cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 911 Documents
POLA SEBARAN JENIS FAMILI ARACEAE (Talas-talasan) DI KEBUN RAYA SAMBAS KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT Taufik, Nur Mohammad; Dewantara, Iswan; Destiana, Destiana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.77752

Abstract

AbstrakTumbuhan Araceae merupakan salah satu jenis tumbuhan tingkat rendah yang hidup di daratan, epifit, dan akuatik. Kebun Raya Sambas terletak pada ketinggian 32 "“ 75 m (dpl) dan mempunyai 3 tipe hutan yang berbeda yaitu hutan dataran rendah, hutan rawa dan hutan riparian dengan kondisi lingkungan lembab, berair dan teduh serta curah hujan yang tinggi sesuai dengan habitat tumbuhnya. dari spesies Araceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan pola sebaran tumbuhan Araceae di Kebun Raya Sambas. Metode penelitian menggunakan metode survei dan eksplorasi dengan teknik roaming. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan petak ganda tanpa beraturan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 20 spesies dari 10 genus tumbuhan famili Araceae yaitu Aglaonema, Alocasia, Amorphophallus, Cyrtosperma, Dieffenbachia, Epipremnum, Homalomena, Rhaphidopora, Schismatoglottis dan Scindapsus. Tumbuhan Araceae yang ditemukan mempunyai 2 cara hidup yaitu terestrial dan epifit. Perhitungan indeks morisita menunjukkan pola sebaran tanaman Araceae di Kebun Raya Sambas mempunyai sebaran yang mengelompok.Kata Kunci : Araceae, Kebun Raya, Pola Sebaran  AbstrakTumbuhan Araceae merupakan salah satu jenis dari tumbuhan bawah yang hidup di teresterial, epifit dan aquatik. Tumbuhan Araceae hidup di daerah tropis dengan kelembapan yang tinggi. Kebun Raya Sambas terletak pada ketinggian 32 - 75 m (dpl) dan memiliki 3 tipe hutan yang berbeda yaitu hutan dataran rendah, hutan rawa dan hutan riparian dengan kondisi lingkungan yang lembab, berair dan teduh serta curah hujan yang tinggi sesuai dengan habitat tumbuh jenis- jenis Araceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan pola sebaran tumbuhan Araceae di Kebun Raya Sambas. Metode penelitian menggunakan metode survei dan eskplorasi dengan teknik jelajah. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan petak ganda tanpa beraturan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 20 spesies dari 10 genus tumbuhan famili Araceae yaitu Aglaonema, Alocasia, Amorphophallus, Cyrtosperma, Dieffenbachia, Epipremnum, Homalomena, Rhaphidopora, Schismatoglottis dan Scindapsus. Tumbuhan Araceae yang ditemukan memiliki 2 cara hidup yaitu terestrial dan epifit. Hasil perhitungan indeks morisita menunjukkan pola sebaran tumbuhan Araceae di Kebun Raya Sambas memiliki persebaran yang mengelompok.  Kata kunci: Araceae, Kebun Raya, Pola Sebaran.
EFEKTIVITAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN HUTAN MANGROVE DI DESA KUALA SATONG Roslinda, Emi; Rahmah, Adhea Nuur; Hardiansyah, Gusti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.77412

