cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 152 Documents
RIWAYAT TRAUMA MASA KANAK SEBAGAI FAKTOR RISIKO ORIENTASI SEKSUAL PADA KAUM LESBIAN, GAY, BISEXUAL, TRANSGENDER, QUEER+ (LGBTQ): SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIKA Torrys, Yesyurun Sekundus; Kosim, Hartono; Diniari, Ni Ketut Sri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i2.10417

Abstract

ABSTRACT The development of sexuality and gender issues has shown increasing complexity, particularly in understanding the experiences of LGBTQ+ individuals. Sexual orientation is an important component of identity formation that can be influenced by childhood experiences. This study aims to identify and analyze risk factors of childhood trauma among LGBTQ+ individuals based on recent empirical evidence. The study employed a systematic review method following PRISMA guidelines, drawing from PubMed, Cochrane Library, and Embase databases within the last ten years.A total of 8 studies meeting the inclusion criteria were analyzed, involving 336,042 participants. The results indicate that LGBTQ+ individuals have a higher risk of experiencing childhood trauma compared to heterosexual-cisgender groups, with risk estimates ranging from 1.4 to 3.11. The main finding highlights a consistent increase in the risk of various forms of trauma among LGBTQ+ individuals, particularly sexual abuse, domestic violence, and exposure to family members with mental disorders. These findings confirm that childhood trauma is a significant risk factor contributing to mental health vulnerability among LGBTQ+ individuals. Implications suggest the need for more inclusive and evidence-based mental health services to minimize long-term impacts and improve the quality of life of LGBTQ+ individuals. ABSTRAK Perkembangan isu seksualitas dan gender menunjukkan kompleksitas yang semakin meningkat, khususnya dalam memahami pengalaman individu LGBTQ+. Orientasi seksual merupakan bagian penting dari pembentukan identitas diri yang dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko trauma masa kanak pada kelompok LGBTQ+ berdasarkan bukti empiris terkini. Studi ini menggunakan metode tinjauan sistematis dengan mengacu pada pedoman PRISMA dan bersumber dari database PubMed, Cochrane Library, dan Embase dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebanyak 8 studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dengan total 336.042 partisipan. Hasil menunjukkan bahwa kelompok LGBTQ+ memiliki risiko lebih tinggi mengalami trauma masa kanak dibandingkan kelompok heteroseksual-cisgender, dengan rentang risiko antara 1,4 hingga 3,11. Temuan utama menunjukkan adanya peningkatan risiko yang konsisten pada kelompok LGBTQ+ terhadap berbagai bentuk trauma, terutama kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, serta paparan gangguan mental dalam keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa trauma masa kanak merupakan faktor risiko signifikan yang berkontribusi terhadap kerentanan kesehatan mental pada kelompok LGBTQ+. Implikasinya, diperlukan pendekatan layanan kesehatan mental yang lebih inklusif dan berbasis bukti untuk meminimalkan dampak jangka panjang serta meningkatkan kualitas hidup individu LGBTQ+.
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL TRIMESTER III: STUDI KORELASIONAL DI PUSKESMAS BALLAPARANG MAKASSAR Hamriani, Hamriani; Subriah, Subriah; Sukarta, I Made
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10524

