cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 911 Documents
BUDAYA SPIRITUAL DI SEKITAR KAWASAN PT. HUTAN KETAPANG INDUSTRI KECAMATAN KENDAWANGAN KABUPATEN KETAPANG (Studi Kasus Desa Pangkalan Batu, Desa Kedondong dan Desa Mekar Utama) Asmaiah, Asmaiah; Rifanjani, Slamet; Muflihati, Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i3.75842

Abstract

Spiritual culture is a manifestation of inner culture that can only be communicated through the expression of symbols that are still alive. This culture can be understood and has become a belief of the Dayak people that cannot be changed. The forms of spiritual culture include customs, language, tools, clothing, buildings, and works of art that develop and are passed down from generation to generation. PT Hutan Ketapang Industri is an industrial plantation forest company that helps protect spiritual culture and important locations for traditions/customs in order to maintain the cultural identity of local residents. The purpose of the study was to obtain and analyze data on spiritual culture around PT Hutan Ketapang Industri in kendawangan sub-district, Ketapang Regency. This study uses a survey method. Data collection by interview using the snowball sampling technique. Interviews were conducted with the Village Headwho was the key respondent to obtain information about spiritual culture with a question guide. Data analysis techniques using descriptive methods with a qualitative approach. The results of spiritual culture research show cultural sites, traditional rituals and objects used in traditional rituals. Spiritual culture is still maintained and preserved today by the people of Pangkalan Batu Village, Kedondong Village and Mekar Utama Village. Keywords: Key Responden, PT. Hutan Ketapang Industri, Snowball, Spiritual Culture Abstrak Budaya spiritual merupakan perwujudan budaya batin yang hanya dapat dikomunikasikan melalui eksperesi simbol-simbol yang masih hidup. Budaya ini dapat dipahami dan sudah menjadi kepercayaan masyarakat dayak yang tidak dapat diubah. Bentuk budaya spiritual tersebut antara lain adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. PT. Hutan Ketapang Industri merupakan perusahaan hutan tanaman industri yang ikut melindungi budaya spiritual serta lokasi penting bagi tradisi/adat agar terjaganya identitas budaya warga setempat. Tujuan penelitian untuk memperoleh dan menganalisis data budaya spiritual di sekitar PT. Hutan Ketapang Industri Kecamatan kendawangan Kabupaten Ketapang. Penelitian ini menggunakan metode survey. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan teknik snowball sampling. Wawancara dilakukan kepada Kepala Desa yang merupakan responden kunci untuk mendapakan informasi tentang budaya spiritual dengan panduan pedoman pertanyaan. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian budaya spiritual menunjukkan situs budaya, ritual adat dan benda-benda yang digunakan dalam ritual adat. Budaya spiritual masih dijaga dan dilestarikan hingga sampai sekarang oleh masyarakat Desa Pangkalan Batu, Desa Kedondong dan Desa Mekar Utama. Kata kunci: Responden Kunci, PT. Hutan Ketapang Industri, Snowball, Budaya Spiritual
KARAKTERISTIK PENGUNJUNG OBJEK WISATA ALAM AIR TERJUN GURUNG SEPANGIN DI DUSUN LUBUK MANTUK DESA TERKUDAK KECAMATAN KALIS KABUPATEN KAPUAS HULU Yanter, Yohanes Bobbie; Siahaan, Sarma; Latifah, Siti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i3.55132