Abstract

Community empowerment is an effort that local communities can undertake to preserve mangrove forests. Community empowerment in Kuala Satong Village is already underway; however, it is essential to note that this empowerment has yet to achieve its goal. Therefore, it is necessary to assess the effectiveness of community empowerment in efforts to preserve mangrove forests. This research objective to describe the level of effectiveness of community empowerment in preserving mangrove forests in Kuala Satong Village. The research method employed is a survey method with a purposive sampling technique, utilizing a questionnaire administered to respondents. The data are then analyzed descriptively, qualitatively, and quantitatively. The research results indicate that the effectiveness of community empowerment in mangrove forest conservation efforts falls within the 'effective enough' category. This is evident in the Community Empowerment Effectiveness variable, which comprises three indicators: Achievement, Adaptation, and Integration. Effectiveness assessment is also supported by the Conservation Effort variable (Physical) and the Conservation Effort variable (Non-Physical). Keywords: community empowerment, effectiveness, mangrove, preservation, Abstract Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang penting untuk melestarikan hutan mangrove di lingkungan setempat. Di Desa Kuala Satong, pemberdayaan masyarakat telah dilakukan, namun perlu dilakukan penilaian guna mengetahui sejauh mana pemberdayaan tersebut telah mencapai tujuannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat efektivitas pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove di Desa Kuala Satong. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan pengumpulan data melalui kuesioner yang diberikan kepada responden. Data kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove termasuk kategori cukup efektif. Hal ini berdasarkan tiga indikator utama efektivitas pemberdayaan masyarakat, yaitu pencapaian, adaptasi, dan integrasi. Penilaian efektivitas ini juga didukung oleh variabel upaya pelestarian fisik dan non-fisik. Kata kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Efektivitas, Mangrove, Pelestarian
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA ENSAID PANJANG KABUPATEN SINTANG Pradika, Carteus Bima; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati, Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.87788

Abstract

Ensaid Panjang Village is one of the villages in Sintang Regency that has various natural and local cultural potentials that can be developed into ecotourism destinations.. Research was conducted to examine strategic issues, examine internal and external factors and formulate development strategies based on SWOT analysis. The research was conducted in Ensaid Panjang Village, Sintang Regency, Kelam Permai District, West Kalimantan. Data collection was carried out by observation, documentation and interviews obtained from Key Person and Accidental Sampling used to interview visitors. The results showed that Ecotourism in Ensaid Panjang Village is in quadrant 1 which shows that the right strategy to develop tourism is to use strengths as opportunities such as making tour packages, using government support to improve facilities, and utilizing tourism as educational material. Keywords: Ecotourism, Ensaid Panjang, and SWOT Abstrak Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa di Kabupaten Sintang yang memiliki berbagai potensi alam dan budaya lokal yang potensial dikembangkan untuk destinasi ekowisata. Penelitian dilakukan untuk mengkaji isu-isu strategi, mengkaji factor internal dan eksternal dan merumuskan strategi pengembangan berdasarkan analisis SWOT. Penelitian dilaksanakan di Desa Ensaid Panjang Kabupaten Sintang, Kecamatan Kelam Permai, Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara yang diperoleh dari Key Person dan Accidental Sampling yang digunakan untuk mewawancarai pengunjung.Hasil Penelitian menunjukan bahwa Ekowisata yang berada di Desa Ensaid Panjang berapada pada kuadran 1 yang menunjukan bahwa Strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata adalah menggunakan kekuatan sebagai peluang seperti membuat paket wisata, menggunakan dukungan pemerintah untuk meningkatkan fasilitas, dan memanfaatkan wisata sebagai bahan edukasi. Kata kunci: Ekowisata, Ensaid Panjang, dan SWOT
APLIKASI KOMPOS BLOK DENGAN PENAMBAHAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN DI LAHAN MARGINAL Munawaroh, Khoryfatul; Murda, Rio Ardiansyah; Fahni, Yunita
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.74565

