cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 1,901 Documents
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN ANGGREK Vanda sp pratiwi, iin; Listiawati, Agustina; Asnawati, *
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.696 KB)

Abstract

         Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang banyak diminati dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah jenis anggrek Vanda sp. Anggrek yang dibudidayakan memerlukan pemeliharaan dan nutrisi yang mencukupi untuk menunjang pertumbuhannya. Penambahan nutrisi dapat dilakukan melalui pemupukan. Umumnya nutrisi untuk tanaman anggrek diberikan lewat daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari pupuk organik cair Super Bionik untuk pertumbuhan vegetatif Anggrek Vanda sp. Pelaksanaan penelitian dilakukan di rumah penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 5 taraf perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan setiap unit perlakuan terdiri dari 4 tanaman. Total keseluruhan diperoleh 100 sampel tanaman. Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi Pupuk Organik Cair Super Bionik, dimana k1: 1 ml/l, k2: 2 ml/l, k3: 3 ml/l, k4: 4 ml/l, k5: 5 ml/l. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah persentase hidup tanaman (%), pertambahan panjang daun (cm), pertambahan jumlah daun (helai), dan pertambahan jumlah akar (helai). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi POC 1; 2; 3; 4 dan 5 ml/l memberikan pertumbuhan yang sama untuk tanaman anggrek Vanda sp, namun pemberian konsentrasi POC yang efektif adalah 2 ml/l. Kata kunci: Anggrek Vanda sp, Konsentrasi, Pupuk Organik Cair,
SEX RATIO, GROWTH PATTERN, AND REPRODUCTIVE POTENTIAL OF THE BEARDLESS BARD (ANEMATICHTHYS APOGON) FROM THE TELABANG RIVER IN THE SUBAH VILLAGE TAYAN HILIR SANGGAU RECENCY sofia yunita; widadi padmarsari soetignya; ahmad mulyadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v8i2.31972

Abstract

ABSTRACT The beardless barb (Anematichthys apogon) is one of the dominant fish species in the Telabang River, Subah Village, Tayan Hilir, Sanggau Regency. However, there is little biological information, one of the important aspects of reproduction to help plan fisheries management. The main objective of this study was to determine some aspects of the reproductive biology, namely sex ratio, growth pattern, and fecundity. Biweekly sampling was conducted by using purposive sampling method from Juli to September 2018. The result showed that significant sex ratio was 2,2 : 1 (male : female). The significant different of sex ratio from the total length structure are fish measuring 60-69, 70-79, 80-89, 100-109, 110-119, and 120-129 mm. The relationship of total length and total weight was showing positive allometric of growth pattern for males (b = 3,44) and the combination of males and females (b = 3,41), meanwhile found the isometric pattern of growth for females (b = 3, 07). The total fecundity was about 430-1.703 eggs and relative fecundity is about 42 to 199,65 eggs/gram total weight of fish. The relationship between total fecundity with length and total weight showed that total fecundity had no relationship to the length and total weight of the beardless bard.  iiKeyword : Reproductive Biology, Fecundity, Allometric, Isometric.
Pengaruh Lama Penyimpanan Entris Terhadap Pertumbuhan Sambung Pucuk Tanaman Sirsak (Annona Muricata L.) alkadrie, syarief ferry; Purwaningsih, Purwaningsih; zulfita, dwi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 3: Desember 2013
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk mencari lama penyimpanan yang terbaik dalam menunjang keberhasilan dalam sambung pucuk tanaman sirsak seperti persentase tanaman hidup, jumlah daun dan panjang tunas. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, 5 kali ulangan dan setiap perlakuan terdapat 3 tanaman sampel. Penelitian ini diberikan p1 (Lama penyimpanan entris selama 2 hari simpan), p2 ( Lama penyimpanan entris selama 4 hari simpan ), p3 (Lama penyimpanan entris selama 6 hari simpan), dan p4 (Lama penyimpanan entris selama 8 hari simpan). Hasil penelitian menunjukan bahwa lama penyimpanan entris selama 2 hari memberikan keberhasilan sambung pucuk yang terbaik yang ditunjukan pada persentase hidup sebesar 100%, jumlah daun sebesar 16,67 helai dan panjang tunas sebesar 13,06 cm. Penelitian tentang lama penyimpanan entris berpengaruh nyata pada sambung pucuk tanaman sirsak. Kata kunci: Lama penyimpanan, Sirsak, Entris, Sambung pucuk.
IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TAHUN 2005-2015 PADA SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI SEPAUK BAGIAN TENGAH KABUPATEN SINTANG YOHANES KOKO; RINI HAZRIANI; ARI KRISNOHADI
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i2.15781

