cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Dampak Berkembangnya Teologi Kontemporer Terhadap Pertumbuhan Iman Di Jemaat Gkii Antiokhia Laja Kusmanto, Fransius; Melton, Melton
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.313

Abstract

The Purpose of this study was to determine the impact of the development of contemporary theology on the growth of the faith of the congregation at GKII Antiokhia Laja. The GKII Antiokhia Laja congregation is one of the branches of the GKII Church in Melawi, West Kalimantan. The emergence of many theologies has led to many perceptions and paradigms in the congregation about which theology is correct. Therefore, the title of this research is The Impact of the Development Contemporary Theology on Faith Growth in the GKII Antiokhia Laja Congregation. The author in this study uses a qualitative positivist design and an approach with a non-experimental design. The references used are books, journals and articles on the internet. The result of this study is that there is a very significant impact on the development of Contemporary theology on the growth of the faith of the congregation at GKII Antiokhia Laja. The impact is divided into two, namely negative impact and positive impact. The positive impact of the development of Contemporary theology on the growth of congregational to theologize and help explain theological issues that occur in the congregation. The negatif impacts are causing misunderstandings in the congregation, hindering the growth of the congregation’s faith and changing the congregation’s view of the authority of the Bible.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak berkembangnya Teologi kontemporer bagi pertumbuhan iman Jemaat di GKII Antiokia Laja. Jemaat GKII  Antiokhia Laja adalah salah satu cabang gereja GKII  yang ada di Melawi Kalimantan Barat. Munculnya banyak Teologi menimbulkan banyak persepsi dan paradigma di dalam jemaat tentang mana Teologi yang benar. Sebab itu judul dalam penelitian ini yaitu Dampak Berkembangnya Teologi Kontemporer Terhadap Pertumbuhan Iman Di Jemaat GKII Antiokhia Laja. Penulis dalam penelitian ini menggunakan “rancangan dan ancangan positivis kualitatif dengan rancangan bukan eksperimental. Referensi-referensi yang digunakan yaitu buku, jurnal maupun artikel yang ada di dalam internet. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa terdapat dampak yang sangat signifikan tentang berkembangnya teologi kontemporer terhadap pertumbuhan iman jemaat di GKII  Antiokhia Laja. Dampaknya terbagi menjadi dua yaitu dampak negatif dan dampak positif. Dampak positif berkembangnya teologi kontemporer terhadap pertumbuhan iman jemaat yaitu Memperluas wawasan teologi jemaat, Memberi ruang untuk jemaat berteologi dan Membantu menjelaskan isu-isu teologi yang terjadi dalam jemaat. Adapun dampak negatifnya yaitu menimbulkan kesalahpahaman dalam jemaat, memperhambat pertumbuhan iman jemaat dan mengubah pandangan jemaat terhadap otoritas Alkitab.
Strategi Guru Meningkatkan Kemampuan Literasi Melalui Bahasa Ibu Terhadap Peserta didik Elopere, Marius; Giban, Yoel
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.284

Abstract

This research aims to explore and analyze the strategies employed by teachers in enhancing students' literacy skills through the use of their mother tongue at SD Inpres Wonome. The research methodology utilized a qualitative approach with data collection techniques such as participatory observation and in-depth interviews with teachers, along with curriculum-related document analysis. The findings indicate that teachers utilize various strategies including implementing culturally contextualized learning approaches, incorporating stories and songs in the mother tongue, and integrating project-based learning into students' daily lives. These findings suggest that the use of the mother tongue as a medium of instruction can effectively enhance students' literacy skills while reinforcing their local cultural identity. The implications of this research underscore the importance of supporting teachers in implementing mother tongue-centered teaching strategies to enhance the quality of education and literacy in rural schools.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis strategi yang digunakan oleh guru dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik melalui penggunaan bahasa ibu di SD Inpres Wonome. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap guru serta analisis dokumen terkait kurikulum dan materi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan berbagai strategi seperti penerapan pendekatan pembelajaran berbasis konteks budaya lokal, penggunaan cerita dan lagu dalam bahasa ibu, serta pembelajaran berbasis proyek yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu sebagai media pembelajaran dapat menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa, sambil memperkuat identitas budaya lokal mereka. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya mendukung guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang berpusat pada bahasa ibu untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi di sekolah-sekolah pedesaan.
Hubungan Doktrin Bait Suci dan Pekabaran Tiga Malaikat Dalam Perspektif Gereja Advent Siahaan, Efri Yadi; Pane, Exson Eduaman
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.279