Abstract

Physiological, hormonal, and psychological adjustments during late pregnancy may increase women’s vulnerability to anxiety. Persistent anxiety during this period can adversely affect maternal well-being and fetal development, highlighting the need for supportive factors that help maintain maternal psychological stability. Husband support is considered one of the essential resources during pregnancy, as spouses often serve as the closest companions for pregnant women. This study aimed to examine the association between husband support and anxiety levels among third-trimester pregnant women at Ballaparang Public Health Center, Makassar. A quantitative observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. The study involved 31 respondents recruited through accidental sampling. Data were collected using questionnaires assessing husband support and maternal anxiety, then analyzed with the Spearman rho test at a 5% significance level. The findings indicated that husband support scores ranged from 42 to 72, with a mean of 54.37 ± 8.25. Statistical analysis demonstrated a correlation coefficient of -0.386 and a p-value of 0.031, indicating a statistically significant inverse relationship between husband support and maternal anxiety. Greater husband involvement was associated with lower anxiety levels among pregnant women in the third trimester. Emotional, informational, appraisal, and instrumental support from husbands were found to contribute to improved maternal psychological readiness before childbirth. Strengthening husband participation in antenatal services is recommended to support maternal mental health outcomes. ABSTRAK Perubahan fisiologis, hormonal, dan psikologis selama akhir masa kehamilan dapat meningkatkan kerentanan ibu terhadap kecemasan. Kondisi kecemasan yang berlangsung terus-menerus berisiko memengaruhi kesehatan ibu serta perkembangan janin, sehingga diperlukan faktor pendukung yang mampu menjaga stabilitas psikologis ibu hamil. Salah satu bentuk dukungan yang dinilai penting berasal dari suami sebagai pendamping utama selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara dukungan suami dan tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Ballaparang Kota Makassar. Penelitian menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 31 responden dipilih melalui teknik accidental sampling. Data diperoleh melalui instrumen kuesioner mengenai dukungan suami dan tingkat kecemasan ibu hamil, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman rho pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan skor dukungan suami berada pada rentang 42–72 dengan rerata 54,37 ± 8,25. Analisis statistik memperoleh koefisien korelasi sebesar -0,386 dan nilai p = 0,031, yang menunjukkan adanya hubungan negatif bermakna antara kedua variabel. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan dukungan suami berkaitan dengan penurunan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Dukungan dalam bentuk emosional, pemberian informasi, penghargaan, dan bantuan instrumental berkontribusi terhadap kesiapan psikologis ibu menjelang persalinan. Keterlibatan aktif suami direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam pelayanan antenatal guna mendukung kesehatan mental maternal.
CONSIDERATION IN GENERAL ANESTHESIA TOWARDS PATIENT WITH SCHIZOPHRENIA TREATMENT: A CASE REPORT OF PSYCHIATRY-ANESTHESIOLOGY APPROACH Torrys, Yesyurun Sekundus; Wardani, Dinar Kusuma; Charles, Charles; Sutawan, Ida Bagus Krisna Jaya; Wardani, Ida Aju Kusuma
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10581

Abstract

ABSTRACT Anesthetic management in patients with schizophrenia receiving long-term antipsychotic therapy presents a clinical challenge due to the risk of drug interactions and perioperative complications, including hypotension, arrhythmias, and postoperative delirium. This study aimed to describe perioperative anesthetic management in a schizophrenic patient undergoing elective surgery. The study used a case report approach involving a 43-year-old female patient with left breast cancer and a history of undifferentiated schizophrenia treated with long-term fluphenazine and trifluoperazine therapy. Management included preoperative evaluation, intraoperative anesthesia planning, and postoperative monitoring. The patient underwent general anesthesia using propofol, fentanyl, and atracurium with close hemodynamic monitoring. The results showed that laboratory tests, ECG, and echocardiography were within normal limits, although intraoperative hypotension during induction and mild tachycardia during surgery were observed and successfully controlled without serious complications. Postoperative findings included mild agitation, postural hypotension, and shivering without delirium or severe cardiovascular disturbances. These findings indicate that comprehensive perioperative evaluation and individualized anesthetic strategies are essential to maintain patient stability and ensure surgical safety in schizophrenic patients receiving long-term antipsychotic therapy. ABSTRAK Manajemen anestesi pada pasien skizofrenia dengan terapi antipsikotik jangka panjang menjadi tantangan klinis karena risiko interaksi obat dan komplikasi perioperatif, seperti hipotensi, aritmia, dan delirium pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tata laksana anestesi perioperatif pada pasien skizofrenia yang menjalani operasi elektif. Metode yang digunakan berupa laporan kasus pada pasien perempuan usia 43 tahun dengan kanker payudara kiri dan riwayat skizofrenia undifferentiated yang mendapat terapi fluphenazine dan trifluoperazine jangka panjang. Penatalaksanaan meliputi evaluasi praoperatif, anestesi intraoperatif, dan pemantauan pascaoperatif. Pasien menjalani anestesi umum menggunakan propofol, fentanyl, dan atracurium dengan pemantauan hemodinamik ketat. Hasil menunjukkan pemeriksaan laboratorium, EKG, dan ekokardiografi dalam batas normal, dengan komplikasi intraoperatif berupa hipotensi saat induksi dan takikardia ringan yang dapat dikendalikan tanpa komplikasi serius. Pascaoperasi ditemukan agitasi ringan, hipotensi postural, dan menggigil tanpa delirium maupun gangguan kardiovaskular berat. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi perioperatif yang komprehensif dan strategi anestesi terindividualisasi penting untuk menjaga stabilitas pasien skizofrenia selama tindakan pembedahan.
PENATALAKSANAAN PEMERIKSAAN HYSTEROSALPINGOGRAPHY (HSG) PADA KLINIS INFERTILITAS PRIMER DI INSTALASI RADIOLOGI RSU ‘AISYIYAH PONOROGO Detu, Siti Sofiati; Anggraeni, Ari
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10672