Abstract

Perubahan penggunaan lahan merupakan peralihan dari penggunaan lahan tertentu menjadi penggunaan lainnya. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada Sub-daerah aliran sungai (DAS) Sepauk bagian tengah pada umumnya berupa hutan menjadi lahan perkebunan, pertanian serta areal terbuka yang disebabkan oleh penambangan. Berdasarkan hal ini, untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan dengan cepat dan akurat maka digunakan penginderaan jarak jauh dan sistem informasi geografis (GIS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Sepauk bagian tengah dari tahun 2005 sampai dengan 2015 dan mengetahui kecenderungan perkembangan arah perubahan penggunaan  lahan. Hasil penelitian berdasarkan analisis citra satelit landsat 8 tahun 2015 menggunakan kombinasi band 653 terdapat konversi perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Sepauk bagian tengah. Hasil verifikasi lapangan yang dibandingkan dengan hasil interpretasi citra satelit. Citra satelit Landsat 8 memiliki ketelitian 88%. Penggunaan lahan Sub DAS Sepauk bagian tengah dari tahun 2005 sampai 2015 mengalami alih fungsi lahan dengan luas 4.201,19 ha (20,86%) dari total luas Sub DAS Sepauk bagian tengah yaitu 20.142,06 ha. Jenis penggunaan lahan yang mengalami perubahan terbesar adalah hutan lahan kering sekunder dengan luas 1.971,85 ha. Pada tahun 2015 terdapat konversi penggunaan lahan menjadi perkebunan yang memiliki luas 2.863,85 ha, dan ini merupakan alih fungsi lahan hutan, lahan kering sekunder dan pertanian lahan kering bercampur semak, serta permukiman yang memiliki luas 40,59 ha. Berdasarkan prediksi, produksi padi dari ladang Sub DAS Sepauk bagian tengah dengan memanfaatkan luas lahan kering bercampur semak seluas 13.815,35 ha, maka diperoleh produksi padi ladang yaitu 26.525,47 ton.   Kata kunci : Identifikasi dan Pemetaan, Perubahan Penggunaan Lahan, Sub DAS Sepauk
PENGARUH PEMBERIAN BOKASI AMPAS TEBU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG UNGU PADA TANAH ALUVIAL Hermanus, Hermanus; Warganda, Warganda; Abdurrahman, Tatang
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.636 KB)

Abstract

ABSTRAKPengembangan budidaya tanaman terung di Kalimantan Barat masih belum begitu luas karena tanaman terung umumnya hanya diusahakan sebagai tanaman sampingan dengan cara bercocok tanam yang belum intensif. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah aluvial agar sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah dengan memberikan bahan organik bokasi ampas tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bokasi ampas tebu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung  pada tanah aluvial dan dosis  bokasi ampas tebu yang terbaik untuk  pertumbuhan dan hasil tanaman terung pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di jalan Parit Haji Husin 2. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari satu faktor yaitu bokasi ampas tebu dengan 6 taraf perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari 5 tanaman sampel, dengan jumlah total keseluruhan sampel 120 tanaman. perlakuan yang digunakan adalah k1 = 10 ton/ha, k2= 15 ton/ha, k3 = 20 ton/ha, k4 = 25 ton/ha, k5= 30 ton/ha, k6= 35 ton/ha. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman 3 MST dan 5 MST (cm), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah buah pertanaman (buah), panjang buah pertanaman (cm), berat buah pertanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokasi ampas tebu memberikan pertumbuhan yang baik terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman 3 MST, 5 MST, jumlah buah pertanaman, dan panjang buah tanaman terung ungu pada tanah aluvial. Pemberian bokasi ampas tebu 20 ton/ha memberikan hasil yang efektif pada pertumbuhan dan hasil tanaman terung unguKata kunci: Bokasi Ampas Tebu, Tanah Aluvial, Terung Ungu 
SIFAT FISIKA TANAH SAWAH TADAH HUJAN DAN IRIGASI SEMI TEKNIS DI DESA SENYABANG, KECAMATAN BALAI, KABUPATEN SANGGAU ISA PAUL AMALO; TINO ORCINY CHANDRA; RIDUANSYAH RIDUANSYAH
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.24890

