cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 189 Documents
ANAPHYLACTIC SHOCK DUE TO BEE BROOD AND DRONE CONSUMPTION: A RARE CASE Farah Ibnu Khan; Laurentius Johan Ardian
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11358

Abstract

Anaphylactic shock is severe manifestation of anaphylactic reaction. Anaphylactic is rapid onset systemic hypersensitivity reaction and potentially life threatening. The trigger factors of anaphylactic is various. One of them is animal venom such as honey bee venom from Hymenoptera order. Anaphylactic due to bee drone brood consumption is rarely reported. In this case, will be presented a 19-year-old male who comes to emergency department with hypotension, tachycardia, angioedema, general urticarial, and high level of leucocyte after an hour consumed bee drone and brood food product. In emergency department, soon after he came, was given epinephrine 0,3 ml intravena, hemodynamics stabilization, and he was treated in hospital. After one day treated, there was no other symptoms and there was improvement of conditions. By the advice of internist, patient was discharged. Food allergy by the honeybee and the product is rarely reported but it can be a life-threatening case. The right and rapid therapy is very needed in this case for giving the best output for the patient. ABSTRAK Syok anafilaksis merupakan suatu manifestasi dari reaksi anafilaksis berat. Anafilaksis sendiri adalah reaksi hipersensitivitas sistemik dengan onset cepat yang dapat menyebabkan kematian. Faktor pemicu anafilaksis beraneka ragam salah satunya adalah racun dari hewan salah satunya adalah lebah madu dari ordo hymenoptera. Kasus anafilaksis akibat konsumsi larva, pupa, dan lebah muda sendiri masih jarang dilaporkan. Pada laporan kasus kali ini akan dipaparkan tentang seorang laki-laki berusia 19 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan hipotensi, takikardia, angioedema, urtikaria generalisata, dan peningkatan leukosit setelah mengonsumsi makanan olahan dari tawon. Saat di Instalasi Gawat Darurat pasien diberikan injeksi epinefrin 0,3 ml secara intravena segera setelah pasien datang dan dilakukan stabilisasi hemodinamik serta rawat inap di Rumah Sakit. Satu hari setelah perawatan tidak ada gejala tambahan dan terdapat perbaikan kondisi, atas advis dokter spesialis penyakit dalam, pasien dipulangkan. Alergi makanan olahan dari tawon memang jarang dilaporkan, namun dapat menjadi kasus yang mengancam nyawa. Tatalaksana yang cepat dan tepat sangat diperlukan pada kasus seperti ini untuk dapat memberikan output yang baik.  
ANALISIS KARAKTERISTIK PERILAKU ANAK DENGAN DUGAAN ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) DI SEKOLAH DASAR Siti Khoiria; Widya Yasfi Nabila; Ahmad Fajar Ridha Rizqillah; Aprilia Nurul Khusnah; Juhairiyah Juhairiyah; Nova Estu Harsiwi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11360

Abstract

This research was motivated by the presence of elementary school students who showed hyperactive behavior, difficulty concentrating, and difficulty controlling their behavior during the learning process. These conditions indicate suspected Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), which can affect student participation in classroom learning. This study aimed to analyze the behavioral characteristics of children with suspected ADHD in fourth-grade students at SDN Keleyan 1. The research used a qualitative approach with a descriptive research design. The informants consisted of the fourth-grade homeroom teacher and fourth-grade students of SDN Keleyan 1 in the 2025/2026 academic year. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis employed the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that students with suspected ADHD demonstrated characteristics of inattention, hyperactivity, and impulsivity, such as difficulty focusing, being easily distracted, inability to sit calmly, frequently moving around, and difficulty controlling behavior and emotions during learning activities. These conditions affected both academic and social aspects of the learning process. Teachers implemented strategies such as ice breaking activities, the use of visual media, and interactive learning methods to improve students’ focus and engagement in classroom learning. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya peserta didik sekolah dasar yang menunjukkan perilaku hiperaktif, sulit memusatkan perhatian, serta kesulitan mengontrol perilaku selama proses pembelajaran berlangsung. Kondisi tersebut mengarah pada dugaan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang dapat memengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik perilaku anak dengan dugaan ADHD pada siswa kelas IV di SDN Keleyan 1. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini terdiri atas wali kelas IV dan siswa kelas IV SDN Keleyan 1 tahun pelajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan dugaan ADHD memiliki karakteristik inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang tampak melalui perilaku sulit fokus, mudah terdistraksi, tidak dapat duduk tenang, sering berpindah tempat, serta kurang mampu mengontrol perilaku dan emosi selama pembelajaran. Kondisi tersebut berdampak pada proses pembelajaran baik secara akademik maupun sosial. Guru menerapkan strategi berupa ice breaking, penggunaan media visual, dan metode pembelajaran interaktif untuk membantu meningkatkan fokus serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran.    
DETERMINAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA USIA 12–59 BULAN DI PROVINSI DIY (ANALISIS DATA SKI 2023) Evi Sofiana; Arulita Ika Fibriana; Yunita Dyah Puspita Santik
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11055