Abstract

ABSTRACT The female reproductive system plays an essential role in the fertilization process, which involves interactions between hormones and reproductive organs; therefore, disorders in organs such as the uterus and fallopian tubes may lead to infertility. This study aims to examine the examination procedure, the rationale for using 6 cc of contrast media, and the stepwise injection technique in hysterosalpingography for primary infertility cases at RSU ‘Aisyiyah Ponorogo. This study employed a qualitative method with a case study approach through observation, interviews, and documentation, with research subjects consisting of one patient with primary infertility and healthcare personnel directly involved in the examination procedure. The results indicate that the examination procedure includes patient preparation, instrument placement, and gradual injection of contrast media, resulting in clearer visualization of the uterine cavity and fallopian tube patency while reducing pain complaints compared to direct injection techniques. In addition, the use of 6 cc contrast media administered stepwise provides a more even distribution, thereby improving the accuracy of radiological interpretation. These findings suggest that the stepwise approach not only enhances image quality but also improves patient comfort during the procedure. Thus, hysterosalpingography with gradual administration of 6 cc contrast media is proven to be an effective and efficient diagnostic method for primary infertility that is more controlled and patient-oriented.   ABSTRAK Sistem reproduksi wanita berperan penting dalam proses fertilisasi yang melibatkan interaksi hormon dan organ reproduksi, sehingga gangguan pada organ seperti uterus dan tuba falopi dapat menyebabkan infertilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan penggunaan media kontras 6 cc, serta teknik pemasukan bertahap pada pemeriksaan hysterosalpingography pada klinis infertilitas primer di RSU ‘Aisyiyah Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian meliputi satu pasien infertilitas primer serta tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam prosedur pemeriksaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan dilakukan melalui tahapan persiapan pasien, pemasangan alat, serta injeksi media kontras secara bertahap, yang menghasilkan visualisasi lebih jelas pada kavum uteri dan patensi tuba falopi serta mengurangi keluhan nyeri dibandingkan teknik injeksi langsung. Selain itu, penggunaan media kontras 6 cc secara bertahap memberikan distribusi kontras yang lebih merata sehingga meningkatkan akurasi interpretasi radiologis. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan bertahap tidak hanya meningkatkan kualitas citra, tetapi juga mendukung kenyamanan pasien selama prosedur berlangsung. Dengan demikian, prosedur hysterosalpingography dengan pemberian kontras bertahap 6 cc terbukti efektif dan efisien sebagai metode diagnostik infertilitas primer yang lebih terkontrol dan berorientasi pada pasien.
HUBUNGAN PERAN PERAWAT SEBAGAI CARE GIVER DENGAN KELENGKAPAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANGAN RAWAT INAP RSUD BOLAANG MONGONDOW UTARA Sukarno, Nur Hovifah; Riu, Silvia D Mayasari; Talibo, Norman Alfi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10779

