cover
Contact Name
Heppy Yohanes
Contact Email
heppyyohaneslim@gmail.com
Phone
+6287878968652
Journal Mail Official
info@pspindonesia.org
Editorial Address
Perum Puri Bengawan Indah Jl. Karandan Rt.007 Rw.005, Joyontakan, Serengan, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
ISSN : 2797717X     EISSN : 27977676     DOI : https://doi.org/10.54403/rjtpi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen / peneliti pada bidang Teologi. Fokus dan Scope pada Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia adalah: Sejarah pada Teologi Kajian Teologi Pentakosta Tokoh gereja Liturgi Musik Gereja Misiologi Kepemimpinan Kristen Pastoral Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia is a forum for publishing the scientific of lecturers / researchers in the field of Theology. Focus and scope on Jurnal Pentakosta Indonesia are: History of Theology The Pentacostal Analysis Theology Church Figure Liturgy Church Music Missiology Christian Leadership Pastoral
Articles 91 Documents
Pemahaman Makna Gereja dan Implikasinya bagi Kepemimpinan Kristen dan Orang Peraya Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 2 (2023): RITORNERA - JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i2.62

Abstract

Many Christians still do not understand the meaning of the church properly and correctly, even worse, they do not understand the nature of the church at all, why there is a church in this world, so there are still those who believe that the church has nothing to do with them. This research is intended to provide correct understanding and implications regarding the meaning of the church according to Biblical truth for Christians, Christian leaders and church leaders. The method used in writing this article is a qualitative method with a literature research approach. The results and conclusions of this research show how much it has implications for believers, Christian leaders and church leaders when they correctly and clearly understand that a correct understanding of the meaning of the church is very important as a vision of life and the vision of the church both personally and institutionally so that it is able to proclaim God's shalom. in the world according to God's purpose for creating humans, presenting the church in the world as mandated by God to be real and effective in various aspects of life, as stated in Proverbs 29:18 "If there is no revelation, the people will become wild. Blessed are those who keep the law.”  Keywords: Church, Christian Leadership, Believers, Social Responsibility, Missionary Banyak orang Kristen masih belum memahami makna gereja dengan baik dan benar, bahkan lebih parahnya tidak memahami sama sekali hakikat dari gereja, mengapa ada gereja di dunia ini sehingga masih ada yang berpandangan bahwa gereja tidak ada kaitannya dengan dirinya. Penelitian ini dimaksudkan guna memberikan pemahaman dan implikasi yang benar terkait makna gereja sesuai kebenara Alkitab baik bagi orang Kristen, pemimpin Kristen dan pemimpin gereja. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan riset literatur. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan betapa sangat berimplikasinya bagi orang percaya dan pemimpin Krsiten serta pemimpin gereja ketika dengan benar dan jelas memahami bahwa pemahaman yang benar akan makna gereja sangatlah penting sebagai visi kehidupan dan visi gereja baik secara pribadi maupun lembaga sehingga mampu mewartakan syalom Allah pada dunia sesuai maksud Allah menciptakan manusia, menghadirkan gereja di dunia sesuai yang dimandatkan oleh Allah menjadi nyata dan efektif untuk dilakukan dalam berbagai aspek bidang kehidupan, sebagaimana dinyatakan dalam Amsal 29:18 “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialan orang yang berpegang pada hukum.” Kata kunci: Gereja, Kepemimpinan Kristen, Orang Percaya, Tanggung Jawab Sosial,  Misioner
Tinjauan terhadap Pendekatan Filsafat Ontologis dalam Pembuktian Keberadaan Tuhan secara Logis Tengker, Garry Robert; Yosef, Hery Budi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 2 (2023): RITORNERA - JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i2.65