Abstract

This study aims to identify the characteristics of visitors to the natural tourist attraction Air Terjun Gurung Sepangin as a basis for destination development. A descriptive survey method was employed using accidental sampling, involving 30 respondents interviewed directly during their visit. Data collected included origin, age, gender, education level, employment status, marital status, information sources, transportation mode, travel time, visit frequency, visit duration, and arrival method. The results indicate that most visitors originate from Putussibau City, are aged 17"“25 years, predominantly female, have a high school level education, and are students or university students. The majority are unmarried, receive information through word of mouth, use motorcycles as their primary transportation, and have a travel time of 30"“60 minutes. Visit frequency ranges from 3 to 5 times, with durations between 2 and 5 hours, and visitors typically come in groups. These characteristics highlight the potential of Air Terjun Gurung Sepangin as an ecotourism destination that can be further developed by considering visitor profiles to enhance attractiveness and sustainable tourism management.Keywords:  Gurung Sepangin Waterfall, Tourist Attraction, Visitor CharacteristicsAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengunjung objek wisata alam Air Terjun Gurung Sepangin sebagai dasar pengembangan destinasi wisata. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif dengan teknik accidental sampling, melibatkan 30 responden yang diwawancarai langsung saat kunjungan. Data dikumpulkan meliputi asal daerah, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, sumber informasi, jenis transportasi, waktu tempuh, frekuensi kunjungan, durasi kunjungan, dan cara kedatangan. Hasil menunjukkan mayoritas pengunjung berasal dari Kota Putussibau, berusia 17-25 tahun, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan setara SMA, dan berstatus pelajar atau mahasiswa. Sebagian besar pengunjung belum menikah, memperoleh informasi secara lisan, menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi, dengan waktu tempuh 30"“60 menit. Frekuensi kunjungan berkisar 3"“5 kali, durasi kunjungan 2"“5 jam, dan pengunjung umumnya datang secara berkelompok. Karakteristik ini menegaskan potensi Air Terjun Gurung Sepangin sebagai destinasi ekowisata yang dapat dikembangkan dengan memperhatikan profil pengunjung untuk meningkatkan daya tarik dan pengelolaan wisata secara berkelanjutan.Kata kunci: Air terjun Gurung Sepangin, Daya tarik wisata, Karakteristik pengunjung
KONDISI LINGKUNGAN LOKASI PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Fernandi, Gregoius; Astiani, Dwi; Dewantara, Iswan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i3.55524

Abstract

Coastal forest is a group of trees that grows on sandy beaches above the highest tide line in the tropics. This study intends to collect data of the vegetation and environmental conditions ideal for a green turtle nesting site. The method used is a survey method by collecting data by purposive sampling where the turtle nests found. The measuring plots used are plots with sizes of 20m x 20m, 10m x 10m, 5m x 5m, and 2m x 2m consecutively for tree, pole, sapling dan seedling three growth level, where the plots are placed in each sector that has been determined. The results indicate that the Paloh turtles build their nest for layering their eggs within the area that has land cover vegetation that covered by 16 species, which at the sapling level were dominated by Cerbera manghas with an INP of 94.485% and Scaevola taccada with an INP of 57.274%. Meanwhile, at the pole level, it was dominated by Ficus aurea with an INP value of 63.937% and Ficus septica with 59.634% of the Moraceae family. At the tree level, vegetation is dominated by Casuarina equisetifolia which has an INP value of 48.695% from the Casuarinaceae family and Hibiscus tiliaceus with an INP value of 42.066% from the Malvaceae family. Keywords: Environment condition, Paloh district, Green turtle, Vegetation. Abstrak Vegetasi hutan pantai merupakan vegetasi yang tumbuh di pantai berpasir diatas garis pasang tertinggi di wilayah tropika. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kondisi vegetasi dan lingkungan yang ideal sebagai tempat bertelur penyu hijau. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan pengambilan data secara purposive sampling sarang penyu yang ditemukan. Plot ukur yang digunakan adalah plot dengan ukuran 20m x 20m, 10m x 10m, 5m x 5m, dan 2m x 2m dimana plot diletakkan pada masing-masing sektor yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil yang telah didapat pada pantai peneluran penyu paloh, vegetasi tutupan lahan pada sektor 5,6, dan 7 yang ditemukan sebanyak 16 jenis yang mana pada tingkat pancang didominasi oleh Cerbera manghas dengan INP 94.485% dan Scaevola taccada dengan INP 57.274%. Sedangkan pada tingkat tiang didominasi oleh Ficus aurea dengan nilai INP 63.937% dan Ficus septica dengan 59.634% dari familli Moraceae. Pada vegetasi tingkat pohon didominasi oleh Casuarina equisetifolia yang memiliki nilai INP 48.695% dari famili Casuarinaceae dan Hibiscus tiliaceus dengan INP 42.066% dari famili Malvaceae. Kata kunci: kondisi lingkungan, paloh, penyu hijau, vegetasi.
IDENTIFIKASI POHON BUAH-BUAHAN PADA TEMBAWANG RUMAH LAMA DUSUN PANJI DESA BAGAK KECEMATAN MENYUKE KABUPATEN LANDAK Susanti, Afriana; Manurung, Togar Fernando; Destiana, Destiana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.78372