Abstract

ABSTRACT Pneumonia is an acute lung infection caused by bacteria, viruses, fungi, or parasites and remains a leading cause of morbidity and mortality among infants and children under five. In Indonesia, the prevalence of pneumonia among children under five in 2024 reached 52.7%. This condition indicates that pneumonia among children under five remains a significant public health problem requiring serious attention regarding associated risk factors. This study aimed to analyze the determinants of pneumonia among children aged 12–59 months in the Special Region of Yogyakarta using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The study employed a quantitative analytic survey method with a cross-sectional design. Data analysis used the chi-square test and logistic regression. The results showed that household waste management (p-value = 0.046) and PCV immunization status (p-value = 0.005) were significantly associated with pneumonia among children aged 12–59 months in the Special Region of Yogyakarta. Meanwhile, birth weight, sex, vitamin A supplementation, maternal education, maternal employment status, type of house flooring, cooking fuel, and mosquito repellent use were not significantly associated with pneumonia incidence. Multivariable analysis identified PCV immunization status as the most dominant determinant of pneumonia among children aged 12–59 months in the Special Region of Yogyakarta, emphasizing the importance of PCV immunization coverage for prevention. ABSTRAK Pneumonia merupakan infeksi akut pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, maupun parasit, dan masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas pada bayi dan balita. Di Indonesia, prevalensi pneumonia balita pada tahun 2024 tercatat sebesar 52,7%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pneumonia pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius, khususnya terkait faktor-faktor yang memengaruhi kejadiannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Provinsi DIY menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian menggunakan metode kuantitatif survei analitik dengan desain cross sectional. Analisis data dilakukan melalui uji bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga (p-value = 0,046) dan status imunisasi PCV (p-value = 0,005) dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Provinsi DIY. Sementara itu, berat badan lahir, jenis kelamin, pemberian vitamin A, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, jenis lantai rumah, bahan bakar memasak, dan penggunaan obat nyamuk tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi PCV merupakan determinan paling dominan terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Provinsi DIY. Temuan ini menegaskan pentingnya cakupan imunisasi PCV sebagai upaya pencegahan pneumonia pada balita.
INTEGRASI SISTEM PELAYANAN JANTUNG DAN PEMBIAYAAN BPJS KESEHATAN: UPAYA PENINGKATAN EFEKTIVITAS DAN KEBERLANJUTAN LAYANAN KARDIOLOGI Saman Saman; Novica Aryanti Putri; Hasni Hasni
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11163

Abstract

The high rate of cardiovascular disease in Indonesia places cardiology services as the largest budget absorber in the National Health Insurance program. This catastrophic burden demands regulatory alignment to avoid fragmented operational flows and financial overruns. This study focuses on analyzing the importance of integrating the cardiac care system with the BPJS Kesehatan financing mechanism to improve the effectiveness of cardiology services. A descriptive qualitative approach was applied through a systematic literature review of policy documents and scientific publications published over the past five years. The study findings indicate that synchronizing the tiered referral system, utilizing electronic medical records, and updating the INA-CBGs claims platform can accelerate medical care while significantly reducing operational cost inefficiencies. However, current implementation in the field is considered partial due to unequal distribution of facilities and unequal interoperability of national digital data. The main conclusion emphasizes that comprehensive integration between clinical, digital, and financial aspects is a crucial strategy for maintaining the quality of cardiology services. Policymakers are recommended to strengthen real-time data governance to achieve claims transparency and ensure long-term sustainability of health financing. ABSTRAK Tingginya angka penyakit kardiovaskular di Indonesia menempatkan layanan kardiologi sebagai penyerap anggaran terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Besarnya beban katastropik ini menuntut keselarasan regulasi demi menghindari fragmentasi alur operasional dan pembengkakan finansial. Fokus penelitian ini adalah menganalisis pentingnya integrasi sistem pelayanan jantung dengan mekanisme pembiayaan BPJS Kesehatan guna meningkatkan efektivitas layanan kardiologi. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan melalui studi literatur sistematis terhadap dokumen kebijakan serta publikasi ilmiah terbitan lima tahun terakhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sinkronisasi sistem rujukan berjenjang, pemanfaatan rekam medis elektronik, dan pembaruan platform klaim INA-CBGs mampu mempercepat penanganan medis sekaligus mereduksi inefisiensi biaya operasional secara signifikan. Namun, implementasi di lapangan saat ini dinilai masih parsial akibat ketimpangan distribusi fasilitas serta belum meratanya interoperabilitas data digital nasional. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi menyeluruh antara aspek klinis, digital, dan finansial merupakan strategi krusial untuk menjaga kualitas pelayanan kardiologi. Pemangku kebijakan direkomendasikan untuk memperkuat tata kelola data waktu nyata (real-time) guna mewujudkan transparansi klaim dan menjamin keberlanjutan pembiayaan kesehatan jangka panjang.  
PENGARUH AROMATERAPI LAVENDER DAN MUROTTAL AL-QURAN SURAH AR-RAHMAN TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUHJARAK KABUPATEN KEDIRI Maulida Aprilia Rahma; Lumastari Ajeng Wijayanti
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11453