Abstract

AbstractOne of the questions that is often debated is about the existence of God. In Indonesian culture, a person who was born must have been indoctrinated with the teachings of a particular religion which also includes belief in their respective religion's version of God. Questions about the existence of God can lead someone to negative accusations. Some people will answer that God is in the human heart, so his existence is not to be questioned but must be believed. This kind of argument has many weaknesses. The researcher used a data collection method through qualitative research, while in the data processing method and drawing conclusions, the author used an inductive method, namely a reasoning process that starts from specific circumstances to general circumstances. In proving the existence of God logically, there are at least four arguments, namely the ontological argument which is based on human reason, the cosmological argument which is based on natural phenomena, the teleological argument which is based on goals, and the moral argument which is based on morality. It can be known that everything that is enormous about which we cannot think any bigger is God, so God must exist. Anselm's argument was very influential in the history of thought regarding evidence for the existence of God. He presents evidence that is logical in nature because it starts from the assumption that there is something so great that there is nothing greater and that existence is part of that greatness, so it will automatically exist. Usually, Christian theologians only arrive at ontological arguments to prove the existence of God but rarely carry out reconstructions of it. In this article, the proof of God's existence is explained not only from an ontological aspect, but also a reconstruction of the argument.Keywords: ontology, Anselm; God Existence; logical proof; ontology reconstruction AbstrakSalah satu pertanyaan yang sering diperdebatkan adalah tentang eksistensi Tuhan. Dalam budaya di Indonesia, seseorang yang lahir pasti sudah didoktrin dengan ajaran agama tertentu yang didalamnya terkandung juga kepercayaan kepada Tuhan versi agamanya masing-masing. Pertanyaan atas keberadaan Tuhan dapat membawa seseorang kepada tuduhan yang negatif. Beberapa orang akan menjawab bahwa Tuhan ada dalam hati manusia, sehingga keberadaannya bukan untuk dipertanyakan tetapi harus diyakini. Argumen seperti ini memiliki banyak sekali kelemahan. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data melalui penelitian kualitatif, sedangkan dalam metode pengolahan data dan penarikan kesimpulan, penulis menggunakan metode induktif, yaitu proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum. Dalam pembuktian tentang keberadaan Tuhan secara logis, setidaknya ada empat argumen, yaitu argumen ontologis yang berbasis kepada akal manusia, argumen kosmologis yang berbasis kepada fenomena alam, argumen teleologis yang berbasis kepada tujuan, serta argumen moral yang berbasis kepada moralitas. Dapat diketahui bahwa segala sesuatu yang maha besar yang terhadapnya kita tidak bisa pikirkan lebih besar lagi itu adalah Tuhan, maka Tuhan itu pasti ada. Argumen Anselmus ini sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran mengenai bukti adanya Tuhan. Dia menyajikan suatu bukti yang sifatnya logis karena berangkat dengan pengandaian bahwa ada sesuatu yang maha besar yang tidak ada yang lebih besar lagi dan keberadaan itu adalah bagian dari kebesaran itu maka otomatis dia tentunya akan ada. Biasanya, para teolog Kristen hanya sampai pada argumen ontologis untuk membuktikan keberadaan Tuhan namun jarang yang melakukan rekonstruksi terhadapnya. Dalam tulisan ini, pembuktian tentang keberadaan Tuhan dijelaskan bukan hanya dari aspek ontologis, tetapi juga rekonstruksi terhadap argumen tersebut.Kata-kata kunci: ontologis; Anselmus; eksistensi Tuhan; pembuktian logis; rekonstruksi ontologis
Tantangan Kepemimpinan Kristen di Era Disrupsi dalam Gereja Tuhan Susilo, Arman; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.93

Abstract

AbstractLeadership is an important foundation in all aspects of life. Good in leadership in the family, environment, company, especially God's church. God's Church must be serious about carrying out leadership. Effective leadership will produce great works for God's church. It cannot be denied that currently in the era of eruption, there are challenges that are not easy in leadership. The era of disruption is an era where change occurs very quickly. Changes that are not taken seriously will have negative impacts. That's why if leadership is not thought about seriously, it will have fatal consequences for the elements below. The biggest challenge in leadership that is currently occurring is the absence of a firm leadership example in it. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The aims of this research are: First, to present the qualities of Christian leadership. Second, stating the findings of leadership challenges in the era of disruption. Third, how God's church can face leadership challenges in the era of disruption.Keywords: Era of Disruption, Church of God, Christian Leadership AbstrakKepemimpinan menjadi pondasi penting dalam segala sisi kehidupan. Baik dalam kepemimpinan dalam keluarga, lingkungan, perusahaan, terutama gereja Tuhan. Gereja Tuhan harus serius untuk mengerjakan sebuah kepemimpinan. Dari kepemimpinan yang efektif akan menghasilkan karya yang besar bagi gereja Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini di era erupsi, terjadi tantangan yang tidak mudah dalam kepemimpinan. Era disrupsi adalah era yang sangat cepat terjadi perubahan. Perubahan yang tidak disikapi dengan serius akan membawa dampak yang kurang baik. Itu sebabnya jika kepemimpinan tidak dipikirkan dengan serius, maka akan berakibat fatal pada elemen-elemen dibawahnya. Tantangan terbesar di era dirupsi adalah era perkembangan tehnologi, meningkatnya plurasime agama, pencarian makna spiritual dan tantangan moral etika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah : Pertama, menyajikan kualitas kepemimpinan Kristen. Kedua, menyatakan temuan-temuan tantangan kepemimpinan di era disrupsi. Ketiga, cara gereja Tuhan supaya bisa menghadapi tantangan-tantangan kepemimpinan di era disrupsi.Kata kunci : Era Disrupsi, Gereja Tuhan, Kepemimpinan Kristen
Peran Gereja Dalam Membangun Keimanan Gen Y & Z Pada Era Revolusi Industri 4.0 & Society 5.0 Purwonugroho, Daniel Pesah
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 3 (2023): RITORNERA JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i3.75

