cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 1,901 Documents
FLUKTUASI POPULASI KUTU DAUN Toxoptera citricidus (Kirkaldy) PADA TANAMAN JERUK SIAM Sudarwadi -; Indri Hendarti; Tris Haris Ramadhan
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 2, No 2: Agustus 2013
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v2i2.2493

Abstract

Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah salah satu pengendalian hama yang lebih baik dan aman. Keberhasilan dalam PHT sangat tergantung pada pemahaman ekologi hama yang akan dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi populasi kutu daun T.citricidus pada tanaman jeruk siam.. Penelitian dilakukan selama dua bulan dimulai bulan September- Oktober 2012. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan cara mengamati langsung di pertanaman jeruk di Desa Pangkalan Kongsi. Tanaman sampel yang diamati 10 % dari keseluruhan jumlah tanaman pada kebun milik petani. Pengamatan dilakukan terhadap ketersediaan sumber makanan yang ada yaitu tunas dan daun muda dan faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan curah hujan serta predatornya yaitu family Coccinellidae dan Syrphidae. Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh, dapat diketahui bahwa rerata jumlah tunas, daun muda, predator, suhu, kelembaban dan curah hujan dapat mempengaruhi kelimpahan populasi kutu daun T.citricidus. Populasi T.citricidus 637.1 ekor didapatkan pada kondisi rerata jumlah tunas 28.1, predator 28 ekor, suhu 310 C, kelembaban 75 % serta rata-rata curah hujan 253 mm/bulan. Kata Kunci : Perkembangan Populasi, T.citricidus, Faktor Lingkungan
PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH AKIBAT PEMBERIAN KOMPOS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT PADA TANAH GAMBUT HAMZAH, HAMZAH; RAHMIDIYANI, RAHMIDIYANI; ASTINA, ASTINA
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.079 KB)

Abstract

PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH AKIBAT PEMBERIAN KOMPOS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT PADA TANAH GAMBUT Hamzah 1), Rahmidiyani 2), Astina 2)1) Mahasiswa Fakultas Pertanian dan 2) Dosen Fakultas PertanianUniversitas Tanjungpura Pontianak.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di tanah gambut. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 14 Juni sampai 12 Agustus 2017, penelitian dilaksanakan di Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Metode yang digunakan adalah metode ekprimen lapang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 sampel, jumlah keseluruhan sebanyak 96 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah k0 = kontrol, k1 = kompos TKKS 20 g/polybag atau setara dengan 5 ton/ha, k2 = kompos TKKS 40 g/polybag atau setara dengan 10 ton/ha, k3 = kompos TKKS 60 g/polybag atau setara dengan 15 ton/ha, k4 = kompos TKKS 80 g/polybag atau setara dengan 20 ton/ha, k5 = kompos TKKS 100 g/polybag atau setara dengan 25 ton/ha. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun dan berat kering angin umbi per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman pada minggu ke 8 dan jumlah daun pada minggu ke 2, 4, 6 dan 8 serta berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan berat segar umbi dan berat kering angin umbi. Tetapi pemberian kompos TKKS berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada minggu ke 2, 4 dan 6. Pemberian kompos TKKS 10 ton/ha memberikan hasil yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah di tanah gambut.Kata Kunci: Bawang merah, gambut, kompos tandan kosong kelapa sawit
Pengaruh Pemberian Kascing Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Lobak pada Tanah Podsolik Merah Kuning Cornelius Gery; Dini Anggorowati; Tantri Palupi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 4, No 1: April 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v4i1.9659

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk kascing yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah podsolik merah kuning. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Pontianak, sejak 13 Mei sampai dengan 27 Juni 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu dosis pupuk kascing,dengan 6 taraf perlakuan yakni: (1) k0(kontrol); (2) k1(40 g polybag-1); k2(60 g polybag-1); k3(80 g polybag-1); k4(100 g polybag-1); k5(120 g polybag-1) terdiri dari 4 ulangan, setiap perlakuan dengan 5 tanaman sampel. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi, berat kering tanaman (g), volume akar (cm3), luas daun (cm2), berat segar tanaman (g), berat segar umbi (g), panjang umbi (cm). hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kascing memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat segar tanaman dan panjang umbi, namun memberikan pengaruh tidak nyata terhadap berat kering tanaman, volume akar, luas daun dan berat segar umbi.   Kata kunci: pupuk kascing, lobak varietas radis, tanah podsolik merah kuning.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI BROWNIES PANGGANG PADA BERBAGAI SUBSTITUSI TERIGU DENGAN TEPUNG KOMPOSIT DARI TEPUNG TALAS DAN TEPUNG PISANG KEPOK Kurniawan, Mikhael Ricky; Dewi, Yohana S. Kusuma; Lestari, Oke Anandika