Abstract

ABSTRACT As childbirth approaches, primigravida women frequently experience anxiety due to limited prior experience and uncertainty regarding the labor process. Various non-pharmacological interventions have been utilized to alleviate this condition; however, studies directly comparing the effectiveness of lavender aromatherapy and the recitation of Surah Ar-Rahman from the Holy Qur’an remain limited. This study was conducted to examine changes in anxiety levels following both interventions and to assess potential differences in their effectiveness. A quantitative approach with a two-group pretest–posttest design was employed involving 36 third-trimester primigravida women in the working area of Puhjarak Primary Health Center, Kediri Regency, selected through simple random sampling. Anxiety levels were assessed using the Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS) and analyzed using the Wilcoxon and Mann–Whitney tests. Initial assessments indicated that most participants experienced moderate to severe anxiety. Following the interventions, both the lavender aromatherapy group and the Surah Ar-Rahman recitation group demonstrated a significant reduction in anxiety levels (p<0.001). Nevertheless, the between-group analysis revealed no statistically significant difference in effectiveness (p=0.476). These findings suggest that both interventions possess relatively comparable potential in reducing anxiety among third-trimester primigravida women. The comparable benefits observed in this study support a more flexible approach to antenatal care, allowing intervention choices to be tailored to individual needs, comfort, and personal preferences. ABSTRAK Menjelang persalinan, ibu hamil primigravida sering menghadapi kecemasan yang dipengaruhi oleh minimnya pengalaman serta berbagai ketidakpastian terkait proses kelahiran. Beragam intervensi nonfarmakologis telah digunakan untuk membantu mengurangi kondisi tersebut, namun kajian yang membandingkan secara langsung efektivitas aromaterapi lavender dan murottal Al-Qur’an Surah Ar-Rahman masih relatif terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi perubahan tingkat kecemasan setelah pemberian kedua intervensi tersebut sekaligus menilai perbedaan efektivitas di antara keduanya. Pendekatan kuantitatif dengan desain two-group pretest-posttest diterapkan pada 36 ibu hamil primigravida trimester III di wilayah kerja Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri yang dipilih melalui simple random sampling. Tingkat kecemasan diidentifikasi menggunakan Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS), kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Gambaran awal menunjukkan mayoritas responden berada pada tingkat kecemasan sedang hingga berat. Setelah intervensi diberikan, baik kelompok aromaterapi lavender maupun kelompok murottal Al-Qur’an Surah Ar-Rahman memperlihatkan penurunan kecemasan yang signifikan (p<0,001). Meskipun demikian, analisis antar kelompok tidak menunjukkan perbedaan efektivitas yang bermakna (p=0,476). Temuan ini mengindikasikan bahwa kedua intervensi memiliki kemampuan yang relatif setara dalam membantu menurunkan kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester III. Kesetaraan manfaat tersebut membuka peluang penerapan pendekatan yang lebih fleksibel dalam pelayanan antenatal, sehingga pemilihan intervensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kenyamanan, dan preferensi masing-masing ibu hamil.
PERBEDAAN PENGETAHUAN TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI ANTARA MEDIA ZOOM DAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PADA REMAJA PUTRI Eka Lestari Kusumaning Tya; Lumastari Ajeng Wijayanti
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11472

