cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 189 Documents
ANALISIS SWOT UNTUK PENENTUAN STRATEGI MANAJERIAL DALAM MENERAPKAN PROLANIS DI KLINIK SMC BANYUSARI Ayu Saraswati Apsari; Rian Andriani; Rinawati Rinawati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9202

Abstract

Low participation in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) remains a major challenge for primary healthcare facilities, including SMC Banyusari Clinic in Denpasar. Clinic records show that the average monthly attendance rate of Prolanis participants is approximately 21.2%, which is below the minimum target of 50% set by the National Health Insurance Agency (BPJS Kesehatan). This study aims to analyze internal and external factors using a SWOT analysis to determine appropriate managerial strategies for improving the implementation of the Prolanis program at SMC Banyusari Clinic. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews involving six informants, consisting of the clinic head, Prolanis officer, and Prolanis participants. The data were analyzed using the Internal Factors Analysis Summary (IFAS) and External Factors Analysis Summary (EFAS) matrices. The findings indicate that the clinic’s internal strengths outweigh its weaknesses, reflected by an IFAS score of 1.31, while external opportunities exceed existing threats, with an EFAS score of 1.12. These results place the clinic in a stable growth strategic position, enabling program improvement through the optimization of internal resources and the utilization of external opportunities. Recommended managerial strategies include strengthening participant-centered health education, enhancing the role of Prolanis officers, utilizing information technology, and developing collaboration with local communities and village authorities. Implementing these strategies is expected to sustainably increase Prolanis participant attendance at SMC Banyusari Clinic. ABSTRAK Rendahnya tingkat partisipasi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi permasalahan yang dihadapi oleh berbagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk Klinik SMC Banyusari di Kota Denpasar. Data klinik menunjukkan bahwa rata-rata kehadiran peserta Prolanis hanya sekitar 21,2% per bulan, masih berada di bawah target minimal BPJS Kesehatan sebesar 50%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal melalui analisis SWOT guna menentukan strategi manajerial yang tepat dalam meningkatkan pelaksanaan Program Prolanis di Klinik SMC Banyusari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap enam informan yang terdiri dari kepala klinik, petugas Prolanis, dan peserta Prolanis. Data dianalisis menggunakan matriks Internal Factors Analysis Summary (IFAS) dan External Factors Analysis Summary (EFAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Klinik SMC Banyusari memiliki kekuatan internal yang lebih dominan dibandingkan kelemahannya, dengan skor IFAS sebesar 1,31, serta peluang eksternal yang lebih besar dibandingkan ancaman, dengan skor EFAS sebesar 1,12. Klinik berada pada posisi strategi pertumbuhan stabil yang memungkinkan penguatan program melalui optimalisasi sumber daya internal dan pemanfaatan peluang eksternal. Strategi manajerial yang direkomendasikan meliputi penguatan edukasi berbasis peserta, optimalisasi peran petugas Prolanis, pemanfaatan teknologi informasi, serta pengembangan jejaring dengan masyarakat dan pemerintah desa. Dengan penerapan strategi tersebut, diharapkan partisipasi peserta Prolanis di Klinik SMC Banyusari dapat meningkat secara berkelanjutan
HUBUNGAN PREEKLAMSIA DENGAN PERSALINAN PRETERM DAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSI MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN Tina Fitriyani; Meilia Rahmawati Kusumaningsih; Is Susiloningtyas
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9203

