cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Makna Iman menurut St. Maximus the Confessor Di dalam Philokalia: Pengetahuan Ilahi Yang Melahirkan Kebajikan Gulo, Syutriska Kardia
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.190

Abstract

Talking about faith has become a common thing in the life of a believer. So, it can be identified that the life of a believer is a life that runs by faith. In this article analyze an understanding of St. Maximus on faith. So many people have an understanding of faith that faith is often misunderstood and some people think that it is enough to have faith alone and they will be saved. Therefore, in this case St. his perspective on faith is spiritual and profound. He considered that faith must be based on full belief in God which is actualized based on actions, not on things that are not based on God's will. This study aims to explain the understanding of faith that brings the knowledge of God based on St. Maximus. The research method used in writing this article is a literature review that focuses on the views of St. Maximus and is supported by other literature. The results of this study indicate that faith brings divine knowledge which gives birth to virtue.AbstrakBerbicara tentang iman sudah menjadi hal yang lazim bagi kehidupan orang percaya. Sehingga dapat di identifikasikan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang berjalan dengan iman. Dalam artikel ini menganalisa sebuah pemahaman St. Maximus tentang iman. Begitu banyak orang yang memiliki pemahaman tentang iman sehingga kerap kali iman disalah artikan dan beberapa orang berpandangan bahwa cukup dengan beriman saja maka akan diselamatkan. Oleh karena itu dalam hal ini St. perspektifnya tentang iman adalah hal yang spiritual dan begitu dalam. Ia menilai bahwa iman harus berdasarkan keyakinan penuh kepada Allah yang diaktualisasikan berdasarkan perbuatan-perbuatan bukan terletak pada hal-hal yang tidak berdasarkan kehendak Allah. Dengan demikian Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemahaman iman yang mendatangkan pengenalan akan Allah berdasarkan St. Maximus. Metode penelitian yang digunakan dalam menulis artikel ini adalah kajian literatur yang berfokus pada pandangan St Maximus dan di didukung oleh literatur-literatur lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iman mendatangkan pengetahuan ilahi yang melahirkan kebajikan.
Hubungan Antara Anugerah dan Iman Serta Perbuatan dalam Keselamatan Berdasarkan Kajian Hermeneutik Efesus 2:8-10 Sagala, Kordin; Rusmanto, Ayub
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.236

Abstract

This research elaborates on the relationship between grace and faith and works in salvation based on a hermeneutic study of Ephesians 2:8-10. This research will focus more on how the concept of salvation remains relevant throughout the ages despite the many teachings of salvation that contradict the Word of God. The research method is based on a qualitative method built on a literature study approach and a biblical hermeneutic approach. This research uses inductive-descriptive biblical hermeneutic studies related to the subject matter as the basis of hermeneutic studies concerning the relationship between grace and faith and works in salvation. Based on the hermeneutic study of Ephesians 2:8-10, the author finds that every Christian needs to be reminded and taught about the grace of salvation so that they continue to grow in their spirituality by producing good fruit for the glory of God. Salvation by God's grace is the most fundamental teaching of the Christian faith and never changes throughout the ages. Grace and faith and works in salvation are inseparable parts of God's complete and holy design for sinful man who has saved him.AbstrakPenelitian ini mengurai seputar hubungan antara anugerah dan iman serta perbuatan dalam keselamatan berdasarkan kajian hermeneutik Efesus 2:8-10. Penelitian ini akan lebih memfokuskan pada bagaimana konsep keselamatan tetap relevan di sepanjang zaman di samping banyaknya ajaran keselamatan yang bertolak belakang dengan Firman Allah. Metode penelitian ini didasarkan pada metode kualitatif yang dibangun dengan ancangan studi literatur (literature study) dan ancangan hermeneutik Alkitab. Penelitian ini menggunakan kajian hermeneutik biblikal secara induktif-deskriptif yang berkaitan dengan pokok bahasan sebagai dasar kajian hermeneutik yang menyangkut hubungan antara anugerah dan iman serta perbuatan dalam keselamatan. Berdasarkan kajian hermeneutik dari Efesus 2:8-10, penulis menemukan bahwa setiap orang Kristen perlu diingatkan dan diajarkan tentang anugerah keselamatan sehingga terus bertumbuh dalam kerohaniannya dengan menghasilkan buah-buah yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Keselamatan yang bersumber dari anugerah Allah adalah pengajaran yang paling mendasar bagi iman Kristen dan tidak pernah berubah sepanjang masa. Anugerah dan iman serta perbuatan dalam keselamatan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan sebagai rancangan yang utuh dan kudus dari Tuhan bagi manusia berdosa yang telah menyelamatkannya.
Kasih Allah Sebagai Pemaknaan Dalam Injil Adalah Kekuatan Allah: Kajian Teologis Roma 1:16-17 Rusmiyanto, Andreas Danang
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.237

