cover
Contact Name
Anak Agung Eka Suwarnata
Contact Email
agrisintech.fpunb@gmail.com
Phone
+6285237240748
Journal Mail Official
agrisintech.fpunb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Bangsa, Jalan K.H. Sholeh Iskandar Km.4, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, 16166
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology)
ISSN : 27218597     EISSN : 27218589     DOI : https://doi.org/10.31938/agrisintech
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrisintech merupakan jurnal ilmiah yang menerima karya ilmiah dalam Rumpun Ilmu dengan kategori: 1. Sub Rumpun Ilmu Pertanian dan Perkebunan Sosiologi dengan bidang Ilmu Tanah, Holtikultura, Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman dan Perkebunan, Perkebunan, Pemuliaan Tanaman dan bidang pertanian dan perkebunan lain yang belum tercantum. 2. Sub Rumpun Teknologi dalam Ilmu Tanaman dengan bidang ilmu Teknologi Industri Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Teknologi Pertanian, Teknologi Pasca Panen,Teknologi Perkebunan, Bioteknologi Pertanian dan Perkebunan, Ilmu Pangan, dan Bidang Teknologi dalam Ilmu Tanaman yang belum tercantum. 3. Sub Rumpun Ilmu Sosiologi Pertanian dengan bidang ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Ekonomi Pertanian, Sosiologi Pedesaan, Agribisnis, Penyuluh Pertanian, dan Bidang Sosiologi Pertanian lain yang belum tercantum.
Articles 53 Documents
Karakter Fisik Umbi Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascaloncium L.) Widiayani, Nuniek; Syam'un, Elkawakib; Dariati, Tigin; Iswoyo, Hari; Dungga, Novaty Eny; Faried, Muhammad
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i1.598

Abstract

This study aimed to analyze the various physical characteristics of the bulbs of several shallot varieties, which are widely developed in Indonesia. The various characteristics of shallot bulbs are essential to know. This research was conducted from May to June 2023 at the Teaching Farm, Faculty of Agriculture, Hasanuddin University, Makassar, South Sulawesi. The study was arranged in a randomized block design (RBD). Seven varieties of onions are the object of research namely Sanren F1 F1, Lokana, Rubaru, Ambassador 3 Agrihorti, Violetta 2 Agrihorti, Kramat 1 1, dan Mentes . Sampling was done randomly on each treatment plot. The number of bulbs sampled was 5 per variety in each replication. The parameters observed included equatorial diameter (cm), polar diameter (cm), bulb thickness (cm), average geometric diameter (cm), average arithmetic diameter (cm), bulb weight (g), and bulb volume (cm3), and shape index, then those parameters are calculated using formulas. The Lokana variety has the largest bulb size compared to other varieties. In general, the seven shallot varieties had equatorial diameters ranging from 2.03 to 3.02 cm, polar diameters ranging from 2.51 to 3.12 cm, bulb thickness ranging from 2.25 to 2.73 cm, bulb weights ranging from 6. 30 – 14.36 g, the volume between 7.60 – 26.27 cm3, geometric diameter between 2.29 – 2.95 cm, arithmetic diameter between 2.29 – 2.96 cm. The Lokana variety has greater physical characteristics than other varieties. Penelitian mengenai karakter fisik umbi bawang merah masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis berbagai karakter fisik dan geometrikal umbi beberapa varietas bawang merah yang banyak dikembangkan di Indonesia. Berbagai karakter dari umbi bawang merah menjadi penting untuk diketahui. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei hingga Juni 2023, di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada ketinggian 9 mdpl.  Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Tujuh varietas bawang yang menjadi objek penelitian yaitu Sanren F1 F1, Lokana, Rubaru, Ambassador 3 Agrihorti, Violetta 2 Agrihorti, Kramat 1 1, dan Mentes. Pengambilan sampel dilakukan secara acak pada setiap petakan perlakuan. Jumlah umbi yang dijadikan sampel sebanyak 5 buah per varietas pada setiap ulangan. Parameter yang diamati meliputi diameter equitorial (cm), diameter polar (cm), tebal umbi (cm), rata-rata diameter geometrik (cm), rata-rata diameter aritmetika (cm), bobot umbi (g), volume umbi (cm3), dan indeks bentuk, lalu parameter tersebut dihitung menggunakan rumus. Varietas Lokana memiliki ukuran umbi yang paling besar, dibandingkan varietas lainnya. Tujuh varietas bawang merah memiliki diameter equitorial berkisar antara 2,03 – 3,02 cm, diameter polar antara 2,51 – 3,12 cm, ketebalan umbi antara 2,25 – 2,73 cm, bobot umbi antara 6,30 – 14,36 g, volume antara 7,60 – 26,27 cm3, diameter geometrik antara 2,29 – 2,95 cm, diameter aritmetik antara 2,29 – 2,96 cm. Varietas Lokana memiliki karakter fisik yang lebih besar dibandingkan varietas lainnya.
Peran Kelompok Tani Terhadap Peningkatan Hasil Produksi Kelapa Sawit di Desa Pasir Emas Hidayat, Mastur Arif; Sayekti, Agatha Ayiek Sih; Nurjanah, Danik
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i1.604

