cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
ANALISIS KOLAM TANDO UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO UMBUL KENDAT Herawati, Novi; Hadiyani, Raden Rintis; Suyanto, Suyanto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i1.37142

Abstract

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan upaya konstruktif untuk mengajak masyarakat peduli dengan lingkungan hidup. Turbin digerakkan dengan memanfaatkan aliran air, sehingga putaran turbin tersebut menghasilkan energi listrik, maka dari itu debit air harus tetap terjaga dengan menjaga kelestarian alam sekitar. Salah satu daerah di Kabupaten Boyolali yang berpotensi sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga mikrohidro adalah Saluran Umbul Kendat yang terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. . Penelitian ini mensimulasi tata letak kolam tando dan mencari potensi energi yang dihasilkan turbin celup. Lokasi penelitian di Sungai Kendat, Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit yang dihasilkan 0,248 m3/detik dan tinggi jatuh efektif sebesar 2 m menghasilkan P= 3 kW, E=26205 kWh dengan keuntungan dalam satu tahun sebesar Rp 38.376.648. Analisis kelayakan ekonomi yang dilakukan menghasilkan nilai IRR= 19,65%, BCR= 1,98 dan NPV=Rp 373.709.724,80 sehingga pembangunan PLTMH layak dilaksanakan.
PENGARUH ALAT PENGENDALI KECEPATAN VERTIKAL, LEBAR JALAN DAN JARAK PEMASANGAN TERHADAP KECEPATAN (DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN) Surompo, Bimma Ajiwijaya; Musthofiah, Amirotul; Handayani, Dewi
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37310

Abstract

Alat pengendali kecepatan vertikal (APKV) adalah alat untuk mengurangi kecepatan kendaraan yang melintas di suatu area. Di lingkungan permukiman dapat ditemukan pengemudi sepeda motor dengan kecepatan diatas 30 km/jam. Kecepatan pengemudi diatas 30 km/jam tersebut tidak melanggar aturan menurut KPTS No. 260 tahun 2004, tetapi dapat membahayakan masyarakat yang melintas pada jalan tersebut. Flaherty (1997), memberikan gambaran jika suatu kecelakaan terjadi pada kecepatan 70 km/jam kemungkinan pejalan kaki yang tertabrak akan meninggal adalah 83%, pada kecepatan 50 km/jam kemungkinan mengalami luka fatal 37%, sedangkan pada kecepatan 30 km/jam korban meninggal berkurang hingga 5%. Untuk itu dibutuhkan alat pengendali kecepatan vertikal yang bertujuan untuk mengurangi kecepatan kendaraan yang melintas di suatu area. Objek pengamatan dibagi dalam 3 area, yaitu area 1 (kecepatan sebelum alat pengendali kecepatan vertikal), area 2 (kecepatan diatas alat pengendali kecepatan vertikal) dan area 3 (kecepatan diantara alat pengendali kecepatan vertikal). Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan metode enter dan stepwise pada SPSS versi 16. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi tinggi APKV (X1, cm), lebar APKV (X2, cm), lebar jalan (X3, cm) dan jarak pemasangan antar alat pengendali kecepatan vertikal (X4, cm) serta kecepatan sepeda motor dan kendaraan ringan (Y, km/jam). Hasil dari penelitian didapatkan hubungan antara tinggi (X1) dan lebar (X2) alat pengendali kecepatan dengan kecepatan kendaraan saat melintasi alat pengendali kecepatan (Y) untuk sepeda motor secara matematis dapat ditulis : Y = 10,182 - 0,748 X1 dengan nilai R² = 0,834 dan untuk kendaraan ringan Y = 7,636 - 0,402 X1 + 0,003 X2 dengan nilai R²= 0,999. Hubungan antara jarak pemasangan (X4) dengan kecepatan kendaraan di antara alat pengendali kecepatan (Y) untuk sepeda motor secara matematis dapat ditulis : Y = 8,163 + 0,327 X4 dengan nilai R² = 0,919 dan untuk kendaraan ringan Y = 3,011 + 0,493 X4 dengan nilai R² = 0,890 . Berdasarkan hasil analisis regresi linier didapatkan bahwa lebar jalan tidak mempengaruhi kecepatan kendaraan diatas alat pengendali kecepatan vertikal (area 2) dan kecepatan diantara alat pengendali kecepatan vertikal (area 3), sedangkan tinggi dan lebar alat pengendali mempengaruhi kecepatan diatas alat pengendali kecepatan vertikal (area 2) dan jarak pemasangan antar alat pengendali kecepatan berpengaruh pada kecepatan diantara alat pengendali kecepatan vertikal (area 3). ). Dari hasil T-Test kecepatan rata-rata, terdapat perbedaan yang signifikan antara kecepatan rata-rata di area 1 dan area 3. Kecepatan rata-rata di area 3 lebih kecil 7,1 km/jam dari kecepatan rata-rata di area 1.
ANALISIS DAN EVALUSI SISA MATERIAL KONSTRUKSI MENGUNAKAN FTA (FAULT TREE ANALYSIS) STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN KELURAHAN DI SURAKARTA Hartono, Widi; Hartomo, Christianto; Sobriyah, Sobriyah
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i2.37197