Abstract

Plant identification is an effort to determine the correct name of a plant and its classification system. One example of plant identification that is often carried out is the identification of fruit-bearing trees. Fruit-bearing trees are plants that can produce fruit that can be consumed fresh or in processed form. The Tembawang Forest is a habitat for fruit-bearing trees, especially local fruit-bearing trees. The Tembawang Forest is a forest that was once a shifting cultivation area for the Dayak tribe, which was later overgrown with fruit trees. This study aims to identify and describe the morphological characteristics of edible fruit tree species. The method used is an exploratory method in the Tembawang Forest, involving direct observations in the field to identifyy their morphological characteristics. Based on the research results we found, 19 types of fruit trees , belonging to 11 families, namely Anacardiaceae, Malvaceae, Myrtaceae, Moraceae, Phyllanthaceae, Sapindaceae, Lauraceae, Meliaceae, Fabaceae, Euphorbiaceae, and Clusiaceae. Keywords: Fruit Trees, Identification, Tembawang Forest. Abstrak Identifikasi tumbuhan merupakan upaya untuk menentukan nama tumbuhan dan sistem klasifikasinya secara benar. Salah satu contoh identifikasi pada tumbuhan yang sering dilakukan yaitu identifikasi pada pohon penghasil buah. Pohon penghasil buah adalah tumbuhan yang dapat menghasilkan buah yang dapat dikunsumsi dalam keadaan segar maupun dalam bentuk olahan. Hutan Tembawang merupakan habitat dari pohon penghasil buah terutama pohon penghasil buah lokal. Hutan Tembawang merupakan hutan dari bekas ladang berpindah oleh masyarakat suku Dayak, yang kemudian ditumbuhi oleh pohon buah-buahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan ciri-ciri morfologi jenis-jenis pohon penghasil buah yang dapat konsumsi. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi pada hutan tembawang dengan melakukan pengamatan secara langsung di lapangan untuk kemudian mengidentifikasi ciri-ciri morfologinya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 19 jenis pohon buah-buahan yang tergolong dalam 11 famili yaitu, Anacardiaceae, Malvaceae, Myrtaceae, Moraceae, Phyllanthaceae, Sapindaceae, Lauraceae, Meliaceae, Fabaceae, Euphorbiaceae, dan Clusiaceae. Kata kunci: Pohon Buah-Buahan, Identifikasi, Hutan Tembawang.
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN DI DESA SETAWAR KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU Diana, Diana; Yani, Ahmad; Nurhaida, Nurhaida
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.83409