Abstract

Documentation plays a role as evidence of accoun tability and a legal basis for nurses in carrying out their duties. If nursing activities are not documented properly, accurately, objectively, and completely, and are not in accordance with nursing care standards, it will be difficult to prove that nursing actions have been carried out correctly. The purpose of this study is to determine and analyze the relationship between the role of nurses as caregivers and the completeness of nursing care documentation in inpatient rooms. This study uses a cross-sectional research design with a quantitative approach and a descriptive-analytic research design. The population in this study was 94, with a sample of 48 respondents. The sampling technique used purposive sampling. Data were collected through questionnaires and observation sheets. Data were analyzed using the Chi-Square statistical test with a p-value of 0.05. The results showed that the role of nurses as caregivers was good with complete documentation in 23 respondents (90.2%), while the role of nurses as caregivers was less good with incomplete documentation in 21 respondents (91.3%). Based on the chi-square test results, the p-value obtained was 0.000.The conclusion of this study is that the role of nurses as caregivers is mostly categorized as good, and the completeness of nursing care documentation is partly categorized as complete, and there is a relationship between the role of nurses as caregivers and the completeness of nursing care documentation. ABSTRAK Dokumentasi berperan sebagai bukti pertanggung jawaban dan dasar hukum bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya. Jika kegiatan keperawatan tidak didokumentasikan dengan baik, akurat, obyektif, dan lengkap serta sesuai dengan standar asuhan keperawatan maka sulit untuk membuktikan bahwa tindakan keperawatan telah dilakukan dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis adanya hubungan antara peran perawat sebagai care giver dengan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang rawat inap. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan desain penelitian deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 94 dengan sampel 48 responden. Teknik pengambilan menggunakan purposive sampling, Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan Uji Statistik Chi-Square dengan nila p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran perawat  sebagai care giver  baik dengan kelengkapan pendokumentasian yang baik berjumlah 23 responden (90,2%) sedangkan peran perawat sebagai care giver kurang baik dengan kelengkapan pendokumentasian yng kurang baik berjumlah 21 responden (91,3%). Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p value = 0,000. Kesimpulan pada penelitian ini peran perawat sebagai care giver sebagian besar dikategorikan baik dan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan sebagian dikategorikan lengkap, serta terdapat hubungan antar peran perawat sebagai care giver dengan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan.
KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DALAM PERSPEKTIF PENGETAHUAN DAN SIKAP: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Abelta, Nela Fadila; Fitri, Rahmadhani; Helendra, Helendra; Kurniati, Rahmi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10780

Abstract

Adolescent reproductive health knowledge and attitudes are important determinants in preventing risky sexual behaviors such as unintended pregnancy, abortion, and sexually transmitted infections. However, various studies indicate that adolescents' knowledge levels remain low and their attitudes toward reproductive health tend to be less positive. This literature review aimed to synthesize current empirical evidence on adolescent reproductive health from the perspective of knowledge and attitudes, identify determinant factors, and evaluate the effectiveness of various reproductive health education interventions. A comprehensive literature search was conducted through three major databases (Google Scholar, ScienceDirect, and Portal Garuda) with inclusion criteria of articles published between 2014-2026, written in Indonesian or English, and discussing variables of adolescent reproductive health knowledge and attitudes. A total of 15 articles meeting the inclusion criteria were analyzed thematically. The review findings indicate that adolescent reproductive health knowledge generally remains in the low to moderate category, while attitudes toward premarital sexual behavior are strongly influenced by educational factors, information access, parental roles, family structure, pornography exposure, peer pressure, and sociocultural norms. Reproductive health education interventions based on schools, communities, families, digital technology, and peer mentorship approaches have proven effective in improving adolescents' knowledge and positive attitudes, although effectiveness varies depending on methods and context. This review concludes that a holistic approach integrating knowledge improvement, attitude strengthening, as well as family and health system support is essential to comprehensively address adolescent reproductive health problems. Future research is recommended to employ longitudinal designs with standardized instruments to establish stronger causal relationships. ABSTRAK Pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja merupakan faktor determinan penting dalam mencegah perilaku seksual berisiko seperti kehamilan tidak direncanakan, aborsi, dan infeksi menular seksual. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja masih rendah dan sikap mereka terhadap kesehatan reproduksi cenderung kurang positif. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mensintesis bukti empiris terkini mengenai kesehatan reproduksi remaja dalam perspektif pengetahuan dan sikap, mengidentifikasi faktor-faktor determinan, serta mengevaluasi efektivitas berbagai intervensi pendidikan kesehatan reproduksi. Pencarian literatur dilakukan secara komprehensif melalui tiga basis data utama (Google Scholar, ScienceDirect, dan Portal Garuda) dengan kriteria inklusi artikel yang dipublikasikan pada rentang waktu 2021-2026, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta membahas variabel pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja. Sebanyak 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara tematik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi remaja secara umum masih berada pada kategori rendah hingga sedang, sementara sikap terhadap perilaku seksual pranikah sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, akses informasi, peran orang tua, struktur keluarga, paparan pornografi, tekanan teman sebaya, dan norma sosial budaya. Intervensi pendidikan kesehatan reproduksi berbasis sekolah, komunitas, keluarga, teknologi digital, maupun pendekatan teman sebaya terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap positif remaja, meskipun efektivitasnya bervariasi tergantung metode dan konteks. Simpulan tinjauan ini menegaskan bahwa pendekatan holistik yang mengintegrasikan peningkatan pengetahuan, penguatan sikap, serta dukungan keluarga dan sistem layanan kesehatan sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan kesehatan reproduksi remaja secara komprehensif. Penelitian selanjutnya direkomendasikan menggunakan desain longitudinal dengan instrumen baku untuk menetapkan hubungan kausalitas yang lebih kuat.
PERAN EPIGENETIKA DALAM MEMBENTUK LINGKUNGAN BUDAYA DAN KEPERCAYAAN SEBAGAI PRO-MODULATOR EPIGENTIKA/PROAKSI SKIZOFRENIA – CASE SERIES Hartono Kosim; Arya Tarakanatha Nurmadana; Ni Ketut Sri Diniari; Cokorda Bagus Jaya Lesmana
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10488

