in situ memiliki rentang nilai 2,10 - 9,42 µg/L dengan rata-rata 5,78 µg/L. Algoritma Maslukah menunjukkan performa terbaik (RMSE = 4,57 µg/L; MAPE = 99,40; bias = 4,38; R2 = 0,53) dibandingkan dengan algoritma C2RCC (RMSE = 7,17 µg/L; MAPE = 70,39; bias = 2,95; R2 = 0,40) dan algoritma Putri (RMSE = 7,31 µg/L; MAPE = 157,52; bias = 7,10; R2 = 0,28). Variasi spasial-temporal untuk status trofik pada periode bulan April hingga bulan September tahun 2025 didominasi oleh kelas mesotrofik dengan rentang konsentrasi klorofil-a sekitar 5,1 - 20 µg/L.
Keterkaitan Jenis Sedimen dan Kandungan C-organik dengan Komunitas Makrozoobentos Epifauna di Tanjung Carat, Sumatera Selatan Isnaini Isnaini; Riris Aryawati; Natalia Clarisa Sitorus; Melki Melki; Akhmad Tri Prasetyo; Rozirwan Rozirwan; Redho Yoga Nugroho
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.30012

Abstract

Tanjung Carat, Sumatera Selatan merupakan kawasan estuari yang mengalami penurunan luasan hutan mangrove akibat pembukaan lahan untuk pembangunan pelabuhan. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi karakteristik sedimen, khususnya kandungan C-organik yang berperan penting dalam mendukung kehidupan makrozoobentos. Kandungan bahan organik dalam sedimen merupakan sumber energi utama bagi makrozoobentos serta berperan dalam proses dekomposisi dan siklus nutrien. Kandungan C-organik yang optimal dapat meningkatkan produktivitas organisme bentik, namun kadar yang berlebihan berpotensi menimbulkan kondisi anaerob yang menghambat keberadaan fauna tertentu. Variasi kandungan C-organik dan jenis sedimen sangat memengaruhi kelimpahan, keanekaragaman, serta struktur komunitas makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis sedimen, kandungan C-organik sedimen, kelimpahan beserta struktur komunitas makrozoobentos epifauna, hingga hubungan karakteristik sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos. Penelitian dilakukan di Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin dengan tiga stasiun penelitian yang ditentukan secara purposive sampling. Pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan metode transek. Analisis C-organik dilakukan menggunakan spektrofotometri, sedangkan ukuran butir sedimen dianalisis menggunakan ayakan basah dan kering dan diklasifikasikan berdasarkan skala Wentworth dan segitiga Shepard. Hubungan antara karakteristik sedimen dan kelimpahan makrozoobentos dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 jenis makrozoobentos dari tiga kelas, dengan kelimpahan 233–1733 ind/100 m². Struktur komunitas menunjukkan keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, tanpa spesies dominan, serta hubungan positif antara kelimpahan makrozoobentos, kandungan C-organik, dan substrat lempung. 
Tren Suhu Permukaan Laut, Anomali Ekstrem, dan Keterkaitannya dengan ENSO di Teluk Tomini dan Perairan Sekitarnya Periode 2003–2025 Faizal Kasim; Sri Rahayu Kalaka; Sitty Ainsyah Habibie; Melisa Juliana Sau
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.30633