Abstract

This research aims to determine external and internal factors on palm oil production results and determine the role of farmer groups in palm oil production activities. The research location was determined deliberately in Pasir Emas Village, Singingi District, Kuantan Singingi Regency, Riau Province. The sampling method used was the purposive sampling method with the number of samples taken in this research being 32 respondents who were members of farmer groups. The data analysis method used in this research is a quantitative descriptive method with multiple linear regression analysis. The results of the research show that the role of farmer groups, business experience, farming and fertilizer use inputs equally influence coconut production results. Only the fertilizer input variable has a significant influence partially on production yield variables. The role of farmer groups is as a liaison between farmers and KUDs and groups also play a role as implementers of activities in the field Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor eksternal dan faktor internal terhadap hasil produksi kelapa sawit dan mengetahui peran kelompok tani dalam kegiatan produksi kelapa sawit. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara tertuju di Desa Pasir Emas Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Metode penentuan sampel yang digunakan yaitu metode purposive sampling dengan jumlah sample yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 32 responden yang merupakan anggota kelompok tani. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan peran kelompok tani, pengalaman berusaha, tani dan input penggunaan pupuk secara bersama sama berpengaruh terhadap hasil produksi kelapa. Secara parsial, hanya variabel input pupuk yang berpengaruh signifikan terhadap variabel hasil produksi. Peran kelompok tani adalah sebagai penghubung antara petani dengan KUD dan sebagai pelaksana kegiatan di lapangan.
Pengaruh Pupuk NPK dan ZPT Air Kelapa Terhadap Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Sintia, Ema; Sa'diyah, Halimatus
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i1.609

Abstract

Pakchoy or Brassica rapa L. is called a plant with a distinctive taste and high nutritional content. Pakchoy productivity is still experiencing a decline and is inversely proportional to the increase in demand for pakchoy products. The research was carried out with the aim of finding out the effect of applying NPK fertilizer and coconut water PGR on the yield of pak choy plants. This research used factorial completely randomized design with 2 factors namely NPK fertilizer doses (0 kg/ha; 150 kg/ha; 300 kg/ha; 450 kg/ha) and coconut water PGR concentrations (0%; 25%; 50%; 75 %). The significant interaction effect is in the leaf chlorophyll variable with the highest value at the NPK fertilizer dose of 300 kg/ha and the PGR concentration of 0% coconut water was 43.2 per mm2. The significant interaction effect was also shown in the dry weight variable with the highest value at the NPK fertilizer dose of 450 kg/ha and the PGR concentration of 0% coconut water of 14.5 g. NPK fertilizer has significant and very significant effect on the research variables with the best treatment of 450 kg/ha. The PGR of coconut water treatment had no significant effect on the research variables, except for the variable number of leaves with the highest average at a concentration of 0%. Pakcoy atau Brassica rapa L. disebut sebagai tanaman dengan cita rasa yang khas dan kandungan nutrisi tinggi. Produktivitas pakcoy masih mengalami penurunan dan berbanding terbalik dengan peningkatan permintaan produk pakcoy. Penelitian dilakukam dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk NPK dan ZPT air kelapa terhadap hasil tanaman pakcoy. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial RAL dengan 2 faktor berupa dosis pupuk NPK (0 kg/ha; 150 kg/ha; 300 kg/ha; 450 kg/ha) dan konsentrasi ZPT air kelapa (0%; 25%; 50%; 75%). Pengaruh interaksi nyata pada variabel klorofil daun dengan nilai tertinggi pada dosis pupuk NPK 300 kg/ha dan konsentrasi ZPT air kelapa 0% sebesar 43,2 per mm2. Pengaruh interaksi nyata juga ditunjukkan pada variabel berat kering dengan nilai tertinggi pada dosis pupuk NPK 450 kg/ha dan konsentrasi ZPT air kelapa 0% sebesar 14,5 g. Pupuk NPK berpengaruh nyata dan sangat nyata terhadap variabel penelitian dengan perlakuan terbaik 450 kg/ha. Perlakuan ZPT air kelapa tidak berpengaruh nyata terhadap variabel penelitian, kecuali terhadap variabel jumlah daun dengan rata-rata tertinggi pada konsentrasi 0%.
Karakteristik Fisik Edible Film Nanokomposit Berbasis Kitosan Dengan Penambahan Beeswax dan NP-ZnO Hutabarat, Friska Tania; Setyadi Gumaran; Utari, Ni Wayan Arya
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i1.613