Abstract

This study aims to determine whether there is a relationship between preeclampsia and preterm birth and whether there is a relationship between preeclampsia and low birth weight (LBW) at the PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Hospital. The method used in this study was a retrospective quantitative study, often referred to as ex post facto. The sample was taken using total sampling technique with a total of 428 subjects. The data used was secondary data obtained from patients' electronic medical records. After collecting the data, it was processed and analyzed using SPSS to see the correlation. Fisher's exact hypothesis test was used with a significance level (α = 0.05). Based on this study, a p-???????????????????? value of 0.003 < α = 0.05 was obtained, which means that there is a significant relationship between preeclampsia and preterm birth. The second variable hypothesis test used Fisher's exact test with a significance level (α = 0.05) and obtained a p-value of ???????????????????? 0.005 < α = 0.05, which means that there is a significant relationship between preeclampsia and low birth weight (LBW). Based on this study, it can be concluded that there is a relationship between preeclampsia and preterm birth and low birth weight (LBW) at RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan in 2025. Health workers are expected to be able to improve pregnancy monitoring in mothers with risk factors such as preeclampsia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan peeklamsia dengan persalinan preterm dan adakah hubungan preeklamsia dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif retrospektif yang sering disebut dengan expost facto. Dimana pengambilan sampel, menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 428. Dan data yang digunakan adalah data sekunder, yang diperoleh dari rekam medis elektronik pasien. Setelah  mengumpulkan data, kemudian data tersebut diproses dan diolah menggunakan SPSS untuk melihat keterkaitannya. Digunakan uji hipotesis fisher’s exact dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05). Berdasarkan penelitian ini diperoleh nilai p-???????????????????? 0.003 < α = 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan persalinan preterm. Dan uji hipotesis variabel kedua menggunakan fisher’s exact dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05) dan diperoleh nilai p- ???????????????????? 0.005 < α = 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara preeklamsia dengan persalinan preterm dan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Tahun 2025. Tenaga kesehatan diharapkan mampu melakukan peningkatan pemantauan kehamilan pada ibu dengan faktor risiko seperti preeklamsia.  
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER TERHADAP PENINGKATAN AKSES LAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS CIWANDAN Arief Dharma Hartana; Subuh Subuh; Ratih Purnamasari
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9204

Abstract

The Primary Service Integration Policy is an effort to coordinate the integration of primary health services into a single, comprehensive unit that aims to improve access to health services in the community, especially promotive and preventive services, especially at the UPTD Ciwandan Health Center, Cilegon City. This study aims to analyze the implementation process of the Primary Service Integration policy towards improving access to health services at the UPTD Ciwandan Health Center, Cilegon City in 2024. The focus of this study is to identify challenges, obstacles, and opportunities for improvement in the process of increasing access to services.This study uses a mixed-methods approach through questionnaires and in-depth interviews, combining quantitative analysis of Primary Care Integration service data. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data were analyzed thematically. The research sample consisted of 99 respondents consisting of policy makers, policy implementers, and policy recipients. The collected data will be analyzed using descriptive statistics to describe the pattern of integrated services, while thematic analysis will be applied to interviews to uncover problems that occurred during the implementation of Primary Care Integration services regarding access to health services. 99 respondents knew about the Integration of Primary Services implemented at the UPTD Ciwandan Health Center, the majority of respondents (93.93%) assessed that the Integration of Primary Services was running well, the highest result was in ease of service (46.46%), while ease of access to services (21.21%).  The implementation of the Primary Service Integration (ILP) health service policy has been carried out well by the UPTD Ciwandan Health Center throughout 2024 and has provided results in its implementation such as ease of service and ease of access to services, which of course in the implementation process has obstacles and several shortcomings that need to be corrected. ABSTRAKKebijakan Integrasi Layanan Primer adalah suatu upaya untuk koordinasi penyatuan pelayanan kesehatan primer menjadi satu kesatuan secara menyeluruh yang bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan dimasyarakat khususnya promotif dan preventif khususnya di UPTD Puskesmas Ciwandan Kota Cilegon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses implementasi kebijakan Integrasi Layanan Primer terhadap peningkatan akses layanan Kesehatan di UPTD Puskesmas Ciwandan Kota Cilegon Tahun 2024. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi tantangan, hambatan, serta peluang perbaikan dalam proses peningkatan akses layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan campuran (mixed-methods) melalui kuisioner dan wawancara mendalam, dengan menggabungkan analisis kuantitatif dari data pelayanan Integrasi Layanan Primer. Pada data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis secara  tematik. Sampel penelitian ada 99 responden terdiri dari pemberi kebijakan, pelaksana kebijakan dan penerima kebijakan. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan pola pelayanan teritegrasi, sedangkan analisis tematik akan diterapkan pada wawancara untuk mengungkap masalah yang terjadi selama pelaksanaan pelayanan Integrasi Layanan Primer terhadap akses pelayanan Kesehatan. Sebanyak 99 responden memgetahui tentang Integrasi Layanan Primer yang di implementasikan di UPTD Puskesmas Ciwandan, mayoritas reponden (93,93 %) menilai Integrasi Layanan Primer sudah berjalan baik, hasil tertinggi pada kemudahan layanan (46,46%), sedangkan kemudahan akses layanan (21,21%). Implementasi kebijakan pelayanan kesehatan Integarasi Layanan Primer (ILP) telah dilaksanakan dengan baik oleh UPTD Puskesmas Ciwandan sepanjang tahun 2024 dan memberikan hasil pada penerapannya seperti kemudahan layanan juga kemudahan akses layanan, yang tentunya dalam pada proses penerapan memiliki hambatan dan beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki..  
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG KB SUNTIK 3 BULAN DI PMB HJ FATIMATUN AMD.KEB Sindi Diah Astuningsih; Meilia Rahmawati Kusumaningsih; Arum Meiranny
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9422