Abstract

Marginal land refers to degraded and infertile areas that are difficult to cultivate. One example of such land is found around the ITERA Botanical Garden Reservoir, where the soil is compacted and lacks fertility. Therefore, soil improvement is required prior to planting to enhance plant growth. In this study, soil amendment was applied in the form of block compost combined with mycorrhiza. Block compost is a compacted mixture of soil ameliorants formed into pot-like shapes; it is environmentally friendly and functions as a slow-release fertilizer. In addition to compost application, the use of microorganisms such as mycorrhiza can also improve plant adaptability in marginal soils. The experiment employed a completely randomized design (CRD) arranged in a split-plot design, where the main plot was the mycorrhiza treatment and the subplot was the block compost formulation. The objective of this study was to determine the best compost block formulation and treatment combination based on plant growth responses. The plant species tested were Casuarina equisetifolia, Terminalia mantaly, and Kigelia africana. Based on plant growth data measured over 16 weeks, mycorrhiza application showed no significant effect on plant growth. In contrast, the block compost treatment had a significant effect in both formulations. Terminalia mantaly exhibited better growth with block compost formula 1 (compost {5}: rice husk charcoal {2}: cow manure {2}: dolomite lime {0.1}), whereas Casuarina equisetifolia and Kigelia africana showed better responses with block compost formula 2 (compost {3}: rice husk {2}: cow manure {5}: dolomite lime {0.1}). Keywords: Block Compost, C. equisetifolia, K. africana, mychorriza, T. mantaly. Abstrak Lahan marginal merupakan lahan kritis yang tidak subur dan sulit untuk ditanami. Salah satu contoh tanah marginal terdapat di sekitar Embung Kebun Raya ITERA. Kondisi ini mengakibatkan tanah di sekitarnya tidak subur dan padat. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan perbaikan tanah sebelum dilakukan penanaman untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Perlakuan yang diberikan adalah dengan pengaplikasian kompos blok dengan mikoriza. Kompos blok adalah kombinasi amelioran tanah yang dipadatkan menyerupai pot tanaman, bersifat ramah lingkungan dan merupakan pupuk yang melepaskan unsur hara secara perlahan (slow release). Selain pengaplikasian kompos blok untuk lahan marginal, penggunaan mikroorganisme seperti mikoriza juga dapat membantu daya adaptabilitas tanaman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan split-plot design. Faktor utamanya adalah mikoriza, dan anak petaknya adalah perlakuan kompos blok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis formulasi kompos blok terbaik serta kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan respon pertumbuhan tanaman. Jenis tanaman yang digunakan adalah Casuariana equisetifolia, Terminalia mantaly, dan Kigelia Africana. Berdasarkan data pertumbuhan tanaman yang diukur selama 16 minggu, diperoleh hasil bahwa mikoriza tidak memiliki pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Pengaruh nyata ditunjukkan dengan perlakuan kompos blok pada kedua formula yang diberikan. Respon pertumbuhan T. mantaly lebih baik pada kompos blok formula 1 (kompos {5} : arang sekam padi {2} : kotoran sapi {2} : kapur dolomit {0.1}) sedangkan C. equisetifolia dan K. africana lebih baik pada kompos blok formula 2 (kompos {3}: sekam padi {2} : kotoran sapi {5} : kapur dolomit {0.1}) Kata kunci: C. equisetifolia, K. africana. kompos blok, mikoriza, T. mantaly.
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR BUKIT KINAI DESA SETANDUK KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Bagaskara, Arul; Dirhamsyah, M; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.87795

Abstract

Bamboo is one of the non-timber forest products that is widely used by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency for various daily needs. Therefore, this study aims to obtain data on the types of bamboo utilized and the form of bamboo utilization by the Setanduk Village community. This research uses a survey method with direct interview techniques. Sampling at the research site was carried out using purposive sampling, namely respondents who utilize and use bamboo, the community that was used as a respondent was 213 people. Based on the results of the study, 7 types of bamboo were obtained which were utilized by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). There are 4 forms of bamboo utilization by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely as construction materials, woven materials, consumption materials, and cultural / traditional ritual materials. The Use Value (UV) value on the utilization of bamboo species, namely aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum) and munti (Schizostachyum sp.) has the highest UV value with a value of 1. Then for the percentage of Fidelity Level (FL) the highest value (100%) is found in 4 types of bamboo namely tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). Keywords: Bamboo, Bukit Kinai, Community, Setanduk Village, Utilization Abstrak Bambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis-jenis bambu yang dimanfaatkan dan bentuk pemanfaatan bambu oleh masyarakat Desa Setanduk. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik wawancara secara langsung. Pengambilan sampel di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu responden yang memanfaatkan dan menggunakan bambu, masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 213 orang. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 7 jenis bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang, yaitu aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Pemanfaatan bambu oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang ada 4 bentuk pemanfaatan yaitu sebagai bahan kontruksi, bahan anyaman, bahan konsumsi, dan bahan budaya/ritual adat. Nilai Use Value (UV) pada pemanfaatan jenis bambu yaitu aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), dan munti (Schizostachyum sp.) memiliki niai UV tertinggi dengan nilai 1. Kemudian untuk persentase Fidelity Level (FL) nilai tertinggi (100 %) terdapat 4 jenis bambu yaitu tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Kata kunci: Bambu, Bukit Kinai, Masyarakat, Desa Setanduk, Pemanfaatan
PENILAIAN POTENSI DAYA TARIK WISATA ALAM RIAM PALAYO DESA CIPTA KARYA KECAMATAN SUNGAI BETUNG KABUPATEN BENGKAYANG Siahaan, Sarma; Meriyana, Meriyana; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.82248