Abstract

This research aims to describe and analyze the doctrine of the Sanctuary and the three angels' messages in Revelation 14:6-12 and the relationship between the two in the view of the Seventh Day Adventist church, using documentary research method based on published primary sources focused on the background as well as its historical context and perspective. The study concludes that the doctrine of the sanctuary and the three angels' messages have a close relationship from the perspective of the Seventh Day Adventist church, where God offers salvation through both the sanctuary doctrine and the three angels' messages to all sinners. Sanctuary doctrine calls all sinners to seek salvation in God and makes God the center of true worship. The three angels' messages also invite everyone to worship the true God and make God the center of everything. God's character is reflected both in the doctrine of the sanctuary and the messages of the three angels. The doctrine of the sanctuary and the three angels' messages constitute a contemporary eschatology that is interconnected with one another. The essence of the sanctuary doctrine and the three angels' messages is Jesus Christ who died sacrificing himself on the cross to redeem the sinners. This research is limited to the investigation of the meaning of the Sanctuary and the three angels' messages from the perspective of the SDA church. This research is expected to make a positive contribution to the broader theological discussion, as a source of information for any reader and enrich the understanding of those who may wish to better understand the teachings of the Adventist Church.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis doktrin bait suci dan pekabaran tiga malaikat dalam Wahyu 14:6-12 serta hubungan antara keduanya dalam pandangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dengan menggunakan metode penelitian dokumenter berdasarkan sumber-sumber primer yang telah dipublikasikan yang berfokus pada latar belakang serta konteks historis dan perspektifnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa doktrin bait suci dan pekabaran tiga malaikat memiliki hubungan yang erat dalam pandangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, di mana Tuhan menawarkan keselamatan melalui doktrin bait suci dan pekabaran tiga malaikat kepada semua orang berdosa. Doktrin bait suci  memanggil semua orang berdosa untuk mencari keselamatan di dalam Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat penyembahan yang benar. Pesan ketiga malaikat juga mengundang semua orang untuk menyembah Tuhan yang benar dan menjadikan Tuhan sebagai pusat dari segala sesuatu. Karakter Tuhan tercermin baik dalam doktrin bait suci maupun pekabaran tiga malaikat. Doktrin bait suci dan pekabaran tiga malaikat merupakan eskatologi saat ini yang saling berhubungan satu sama lain. Inti dari doktrin bait suci dan pekabaran tiga malaikat adalah Yesus Kristus yang telah mati mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus orang-orang berdosa. Penelitian ini dibatasi pada penelusuran makna bait suci dan pekabaran tiga malaikat dari sudut pandang gereja advent. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap diskusi teologis secara lebih luas, sebagai sumber informasi bagi setiap pembaca dan memperkaya pemahaman yang mungkin ingin memahami lebih baik ajaran-ajaran Gereja Advent.
Peranan Gereja Mempersiapkan Generasi Z Menurut Daniel 1:4 Menghadapi Persiapan Bonus Demografi di Indonesia Samosir, Verawati Dosmaria; Toh, Alfred Melkianus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.260