Abstract

Utilization of NTFPs can indirectly help the economy by processing them into handicraft products. The use of NTFPs has more or less an influence on meeting daily living needs. This research aims to record the types of NTFPs that are used as woven crafts and describe the woven craft products produced from NTFPs by the community in Setawar Village, Sekadau Hulu District, Sekadau Regency. This research uses a survey method with data collection techniques through interviews with 81 respondents selected using purposive sampling, analyzed descriptively qualitatively and quantitatively. The highest Use Value (UV) value is luwok (Korthalsia echinometra Becc)(0.4815), the highest Family Importance Value (FIV) value is Arecaceae (62.67%), the highest Informant Consensus Factor (ICF) value is 1.00 with a total of 15 types of woven, and the highest Fidelity Level (FL) values are (100) rirang (Licuala spinosa Wurmb) and muntik (Gigantochloa apus). We obtained 14 types of 4 families of NTFP plants which were used by the Setawar Village community as materials for woven crafts. 26 craft products with 5 categories of use, namely decoration, household tools, transportation equipment, fishing equipment and constructionKeywords: NTFPs, Plant Types, Woven Crafts.AbstrakPemanfaatan HHBK secara tidak langsung dapat membantu perekonomian dengan diolah menjadi produk kerajinan, adanya pemanfaatan HHBK sedikit banyak memberi pengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan hidup sehari hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis HHBK yang dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan anyaman dan mendeskripsikan produk kerajinan anyaman yang dihasilkan dari HHBK oleh masyarakat di Desa Setawar Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan data secara wawancara terhadap 81 responden yang dipilih secara purposive sampling, dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Nilai Use Value (UV) tertinggi yaitu uwi luwok (Korthalsia echinometra) yaitu 0,4815, nilai Family Importance Value (FIV) tertinggi yaitu Arecaceae yaitu 62,67%, nilai Informant Consensus Factor (ICF) tertinggi yaitu 1,00 dengan kategori pemanfaatan konstruksi,  dan nilai Fidelity Level (FL) tertinggi yaitu 100 untuk kategori pemanfaatan alat rumah tangga : uwi marau (Calamus mattanensis Becc), pensok (Schizostachyum flexuosum), perupok (Pandanus tectorius), untuk alat perikanan : muntik (Gigantochloa apus), untuk konstruksi : rirang (Licuala spinosa Wurmb). Diperoleh 14 jenis dari 4 family tumbuhan  HHBK yang dimanfaatkan masyarakat Desa Setawar sebagai bahan kerajinan anyaman. 26 produk kerajinan dengan 5 kategori pemanfaatan yaitu hiasan, alat rumah tangga, alat angkut, alat perikanan dan konstruksi.Kata kunci : HHBK, Jenis Tumbuhan, Kerajinan anyaman.
JASA LINGKUNGAN TAMAN KEANEKARAGAMAAN HAYATI KABUPATEN SANGGAU Roslinda, Emi; Sarniati, Sarniati; Astiani, Dwi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.76693

Abstract

Environmental services encompass both direct (tangible) and indirect (intangible) benefits derived from biological natural resources and their ecosystems. An ecosystem is defined as an ecological system formed by the mutual relationship between living organisms and their environment. Ecosystems are generated by three major factors: biotic factors, abiotic factors, and the link or interaction between the two. The purpose of this study is to describe the potential for environmental services in Sanggau Regency's biodiversity parks. The survey method was employed, utilizing interview techniques, with 104 respondents. The community and managers employed a purposive sampling method, while visitors used an accidental sampling method with questionnaire guidance. Observation techniques were also used in the Kehati Park area of Sanggau Regency. According to research, the Biodiversity Park has the ability to supply services such as food, including vegetables and fruit, as well as provide clean water, including ponds and rivers. The regulatory services that can be evident from healthy air quality. The aesthetic value and the potential for supporting services can help us comprehend the function of the Biodiversity Park as a breeding ground and for germplasm protection. Keywords: Environmental Services, Germplasm Conservation, Sanggau Biodiversity Park. Abstrak Jasa lingkungan adalah produk sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa manfaat langsung (tangible) dan manfaat tidak langsung (intangible). Ekosistem dapat dirumuskan sebagai suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem terbentuk oleh tiga hal penting yaitu faktor biotik, faktor abiotik dan hubungan atau interaksi antar keduanya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan potensi jasa lingkungan yang ada di taman kehati Kabupaten Sanggau. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik wawancara terhadap 104 responden, masyarakat dan pengelola menggunakan metode purposive sampling dan pengunjung menggunakan metode accidental sampling dengan panduan kuesioner, dan teknik observasi dilakukan di kawasan Taman Kehati Kabupaten Sanggau. Penelitian menunjukkan bahwa Taman Kehati memiliki potensi jasa penyediaan dapat di lihat dari sumber bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan dan obat-obatan, penyedia air bersih seperti adanya embung dan sungai. Jasa pengaturan yang dapat dilihat dari kualitas udara yang baik. Potensi jasa budaya di ketahui dengan adanya nilai estetika dan potensi jasa pendukung yaitu dapat kita kehatui dengan berfungsinya Taman Kehati baik itu sebagai tempat berkembang biak dan perlindungan plasma nutfah. Kata kunci: Jasa Lingkungan, perlindungan plasma nutfah, Taman Keanekaragamaan Hayati Sanggau.
EFEKTIVITAS ASAP CAIR KULIT KAYU DAN RANTING AKASIA TERHADAP JAMUR PELAPUK KAYU (Schizopyllum commune) Maria s, Agustina; Indrayani, Yuliati; Setyawati, Dina; Oramahi, H A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.85179

