cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Lingkungan Proses Pembelajaran Yesus Karnawati, K; Hosana, H; Darmawan, I Putu Ayub
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.363 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.48

Abstract

The learning environment has an important role in the learning process. The environment can be a medium, a place, and also a direct part of the learning process. In the context of Christian education, Jesus is the figure of the Great Teacher who is an example and inspiration in carrying out learning, so the author conducted research to understand the learning environment of Jesus. The research approach used is literature research that seeks various information related to the teaching process of Jesus. The results of the study show that Jesus did His teaching in a political environment, related to geographical location, community environment, culture, and education. In carrying out the teaching process, Jesus used various environments effectively, so that the learning environment of Jesus is an environment that allows meaningful learning to occur. Lingkungan pembelajaran memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Lingkungan dapat menjadi media, tempat, dan juga bagian langsung dari proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan Kristen, Yesus adalah sosok Guru Agung yang menjadi teladan dan inspirasi dalam melaksanakan pembelajaran, oleh sebab itu penulis melakukan penelitian untuk memahami lingkungan pembelajaran Yesus. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian studi pustaka yang mencari berbagai informasi terkait dengan pembelajaran yang Yesus jalankan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada Yesus melakukan pembelajaran di lingkungan politik, terkait dengan letak geografis, lingkungan masyarakat, kebudayaan, dan pendidikan. Dalam melaksanakan proses pembelajarannya, Yesus memanfaatkan berbagai lingkungan secara efektif, sehingga lingkungan proses pembelajaran Yesus adalah lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna.
Bahasa Roh Dalam Teologi Pantekosta Dan Implikasinya Bagi Hidup Orang Percaya Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.373 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.88

Abstract

Today, many Christians claim to be able to use tongues that are obtained from the Holy Spirit. This has become a polemic in God's church from throughout the history of the church to the present. The problem of using tongues in worship meetings and its interpretation has become an ongoing problem and has not the least caused divisions among churches. Through research with analytical methods on a number of literature reviews, namely by analyzing tongues in Pentecostal theology and its implications for believers, the conclusion is that every believer must return to the correct understanding of the Bible and there must be maturity in fellowship with other Christians in order to function. and the purpose of gifts is devoted to building up God's church and for God's glory.Abstrak Saat ini banyak orang Kristen yang mengaku dapat menggunakan bahasa roh yang didapat dari Roh Kudus, Hal ini menjadi polemik dalam gereja Tuhan dari mulai sepanjang sejarah gereja sampai saat ini. Permasalahan penggunaan bahasa roh dalam pertemuan ibadah dan penafsirannya telah menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai dan tidak sedikit menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja. Melalui penelitian dengan metode analisis terhadap sejumlah tinjauan pustaka, yaitu dengan cara menganalisis tentang bahasa roh dalam teologi Pentakosta dan implikasinya bagi orang percaya didapatkan kesimpulan bahwa setiap orang percaya harus kembali kepada pemahaman Alkitab yang tepat dan harus ada kedewasaan dalam bersekutu bersama umat Kristen lainnya agar fungsi dan maksud karunia dicurahkan untuk membangun gereja Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan.
Kajian Teologis Konsep Pemberitaan Injil Berdasarkan 2 Korintus 5: 18-21 Efrayim Ngesthi, Yonathan Salmon; Munandar, Aris; Zacheus, Soelistiyo Daniel; Dwikoryanto, Matius I Totok
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.025 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.108

Abstract

Preaching the gospel in believers requires responsibility and courage to actualize it. But many people do not understand that evangelism is God's way of working with people to bring a message of reconciliation to people. Through descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that God's people must be able to understand that there is a heart of God in saving humans in God's mission of reconciliation for humans. Furthermore, God's people can also understand how God entrusts the task of serving missions to be a priority and responsibility to do, because being a messenger of Christ for the salvation of others is a way for believers to respond to God's call to be a blessing to this world.AbstrakMemberitakan injil dalam diri orang percaya memerlukan tanggung jawab dan keberanian dalam mengaktualisasi. Namun banyak orang tidak memahami bahwa penginjilan adalah cara Allah bekerja sama dengan manusia membawa pesan pendamaian bagi manusia. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dapat disimpulkan bahwa umat Tuhan harus dapat memahami bahwa adanya hati Allah dalam menyelamatkan manusia dalam misi pendamaian Allah bagi manusia. Selanjutanya umat Tuhan dapat mengerti juga bagaimana Allah Mempercayakan tugas pelayanan misi menjadi prioritas dan tanggung jawab untuk dikerjakan, sebab menjadi utusan Kristus bagi keselamatan orang lain adalah merupakan cara orang percaya merespon panggilan Tuhan untuk menjadi berkat bagi dunia ini.
Analisis Biblika Tentang Tata Cara Beribadah Menurut Mazmur 100:1-5 dan Penerapannya di Masa Kini Lumantow, Anatje Ivone Sherly; Simuruk, Asdin
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.562 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v4i1.138