Abstract

Chitosan, as one of the hydrophilic materials used in edible films, does not exhibit optimal properties when used as a single coating material. To enhance its effectiveness, this research explores the utilization of the hydrophobic lipid beeswax and antimicrobial nanoparticle ZnO (NP-ZnO) in the production of chitosan-based edible films. The study employed a completely randomized design (CRD) with variations in NP-ZnO concentration (1%, 2%, and 3%) and beeswax emulsi on at the same concentrations, resulting in nine treatment levels plus one control. The research findings indicate that the combination of beeswax and NP-ZnO significantly influences film characteristics. The film thickness ranged from 0.06 to 0.12 mm, while color change values  were between 75.63 and 77.06. However, the water vapor transmission rate ranged from 3.10 to 15.51 g/m2, and the tensile strength varied f rom 2.37 to 8.68 Mpa with film elongation ranging from 26.17% to 87.81%. FTIR analysis of the best sample revealed interactions between components B1Z1 in the film, as evidenced by the presence of O-H, C-H, C=C, C=O, C-N, and C-O groups. The research results demonstrate that the addition of beeswax and NP-ZnO has an impact on the chitosan-based nanocomposite film layer. Kitosan, sebagai salah satu bahan edible film yang memiliki sifat hidrofilik tidak optimal jika digunakan sebagai bahan pelapis tunggal. Untuk meningkatkan efektivitasnya, penelitian ini mengeksplorasi penggunaan lipid beeswax yang bersifat hidrofobikdan nanopartikel ZnO (NP-ZnO) yang mempunyai sifat antimikroba dalam pembuatan edible film berbasis kitosan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan variasi konsentrasi NP-ZnO (1%, 2%, dan 3%) dan emulsi beeswax dengan konsentrasi yang sama sehingga menghasilkan sembilan taraf perlakuan ditambah satu kontrol.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi beeswax dan NP-ZnO secara signifikan memengaruhi karakteristik film. Ditemukan nilai ketebalan film berada pada 0,06 sampai 0,12 mm, sementara nilai perubahan warna berada pada angka 75,63 sampai 77,06. Meskipun demikian, laju transmisi uap air berada pada nilai 3,10 sampai 15,51 g/m2, dan didapatkan nilai kekuatan tarik dari 2,37 sampai 8,68 Mpa dengan elongasi film dari 26,17% sampai 87,81%. Analisis untuk FTIR menggunakan sampel terbaik dan menunjukkan adanya interaksi antara komponen B1Z1 dalam film, ditandai oleh adanya gugus O-H, C-H, C=C, C=O, C-N, dan C-O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan beeswax dan NP-ZnO memberikan pengaruh terhadap lapisan film nanokomposit berbasis kitosan
Pendugaan Umur Simpan Kopi Bubuk Arabika Java Preanger Dengan Metode ASLT Model Arrhenius Aini, Nurul; Gumaran, Setyadi; Utari, Ni Wayan Arya
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i1.651