Abstract

ABSTRACT Epigenetics is a mechanism of changes in gene expression without altering an individual’s basic DNA structure. Environmental factors such as culture, parenting patterns, traumatic experiences, and supernatural beliefs are thought to influence epigenetic processes that contribute to the emergence of mental disorders, including schizophrenia with hallucinatory symptoms. Social environments that reinforce certain supernatural beliefs may affect how individuals interpret psychological experiences, thereby potentially worsening mental health conditions. This study aims to determine the role of epigenetics in shaping the influence of culture and beliefs as epigenetic pro-modulators and contributing factors to the emergence of schizophrenia symptoms. The study employed a descriptive approach using case analysis of patients experiencing hallucinatory disorders. The research stages included identifying patients’ socio-cultural environmental histories, traumatic experiences, experiences of violence, and delays in medical treatment. The data were then analyzed to examine the relationship between environmental factors and the psychological conditions of the patients. The findings revealed that there were 9 cases of patients with hallucinatory disorders, all of whom had a history related to indigo environments (100%) and supernatural beliefs (100%). In addition, all patients had experienced severe traumatic stress (100%), while a history of violence was found in 66% of the cases. The study also identified delays in seeking treatment in 55% of patients due to the strong influence of certain cultural and belief systems in interpreting symptoms of mental disorders. These findings indicate that schizophrenia is a complex psychotic disorder influenced by interactions among genetic, epigenetic, environmental, and cultural factors. Therefore, a multidisciplinary approach involving clinical intervention, cultural education, and early detection is essential to support more comprehensive and sustainable schizophrenia management. ABSTRAK Epigenetika merupakan mekanisme perubahan ekspresi gen tanpa mengubah susunan DNA dasar seseorang. Faktor lingkungan seperti budaya, pola asuh, pengalaman traumatis, dan kepercayaan supranatural diduga dapat memengaruhi proses epigenetik yang berperan dalam munculnya gangguan mental, termasuk skizofrenia dengan gejala halusinasi. Lingkungan sosial yang memperkuat keyakinan supranatural tertentu dapat memengaruhi cara individu memaknai pengalaman psikologis sehingga berpotensi memperburuk kondisi gangguan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran epigenetika dalam membentuk pengaruh budaya dan kepercayaan sebagai pro-modulator epigenetik serta faktor yang berkontribusi terhadap munculnya gejala skizofrenia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis kasus terhadap pasien gangguan halusinasi. Tahapan penelitian dilakukan melalui identifikasi riwayat lingkungan sosial budaya pasien, pengalaman traumatis, kekerasan, serta keterlambatan penanganan medis. Data kemudian dianalisis untuk melihat keterkaitan antara faktor lingkungan dan kondisi psikologis pasien. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 9 kasus pasien yang mengalami gangguan halusinasi dengan keseluruhan memiliki riwayat lingkungan indigo (100%) dan kepercayaan supranatural (100%). Selain itu, seluruh pasien memiliki pengalaman traumatis berupa stres berat (100%), sedangkan riwayat kekerasan ditemukan pada 66% kasus. Penelitian juga menemukan adanya keterlambatan berobat pada 55% pasien akibat kuatnya pengaruh budaya dan kepercayaan tertentu dalam memaknai gejala gangguan jiwa. Temuan ini menunjukkan bahwa skizofrenia merupakan gangguan psikotik kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, epigenetik, lingkungan, dan budaya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup intervensi klinis, edukasi budaya, serta deteksi dini untuk mendukung penanganan skizofrenia secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.
IDENTIFIKASI HAZARD ERGONOMI DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR. SOESELO KABUPATEN TEGAL (Studi Kasus Pada Radiografer) Nur Fadillah Amanda Masso; Sofie Nornalita Dewi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10698