Abstract

The phenomenon of fading the meaning of worship within the scope of believers has been seen. It is marked, when worshiping in the church, sanctity in worship as if not visible because worship is considered limited to the liturgical design of man. As a result, when worshiping honors to God when worshiping as if invisible from the attitude of. This paper examines how to worship in the text of Psalm 100:1-5. In outlining this topic, researchers use the kualittative method with a literary approach and exegesis studies. Focus the research question on this article, how to worship according to Psalm 100:1-5. The results of the review of the exposure of this topic found that the word worship dB.;[ It means serving God and working for someone else. That means that it serves two sides, first working for the needs of others. The second is to serve God in the form of worship. Thus, every believer in the present who does good things to others, it is part of worshiping God in addition to also carrying out worship in the local church. AbstrakFenomena mulai memudarnya pemaknaan tentang ibadah dalam lingkup orang percaya telah terlihat. Hal ini ditandai, ketika beribadah di gereja, kesakralan dalam ibadah seakan tidak tampak karena ibadah dianggap sebatas rancangan liturgis manusia. Akibatnya, ketika beribadah penghormatan kepada Allah saat beribadah seakan tidak terlihat dari sikap. Tulisan ini mengkaji bagaimana cara beribadah diliat dari teks Mazmur 100:1-5. Di dalam menguraikan topik ini, peneliti menggunakan metode kualittatif dengan pendekatan literatur dan studi eksegesis. Fokus pertanyaan penelitian pada artikel ini, bagaimana tata cara ibadah menurut Mazmur 100:1-5. Hasil ulasan dari pemaparan topik ini ditemukan bahwa kata beribadahlah dB.;[;i  yang artinya melayani Tuhan dan bekerja untuk adalah orang lain. Itu berarti bahwa melayani dua sisi, pertama bekerja untuk keperluan orang lain. Kedua melayani Tuhan dalam bentuk ibadah. Dengan demikian, setiap orang percaya di masa kini yang melakukan hal baik kepada orang lain, itu bagian dari ibadah kepada Allah di samping ia juga melaksanakan peribadatan dalam gereja lokal. 
Konsep Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk Karyawati, Lisa
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 1 (2019): Februari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.817 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i1.56

Abstract

This article discusses the concept of learning Christian religious education in a plural society. The author uses a literature study approach to discuss the topic. From the results of the analysis of several sources of literature, there are three main principles in Christian religious education, namely increasing knowledge of the word of God, enabling students to express their existence in daily life and enable them to be able to live together with others in the surrounding environment. The principle is then realized through the concept of PAK learning that the Bible becomes the main source of learning, then the teacher encourages students to declare themselves Christians in the midst of a pluralistic society, and train students to become doers of God's Word in loving others and being able to coexist without lost its identity as a Christian. Artikel ini membahas tentang konsep pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam masyarakat majemuk. Penulis menggunakan pendekatan studi pustaka untuk membahas topik tersebut. Dari hasil analisis terhadap beberapa sumber pustaka, ada tiga prinsip utama dalam Pendidikan Agama Kristen yaitu meningkatkan pengetahuan akan Firman Allah, memampukan murid menyatakan keberadaan dirinya dalam hidup sehari-hari serta memampukan mereka untuk dapat hidup bersama dengan orang lain di lingkungan sekitar. Prinsip tersebut kemudian diwujudkan melalui konsep pembelajaran PAK bahwa Alkitab menjadi sumber belajar utama, lalu guru mendorong murid untuk menyatakan dirinya sebagai orang Kristen di tengah-tengah masyarakat majemuk, dan melatih murid untuk menjadi pelaku-pelaku Firman Allah dalam mengasihi sesama dan dapat hidup berdampingan tanpa kehilangan identitasnya sebagai orang Kristen. 
Makna Dosa Menghujat Roh Kudus Dominggus, Dicky
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.186 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i1.71