Abstract

Faith in Jesus Christ as the savior who brings salvation is often understood to be something that is common in the eyes of today's believers. This is reflected in several statements made at a meeting in the Christian community. Not being able to interpret the meaning of the Bible is the power of God that saves making a Christian faith often weak in the strength of the principles of truth in salvation. The gospel is power is a meaning of God's love that is so deep in human life in general and believers in particular. To describe this, the author uses a qualitative method with a critical description of a phrase which states that the Bible is the power of God as the meaning of His love. By using literature studies from various sources and exegesis from Romans 1:16 it is believed to be able to provide a correct understanding in interpreting a phrase that has a deep meaning for faith in the savior in today's life.AbstrakIman kepada Yesus Kristus sebagai sang juru selamat yang mendatangkan keselamatan sering kali dipahami menjadi sesuatu yang biasa menurut pemandangan orang percaya masa kini. Hal itu tercermin dari beberapa pernyataan-pernyataan yang disampaikan dalam suatu pertemuan di komunitas Kristen. Kurang dapat memaknai arti dari Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan menjadikan suatu iamn Kristen menjadi seringkali tidak kuat dalam kekuatan prinsip kebenaran dalam keselamatan tersebut. Injil adalah kekuatan adalah suatu makna kasih Allah yang begitu dalam dalam kehidupan manusia pada umumnya dan orang percaya pada khususnya. untuk mendeskripsikan tentang hal itu penulis menggunakan metode kualitatif dengan deskriptif kritis akan suatu frasa yang menyebutkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah sebagai makna kasih-Nya. Dengan menggunakan kajian literatur dari berbagai sumber dan eksegesis dari surat Roma 1:16 diyakini dapat memberikan suatu pengertian yang benar dalam memaknai sebuah frasa yang mempunyai arti yang dalam bagi iman kepada sang juru selamat di kehidupan masa kini.
Kasus Dina dan Sikhem Ditinjau dari Perspektif Teologi dan Hukum Positif Christiaan, John Abraham
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.243

Abstract

The Bible honestly recounts various intriguing events with the aim of imparting faith lessons to Christians so that they may draw closer to God, avoid various events that give rise to the consequences of sin and the law. The story of the Rape of Sikhem is one example of the Bible's honesty. Circumcision, as a covenant between God and His chosen people, was used as a condition for the evil pact that Simeon and Levi made to kill Sikhhem, Hamor, and all the adult men of the land of Sikhem, then plunder their wealth and take captive the women and children of the land of Sikhem. This study aims to provide an overview of theological and legal perspectives on the case of Dina and Sikhem, in order to understand the intentions and purposes of the Word of God in this case, and from a legal perspective, the rules and criminal threats regarding the cases that occur in the story of Dina and Sikhem. The researcher used a qualitative method and concluded that cases of rape against minors cause various traumas in the lives of sexual violence victims, as well as premeditated murder and theft preceded by violence against Sikhem, Hamor, and the entire land of Sikhem.AbstrakAlkitab secara jujur mengisahkan berbagai kejadian menarik yang bertujuan untuk memberikan pelajaran iman kepada umat Kristen agar semakin dekat  dengan Tuhan, menghindari berbagai peristiwa yang menimbulkan dosa hukuman. Kisah pemerkosaan Sikhem terhadap Dina adalah salah satu bukti  kejujuran Alkitab. Sunat sebagai suatu kovenan antara Allah dengan umat pilihan-Nya dijadikan sebagai syarat untuk permufakatan jahat Simeon dan Lewi yang membunuh Sikhem dan Hemor serta seluruh laki-laki dewasa negeri Sikhem. Tindakan menjarah harta dan menawan perempuan dan anak-anak negeri Sikhem. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang perspektif teologi dan hukum mengenai  kasus Dina dan Sikhem, agar dapat diketahui maksud dan tujuan Firman Tuhan dalam kasus ini. Dari perspektif hukum ada  aturan-aturan serta ancaman pidana terhadap kasus-kasus yang terjadi dalam kisah Dina dan Sikhem. Peneliti menggunakan  metode kualitatif dan menyimpulkan  bahwa kasus pemerkosaan terhadap anak  di bawah umur menimbulkan berbagai trauma dalam kehidupan korban kekerasan seksual, serta adanya pembunuhan berencana dan pencurian yang didahului kekerasan terhadap Sikhem, Hemor dan seluruh negeri Sikhem.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Karakter Siswa Sd Inpres Oelnunu Luji, Daud Saleh; Kasse, Simon; Leobisa, Jonatan; Anone, Yulantika
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.227