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi tepung komposit (tepung pisang kepok dan tepung talas) yang terbaik digunakan untuk substitusi terigu  pada pembuatan brownies panggang berdasarkan karakter fisikokimia dan sensori. Pembuatan brownies menggunakan bahan baku tepung komposit yang terbuat dari campuran tepung talas dan tepung pisang kepok. Pembuatan brownies menggunakan berbagai formulasi tepung, yaitu tepung terigu 100%, tepung pisang kepok 20% + tepung talas 60% + terigu 20%, tepung pisang kepok 30% + tepung talas 50% + terigu 20%, tepung pisang kepok 40% + tepung talas 40% + terigu 20%, tepung pisang kepok 50% + tepung talas 30% + terigu 20%, dan tepung pisang kepok 60% + tepung talas 20% + terigu 20%. Hasil menunjukan bahwa brownies substitusi terigu dengan tepung komposit berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu dan protein. Perlakuan terbaik adalah formulasi tepung pisang kepok 30 % +  tepung talas 50 % + terigu 20 % yang memiliki karakter fisikokimia yaitu kadar air 21,67 %, kadar abu 1,68 %, kadar lemak 25,58 %, kadar protein 6,35 %, kadar karbohidrat 44,55 % dan karakteristik sensori adalah warna 2,07 (putih keabu-abuan), aroma 3,10 (agak kuat) , tekstur 3,70 (agak empuk) dan rasa 4,27 (suka). Kata kunci : Brownies, Karakteristik, Pisang Kepok, Substitusi, Tepung, Talas, Tepung Komposit
PENGARUH BOKASI ECENG GONDOK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING Rahmat Rahmat; Tatang Abdurrahman; Patriani Patriani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.26367

Abstract

The research was aimed to study and determine the influence and dosage of the best water hyacinth compost on the growth and yield of shallot on red yellow podzolic soil. The research was carried out in Kalimas village, sub-district of Sungai Kakap, district of Kubu Raya from 20 July to 20 September 2017. This research used Completely Randomizied Design with five levels of water hyacinth compost treatment with five repetitions. Treatments consisted of m1=160g/polybag compost water hyacinth equivalent to 5 tons/ha, m2=320g/polybag compost water hyacinth equivalent to 10 tons/ha, m3=480g/polybag compost water hyacinth equivalent to 15 tons/ha, m4=640g/polybag compost water hyacinth equivalent to 20 tons/ha, m5=800g/polybag compost water hyacinth equivalent to 25 tons/ha. Observational variables were plant height, number of leaves, number of leaves/bulbs, number of bulbs, fresh weight /bulbs, fresh weight of bulbs, and dry weigh of bulbs per hill. The results showed that bengir water hyacinth compost had significant effect on plant height and leaf number at age 6 MST dan 8 MST, number of leaf/bulbs, number of bulbs and number of bulbs count, whereas in variable of plant height and number of leaf at age 2 MST and 4 MST, fresh weight/bulbs, fresh weight of bulbs and weight dry bulbs winds have no real effect. Based on the result of the research, it is concluded that the best dosage of hyacinth compost provision which can increase the growht and yield of shallot plant in red yellow podzolic soil is 640 g/polybag or equal to 20 ton/ha of organic material with yield of 5,38 ton/ha.Keywords : Red yellow podzolic soil, water hyacinth compost, shallot. 
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HIJAU LAMTORO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN GAMBAS PADA TANAH ALUVIAL zulfita, emi; Rahmidiyani, Rahmidiyani; Abdurrahman, Tatang
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.831 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk hijau lamtoro yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman gambas pada tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2015 di kebun percobaan  Fakultas  Pertanian Untan Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah metode eksperimen lapang dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima taraf perlakuan dan lima ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 sampel tanaman dengan jumlah tanaman seluruhnya 100 tanaman. Perlakuan terdiri dari tanpa pupuk hijau lamtoro (I1), 900 g/polybag pupuk hijau lamtoro setara 9% bahan organik (I2), 1.100 g/polybag pupuk hijau lamtoro setara 11% bahan organik (I3), 1.300 g/polybag pupuk hijau lamtoro setara 13% bahan organik (I4), dan 1.500 g/polybag pupuk hijau lamtoro setara 15% bahan organik (I5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hijau lamtoro dapat meningkatkan diameter buah, panjang buah, dan berat buah per tanaman, sehingga dosis efektif yang didapatkan yaitu pada perlakuan pupuk hijau lamtoro sebanyak 1.300 g/polybag pupuk hijau lamtoro setara 13% bahan organik.