Abstract

West Java is famous for its specialty coffee named Java Preanger arabica, which is including in the specialty category with an excellent title. To maintain its superior taste quality, special treatment in necessary to preserve the coffee quality. As time passes, the quality of coffee tend to decline, hence the need to evaluate its shelf life estimation to determine the optimal consumption period. To uphold product quality, its crucial to use appropriate packaging and ensure suitable storage temperatures. This research aims to estimate the shelf life of powdered coffee based on its moisture content using the ASLT Arrhenius model, as well as to evaluate the most effective packaging type in preserving coffee quality during storage. The research findings indicate the moisture content increase and coffee quality deteriorates with storage. Coffee packaged in kraft foil has a maximum shelf life of 96 days 35˚C, 96 days at 45˚C, 94 days at 55˚C, and 96 days at room temperature. Therefore, kraft foil packaging is the optimal choice for maintaining the quality of powdered coffee. Jawa Barat terkenal dengan kopi khasnya, yakni Arabika Java Preanger yang mendapatkan predikat excellent dalam kategori specialty. Untuk mempertahankan kualitas citarasa yang unggul, perlakuam khusus diperlukan agar mutu kopi tetap terjaga. Seiring berjalannya waktu, kualitas kopi cenderung menurun sehingga estimasi umur simpannya perlu dievaluasi untuk menentukan waktu optimal konsumsi. Untuk menjaga kualitas produk, penting untuk menggunakan kemasan yang tepat dan memperhatikan suhu penyimpanan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan umur simpan kopi bubuk berdasarkan kadar air dengan menggunakan metode ASLT model Arrhenius, serta mengevaluasi jenis kemasan yang paling efektif dalam menjaga mutu kopi selama proses penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air meningkat dan kualitas mutu kopi menurun seiring dengan penyimpanan. Kemasan kopi dengan kraft foil memiliki umur simpan maksimum selama 96 hari pada suhu 35˚C, 95 hari pada suhu 45˚C, 94 hari pada suhu 55˚C, dan 96 hari pada suhu ruangan. Oleh karena itu, kemasan kraft foil merupakan pilihan optimal untuk menjaga kualitas mutu kopi bubuk.
Karakter Morfologi dan Produksi Pati Sagu (Metroxylon spp.) di Kecamatan Tinombo Selatan, Sulawesi Tengah Pembayun, Putri; Karmanah, Karmanah; Djoefrie, Mochamad Hasjim Bintoro
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.723

Abstract

Sago (Metroxylon spp.) is carbohydrate-producing plant that has high productivity and potential to developed in Indonesia. Distribution of sago area in the world is 6,279,637 hectares and Indonesia is 5,579,637 hectares. Sago can produce dry much as 20-40 tonnes ha-1 year-1, in Mappi Regency there are sago that have dry starch of 1,197.20 kg steem-1. The distribution of sago in Indonesia is extensive, covering the islands of Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku and Java. This study aimed to obtain information on morphological characters and starch production of several sago accessions in South Tinombo District, Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi Province. The research used the obsevation method on fourteen accessions. Sago accessions in The South Tinombo District have different morphological and production characters. Steem length from 5.65-13.10 m. Rachis length from 2.70-6.80 m and petiole length from 0.46-1.66 m. Accession Sigenti has the highest dry starch production. Accession Sigenti had the highest dry starch production of 429.19 kg stem-1 and Accession Sigenti South 2 the lowest of 56.62 kg stem-1. The average dry starch production in Tinombo Selatan sub-district was 245.90 kg stem-1. Accession Sigenti is recommended as a local superior sago and can be further researched for yield stability to become a superior sago variety. Sagu (Metroxylon spp.) merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki produktivitas tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Luas pertanaman sagu di dunia 6.279.637 hektar dan Indonesia sekitar 5.579.637 hektar. Penyebaran sagu di Indonesia cukup luas, meliputi Pulau Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Jawa. Sagu dapat menghasilkan pati kering sebanyak 20-40 ton ha-1 tahun-1, di Kabupaten Mappi terdapat pohon sagu yang memiliki kandungan pati kering 1.197,20 kg pohon-1. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi dan produksi pati beberapa aksesi sagu di Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode observasi terhadap empat belas aksesi. Aksesi sagu di Kecamatan Tinombo Selatan memiliki karakter morfologi dan produksi yang berbeda-beda. Panjang batang berkisar antara 5,65-13,10 m. Panjang rachis berkisar antara 2,70-6,80 m dan panjang petiol berkisar antara 0,46-1,66 m. Aksesi Sigenti memiliki produksi pati kering paling tinggi 429,19 kg batang-1 dan Aksesi Sigenti Selatan 2 paling sedikit 56,62 kg batang-1. Rata-rata produksi pati kering di Kecamatan Tinombo Selatan 245,90 kg batang-1. Aksesi Sigenti direkomendasi sebagai sagu unggul lokal dan dapat diteliti lebih lanjut kestabilan hasilnya untuk menjadi varietas sagu unggul.
Strategi Pengembangan Pemasaran Kopi Robusta di Unit Usahatani Agro Semesta Wartju, Jason Jonathan; Setiawan, I Gede Bagus
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.730