Abstract

Riam Palayo is mostly known to the people of Bengkayang Regency, but there has been no study assessing the potential of the Riam's tourist attraction. The aim of the research is to obtain the potential value of natural tourist attractions. The method used is a survey method with observation and interview techniques using a questionnaire. The sample was taken as many as 66 respondents using accidental sampling and purposive sampling techniques. Data processing uses the data scoring method in accordance with the 2003 Natural Tourism Objects and Attractions (ODTWA PHKA) guidelines. The results of the assessment of Riam Palayo's natural tourism potential consist of Tourist Attraction (B), Accessibility (B), Socio-Economic Conditions (A), Accommodation (A), Visitor Facilities and Infrastructure (A), Availability of Clean Water (A). The ODTWA Alam Riam Palayo calculation results obtained a score of 561.29, meaning that it has enough potential to be developed as a natural tourist attraction, but it still needs to improve accessibility and maintain the existence of the attraction. Keyword: Cipta Karya Village, Riam Palayo, Tourist Attraction, Tourism Potential Abstrak Riam Palayo sebagian besar dikenal masyarakat Kabupaten Bengkayang namun belum ada kajian penilaian potensi daya tarik wisata Riam tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan nilai potensi daya tarik wisata alam. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel sebanyak 66 responden menggunakan teknik Accidental sampling dan Purvosive sampling . Pengolahan data menggunakan metode Skoring data sesuai pedomana Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA PHKA) tahun 2003. Hasil penilaian potensi wisata alam Riam Palayo terdiri dari Daya Tarik Wisata (B), Aksesibilitas (B), Kondisi Sosial Ekonomi (A), Akomodasi (A), Sarana dan Prasarana Pengunjung (A), Ketersediaan Air Bersih (A). Hasil perhitungan ODTWA Alam Riam Palayo diproleh skor 561,29, artinya cukup potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam, namun masih perlu peningkatan perbaikan aksessibilitas dan mempertahankan keberadaan daya tarik . Kata kunci: Desa Cipta Karya, Riam Palayo, Daya Tarik Wisata, Potensi Wisata
ETNOBOTANI REMPAH OLEH MASYARAKAT DESA SELES KECAMATAN LEDO KABUPATEN BENGKAYANG Rayani, Primadita; Tavita, Gusti Eva; Sisillia, Lolyta
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.76907