Abstract

Indonesia is entering the demographic bonus era, where the number of productive-age individuals is expected to exceed the non-productive age group. This demographic peak is predicted to occur between 2035-2040. In the demographic bonus era, the productive age group is dominated by Generation Z. Therefore, to harness the advantages of the demographic bonus, it is crucial to prepare Generation Z adequately. In this article, the author analyzes the role of the Church as a government partner in preparing Generation Z, in accordance with Daniel 1:4. The methodology employed in this article is a literature review. The research findings highlight three key roles of the church in preparing Generation Z for the demographic bonus in Indonesia: ensuring the health of Generation Z, including freedom from stunting and HIV/AIDS; supporting the education of Generation Z, with an emphasis on literacy and preventing school dropout; and developing the work skills of Generation Z, aiming for a competent and productive workforce. The objective of this research is to explore how the Church, as part of the state, contributes to preparing its congregation, particularly Generation Z, to face the demographic bonus in Indonesia. The conclusion drawn is that, by focusing on the health, education, and employability of Generation Z, the Church, as a government partner, plays a significant role in preparing this generation for the demographic bonus era in Indonesia. A well-prepared Generation Z will contribute to a demographic bonus that benefits both the Church and the country.AbstrakIndonesia akan memasuki era bonus demografi, dimana jumlah usia prosuktif lebih banyak dibanding dengan jumlah usia tidak produktif, diprediksi akan mengalami puncaknya pada tahun 2035-2040. Di era bonus demografi usia produktif didominasi oleh generasi Z, maka untuk mencapai bonus demografi yang menguntungkan  perlu mempersiapkan generasi Z dengan baik. Pada artikel ini penulis menganalisis peranan Gereja sebagai mitra pemerintah dalam mempersiapkan generasi Z sesuai dengan Daniel 1:4. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini adalah dengan studi pustaka (literature Review). Dari hasil penelitian penulis menemukan  bahwa ada 3 hal yang menjadi peranan gereja dalam mempersiapkan generasi Z menghadapi bonus demografi di Indonesia yaitu mempersiapkan kesehatan generasi Z yang harus bebas dari stunting dan HIV/AIDS, pendidikan generasi Z yang didukung dengan generasi Z yang bebas buta aksara dan tidak putus sekolah dan kemampuan generasi Z dalam bekerja, generasi Z diharapkan menjadi tenaga kerja yang cakap bekerja dan produktif. Tujuan dari penelitian ini bagaimana gereja sebagai bagian dari Negara berperan mempersiapkan warga gereja khususnya generasi Z dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia. Kesimpulan yang didapat adalah dengan memperhatikan kesehatan, pendidikan dan kecakapan dalam bekerja bagi generasi Z, Gereja sebagai mitra dari pemerintah telah ikut berperan dalam mempersiapkan generasi Z memasuki era bonus demografi di Indonesia. Generasi Z yang benar-benar dipersiapkan akan menjadikan bonus demografi yang mendatangkan keuntungan bagi Gereja dan Negara.
Ketika Martabat dan Kebebasan Perempuan dirampas: Merefleksikan Puisi Kidung Agung 8:8-10 Melalui Perspektif Feminis Kawatu, Lily Ivone; Fernando, Andreas; Pasaribu, Andri; Zebua, Arianto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.282

Abstract

This article aims to reflect on the dignity and freedom of women's rights found in the poem Kidung Agung 8:8-10. The dignity and freedom of women's rights are still something that is ambiguous in society, especially in Indonesia and countries that adhere to the patriarchal system. This article responds to the issue of gender-based freedom of women's rights by conducting theological reflection on Song of Songs 8:8-10 through a feminist perspective. Therefore, this article voices the author's experience and perspective on the issue of dignity and freedom of rights that are still limited and provides strengthening discourse on the elimination of deprivation of rights to women in any form. Through this study, it is revealed that gender inequality in the structure of a patriarchal society contributes to the inequality of freedom rights, in this case women as the object of harm. Therefore, advocacy is needed for women as victims of freedom rights from a system that positions women as powerless.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk merefleksikan martabat dan kebebasan hak perempuan yang terdapat dalam puisi Kidung Agung 8:8-10. Martabat serta kebebasan hak perempuan masih menjadi sesuatu yang rancu di kalangan masyarakat khususnya indonesia dan negara penganut sistem patriarkis. Artikel ini merespon isu kebebasan hak perempuan berbasis gender dengan melakukan refleksi teologis atas Kidung Agung 8:8-10 melalui perspektif feminis. Oleh sebab itu, Artikel ini menyuarakan pengalaman dan perspektif penulis terhadap isu martabat dan kebebasan hak yang masih terbatas dan memberikan penguatan diskursus penghapusan perampasan hak pada perempuan dalam bentuk apapun. Melalui kajian ini terungkap bahwa ketidaksamaan gender dalam struktur masyarakat patriarki menyubang terjadinya ketimpangan hak kebebasan dalam hal ini perempuan sebagai objek yang dirugikan. Oleh karena itu, diperlukan advokasi terhadap perempuan sebagai korban kebebasan hak dari sebuah sistem yang memposisikan perempuan sebagai yang tidak berdaya.
Etika Kepemimpinan Kristen dalam Tantangan Kontemporer: Upaya Membangun Dedikasi dan Integritas Kepemimpinan Gereja Arifianto,, Yonatan Alex; Mulyono, Hari; Nainggolan, Richardo
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.283