PENGARUH PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PADA TANAH GAMBUT jumadi2010, jumadi2010; dwizulfita, dwizulfita; achmadmulyadi, achmadmulyadi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.029 KB)

Abstract

PENGARUH PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PADA TANAH GAMBUT ARTIKEL ILMIAH Oleh : JUMADI NIM. C51110011 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2016 THE EFFECT OF PGPR (Plant Growth Promotion Rhizobacter)ON THE GROWTH AND YIELD OFSOYBEAN ON PEAT SOILJumadi1) Dwi Zulfita and Ahmad Mulyadi 2)1) students, 2)lecturers of Faculty ofAgriculture, University Tanjungpura.ABSTRACTSoybean is an important food crop as a source of vegetable protein. As food crops,100 grams soybean contains 330 calories, 35% protein, 18% fat, 35% carbohydrateand 8% water, the rest is composed of minerals and vitamins. This study aimed todetermine the effect ofdifferent types ofPGPR and kinds ofPGPR on the growth andyield of soybean in peat. Research using experimental methods with completelyrandomized design (CRD) consisting of7 treatment’s, each treatment consist offourreplications and three plant, as total sample 84 plant’s. The treatment in this studywas P0 = without PGPR + Legin, P1 = PGPR bamboo roots, P2 = PGPR bambooroots + Legin, P3 = PGPR weeds roots, P4 = PGPR weeds roots + Legin, P5 =PGPR elephant grass roots and P6 = PGPR elephant grass + Legin. PGPR typeassignments do as much as 2 times during the time soaking soybean seeds (mixed 5mlPGPR) and in, week after planting with a dose of10ml /liter water that watered eachtreatment.Variable observations in this study were plant height, root nodules, rootvolume, dry weight of plants, the amount of chlorophyll of leaves, number of pods,weight of100 seeds and planting seed weight. The results showed that application ofPGPR have significant effect on the growth ofplant 2 and 5 weeks after planting , thenumber of nodules, plant dry weight, and the weight of dry seed have significanteffect on plant, height 3 and 4 weeks no significant effect after planting, root volume,the amount ofchlorophyll leaves, number ofpods, plant dry weight of100 seeds.Keywords: Peat, plant growth promotion rhizobacter, soybeanPENDAHULUANKedelai merupakan tanaman pangan yang penting sebagai sumber protein nabati.Sebagai tanaman pangan, setiap 100 gr kedelai mengandung 330 kalori, 35% protein, 18%lemak, 35% karbohidrat dan 8% air, sisanya terdiri dari mineral-mineral dan vitamin(Suprapto, 2002).Kebutuhan akan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun seiring denganpertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat akan kecukupan gizi. Kebutuhan kedelaipada kurun waktu lima tahun (tahun 2010-2014), setiap tahunnya ± 2.300.000 ton biji kering,akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak807.568 ton (Anggoro, 2013)Gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dicirikan oleh adanya akumulasibahan organik yang berlangsung dalam kurun waktu lama. Tanah gambut terbentukdidataran rendah berawa-rawa. Sebagian kecil, ditemukan pada daerah pasang surut yangumumnya berupa gambut topogen dangkal sampai sedang.Tingkat kesuburan gambutditentukan oleh kandungan bahan dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut, tingkatkematangan atau dekomposisi bahan organik.Upaya dalam membudidayakan kedelai di tanah gambut memiliki bermacam-macamkendala seperti tingkat kemasaman yang tinggi, kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhanbasa rendah, kadar N,P,Kyang rendah dan bahan organik yang tersedia belum terdekomposisidengan sempurna.PGPR merupakan bakteri yang hidup disekitar perakaran tanaman yang mampumeningkatkan petumbuhan tanaman melalui produksi hormon pertumbuhan dalammemfiksasi N untuk peningkatan penyediaan N di dalam tanah dan juga berfungsi membantumineralisasi sehingga proses dekomposisi tanah gambut lebih cepat berlangsung.PGPRberfungsi memacu pertumbuhan tanaman dan fisiologi akar serta mampu mengurangipenyakit atau kerusakan oleh serangga. Secara langsung PGPR mampu memproduksi zatpengatur tumbuh dan meningkatkan pengambilan nutrisi oleh tumbuhan (Kloepper 1999).PGPR berfungsi memacu pertumbuhan tanaman dan fisiologi akar serta mampumengurangipenyakit atau kerusakan oleh serangga.Diduga pemberian berbagai jenis PGPR akan memberikan pengaruh terhadappertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah gambut serta salah satu jenis PGPR akanmemberikan pertumbuhan dan hasil kedelai yang terbaik pada tanah gambut.METODE PENELITIANPenelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian UniversitasTanjungpura Pontianak dimulai dari tanggal 1 Desember 2015 sampai dengan 29 Februari2016. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : benih kedelai,tanahgambut,polybag,PGPR,kapur,drum dan pupuk dasar. Sedangkan alat yang digunakan adalah :paranet,kayu cerucuk, oven, cangkul, pisau, gergaji, paku, palu, buku tulis, klorofilmeter,gelas ukur, timbangan digital, ember, pisau, timbangan tanah, pulpen, kantong es,oven, mistar, termometer, jerigen 20 liter,corong 25 diameter cm dan kamera.Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 1 faktor yaituperlakuan berbagai jenis PGPR yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan, setiap ulanganterdiri dari 3 tanaman sampel dengan jumlah tanaman seluruhnya 84 tanaman, Perlakuanyang dimaksud adalah:p0 : Tanpa PGPR + Legin, p1 : PGPR Akar Bambu, p2 : PGPR AkarBambu + Legin, p3 : PGPR Akar Rumput Ilalang, p4: PGPR Akar Rumput Ilalang + Legin,p5: PGPR Akar Rumput Gajah, p6 : PGPR Akar Rumput Gajah + Legin. Pelaksanaan1penelitian dimulai dari mengayak tanah gambut,mengukus tanah selama 5-6 jam selama 5hari pengkukusan,membersihkan lahan percobaan fakultas pertanian,mencampur tanahgambut dengan kapur,merendam benih kedelai ke dalam larutan PGPR,menyemai benihkedelai,memindahkan tanaman kedelai yang berumur 1 minggu kedalam polybag,pemupukandan pemeliharaan tanaman serta pemanenan kedelai. Variabel yang diamati pada masavegetatif maksimum adalah : tinggi tanaman (cm),jumlah bintil akar efektif (bintil),volumeakar (cm3),jumlah klorofil daun (spead unit) dan berat kering tanaman. Sementara untukpengamatan yang dilakukan pada masa generatif maksimum adalah: jumlah polong isi(polong),berat biji kering tanaman (g) dan berat 100 biji kering (g).HASIL DAN PEMBAHASANHasil Analisis Keragaman menunjukkan bahwa pemberian berbagai jenis PGPRberpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman seperti : tinggi tanaman pada minggu ke-2, minggu ke-5, bintil akar efektif, Berat kering tanaman dan Berat Biji Kering Tanamansedangkan pada tinggi tanaman minggu ke-3,minggu ke-4,volume akar, jumlah klorofil daun,Jumlah Polong Isi dan Berat 100 Biji kering pemberian berbagai jenis PGPR berpengaruhtidak nyata pada pertumbuhan tanaman kedelai. untuk mengetahui perbedaan antaraperlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji nyata jujur (BNJ) yang dapat dilihat padaTabel 1.Tabel 1. Uji Nyata Jujur Pengaruh Jenis PGPR Terhadap Tinggi Tanaman padaMinggu Ke-2 (M2), Minggu Ke-5 (M5), Bintil Akar Efektif (B.A), Biji KeringTanaman (B.K.T) dan Berat Biji Kering Tanaman (B.B.K.T).RerataPGPR M2 (cm) M5 (cm) B.A (biji) B.K.T (g) B.B.K.T (g)Tanpa PGPR+legin P0 9,00 b 21 ,64 b 9,25 bc 3,56 b 1 9,88 bPGPR akar bambu P1 1 0,23 ab 23,50 ab 7,75 c 3,68 ab 26,29 bPGPR akar bambu+legin P2 1 0,1 6 1 b 26,92 a 7,25 c 3,97 ab 24,59 bPGPR ilalang P3 1 0,33 a 23,46 ab 1 2,25 ab 4,70 ab 42,27 aPGPR Ilalang+legin P4 1 0,1 9 ab 23,71 ab 1 5,00 a 5,25 a 29,99 bPGPR rumput gajah P5 1 0,33 a 25,42 ab 9,00 c 3,83 ab 31 ,1 1 abPGPR Rumput gajah+legin P6 1 0,71 a 25,00 ab 8,50 c 3,98 ab 26,20 bBNJ (5%) 1 ,3 4,62 3,62 1 ,61 1 1 ,4Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda nyatapada Uji Beda Nyata (BNJ) taraf 5%Tabel 1. Menunjukkan tinggi tanaman kedelai minggu ke-2 dan minggu ke-5 padapemberian PGPR rumput ilalang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian PGPRditambah legin namun berbeda tidak nyata jika dibandingkan pemberian PGPR lain. Jumlahbintil akar pada pemberian PGPR akar ilalang berbeda tidak nyata dengan pemberian PGPRakar ilalang ditambah legin namun berbeda nyata dengan tanpa pemberian PGPR ditambahlegin dan juga berbeda nyata terhadap perlakuan pemberian jenis PGPR lain. Berat keringtanaman pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin berbeda nyata terhadap pemberianPGPR lain. Berat biji kering tanaman pada pemberian PGPR akar ilalang berbeda tidak nyatadengan pemberian PGPR rumput gajah namun berbeda tidak nyata jika dibandingkan2pemberian PGPR lainnyaPerlakuan PGPR dapat dilihat Pada Gambar 1.Gambar 1. Grafik rerata Tinggi Tanaman pada Berbagai Perlakuan Jenis PGPR Tanaman dariMinggu ke-2 sampai Minggu kePada minggu ke-3 dan keberbagai jenis PGPR. minggu ketiga Tanaman yang memiliki rerata tertinggi terdapat padapemberian PGPR akar rumput gajah dan akar rumput gajah ditambah legin dengan rerata12.29 cm sedangkan yang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPdengan rerata 11.25 cm.Pada variabel lain, pemberian PGPR pada semuaseperti volume akar (V.A) dan jumlah klorofil daun (J.K.D). Nilai rerata volume akar danjumlah klorofil daun pada berbagai perlakuan PGambar 2. Grafik rerata Volume AkGambar 2 