Abstract

Penelitian ini mengkaji tren jangka panjang suhu permukaan laut (SPL) dan respons spasial terhadap ENSO di Teluk Tomini, Laut Maluku/Seram, dan Laut Sulawesi menggunakan data NOAA Optimum Interpolation Sea Surface Temperature (NOAA CDR OISST v2.1) periode 2003–2023 dengan validasi data 2024–2025. Analisis regresi linier menunjukkan tren pemanasan signifikan di seluruh wilayah dengan laju 0,025–0,033 °C tahun⁻¹. Analisis korelasi mengungkap heterogenitas respons yang kontras; Laut Maluku/Seram menunjukkan korelasi negatif yang signifikan (r = -0,499) terhadap indeks ONI, mengkonfirmasi perannya sebagai jalur transmisi sinyal Pasifik. Sebaliknya, Teluk Tomini dan Laut Sulawesi menunjukkan korelasi yang lemah, mengindikasikan dominasi faktor oseanografi lokal. Validasi terhadap data aktual 2024–2025 menunjukkan deviasi suhu yang berada sedikit di bawah garis tren prediksi, menandakan adanya modulasi variabilitas antartahun terhadap pemanasan jangka panjang. Temuan ini menegaskan bahwa strategi adaptasi perikanan di kawasan ini memerlukan pendekatan spesifik lokasi yang mengintegrasikan indikator iklim global dan dinamika lokal.
Analisis Perubahan Kedalaman Termoklin, Suhu, dan Salinitas di Samudra Pasifik pada Studi Kasus Kejadian La Niña 2011, Normal 2013, dan El Niño 2015 Nurholis Nurholis; Kunarso Kunarso; Azis Rifai; Rima Putri Pertiwi; Eko Supriyadi
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.31164

Abstract

El Niño–Southern Oscillation secara dominan mengendalikan variabilitas struktur termohalin Samudra Pasifik yang berdampak pada cuaca ekstrem dan ekosistem laut. Studi ini memanfaatkan data Marine Copernicus Global Ocean Physics Reanalysis periode 1993–2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi variabilitas termal laut dan mengkaji respons terhadap kedalaman termoklin, suhu, dan salinitas dari kejadian ENSO. Kajian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan algoritma pemrograman berbasis komputasi numerik. Area studi berfokus pada Samudra Pasifik ekuatorial yang merupakan pusat wilayah terjadinya ENSO. Hasil studi menunjukkan bahwa di Pasifik ekuator selama fase La Niña (2011), terjadi pendinginan dengan kedalaman termoklin berdasarkan isoterm 20°C mengalami pendangkalan mencapai 102,83 m yang menunjukkan kemiringan termoklin curam karena pengaruh dari upwelling dan penguatan angin pasat. Sebaliknya, selama fase El Niño (2015), terjadi pemanasan dan kedalaman termoklin mengalami pendalaman mencapai 110 m yang disebabkan oleh angin pasat melemah, gelombang Kelvin downwelling, dan umpan balik positif Bjerknes. Variabilitas salinitas di Pasifik timur ketika La Niña menyebabkan penurunan salinitas permukaan yang tidak terlalu signifikan dari klimatologis (34,94 PSU) menjadi 34,89 PSU akibat transportasi massa air, sedangkan ketika El Niño terjadi penurunan salinitas permukaan yang signifikan dari klimatologis (34,94 PSU) menjadi 34,83 PSU akibat peningkatan presipitasi. Hasil ini menunjukkan sistem fisik utama terjadinya redistribusi massa air selama ENSO yang krusial untuk kajian iklim dan produktivitas biologi.
Akurasi Data Curah Hujan dari Radar Cuaca, Satelit dan Reanalisis di Pesisir Utara Jawa Tengah Ahmad Faa Iziyn; Anindya Wirasatriya; Elis Indrayanti; Eko Prasetyo
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.31840