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisik tanah sawah pada dua lahan di Desa Senyabang, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau. Penelitian dilakukan di Desa Senyabang, lahan penelitian merupakan lahan sawah,Irigasidan Tadah Hujan, dengan luas masing-masing 2 ha. Dalam 2 ha diambil 5 titik sampel  secara diagonal, dengan 2 kedalaman yaitu 0-20 cm dan 20-40 cm.Sampel tanah diambil dalam bentuk sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu.Analisis data menggunakan analisis statistik uji-t berpasangan.Hasil dari penelitian ini profil tanah pada lahan Irigasi ssemi teknisdan Tadah Hujanmemiliki dua lapisan tanah, warna tanah pada lahan Irigasimemiliki warna tanah coklat sangat gelapsedangkan kedalaman 20-40 cm memiliki warna tanah Abu-abu Warna tanah pada lahan Tadah Hujan kedalaman 0-20 cm memiliki warna coklat sangat gelapsedangakan kedalaman 20-40 cm memiliki warna tanah abu-abu gelapTekstur tanah pada lahan olah tanah kedalaman 0-20 adalah liat berdebu dan kedalaman 20-40 cm adalah liat berdebu, sedangkan lahan tanpa olah tanah kedalaman 0-20 cm adalah liat, dan kedalaman 20-40 adalah liat berdebu.Struktur tanah lahan olah tanah kedalaman 0-20 dan 20-40 cm adalah Gumpal Membulat, sedangkan lahan tanpa olah tanah kedalaman 0-20 dan 20-40 cm adalah Gumpal Bersudut dan Gumpal Membulat. Rerata bobot isi tanah pada kedalaman 0-20 cm pada lahan Irigasisemi teknis lebih rendah dibandingkan pada lahan Tadah Hujan sedangkan pada kedalaman 20-40 cm pada lahan irigasi lebih tinggi.Nilai rerata porositas tanahpada lahan irigasipada kedalaman 0-20 cm lebih tinggi dan sebaliknya pada kedalaman 20-40 cm nilai yang paling lebih tinggi pada lahan tadah hujan. Kadar air kapasitas lapang pada lahanirigasisemi teknis memiliki kadar air kapasitas lapangan yang  lebih tinggi dibandingkan dengan lahan tadah hujan pada kedalaman 0-20 cm sedangkan pada kedalaman 20-40 cm lahan irigasi semi teknis yang lebih rendah.Rerata permeabilitas tanah pada lahan irigasi kedalaman 0-20 cm lebih tinggi dengan tadah hujan, dan sebaliknya pada kedalaman 20-40 cm pada lahan irigasi semi teknis lebih rendah dari pada lahan tadah hujan . Nilai kemantapan agregat tanah pada lahan irigasi lebih tinggi di bandingkan lahan tadah hujan pada kedalaman 0–20 cm sedangkan pada kedalaman 20–40 cm pada lahan tadah hujan lebih tinggi dari pada irigasi semi teknis. Nilai rerata pH tanah pada lahan irigasi semi teknis dan tadah hujan tergolong kreteria sangat masam.Nilai rerata C-organik dan N-total pada lahan  irigasi semi teknissebandingdengan lahan tadah hujan, sedangkan C/N rasio pada lahanirigasi semi teknis lebih tinggi dari pada lahan tadah hujan.Kata kunci : Sifat FisikaTanah, Sawah Irigasi semi teknis,Sawah Tadah Hujan.ABSTRACTThis study aims to determine the differences in physical properties of paddy fields in two fields in the village of Senyabang, Balai District, Sanggau District. The research was conducted in Senyabang Village, the research field was paddy field, Irrigation and Rainfed, with area of 2 ha each. In 2 ha 5 diagonal samples were taken, with 2 depths of 0-20 cm and 20-40 cm. Soil samples were taken in the form of intact soil samples and disturbed soil samples. Data analysis used paired t-test statistical analysis.The result of this study soil profile on irrigation and rainfed land has two layers of soil, soil color on irrigation land has very dark brown soil color while the depth of 20-40 cm has the color of soil Gray Color of soil on land Rainwater depth 0-20 cm has a very dark brown color will depth of 20-40 cm has a dark gray earth color Texture of soil on the soil if the soil depth 0-20 is dusty clay and 20-40 cm depth is dusty clay, while land without tillage depth 0- 20 cm is tough, and the depth of 20-40 is dusty clay. soil structure in the depth 0-20 and 20-40 cm are rounded rounds, while land without tillage depth 0-20 and 20-40 cm is angled and rounded round. The average bulk density soil at 0-20 cm deep in Irrigation field is lower than on Rainfed land while at a depth of 20-40 cm on irrigated land is higher. The mean value of porosity of soil on irrigated land at a depth of 0-20 cm higher and vice versa at a depth of 20-40 cm the highest value in rainfed. The moisture content of the field capacity on irrigated land has a higher moisture content of field capacity compared to rainfed land at a depth of 0-20 cm while at a depth of 20-40 cm of lower irrigated land. The average of soil permeability in the irrigation area is 0-20 cm deeper with rainfed, and vice versa at 20-40 cm depth on irrigated land is lower than rainfed area. The value of soil aggregate stability on irrigated land is higher than rainfed area at 0-20 cm depth while at 20-40 cm depth in rainfed area is higher than irrigation. The average value of soil pH on irrigated and rain-fed land is considered very acid. The mean value of C-organic and N-total on irrigated land is proportional to rainfed land, whereas the C / N ratio on irrigated land is higher than in rainfed.Keywords: Physical Properties of Soil, Rice Field Rain Fed, Medium Technical Irrigation.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH PADA BERBAGAI MACAM KOMPOSISI MEDIA SECARA HIDROPONIK MUHAMMAD RUSLI; DINI ANGGOROWATI; AHMAD MULYADI
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.22408

