cover
Contact Name
Nasrul ZA
Contact Email
nasrulza@unimal.ac.id
Phone
+6285362159499
Journal Mail Official
jurnal.tkim@unimal.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Teknik Kimia Unimal Jl. Batam No. 1 Bukit Indah Blang Pulo, Lhokseumawe 24353 - Indonesia Telepon:+62 0645 41373
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Teknologi Kimia Unimal
ISSN : 23033991     EISSN : 25805436     DOI : https://doi.org/10.29103/jtku.v11i1.7243
Published 2 times a year, in May and November, provides immediate open access that publishes updates in relation to Chemical Engineering Scieces. Thematic areas in relation to sciences are as follows:Chemical Processes Chemical Reaction Technology Mass and Heat Transfer Modeling Environment Bioprocess Technology Review Articles
Articles 210 Documents
PENGARUH PERBANDINGAN MINYAK KEMIRI DAN MINYAK BUNGA LAVENDER TERHADAP SIFAT LILIN AROMATERAPI FORMULASI LILIN AROMATERAPI BERBASIS MINYAK KEMIRI DENGAN PENAMBAHAN MINYAK BUNGA LAVENDER Sulhatun Sulhatun; Sarah Sarah; Masrullita Masrullita; Novi Sylvia; Zainuddin Ginting
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11610

Abstract

Minyak kemiri (candlenut oil) yang berarti candle yaitu lilin dan nut yaitu kacang. Sesuai dengan namanya, kemiri juga dapat dijadikan bahan dasar lilin karena kemiri mengandung 55-66% minyak dari berat bijinya. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan lilin aromaterapi telah banyak dilakukan terutama dalam memformulasikan essential oil. Namun dalam  memformulasikan minyak kemiri sebagai basis lilin belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh dari perbedaan formula minyak kemiri dan minyak bunga lavender terhadap basis lilin aromaterapi yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang soy wax sesuai dengan berat yang sudah ditentukan lalu dilelehkan sempurna. Kemudian, ditambahkan variasi minyak kemiri ( 5,7,10 dan 12 gram ) dan variasi essential lavender oil ( 2, 3, 4 dan 5 gram ) diaduk hingga homogen. Terakhir, dituangkan lilin cair kedalam gelas lilin yang telah dipasangkan sumbu. Pengujian lilin aromaterapi berupa organoleptik, waktu bakar, titik leleh dan kesukaan terhadap aroma. Dari hasil pengujian lilin aromaterapi diperoleh, untuk organoleptik lilin dengan bentuk padat, tidak retak, tidak cacat dan warna yang merata yaitu lilin A1 ( 5 : 2 ), A2 ( 5 : 3 ), A3 ( 5 : 4 ), A4 ( 5 : 5 ), B1 ( 7 : 2 ), B2 ( 7 : 3 ), B3 ( 7 : 4 ), B4 ( 7 : 5 ) dan C1 ( 10 : 2 ). Untuk titik leleh, titik leleh tertinggi yaitu pada formula A1 ( 5 : 2 )  yaitu 44,8⁰C sedangkan titik leleh terendah yaitu formula D4 ( 12 : 5 ) yaitu 38,8⁰C. Untuk waktu bakar, lilin dengan waktu bakar terlama adalah lilin D1 ( 12 : 2)  yaitu 12 jam 10 menit. Sedangkan lilin dengan waktu bakar paling singkat adalah lilin A4  ( 5 : 5 )  yaitu 8 jam 26 menit. Dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan hasil dari perbandingan formula lilin, semakin banyak minyak kemiri dan minyak bunga lavender yang digunakan maka tekstur lilin akan semakin lunak dan titik leleh lilin akan semakin rendah begitupula sebaliknya. Dan semakin banyak minyak kemiri dan semakin sedikit minyak bunga lavender yang digunakan maka waktu bakar lilin akan semakin lama. 
Pembuatan Briket Dari Kulit Jagung Menggunakan Perekat Getah Nangka Dan Pulut Iqbal Kamar; Nasrul ZA; Meriatna Meriatna; Syamsul Bahri; Rizka Nurlaila; Alifnur Alifnur
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11633

