cover
Contact Name
Heliyanti Kalintabu
Contact Email
heliyantikalintabu@gmail.com
Phone
z=6285241319887
Journal Mail Official
heliyantikalintabu@iaknmanado.ac.id
Editorial Address
Jl. Bougenville, Tateli Satu, Minahasa, Sulawesi Utara, 95631.
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
DA'AT: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : -     EISSN : 27472159     DOI : https://doi.org/10.51667/djtk.v3i1.657
Core Subject : Religion,
Teologi Kristen sedangkan cakupannya adalah Sejarah dan Filsafat, Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk, Sosiologi agama, Sosio budaya yang semuanya terkait dengan teologi Kristen.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 67 Documents
TINJAUAN ETIS TEOLOGIS TERHADAP FILM 12 YEARS A SLAVE jurnal manager
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 1 No. 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.111 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v1i2.123

Abstract

Di era digital seperti sekarang ini, film merupakan salah satu produk budaya populer yang akrab dengan kehidupan masyarakat. Umumnya, film tak hanya dipandang sebagai karya seni demi tujuan hiburan saja, melainkan juga sarat dengan nilai-nilai moral yang berangkat dari pengalaman personal seseorang serta keprihatinan akan konteks sosial tertentu. Dalam posisi itulah, film Twelve Years a Slave (2014) yang diangkat dari kisah nyata Solomon Northup hendak dikaji di sini. Pengalaman rasisme dan perbudakan yang dialami Northup dikemas secara detail dan apik dalam film ini sehingga menarik untuk dianalisis secara mendalam dengan menggunakan tinjauan etis teologis.
VISI DUA KERANJANG BUAH ARA : BUAH ARA YANG BAIK DAN BUAH ARA YANG JELEK DALAM YEREMIA 24:1-10 jurnal manager
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 1 No. 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.419 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v1i2.124

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui arti dari penglihatan dua keranjang buah ara – buah ara yang baik dan buah ara yang jelek yang terkandung dalam narasi di Kitab Yeremia dan kemudian menganalisis berdasarkan prinsip hermeneutik. Hal yang hendak dicapai adalah siapa yang dimaksud dengan gambaran buah ara yang baik dan jelek? Apa yang menjadi konsekuensi dari kedua gambaran tersebut? Penelitian ini, untuk menemukan makna dalam teks tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dalam hal ini, peneliti memfokuskan penelitian pada pengkajian literature. Orang-orang Yehuda yang dibawa dari Yerusalem ke pembuangan di Babel, adalah orang-orang yang siap dideportasi ke sana. Allah memurnikan mereka melalui penderitaan dalam pembuangan, sehingga mereka akan berbalik kepada-Nya. Raja Zedekia, beserta para pemukanya, penduduk Yerusalem yang masih tinggal di Yerusalem dan di Mesir setelah penawanan yang pertama, merupakan orang-orang melanjutkan pemberontakkan yang lama – tetap tinggal dalam dosa. Karena itu, mereka mengalami kengerian luar biasa saat kejatuhan Yerusalem. Allah akan mendisiplin dengan penghukuman setiap orang berdosa. Tujuannya adalah memproses sehingga melalui pengalaman tersebut akhirnya berbalik kepada Allah. Dampak dari itu, Allah memberkatinya. Bagi orang berdosa tetapi tidak mau diproses – tetap pada perilaku dosanya, akan mendapatkan konsekuensi lebih berat. Kebenarannya “ketaatan” mendatangkan “berkat,” “ketidaktaatan” mendatangkan “kutuk.”
HUBUNGAN PARA NABI DENGAN ALLAH
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.016 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i1.232

Abstract

ABSTRAK: Artikel ini membahas mengenai hubungan Nabi dengan Allah. Di dalam Perjanjian Lama keberadaan Nabi sangat signifikan peranannya bagi bangsa Israel. Seseorang yang dipanggil menjadi Nabi oleh Tuhan terlahir dari situasi sosial, politik, budaya dan keagamaan yang sedang mengalami kemerosotan. Seorang Nabi tentunya memiliki hubungan dekat dengan Tuhan oleh karena itu ada tanggungjawab yang mesti ditunaikan oleh seorang Nabi sebagai perantara dalam menyampaikan pesan Ilahi kepada bangsa Israel. Tujuan dari artikel ini agar setiap pembaca memiliki pemahaman teologis yang holistik mengenai bagaimana hubungan Nabi dengan Allah. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini ialah metode kualitatif. Kesimpulan dari artikel ini ialah Nabi adalah mitra Allah, ia ditugaskan dengan tujuan agar bangsa Israel mau selalu mengingatkan sejarah yang dialami nenek moyang mereka, tidak mengikuti ilah-ilah palsu dan juga mentaati hukum Taurat sebagai pemberiaan Allah.
FILOSOFI HUMA BETANG SUKU DAYAK NGAJU SEBAGAI UPAYA PEMBINAAN GEREJA SECARA KONTEKSTUAL BERDASARKAN KISAH PARA RASUL 2:42-47
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.478 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i1.361