Abstract

Pesisir Utara Jawa Tengah dikenal sebagai kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi dan kebutuhan multi-user sehingga dibutuhkan data informasi curah hujan yang akurat dan beresolusi tinggi. Kajian komparatif akurasi radar cuaca tipe C-Band dengan dual polarisasi yang mulai operasional di Semarang pada tahun 2024 terhadap produk satelit GSMaP dan reanalisis ERA5 di wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan kinerja ketiga sumber data tersebut terhadap observasi enam stasiun hujan Automatic Rain Gauge (ARG) dan Automatic Weather Station (AWS) periode Januari 2024 hingga Juni 2025. Validasi dilakukan menggunakan Mean Bias Error (MBE) dan Root Mean Square Error (RMSE) pada skala harian dan bulanan. Hasil menunjukkan radar C-Band memiliki kinerja terbaik dengan MBE 0,10 milimeter (harian) dan 0,21 milimeter (bulanan), serta RMSE terendah sebesar 5,01 milimeter (harian) dan 1,02 milimeter (bulanan). GSMaP menunjukkan performa mendekati radar pada skala bulanan (MBE 0,02 milimeter; RMSE 4,01 milimeter). Sedangkan ERA5 memiliki bias lebih variatif (MBE 0,07 sampai dengan 2,13 milimeter) dan RMSE tertinggi pada skala harian 17,98 milimeter. Hasil penelitian ini menegaskan keunggulan radar C-Band untuk analisis curah hujan resolusi tinggi dalam waktu jangka pendek di wilayah pesisir, sekaligus menunjukkan potensi GSMaP dan ERA5 sebagai alternatif untuk kajian klimatologis jangka panjang.
Analisis Perubahan Garis Pantai Parangtritis dan Pengaruh Faktor Oseanografi Menggunakan Citra Landsat Gilang Pradana Putra; Leony Risala Nova; Anissa Tifana; Fauziana Zahra; Arifa Fitri; Mutya Cahyani; Jahida Qurrata Ayyun; Ivan Maulana Agustin; Muhammad Darryl Heliano; Widya Prarikeslan
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.30430

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan fenomena dinamis di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh proses oseanografi, seperti gelombang dan pasang surut, serta dapat berdampak pada stabilitas lingkungan pesisir. Pantai Parangtritis, yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, memiliki dinamika garis pantai yang tinggi sehingga perlu dikaji secara kuantitatif dalam rentang waktu yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai Pantai Parangtritis selama periode 2004–2024 serta keterkaitannya dengan faktor oseanografi, khususnya gelombang laut dan pasang surut. Analisis dilakukan menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan parameter Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) berdasarkan citra Landsat multitemporal, sedangkan faktor oseanografi dianalisis menggunakan data deret waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan garis pantai didominasi oleh abrasi, dengan 59% dari 79 transek mengalami kemunduran. Nilai EPR minimum mencapai -9,01 m/tahun dan rata-rata -2,45 m/tahun, sedangkan akresi hanya terjadi secara lokal. Variasi tinggi gelombang tahunan berkisar antara 1,26–2,67 meter dan berasosiasi dengan intensitas abrasi pada periode tertentu. Pasang surut bertipe campuran condong semi-diurnal berperan sebagai faktor penguat abrasi. Hasil ini menunjukkan bahwa citra Landsat multitemporal dan metode DSAS efektif untuk mendukung pemantauan dan pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Konsentrasi dan Sebaran Material Padatan Tersuspensi di Perairan Pesisir Batang Pada Kondisi Musim Peralihan I (2025) Olaf Rendi Rorian; Dwi Haryo Ismunarti; Azis Rifai
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.31731

Abstract

Perairan Pesisir Batang yang terletak pada koordinat 109.83742 – 109.86269 BT dan 06.89740 – 06.90452 LS, khususnya di sekitar Pantai Roban Timur dan muara Sungai Kaliboyo, merupakan kawasan yang memiliki peran strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti area pertambakan, industri kecil dan menengah (UMKM), operasional Tempat Pelelangan Ikan (TPI), serta jalur navigasi kapal nelayan. Aktivitas tersebut berpotensi menghasilkan limbah bahan organik yang mengalami dekomposisi dan berkontribusi terhadap peningkatan material padatan tersuspensi di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsentrasi dan sebaran material padatan tersuspensi di perairan pesisir Batang pada Musim Peralihan I tahun 2025. Sampel air laut diambil pada 31 titik stasiun menggunakan metode purposive sampling pada tanggal 20 April 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi material padatan tersuspensi berkisar antara 11,167 mg/L hingga 69,633 mg/L dengan nilai rata-rata 25,851 mg/L, yang telah melampaui baku mutu air laut untuk biota laut sebesar 20 mg/L. Distribusi material padatan tersuspensi dipengaruhi oleh arus pasang surut dan arus menyusur pantai yang dipicu oleh angin. Interaksi kedua arus tersebut menyebabkan transpor partikel di sepanjang pesisir sehingga akumulasi material cenderung tinggi di area dekat muara sungai, kawasan pertambakan, wisata, serta beberapa wilayah lepas pantai yang searah dengan pergerakan arus laut.
Dinamika Spasial dan Temporal Gelombang Panas Laut di Selat Karimata Sebagai Respons Terhadap Anomali Iklim Ekstrem Muhamad Nur; Ellis Nurjuliasti Ningsih; Redho Yoga Nugroho; Risnita Tri Utami; Qurnia Wulan Sari; Hiskia Abel Perdana Ardi; Alfianu Adhi Riztiawan
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i2.31305