Abstract

The problem faced by coffee farmer groups in Tabanan Bali is marketing. This is also experienced by the Agro Semesta Farming Business Unit (UUT) located in Pajahan Village, Pupuan District, Tabanan Regency. They still have difficulty in marketing their flagship product, namely Sobean Coffee. This study aims to identify factors in the internal and external environment in marketing development, as well as to find alternative marketing development strategies and priority strategies needed by UUT Agro Semesta in developing Sobean Coffee marketing. The analysis tools used in this study include the IFAS, EFAS, IE, SWOT, and QSPM matrices. The results of the study showed that there were six strength factors, namely Superior Brand, Characteristic dark chocolate and fruity flavors, Red Pick and Honey process, Coffee processing facilities and Assistance from the Kopernik Subak Abian Amertha Karya Foundation as a coffee supplier and five weakness factors, namely Lack of human resources in production and marketing, Marketing is still by word of mouth, Decrease in quality after 3 months, Difficulty finding distributors and Not having a production permit, and four opportunity factors, namely Increasing coffee drink trends, Increasing coffee demand, Export of coffee to international markets and E-commerce and social media and three threat factors, namely Lack of interest in village youth, Relatively expensive prices and Lack of extension workers. The results of the IFAS and EFAS matrix analysis on the SWOT diagram, UUT Agro Semesta has quite strong internal strength but faces quite serious threats, this encourages UUT Agro Semesta to seek alternative strategies that are diversified. There are nine alternative strategies generated from the SWOT matrix, and the results of the QSPM matrix show that creating a UUT development program with the Regional Government and the Kopernik Foundation to attract the interest of village youth is a priority strategy for UUT Agro Semesta in developing Sobean Coffee marketing. Permasalahan yang dihadapi kelompok petani kopi di Tabanan Bali adalah soal pemasaran. Hal ini juga dialami oleh Unit Usaha Tani (UUT) Agro Semesta yang berlokasi di Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Mereka masih mengalami kesulitan dalam memasarkan produk andalannya, yaitu Kopi Sobean. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pada lingkungan internal dan eksternal dalam pengembangan pemasaran, serta mencari alternatif strategi pengembangan pemasaran dan strategi prioritas yang diperlukan oleh UUT Agro Semesta dalam mengembangkan pemasaran Kopi Sobean. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini mencakup matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT, dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam faktor kekuatan yaitu Brand unggulan, Ciri khas rasa dark chocolate dan fruity, Petik merah dan Honey process, Fasilitas pengolahan kopi dan Bantuan dari Yayasan Kopernik Subak Abian Amertha Karya sebagai pemasok kopi dan lima faktor kelemahan yaitu Kurangnya SDM dalam produksi dan pemasaran, Pemasaran masih dari mulut ke mulut, Penurunan kualitas setelah 3 bulan, Kesulitan mencari distributor dan Tidak memiliki izin produksi, serta empat faktor peluang yaitu Trend minuman kopi yang meningkat, Permintaan kopi yang meningkat, Ekspor kopi pasar internasional dan E-commerce dan media sosial dan tiga faktor ancaman yaitu Kurangnya minat pemuda desa, Harga relatif mahal dan Kurangnya tenaga penyuluh. Hasil analisis matriks IFAS dan EFAS pada diagram SWOT, UUT Agro Semesta memiliki kekuatan internal yang cukup kuat namun menghadapi ancaman yang cukup serius, hal ini mendorong UUT Agro Semesta untuk mencari alternatif strategi yang bersifat diversifikasi. Ada sembilan alternatif strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT, dan hasil matriks QSPM menunjukkan bahwa membuat program pengembangan UUT dengan Pemda dan Yayasan Kopernik untuk menarik minat pemuda desa menjadi strategi prioritas untuk UUT Agro Semesta dalam mengembangkan pemasaran Kopi Sobean.
Penampilan Karakter Morfologi Enam Kultivar Unggul Kedelai pada Budidaya Sistem Hidroponik Sukmasari, Miftah Dieni; Wijaya, Acep Atma
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.743