Abstract

Character education has a higher meaning than moral education because character education is not just about right or wrong but how to do it in daily life. PAK teachers have a big role in this matter. However, at SD Inpres Oelnunu there are still some children who do not have good character as expected, that is why research was conducted using qualitative methods to find out the role of teachers in shaping the character of students at SD Inpres Oelnunu. The results of the research show that the role of PAK teachers in building student character has been carried out from five aspects of assessment, namely religious character, nationalist character, integrity value, independent character, integrity character and mutual cooperation character. Indeed, there are still a small number of children who do not fully possess this character. However, according to the PAK teacher, he continues to play his role so that in the end he gets better results, namely students have good character from every aspect. AbstrakPendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter bukan hanya tentang benar atau salah tetapi bagaimana melakukannya dalam hidup kesehariannya. Guru PAK memiliki peran yang besar dalam hal tersebut. Namun Pada SD Inpres Oelnunu masih ada beberapa anak yang belum berkarakter baik seperti yang diharapakan, itulah sebabnya penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui bagaimana peran guru dalam membentuk karakter siswa pada SD Inpres Oelnunu. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran guru PAK dalam membangun karakter siswa sudah dilakukan dari lima aspek penilaian yaitu karakter religius, karakter nasionalis nilai integritas karakter mandiri, karakter integritas dan karakter gotong royong. Memang masih ada sebagian kecil anak yang belum sepenuhnya memimiliki karakter tersebut. Namun menurut guru PAK bahwa ia terus memainkan perannya sehingga pada akhirnya mendapatkan hasil yang lebih baik yaitu siswa memiliki karakter yang baik dari setiap aspek.
Memelihara Surga Bumi: Analisis Persepsi Gereja terhadap Ekoteologi melalui Sudut Pandang Kejadian 2:15 Siwy, Hendrico Xanana; Hutagalung, Stimson
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.271

Abstract

This research explores the church's perspectives on ecotheology through an examination of Genesis 2:15, which mandates humans to "keep and cultivate" the garden of Eden. This serves as a crucial foundation for understanding the church's role in advocating environmental sustainability. The study aims to comprehend how the church can shift its traditional paradigm to embrace a broader ecotheological context. Practical challenges, including integrating ecotheological teachings into the church's daily life and allocating resources for environmental programs, are also explored. The finding Christianity emphasises moral duty to nature and wants the church to lead environmental conservation through paradigm shifts and cross-religious collaboration. The church encourages its members to incorporate environmental awareness into their spirituality and protect nature.AbstrakPenelitian ini menyelidiki pandangan gereja terhadap ekoteologi dengan menggali sudut pandang Kejadian 2:15 sebagai titik fokus teologis. Kejadian 2:15 memberikan mandat khusus bagi manusia untuk "menjaga dan memelihara" taman Eden, menjadi landasan esensial untuk memahami peran gereja dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Melalui analisis mendalam, studi ini mencoba memahami bagaimana gereja dapat mengubah paradigma tradisionalnya ke dalam konteks ekoteologis yang lebih luas. Tantangan praktis, termasuk integrasi ajaran ekoteologi dalam kehidupan gereja sehari-hari dan alokasi sumber daya untuk mendukung program-program lingkungan, juga menjadi fokus eksplorasi. Hasilnya Kekristenan menekankan kewajiban moral terhadap alam dan ingin gereja memimpin pelestarian lingkungan melalui perubahan paradigma dan kolaborasi lintas agama. Gereja mendorong anggotanya untuk memasukkan kesadaran lingkungan ke dalam spiritualitas mereka dan melindungi alam.
Pengembangan Kompetensi Sosial Guru Dalam Pelaksanaan Pembalajaran Jutela, Jutela; Triposa, Reni; Arifianto, Yonatan alex
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.267