Abstract

Di dunia yang berubah dengan cepat dari berbagai bidang teknologi dan sosial, membuat para pemimpin gereja menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam melaksanakan tugas dan dedikasi serta integritas pelayanan mereka.  Pentingnya peran etika dalam kepemimpinan Kristen dalam menghadapi tantangan di zaman kontemporer dan upaya untuk meningkatkan komitmen dan integritas di antara para pemimpin gereja menjadi tujuan utama dalam penelitian ini. Melalui metode kualitatif deskritif dengen pendekatan studi literature dan tinjauan konseptual, artikel ini mengkaji konteks tantangan kontemporer yang dihadapi para pemimpin gereja, seperti globalisasi, perkembangan teknologi dan pluralisme agama, serta menyoroti pentingnya integritas dan etika dalam menjalankan peran kepemimpinan.  Maka itu kajian teoritis etis teologis kepemimpinan Kristen harus dipahami untuk melihat tantangan kontemporer kepemimpinan Kristen, sehingga hal itu menjadi bagaian dari pentingnya dedikasi dan integritas dalam kepemimpinan Kristen. Dan pada akhirnya adanya aktualisasi dan strategi kepemimpinan kristen era kontemporer sebagai strategi konkrit untuk membangun dan meningkatkan komitmen para pemimpin gereja, dengan fokus pada pendekatan pembentukan rohani, pengembangan kepemimpinan, dan pembangunan komunitas yang kuat. Terlebih menyoroti tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi para pemimpin gereja dalam menjaga integritas haruslah membuat kepemimpinan Kristen  tetap mengupayakan komitmen dan integritas dalam kepemimpinan gereja.
Kebaikan sebagai Bahasa Universal Dunia dan Surga: Analisis Konsep Domba dan Kambing dalam Matius 25:31-46 Hutagalung, Stimson
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.269

Abstract

This research explores the portrayal of sheep and goats in Matthew 25:31–46 to affirm the significance of virtue as a universal language that applies to both earthly and celestial realms. The objective of this study is to examine the notion of sheep and goats in Matthew 25:32–46, with a focus on highlighting the significance of virtue as a universally understood means of communication that can be practiced both in the earthly realm and in the afterlife.The primary emphasis lies in how these instructions demonstrate commendable concepts that can be utilized in both tangible and abstract situations. A hermeneutical technique was employed in a qualitative study to analyze how sheep and goats are portrayed in Matthew 25:31–46 as emblems of universal benevolence. These findings significantly enhance comprehension of Matthew 25:31-46 by examining the significance of symbolism, providing many theological viewpoints, and highlighting the significance of universal benevolence in serving others with love.AbstrakAnalisis ini mengkaji konsep domba dan kambing sebagaimana disajikan dalam Matius 25:32–46 untuk memastikan pentingnya kebaikan sebagai bahasa yang dapat diterapkan secara universal, baik di bumi maupun di alam sorga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengertian domba dan kambing dalam Matius 25:32–46, dengan fokus menyoroti pentingnya kebajikan sebagai sarana komunikasi yang dipahami secara universal dan dapat dipraktikkan baik di dunia maupun di dunia. akhirat. Fokus utamanya terletak pada bagaimana instruksi ini memberikan contoh prinsip-prinsip terpuji yang dapat diterapkan baik pada keadaan nyata maupun metafisik. Metode kajian kualitatif dengan pendekatan hermeneutis digunakan untuk mengkaji representasi domba dan kambing dalam Matius 25:32–39 sebagai lambang kebaikan universal. Temuan-temuan ini secara signifikan meningkatkan pemahaman terhadap Matius 25:32-46 dengan mengkaji pentingnya simbolisme, memberikan banyak sudut pandang teologis, dan menyoroti pentingnya kebaikan  universal dalam melayani orang lain dengan kasih. Kebaikan itu akan berpindah dari bumi ke surga ketika Yesus datang.
Menggabungkan nilai IQ, SQ, EQ, dan DQ dalam Pengajaran Kristen dengan Metode Story-telling Leiwakabessy, Tabita; Purwonugroho, Daniel Pesah
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.257