Abstract

AbstractEfforts to overcome wood damage caused by wood decay fungi generally use synthetic fungicides that contain chemical substances that are difficult to degrade in nature. Efforts to reduce acacia wood waste by utilizing acacia bark and twigs as liquid smoke materials. This study aims to evaluate the effect of liquid smoke of bark and acacia twigs with different concentrations on the growth of Shizophyllum commune fungi and determine the optimal concentration of liquid smoke that can inhibit the growth of S.commune. The method used is a Factorial pattern Complete Random Design (RAL) experimental design. The results of the study showed that the liquid smoke of bark and acacia branches had the potential for the growth of S. commune fungus, this was seen from the inability of the fungus to grow on PDA media that had been treated with liquid smoke concentration. The optimal concentration of acacia bark liquid smoke is a concentration of 3% has an Anti Fungal Activity (AFA) value of 100%, but in contrast to acacia branch liquid smoke, the optimal concentration is 4.5% with an AFA value of 75.63% is included in the very strong category. The level of fungal activity is very strong when the AFA value is 75%.Keywords: Anti Fungal Activity (AFA), Liquid Smoke, Schizopyllum commune  AbstrakUsaha untuk mengatasi kerusakan kayu yang disebabkan oleh jamur pelapuk kayu pada umumnya menggunakan fungisida sintesis yang mengandung zat-zat kimia yang sulit terdegradasi di alam. Upaya mengurangi limbah kayu akasia dengan memanfaatkan kulit dan ranting akasia sebagai bahan pembutan asap cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh asap cair kulit kayu dan ranting akasia dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan jamur Shizophyllum commune dan  menentukan konsentrasi optimal asap cair yang dapat menghambat terhadap pertumbuhan S.commune. Metode yang digunakan ialah rancangan percobaan Rancangan Acak  Lengkap (RAL) pola Faktorial. Hasil penelitian menunjukan bahwa asap cair kulit kayu dan ranting akasia memiliki potensi terhadap pertumbuhan jamur S. commune, hal tersebut dilihat dari ketidakmampuan jamur untuk tumbuh pada media PDA yang sudah diberi perlakuan konsentrasi asap cair. Konsentrasi optimal asap cair kulit kayu akasia I alah konsentrasi 3% memiliki nilai Anti Fungal Activity (AFA) 100%, akan tetapi berbeda dengan asap cair ranting akasia konsentrasi optimal ialah 4,5% dengan nilai AFA 75,63% sudah termasuk dalam kategori sangat kuat. Tingkat aktivitas jamur sangat kuat apabila nilai AFA 75%.Kata kunci: Anti Fungal Activity (AFA), Asap Cair, Schizopyllum commune
PENGETAHUAN LOKAL DAN PEMANFAATAN KRATOM DI DESA GURUNG KECAMATAN SEBERUANG KABUPATEN KAPUAS HULU Herawatiningsih, Ratna; Resti, Brigita Novita; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.98654