Abstract

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAHPADA BERBAGAI MACAM KOMPOSISI MEDIA SECARA HIDROPONIKMuhammad Rusli 1), Dini Anggorowati 2), Ahmad Mulyadi 2)1) Mahasiswa Fakultas Pertanian dan 2) Dosen Fakultas PertanianUniversitas Tanjungpura Pontianak.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam dan mengetahui komposisi media tanam yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah secara hidroponik. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 13 april sampai 11 juni 2017, penelitian dilaksanakan di Jalan Tanjung Raya 1, Kecamatan Pontianak Timur. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf α = 5%. Perlakuan terdiri dari 6 taraf yaitu (A= 100% media arang sekam, B= 80% arang sekam : 20% cocopeat, C= 60% arang sekam : 40% cocopeat, D= 40% arang sekam : 60% cocopeat, E= 20% arang sekam : 80% cocopeat dan F= 100% media cocopeat) dan perlakuan ini diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah secara hidroponik, komposisi media 40% arang sekam : 60% cocopeat merupakan komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah secara hidroponik. Kata Kunci: Komposisi Media, Bawang Merah, Hidroponik
FORMULASI PRODUK RESTRUKTURISASI JELLY JAMUR TIRAM PUTIH : PERAN SUBSTITUSI GULA SEMUT AREN TERHADAP GULA PASIR Pamungkas, Herawati; S.K.D, Yohana; Raharjo, Dwi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1: April 2013
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimasi konsentrasi jamur dan gula semut aren terbaik pada pembuatan jelly jamur tiram putih berdasarkan sifat fisikokimia dan sensori. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang terdiri dari dua tahap penelitian. Tahap I adalah formulasi jamur tiram putih yang terdiri dari empat perlakuan yaitu 25g, 50g, 75g dan 100g. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Formulasi terbaik tahap I dilanjutkan pada tahap II yaitu substitusi gula semut aren terhadap gula pasir yang terdiri dari enam perlakuan yaitu 0g, 15g, 30g, 45g, 60g dan 75g. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel pengamatan meliputi kadar air, pH, kadar gula total, kadar abu, kandungan vitamin C dan uji sensori yang meliputi kemanisan, keasaman, kekenyalan, warna, kesukaan dan aroma. Hasil penelitian terbaik tahap I adalah 50g jamur dengan hasil analisis kadar air : 23,45%, pH : 3,62, gula total : 33,1%, kadar abu : 4,74% dan vitamin C : 6,34mg/100g, dan karakteristik sensori kemanisan : 3,64 (agak manis), keasaman : 3,40 (agak asam), kekenyalan : 3,24 (agak kenyal), warna : 2,96 (kuning muda) dan kesukaan : 3,64 (agak disukai). Pada tahap II yang terbaik adalah substitusi 15g gula semut dengan hasil analisis kadar air : 28,22%, pH : 4,32, gula total : 16,80%, kadar abu : 5,00% dan vitamin C : 7,04mg/100g, dan karakteristik sensori kemanisan : 3,32 (agak manis), keasaman : 3,28 (agak asam), kekenyalan : 2,8 (tidak kenyal), warna : 3,36 (agak coklat), kesukaan : 3,12 (agak disukai) dan aroma : 2,84 (tidak wangi). Kata kunci : gula pasir, gula semut aren, jamur tiram putih, jelly jamur