Abstract

Adherence to follow-up visits for three-month injectable contraception is essential to maintain contraceptive effectiveness and prevent unintended pregnancy. However, delays in follow-up visits are still common due to limited husband’s support and insufficient maternal knowledge regarding the importance of timely reinjection. Aim: This study aimed to analyze the relationship between husband’s support and maternal knowledge with adherence to follow-up visits among three-month injectable contraceptive users at PMB Hj Fatimatun Amd.Keb, Pekalongan City, in 2025. This study employed an analytic cross-sectional design with 95 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using structured questionnaires and medical records, and analyzed using the Chi-Square test. There was a significant association between husband’s support and adherence to follow-up visits (p = 0.037; p < 0.05). A significant association was also found between maternal knowledge and adherence to follow-up visits for three-month injectable contraception (p = 0.001; p < 0.05). Husband’s support and maternal knowledge are significantly associated with adherence to follow-up visits among three-month injectable contraceptive users. Strengthening reproductive health education involving husbands is recommended to improve adherence. ABSTRAK Kepatuhan akseptor dalam melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan sangat penting untuk menjaga efektivitas kontrasepsi dan mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, masih ditemukan akseptor yang terlambat melakukan kunjungan ulang akibat kurangnya dukungan suami serta rendahnya tingkat pengetahuan ibu mengenai pentingnya ketepatan jadwal suntik ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan suami dan tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan di PMB Hj Fatimatun Amd.Keb Kota Pekalongan Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh akseptor KB suntik 3 bulan di PMB Hj Fatimatun Amd.Keb Kota Pekalongan dengan jumlah sampel 95 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan catatan medis, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dengan nilai p = 0,037 (p < 0,05). Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dukungan suami dan tingkat pengetahuan ibu berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan reproduksi yang melibatkan suami guna meningkatkan kepatuhan akseptor.
EFEKTIVITAS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) SEBAGAI BIOKOAGULAN UNTUK MENURUNKAN COD, BOD, NITRIT PADA AIR SUNGAI Vita Kumalasari; Era Widestri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9551