Abstract

Perkembangan gedung dan kantor tumbuh sangat pesat di Kota Solo yang menimbulkan banyak pekerjaan konstruksi dilakukan, hal tersebut juga menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar diantaranya polusi debu, asap, suara yang mengganggu warga dan lain dari itu semakin banyak juga limbah bangunan yang akan dihasilkan oleh proses kontruksi tersebut jika tidak diolah secara maksimal. Macam - macam sisa material konstruksi diantaranya dari sisa - sisa beton terbentuk dari campuran semen, air dan agregat yang keras, tulangan - tulangan baja yang terpotong dan kayu yang digunakan untuk proses pengecoran beton itu sendiri. Semakin banyak sisa material yang terjadi, maka semakin tidak efisien penggunaan material dalam proyek tersebut. Faktor yang menjadi sumber terjadinya sisa material konstruksi, antara lain desain, pengadaan material, penanganan material, pelaksanaan, residul dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber penyebab sisa material yang terjadi dalam suatu proyek dan presentasenya terutama pada proyek dengan kontraktor lokal yang belum terlalu teliti dalam memanajemen pekerjaan konstruksi Penelitian ini menggunakan metoda Fault Tree Analysis (FTA) yang merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian kualitatif untuk menganalisis data sekunder dan data primer yang ada sehingga mengetahui akar penyebab sisa material pada proyek konstruksi. Jenis sisa material yang diteliti adalah sisa Batu bata, Semen, Pasir, Kerikil, dan Besi, kemudian dihitung volume material desain berdasarkan gambar rencana dan bill of quantity(BQ) dikurangi sisa stok material di lapangan. Setelah menghitung sisa material tersebut didapatkan hasil sisa material yang timbul pada pekerjaaan konstruksi berlangsung, dan tahap terahkir dilakukan evaluasi berdasarkan hasil penelitian mana penyebab sisa material yang dominan terjadi. Hasil perhitungan menunjukknan bahwa total biaya sisa material yang paling besar terletak pada Proyek Kelurahan Kauman yaitu sebesar Rp. 2.589.450,-. Sisa material yang paling dominan pada ketiga proyek tersebut adalah Besi diantaranya pada Proyek Gilingan paling besar adalah Besi D16 sebesar Rp 726.098,- , Proyek Jagalan Besi D16 Rp. 584.953,- ,Proyek Kauman Besi ø 10 sebesar Rp. 602.785,- dan menurut skala resiko sisa material Besi D 16, D12 dan ø 10 termasuk tingkat resiko sedang. Sisa material dengan risiko rendah adalah sisa Batu bata, Semen, Kerikil, Kapur, Pasir.
EVALUASI TARIF BERDASARKAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK), ABILITY TO PAY(ATP), WILLINGNESS TO PAY (WTP), DANBREAK EVEN POINT (BEP) BUS BATIK SOLO TRANS (STUDI KASUS KORIDOR 7) Nuraga, Mahitala Rasis; Legowo, Slamet Jauhari; Mahmudah, Amirotul Musthofiah
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37326