Abstract

Suku Dayak Ngaju merupakan suku yang berada di Kalimantan Tengah yang memiliki filosofi unik dari Huma Betang yang dimilikinya. Sebagai warga Dayak Ngaju, mengatur nilai filosofi dari Huma Betang . Meninjau filosofi Huma Betang tersebut secara alkitabiah, didapati ada keselarasan dengan gaya hidup jemaat mula-mula yang disajikan dalam Kisah Para Rasul 2: 42-47. Dengan demikian, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kontekstualisasi pembinaan umat mengenai fungsi gereja berdasarkan Kisah Para Rasul 2: 42-47 melalui filosofi Huma Betangsuku Dayak Ngaju? Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam penelitian ini. Data seperti literatur-literatur dan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan topik ini diamati dan diolah guna menemukan informasi yang tepat. Kemudian penulis memaparkan hasil penelitian secara sistematis. Adapun hasil dari penelitian ini adalah filosofi Huma Betang yaitu nilai kebersamaan, nilai kejujuran, nilai kesetaraan, dan nilai kekeluargaan secara berurutan dikontekstualisasikan sebagai persekutuan, integritas diri, kasih sesama, dan sebagai anggota tubuh Kristus. Kesimpulannya adalah upaya kontekstualisasi filosofi Huma Betang menjadi rujukan yang baik dalam melakukan pembinaan gereja dalam suku Dayak Ngaju.
Sansiotte Sampate-pate Sebagai Suatu Refleksi Teologi Kontekstual Dalam Misi Gereja
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.352 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i1.363

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran dan fungsi gereja dalam hubungannya dengan kebudayaan suatu daerah, secara khusus kebudayaan sansiotte sampate-pate, untuk dijadikan sebagai suatu refleksi teologi kontekstual. Tulisan ini menggunakan pendekatan kebudayaan khususnya sansiote sampate-pate yang mempunyai peran, nilai-nilai dan relevansi nilai dari budaya sansiotte sampate-pate dalam kehidupan gereja. Gereja dalam misi pelayanannya harus mampu berbuat sesuatu dalam tugas misinya untuk melestarikan dan mengoperasionalkan nilai budaya sansiotte sampate-pate, agar dipakai sebagai sarana misi pemberitaan Injil untuk terciptanya teologi yang kontekstual.
IMPLEMENTASI PENGAJARAN EKOTEOLOGI PADA JEMAAT GMIM IMANUEL BUNTONG Sudirman Porobaten
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.326 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i1.390

Abstract

Mengabarkan Injil merupakan salah satu tugas gereja (orang Kristen) yang paling penting dan paling mendasar. Pekabaran Injil seringkali dipahami oleh gereja sebagai upaya untuk menambahkan jumlah anggota dalam gereja, sehingga pekabaran Injil hanya dibatasi kepada manusia. Pekabaran Injil yang benar yang diajarkan oleh Yesus bukanlah seperti apa yang dipahami oleh gereja saat ini. Dalam Markus 16:15 menjelaskan bahwa pekabaran Injil tidak hanya dibatasi kepada manusia, tetapi pekabaran Injil mencakup seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah. Seharusnya gereja pada saat ini mulai melihat situasi yang sedang terjadi di sekitarnya, salah satunya mengenai kerusakan lingkungan hidup yang membawa dampak bagi seluruh makhluk/ciptaan. Kepedulian gereja terhadap kerusakan lingkungan hidup, yang semakin hari semakin memprihatinkan dan banyak menelan korban, sebenarnya merupakan salah satu cara pekabaran Injil yang baik dan relevan pada masa kini. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan bagi jemaat tentang bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap ciptaan Tuhan lainnya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka penulis menggunakan metode penelitian pustaka, yakni membandingkan berbagai literatur, baik itu buku-buku, artikel, maupun jurnal yang berkaitan dengan pembahasan di atas. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberi pemahaman sekaligus menyadarkan gereja akan pentingnya pendidikan Gereja yang berkenaan dengan lingkungan hidup. Melalui pendidikan, gereja membekali setiap anggota jemaatnya serta menyadarkan mereka bahwa mereka memiliki tanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup.
PERSPEKTIF IMAN KRISTEN TERHADAP PEMBERIAN MAHAR SUKU DAYAK BERUSU, KECAMATAN MALINAU BARAT, KABUPATEN MALINAU, KALIMANTAN UTARA Royke Kumowal
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.71 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i1.391