Abstract

The Manunggal River, which flows through the districts of Gondokusuman, Pakualaman, and Umbulharjo in Yogyakarta City, has shown significant pollution levels. According to water quality monitoring conducted by the Yogyakarta City Environmental Service at the Mangkukusuman Bridge point, the concentrations of COD, BOD, and Nitrite exceed the Class II quality standards stipulated in the Yogyakarta Governor Regulation No. 20 of 2008, with recorded values of 31.14 mg/L, 10.88 mg/L, and 0.59 mg/L, respectively. This study aims to evaluate the effectiveness of papaya seed powder (Carica papaya L.) in reducing COD, BOD, and Nitrite concentrations in the river water. This experimental research employed a Pretest-Posttest Control Group Design, with data analyzed using effectiveness percentages and one-way ANOVA. Water samples were collected from the Manunggal River at the Mangkukusuman Bridge monitoring point in Baciro Yogyakarta. The results indicate that the application of papaya seed powder at concentrations of 6 g/L, 6.5 g/L, and 7 g/L inadvertently increased COD and BOD levels by 41.24%, 51.10%, and 55.93%, respectively. Conversely, the treatment succeeded in reducing Nitrite levels by 31.96%, 42.80%, and 31.81%. These findings suggest that while papaya seed powder (Carica papaya L.) is ineffective in lowering COD and BOD likely due to its organic content it demonstrates a capacity to reduce Nitrite concentrations, although the final levels still did not comply with the required water quality standards. ABSTRAK Sungai Manunggal yang melintasi Kecamatan Gondokusuman, Pakualaman, dan Umbulharjo Kota Yogyakarta ini, berdasarkan pemantauan kualitas air di titik Jembatan Mangkukusuman yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, menunjukkan konsentrasi COD, BOD, dan nitrit yang melebihi baku mutu kelas II menurut Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2008, yaitu COD 31,14 mg/L, BOD 10,88 mg/L, dan nitrit 0,59 mg/L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serbuk biji pepaya (Carica papaya L.) dalam menurunkan konsentrasi COD, BOD, dan nitrit dalam air sungai. Penelitian ini merupakan experiment research menggunakan penelitian Pretest-Posttest Control Group Design, kemudian dihitung persentase efektivitasnya. Sampel yang digunakan adalah air Sungai Manunggal dengan titik pantau Jembatan Mangkukusuman di Banciro, Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk biji pepaya pada konsentrasi 6 gr/L, 6,5 gr/L, 7 gr/L justru menaikkan COD dan BOD sebesar 41,24%, 51,10% dan 55,93%. Namun, dapat menurunkan nitrit sebesar 31,96%, 42,80%, dan 31,81%. Hal ini menunjukkan bahwa serbuk biji pepaya (Carica papaya L.) tidak efektif untuk menurunkan COD dan BOD, namun dapat menurunkan konsentrasi nitrit dalam air sungai meskipun belum memenuhi standar baku mutu.
TEMPOROMANDIBULAR JOINT DISORDERS IN THE ELDERLY: A LITERATURE REVIEW Susanna Halim; Sharon Altin Taqwani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9605

Abstract

ABSTRACT Temporomandibular joint (TMJ) disorder is one of the orofacial problems often found in the elderly due to degenerative changes, decreased musculoskeletal function, and systemic conditions that accompany the aging process. Elderly people tend to experience decreased tissue elasticity, bone resorption, tooth loss, and the use of dentures that can affect the stability and function of the temporomandibular joint. The aim is to examine the characteristics, risk factors, clinical manifestations, and management of TMJ disorders in the elderly. Literature search methods from various national and international scientific databases with keywords related to TMJ disorders and the elderly. Selected articles include observational studies, case reports, and relevant review studies. Results and Discussion show that TMJ disorders in the elderly are generally characterized by joint pain, limited mouth opening, joint sounds, and impaired masticatory function that can impact quality of life. Frequently reported predisposing factors include posterior tooth loss, occlusal imbalance, degenerative changes in the joints, and systemic diseases such as osteoarthritis. Management of TMJ disorders in the elderly needs to consider the general condition of the patient and be conservative, including education, pharmacological therapy, physiotherapy, and the use of occlusal appliances if necessary. Conclusion: TMJ disorders in the elderly are multifactorial conditions that require a holistic and individual approach to improve the function and quality of life of patients. ABSTRAK Gangguan sendi temporomandibular (TMJ) adalah salah satu masalah orofasial yang sering ditemukan pada lansia karena perubahan degeneratif, penurunan fungsi muskuloskeletal, dan kondisi sistemik yang menyertai proses penuaan. Lansia cenderung mengalami penurunan elastisitas jaringan, resorpsi tulang, kehilangan gigi, dan penggunaan gigi palsu yang dapat memengaruhi stabilitas dan fungsi sendi temporomandibular. Tujuannya adalah untuk meneliti karakteristik, faktor risiko, manifestasi klinis, dan penanganan gangguan TMJ pada lansia. Metode penelusuran literatur dari berbagai basis data ilmiah nasional dan internasional dengan kata kunci yang berkaitan dengan gangguan TMJ dan lansia. Artikel yang dipilih meliputi studi observasional, laporan kasus, dan studi tinjauan yang relevan. Hasil dan Diskusi menunjukkan bahwa gangguan TMJ pada lansia umumnya ditandai dengan nyeri sendi, keterbatasan pembukaan mulut, bunyi sendi, dan gangguan fungsi pengunyah yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Faktor predisposisi yang sering dilaporkan meliputi kehilangan gigi posterior, ketidakseimbangan oklusi, perubahan degeneratif pada sendi, dan penyakit sistemik seperti osteoartritis. Penanganan gangguan TMJ pada lansia perlu mempertimbangkan kondisi umum pasien dan bersifat konservatif, termasuk edukasi, terapi farmakologis, fisioterapi, dan penggunaan alat oklusal jika diperlukan. Gangguan TMJ pada lansia merupakan kondisi multifaktorial yang membutuhkan pendekatan holistik dan individual untuk meningkatkan fungsi dan kualitas hidup pasien.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN CT SCAN UROGRAFI KLINIS BATU GINJAL DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD CARUBAN Meva Relita Setia Putri; Anisa Nur Istiqomah; Ildsa Maulidya Mar’atus Nasokha
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13152