Abstract

Tarif sangat berpengaruh terhadap kelangsungan operasi angkutan umum karena dapat mengakomodasi kepentingan penumpang selaku konsumen dan pengelola angkutan umum. Angkutan bus Batik Solo Trans merupakan angkutan bus kota yang saat ini sedang digalakkan pengoperasiaannya. Perlu dilakukan evaluasi tarif BST koridor 7 untuk mengetahui tarif yang berlaku saat ini lebih besar/lebih kecil daripada tarif yang akan ditinjau. Peninjauan evaluasi tarif dihitung berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan, serta ditinjau dari persepsi Ability To Pay, Willingness To Pay, dan BEP. Data didapat dengan penyebaran kuisioner kepada pengguna angkutan bus Batik Solo Trans koridor 7dan wawancara dengan awak bus Batik Solo Trans koridor 7, kemudiandata di analisis untuk mengetahui besarnya Biaya Operasional Kendaraan (BOK) berdasarkan 3 metode (Dishub,DLLAJ,FSTPT) dan mengetahui daya beli penumpang dari kemampuan (Ability To Pay) dan kemauan (Willingness To Pay) untuk membayar tarif bus kota, serta analisis nilai Break Even Point (BEP).Hasil analisis data menunjukkan tarif berdasarkan BOK menurut metode Dishub Rp 1.069,07; metode DLLAJ Rp 1.069,07; metode FSTPT Rp 810,77 dengan kondisi sistem setoran, terdapat kenaikan sebesar 312,63% pada kondisi sistem normal. Berdasarkan ATP sebesar Rp 2.841,92 untuk kategori umum dan Rp 1.965,83 untuk kategori pelajar. Besarnya nilai WTP sebesar Rp 2.859,56 untuk kategori umum dan Rp 1.428,57 untuk kategori pelajar. Nilai BEP berdasarkan load factor pada hari kerja sebesar 21,11% dan pada hari libur sebesar 15,83% kondisi sistem setoran, terdapat selisih sebesar 1,65% lebih besar pada kondisi sistem normal. Jumlah armada yang dibutuhkan untuk mencapai BEP pada kondisi sistem setoran sebesar 9 pada hari kerja dan hari libur. Pada sistem normal sebesar 7 armada pada hari kerja dan 4 armada hari libur. Selain itu, pada kondisi sistem setoran waktu untuk impas/balik modal membutuhkan waktu 3,73, sedangkan pada kondisi sistem normal waktu untuk impas/balik modal membutuhkan waktu 1,004 tahun. Tarif yang berlaku saat ini lebih besar daripada tarif berdasarkan BOK, ATP dan WTP.
KAJIAN VARIABEL PEMILIHAN RUTE BERDASARKAN PENGGUNA JALAN DENGAN TEKNIK STATED PREFERENCE (Studi Kasus Ruas Jalan Ring Road Utara Kota Surakarta) Jessy Tidar Haryamurti; Amirotul MH Mahmudah; Dewi Handayani
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36927