menunjukkan nilai rerata volume akar tertinggi dihasilkan oleh kedelai padapemberian PGPR rumput ilalangyang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan rerata 7.00 cmGambar 3 menunjukkan nilai rerata jumlah klorofil daun tertinggi dihasilkan olehkedelai pada pemberian PGPR ryang terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR namun di tambah legindengan rerata 35.78 spad unit0,005,001 0,001 5,0020,0025,0030,00Reratatinggitanaman(cm)0,005,001 0,00v P₀ P₁ P₂olumeakar(cm 3 )7,00 7,185,93Jenis PGPRnya.Pola Pertumbuhan Tinggi Tanaman Kedelai pada Berbagaiakuan PGPR dapat dilihat Pada Gambar 1.erata Tinggi Tanaman pada Berbagai Perlakuan Jenis PGPR Tanaman dari2 sampai Minggu ke-5 pada Semua Perlakuan.3 dan ke-4 tinggi tanaman berpengaruh tidak nyata dengan pemberianberbagai jenis PGPR. minggu ketiga Tanaman yang memiliki rerata tertinggi terdapat padapemberian PGPR akar rumput gajah dan akar rumput gajah ditambah legin dengan rerata12.29 cm sedangkan yang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPR ditambah leginPada variabel lain, pemberian PGPR pada semua jenis PGPR berpengaruhseperti volume akar (V.A) dan jumlah klorofil daun (J.K.D). Nilai rerata volume akar danjumlah klorofil daun pada berbagai perlakuan PGPR dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.erata Volume Akar Gambar 3. Grafik rerata Jumlah Klorofilenunjukkan nilai rerata volume akar tertinggi dihasilkan oleh kedelai padapemberian PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan rerata tertinggi 8.88 cmyang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan rerata 7.00 cmenunjukkan nilai rerata jumlah klorofil daun tertinggi dihasilkan olehkedelai pada pemberian PGPR rumput gajah dengan rerata tertinggi 37.97yang terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR namun di tambah legindengan rerata 35.78 spad unit.2 3 4 5tanpa PGPR+leginPGPR bambuPGPR bambu+leginPGPR ilalangPGPR ilalang+leginPGPR rumputPGPRgajah+leginPengamatan minggu keP₃ P₄ P₅ P₆5,938,65 8,887,40 8,10Jenis PGPR02040P₀ P₁ P₂ P₃ P₄klorofildaun(spadunit)Jenis PGPR35,7 36,0 36,4 37,9 37,2Pola Pertumbuhan Tinggi Tanaman Kedelai pada Berbagaierata Tinggi Tanaman pada Berbagai Perlakuan Jenis PGPR Tanaman daridengan pemberianberbagai jenis PGPR. minggu ketiga Tanaman yang memiliki rerata tertinggi terdapat padapemberian PGPR akar rumput gajah dan akar rumput gajah ditambah legin dengan rerataR ditambah leginberpengaruhtidak nyataseperti volume akar (V.A) dan jumlah klorofil daun (J.K.D). Nilai rerata volume akar danGPR dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.erata Jumlah Klorofil Daunenunjukkan nilai rerata volume akar tertinggi dihasilkan oleh kedelai padaditambah legin dengan rerata tertinggi 8.88 cm3,sedangkanyang terendah terdapat pada tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan rerata 7.00 cm3.enunjukkan nilai rerata jumlah klorofil daun tertinggi dihasilkan olehspead unit, danyang terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR namun di tambah leginPGPR+leginbambubambu+leginilalangilalang+leginrumput gajahRumputgajah+leginP₄ P₅ P₆37,2 37,9 37,53Pada variabel lainnyanyata seperti jumlah polong isi (P.Ijumlah polong isi dan berat 100 biji keringgambar 4 dan 5.Gambar 4. Grafik rerata jumlah polong isiGambar 4 menunjukkan bahwa nilai rerata jumlah polong isi dihasilkan olehpemberian PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan rerata jumlah tertinggi 120.63polong,sedangkan yang terendah dihasilkan oleh kedelditambah legin dengan rerata 86.25 polong.Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai rerata berat 100 biji kering dihasilkan olehpemberian PGPR akar bambu dengan rerata tertinggi 14.02 g, dan yang terendah terdapatpada perlakuan pemberian PGPR rumput gajah dengan rerata 13.41 g.Hasil analisis keragaman pengaruh jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggitanaman minggu ke-2,minggu ketanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman minggu ke4,volume akar, 100 biji kering, jumlah klorofil daun dan polong isi.Pada tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggitanaman pada minggu kenyata kemungkinan disebabkan olehberkoloni menyelimuti akar tanaman sehingga dapat berpengaruh langsung terhadappertumbuhan tanaman.Hal ini juga dikemukakan oleh Rahni (2012) bahwa bakteri dariPseudomonas, Azotobacter, Bacillusfitohormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terutama hormonauksin yang berperan dalam meningkatkan atau memacu tinggi tanaman.minggu ke-3 dan ke-4 tidak berpengaruh nytanaman tertinggi terdapat pada perlakuan akar rumput gajah dan rumput gajah ditambahlegin