Abstract

ABSTRACT The increasing accessibility of digital technology has created new opportunities for delivering health education to adolescent girls, including education on breast self-examination (BSE) as an important strategy for the early detection of breast cancer. However, the effectiveness of different digital media in conveying health information remains an important area of investigation, particularly among adolescents whose learning and communication patterns differ from those of previous generations. This study was conducted to examine differences in BSE knowledge acquisition following educational interventions delivered through Zoom and Instagram. A quasi-experimental design was employed involving a population of 51 adolescent girls. A total of 36 respondents were selected using simple random sampling and assigned to either the Zoom or Instagram education group. Knowledge levels were assessed using questionnaires administered before and after the intervention and were analyzed using the Mann–Whitney test. The findings revealed a significant difference in knowledge improvement between the two groups, with a p-value of 0.000 (<0.05). Although both media contributed to increased knowledge regarding BSE, a greater improvement was observed among participants who received education through Instagram. These findings suggest that media platforms offering flexible and repeatable access to information may provide stronger educational benefits. Therefore, Instagram may be considered an effective health promotion medium for improving adolescent girls’ knowledge of BSE. ABSTRAK Kemudahan akses informasi melalui teknologi digital membuka peluang baru dalam penyampaian edukasi kesehatan kepada remaja putri, termasuk terkait pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagai langkah deteksi dini kanker payudara. Namun, efektivitas media digital yang digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan masih memerlukan kajian lebih lanjut, terutama pada kelompok remaja yang memiliki kebiasaan belajar dan berinteraksi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kajian ini diarahkan untuk melihat perbedaan capaian pengetahuan SADARI setelah pemberian edukasi melalui Zoom dan Instagram. Pendekatan yang digunakan adalah quasi experimental dengan melibatkan 51 remaja putri sebagai populasi. Sebanyak 36 responden dipilih melalui teknik simple random sampling dan ditempatkan pada kelompok edukasi Zoom serta Instagram. Pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan Uji Mann–Whitney. Hasil analisis memperlihatkan adanya perbedaan peningkatan pengetahuan yang bermakna antara kedua kelompok dengan nilai ρ-value 0,000 (<0,05). Meskipun kedua media mampu meningkatkan pemahaman responden mengenai SADARI, peningkatan yang lebih tinggi ditemukan pada kelompok yang memperoleh edukasi melalui Instagram. Temuan ini menunjukkan bahwa media yang memungkinkan akses informasi secara lebih fleksibel dan dapat diakses kembali berpotensi memberikan dampak edukatif yang lebih kuat. Oleh karena itu, Instagram dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif media promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai SADARI.
PENGARUH POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI Eni Subiastutik; Farika Novita R
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.12269

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a developmental stage characterized by increased nutritional requirements, making inadequate dietary intake a potential contributor to various health problems, including anemia. This condition remains prevalent among adolescent girls and continues to be a public health concern in Jember Regency, where its occurrence is relatively high. Within this context, dietary quality is considered a modifiable factor that may influence hemoglobin status and warrants further investigation across different adolescent age groups. This study involved 102 female adolescents selected through proportionate stratified random sampling. Information on dietary habits was obtained using a structured questionnaire, while anemia status was determined through hemoglobin measurements using a digital Hb meter. A comparative cross-sectional approach was employed to examine the relationship between dietary patterns and anemia and to compare anemia conditions between early and late adolescents. The collected data were analyzed using ordinal regression. The findings revealed that 50% of respondents had moderately adequate dietary patterns, while 58% demonstrated normal hemoglobin levels. However, anemia was observed more frequently among early adolescents than among late adolescents. Statistical analysis confirmed a significant association between dietary patterns and the occurrence of anemia (p < 0.05). These results indicate that dietary quality plays a substantial role in shaping anemia status among adolescent girls. Therefore, efforts to improve eating habits should be prioritized within health promotion and prevention programs, particularly for age groups that are more vulnerable to anemia. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode yang ditandai dengan peningkatan kebutuhan zat gizi, sehingga ketidakseimbangan asupan makanan dapat berdampak pada berbagai masalah kesehatan, termasuk anemia. Kondisi ini masih banyak ditemukan pada remaja putri dan menjadi perhatian di Kabupaten Jember karena prevalensinya yang relatif tinggi. Dalam konteks tersebut, kualitas pola makan dipandang sebagai salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi status hemoglobin dan perlu dikaji lebih lanjut pada kelompok usia yang berbeda. Penelitian ini melibatkan 102 remaja putri yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Informasi mengenai kebiasaan makan diperoleh menggunakan kuesioner, sedangkan status anemia ditentukan melalui pengukuran kadar hemoglobin menggunakan Hb meter digital. Pendekatan cross-sectional digunakan untuk menggambarkan hubungan antarvariabel sekaligus membandingkan kondisi antara remaja awal dan remaja akhir. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan regresi ordinal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 50% responden berada pada kategori pola makan cukup dan 58% memiliki kadar hemoglobin dalam rentang normal. Meskipun demikian, kelompok remaja awal memperlihatkan kecenderungan mengalami anemia lebih besar dibandingkan kelompok remaja akhir. Analisis statistik mengonfirmasi adanya hubungan yang bermakna antara pola makan dan kejadian anemia dengan nilai signifikansi p < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kualitas konsumsi pangan memiliki peran penting dalam pengendalian anemia pada remaja putri, terutama pada kelompok usia yang menunjukkan tingkat kerentanan lebih tinggi.
AUTOKORELASI SPASIAL KASUS TUBERKULOSIS (TBC) DAN KAITANNYA DENGAN KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA TANGERANG SELATAN Azhari Dasra; Chotib Chotib
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.12377