Abstract

Briket merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik atau biomasa yang kurang termanfaatkan. Diantara limbah biomasa yang memiliki potensi besar seperti ampas tebu, serbuk kayu, kulit jagung, cangkang sawit sekam padi. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit jagung yang biasanya banyak terbuang di pasar diolah menjadi bara yang bernilai ekonomis dengan parameter pengujian meliputi kadar air, kadar abu, nilai kalor, dan uji drop test. Pembuatan briket ini berbahan baku dari kulit jagung yang dimulai dengan proses pengarangan kemudian dihaluskan dan disaring dengan ukuran ayakan 50 mesh, kemudian dicampur dengan perekat dan dicetak lalu oven selama 2 jam. Adapun perekat yang digunakan adalah tepung pulut dan getah nangka dengan variasi perekat masing 3%, 5%, 7%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukan bahwa briket sudah memenuhi standar mutu SNI 1/6235/2000 briket arang. Hasil terbaik diperoleh pada variasi 5% perekat pulut dan getah nangka dengan kadar air masing-masing 4,686% dan 5,874%, kadar abu masing-masing sebesar 9,904% dan 7,623%, lalu nilai kalor 6335,42 kal/gr, dan 5383,82 kal/ serta dengan nilai drop test masing-masing 3,86%, dan 3,74%. Dengan melihat hasil penelitian ini bahwa kulit jagung dari limbah penjualan jagung di pasar dapat dimanfaatkan menjadi salah satu bahan baku alternatif dalam pembuatan briket.
Pengaruh Perbandingan Waktu Delignifikasi Dan Konsentrasi NaOH Dalam Pembuatan Gula Reduksi Dari Kulit Kopi Arabika (coffea Arabica) Masrullita Masrullita; Suryati Suryati; Tiara Rozah; Ferri Safriwardy
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11640

Abstract

Kopi  adalah  salah  satu  tanaman  yang  menghasilkan  produk  samping dalam  proses  pengolahannya yakni  kulit  kopi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh waktu delignifikasi dan konsentrasi NaOH pada hasil gula reduksi. Penelitian ini sudah banyak dilakukan sebelumnya menggunakan pelarut etanol dan asam kuat, yang belum dilakukan adalah menggunakan pelarut basa kuat. Penelitian ini menggunakan pelarut NaOH untuk mendegradasi lignin yang terdapat pada bahan baku. Pada proses pretreatment fisika kulit kopi dibersihkan lalu dimasukkan kedalam oven selama 24 jam, tujuannya untuk menghilangkan kadar air, kemudian dihaluskan menggunakan blender agar diperoleh hasil berbentuk serbuk. Proses delignifikasi menggunakan metode organosolv dengan variasi konsentrasi NaOH 1%, 3%, 5% dan 7% dengan variasi waktu delignifikasi 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit. Proses hidrolisis menggunakan katalis H2SO4 1% pada suhu 100oC  selama 4 jam, kemudian diuji yield, densitas dan kadar gula reduksi menggunakan metode luff schrool untuk mengetahui berapa banyak kadar gula reduksi pada kulit kopi arabika. Kadar gula reduksi tertinggi terdapat pada konsentrasi NaOH 7% dan waktu delignifikasi 120 menit sebesar 68,28%. Yield tertinggi terdapat pada konsentrasi NaOH 7% dan waktu delignifikasi 120 menit sebesar 60,98%. Densitas tertinggi terdapat pada konsentrasi NaOH 7% dan waktu delignifikasi 120 menit sebesar 0,985 g/cm3. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar konsentrasi NaOH dan lama waktu delignifikasi maka kadar gula reduksi yang dihasilkan akan semakin banyak.
PROSES PEMBUATAN SABUN PADAT DENGAN PROSES SAFONIFIKASI MELALUI REAKSI MINYAK JARAK DAN VCO DENGAN NaOH DAN MENAMBAHKAN BUBUK COKLAT (Theobroma cacao L.) Jalaluddin Jalaluddin; Zulnazri Zulnazri; Ishak Ibrahim; lukman hakim; siti hardiana daulay
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11611

Abstract

Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam lemak yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi asam lemak dengan alkali bebas. Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18, dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah. Pembuatan sabun mandi padat ini menggunakan bahan baku minyak kelapa, minyak jarak dan NaOH dengan penambahan bubuk coklat sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini agar dapat memanfaatkan bubuk coklat yang ada di lingkungan. Metode yang digunakan dalam pembuatan sabun mandi padat pada penelitian ini yaitu menggunakan metode panas. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah penambahan bubuk coklat pada pembuatan sabun ini. Pada penelitian ini hasil yang didapatkan stabilitas busa tertinggi terjadi pada NaOH 40% dan bubuk coklat 3 gr dengan nilai 83,78%, dan derajat keasaman (pH) pada persentase NaOH 20% dan 2 gr bubuk coklat dengan nilai 9,5. Uji organoleptik yang paling disukai oleh panelis adalah sabun padat yang terbuat dari persentase NaOH 40% dengan bubuk coklat  3 gr. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini ialah semakin rendah persentase bubuk coklat  yang digunakan, maka pH yang dihasilkan semakin tinggi begitu pula dengan stabilitas busa semakin tinggi persentase bubuk coklat yang digunakan maka stabilitas busa akan semakin baik.
BIOPOLIMER DARI KITOSAN-COLLAGEN UNTUK APLIKASI PEMBALUT LUKA DENGAN CMC DAN GLUKOMANAN SEBAGAI BAHAN IKAT SILANG Laksita Ika Paksi; Suryati Suryati; Agam Muarif; Narul ZA; Meriatna Meriatna
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11635