Abstract

The faith of Generation Y Z in the midst of the 4.0 and 5.0 industry revolutions is the focal point of this research. The profound and massive phenomenon of the 4.0 Society 5.0 revolutions directly impacts Generation Y Z. These generations are the ones who directly engage with the technological advancements in this phenomenon. The church is called upon to nurture the faith of Generation Y Z in facing the challenges posed by the 4.0 Society 5.0 revolutions. Additionally, the church is called upon to equip Generation Y Z to actualize themselves within this phenomenon. Using a qualitative descriptive model, the role of the church in building the faith of Generation Y Z in the era of the 4.0 Society 5.0 revolutions can be examined. This research aims to benefit Generation Y Z by helping them withstand the adverse effects of the 4.0 Society 5.0 revolutions. Simultaneously, it aims to benefit the church by enabling it to foster the faith of Generation Y Z in confronting the 4.0 Society 5.0 revolutions.AbstrakKeimanan generasi Y Z di dalam revolusi industry 4.0 5.0 adalah alasan penelitian ini dibuat. Fenomena revolusi industry 4.0 Society 5.0 yang sedang terjadi dengan sangat amat massif memiliki dampak langsung kepada generasi Y Z. Generasi Y Z adalah generasi yang langsung berinteraksi dengan kecanggihan teknologi dalam fenomena tersebut. Gereja dipanggil untuk membangun keimanan generasi Y Z dalam menghadapi fenomena revolusi industry 4.0 society 5.0. Gereja juga dipanggil untuk memperlengkapi generasi Y Z agar dapat mengaktualisasikan dirinya dalam fenomena tersebut. Dengan menggunakan model kualitatif deskriptif, peran gereja dalam membangun keimanan generasi Y generasi Z pada era revolusi industry 4.0 society 5.0 dapat diteliti. Hal ini membawa manfaat bagi generasi Y Z agar dapat bertahan dari dampak buruk revolusi industry 4.0 society 5.0 serta membawa manfaat bagi gereja agar dapat membangun keimanan generasi Y Z dalam menghadapi revolusi industry 4.0 Society 5.0.
Finalitas dan Keunikan Yesus Kristus Berdasarkan Eksegese Yohanes 14:1-7 Silaban, Guntur Hamonangan Sahat; Sulaili, Sonya Agnes; Silaban, Berton Bostang Hamonangan
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 1 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i1.86

Abstract

AbstractThe finality and uniqueness of Jesus Christ is often challenged by those who cannot accept the absoluteness of salvation in Jesus Christ alone. Therefore, there are various views that want to attack all forms of absoluteness. In connection with this, this research presents findings based on the exegetical study of John 14: 1-7. This research uses qualitative methodology with hermeneutic method through word study in the text to find the meaning and significance of the text. Furthermore, it is formulated as a study that contains support for the claim of the finality and uniqueness of Jesus Christ. With this approach, facts were found in the text that support the claim of the finality and uniqueness of Jesus Christ as the Savior of the world. AbstrakFinalitas dan keunikan Yesus Kristus seringkali digugat oleh pihak-pihak yang tidak dapat menerima kemutlakan keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus. Karena itu, muncullah berbagai pandangan yang ingin menyerang segala bentuk keabsolutan tersebut. Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini memaparkan temuan berdasarkan kajian eksegese Yohanes 14: 1-7. Dalam penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan metode hermeneutik melalui studi kata dalam teks untuk menemukan arti dan makna teks. Selanjutnya dirumuskan sebagai suatu kajian yang memuat dukungan terhadap klaim finalitas dan keunikan Yesus Kristus. Dengan pendekatan tersebut ditemukan fakta-fakta yang yang terdapat dalam teks yang mendukung klaim finalitas dan keunikan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia.
Pengaruh Filsafat Positivisme terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan Modern: Perspektif Epistemologis dan Implikasi Teologis Nainggolan, Rahmat Valent; Yosef, Hery Budi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 3 (2023): RITORNERA JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i3.72