Abstract

Ethnobotany of Spices by the Community of Seles Village, Ledo District, Bengkayang Regency. The research aims to compile and document the types of spice plants, identify the plant parts used, and understand the spice processing methods employed by the community of Seles Village in Ledo District, Bengkayang Regency. The study was conducted in Seles Village for 4 weeks in the field. Data collection in this research utilized a survey method with qualitative analysis conducted through interviews using questionnaires. Purposive sampling was employed to interview specific criteria-based individuals within Seles Villa. The results of the research revealed that there are 38 types of spice plants from 26 families utilized by the Dayak Bakati' ethnic group in Seles Village. The highest habitus of plants used, constituting the majority, is herbs 36.84%, while the lowest habitus is lianas 2.63%. The most common processing method is slicing 38.98%, followed by the least common methods such as splitting, fermentation, grinding, grating, squeezing, soaking, and pounding, each 1.69%. The highest plant status is cultivation 63.16%, while wild plants constitute 36.84%. The most prevalent location for spice plant growth is in yards 26.98%, whereas the lowest is in fields 1.59%. The most commonly used plant part is leaves 34.88%, and the least used part is the root 2.33%. The primary utilization of spices in Seles Village is as flavor/odor neutralizers, accounting for 22.09%, while the least common use is as a preservative 2.33). Keywords: Dayak Bekati’ Tribe, Ethnobotany, Seles Village, Spices. Abstrak Etnobotani Rempah oleh Masyarakat Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. tujuan penelitian untuk mendata dan mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan rempah, mendapatkan bagian tumbuhan yang digunakan, dan memperoleh cara pengolahan rempah oleh masyarakat Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Seles selama  4 minggu di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan analisis kualitatif dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling untuk mewawancarai masyarakat umum dengan kriteria tertentu yang ada di Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 38 jenis tumbuhan rempah dari 26 famili yang dimanfaatkan oleh suku Dayak Bakati’ di Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat suku Dayak Bakati’ di Desa Seles menunjukkan tingkat habitus tumbuhan tertinggi atau yang paling banyak digunakan yaitu herba 36,84% sedangkan habitus tumbuhan terendah yaitu liana 2,63%. Cara pengolahan terbanyak yaitu diiris 38,98%, kemudian cara pengolahan terendah yaitu dibelah, fermentasi, dihaluskan, diparut, diperas, direndam, dan diremas masing-masing 1,69%)\. Status tumbuhan tertinggi yaitu budidaya 63,16% sedangkan status tumbuhan liar 36,84%. Lokasi tumbuh tanaman rempah terbanyak yaitu di pekarangan 26,98% sedangkan yang paling rendah yaitu di sawah dengan persentase 1,59%. Bagian tumbuhan yang digunakan terbanyak yaitu daun 34,88%, dan yang terendah yaitu akar 2,33%. Pemanfaatan rempah di Desa Seles yang paling banyak yaitu penetral rasa/bau dengan persentase 22,09%, kemudian pemanfaatan rempah terendah yaitu sebagai pengawet 2,33%. Kata kunci: Suku Dayak Bekati’, Etnobotani, Desa Seles, Rempah
STRUKTUR KOMUNITAS ZONA RIPARIAN TERHADAP KONDISI FISIK-KIMIA KELOMPOK HUTAN SUNGAI KUBANG PT. ERNA DJULIAWATI Erianto, Erianto; Marissa, Dila; Dewantara, Iswan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.82419

Abstract

PT. Erna Djuliawati Central Kalimantan is a company engaged in the timber industry, in the PBPH area there are many Sub-Watersheds, one of which is the Kubang Sub-DAS This study aims to identify the community structure of riparian vegetation in the waters of the Kubang River and analyze the quality and conditions of the physical and chemical waters of the Kubang River. This study uses a survey method with a purposive sampling technique. The results of the study showed that there were 43 species of riparian vegetation at the lower plant level with 149 individuals, 18 species of seedlings with 94 individuals, 31 species of stakes with 125 individuals, 20 species of poles with 110 individuals, and 30 species of trees with 173 individuals. Riparian diversity between tilapia \bar{H} 0.82-1.27 is in the low to medium category. The distribution pattern of vegetation at each station shows that all vegetation growth stages are distributed in a clustered pattern, except for the seedling stage at the downstream section of the river, which is distributed randomly.. Based on the results of the Kubang River water quality laboratory test, the values of BOD 1-2, COD 3.0-13, DO 4.05-4.47, pH 7.12-7.78, TSS 5.0-10, and TDS 24-25 are included in the standard water quality. Keywords: Distribution patterns, diversity, physico-chemical, riparian vegetation. Abstrak PT. Erna Djuliawati Kalimantan Tengah merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri kayu, dalam kawasan PBPH terdapat banyak Sub Daerah Aliran Sungai salah satunya Sub DAS Kubang. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi struktur komunitas vegetasi riparian di kawasan perairan Sungai Kubang dan menganalisis kualitas dan kondisi perairan fisik kimia Sungai Kubang. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa vegetasi riparian tingkat tumbuhan bawah ditemukan 43 jenis dengan 149 individu, 18 jenis semai dengan 94 individu, 31 jenis pancang dengan 125 individu, 20 jenis tiang dengan 110 individu, 30 jenis pohon dengan 173 individu. Keanekaragaman jenis vegetasi riparian adalah \bar{H} 0,82-1,27 termasuk ke dalam kategori rendah sampai sedang. Pola penyebaran vegetasi pada setiap stasiun menunjukan semua tingkat pertumbuhan vegetasi tersebar secara berkelompok dan hanya tingkat pertumbuhan semai pada sungai bagian hilir tersebar secara acak. Berdasarkan hasil uji laboratorium kualitas air Sungai Kubang nilai BOD 1-2, COD 3,0-13, DO 4,05-4,47, pH 7,12-7,78, TSS 5,0-10, TDS 24-25 masuk kedalam standar baku mutu air. Kata kunci: Pola distribusi, keanekaragaman, fisik-kimia, vegetasi riparian.
INTEGRASI PENGETAHUAN LOKAL DAN ILMU BIOEKOLOGI UNTUK KONSERVASI TUMBUHAN PEWARNA ALAMI OLEH KOMUNITAS DAYAK IBAN DI DESA MENUA SADAP KALIMANTAN BARAT Junaidi, Junaidi; Prayogo, Hari; Sarjoko, Nanding
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.97775