dengan rata-rata memiliki tinggi 12.29 cm per tanamarerata data tinggi tanaman tertirata-rata memiliki tinggi 16.610,0050,00100,00150,00P₀ P₁jumlahpolongisi(biji)Jenis PGPR86,297,0nya, pemberian PGPR pada semua jenis PGPR berpengaruhrti jumlah polong isi (P.I) dan berat 100 biji kering (B.100.B.K1). Nilai reratajumlah polong isi dan berat 100 biji kering pada berbagai perlakuan PGPR dapat dilihat padarerata jumlah polong isi Gambar 5. Grafik rerata berat 100 bijienunjukkan bahwa nilai rerata jumlah polong isi dihasilkan olehpemberian PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan rerata jumlah tertinggi 120.63polong,sedangkan yang terendah dihasilkan oleh kedelai pada tanpa pemberian PGPRditambah legin dengan rerata 86.25 polong.enunjukkan bahwa nilai rerata berat 100 biji kering dihasilkan olehpemberian PGPR akar bambu dengan rerata tertinggi 14.02 g, dan yang terendah terdapatrian PGPR rumput gajah dengan rerata 13.41 g.PEMBAHASANkeragaman pengaruh jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggi2,minggu ke-5, bintil akar, berat kering tanaman dan berat biji keringtanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman minggu kebiji kering, jumlah klorofil daun dan polong isi.enunjukkan bahwa pemberian PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggi-2 dan minggu ke-5setelah tanam. Tinggi tanamandisebabkan oleh bakteri dalam PGPR, karena bakteri PGPR hidup secaraberkoloni menyelimuti akar tanaman sehingga dapat berpengaruh langsung terhadapHal ini juga dikemukakan oleh Rahni (2012) bahwa bakteri dariPseudomonas, Azotobacter, Bacillus dan Seratia diidentifikasi sebagai PGPR penghasilfitohormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terutama hormonauksin yang berperan dalam meningkatkan atau memacu tinggi tanaman. Sedangktidak berpengaruh nyata. Dari rerata data tinggi tanaman minggu ketanaman tertinggi terdapat pada perlakuan akar rumput gajah dan rumput gajah ditambahrata memiliki tinggi 12.29 cm per tanaman. Sedangkan pada minggu kererata data tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR dengan16.61 cm per tanaman.Data volume akar menunjukan nilai rerataP₂ P₃ P₄ P₅ P₆Jenis PGPR97,0 104,6117,5 120,6104,392,2501015B P₀ P₁ P₂ P₃ P₄erat100bijikering(g)13,7 13,8 14,0 13,7Jenis PGPRberpengaruh tidakdan berat 100 biji kering (B.100.B.K1). Nilai rerataapat dilihat padarerata berat 100 biji keringenunjukkan bahwa nilai rerata jumlah polong isi dihasilkan olehpemberian PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan rerata jumlah tertinggi 120.63ai pada tanpa pemberian PGPRenunjukkan bahwa nilai rerata berat 100 biji kering dihasilkan olehpemberian PGPR akar bambu dengan rerata tertinggi 14.02 g, dan yang terendah terdapatkeragaman pengaruh jenis PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggi5, bintil akar, berat kering tanaman dan berat biji kering-3,minggu ke enunjukkan bahwa pemberian PGPR berpengaruh nyata terhadap tinggiTinggi tanaman berpengaruhkarena bakteri PGPR hidup secaraberkoloni menyelimuti akar tanaman sehingga dapat berpengaruh langsung terhadapHal ini juga dikemukakan oleh Rahni (2012) bahwa bakteri dari genusdiidentifikasi sebagai PGPR penghasilfitohormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terutama hormonSedangkan padaata tinggi tanaman minggu ke-3tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan akar rumput gajah dan rumput gajah ditambahn. Sedangkan pada minggu ke-4nggi terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR denganData volume akar menunjukan nilai rerataP₄ P₅ P₆13,6 13,4 13,8Jenis PGPR4tertinggi volume akar terdapat pada perlakuan PGPR rumput ilalang ditambah legin dengan8,88 cm3,sedangkan yang terendah terdapat pada pemberian akar bambu ditambah legindengan 5,93 cm3. Data jumlah bintil akar juga menunjukkan nilai rerata terbanyak terdapatpada perlakuan akar rumput gajah dengan rata-rata memiliki 15,00 bintil sedangkan nilairerata yang terendah terdapat pada perlakuan akar bambu ditambah legin dengan rata-ratamemiliki 7,25 bintil dan nilai ada pada BNJ taraf 15% adalah 3,62. Unsur hara yang tersediamenyebabkan tanah menjadi subur sehingga akar dapat berfotosintesis dengan baik.Padapengamatan jumlah klorofil daun menunjukkan nilai rerata tertinggi terdapat pada perlakuanakar rumput gajah dengan nilai 37,97 spad unit,sedangkan yang terendah terdapat padaperlakuan tanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan nilai 35,78 spead unit.Fotosintesis dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti suhu, kelembaban dan curahhujan. Dari data rerata suhu,kelembaban dan curah hujan selama penelitian menunjukkanbahwa