Abstract

This journal examines the influence of positivist philosophy in the context of the development of modern science with a focus on epistemological perspectives and theological implications. The philosophy of positivism introduced by Auguste Comte in the 19th century had a significant impact on our understanding of the nature of knowledge and the way science developed. In the epistemological view, positivism emphasizes the importance of observation and empirical experience as the sole basis for legitimate knowledge. This concept has inspired dominant scientific approaches in many fields of science, including physics, chemistry, biology, and social sciences. This epistemological analysis will explain how positivism is changing the traditional scientific paradigm that relies on metaphysical speculation and abstract theories. While from the theological side, it reveals the influence of positivism on religious understanding, morality and meaning in life. This research uses methods of historical text analysis, literature review, and philosophical approaches to explain the impact of positivist philosophy in the epistemology of science and its implications on theological understanding. The results of this study will provide a better insight into how the philosophy of positivism has shaped and influenced the evolution of modern science as well as how theological views have adapted to this epistemological paradigm. The journal aims to contribute a deeper understanding of the relationship between philosophy, science, and religion in the context of the development of modern society. The theological implications of positivism and its epistemological views will provide a foundation for further reflection on the role of religion in modern science and its impact on our moral and ethical values.AbstrakJurnal ini mengkaji pengaruh filsafat positivisme dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan modern dengan fokus pada perspektif epistemologis dan implikasi teologisnya. Filsafat positivisme yang diperkenalkan oleh Auguste Comte pada abad ke-19 memiliki dampak yang signifikan pada pemahaman kita tentang sifat pengetahuan dan cara ilmu pengetahuan berkembang. Dalam pandangan epistemologis, positivisme menekankan pentingnya observasi dan pengalaman empiris sebagai dasar tunggal untuk pengetahuan yang sah. Konsep ini telah mengilhami pendekatan ilmiah yang dominan dalam berbagai bidang ilmu, termasuk fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial. Analisis epistemologis ini akan menjelaskan bagaimana pandangan positivisme mengubah paradigma ilmiah tradisional yang mengandalkan spekulasi metafisika dan teori-teori abstrak. Sedangkan dari sisi teologisnya mengungkapkan pengaruh positivism terhadap pemahaman agama, moralitas dan makna dalam kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks sejarah, peninjauan literatur, dan pendekatan filosofis untuk menjelaskan dampak filsafat positivisme dalam epistemologi ilmu pengetahuan dan implikasinya pada pemahaman teologis. Hasil penelitian ini akan memberikan wawasan yang lebih baik tentang bagaimana filsafat positivisme telah membentuk dan memengaruhi evolusi ilmu pengetahuan modern serta bagaimana pandangan teologis telah beradaptasi dengan paradigma epistemologis ini. Jurnal ini bertujuan untuk menyumbangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama dalam konteks pengembangan masyarakat modern. Implikasi teologis positivisme dan pandangan epistemologisnya akan memberikan landasan untuk refleksi lebih lanjut tentang peran agama dalam dunia ilmu pengetahuan modern dan dampaknya pada nilai-nilai moral dan etika yang kita anut.
Mengelola Konflik dalam Gereja: Strategi Manajemen Konflik Menurut Efesus 4: 1-16 Baskoro, Paulus Kunto; Ayuningrum, Fransiska Nur Endah; Theresna, Jefri; Saputra, Anon Dwi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.94