Abstract

ABSTRACT Kidney stones are among the most common urinary tract diseases and are associated with a high incidence and recurrence rate, requiring accurate diagnostic imaging for appropriate clinical management. Non-contrast CT urography has become one of the primary imaging modalities because it provides a comprehensive evaluation of the urinary system, including the application of the Curved Planar Reformation (CPR) technique to visualize the ureters along their anatomical course. This study aimed to describe the examination procedure of non-contrast CT urography, its role in establishing the diagnosis of kidney stones, and the rationale for using the Curved Planar Reformation (CPR) technique at the Radiology Department of RSUD Caruban. A qualitative study with a case study approach was conducted involving one clinical case of kidney stones through observation, interviews, and documentation. The participants consisted of three radiographers, one radiologist, and one urologist. The results showed that the examination procedure included patient preparation, equipment and material preparation, examination technique, scanning parameter settings, image reconstruction, and the application of the Curved Planar Reformation (CPR) technique. Non-contrast CT urography played a crucial role in identifying the location, size, and density of stones, as well as associated urinary tract complications, while the CPR technique improved ureteral visualization, facilitating stone detection and supporting more accurate image interpretation. In conclusion, non-contrast CT urography combined with the Curved Planar Reformation (CPR) technique provides comprehensive diagnostic information to support the accurate diagnosis of kidney stones. ABSTRAK Batu ginjal merupakan salah satu penyakit saluran kemih dengan angka kejadian dan kekambuhan yang tinggi sehingga memerlukan pemeriksaan diagnostik yang akurat. CT Scan urography non kontras menjadi salah satu modalitas pencitraan utama karena mampu mengevaluasi sistem urinaria secara menyeluruh, termasuk melalui penerapan teknik Curved Planar Reformation (CPR) untuk memvisualisasikan ureter sesuai dengan jalur anatomisnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pemeriksaan CT Scan urography non kontras, peranannya dalam menegakkan diagnosis batu ginjal, serta alasan penggunaan teknik Curved Planar Reformation (CPR) di Instalasi Radiologi RSUD Caruban. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap satu kasus klinis batu ginjal melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter spesialis urologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan meliputi persiapan pasien, persiapan alat dan bahan, pelaksanaan teknik pemeriksaan, pengaturan parameter scanning, rekonstruksi citra, serta penerapan teknik Curved Planar Reformation (CPR). CT Scan non kontras berperan penting dalam mengidentifikasi lokasi, ukuran, densitas batu, serta komplikasi pada saluran kemih, sedangkan teknik CPR meningkatkan visualisasi ureter sehingga mempermudah identifikasi batu dan mendukung interpretasi hasil pemeriksaan secara lebih akurat. Dengan demikian, pemeriksaan CT Scan urography non kontras yang dipadukan dengan teknik Curved Planar Reformation (CPR) mampu memberikan informasi diagnostik yang komprehensif dalam mendukung penegakan diagnosis batu ginjal.
PERBANDINGAN NILAI LED MENGGUNAKAN ANTIKOAGULAN EDTA DENGAN NATRIUM SITRAT 3,8% PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Nurul Aini Maghfiroh; Edy Haryanto; Wisnu Istanto; Gesang Jukadiarko
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13514