Abstract

ABSTRACT The radiology installation is a medical support unit with a high risk of ergonomic hazards due to radiographers’ work activities involving non-ergonomic postures, repetitive movements, and patient manual handling activities. These conditions have the potential to cause musculoskeletal disorders and reduce service quality. Based on conditions at the Radiology Installation of RSUD dr. Soeselo, the implementation of ergonomics in radiographers’ work activities has not been optimal; therefore, this study aimed to identify potential ergonomic hazards and their contributing factors. This study used a descriptive qualitative method conducted from October 2025 to April 2026 with research subjects consisting of 11 radiographers, the head of the installation, and the head of the unit. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature studies. The results showed that the main ergonomic hazards included bending postures, prolonged standing, and repetitive movements that caused complaints of lower back pain, shoulder pain, muscle soreness, and fatigue. The main contributing factors included the absence of ergonomic training, limited patient transfer aids, the unavailability of ergonomic standard operating procedures (SOPs), the use of heavy conventional equipment, and high workloads with shift systems. The implementation of ergonomics in the radiology installation has also not been carried out in a structured manner and has not been supported by routine evaluations. Therefore, it is necessary to develop ergonomic SOPs, conduct regular training, provide supporting equipment, and carry out routine evaluations to improve radiographers’ occupational safety and health. ABSTRAK Instalasi radiologi merupakan unit penunjang medis yang memiliki risiko hazard ergonomi tinggi akibat aktivitas kerja radiografer yang melibatkan postur tidak ergonomis, gerakan berulang, serta aktivitas manual handling pasien. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal dan menurunkan kualitas pelayanan. Berdasarkan kondisi di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal, penerapan ergonomi pada aktivitas kerja radiografer belum optimal sehingga penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi hazard ergonomi dan faktor penyebabnya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada Oktober 2025–April 2026 dengan subjek penelitian sebanyak 11 radiografer, kepala instalasi, dan kepala ruang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi hazard ergonomi utama meliputi postur membungkuk, berdiri terlalu lama, dan gerakan berulang yang menyebabkan keluhan nyeri pinggang, nyeri bahu, pegal, dan kelelahan. Faktor penyebab utama meliputi belum adanya pelatihan ergonomi, keterbatasan alat bantu pemindahan pasien, belum tersedianya SOP ergonomi, penggunaan alat konvensional yang berat, serta beban kerja tinggi dengan sistem shift. Penerapan ergonomi di instalasi radiologi juga belum dilakukan secara terstruktur dan belum didukung evaluasi rutin. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan SOP ergonomi, pelatihan berkala, penyediaan alat bantu, dan evaluasi rutin untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja radiografer.
ENERGY DEFICIT AND MORTALITY IN CRITICALLY ILL COVID-19 PATIENTS: EXPLORING THE MODIFYING ROLE OF ARDS I Putu Prayoga Ratha; Niken Puruhita
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10714