Abstract

AbstractIn church life, conflict cannot be separated. Conflict is not something that must be avoided, but must be overcome in order to create congregational unity. Conflicts that occur are due to different backgrounds in the lives of each person in the congregation. Management is used to prevent conflict, but if conflict occurs, the focus is on resolving it. Conflicts that occur in a church have fatal consequences if they are not handled well, such as leadership not being optimal, the number of congregations decreasing, leadership cadre not occurring, church services becoming ineffective and the local church not reflecting the likeness of Christ. Based on the analysis of Ephesians 4: 1 – 16, there are four principles that can be applied in the church to maintain unity and prevent conflict, namely living in unity, building unity, diversity to build unity, the means to achieve true unity is Jesus. The method used is a descriptive qualitative method. The aim is First, to examine conflict management strategies based on Ephesians 4:1-6. Second, implementing the values from the results of the conflict management strategy study into today's church.Keywords: Ephesias, Church, Unity, Conflict, Management AbstrakDalam kehidupan gereja juga tidak terlepas dengan namanya konflik. Konflik itu bukan hal yang harus dihindari, tetapi harus diatasi agar dapat tercipta kesatuan jemaat. Konflik yang terjadi dikarenakan perbedaan latar belakang dalam kehidupan setiap orang di dalam jemaat. Manajemen digunakan untuk mencegah konflik, tetapi apabila terjadi konflik, maka fokusnya adalah pada penyelesaiannya. Konflik yang terjadi dalam sebuah gereja berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik, seperti kepemimpinan menjadi tidak maksimal, mengalami penurunan jumlah jemaat, pengkaderan kepemimpinan tidak terjadi, pelayanan gereja menjadi tidak efektif dan gereja secara lokal tidak mencerminkan keserupaan dengan Kristus. Berdasarkan analisis Efesus 4: 1 – 16 ada empat prinsip yang bisa diterapakan di dalam gereja untuk menjaga persatuan dan mencegah terjadinya konflik, yaitu hidup dalam kesatuan, membangun kesatuan, keberagaman untuk membangun kesatuan, sarana untuk mencapai kesatuan sejati adalah Yesus. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuannya adalah Pertama, mengkaji strategi managemen konflik berdasarkan Efesus 4:1-6. Kedua, mengimplementasikan nilai-nilai dari hasil kajian strategi managemen konflik ke dalam gereja masa kini.Kata kunci : Efesus, Gereja, Kesatuan, Konflik, Manajemen
Teologi Misi Pentakosta di Era Postmodern, Era Disrupsi, dan Era Society 5.0 Yohanes, Heppy
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 1 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i1.82

Abstract

ABSTRACTThe development of the times in various eras makes the application of Pentecostal mission must be able to follow it. Is the message of Pentecostal Theology of Mission still relevant to the conditions in each era? How can Pentecostal theology of mission be the answer and face global challenges in every era? What is needed so that Pentecostal theology can still be practiced in every era? These questions form the basis of this research. To get the appropriate results, this research was conducted descriptively qualitatively with a literature study. The result of this research is that Pentecostal mission theology is very much related to every era that occurs, and the practice of Pentecostal mission theology must be carried out in accordance with the situations and conditions that occur in each era, especially using technology that is in accordance with its development. This shows that it is also very important to improve the competence of an implementer of Pentecostal mission theology, especially in the era of society 5.0.ABSTRAK Perkembangan jaman dalam berbagai era membuat penerapan misi secara pentakosta harus bisa mengikutinya. Apakah yang menjadi pesan dari Teologi Misi Pentakosta masih relevan dengan kondisi pada setiap era? Bagaimanakah teologi misi pentakosta dapat menjadi jawaban dan menghadapi tantangan secara global pada setiap era? Apa yang diperlukan agar teologi pentakosta tetap bisa diamalkan di setiap era? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar dari pelaksanaan penelitian ini. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai, penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah teologi misi pentakosta sangatlah terkait dengan setiap era yang terjadi, serta dalam pengamalan teologi misi pentakosta harus dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada setiap era, khususnya menggunakan teknologi yang sesuai perkembangannya. Hal ini menunjukkan sangatlah penting juga meningkatkan kompetensi dari seorang pelaksana teologi misi Pentakosta, khususnya pada era society 5.0.
Bioetika Dari Sudut Pandang Teologi Kristen Longkutoy, Nando Agusto Daud; Setyobekti, Andreas Budi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.90