Abstract

The use of plants as natural dyes holds significant ecological and cultural value, particularly in supporting environmentally friendly practices and the preservation of indigenous heritage. However, traditional knowledge possessed by indigenous communities regarding the sources and techniques of natural dye production remains poorly documented in scientific literature. This presents both a challenge and an opportunity for the conservation of forest plant species with high utilization potential. This study aims to explore the ethnobotanical knowledge and bioecology of three forest plant species Papak (Vitex pubescens), Tebelian (Eusideroxylon zwageri), and Tengkawang Tungkul (Shorea stenoptera) as well as their use as natural dyes in traditional woven fabrics of the Dayak Iban community. The research was conducted in Sadap Hamlet, Manua Sadap Village, Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan, using a qualitative approach involving in-depth interviews with key informants and literature reviews on the taxonomy and bioecology of the selected species. The results show that the Dayak Iban community has long utilized plants as natural dyes, with several species such as Indigofera, Morinda citrifolia, Parkia speciosa, and Nephelium lappaceum already cultivated in home gardens. Meanwhile, Papak, Tebelian, and Tengkawang are still collected from forests due to limited cultivation efforts. Indigenous knowledge, when integrated with scientific approaches, offers promising pathways for the conservation and domestication of these dye-producing plants. Understanding the bioecological characteristics of these species can guide appropriate cultivation strategies. This integration highlights the potential for sustainable, efficient, and environmentally sound use of natural resources through the synergy of local and scientific knowledge. Keyword: Bioecology, Ethnobotany, Dayak Iban, Plant conservation, Natural dyes. Abstrak Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi, khususnya dalam mendukung praktik ramah lingkungan dan pelestarian warisan lokal. Namun, pengetahuan tradisional masyarakat adat mengenai sumber dan teknik pemanfaatan tumbuhan pewarna alami masih belum banyak terdokumentasi secara ilmiah khususnya yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam upaya konservasi tumbuhan hutan yang memiliki potensi nilai guna tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengetahuan etnobotani dan bioekologi tiga spesies tumbuhan hutan, yaitu Papak (Vitex pubescens), Tebelian (Eusideroxylon zwageri), dan Tengkawang Tungkul (Shorea stenoptera), serta potensi dan proses penggunaannya sebagai pewarna alami pada kain tenun tradisional masyarakat Dayak Iban. Penelitian dilaksanakan di Dusun Sadap, Desa Manua Sadap, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci dan studi literatur mengenai taksonomi serta bioekologi ketiga spesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dayak Iban secara turun-temurun telah memanfaatkan tumbuhan sebagai sumber pewarna alami. Beberapa spesies seperti Rengat, Mengkudu, Petai, dan Rambutan telah dibudidayakan di pekarangan rumah, sedangkan Papak, Tebelian, dan Tengkawang masih dikumpulkan dari hutan karena terbatasnya upaya budidaya. Pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat berpotensi dikolaborasikan dengan pendekatan ilmiah untuk mendukung konservasi dan domestikasi ketiga spesies tersebut. Informasi bioekologi dari ketiga tumbuhan ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat dalam menentukan habitat yang sesuai untuk budidaya. Integrasi pengetahuan lokal dan ilmiah ini menunjukkan potensi besar dalam mendukung pemanfaatan sumber daya alam secara efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Kata kunci : Bioekologi, Etnobotani, Dayak Iban, Konservasi tumbuhan, Pewarna alami.
KEANEKARAGAMAN JENIS AMFIBI (ORDO ANURA) DI KAWASAN WISATA ALAM RIAM SOLAKNG KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK Eva, Sesilia Agustina; Rifanjani, Slamet; Darwati, Herlina; Ramadhani, Endi; Deka, Elvy Quatrin
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.101325