Abstract

In order to meet national soybean needs, soybean production must be increased. The use of quality seeds in terms of viability and vigor is one way to increase production results. Meanwhile, soybean seed production at the farmer level is carried out the same as soybean production for consumption, whereas seeds harvested for seeds must have special criteria such as water content, uniformity of seed size, and seeds must be free from disease contamination. One way to improve seed quality is to plant soybeans in a controlled environment. The technology developed in this study is the hydroponic system. The purpose of this study was to observe the morphological appearance of six superior soybean cultivars with hydroponic planting. This study was conducted in a Green House with a DFT hydroponic system installation. The cultivars tested were Grobogan, Anjasmoro, Deja 2, Dering 1, Gepak Kuning, and Dega 1. The results showed that each cultivar showed a different appearance in each observed variable. The Gepak Kuning and Dering 1 cultivars showed good performance on average in plant height, stem diameter, and seed weight. These cultivars have shown their ability to adapt to hydroponic planting systems to improve the quality of soybean seeds. Dalam upaya memenuhi kebutuhan kedelai nasional, produksi kedelai harus ditingkatkan. Pemakaian benih yang bermutu dalam hal viabilitas dan vigor menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksi. Sedangkan produksi benih kedelai ditingkat petani dilakukan sama seperti produksi kedelai untuk konsumsi, padahal biji yang dipanen untuk benih harus memiliki kriteria khusus misalnya kadar air, tingkat keseragaman ukuran biji, dan biji harus terbebas dari kontaminasi penyakit. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas benih adalah dengan menanam kedelai di lingkungan yang terkendali. Teknologi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah dengan system hidroponik. Tujuan penelitian ini adalah melihat penampilan morfologi enam kultivar unggul kedelai dengan penanaman secara hidroponik. Penelitian ini dilakukan di Green House dengan instalasi hidroponik system DFT. Kultivar yang diuji yaitu Grobogan, Anjasmoro, Deja 2, Dering 1, Gepak kuning, dan Dega 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kultivar menunjukkan penampilan yang berbeda pada setiap variable yang diamati. Kultivar Gepak Kuning dan Dering 1 rata-rata menunjukkan penampilan baik pada tinggi tanaman, diameter batang, dan bobot biji. Kultivar-kultivar tersebut mampu beradaptasi pada system penanaman secara hidroponik untuk peningkatan kualitas benih kedelai.
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Interval Penyiraman Terhadap Laju Pertumbuhan Bibit Kopi Robusta Ismoyojati, Roni; Devi, Devi
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.744