Abstract

Kratom is a type of endemic plant originating from Kalimantan which has been used traditionally for a long time. This research aims to examine local knowledge and explore the characteristics of the community in using kratom in Gurung Village. The benefits of this research are expected to be able to provide information regarding local knowledge and use of kratom in Gurung Village. The method used is a survey method with a census technique, namely by conducting interviews with all kratom farmers, it is known that the total number of kratom farmers is 23 people. Based on the age characteristics of the respondents who own and manage kratom land in this village, most are in the age group between 16-64 years (86.96%) where in this case the respondents are in a productive age. There are three local knowledge and uses of kratom studied, namely knowledge, norms and beliefs. The knowledge of the Gurung Village community regarding the use of kratom includes properties, habitat types, forest area determination, cultivation techniques, harvesting, post-harvest processes, processing, marketing and selling prices. The norms that apply in the use of kratom are that it is prohibited to pick kratom leaves during menstruation, it is forbidden to take kratom that grows around other people's yards or gardens without the permission of the owner because it can be subject to customary sanctions. the belief that there is that is presented at the time of gawai Dayak, and has the belief of pruning a kratom tree that is already tall. Keywords: Gurung Village, kratom, local knowledge. Abstrak Kratom merupakan salah satu jenis tumbuhan endemik yang berasal dari Kalimantan yang sejak dahulu sudah dimanfaatkan secara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengetahuan lokal dan menggali karakteristik masyarakat dalam pemanfaatan kratom di Desa Gurung. Manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai pengetahuan lokal dan pemanfaatan kratom di Desa Gurung. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sensus yaitu dengan melakukan wawancara terhadap seluruh petani kratom, diketahui bahwa jumlah dari seluruh petani kratom berjumlah 23 orang. Berdasarkan karakteristik usia responden yang memiliki dan mengelola lahan kratom di desa ini paling banyak berada dalam kelompok usia antara 16-64 tahun (86,96%) dimana dalam hal ini responden berada pada usia yang produktif. Pengetahuan lokal dan pemanfaatan kratom yang diteliti ada tiga yaitu pengetahuan, norma dan keyakinan. Pengetahuan masyarakat Desa Gurung terhadap pemanfaatan kratom meliputi khasiat, jenis habitat, penentuan kawasan hutan, teknik budidaya, pemanenan, proses pasca panen, pengolahan, pemasaran dan harga jual. Norma yang berlaku dalam pemanfaatan kratom yaitu dilarang memetik daun kratom pada saat datang bulan, dilarang mengambil kratom yang tumbuh disekitaran pekarang rumah atau kebun orang lain tanpa seijin dari pemiliknya karena bisa dikenakan sanksi adat. keyakinan yang ada yaitu disajikan pada saat gawai dayak, dan memiliki kepercayaan memangkas pohon kratom yang sudah tinggi. Kata kunci: Desa Gurung, Kratom,Pengetahuan lokal.
KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) DI JALUR PATROLI PRCF KAWASAN HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN KAPUAS HULU Putri, Laura Wardi Dwi; Rifanjani, Slamet; Ardian, Hafiz
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.85028