Abstract

Tuberculosis (tuberculosis/TB) remains a major public health problem in peripheral urban areas such as South Tangerang City. This study aims to map the spatial distribution patterns of TB across 54 sub-districts in South Tangerang City and to analyze its relationship with population density. The study employs an Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) approach using the Univariate Moran’s I and Local Indicators of Spatial Association (LISA) tests with GeoDa software, as well as the Spearman Rank correlation test using Stata. The results of the Moran’s I analysis show a value of 0.05802, indicating very weak positive spatial autocorrelation at the city-wide macro level. However, the local LISA analysis successfully identifies four sub-districts as hotspots (High–High) and two sub-districts as spatial outliers exhibiting contrasting characteristics with their surrounding areas. Furthermore, the Spearman Rank correlation test reveals that population density has no significant relationship with TB prevalence (p = 0.4158). These findings suggest that TB control policies cannot be based solely on macro-level population density but must instead focus on micro-scale spatial risk clusters and consider environmental and behavioral determinants. ABSTRAK Tuberkulosis (tuberculosis/TBC) masih menjadi masalah kesehatan utama di kawasan urban periferal seperti Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola persebaran spasial TBC pada 54 kelurahan di Kota Tangerang Selatan serta menganalisis hubungannya dengan kepadatan penduduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) melalui uji Univariate Moran’s I dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) dengan perangkat GeoDa, serta uji korelasi Spearman Rank menggunakan Stata. Hasil analisis Moran’s I menunjukkan nilai indeks sebesar 0,05802 yang mengindikasikan adanya autokorelasi spasial positif sangat lemah pada tingkat makro kota. Namun, analisis lokal LISA berhasil mengidentifikasi empat kelurahan sebagai hotspot (High–High) serta dua kelurahan sebagai spatial outlier yang menunjukkan perbedaan karakteristik dengan wilayah sekitarnya. Selanjutnya, hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi TBC (p = 0,4158). Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi kebijakan pengendalian TBC tidak dapat hanya didasarkan pada kepadatan penduduk secara makro, tetapi perlu diarahkan pada skala mikro melalui identifikasi klaster risiko lokal serta mempertimbangkan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
ANALISIS MODEL SEIRS TERHADAP SELF-DIAGNOSIS DAN SELF-MEDICATION AKIBAT PAPARAN KONTEN KESEHATAN DI MEDIA SOSIAL Marvel Grace Maukar; Rygel Angkaa Nigel Marthing; Patricia Putri Pinatik; Tesalonika Junira Mogi; Riedel Jonathan Langitan; Julyan Davino Asrisal Salarupa
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.12380