Abstract

This paper discusses the meaning of blaspheming the Holy Spirit. In the Bible, it is written that sin blasphemes the Holy Spirit as an unforgivable sin. This, of course, contrasts with the general understanding that Christ's death on the cross took away human sin. This article has a First goal, to find the meaning of sin to blaspheme the Holy Spirit. Second, find the reason why sin blaspheme the Holy Spirit cannot be forgiven. This research is a qualitative research with a grammatical historical approach. As for understanding the sin of blaspheming the Holy Spirit is an act of not recognizing Jesus as God.Tulisan ini membahas makna dari menghujat Roh Kudus. Di dalam Alkitab dituliskan Dosa menghujat Roh Kudus sebagai dosa yang tidak dapat diampuni.  Hal ini tentunya bertolak belakang dengan pemahaman umum di mana kematian Kristus di kayu salib sudah menghapus dosa manusia. Artikel ini memiliki tujuan Pertama, menemukan arti dari dosa menghujat Roh Kudus. Kedua, menemukan alasan mengapa dosa menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan historikal gramatikal. Adapaun pemahaman dari dosa menghujat Roh Kudus merupakan tindakan tidak mengakui Yesus sebagai Allah.
Metode Bermain Salah satu Metode Pembelajaran Untuk Anak Ester, Ester; Giamulia, Daniel Setiawan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.842 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.103

Abstract

Playing is a child's daily activity. Play has a big influence on children's development, both physically and mentally. One method of learning in children, especially early childhood is the play method.Basically, children like to play, move, sing and dance, either alone or in groups. Play can develop physical, motor, social, emotional, cognitive, creativity, language, behavior, sensory acuity, release tension and therapy for both physical and mental. Therefore, the play method is very suitable for the child's learning process. If the playing method is carried out without proper preparation, the learning objectives cannot be achieved optimally. On the other hand, if properly prepared, the play method can help students understand the lesson. The method of playing requires strategy and media. The playing method has strengths and weaknesses that educators need to know and understand.AbstrakBermain adalah aktivitas anak sehari-hari. Bermain memberi pengaruh besar bagi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental. Salah satu metode pembelajaran pada anak khususnya anak usia dini adalah metode bermain. Pada dasarnya anak-anak suka bermain, bergerak, bernyanyi dan menari, baik dilakukan sendiri maupun berkelompok. Bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta, bahasa, perilaku, ketajaman penginderaan, melepaskan ketegangan dan terapi bagi fisik maupun mental. Oleh sebab itu, metode bermain sangat cocok bagi proses pembelajaan anak. Apabila metode bermain dilakukan tanpa persiapan yang matang, maka tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal. Sebaliknya, jika dipersipkan dengan baik, maka metode bermain dapat menolong anak didik memahami pelajaran. Metode bermain memerlukan strategi dan media. Metode bermain memiliki kekuatan dan juga kelemahan yang perlu diketahui dan dipahami oleh pendidik.
Studi Deskritif Keselamatan Universalisme dan Apologetika dalam Teologi Paulus Tambunan, Jujung Rilman
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.65 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.123