Abstract

Nepenthes is a unique and rare plant in Indonesia, because the listed plant is an endangered species. This research aims to determine the diversity of species and varieties of pitcher plants (Nepenthes spp) in the PRCF patrol route in the Limited Production Forest area. This research uses a direct observation method in the field, research sampling using a double plot technique. Placing plots purposively at locations where there are pitcher plants on patrol routes, sampling is carried out on 3 (three) routes. Each plot measures 10 x 10 m with a total of 15 plots. Sampling was taken on each lane with a total of 5 plots. From the research results, there are 4 types of pitcher plants, namely Nepenthes bicalcarata, Nepenthes albomarginata, Nepenthes ampullaria, and Nepenthes rafflesiana. Nepentes ampullaria was the species with the highest Importance Value Index (IVI) in each pathway, with values of 90.61%, 79.69%, and 89.33%, respectively. The Species Diversity Index (H̅) ranged from 0.22 to 0.43. The number of Nepenthes species is 1,421 individuals, the species most commonly found is Nepenthes ampullaria. Keywords: Diversity, Dominance, Nepenthes spp Abstrak Nepenthes merupakan tumbuhan unik dan langka yang ada di indonesia, karena tumbuhan terdaftar adalah spesies terancam punah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan jenis-jenis kantong semar (Nepenthes spp) di jalur patroli PRCF kawasan Hutan Produksi Terbatas. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dilapangan, pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik petak ganda. Peletakan petak secara purposive pada lokasi yang terdapat kantong semar pada jalur patroli, pengambilan sampel dilakukan pada 3 (tiga) jalur. Masing-masing petak berukuran 10 x10 m dengan jumlah petak 15 petak. Pengambilan sampel pada setiap Jalur dengan jumlah 5 petak. Dari hasil penelitian ada 4 jenis tanaman kantong semar yaitu Nepenthes bicalcarata, Nepenthes albomarginata, Nepenthes ampullaria, dan Nepenthes rafflesiana. Nepentes ampullaria merupakan jenis dengan Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada masing-masing jalur dengan nilai secara berurutan 90.61%, 79,69% dan 89,33 %. Indeks Keanekaragaman Jenis (\bar{H}) antara 0,22 - 0.43. Jumlah jenis Nepenthes 1.421 individu, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Nepenthes ampullaria. Kata kunci: Keanekaragaman, Dominasi, Nepenthes spp
PEMANFAATAN TUMBUHAN MANGROVE SEBAGAI OLAHAN PANGAN KHAS LEMBUR MANGROVE PATIKANG, KABUPATEN PANDEGLANG BANTEN Fitriana, Desi Eka Nur; Natasya, Aulia; Mujhiyaningsih, Annisa; Ramadhan, Nirmala Ayu; Fitriani, Riska
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.89215

Abstract

Indonesia has the largest mangrove forest area in the world, yet its utilization as a source of local food remains suboptimal. This study aims to identify the morphological characteristics, potential benefits, and processing techniques of pidada fruit (Sonneratia caseolaris) and jeruju leaves (Acanthus ilicifolius) into traditional food products by coastal communities in Lembur Mangrove Patikang Village, Pandeglang Regency, Banten. The research employed a qualitative descriptive method through observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, using purposive sampling targeting local PKK women as key informants. The findings reveal that both mangrove plants have been traditionally processed for generations into various food products such as syrup, dodol, jam, rujak, and chips. These processing methods are rooted in local wisdom, although challenges persist in marketing and raw material availability due to weather-related factors. The study concludes that the utilization of mangrove plants as local food sources contributes to food security and the economic improvement of coastal communities and should be supported through training, innovation, and appropriate promotional efforts. Keywords: Food Innovation, Jeruju Leaves, Local Food, Mangrove, Pidada Fruit Abstrak Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, namun pemanfaatannya sebagai sumber pangan lokal masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfologi, potensi manfaat, serta teknik pengolahan buah pidada (Sonneratia caseolaris) dan daun jeruju (Acanthus ilicifolius) menjadi produk pangan khas masyarakat pesisir di Desa Lembur Mangrove Patikang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan teknik purposive sampling terhadap ibu-ibu PKK sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tanaman mangrove tersebut telah dimanfaatkan secara turun-temurun menjadi berbagai olahan pangan seperti sirup, dodol, selai, rujak, dan keripik. Pengolahan dilakukan secara tradisional berbasis kearifan lokal, meskipun masih menghadapi kendala dalam hal pemasaran dan keterbatasan bahan baku akibat faktor cuaca. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan mangrove sebagai bahan pangan lokal dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir, serta perlu didukung melalui pelatihan, inovasi, dan upaya promosi yang tepat. Kata kunci: Inovasi Pangan, Daun Jeruju, Pangan Lokal, Mangrove, Buah Pidada.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue