THRONOS: Jurnal Teologi Kristen
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang dilakukan oleh setiap dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia, praktisi Kristen, teolog, yang ingin berkontribusi bagi kemajuan pemikiran Kristen di Indonesia secara khusus. THRONOS diterbitkan oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia. Focus dan Scope penelitian THRONOS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Teologi Kontekstual Teologi Historika Misiologi THRONOS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. THRONOS terbit dua kali dalam setahun, yakni Juni dan Desember.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 2: Juni 2023"
:
10 Documents
clear
Karawitan Sunda dalam Ibadah Gerejawi: Sebuah Konteksualisasi di Gereja Baptis Indonesia Bakti
Ken Jacks Gunawan Waoma;
Andreas Danang Rusmiyanto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.73
Julukan Agama Kristen sebagai “Agama Londo” bukanlah tanpa sebab. Disamping fakta bahwa masuknya kekristenan ke Indonesia dibawa oleh para misionaris dari barat, namun kentalnya budaya barat juga menjadi salah satu penyebab utama munculnya julukan ini, salah satunya dalam musik yang digunakan dalam rangkaian ibadah. Hipotesis awal dari penelitian ini ialah, perbedaan antara budaya yang digunakan dalam ibadah gereja dengan budaya lokal dapat menjadi jurang pemisah dan menjadikan gereja tampak eksklusif. Maka dari itu jurnal ini bertujuan untuk menjembatani masalah tersebut dengan mengangkat budaya lokal, secara khusus musik daerah Suku Sunda, ke dalam rangkaian liturgi gereja dalam bingkai kontekstualisasi. Akhirnya, penggunaan musik daerah dapat menjadi sarana untuk penjangkauan masyarakat sekitar, dan jemaat lokal juga dapat menikmati ibadah dengan lebih baik karena menggunakan sarana yang tidak asing dengan mereka.
Kepemimpinan Pendeta Gereja Suku di Zaman Modern: Sebuah Studi di Kecamatan Moro’õ, Kabupaten Nias Barat
Hendrik Bernadus Tetelepta;
Candra Gunawan Marisi;
Famati Waruwu;
Nestilina Gulo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.67
Reading the leadership of the Pastor at the Suku church in Moro'o District, West Nias plays an important role that must be understood, considering that they are genuine 'Ono Niha' who grew up and were brought up with the cultural values of traditional leadership. This study used a descriptive qualitative research methodology with a descriptive approach. The study results show that the leadership of Pastors in modern times is influenced by traditional leadership so that they do not lose their cultural identity in modern times. This leadership becomes a form of negotiating space mutually tug-of-war with modern leaders. This gives everyone an understanding that even though the Pastor has acquired modern knowledge mobilized by Christian religious higher education, traditional leadership is still being absorbed and maintained in modern times. AbstrakMembaca kepemimpinan Pendeta di gereja Suku di Kecamatan Moro'o, Nias Barat meme-gang peranan penting yang harus dipahami, mengingat mereka adalah ‘Ono Niha’ asli yang tumbuh dan dibesarkan dengan nilai-nilai budaya kepemimpinan tradisional. Dalam penelitian ini, digunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan kepemimpinan Pendeta di zaman modern dipengaruhi oleh kepemimpinan tradisional agar mereka tidak kehilangan identitas budaya mereka di zaman modern. Kepemimpinan ini menjadi sebentuk ruang negosiasi yang saling tarik ulur dengan kepemimpin modren. Ini memberikan pemahaman kepada siapa pun bahwa meskipun Pendeta telah memperoleh pengetahuan modern yang dimobilisasi oleh pendidikan tinggi keaagamaan Kristen, namun kepemimpinan tradisi tetap diserap dan dipertahankan di zaman modern.
Dampak Musik Gereja bagi Pertumbuhan Iman Jemaat: Sebuah Studi di Gereja Kristen Jawa Celengan, Klasis Tuntang Barat, Pepanthan
Verry Willyam;
Aji Suseno
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.72
The presence of music in Christianity is not only a gift but an extraordinary divine blessing. Every believer is led to feel God's presence through instrumental and contemporary music tones in his presence in the church. Focusing on reformed church music which tends to use hymn and instrumental music, is self-awareness that every church music has almost the same spiritual level if the goal and focus are God, inseparable from the meaning of the Gospel that will be conveyed. This study uses a qualitative method, in which the author is a sympathizer of the Javanese Christian Church in Celengan, West Tuntang Class, to interpret the congregation's spirituality through church music, which is an integral part of worship and has roots since Christianity arrived from Europe. The form and meaning of church music remain centered on Christ, but Locus prioritizes the culture and traditions of the church. AbstrakKehadiran musik di dalam Kekristenan bukan saja merupakan anugerah melaikan berkat ilahi yang luar biasa. Setiap orang percaya dituntun dalam merasakan hadirat Tuhan melalui nada-nada musik instrumetal dan musik kontemporer dalam keberadaannya di dalam gereja. Memfokuskan diri dalam musik gereja reforms yang lebih cenderung menggunakan musik hymne dan instrumental menjadi sebuah kesadaran sendiri bahwa setiap musik gerejawi memiliki kadar kerohanian yang hampir sama. Tujuan utama kajian ini ialah menemukan makna spiritual di dalam ibadah musik bagi pertumbuhan iman jemaat dan tentu tidak terlepas dari makna Injil yang akan disampaikan di dalam ibadah. Dalam paper ini metode yang diggunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan langsung ke jemaat, guna memaknai spiritualitas jemaat lewat musik gereja yang menjadi bagian penting dalam ibadah dan sudah berakar dari sejak kekristenan masuk dari eropa. Bentuk dan makna musik gereja tetap berpusat kepada Kristus, namun Locus lebih mengutamakan culture dan tradisi gereja berada.
Integritas Pemimpin dalam Pertumbuhan Kelompok Sel: Sebuah Studi tentang Care Cell di Gereja Beth-El Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang
Tri Gunawan;
Kalis Stevanus;
Fianus Tandiongan;
Tantri Yulia
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.76
Church growth is God's will, but it does not happen automatically. One factor that influences the church's growth is its leaders' integrity. The purpose of this discussion is to determine the significance of the influence of leader care cell integrity on the growth of GBT Christ Alfa Omega Semarang care cells. The research method used is quantitative by combining literature studies to describe the characteristics of leader care cells with integrity: honesty, purity, sincerity, fairness, humility, and not seeking their interests. The regression analysis results showed that the contribution of variable X to variable Y was 55.7%. AbstrakPertumbuhan gereja merupakan kehendak Allah, namun tidak otomatis terjadi dengan sendirinya. Salah satu factor yang turut memengaruhi pertumbuhan gereja adalah integritas pemim-pinnya. Tujuan pembahasan ini adalah untuk mengetahui signifikansi dari pengaruh integritas leader care cell terhadap pertumbuhan care cell GBT Kristus Alfa Omega Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggabungkan studi kepustakaan untuk mendeskrip-sikan karakteristik leader care cell yang berintegritas yaitu kejujuran, kemurnian, ketulusan, keadilan, kerendahan hati, dan tidak mencari kepentingan sendiri. Hasil analisis regresi menunjukkan kontribusi variabel X terhadap variabel Y yaitu sebesar 55,7%. Kata Kunci: integritas pemimpin kristiani; pemimpin sel; pertumbuhan sel; pertumbuhan gereja
Membaca Ulang Kejadian 3 dalam Bingkai Tafsir Poskolonial sebagai Respons terhadap Kerusakan Ekologi
Agustina Pasang;
Shendy Carolina Lumintang
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.59
This article aims to reveal the response according to the postcolonial interpretation of Genesis 3 to ecological oppression. This study used a qualitative research approach with content analysis method. Based on this study method a response was found that the postcolonial interpretation views crises or various ecological problems as a total human failure, not the result of sin. Human failure in question is an error in managing and being responsible for nature. This is of course a common concern that sin is not the root cause of human actions, but only a mistake manifested in the destruction of nature.