Abstract

ABSTRACT Erythrocyte sedimentation rate (ESR) is a hematological parameter widely used to assess inflammatory processes, including chronic inflammation in patients with type 2 diabetes mellitus. Although 3.8% sodium citrate is recommended as the standard anticoagulant for the Westergren ESR method, EDTA is more commonly used in clinical laboratories because of its practicality, which may influence ESR measurements. Therefore, this study aimed to compare ESR values obtained using EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants in patients with type 2 diabetes mellitus. This comparative observational study with a cross-sectional design involved 34 patients with type 2 diabetes mellitus selected through purposive sampling. ESR measurements were performed using the Westergren method on paired blood samples collected in EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants. The results showed that the mean ESR value was 34.32 ± 20.85 mm/hour (median: 32 mm/hour) for EDTA samples and 32.59 ± 21.57 mm/hour (median: 31 mm/hour) for 3.8% sodium citrate samples. Statistical analysis using the paired sample t-test revealed a significant difference between the two anticoagulants (p = 0.016). These findings indicate that the type of anticoagulant significantly affects ESR measurements in patients with type 2 diabetes mellitus. Therefore, 3.8% sodium citrate remains the preferred anticoagulant for the Westergren ESR method because it better preserves the physiological characteristics of blood samples and supports more accurate clinical interpretation of ESR results. ABSTRAK Pemeriksaan laju endap darah (LED) merupakan salah satu parameter hematologi yang sering digunakan untuk menilai proses inflamasi, termasuk pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang umumnya mengalami inflamasi kronis. Meskipun natrium sitrat 3,8% direkomendasikan sebagai antikoagulan standar pada pemeriksaan LED metode Westergren, penggunaan EDTA masih banyak dijumpai di laboratorium karena lebih praktis sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan nilai pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan LED menggunakan antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8% pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian menggunakan desain observasional komparatif dengan rancangan cross-sectional yang melibatkan 34 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dipilih secara purposive. Pemeriksaan LED dilakukan menggunakan metode Westergren pada sampel darah yang mengandung antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8%. Hasil penelitian menunjukkan rerata nilai LED sebesar 34,32 mm/jam dengan median 32 mm/jam pada sampel EDTA, sedangkan pada natrium sitrat 3,8% diperoleh rerata sebesar 32,59 mm/jam dengan median 31 mm/jam. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,016 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan signifikan antara hasil pemeriksaan LED menggunakan kedua antikoagulan. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis antikoagulan memengaruhi hasil pemeriksaan LED, sehingga natrium sitrat 3,8% tetap lebih direkomendasikan untuk pemeriksaan LED metode Westergren karena mampu mempertahankan kondisi sampel yang lebih mendekati keadaan fisiologis dan mendukung ketepatan interpretasi hasil laboratorium pada pasien diabetes melitus tipe 2.
EFEKTIVITAS KOMBINASI ANTIPSIKOTIK DENGAN LORAZEPAM PADA PASIEN SKIZOFRENIA: SEBUAH TINJAUAN NARATIF Karina Aulia Firdasya; Woro Harjaningsih; Fivy Kurniawati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13640