Abstract

The many notions that deviate from the truth of the Bible throughout the history of Christianity must be responded well to straighten it out, such as apologetics in Paul's theology brings courage to convey the truth that has been interpreted by people who deviate from the Bible. using descriptive qualitative method with literature study approach, it can be concluded that the power of the gospel that was delivered to the Jews and non-Jews in Rome, was very powerful and had tremendous power to save sinners. And he was not bothered by the problems that occurred at that time under the influence of the heretical notion of the salvation of universalism. And from the misunderstanding in the Roman church, Paul believed his Gospel writings could solve the problem and could justify the teachings that existed at that time. So that the gospel, which is God's saving power, was delivered by Paul with no shame to the people of Rome, despite their differing views.AbstrakBanyaknya paham yang menyimpang dari kebenaran Alkitab sepanjang sejarah kekristenan wajib direspon dengan baik untuk meluruskan, seperti apologetika dalam teologi Paulus membawa keberanian untuk menyampaikan kebenaran yang yang telah ditafsir oleh oknum yang menyimpang dari Alkitab. menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa Kekuatan Injil yang disampaikan bagi orang-orang Yahudi dan non Yahudi di Roma, sangatlah hebat dan memiliki kekuatan dasyat untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Dan ia tidak terganggu oleh masalah-masalah yang terjadi saat itu atas pengaruh paham sesat dari keselamatan universalisme tersebut. Dan dari kesalah-pahaman dalam jemaat Roma itu, Paulus menyakini tulisan Injilnya dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat membenarkan ajaran yang ada saat itu. Sehingga Injil yang menjadi kekuatan Allah yang dapat menyelamatkan, disampaikan oleh Paulus dengan tidak ada rasa malu bagi orang-orang di Roma, sekalipun ada perbedaan pandangannya. 
Yesus Sejarah dan Kristus Iman L M, YUSUF
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.868 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i1.62

Abstract

One of the most hotly debated topics in the 18th century and its peak in the 19th century was The Jesus of history and The Christ of faith. This topic became very popular for the theologians and professors of the New Testament to analyze. The work done in this analysis always leads to the conclusion that the Jesus who is believed by Christians today is an unhistorical Jesus. Sources of the Gospels - The gospel held today is often considered to be inaccurate and distorted by the delusions of the gospel writers. But all the accusations of the liberal theologians are not based on historical facts and contradict the authenticity of the canonical gospels. Salah satu topik yang sangat panas diperdebatkan pada abad 18 dan puncaknya pada abad 19 adalah The Jesus of history dan The Christ of faith. Topic ini menjadi sangat popular untuk dianalisis para teolog dan para professor Perjanjian Baru.Upaya yang dilakukan dalam analisis ini selalu berujung kepada sebuah kesimpulan bahwa Yesus yang diimani oleh orang Kristen masa kini adalah Yesus yang tidak historis.Sumber Injil-Injil dipegang saat ini sering dianggap tidak akurat lagi dan sudah terdistorsi oleh khayalan para penulis Injil.Namun semua tuduhan para teolog liberal itu tidak berdasarkan fakta sejarah dan bertentangan dengan keotentikan kitab Injil Kanonik.
Metode Pembelajaran Pemberian Tugas (Resitasi) Santoso, Antonia Eva Ambarwati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.833 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.97

Abstract

Science and technology are getting faster, the more complex the lessons that must be delivered to students. In this case, the teacher must be able and required to be able to use learning methods properly, in accordance with the objectives, learning materials, tools and evaluation that have been set. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the advantages of the task-giving method (recitation) are to encourage students to carry out individual or group martial arts activities, train students to be responsible and always take advantage of their spare time. The weakness of the assignment method (recitation) is that the assignment submitted by students is difficult to know whether it is self-made or someone else's work, in group work there tends to be students who are only passive, if it is done too often it will cause boredom, and if the method giving this task is not well prepared it will cause gaps because of individual differences in students.AbstrakIlmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat, maka semakin kompleks pula pelajaran yang harus disampaikan kepada siswa. dalam hal inipun guru harus mampu dan dituntut untuk dapat menggunakan metode pembelajaran secara baik, sesuai dengan tujuan, bahan pelajaran, alat bantu dan evaluasi yang telah ditetapkan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Kelebihan dari metode pemberian tugas (resitasi) yaitu memberi semangat kepada para peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar individual atau kelompok, melatih peserta didik untuk bertanggungjawab dan selalu memanfaatkan waktu luang mereka. Adapun kelemahan dari metode pemberian tugas (resitasi) yaitu tugas yang diserahkan oleh peserta didik sulit diketahui apakah itu buatannya sendiri atau buatan orang lain, dalam kerja kelompok cenderung ada siswa yang hanya pasif, jika terlalu sering dilakukan maka akan menimbulkan rasa jenuh, dan bila metode pemberian tugas ini tidak dipersiapkan dengan baik maka akan menimbulkan kesenjangan karena adanya perbedaan individu peserta didik.

Page 3 of 16 | Total Record : 160