Abstract

AbstractTheology and Science are fields of study that frequently intersect, especially on ethical issues within the scientific world. Several moral dilemmas in the medical field require ethical guidelines, which led to the emergence of the term bioethics. Due to the remarkable medical advancements from the 1960s to the 1970s, bioethics is regarded as a bridge between science and ethics. Various bioethical perspectives are applied today, with utilitarianism and individualism being two prominent secular bioethical viewpoints. Theological perspectives, however, are often marginalized in the realm of bioethics for several reasons, one being the process of secularization. Nevertheless, because secular bioethics lack concepts such as virtue and truth, theological perspectives become significant. Theology views humans as created in the image of God, which confers dignity to humans and ensures that everyone has rights in the medical field. John Frame's Christian ethical guidelines can also aid believers in making decisions in the world of bioethics.Keywords: Bioethics; Theology; Christianity; Science; image of GodAbstrakTeologi dan Sains adalah bidang ilmu yang tidak jarang bertemu terlebih khusus pada permasalahan etika dalam dunia sains. Beberapa permasalahan moral di dunia medis memerlukan suatu panduan dalam beretika, untuk itu istilah bioetika muncul. Karena perkembangan medis yang luar biasa di tahun 1960 sampai 1970 sehingga bioetika dianggap sebagai jembatan antara sains dan etika. Berbagai pandangan bioetika diterapkan saat ini namun utilitarianisme dan individualisme menjadi dua pandangan bioetika sekuler yang memiliki tempat yang penting dalam dunia bioetika. Pandangan teologi dimarginalkan dalam dunia bioetika karena beberapa alasan salah satunya seperti proses sekularisasi yang terjadi. Namun karena bioetika sekuler tidak memilik pandangan seperti kebajikan dan kebenaran sehingga pandangan teologi menjadi penting. Pandangan teologi memandang manusia diciptakan menurut Gambar Allah yang memberikan martabat bagi manusia sehingga semua manusia mendapat hak dalam dunia medis. Panduan etika Kristen John Frame yang bisa dilihat dari tiga perspektif yaitu situational perspective, normative perspective dan existential perspective pun dapat menjadi bantuan orang percaya dalam pengambilan keputusan dalam dunia bioetika.Kata kunci : Bioetika; Teologi; Kristen; Sains; Gambar Allah
Mati Syahid Dalam Perspektif Iman Kristen Ditinjau dari Kitab 2 Timotius 2:1-13 Tina, Jumreni
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 3, No 3 (2023): RITORNERA JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v3i3.46

Abstract

Martyrdom is an event experienced by people because they defend the teachings they believe in. Martyrdom from a Christian perspective, a review of the book of 2 Timothy 2:1-13, is an effort made to answer various paradigms that emerge in society, the nation, especially the Church. . The purpose of writing is to explain how the book of Philippians views martyrdom from the perspective of the Christian faith, which then becomes a guide for Christians so that they do not misinterpret the meaning of “Shaheed Death”. In this writing, we use a qualitative research method with a literature review method to explore and find out the purpose and meaning of martyrdom and its relationship to 2 Timothy 2:1-13. The meaning of “martyrdom” in this context refers to the great sacrifice a person can make, even to the point of death, for the sake of faith and service to God. In the context of Christian life, Martyrdom refers to someone who dies because of their faith. This reflects a willingness to sacrifice one’s life for the sake of truth and faith in Christ.AbstrakMati syahid merupakan suatu peristiwa yang dialami orang-orang karena membela  ajaran yang diyakini, mati syahid dalam perspektif Kristen ditinjau dari kitab 2 Timotius 2:1-13  merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk menjawab berbagai paradigma yang muncul ditengah masyarakat, Bangsa, secara khusus Gereja. Tujuan dari penulisan untuk menjelaskan bagaimana kitab filipi memandang mati syahid dalam perspektif iman Kristen yang kemudian menjadi pegangan bagi umat Kristen sehingga tidak salah dalam menafsirkan arti “Mati Syahis”. Dalam penulisan ini  menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode kajian pustaka untuk menggali serta mencari tahu maksud, makna dari mati syahid dan kaitannya dengan 2 Timotius 2:1-13. Makna “mati syahid” dalam konteks ini merujuk pada pengorbanan yang besar yang seseorang bisa berikan, bahkan sampai pada kematian, demi iman dan pelayanan kepada Tuhan. Dalam konteks kehidupan Kristen, mati syahid mengacu pada seseorang yang meninggal karena imannya. Hal ini mencerminkan kesediaan untuk mengorbankan nyawa demi kebenaran dan iman dalam Kristus.

Page 6 of 10 | Total Record : 91