Abstract

This study examines the dynamics of self-diagnosis and self-medication behaviors influenced by exposure to health-related content on social media using a mathematical modeling approach. The increasing reliance of the public on unverified online health information may lead to inappropriate health decision-making, necessitating an analysis of its spread within the population. The results show that the basic reproduction number is . In addition, an endemic equilibrium exists, and stability analysis indicates that the disease-free equilibrium (DFE) is unstable, while the endemic equilibrium is stable. These findings suggest that such behaviors may persist in the population if no effective intervention is implemented. Therefore, improving digital literacy and public health education is crucial to reduce the spread of misleading health information. Synergy between policymakers and digital platforms is required to design comprehensive control strategies to mitigate the negative impacts of health mis information in society. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji dinamika perilaku diagnosis mandiri (self-diagnosis) dan pengobatan mandiri (self-medication) yang dipengaruhi oleh paparan konten kesehatan di media sosial melalui pendekatan pemodelan matematika. Meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap informasi kesehatan daring yang belum terverifikasi berpotensi mendorong pengambilan keputusan kesehatan yang tidak tepat, sehingga perlu dianalisis pola penyebarannya dalam populasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai bilangan reproduksi dasar adalah . Selain itu, ditemukan adanya titik kesetimbangan endemik, dengan hasil analisis kestabilan yang menunjukkan bahwa titik kesetimbangan bebas penyakit (disease-free equilibrium/DFE) bersifat tidak stabil, sedangkan titik kesetimbangan endemik bersifat stabil. Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku diagnosis dan pengobatan mandiri berpotensi bertahan dalam populasi apabila tidak dilakukan intervensi yang efektif. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital dan edukasi kesehatan menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran informasi kesehatan yang menyesatkan. Sinergi antara pemangku kebijakan dan platform digital diperlukan untuk merancang strategi pengendalian yang komprehensif guna meminimalkan risiko dampak negatif misinformasi kesehatan di masyarakat.
HUBUNGAN KONSUMSI FATTENING FOODS DENGAN RASIO LINGKAR PINGGANG PINGGUL (RLPP) DAN BODY ROUNDESS INDEX (BRI) PADA REMAJA DI SMA NEGRI SURAKARTA Riska Ariana; Dyah Intan Puspitasari; Firmansyah Firmansyah
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.12139

Abstract

ABSTRACT Central obesity among adolescents has become an increasingly important public health issue due to changes in dietary patterns and modern lifestyles. Consumption of fattening foods, such as fast food, fried foods, high-sugar foods, and high-fat foods, is suspected to contribute to increased body fat distribution, as measured by the Waist-to-Hip Ratio (WHR) and Body Roundness Index (BRI). This study aimed to analyze the relationship between fattening food consumption and WHR and BRI among adolescents in public senior high schools in Surakarta. This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 140 respondents selected using a multistage random sampling technique from four public senior high schools in Surakarta. Data on fattening food consumption were collected using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), while WHR and BRI were assessed through anthropometric measurements of waist circumference, hip circumference, and height. Data were analyzed descriptively and bivariately using the Pearson Product-Moment or Spearman Rank correlation test according to data distribution. The results showed p-values of 0.203 for the association between fattening food consumption and WHR and 0.275 for BRI. Although no statistically significant association was found, adolescents with excessive fattening food consumption tended to have higher WHR and BRI values than those with normal or deficient consumption. In conclusion, fattening food consumption was not significantly associated with WHR or BRI among adolescents. Nevertheless, excessive consumption of high-fat and high-sugar foods should be monitored because it may increase the risk of central obesity and metabolic disorders. ABSTRAK Obesitas sentral pada remaja menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat seiring perubahan pola makan dan gaya hidup modern. Konsumsi fattening foods seperti fast food, gorengan, makanan tinggi gula, dan makanan tinggi lemak diduga berkontribusi terhadap peningkatan distribusi lemak tubuh yang diukur melalui Rasio Lingkar Pinggang Pinggul (RLPP) dan Body Roundness Index (BRI). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konsumsi fattening foods dengan RLPP dan BRI pada remaja di SMA Negeri Surakarta. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 140 responden yang dipilih menggunakan teknik multistage random sampling di empat SMA Negeri Surakarta. Data konsumsi fattening foods diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sedangkan RLPP dan BRI diukur melalui antropometri lingkar pinggang, lingkar panggul, dan tinggi badan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji Pearson Product Moment atau Rank Spearman sesuai distribusi data. Hasil menunjukkan nilai p=0,203 untuk hubungan konsumsi fattening foods dengan RLPP dan p=0,275 dengan BRI. Meskipun demikian, responden dengan konsumsi fattening foods berlebih cenderung memiliki nilai RLPP dan BRI lebih tinggi dibandingkan kelompok konsumsi normal dan defisit. Kesimpulannya, konsumsi fattening foods tidak berhubungan signifikan dengan RLPP maupun BRI pada remaja. Namun, konsumsi makanan tinggi lemak dan gula tetap perlu diperhatikan karena berpotensi meningkatkan risiko obesitas sentral dan gangguan metabolik.