rerata suhu pada bulan Desember 27,25 0C, Kelembaban 76,67 % dan curah hujan370,20 mm. pada bulan Januari 27,150C Kelembaban 76,70 % dan curah hujan 455,20 mm.pada bulan Februari 27,230C, Kelembaban 77,47 % dan curah hujan 403,90 mm. MenurutAdisarwanto (2007), suhu yang ideal pada musim kemarau berkisar antara 20-300C,kelembaban udara berkisar antara 75-90 % dan kebutuhan air untuk tanaman kedelai berkisarantara 350-550 mm per tahun. Suhu,kelembaban dan curah hujan yang sesuai dengan syaratpertumbuhan tanaman kedelai akan menyebabkan fotosintesis berjalan dengan optimal.Menurut Mustamu (2009), berat atau besarnya berat daun disebabkan oleh kegiatanfotosintesis yang tetap dipertahankan tinggi oleh tanaman. Selanjutnya, distribusi fotosintatjuga banyak didistribusikan ke bagian akar, batang dan polong. Hasil tersebut sesuai dengandata dari tabel 3 yang menunjukkan bahwa berat kering tanaman memiliki rerata tertinggiterdapat pada perlakuan rumput ilalang ditambah legin dengan 5,25 g,sedangkan yangterendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian PGPR dengan 3,56 g dan nilai pada BNJtaraf 15% adalah 1,61.Data berat biji kering,berat 100 biji kering dan polong isi menunjukkan pengaruh darifotosintat yang di translokasikan ke organ generatif berpengaruh baik terhadap berat bijikering,berat 100 biji kering dan jumlah polong isi. Data berat biji kering menunjukkan bahwaperlakuan akar ilalang dengan 42,27 g,sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuantanpa pemberian PGPR ditambah legin dengan 19,88 g dan nilai ada pada BNJ taraf 15%adalah 11,40. Pada berat 100 biji kering dan polong isi nilai rerata tertinggi terdapat padaperlakuan akar bambu ditambah legin dengan 14,02 g dan perlakuan akar rumput gajahdengan 104,38 polong pertanaman, sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan akarrumput gajah dengan 13,41 g dan perlakuan tanpa pemberian PGPR dengan 86,25 polongpertanaman. Menurut Elidar (2000), tingginya hasil berat biji tanaman dipengaruhi olehkemampuan polong dalam menampung fotosintat yang dihasilkan.Meningkatnya prosesfotosintesis dapat mempengaruhi berat biji tanaman, karena semua hasil fotosintesis(fotosintat) ditransfer keseluruh bagian tanaman untuk pertumbuhan dan sebagian besardisimpan dalam biji. Selain itu perbedaan kandungan air yang tersimpan didalam biji jugamemberikan perbedaan berat biji kering kedelai.KESIMPULANPemberian PGPR dapat memberikan perbedaan pertumbuhan dan hasil tanamankedelai pada tanah gambut terhadap berbagai variabel pengamatan antara lain tinggi tanamanminggu ke-2 dan ke-5,jumlah bintil akar efektif,berat kering tanaman dan berat biji keringtanaman. Perlakuan PGPR akar ilalang ditambah legin memberikan rerata tertinggi padajumlah polong isi jumlah klorofil daun dan volume akar untuk berat 100 biji kering rerata5tertinggi terdapat pada perlakuan PGPR akar bambu ditambah legin dengan rerata 14.02 grper tanaman. Semua jenis PGPR menunjukkan perbedaan atas hasil yang tidak beragam padapenelitian ini.DAFTAR PUSTAKAAdisarwanto, T. 2007. Kedelai. Cetakan ke-3. Penebar Swadaya. Jakarta.Anggoro, U.K. 2013. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai 2013.DirektoratJenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. Jakarta.Elidar. Y. 2000. Jurnal Budidaya Pertanian. Vol.7. No 1. Samarinda.Kloepper et al. 1999. Plant root-bacterial interactions in biological control ofsoilbirnedisease and potential extention to systemic and foliar disease.Australia PlantPathology.Mustamu YA. 2009. Seleksi kedelai generasi F4 terhadap intensitas cahaya rendah di dualingkungan [Tesis]. Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.Pitojo, S. 2007. Benih Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.Rahni, N.M. 2012. Efek Fitohormon PGPR Terhadap Pertumbuhan Tanaman jagung(Zea mays). J. Agribisnis dan Pengembangan Wilayah.3 (2):27-35p.SSuprapto, 2002. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.6
COASTAL SEDIMENT UTILIZATION TO UPTAKE P, K NUTRIENTS AND THE YIELD OF CORN (Zea mays L.) PLANT ON TAILINGS MEDIA Siti Maspuroh; Denah Suswati; Rini Hazriani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4168

Abstract