Abstract

Kekurangan dan kesulitan di sekolah-sekolah Kristen selalu terjadi karena serta kurang memadainya penerapan ajaran Kristen. Permasalahan sering muncul akibat dari kurangnya fungsi keluarga menjadi tempat refleksi untuk membentuk kepribadian yang bercirikan nilai-nilai Kristiani yang dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan nilai intelektual anak. Tujuan dari penulian ini untuk menggabungkan nilai IQ, SQ, EQ dan DQ dalam norma dan pengajaran Kristen melalui metode story-telling. Tulisan ini dirancang dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, Maka dapat disimpulkan bahwa metode story-telling dalam norma dan pengajaran Kristen dibutuhkan untuk mengembangkan nilai IQ, SQ, EQ dan DQ. Hubungan IQ, SQ, EQ dan DQ menjadi sangat penting dalam pengajaran Kristen.
Roh Antikristus Menurut 1 Yohanes 2:18-27 dan Keberadaannya dalam Masyarakat Post-Modernisme Kapoh, Meyta Rosalin; Harefa, Otieli
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.315

Abstract

Discussing the end times will not escape discussing the antichrist because he is the central figure as a sign that the end times have come into effect. The Apostle John in 1 John 2 has specifically warned that the Antichrist will come and the spirit of the antichrist is already at work. The signs of the antichrist spirit according to this passage include: denying Jesus as the Christ and denying the Father who sent Him; rejecting that Jesus Christ has come in the flesh; and all of this begins within the community of believers. The movements that characterise postmodernism have strong indications of being influenced by the spirit of the antichrist that makes man the centre of life and denies the existence and sovereignty of God. Using a descriptive qualitative research method, this paper aims to expose the antichrist, specifically the spirit of antichrist that works in postmodernist society. With the spirit of postmodernism, society deconstructs christianity, relativises the truth of the Bible and even pluralises the way of salvation. All this is the work of the spirit of antichrist. Believers must truly abide in the teaching of the Bible, which is the Word of God, and live under the guidance of the Holy Spirit to withstand the influence of the antichrist spirit.AbstrakMembahas akhir zaman tidak akan luput dari membahas antikristus karena merupakan tokoh sentral sebagai pertanda zaman akhir telah berlaku. Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2 telah secara spesifik mengingatkan bahwa Antikristus akan datang dan roh antikristus sudah bekerja. Tanda-tanda roh antrikristus menurut perikop ini antara lain; memungkiri Yesus sebagai Kristus dan memungkiri Bapa yang mengutusNya; menolak bahwa Yesus Kristus sudah datang sebagai manusia; dan semua ini diawali dari dalam komunitas orang percaya. Pergerakan-pergerakan yang menjadi ciri postmodernisme berindikasi kuat dipengaruhi oleh roh antikristus yang menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan dan memungkiri keberadaan dan kedaulatan Allah. Dengan metode penelitian deskriptif qualitatif, tulisan ini bertujuan memaparkan antikristus, secara khusus roh antikristus yang bekerja dalam masyarakat postmodernisme. Dengan semangat postmodernisme, masyarakat men-dekonstruksi kekristenan, me-relatifkan kebenaran Alkitab bahkan mem-pluralkan jalan keselamatan. Semua ini adalah pekerjaan roh antikristus. Orang percaya harus sunguh-sungguh tinggal dalam pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus untuk dapat bertahan dari pengaruh roh antikristus.
Persembahan Perpuluhan: Relevansi dan Maknanya dalam Era Modern Djajadi, Soewieto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.296