Representasi Kolektif dalam Doa Apokaliptik: Sebuah Kajian Reflektif bagi Kepemimpinan Kristen
Ivan Simeon Halim
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.77
Kinds of literature on apocalyptic prayer are difficult to understand in the study of apocalyptic literature. This text is often regarded as an interruption when paying attention to the content, theology, style of language, and continuity with other passages in the apocalyptic books. But those texts can answer Christian leadership problems, which sometimes don't care about the crisis being faced by the people. This study focuses on using the first-person plural pronoun, which indicates the collective representation concept in apocalyptic prayers. The legendary figures who said this apocalyptic prayer have high solidarity towards their nation's struggles and the depth to bear the crisis they face jointly. The methodology used in this research compares apocalyptic prayers in the book of Daniel, 2 Baruch, and 4 Esdras. Therefore, the concept of corporate representative can be a reference for Christian leadership to bear the crisis of the people jointly. AbstrakTeks doa apokaliptik adalah teks yang sulit dipahami dalam studi sastra apokaliptik. Teks ini sering dianggap sebagai interupsi ketika memperhatikan isi, teologi, gaya bahasa, dan kesinambungan dengan bagian-bagian lain dalam kitab apokaliptik. Tetapi teks tersebut juga mampu menjawab permasalahan kepemimpinan Kristen yang terkadang acuh dengan krisis yang sedang dihadapi oleh umat. Studi ini memperhatikan sisi penggunaan kata ganti orang pertama plural yang mengindikasikan adanya unsur representasi kolektif di dalam doa apokaliptik ini. Tokoh-tokoh legendaris yang mengucapkan doa apokaliptik ini tidak hanya memiliki solidaritas yang tinggi terhadap perjuangan yang dihadapi bangsanya, tetapi juga memiliki kedalaman untuk bersama-sama menanggung krisis yang sedang mereka hadapi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan teks doa apokaliptik dalam kitab Daniel, 2 Barukh, serta 4 Ezra. Dengan demikian, representasi kolektif ini dapat menjadi acuan bagi kepemimpinan Kristen dalam menanggung krisis bersama-sama dengan umat.
Membangun Relasi Sosial melalui Pelayanan Sosial sebagai Aksi Misio Dei
Adhi Siswanto Wisnu Nugroho;
Kalis Stevanus;
Gregorius Suwito;
Gidion - -
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.74
Tujuan artikel ini memaparkan tentang rancangan pedoman pewartaan kabar baik melalui aktualisasi pelayanan sosial yang dilakukan di lingkungan pemerintahan kota Semarang. Diharapkan para pegawai yang beragama kristiani dapat memanfaatkan program pelayanan sosial menjadi sarana pewartaan kabar baik. Aktualisasi pelayanan sosial bukan hanya sekadar menolong masyarakat dari pelbagai persoalan jasmani, tetapi yang utama yang tidak boleh diabaikan adalah memenuhi kebutuhan jiwa mereka, yaitu keselamatan. Untuk menjawab tujuan tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan riset dan pengembangan ditunjang oleh studi literatur untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk membuat rancangan produk, tetapi tidak dilanjutkan dengan menguji rancangan produk tersebut sebelum diimplementasikan. Ditarik simpulan bahwa pelayanan sosial merupakan bagian integral dari pelayanan pemberitaan kabar baik. Pelayanan sosial dapat menjadi jembatan untuk mengomunikasikan kabar baik tentang keselamatan dalam Kristus kepada semua yang belum mengenalnya. Untuk memberitakan kabar baik dibutuhkan rancangan pedoman agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat secara efektif dan efisien tanpa halangan khususnya kultur-budaya masyarakat setempat. Rancangan pedoman pemberitaan kabar baik ini diharapkan dapat mengembangkan pendekatan dan strategi yang tepat dalam menyampaikan kabar baik melalui aktualisasi pelayanan sosial.