Abstract

Wound dressing is a nursing action to protect the wound by closing the wound, which can be done using sterile gauze that is not attached to the wound tissue. Currently, commonly used wound dressings are made of polymeric materials. Polymers for wound dressings consist of absorbents in contact with the wound. The absorbent layer will protect the wound and absorb the liquid that comes out of the wound. The purpose of this study is to make a biopolymer derived from chitosan, collagen and its cross-binding materials, namely CMC and glucomannan, and to find out the correct composition comparison to produce an ideal biopolymer. The method is drying in the oven on a thin glass printer for 24 hours. Mixing all raw materials with chitosan volume:collagen: CMC and chitosan:collagen: glucomannan in a ratio of 50:50:2,5; 50:50:5; 50:50:7,5; and 50:50:10. Then put in the oven with a temperature of 60⁰C during for 48 hours. The biopolymers formed are then tested to determine the characteristic properties of the biocomposites formed. The analysis carried out is FTIR group analysis, swelling analysis, absorption test and membrane thickness test. The results of the study with the comparison of chitosan: collagen: CMC and chitosan : collagen: glucomannan for the analysis of the FTIR group of the biopolymer membrane contains compounds (O-H), C-H, C =O, C-O-C, CH2, CN, and CH, for swelling tests on CMC additives the value obtained is 73%; 82%; 79%; 105% while for glucomannan additives, a result of 32%; 57%; 65%; and 51%, for absorption test on additives CMC the value that can be obtained is 125%; 176%; 285%; 233%; while for glucomannan additives, a yield of 97%; 96%; 90%; and 86% and for membrane thickness test additives CMC the value in can be 0.94 mm; 0.79 mm; 1.06 mm; 1.32 mm; while for glucomannan additives, the result is 1.3 mm; 1.58 mm; 1,6 mm; 1.67 mm.
OPTIMASI ADSORPSI LOGAM BERAT Pb (II) MENGGUNAKAN MODIFIKASI BENTONIT TERPILAR POLIKATION Al MENGGUNAKAN RSM BOX – BEHNKEN DESIGN Jakfar Jakfar; Nasrullah Nasrullah; Mukhlisien Mukhlisien; Ahmadi Ahmadi
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.13167

Abstract

Salah satu logam berat yang sangat berbahaya yaitu  logam berat timbal atau Pb(II), ion logam berat banyak dibuang ke badan air dan sangat membahaya lingkungan hihup , krarena dapat merusak otak/ saraf dan ginjal dan berbagai penyakit lainnya.Penelitian ini  bertujuan  mempelajari pengaruh konsentrasi ion Pb(II) (10-400 mg/L), konsensentrasi asam sirat  (0,2-0,6 M), waktu agitasi (30-120 menit)m dan suhu (30-70 oC) terhadap kapasitas serapan ion Pb(II) dan efisiensi penyerapan (%)  dengan metode adsorpsi menggunakan bentonit terpilar Al (Al- penyerapan Hasil penelitian menunjukkan pengaruh konsentrasi adsorbat ion Pb(II), konsentrasi asam sitrat , waktu agitasi dan suhu terhadap kapasitas serapan dan efisiensi penyerapan sangat signifiklan. yang sering digunakan yaitu metode adsorpsi dengan menggunakan  bentonit terpilar Al. Pada penelitian ini variasi konsentrasi logam berat Pb(II) yang digunakan yaitu sebesar 10= 400, ppm untuk dicampur kan ke dalam bentonit sebanyak 5 gram kemudian diaduk dengan reaktor berpengaduk selama waktu yang telah ditentukan. Setelah itu campuran disaring dan diambil filtrat nya untuk di analisa kandungan logam yang tersisa. dengan NaOH 0,5 M dan 250 ml AlCl3 0,1 M.didiamkan selama 24 jam kemudian dimasukkan ke dalam Furnace selama 12 jam. Variabel Proses pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi logam pemilar.  Pengaruh konsentrasi awal Pb (II), asam sitrat, waktu agitasi dan suhu adsorpsi terhadap kapasitas  adsorpsi ion Pb(II)  efisiensi dan interaksinya sasangat signifikan. Optimasi tercapai pada konsentrasi Pb (II) awal 241, 494 mg/l, asam sitrat 65,46 %. Waktu agitasi 75 menit, Temperatur 54,5 oC, kapasitas adsorpsi 21,76 mg/g dan efisiensi 87 % 986, 92 %)
OPTIMASI EKSTRAKSI FLAVONOID DARI DAUN PISANG KEPOK (MUSA PARADISIACA L) MENGGUNAKAN MICROWAVE-ASSISTED EXTRACTION (MAE) Zahara, Fazrina; Yuniharni, Dewi; Arziqni, Intan
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i2.13010