Abstract

Developing teacher competency is the ability that teachers have in carrying out learning and delivering material to students so that students can understand all existing learning, become professional teachers who have the ability to teach, have lots of ideas and are creative when in class, using a way of delivering material. It is good for a teacher to develop competence to become a professional teacher in his field. The author used a descriptive qualitative method with a literature study approach in this study. The description in this study concludes the development of teachers' social competence in the process of implementing learning. This is done to develop teachers' social competence in the learning process so that they can be more effective in delivering material to students.AbstrakPengembangan kompetensi guru merupakan kemampuan yang dimiliki guru dalam melaksanakan pembelajaran dan penyampaian materi kepada siswa sehingga siswa dapat memahami setiap pembelajaran yang ada, menjadi guru yang profesional mempunyai kemampuan dalam mengajar, memiliki banyak ide-ide dan kreatif ketika didalam kelas, dengan cara penyampaian yang materi yang baik perlunya seorang guru dalam mengembangkan kompetensi untuk menjadi guru yang profesional dalam bidangnya. Penulis menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dalam kajian ini. uraian dalam kajian ini menyimpulkan pengembangan kompetensi sosial guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan kompetensi sosial guru terhadapat proses pelaksanaan pembelajaran agar dapat lebih efektif dalam menyampaikan materi kepada siswa.
Refleksi Atas Mazmur 139:13-16 Dan Mitos Pulung Gantung Di Gunungkidul Sariyanto, Sariyanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.293

Abstract

This study discusses the phenomenon of hanging themselves in Gunungkidul, which has been going on for years and is very worrying. Similarly, cases of hanging are still common today and the numbers have remained high in the last five years. By exegesis Psalm 139:13-16, this study seeks to provide a correct understanding of human dignity and dignity. That the Bible teaches man to value life and honor God the Creator of man. The methods in this research are descriptive qualitative methods, research through exegesis, and literature studies to obtain expressions of uniqueness and wonder in the process of human creation by God. The results of the study show that psychological pressure, economic difficulties, and interpersonal conflicts are some of the common causes of hanging in Gunungkidul which has been legitimized by the myth of "pulung gantung." From a biblical perspective, suicide is seen as an act that is against God's will, and does not reward God's wonderful work. In conclusion, everyone, especially Christians, needs to deepen Christian faith and spirituality, and appreciate God as Creator. The myth of pulung gantung can be prevented through true understanding basedAbstrakPenelitian ini membahas mengenai fenomena gantung diri di Gunungkidul, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan sangat mengkhawatirkan. Demikian pula kasus gantung diri masih sering terjadi sampai sekarang ini dan angkanya tetap tinggi dalam lima tahun terakhir. Dengan melakukan eksegese Mazmur 139:13-16, penelitian ini berusaha memberikan pemahaman yang benar dalam tentang harkat dan martabat manusia. Bahwa Alkitab mengajarkan manusia untuk menghargai kehidupan dan menghormati Allah Sang Pencipta manusia. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, peneliti melakukan eksegese, dan studi pustaka untuk dapat mengungkapan keunikan dan keajaiban dalam proses penciptaan manusia oleh Allah. Hasil studi menunjukkan bahwa tekanan psikologis, kesulitan ekonomi, dan konflik interpersonal adalah beberapa penyebab umum gantung diri di Gunungkidul yang telah dilegitimasi dengan adanya mitos “pulung gantung.” Dari perspektif Alkitab, bunuh diri dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan tidak menghargai karya Allah yang mengagumkan. Kesimpulannya setiap orang terlebih orang Kristen perlu memperdalam iman dan spiritualitas Kristen, dan menghargai Allah sebagai Pencipta. Mitos pulung gantung dapat dicegah melalui pembaham yang benar berdasarkan iman Kristen, dan memberikan dukungan kasih, harapan bagi mereka yang berputus asa.
Pendidikan Kristen Berbasis Alkitabiah: Membangun Fondasi Iman dan spiritualitas Terhadap Generasi Era Digital Ondang, Anastasia Gabrielle; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.281