KERAGAAN GENOTIPE JAGUNG F14 DI LAHAN GAMBUT Ragiman, Ragiman; Hidayat, Hidayat; zulfita, Dwi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 This study aims to determine the performance of F14 corn genotype on peat soil. This research was carried out in Rasau Jaya II Village with  C overflow. This research was conducted from 24 January 2018 to 02 June 2018. The experimental was designed in  pattern to be used was a Randomized Block Design (RBD), consisting of 5 F14 genotypes and 1 Arjuna variety as a comparison. The number of groups is 5, so there are 30 plots of treatment. Treatments were en  codel as follows: A = Arjuna Varietie (Controls) and F14 genotypes (B, C, D, E, F). The observational variables in this study include: Plant height (cm), male flowering age, female flowering age, harvest age, ear diameter (cm), number of rows per ear, weight of seedlings 14% (g), weight of seedlings (g) , The weight of 1,000 dry seeds (g), the weight of the dry seed strip (g). The maize genotype is good at Rasau Jaya II A, C, F, genotype B, D, E  with poor performance. The result of this resenel are genotypes A, C, and F as good performance and genotypes B, D, and E are bad Performance at Rasau Jaya II.
Critical Period of Cucumber Fruit (Cucumis sativus Linn) Against Black Fruit Bug (Leptoglossus australis F.) in the field MONIKA MONIKA; Dr.Ir.Tris Haris Ramadhan,MP Dr.Ir.Tris Haris Ramadhan,MP; Ir.Indri Hendarti,M.Sc Ir.Indri Hendarti,M.Sc
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v8i1.28318

Abstract

Monika (1), Tris Haris Ramadhan (2), Indri Hendarti( 3) (1) University Student of Agriculture and (2) Instructor Staf of Agriculture Faculty Tanjungpura University Pontianak  ABSTRACTLeptoglossus australis F  is one of the pests of cucumber  that reduce the quality and quantity of yield. The purpose of this research was to find out when the critical period of fruit whenever attack by L.australis can cause  damage. The research was conducted in the plant protection laboratory and on the land of the Faculty of Agriculture of Tanjungpura University for approximately 5 months. The design used was a randomized block design (RAK) with 7 treatment levels and 4 replications. The treatment use was time of infestation (M) when the different of fruit age began with one days post pollination (M1), two days after pollination (M2), three days after pollination (M3), four days after pollination (M4), five days after pollination (M5), and six days after pollination (M6) along with the control (M0). In each treatment was infested two bugs of 3rd instar with one day infestation. Before infestation, the bug fasting at 10 hours.  The damage of cucumber fruit is measured by the length of the fruit, the diameter of the fruit, and the weight of the fruit of the cucumber. The result showed that the infestation of two bug in third instar at the age of 1 day after bloom has caused the symptoms of destruction and loss of cucumber fruit.Keywords : Cucumber, Infestation, L. australis (F), Product loss.     1) University Student of Agriculture and (2) Instructor Staf of Agriculture Faculty Tanjungpura University Pontianak

Page 52 of 191 | Total Record : 1901