Menyoal Tubuh dan Kehadiran dalam Mediasi Liturgi ke Ruang Digital
Putra Arliandy
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.65
This article discusses the challenge faced by liturgy as a ritual that embodies physical presence in adapting to the digital realm catalyzed by the COVID-19 pandemic in early 2020. Amidst various models of liturgy that emerged due to this mediation, the issue of body and presence became a debate between pro-digital and contra-digital groups. One point of contention was whether worship without physical gathering in a specific location could be considered incarnational. To address this issue, this article presents Daniella Zsupan-Jerome's perspective on sacramental presence in the digital space, which will be connected with liturgical approaches, specifically through the theological-symbolic perspective of Emmanuel Martasudjita. Using a literature review method, Zsupan-Jerome's arguments, rooted in the thoughts of Louis-Marie Chauvet and Jean-Luc Marion, will be discussed with the help of other scholars who have previously explored the theme of the body and its presence in the digital space. The theological discourse built from this discussion is expected to provide an alternative perspective for readers in the post-pandemic era, encouraging them not to perceive digital worship solely as a disembodied experience that creates a shallow presence. However, it does not necessarily intend to promote digital worship as a better option than in-person worship. AbstrakLiturgi sebagai sebuah ritual yang menubuh menghadapi tantangan berupa mediasi ke ruang digital yang dikatalisasi oleh pandemi COVID-19 pada awal 2020 silam. Di tengah berbagai model liturgi yang muncul sebagai akibat dari mediasi tersebut, tubuh dan kehadiran menjadi isu yang diper-debatkan antara kelompok yang pro dan kontra-digital. Salah satu poin perdebatannya adalah apakah sebuah ibadah yang berlangsung tanpa pertemuan fisik pada satu lokasi tertentu dapat disebut inkarnasional atau tidak. Dalam rangka menjembatani persoalan tersebut, artikel ini menyajikan pandangan Daniella Zsupan-Jerome tentang kehadiran sakramental dalam ruang digital yang kemu-dian akan dihubungkan juga dengan pendekatan liturgi, secara khusus melalui perspektif teologi simbol menurut Emmanuel Martasudjita. Dengan menggunakan metode tinjauan literatur, argumen-tasi Zsupan-Jerome yang dilatarbelakangi oleh pemikiran Louis-Marie Chauvet dan Jean-Luc Marion, akan dibahas dengan bantuan tokoh lainnya yang telah terlebih dahulu menggumuli tema mengenai tubuh dan kehadiran dalam ruang digital. Wacana teologis yang terbangun pada akhirnya diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pembaca di masa post-pandemic agar tidak terus-menerus melihat ibadah digital sebagai sebuah pengalaman yang tidak bertubuh dan hanya menciptakan sebuah kehadiran dangkal, sekalipun tidak serta-merta bermaksud untuk mengunggulkan opsi ibadah digital dari iba-dah yang berlangsung secara tatap muka.