Abstract

Ekstraksi flavonoid dari daun pisang kepok (Musa paradisiaca L) dilakukan dengan menggunakan teknologi microwave-assisted extraction (MAE). Ekstraksi dengan bantuan gelombang mikro merupakan metode yang tepat untuk mengisolasi bahan kimia aktif. Proses ekstraksi flavonoid selanjutnya disempurnakan dengan menggunakan response surface methodology (RSM) berdasarkan hasil yang diperoleh dari percobaan faktorial tiga level dan desain Box-Behnken (BBD). BBD adalah bentuk spesifik dari desain eksperimental yang dikenal sebagai desain faktorial tiga tingkat, yang bertujuan untuk mencegah masuknya kombinasi faktor yang ekstrim. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan efisiensi teknik ekstraksi dengan bantuan gelombang mikro dengan mengoptimalkan daya gelombang mikro, waktu ekstraksi, dan konsentrasi pelarut untuk ekstraksi flavonoid. Variabel yang diteliti dalam percobaan ini meliputi tingkat daya, konsentrasi pelarut etanol, dan waktu ekstraksi. Tingkat daya diukur dalam watt dan mencakup tiga tingkat: 150, 300, dan 4500 Watt. Konsentrasi pelarut etanol dinyatakan sebagai persentase dan terdiri dari tiga konsentrasi: 50%, 60%, dan 70%. Serta waktu ekstraksi diukur dalam menit dan mencakup tiga durasi: 10, 15, dan 20 menit. Kondisi optimal untuk ekstraksi flavonoid dengan menggunakan teknologi microwave-assisted extraction (MAE) meliputi tingkat daya 300 watt, waktu ekstraksi 15 menit, dan konsentrasi pelarut 60%. Yield ekstraksi flavonoid dari daun pisang kapok ditentukan sebesar 11,38% pada kondisi tersebut.
PEMANFAATAN SEKAM PADI SEBAGAI ADSORBEN DALAM MENGURANGI KADAR Mn (II) DENGAN SISTEM ADSORPSI KONTINYU Maliki, Syariful; sulastriani, sulastriani; Ekawati, Linda
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2024
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v13i1.16411

Abstract

Penelitian ini adalah mempelajari tentang efisiensi penyerapan logam Mn dengan menggunakan bioadsorben sekam padi. Proses adsorpsi dilakukan secara kontinyu dengan lajur alir limbah 100 ml/menit. Sekam padi dijadikan karbon/biochar dengan memanaskan sekam padi didalam furnace secara pirolisis dengan suhu 400oC selama 90 menit. Sekam padi yang telah dijadikan biochar dilakukan perlakuan dengan ativasi kimia dengan NaOH 2 M. Pada proses penelitian  berat adsorben di variasikan 10 dan 5 gram didalam kolom adsorpsi, sedangkan konsentrasi Mn yang dialirkan ke kolom adsorpsi sebanyak 10 ppm. Adsiopsi koninyu berlanngsung selama 240 menit, dengan pengambilan sampel setiap 30 menit. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa efisien terbaik pada berat adsorben 10 gram dengan perlakuan aktivasi kimia, mencapai efisiensi 89,13%. Sedangkan adsorben dengan berat 5 gram dengan aktivasi kimia  efisiensi mencapai 77,43%. Jika di bandingkan  adsorben dengan perlakuan aktivasi kimia dan tanpa aktivasi memiliki efisiensi yang berbeda yang dapay dilihat hasilnya pada berat adsorben 10 gram tanpa aktivasi memiliki  efisiensi lebih rendah dari yang aktivasi kimia, yaitu 77,44%. 
PENGURANGAN KANDUNGAN LIMBAH Zn MENGGUNAKAN METODE ADSORPSI DENGAN MENGGUNAKAN FLY ASH Maliki, Syariful; Wardana, Safril Kartika; sulastriani, sulastriani; Alamsyah, Mochammed; Shafira, Nada; Lestari, Sri Dwi
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i2.13573