Abstract

One form of offering that is routinely held in a church is a tithe offering. Tithing offerings are held by the church with many purposes, one of which is the provision of funds for the work and activities carried out by a church. In a church, of course, there are many activities that must be carried out, in addition to routine worship on Sundays, the church also carries out other activities such as mid-week worship activities, mission activities, visitation activities to the congregation, diakonia offerings and others. The activities carried out by the church certainly require large funds to finance these needs, because not to mention the cost of paying the pastor's salary, the salary of the musician, the church building management and the salary of the full timer staff of the church. Seeing the many costs that must be incurred, if you expect from the offerings at Sunday worship alone, it is certainly not enough. That is why, many churches rely heavily on tithing offerings to cover their costs. But besides that, many churches also hold tithes but the funds are used for the needs of the pastor or pastor of the church.  So it is a natural thing, in a large church it can be easily seen the amount of prosperity obtained by the church leader, such as expensive cars, branded clothes and accessories, traveling abroad with his family and others. Using a descriptive qualitative research method, it can be concluded that emphasizing tithing must be based on biblical studies, although many parties also say that tithing offerings are inherited from the Old Testament, so they are no longer valid in the New Testament era. This study was written to examine whether this statement is true and also whether tithing is still relevant in this modern era.AbstrakSalah satu bentuk persembahan yang rutin diadakan di sebuah gereja adalah persembahan perpuluhan. Persembahan perpuluhan diadakan oleh gereja dengan banyak tujuan, salah satunya adalah penyediaan dana untuk pekerjaan- pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan oleh sebuah gereja. Di dalam sebuah gereja tentunya banyak kegiatan yang harus dilakukan, selain ibadah rutin pada hari minggu, gereja juga melakukan kegiatan –kegiatan lainnya seperti kegiatan ibadah tengah minggu, kegiatan misi, kegiatan kunjungan ke jemaat, persembahan diakonia dan lainnya. Kegiatan –kegiatan yang dilakukan oleh gereja tentunya menuntut adanya dana yang besar untuk membiayai keperluan tersebut, karena belum lagi ditambah dengan biaya untuk membayar gaji pendeta, gaji pemain musik, pengurus gedung gereja dan gaji staff full timer dari gereja tersebut. Melihat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, maka jika mengharapkan dari persembahan pada ibadah minggu saja tentulah tidak cukup. Itulah sebabnya, banyak gereja sangat tergantung dari persembahan perpuluhan untuk menutupi biaya- biaya yang mereka perlukan. Namun disamping itu, banyak gereja juga yang mengadakan perpuluhan tetapi dananya digunakan untuk keperluan gembala atau pendeta dari gereja tersebut. Jadi suatu hal yang wajar, di sebuah gereja besar dapat dengan mudah dilihat banyaknya kemakmuran yang didapat oleh pemimpin gereja tersebut, seperti mobil yang mahal, pakaian dan asesoris yang bermerk, berwisata keluar negeri dengan keluarganya dan lainnya. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa menekankan perpuluhan harus berdasarkan  kajian Alkitab, walaupun banyak pihak yang juga mengatakan bahwa persembahan perpuluhan adalah warisan dari Perjanjian Lama, sehingga tidak berlaku lagi pada era Perjanjian Baru. Penelitian ini ditulis untuk menelaah , apakah memang pernyataan tersebut benar adanya dan juga apakah persembahan perpuluhan masihkah relevan pada era modern ini.

Page 11 of 16 | Total Record : 160