Abstract

Kedudukan mahar (jujuran) dalam kebudayaan Dayak Bulusu adalah sebagai syarat sah perkawinan. Namun demikian, Alkitab maupun hukum positif Indonesia tidak menentukan jenis, bentuk, dan jumlah mahar. Karena setiap orang berbeda-beda tingkat kekayaan dan kemiskinannya. Dalam sistem perkawinan adat Dayak Bulusu, secara faktual terdapat tata cara sendiri dan unik dalam menentukan bentuk dan jumlah mahar. Pertanyaan pokok dalam masalah ini adalah: Pertama, bagaimana praktek mahar (jujuran) perkawinan adat dayak Bulusu? Kedua, bagaimana sikap gereja menyikapi budaya adat dayak bulusu, ketiga, apakah jujuran menunjukkan prestise dalam masyarakat? Keempat, sampai di manakah kedudukan mahar dalam adat istiadat dayak Bulusu? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Mengambil lokasi penelitian di Desa Sesua, kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa tokoh masyarakat dan beberapa tokoh adat, dan pihak-pihak yang ada kaitan dengan penetapan mahar yang Penulis anggap perlu dan juga wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar (jujuran) adat adalah sebuah inti kebudayaan, di mana sesuatu yang sulit berubah. Hal ini dibuktikan dengan tidak bisanya digantikan tempayan jana bumbung dengan benda lainnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tempayan menuntut kesiapan lahir batin dan kesepadanan bukan menunjukkan strata sosial dalam bermasyarakat.
EKSPOSITORI KEJADIAN 11:1-9: DALAM MEMAKNAI PERAN AWAL KEMUNCULAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Yudi Fernando Pangemanan; Grant Nixon
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.442 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i2.502

Abstract

Artikel ini membahas hubungan antara peristiwa keruntuhan Menara Babel dalam Perjanjian Lama, serta bagaimana memaknainya sebagai berkat Komunikasi. Keruntuhan Menara Babel bukan hanya dipandang sebagai murka TUHAN sehingga mengacaubalaukan bahasa dan logat, tetapi bisa juga dipandang sebagai bentuk lain dari cara TUHAN memperkenalkan diri-Nya. Artikel ini hendak memberi kontribusi pemikiran teologis sekaligus advokasi terhadap komunikasi lintas budaya untuk menciptakan jati diri yang benar melalui analisis narasi Kejadian 11:1-9. Analisis ini bertujuan untuk meninjau dengan baik teks yang berkontribusi bagi peran komunikasi lintas budaya. Sehingga analisis ini diharapkan bermanfaat memperkaya khazanah pemikiran teologi terkait narasi Kejadian 11:1-9 dan memberi penekanan bagi pentingnya pembahasan mengenai komunikasi lintas budaya dari refleksi peristiwa keruntuhan Menara Babel dalam pemikiran teologis serta pelayan an gerejawi. Pada akhirnya komunikasi lintas budaya juga menjadi faktor hubungan yang ideal dalam menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama serta berperan penting dalam memperkenalkan hal baru yang belum diketahui oleh pihak lain. Sehingga secara keseluruhan dapat ditarik kontekstual yang utuh untuk menjelaskan pemaknaan komunikasi lintas budaya melalui peristiwa menara Babel.
MAKNA KATA TANDA DALAM INJIL YOHANES DAN KORELASINYA DENGAN MISI MASA KINI Mintoni Asmo Tobing; Adventrianis Daeli
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.734 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i2.508

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna kata tanda dalam injil Yohanes dan korelasinya terhadap misi masa kini, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan eksegese. Melalui penelitian ini ditemukan; pertama: kata tanda dalam injil Yohanes memakai semeion, yang berarti penunjuk arah tentang si Pelaku / Pembuat tanda. Semua tanda bertujuan untuk membawa seseorang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup sehingga mereka memiliki hidup yang kekal. Kedua, makna tanda dalam injil Yohanes menjadi koreksi bagi Kristen fundamentalis dan Kristen liberal dan pluralis dalam memahami gerakan misi. Puncak dari pelayanan misi tidak hanya sampai kepada pelayanan sosial belaka, namun klimaks dari pelayanan misi adalah pemberitaan Injil. Ketiga, adanya korelasi erat antara makna tanda dalam injil Yohanes dengan misi masa kini, menjadi landasan yang kuat dan mendasar dalam memahami apa, mengapa dan bagaimana gereja bermisi di masa kini. Gereja-gereja harus kembali kepada konsep ortodoks tentang misi.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATA KULIAH LOGIKA DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI ZOOM CLOUD MEETINGS DI IAKN MANADO David Rade Manat Simanjuntak
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.153 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i2.511

Abstract

Proses Pembelajaran pada IAKN Manado pada masa pandemi Covid-19 saat ini, menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Salah satu aplikasi yang sangat digemari oleh dosen adalah zoom cloud meetings. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan aplikasi zoom cloud meetings dalam proses pembelajaran logika terhadap mahasiswa semester III Program Studi Teologi Fakultas Teologi IAKN Manado. Untuk mewujudkan tujuan penelitian ini, maka penulis menggunakan metode kualitatif. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 69.9 % memandang penggunaan zoom cloud meetings tidak efektif dalam proses pembelajaran. Beberapa faktor yang menyebabkannya adalah jaringan tidak stabil, penggunaan paket data yang boros, dan minimnya ikatan emosional antara dosen dan mahasiswa. Kendala tersebut terjadi karena beberapa mahasiswa tinggal di daerah 3 T (terluar, terdalam, terdepan), tidak adanya perangkat wifi yang luas dan teknologi pada smartphone yang tidak mendukung.