Abstract

Variabel pengguna jalan dalam memilih rute merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan didalam pengembangan sistem jaringan jalan. Dalam menentukan rute setiap pengguna jalan selalu memiliki berbagai alasan dalam memilih rute terbaiknya. Alasan tersebut yang menjadi dasar pertimbangan dalam memilih rute. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variabel - variabel yang mempengaruhi pengguna jalan dalam memilih rute dan mengukur persepsi individu dalam memilih rute. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap pengguna jalan dan penyusunan formulir wawancara menggunakan teknik stated preference. Analisis utilitas dilakukan dengan regresi linier berganda dengan pemilihan rute sebagai variabel terikat dan waktu perjalanan, keramaian jalan, kenyamanan jalan, persepsi tepi jalan, adanya informasi waktu perjalanan sebagai variabel bebas. Perhitungan dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0. Besarnya masing - masing variabel pemilihan rute dapat dilihat pada persamaan berikut : Urr = 1,882 - 0,028 TT + 0,092 RC + 0,106 CR + 0,085 RP + 0,037 TI. Dimana Urr adalah utilitas ring road, TT adalah waktu perjalanan, RC adalah kenyamanan jalan, CR adalah keramaian jalan, RP adalah persepsi tepi jalan, dan TI adalah informasi waktu perjalanan. Hasil analisis dari utilitas untuk semua jenis kendaraan dan semua variabel yang telah dihitung diketahui bahwa variabel yang mempengaruhi pengguna jalan dalam memilih rute adalah : 1) Keramaian jalan, 2) Kenyamanan jalan, 3) Persepsi tepi jalan, 4) Keberadaan informasi waktu perjalanan, 5) Waktu perjalanan.
ANALISIS DEBIT BERDASARKAN HUJAN KUMULATIF 15 HARIAN DENGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION PADA DAS TIRTOMOYO UNTUK TITIK SULINGI Shakti, Danang Wibawa; Hadiani, Rintis; Setiono, Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i4.37377

Abstract

Jaringan Syaraf Tiruan adalah suatu teknologi yang dikembangkan berdasarkan prinsip jaringan syaraf biologi pada manusia, dapat dilatih untuk meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang berdasarkan pola kejadian yang ada dimassa lampau. Jaringan Syaraf Tiruan memiliki kemampuan untuk mengingat dan membuat generalisasi dari apa yang sudah terjadi sebelumnya. Aplikasi Jaringan SyarafTiruan dalam memodelkan curah hujan dalam suatu DAS memiliki angka korelasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan metode yang lain, karena Jaringan Syaraf Tiruan memiliki kemampuan untuk mengingat dan membuat generalisasi dari apa yang sudah terjadi sebelumnya. Dengan arsitektur propagasi balik (backpropagation). Penelitian ini dilakukan dengan cara analisis deskripstif kuantitatif dengan menggunakan aplikasi komputer Matlab. Lokasi Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wonogiri, provinsi Jawa Tengah, tepatnya pada DAS Tirtomoyo di titik stasiun debit Sulingi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara debit simulasi dan debit observasi dan keandalan model yang dihasilkan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan pada DAS Tirtomoyo di titik stasiun debit Sulingi. Penelitian Analisis Debit Berdasarkan Hujan Kumulatif 15 harian dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation pada DAS Tirtomoyo untuk Titik Sulingi menghasilkan korelasi yang cukup tinggi antara debit simulasi dengan debit observasi, yaitu sebesar 0,790169, dan memiliki keandalan model terhadap sistem hidrologi pada DAS Tirtomoyo sebesar 62,9%. Variabel masukan pada penelitian ini menggunakan data hujan pada tiga stasiun hujan. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah Goals = 0,03, Epoch = 100000 iterasi, Jumlah hidden layer : 2 Jumlah neuronhidden layer : 2, Momentum = 0,7, periode pelatihan : 4 tahunan, training : Gradient Descent with Momentum dan performance : Mean Squared Error
PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG PUSKESMAS DAN PUSKESMAS PEMBANTU DENGAN METODE AHP MENGGUNAKAN APLIKASI EXPERT CHOICE (STUDI KASUS GEDUNG PUSKESMAS DAN PUSKESMAS PEMBANTU KABUPATEN SUKOHARJO) Hartono, Widi; Sugiyarto, Sugiyarto; Murdoko, Bayu Ari
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i4.37256