Abstract

Gelombang Panas Laut (GPL) merupakan fenomena ekstrem yang frekuensi, durasi, dan intensitasnya meningkat sebagai respons terhadap pemanasan global akibat aktivitas antropogenik. Selat Karimata, sebagai wilayah strategis dalam sistem lintas laut Indonesia, sangat rentan terhadap anomali termal ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik spasial dan temporal GPL di perairan Selat Karimata selama periode 1992-2024. Analisis dilakukan menggunakan data Suhu Permukaan Laut (SPL) harian resolusi tinggi dari Operational Sea Surface Temperature and Ice Analysis (OSTIA). Deteksi kejadian GPL dilakukan dengan pendekatan ambang klimatologis berbasis persentil ke-90, dengan durasi minimum lima hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selat Karimata mengalami rata-rata 2-3 kejadian GPL per tahun dengan durasi sekitar 10 hari dan intensitas maksimum mencapai 1,34 °C di atas ambang klimatologis. Temuan utama menunjukkan adanya tren peningkatan durasi GPL yang signifikan sebesar 11,5 hari per dekade, serta peningkatan frekuensi sebesar 1,1 kejadian per dekade. Secara temporal, kejadian GPL terpanjang dan terkuat terjadi pada tahun 1998 dan 2016, yang berkorelasi erat dengan fenomena El Niño kuat. Secara spasial, wilayah selatan Selat Karimata menunjukkan intensitas dan durasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Selain itu, kejadian GPL berdurasi panjang dan berintensitas tinggi lebih dominan di wilayah pesisir dan laut semi-tertutup. Peningkatan signifikan pada parameter GPL ini mengindikasikan tekanan termal yang semakin besar pada ekosistem laut di Selat Karimata. Temuan ini menegaskan bahwa Selat Karimata merupakan wilayah yang rentan terhadap tekanan termal laut, dengan implikasi signifikan terhadap ekosistem pesisir dan pengelolaan perikanan (WPPNRI) 711 dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 2 (2026): Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography Vol 7, No 4 (2025): Indonesian Journal of Oceanography Vol 7, No 3 (2025): Indonesian Journal of Oceanography Vol 7, No 2 (2025): Indonesian Journal of Oceanography Vol 7, No 1 (2025): Indonesian Journal of Oceanography Vol 6, No 4 (2024): Indonesian Journal of Oceanography Vol 6, No 3 (2024): Indonesian Journal of Oceanography Vol 6, No 2 (2024): Indonesian Journal of Oceanography Vol 6, No 1 (2024): Indonesian Journal of Oceanography Vol 5, No 4 (2023): Indonesian Journal of Oceanography Vol 5, No 3 (2023): Indonesian Journal of Oceanography Vol 5, No 2 (2023): Indonesian Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2023): Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2022): Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 3 (2022): Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 2 (2022): Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2022): Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 4 (2021): Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 3 (2021): Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 2 (2021): Indonesian Journal of Oceanography Vol 3, No 1 (2021): Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 4 (2020): Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2020): Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 2 (2020): Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2020): Indonesian Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2019): Indonesian Journal of Oceanography More Issue