Abstract

Christian education today faces many new challenges in developing a solid foundation of faith and spirituality in the generation in the digital age. This research article explores an approach that is based on Biblical values in shaping faith and spirituality in the context of modern technology. context of modern technology. Through descriptive qualitative methods and theological analysis in the literature review, the researcher highlights the importance of the importance of integrating Biblical principles in Christian education in order to reach and shape a digitally connected generation. And the conclusion in this study provides an understanding of the importance of the challenges and opportunities of the Digital Age in Christian Education. The Digital Age in Christian Education can be used as an opportunity to apply Biblical Principles in the Digital Context. Biblical Principles in the Digital Context, so that the church can actualize the Role of Church and Family in Christian Education. actualize the Role of the Church and Family in Digital Education that strengthen the foundation of faith and spirituality amidst the flow of information and moral challenges posed by the digital era. moral challenges posed by the digital age. Thus, this article thus provides a holistic and relevant view for Christian education practitioners in facing the dynamics of the evolving times. in facing the dynamics of an ever-evolving age.AbstrakPendidikan Kristen saat ini menghadapi banyak tantangan baru dalam mengembangkan fondasi iman dan spiritualitas yang kokoh pada generasi di era digital. Artikel penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pendekatan yang berbasis nilai-nilai Alkitabiah dalam membentuk iman dan spiritualitas dalam konteks teknologi modern. Melalui metode kualitatif deskritif dan analisis teologis dalam kajian kepustakaan, peneliti menyoroti pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip Alkitabiah dalam pendidikan Kristen untuk menjangkau dan membentuk generasi yang terhubung secara digital. Dan kesimpulan dalam penelitian ini memberikan pemahaman akan pentingnya tantangan dan peluang Era Digital dalam Pendidikan Kristen yang dapat dijadikan kesempatan untuk menerapkan Prinsip-prinsip Alkitabiah dalam Konteks Digital, sehingga gereja dapat mengaktualisasi Peran Gereja dan Keluarga dalam Pendidikan Digital yang memperkuat fondasi iman dan spiritualitas di tengah arus informasi dan tantangan moral yang ditimbulkan oleh era digital. Dengan demikian, artikel ini memberikan pandangan yang holistik dan relevan bagi praktisi pendidikan Kristen dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang.
Keluar dari Stagnasi: Kajian Pelayanan dan Implikasinya Berdasarkan Kajian Alkitab dalam Matius 28:19 Djajadi, Soewieto; Suryaningsih, Eko Wahyu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.266

Abstract

Becoming a Christian means being ready to become a servant of God and participate in completing the Great Commission of Jesus written in the Book of Matthew 28:19. There are many services that a person can take if they want to serve in the church, they can become a pastor who is in charge of giving sermons, become a deacon or elder who is in charge of taking care of the needs of the congregation, become an intercessor, become a Worship Leader or song guide, can also serve in Sunday school and other fields. However, the question that arises is if someone becomes a servant but does not grow in their service, then there is definitely something wrong so that their service seems stagnant or just like that. A person must grow and be fruitful in his ministry so that he can be a blessing to many people. A servant must get out of the stagnation of his service if the place where he serves no longer supports him. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that. Being a servant who is only lukewarm, neither hot nor cold (Revelation 3:16) will not be used by God as His instrument. Servants who do not grow are of course caused by many things, such as having leaders who are not supportive, having the wrong motivation, serving in the wrong place and so on. A church minister must know when it is time to leave a ministry if it feels it is not growing and bearing fruit. AbstrakMenjadi orang Kristen berarti siap untuk menjadi seorang pelayan dari Tuhan dan berpatisipasi di dalam ikut menuntaskan Amanat Agung Yesus yang ditulis di dalam Kitab Matius 28:19. Banyak pelayanan yang dapat diambil oleh seseorang jika ingin melayani di gereja, dapat menjadi seorang pendeta yang bertugas memberikan khotbah, menjadi seorang diaken atau penatua yang bertugas untuk mengurusi keperluan jemaat, menjadi seorang pendoa syafaat, menjadi Worship Leader atau pemandu lagu, dapat juga melayani di sekolah minggu dan bidang lainnya. Tetapi, yang akan menjadi pertanyaan adalah bila seseorang menjadi pelayan tetapi tidak bertumbuh di dalam pelayanannya, maka dipastikan ada hal yang salah sehingga pelayanannya berkesan stagnan atau begitu – begitu saja. Seorang harus bertumbuh dan berbuah di dalam pelayanannya sehingga dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Seorang pelayan harus keluar dari stagnasi pelayanannya jika tempat dimana melayani, sudah tidak mendukungnya. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa. Menjadi pelayan yang suam- suam kuku saja, tidak panas dan tidak dingin (Wahyu 3:16) maka tidak akan dipakai oleh Tuhan menjadi alat- Nya. Pelayan yang tidak bertumbuh tentunya disebabkan oleh banyak hal seperti mempunyai pemimpin yang tidak mendukung, memiliki motivasi yang salah, melayani di tempat yang salah dan lain sebagainya. Seorang pelayan gereja harus mengetahui kapan saatnya harus meninggalkan sebuah pelayanan jika merasa tidak bertumbuh dan berbuah.

Page 10 of 16 | Total Record : 160