Abstract

Fly ash batubara adalah limbah industri yang dihasilkan dari pembakaran batubara dan terdiri dari partikel halus. Fly ash merupakan salah satu sisa pembakaran batu bara yang dihasilkan dalam jumlah besar. Aktivasi alkali pada fly ash dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi fly ash. Dalam penelitian ini, fly ash yang telah diaktivasi dengan alkali digunakan sebagai adsorben ion Zn(II). Pengaruh berat fly ash, waktu adsorpsi serta konsentrasi awal ion Zn(II) dipelajari. Hasil penelitian yang dilakukan adalah bahwa fly ash terbukti cukup efektif untuk menurunkan kadar Zn dengan efisiensi yang bervariasi dari 80% hingga 90% tergantung dari variabel-variabel yang dipakai. 
KARAKTERISASI BIOETANOL DARI PELEPAH KELAPA SAWIT Muhammad Muhammad; Sulhatun Sulhatun; Jalaluddin Jalaluddin; Meriatna Meriatna; Sri Awalin Marpaung
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11620

Abstract

Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri/perkebunan yang berguna sebagai penghasil minyak makan, minyak industri maupun bahan bakar. Salah satu pemanfaatan limbah padat kelapa sawit adalah dengan memanfaatkan pelepahnya menjadi sumber energi terbarukan sebagai bahan bakar alternatif seperti dalam pembuatan bioetanol. Bioetanol merupakan etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit menjadi bioetanol dengan parameter pengujian kadar bioetanol, densitas, viskositas, dan pH. Pelepah kelapa sawit didelignifikasi menggunakan NaOH 2,5 M selanjutnya dihidrolisih menggunakan H2SO4 2 M lalu difermentasi menggunakan saccharomyces cerevisiae dengan variasi berat 2 gr, 3,5 gr, 5 gr, 6,5 gr, dan 8 gr dan variasi waktu 3 hari, 5 hari, dan 7 hari setelah itu bioetanol yang diperoleh dimurnikan dengan proses distilasi. Kadar bioetanol terendah pada waktu fermentasi 3 hari sebesar 15,6503% dan tertinggi sebesar 40,3773%, untuk waktu fermentasi 5 hari kadar terendah sebesar 16,0684% dan tertinggi sebesar 42, 2380%, untuk waktu fermentasi 7 hari kadar terendah sebesar 20,7628% dan tertinggi sebesar 36,5855%. Densitas bioetanol terendah pada waktu fermentasi 3 hari sebesar 0,9269 gr dan tertinggi 0,9704 gr, untuk waktu fermentasi 5 hari densitas terendah sebesar 0,9127 gr dan tertinggi 0,9698 gr, untuk waktu fermentasi 7 hari densitas terendah sebesar 0,9312 gr dan tertinggi 0,9643 gr. Viskositas bioetanol pada waktu fermentasi 3 hari sebesar 0,66 cP dan tertinggi 0,85 cP, untuk waktu fermentasi 5 hari viskositas terendah sebesar 0,67 cP dan tertinggi 0,89 cP, untuk waktu fermentasi 7 hari viskositas terendah sebesar 0,69 cP dan tertinggi 0,81 cP. pH bioetanol yang diperoleh berkisar antara 6-6,4 untuk waktu fermentasi 3, 5, dan 7 hari. Kesimpulan yang didapat ialah Pelepah kelapa sawit mengasilkan kadar bioetanol tertinggi dengan kadar bioetanol sebesar 42,24 %, berat ragi terbaik dalam proses fermentasi menghasilkan kadar bioetanol tertinggi didapat pada berat 8 gram, dan lamanya masa fermentasi terbaik yang menghasilkan kadar bioetanol tertinggi didapat pada waktu fermentasi selama 5 hari.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - May 2025 Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2024 Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2023 Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023 Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2022 Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2022 Vol 10, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2021 Vol 10, No 1 (2021): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2021 Vol 9, No 2 (2020): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2020 Vol 9, No 1 (2020): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2020 Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2019 Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2019 Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2018 Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2018 Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2014 Vol 6, No 2 (2017): Journal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2017 Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2017 Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2016 Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2016 Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2015 Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2015 Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2013 Vol. 1 No. 2 (2013): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2013 Vol. 1 No. 1 (2012): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2012 More Issue