Maize (Zea mays L.) is agricultural commodity that many has benefits for human and animals life. Increase of corn in production can be land through expansion (extension) with the former to land use Gold Mining Without Permission (GMWP) KalBar who reached 4922.3 ha and was expected to grow continue each years. Gold mined of land (tailings) has a pH of soil and low on nutrients that it can support the growth and of corn plants. Coastal sediment containing P, K, Ca, Mg and Na nutrients were high as to increase the pH of soil, adding nutrients and base saturation. This research was conducted to determine the effect coastal sediment to uptake P, K nutrients and the yield of corn on tailings media. Design to this research is Completely Randomized Design treatment that consist of 7, 3 replicated and 2 sets of plant. Dose of coastal sediment on treatment is no treatment (L0), 140 g/polybag (L1), 280 g/polybag (L2), 420 g/polybag (L3), 560 g/polybag (L4), 700 g/polybag (L5) and 860 g/polybag (L6). Parameters observed is uptake P, K and on top dry weight of plant and dry weight per plant. The yield indicate general of coastal sediment can increase the yield maize of crop is 6,8 ton/ha compared to control.   Keyword : Corn, coastal sediment, tailings
PENGARUH KOMBINASI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAHE MERAH Astuti, Puji
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A Red ginger (Zingiber officinale Rosc.) is a herbal plant that is cultivated by farmers to meet the raw material of medicine industry and conserve the living environment. It contains various chemical substances such as essential oil and oleoresin (gingerol, zingeron, shogaol, and resin). The purpose of this study was to determine the effect of the combination treatment of rice husk charcoal, chicken manure, cocopeat, and alluvial soil on the growth and yield of red ginger plants and to determine which combination of planting media treatment could provide the best red ginger. This research was conducted in an experimental design arranged based on a Complete Random Design (RAL), with one treatment factor, namely a combination of planting media (P). Therefore, there were 7 combination treatments and each treatment repeated for three 4 times. Every experimental unit has 3 samples of plants. So, there are 84 samples of plants in the polybag. The variables observed were plant height, leaf area, leaf chlorophyll, number of leaves, number of tillers, rhizome weight per clump, and dry weight of plant. The results of the analysis show that various combinations of planting media have no significant effect on the observation variables Leaves, Leaf Chlorophyll, Leaf Area, Rhizome weight per clump, dry weight of plant, Plant Height 4 MST, 8 MST, and 12 MST and significantly influence the number of tillers. The results showed that in the combination treatment of soil planting media : rice husk charcoal : chicken manure with a ratio of 1: 1: 1 significantly affected the number of tillers.Keywords: Alluvial, Red Ginger, and Planting Media Combination.
PEMANFAATAN TEPUNG CANGKANG TELUR SEBAGAI SUBSTITUSI KAPUR DAN KOMPOS KELADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH PADA TANAH ALUVIAL -, Nurjayanti; Zulfita, Dwi; Raharjo, Dwi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1: Desember 2012
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.083 KB)

Abstract

Cangkang telur merupakan limbah rumah tangga yang dapat diolah dan dijadikan bahan pengganti kapur untuk meningkatkan pH tanah. Keladi dapat diolah menjadi kompos pengganti pupuk kimia yang dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman. Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan mengandung gizi yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian kompos dan tepung cangkang telur terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah pada tanah aluvial dan mengetahui dosis kompos yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah serta mengetahui interaksi kompos dan tepung cangkang telur terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah pada tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama pemberian kompos keladi (K) yang terdiri dari 3 taraf yaitu k1 (358 g/polybag), k2 (892 g/polybag), k3 (1425 g/polybag) dan faktor kedua pemberian tepung cangkang telur (T) yang terdiri dari 3 taraf yaitu t1 (1,35 g kapur dolomit/polybag), t2 (1,49 g /polybag), k3 (2,98 g/polybag). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, berat kering, volume akar, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, pengamatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos keladi dan tepung cangkang telur memberikan pertumbuhan dan hasil yang sama terhadap tanaman cabai merah pada tanah aluvial. Dosis kompos keladi yang efektif untuk diberikan pada tanaman cabai merah adalah 358 g/polybag dan dosis tepung cangkang telur yang efisien sebagai pengganti kapur untuk meningkatkan pH tanah adalah 1,49 g/polybag. Kata kunci : Aluvial, Cabai Merah, Kapur, Kompos Keladi, Tepung Cangkang Telur

Page 51 of 191 | Total Record : 1901