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a chronic psychiatric disorder characterized by psychotic symptoms that require prompt and effective management. Antipsychotic medications are the mainstay of treatment; however, under certain clinical conditions, they are combined with lorazepam to improve the management of acute agitation. This narrative review aimed to synthesize the available scientific evidence regarding the effectiveness of antipsychotic–lorazepam combination therapy in patients with schizophrenia. A literature search was conducted using Scopus, PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. English-language articles published between 2015 and 2025 were selected based on predefined inclusion and exclusion criteria and were analyzed narratively. Of the 2,092 articles identified, twelve studies met the eligibility criteria. The findings indicated that antipsychotic–lorazepam combination therapy effectively reduced acute agitation and psychotic symptoms, as assessed using the Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS), Positive and Negative Syndrome Scale Excited Component (PANSS-EC), Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS), Clinical Global Impression (CGI), and Agitation-Calmness Evaluation Scale (ACES). Risperidone–lorazepam demonstrated efficacy comparable to conventional intramuscular therapy with a lower risk of extrapyramidal symptoms, while haloperidol–lorazepam showed efficacy comparable to intramuscular olanzapine. Overall, the available evidence suggests that antipsychotic–lorazepam combination therapy may represent an effective treatment option with an acceptable safety profile for managing psychosis and acute agitation in patients with schizophrenia. ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan kronis yang ditandai oleh gejala psikosis sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan efektif. Antipsikotik merupakan terapi utama, namun pada kondisi tertentu dikombinasikan dengan lorazepam untuk membantu mengendalikan agitasi akut. Tinjauan naratif ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas kombinasi antipsikotik dan lorazepam pada pasien skizofrenia. Penelusuran literatur dilakukan melalui Scopus, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan pada periode 2015–2025 diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara naratif. Dari 2.092 artikel yang teridentifikasi, dua belas penelitian memenuhi kriteria. Hasil telaah menunjukkan bahwa kombinasi antipsikotik dengan lorazepam efektif menurunkan agitasi dan gejala psikosis akut berdasarkan pengukuran menggunakan Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS), Positive and Negative Syndrome Scale Excited Component (PANSS-EC), Clinical Global Impression (CGI), dan Agitation-Calmness Evaluation Scale (ACES). Kombinasi risperidone-lorazepam memberikan efektivitas yang sebanding dengan terapi intramuskular konvensional dengan risiko gejala ekstrapiramidal yang lebih rendah, sedangkan kombinasi haloperidol-lorazepam menunjukkan efektivitas yang sebanding dengan olanzapine intramuskular. Secara keseluruhan, kombinasi antipsikotik dan lorazepam berpotensi menjadi pilihan terapi yang efektif dengan profil keamanan yang secara umum dapat diterima pada penatalaksanaan psikosis dan agitasi akut pasien skizofrenia.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KABUPATEN JAYAWIJAYA Odi Haluk; Novita Medyati; Dolfinus Yufu Bouway; Arius Togodly; Hasmi Hasmi; Agus Zainuri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13671

Abstract

Maternal and child health services are a priority program aimed at improving public health status and reducing maternal and infant mortality rates. Their implementation in Jayawijaya Regency continues to face geographical, socio-cultural, and access-related challenges. This study aimed to analyze the factors associated with maternal and child health services, including antenatal care (ANC) visits, community awareness, maternal education, access to services, and childbirth practices. A qualitative method with a phenomenological approach was employed. Informants consisted of three healthcare workers managing the maternal and child health program at Ilekma, Asolokobal, and Musaffak Community Health Centers. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings showed that ANC visits remained low because most pregnant women first sought antenatal care during the second or third trimester. Limited community awareness and low maternal education further hindered service utilization. Access to services was constrained by distance, mountainous topography, and limited transportation, while home delivery practices persisted and increased the risk of complications. Healthcare workers had undertaken health education, home visits, collaboration with cadres, and integrated health post (posyandu) activities to improve service coverage. Strengthening health promotion, referral systems, and cross-sectoral support is needed to improve maternal and child health services in the Papuan highlands. ABSTRAK Pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan program prioritas dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Pelaksanaannya di Kabupaten Jayawijaya masih menghadapi tantangan geografis, sosial budaya, dan keterbatasan akses fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meliputi kunjungan antenatal care (ANC), kesadaran masyarakat, pendidikan ibu, akses pelayanan, dan praktik persalinan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri atas tiga tenaga kesehatan pengelola program KIA di Puskesmas Ilekma, Puskesmas Asolokobal, dan Puskesmas Musaffak. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kunjungan ANC masih rendah karena sebagian besar ibu hamil baru memeriksakan kehamilan pada trimester kedua atau ketiga. Kesadaran masyarakat dan tingkat pendidikan ibu yang rendah turut menghambat pemanfaatan pelayanan kesehatan. Akses pelayanan terkendala jarak, topografi pegunungan, dan keterbatasan transportasi, sementara praktik persalinan di rumah masih ditemukan dan meningkatkan risiko komplikasi. Tenaga kesehatan telah melakukan penyuluhan, kunjungan rumah, kerja sama dengan kader, dan kegiatan posyandu untuk memperbaiki cakupan pelayanan. Penguatan promosi kesehatan, sistem rujukan, dan dukungan lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak di wilayah pegunungan Papua.