Ada’ Tua dan Kota Perlindungan: Studi Cross-Textual Reading Hukum Adat Ada’ Tuo di Daerah Pitu Ulunna Salu dan Kota-Kota Perlindungan bagi Bangsa Israel
Restifani Cahyami;
Nober Patongloan;
Asri Asri
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.61
Ada’ Tua dan Kota Perlindungan: Studi Cross-Textual Reading Hukum Adat Ada’ Tuo di Daerah Pitu Ulunna Salu dan Kota-Kota Perlindungan bagi Bangsa IsraelRestifani Cahyami1, Nober Patongloan2, Asri31,2,3Institut Agama Kristen Negeri TorajaCorrespondence: cahyamirestifani@gmail.com Abstract: This writing is motivated by the emergence of various problems that occur in the life of society or God's people, which encourage the birth of laws or rules that govern life to create peace and relationships between people and God as described in the Ada' Tuo law in the Pitu Ulunna Salu and Kota areas—protection for the Israelites. However, the law regulated in society is often unaware of the theological value contained therein. This paper aims to show the connection between Ada' Tuo and the City of Refuge, which is studied through a Cross-Textual Reading approach because it is undeniable that the two texts contain similarities and differences that can give birth to a theological value that has significant implications for the lives of God's people. The results show that these two texts contain the same values and enrich each other that love, justice, and forgiveness must be realized in law practice through Ada' Tuo and the City of Refuge for the Israelites. AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh lahirnya berbagai permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat atau umat Allah yang mendorong lahirnya hukum atau aturan yang mengatur kehidupan untuk menciptakan kedamaian dan hubungan antara sesama dan kepada Tuhan seperti yang tergambar dalam hukum Ada’ Tuo di daerah Pitu Ulunna Salu dan Kota Perlindungan bagi bangsa Israel. Namun, seringkali hukum yang diatur dalam masyarakat tidak disadari nilai teologis yang terkandung di dalamnya. Tulisan ini bertujuan memperlihatkan keterhubungan antara Ada’ Tuo dan Kota Perlindungan yang dikaji melalui pendekatan Cross-Textual Reading sebab tidak dipungkiri bahwa kedua teks tersebut mengandung persamaan dan perbedaan yang dapat melahirkan suatu nilai teologis yang berimplikasi besar bagi kehidupan umat Allah. Hasilnya memperlihatkan bahwa kedua teks ini mengandung nilai yang sama sekaligus saling memperkaya bahwa kasih, keadilan, dan pengampunan harus diwujudkan dalam praktek hukum yang dilakukan baik melalui Ada’ Tuo maupun Kota Perlindungan bagi bangsa Israel.
Komodifikasi Hari Raya Natal dalam Film Last Christmas
Biliam Biliam;
Altobeli Lobodally
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v2i2.60
Christmas has been commodified in various mass media products. This study aims to reveal the commodification of Christmas in the film Last Christmas. This research used the Commodification Theory and a qualitative approach with Roland Barthes's Semiotics method. The results of this study indicate that there is a shift in the mythology of Christmas Day, which is a holiday for Christians in interpreting the work of salvation and the arrival of the Savior, now interpreted as a moment to do good to others, a moment where people will spend their money to buy Santa Claus trinkets and Christmas trees which are considered as a symbol of 'Christmas'. The change in people's perspective on the mythology of Christmas Day certainly did not happen by accident. Still, it was deliberately made through the policy-making process that occurred in the production of the film Last Christmas.AbstrakHari Raya Natal telah dikomodifikasi dalam berbagai produk media massa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap komodifikasi Hari Raya Natal dalam film Last Christmas. Penelitian ini dilakukan menggunakan Teori Komodifikasi dan pendekatan kualitatif dengan metode Semiotika milik Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pergeseran mitologi Hari Raya Natal yang merupakan hari raya bagi umat Kristiani dalam memaknai karya keselamatan dan kedatangan Sang Juru Selamat kini menjadi sebuah perayaan yang dapat dirayakan oleh semua orang. Hari Raya Natal kini dimaknai sebagai sebuah momen untuk berbuat baik kepada orang lain, momen dimana orang-orang akan menghabiskan uangnya untuk membeli pernak-pernik Sinterklas dan pohon natal yang dianggap sebagai simbolisasi ‘Natal’, dan momen untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Perubahan sudut pandang masyarakat terhadap mitologi Hari Raya Natal tentu terjadi bukan karena tidak disengaja, melainkan adalah hal yang sengaja dibuat melalui proses penentuan kebijakan yang terjadi pada sebuah produksi film Last Christmas