Abstract

Bangunan gedung Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) merupakan salah satu prasarana milik Negara yang harus dijaga pemeliharaannya karena merupakan prasarana yang terdekat dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun fasilitas tersebut sering tidak diperhatikan pemeliharaannya. Hal itu berdampak kurang baik dalam proses pelayanan kesehatan. Maka sangat penting dilakukan pemeliharaan bangunan puskesmas dan pustu demi kesejahteraan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kriteria dalam menentukan prioritas pemeliharaan bangunan berdasarkan tingkat kerusakan dari komponen bangunan puskesmas dan pustu. Program Aplikasi ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang telah dikembangkan oleh Saaty dan diolah menggunakan software expert choice v.11. Penelitian ini dilakukan di seluruh bangunan puskesmas dan pustu di kabupaten Sukoharjo yang berjumlah 57 bangunan dan terdiri dari 12 bangunan puskesmas, 45 bangunan pustu. Data primer didapatkan melalui survei langsung ke lapangan dengan menggunakan form penilaian kondisi bangunan untuk memberikan nilai persentase kerusakan komponen bangunan dan untuk penilaian pembobotan di setiap komponen bangunan didapatkan melalui kuisioner yang melibatkan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukoharjo, Dinas Tata Ruang Kabupaten Sukoharjo, DPPKAD Kabupaten Sukoharjo, akademisi, konsultan, dan kontraktor. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari sumber yang telah ada (dari data penelitian terdahulu) serta sumber data yang diperoleh dari peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Hasil perhitungan dan analisis data menunjukan bahwa kondisi bangunan gedung puskesmas dan pustu di kabupaten Sukoharjo secara umum dalam kondisi cukup baik. Dari hasil penelitian dari 5 bangunan yang mengalami kerusakan paling tinggi adalah, Pustu Cemani (IKB : 68,38), Pustu Cabeyan (IKB : 68,72), Pustu Puhgogor (IKB : 69,00), Pustu Karangtengah (IKB : 72,40), Pustu Celep (IKB : 73,62).
KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG VERTIKAL TAKIKAN TIDAK SEJAJAR TIPE U LEBAR 2 CM TIAP JARAK 15 CM Heru Cahyanto; Agus Setiya Budi; Bambang Santosa
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37056

Abstract

Beton bertulang merupakan bahan konstruksi yang sering digunakan pada struktur bangunan. Kelebihan beton adalah dapat dibentuk sesuai kebutuhan, mampu menerima kuat tekan dengan baik, tahan aus, awet dan mudah perawatannya, namun saat ini harga bahan bangunan termasuk tulangan baja cukup tinggi, oleh karena itu perlu material pengganti tulangan baja yang memiliki kuat tarik cukup tinggi, lebih ekonomis dan mudah didapat. Bambu dapat menjadi alternatif bahan pengganti tulangan baja pada balok beton bertulang yang ekonomis, ramah lingkungan dan mudah didapatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kuat lentur balok beton tulangan bambu petung vertikal takikan tidak sejajar tipe U lebar 2 cm tiap jarak 15 cm. Pengujian agregat halus, agregat kasar dan pengujian karakteristik bambu digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui kelayakan material. Perencanaan rancang campur beton menggunakan metode SK SNI 03 - 2834 - 2000. Dimensi bambu yang digunakan adalah panjang 1650 mm, lebar 20 mm dan tebal 5 mm. Benda uji berbentuk balok dengan dimensi panjang 1700 mm, lebar 110 mm dan tinggi 150 mm. Nilai kuat lentur balok beton tulangan bambu adalah 5,4545 N/mm2 atau 44,1973 % dari balok beton tulangan baja dengan 12,3693 N/mm2 untuk nilai kuat lenturnya.
ANALISIS STABILITAS LERENG MENGGUNAKAN SOFWARE GEO STUDIO 2007 DENGAN VARIASI KEMIRINGAN (STUDI KASUS: BUKIT GANOMAN KAB KARANGANYAR) Meilani Adriyati; Raden Harya Dananjaya; Niken Silmi Surjandari
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36943