Abstract

ABSTRACT Critically ill patients with COVID‑19 frequently develop a hypermetabolic and catabolic state that increases energy and protein requirements, placing them at risk of cumulative nutritional deficits and poor clinical outcomes. This study aimed to evaluate the association between cumulative energy and protein deficits and intensive care unit (ICU) mortality and to explore whether acute respiratory distress syndrome (ARDS) modifies these relationships. A retrospective cohort study was conducted in 188 adult COVID‑19 patients who stayed in the ICU for at least seven days. Energy and protein requirements were determined according to ICU nutrition guidelines, while actual intake from enteral and parenteral nutrition was recorded over the first seven ICU days. Nutritional deficits were defined as intake <80% of the prescribed target and analyzed using multivariable logistic regression adjusted for age and comorbidities, with additional interaction terms for ARDS. Early energy deficit was independently associated with higher in‑hospital mortality, whereas protein deficit showed a similar direction of effect but did not reach statistical significance. Interactions between ARDS and either energy or protein deficits were not statistically significant, although effect estimates suggested a tendency toward greater harm in patients with severe respiratory failure and mechanical ventilation. These findings indicate that preventing early energy deficit is a key component of ICU nutrition therapy and may help improve outcomes in critically ill patients with COVID‑19. ABSTRAK Pasien COVID‑19 kritis sering mengalami kondisi hipermetabolik dan katabolik yang meningkatkan kebutuhan energi dan protein, sehingga berisiko mengalami defisit nutrisi yang dapat memperburuk luaran klinis. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan defisit energi dan protein kumulatif dengan mortalitas di unit perawatan intensif (ICU) serta mengeksplorasi peran acute respiratory distress syndrome (ARDS) sebagai faktor pemoderasi. Studi kohort retrospektif ini melibatkan 188 pasien dewasa dengan COVID‑19 yang dirawat di ICU minimal tujuh hari. Kebutuhan energi dan protein ditentukan berdasarkan pedoman nutrisi ICU, sedangkan asupan aktual dihitung dari kombinasi catatan nutrisi enteral dan parenteral selama tujuh hari pertama perawatan. Defisit nutrisi didefinisikan sebagai asupan <80% dari target yang diresepkan, dan dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat dengan penyesuaian terhadap usia serta komorbiditas, termasuk interaksi dengan ARDS. Defisit energi awal berhubungan secara independen dengan peningkatan risiko kematian di rumah sakit, sedangkan defisit protein menunjukkan arah efek yang konsisten namun tidak mencapai signifikansi statistik. Interaksi antara ARDS dan defisit energi atau protein tidak bermakna, tetapi estimasi efek menunjukkan kecenderungan dampak yang lebih besar pada pasien dengan gangguan respirasi berat dan kebutuhan ventilasi mekanik. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan defisit energi pada fase awal perawatan ICU merupakan komponen kunci tata laksana nutrisi yang berpotensi memperbaiki luaran pada pasien COVID‑19 kritis.
PENGARUH EDUKASI PADA IBU BALITA TERHADAP PENGETAHUAN DETEKSI DINI PERKEMBANGAN BALITA USIA 36-47 BULAN Nadine Qotrunada Murdifin; Lumastari Ajeng Wijayanti
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10998

Abstract

ABSTRACT Toddler development is an important process that needs to be monitored continuously to support the optimization of children’s motor, language, social, and independence skills. Limited maternal knowledge regarding early detection of developmental milestones often causes developmental delays in children to go unrecognized at an early stage, making health education essential as a promotive and preventive effort. This study aimed to analyze the effect of educational intervention on mothers’ knowledge regarding early detection of toddler development among children aged 36–47 months. The study employed a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest design approach. The population consisted of 94 mothers of toddlers, with 77 respondents selected using the simple random sampling technique. The intervention was conducted through health education using lecture methods supported by leaflets, PowerPoint presentations, and the Maternal and Child Health Handbook (Buku KIA). Data were collected using a Guttman scale questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using the Wilcoxon matched pairs test. The findings indicated an increase in maternal knowledge after the educational intervention, as shown by the rise in the proportion of respondents with good knowledge from 81% to 90%, while no respondents remained in the poor knowledge category after the intervention. Statistical analysis showed a p-value of 0.013 (<0.05), indicating that education significantly influenced mothers’ knowledge regarding early detection of toddler development. Health education can serve as an effective strategy to strengthen mothers’ involvement in independently and sustainably monitoring child development. ABSTRAK Perkembangan balita merupakan proses penting yang perlu dipantau secara berkelanjutan untuk mendukung optimalisasi kemampuan motorik, bahasa, sosial, dan kemandirian anak. Rendahnya pengetahuan ibu mengenai deteksi dini perkembangan menyebabkan keterlambatan perkembangan anak sering tidak dikenali sejak awal sehingga diperlukan edukasi kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi terhadap pengetahuan ibu mengenai deteksi dini perkembangan balita usia 36–47 bulan. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian berjumlah 94 ibu balita dengan sampel sebanyak 77 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Intervensi dilakukan melalui edukasi kesehatan menggunakan metode ceramah dengan media leaflet, powerpoint, dan Buku KIA. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Guttman yang telah dinyatakan valid dan reliabel, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon matched pairs test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu setelah pemberian edukasi, ditandai dengan meningkatnya kategori pengetahuan baik dari 81% menjadi 90% dan tidak ditemukannya lagi kategori pengetahuan kurang setelah intervensi. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,013 (<0,05) yang menandakan bahwa edukasi berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan ibu mengenai deteksi dini perkembangan balita. Edukasi kesehatan dapat menjadi strategi yang efektif untuk memperkuat keterlibatan ibu dalam pemantauan perkembangan anak secara mandiri dan berkelanjutan.