Abstract

Various mixtures of planting media and watering with predetermined intervals are used to support the growth process of Robusta coffee seedlings in the early stages of plant cultivation. The aim of this research is to determine how various planting media compositions and watering intervals influence the growth rate of Robusta coffee seedlings. This study used a Randomized Block Design (RBD) with three replication blocks and a 3x3 factorial pattern as an experimental design. The two aspects studied were watering interval (I) and plant media (M). The planting media factor (M) consists of three levels: M0 is top soil media, M1 is top soil and 2:1 TKKS media, and M2 is top soil and 2:1 manure media. The watering interval factor (I) has three levels: I0 indicates a one-day watering interval, I1 indicates a two-day watering interval, and I2 indicates a three-day watering interval. The variables observed included growth rate, dry weight, number of leaves, root length, and plant height. Based on the research findings, there was no interaction between the combination of watering intervals and planting media treatments. However, at the age of 60 HST, 90 HST, and 120 HST there was a significant difference in the variable of plant height between the treatment intervals of watering once every two days (I1), watering once a day (I0), and watering treatment once every three days (I2). At the age of 60 HST there was also a difference in the variable of root length between the planting media treatments. There was a significant difference between the treatment of watering once a day (I0) and the treatment of watering once every two days (I1) in the variable of dry weight at 120 HST. The results of the slope analysis of the line on the logistic pattern growth curve in all treatments showed no significant difference and interaction between the combinations of treatments tested on the variables of plant height and root length. Berbagai campuran media tanam dan pemberian air dengan interval tertentu diuji untuk mendukung proses pembibitan kopi robusta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana laju pertumbuhan bibit kopi Robusta dipengaruhi oleh berbagai komposisi media tanam dan interval penyiraman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga blok ulangan dan pola faktorial 3x3 sebagai rancangan percobaan. Dua faktor yang diteliti adalah interval penyiraman (I) dan media tanaman (M). Faktor media tanam (M) terdiri dari tiga taraf: M0 adalah media top soil, M1 adalah top soil dan media TKKS 2:1, dan M2 adalah top soil dan media pupuk kandang 2:1. Selain itu, Faktor interval penyiraman (I) yang diuji mencakup tiga taraf: I0 menunjukkan interval penyiraman satu hari, I1 menunjukkan interval penyiraman dua hari, dan I2 menunjukkan interval penyiraman tiga hari. Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan, berat kering, jumlah daun, panjang akar, dan tinggi tanaman. Berdasarkan temuan penelitian, tidak terdapat interaksi antara kombinasi interval penyiraman dan perlakuan media tanam. Namun pada umur 60 HST, 90 HST, dan 120 HST terdapat perbedaan nyata variabel tinggi tanaman antara interval perlakuan penyiraman dua hari sekali (I1), penyiraman sehari sekali (I0), dan perlakuan penyiraman tiga hari sekali (I2). Pada umur 60 HST juga terdapat perbedaan variabel panjang akar antar perlakuan media tanam. Terdapat perbedaan nyata antara perlakuan penyiraman satu kali sehari (I0) dengan perlakuan penyiraman dua hari sekali (I1) pada variabel berat kering 120 HST. Hasil analisis kemiringan garis pada kurva pertumbuhan pola logistik di semua perlakuan menunjukkan tidak ada perbedaan nyata dan interaksi antar kombinasi perlakuan yang diujicobakan pada variabel tinggi tanaman dan panjang akar.
Keanekaragaman Serangga di Kebun Masyarakat Kampung Kwau Pegunungan Arfak, Papua Barat Palayukan, Magdalena Rara; Panjaitan, Rawati; de Fretes, Yance
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 5 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/agrisintech.v5i2.754

Abstract

Insect pests are organisms that can cause damage to plants, resulting in the loss or decrease of community harvest production. Kwau Village is one of the villages in the Arfak Mountains whose people work as traditional farmers. Information about insects, especially pests found in community gardens is still very lacking, so this study needs to be conducted. The purpose of this study was to analyze the diversity of insect species in traditional Arfak community gardens. Observations of insects on plants in four community gardens in Kwau Village were selected by cluster random sampling. The study was conducted from 08.00-15.00 WIT. Based on the research conducted, 65 species were found consisting of 32 insect families (331 individuals). The most common type found was Cymbiodyta sp. (Hydrophilidae). The garden with the highest level of insect diversity was Garden 3 (K3) which is a polyculture type garden with an H' index of 3.10. Of all the plants observed, chili  was the plant most serious damaged by insects. Serangga hama merupakan suatu organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga menyebabkan hilang atau menurunnya produksi hasil panen masyarakat. Kampung Kwau merupakan salah satu kampung yang diterdapat di Pegunungan Arfak yang masyarakatnya berprofesi sebagai petani tradisional. Informasi tentang serangga khususnya hama yang terdapat di kebun masyarakat masih sangat kurang, sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman spesies serangga yang ada pada kebun tradisional masyarakat Arfak. Pengamatan serangga pada tanaman di empat kebun masyarakat di Kampung Kwau yang dipilih secara cluster random sampling. Penelitian dilakukan dari Pukul 08.00-15.00 WIT. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan 65 spesies yang terdiri dari 32 famili serangga (331 individu). Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Cymbiodyta sp. (Hydrophilidae). Kebun yang memiliki tingkat keanekaragaman serangga paling tinggi pada dalah Kebun 3 (K3) yang merupakan kebun tipe polikultur dengan indeks H’ sebesar 3,10. Dari semua tanaman yang diamati,  cabai  adalah tanaman paling banyak mengalami kerusakan berat akibat serangga.