Abstract

Setiap daerah memiliki keadaan tanah yang beragam, baik dari segi jenis tanah, daya dukung, maupun parameter lainnya dari tanah. Tentu saja hal tersebut dapat mengakibatkan daya dukung dan parameter tanah selalu berubah. Parameter tanah tersebut mencakup sudut geser tanah dan kohesi tanah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis stabilitas lereng dengan data primer yaitu uji properties dan pengujian geser langsung, Untuk analisis statistik, dilakukan perhitungan presentase tingkat kepercayaan 95%, 90%, 85%, dan 80% atau tingkat keyakinan dari nilai Safety Factor (SF) dengan menggunakan interval (n<30). Nilai tingkat kepercayaan 95%, 90%, 85%, dan 80% menghasilkan grafik hubungan Safety Factor dengan kemiringan 36,69°, 36,87°, dan 42,51° dengan kondisi lereng yang sangat labil, dibuktikan dengan nilai rata-rata mendekati SF 1,07 yang hampir mendekati batas longsor. Nilai 95% adalah nilai tingkat keyakinan yang paling mendekati terjadinya kejadian keruntuhan lereng wilayah Bukit Gonaman, pada nilai 5% adalah presentase data yang meleset dari analisis. Kesimpulan bahwa lereng dengan kemiringan > 55° merupakan lereng dengan kondisi kritis.
KAJIAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANGAN BAMBU ORI TAKIKAN TIPE V DENGAN JARAK 2 CM DAN 3 CM Kholifah, Kharir Nur; Budi, Agus Setiya; Gunawan, Purnawan
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i3.37393

Abstract

Penggunaan beton sebagai salah satu pilihan bahan konstruksi disebabkan beton memiliki beberapa kelebihan yaitu kuat tekan yang tinggi, menggunakan bahan-bahan lokal kecuali semen portland, serta ketahanannya yang baik terhadap cuaca dan lingkungan sekitar. Kelemahan beton adalah mempunyai kekuatan tarik yang rendah, akibatnya beton sering mengalami retak jika menerima beban yang besar. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menambah kuat tarik beton. Penggunaan beton dipadukan dengan bahan yang mempunyai kuat tarik yang tinggi misalnya baja untuk meningkatkan kekuatan tarik beton. Bahan pembuatan baja merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui sehingga perlu adanya alternatife pengganti tulangan baja. Salah satu alternatif pengganti tulangan baja adalah dengan memanfaatkan bambu sebagai pengganti tulangan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan total benda uji 12 buah. Tiap variasi terdiri dari 3 sampel dengan variasi tulangan baja ø 8 mm, tulangan bambu jarak takikan 2 cm, tulangan bambu jarak 3 cm dan tanpa tulangan. Benda uji berupa balok beton dengan dimensi lebar 11 cm, tinggi 15 cm dan panjang 170 cm. Kuat tegangan lentur pada Mn balok beton dengan tulangan baja sebesar 896,636 MPa, sedangkan kuat teganagan lentur pada Mmax sebesar 916,808 MPa. Nilai kuat teganagn lentur pada Mn balok bertulangan bambu sebesar 535,987 Mpa, sedangkan kuat teganagn lentur pada Mmax balok bertulangan bambu dengan jarak takikan 2 cm sebesar 672,997 MPa dan untuk jarak tulangan 3 cm sebesar 632,127 MPa. Balok beton bertulangan bambu Ori jarak takikan 2 cm lebih kuat 1,065 % jika dibandingkan balok beton bertulangan bambu Ori jarak takikan 3 cm. Pola keruntuhan pada balok beton dengan tulangan baja maupun pada balok beton dengan tulangan bambu takikan terletak antara 1/3 bentang tengah. Keruntuhan yang demikian termasuk dalam keruntuhan lentur.