Abstract

Anura is an important component for the sustainability of ecosystems, namely as an important component in the food chain and environmental stability. The purpose of this study was to record the types of Anura found and to assess the level of Anura species diversity. This study was conducted in the Riam Solakng Nature Tourism Area, Sengah Temila District, Landak Regency. This study employed a survey method, utilizing the Visual Encounter Survey (VES) technique combined with a transect system. The results of the study showed 9 species from 4 families with a total of 129 individuals. The species diversity index H’ = 1.87 was categorized as moderate. The dominance index C = 0.18 was categorized as low. The species richness index Dmg = 1.65 was categorized as low. The species evenness index for aquatic habitats, E = 0.85, was categorized as high, and for terrestrial habitats, E = 0.94, was also categorized as high. Odorrana hossi had the highest relative abundance value at 30.23%, categorized as high, while Leptobrachium ingeri and Limnonectes kuhlii had low relative abundance values at 1.55%, categorized as low. The species similarity index between aquatic and terrestrial habitats is 36.36%, categorized as low. The highest encounter probability is for Odorrana hosii at 1.63 individuals per hour, while Leptobrachium ingeri and Limnonectes kuhlii have the lowest encounter probability at 0.08 individuals per hour. Keywords: Anura, Biodiversity, Riam Solakng. Abstrak Anura merupakan salah satu komponen penting bagi keberlangsungan ekosistem yaitu sebagai komponen penting dalam rantai makanan dan stabilitas lingkungan. Tujuan penelitian adalah mendata jenis-jenis Anura yang ditemukan dan mengkaji tingkat keanekaragaman jenis Anura. Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Wisata Alam Riam Solakng Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan teknik pengumpulan data Visual Encounter Survey (VES) dikombinasikan dengan sistem jalur. Hasil penelitian diperoleh 9 jenis dari 4 famili dengan total keseluruhan 129 individu. Nilai indeks keanekaragaman jenis H’= 1,87 terkategori sedang. Nilai indeks dominansi C = 0,18 terkategori rendah. Nilai indeks kekayaan jenis Dmg = 1,65 terkategori rendah. Nilai indeks kemerataan jenis habitat akuatik E= 0,85 terkategori tinggi dan habitat terestrial E= 0,94 terkategori tinggi. Odorrana hossi memiliki nilai kelimpahan relatif tertinggi yaitu 30,23% terkategori tinggi sedangkan Leptobrachium ingeri dan Limnonectes kuhlii memiliki nilai kelimpahan relatif rendah yaitu 1,55 % terkategori rendah. Nilai indeks kesamaan jenis antar habitat akuatik dan terestrial yaitu 36,36% terkategori rendah. Peluang perjumpaan paling besar yaitu Odorrana hosii 1,63 individu/jam sedangkan Leptobrachium ingeri dan Limnonectes kuhlii memiliki peluang perjumpaan paling kecil 0,08 individu/jam. Kata kunci: Anura, Biodiversitas, Riam Solakng.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue