cover
Contact Name
Hadija
Contact Email
eboni@umma.ac.id
Phone
+628124247663
Journal Mail Official
eboni@umma.ac.id
Editorial Address
Jl.Dr.Ratulangi No.62 Maros
Location
Kab. maros,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal EBONI
ISSN : -     EISSN : 27156451     DOI : -
Jurnal EBONI Merupakan media publikasi karya ilmiah yang berisi tentang hasil-hasil penelitian tentang kehutanan dan lingkungan dalam ruang lingkup lokal dan nasional yang diterbitkan oleh program studi Kehutanan Fakultas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan, Universitas Muslim Maros.
Articles 90 Documents
KEGIATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI HUTAN DALAM PENGEMBANGAN KOPI BERBASIS AGRIBISNIS DI KABUPATEN GOWA(Study Kasus di Kelompok Tani Parang Maha Kelurahan Bontolerung Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa) Pawarrang, Wiraputra; Ibrahim, Helda; Rahman, Syamsul
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i1.2877

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kelembagaan Kelompok Tani Parang Maha dalam pengembangan usaha kopi berbasis agribisnis yang terintegrasi, meliputi subsistem hulu, pengolahan, hilir, dan penunjang. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan historis. Sumber data penelitian adalah data primer, yaitu data yang bersumber dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dari pemangku adat, tokoh masyarakat, dan masyarakat yang ada di Buluttana, Data sekunder yaitu data yang penulis peroleh melalui hasil bacaan dan literatur, serta informasi lainnya yang ada kaitannya dengan penelitian ini serta menunggunakan teknik purposif sampling. Metode Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dokumentasi, studi literatur, dan penggunaan kuesioner. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 25 orang. Hasil penelitian menunjukkan Hasil menunjukkan bahwa pada subsistem hulu, kelompok telah melaksanakan budidaya berbasis kesesuaian lahan, penggunaan benih unggul, teknik budidaya terpadu, dan konservasi melalui agroforestri. Subsistem pengolahan mencakup penerapan pengolahan kopi basah dan kopi kering, sortasi ketat terhadap biji kopi, serta penyimpanan dan pengemasan sesuai standar mutu. Di subsistem hilir, kelompok mengembangkan strategi pemasaran berbasis segmentasi, branding lokal, dan distribusi. Subsistem penunjang ditopang oleh pelatihan teknis, pendampingan kelembagaan, kemitraan strategis, pemanfaatan sarana pengolahan, serta awal adopsi teknologi digital. Namun, akses terhadap pembiayaan masih menjadi tantangan utama. Secara keseluruhan, kelembagaan kelompok memainkan peran sentral dalam membangun agribisnis kopi yang berkelanjutan dan berdaya saing. Penelitian ini merekomendasikan penguatan dukungan kelembagaan dan pembiayaan untuk mendorong keberlanjutan dan replikasi model agribisnis kopi berbasis kelompok tani hutan
POTENSI PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN PADA HUTAN KEMASYARAKATAN (HKM) ASSAMATURU KELURAHAN BULUTANA KECAMATAN TINGGIMONCONG KABUPATEN GOWA Sahrullah; Sumange, La; Ibrahim, Helda
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i2.2803

Abstract

Hutan Kemasyarakatan merupakan salah satu skema Perhutanan Sosial yang bertujuan untuk memberdayaan masyarakat yang tinggal didalam dan disekitar kawasan hutan melalui pemberian akses legal dalam pengelolaan hutan negara secara lestari. Kelompok Tani Hutan Assamaturu merupakan salah satu kelompok tani hutan yang telah mendapat izin perhutanan sosial dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022 berdasarkan SK.10330/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/12/2022 tanggal 27 Desember 2022 dengan luas 110 Hektar. Terdapat 2 kelompok usaha perhutanan sosial yang dikembangkan yaitu agroforestry dan wisata. Potensi sumberdaya alam yang dimiliki cukup besar sehingga dapat menjadi modal utama dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai potensi jasa lingkungan yang terdapat pada kawasan Hutan Kemasyarakatan Assamaturu di Kelurahan Bulutana Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi lapangan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HKm Assamaturu memiliki empat kategori jasa lingkungan utama berdasarkan klasifikasi MEA (2005), yaitu: (1) jasa penyediaan berupa air bersih, air irigasi lahan pertanian dan hasil hutan bukan kayu; (2) jasa pengaturan berupa pengatur iklim mikro dan tata air; (3) jasa budaya dalam bentuk potensi ekowisata seperti wisata air terjun, area camping ground, wahana bermain air, wahana sepeda gunung, flying fox dan nilai-nilai spiritual kultural; serta (4) jasa penunjang berupa keanekaragaman hayati. Potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan modal usaha untuk melengkapi fasilitas sarana prasarana pendukung. Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam pengelolaan dan pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan hutan kemasyarakatan Assamaturu sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan hutan.
KOMPOSISI STRUKTUR DAN ESTIMASI CADANGAN KARBON DI PULAU BANGKO-BANGKOANG KABUPATEN PANGKEP Herawaty, Herawaty; Nasir, Anugrahandini Nasir; Andraini, Dea Ekaputri; Ismail, Ismail
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i2.2965

Abstract

Mangrove ecosystems play a crucial role in climate change mitigation, particularly in carbon storage. This study was conducted on Bangko-Bangkoang Island, Pangkep District, South Sulawesi, to assess the carbon stock and species composition of mangroves in the area. The aim of this research was to analyze the aboveground biomass and carbon sequestration potential of the mangrove ecosystem. Field data were collected using a systematic sampling technique with a random start, where 20 x 20-meter plots were established. Biomass was calculated using allometric equations, and carbon stock was determined and converted to CO2 equivalent. The results showed that Rhizophora mucronata contributed the largest carbon stock, with 592.91 tons per hectare, equivalent to 2173.99 tons per hectare CO2-eq. Rhizophora stylosa stored 118.89 tons of carbon per hectare, equivalent to 435.94 tons per hectare CO2-eq, while Sonneratia alba stored 14.30 tons of carbon per hectare, equivalent to 52.45 tons per hectare CO2-eq. This study highlights the importance of mangrove conservation as a strategy for climate change mitigation, given its significant capacity for carbon storage and CO2 emission reduction
MODEL PEMBERDAYAAN BERBASIS INOVASI PADA USAHA LEBAH MADU (STUDI KASUS KTH MAKKATUO DI KABUPATEN GOWA) MAJID, NUSQAR; Musdalipa, Musdalipa; Ibrahim, Helda; Sumange, La Sumange
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i2.2828

Abstract

Usaha lebah madu merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan inovatif pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam pengembangan usaha lebah madu di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Jeneberang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menggali pengalaman, strategi, dan dinamika pemberdayaan KTH Makkatuo sebagai kelompok tani unggulan dalam budidaya lebah madu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan inovatif yang dilakukan mencakup adopsi teknologi tepat guna dalam budidaya lebah, penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi dan forum multipihak, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan pengembangan produk. Selain itu, kemitraan strategis dengan pihak swasta dan pemerintah telah memperkuat akses pasar dan pendanaan. Kegiatan pemberdayaan ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas madu hingga 40% dan pendapatan petani sebesar 35%. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya strategi pemberdayaan berbasis inovasi, kolaborasi, dan konteks lokal sebagai pendekatan efektif dalam pengembangan usaha HHBK yang berkelanjutan.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKAN LEBAH Trigona Sp DI KAWASAN BUDIDAYA LEBAH KELOMPOK TANI HUTAN LESTARI DI DESA GANTARANG KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN Muhammad Usman; Asjulia Asjulia; Muh Ichwan Kadir,; Dea Ekaputri Andraini
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i2.2946

Abstract

Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan sektor perlebahan yang ditunjang oleh kekayaan hayati dan kondisi iklim mendukung. Lebah Trigona sp. merupakan lebah tanpa sengat yang berperan penting sebagai polinator dan penghasil madu berkualitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman jenis tumbuhan pakan lebahTrigona sp. serta pola sebarannya di kawasan budidaya lebah Kelompok Tani Hutan Lestari Desa Gantarang. Penelitian dilakukan pada Mei 2025 di Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah menggunakan metode analisis vegetasi dengan 5 plot berukuran 20×20 m. Parameter yang diamati meliputi tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai. Data dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H'). Ditemukan 11 jenis vegetasi pakan lebah dengan INP tertinggi pada tingkat pohon adalah Gmelina arborea (89,50%), Tingkat tiang Myristica fragrans (83,37%), tingkat pancang Gmelina arborea (105,74%), dan tingkat semai Myristica fragrans (85,71%). Indeks keanekaragaman berkisar 1,43-1,93 (kategori sedang).Tumbuhan pakan utama meliputi pala, cengkeh, kopi arabika, kakao, rambutan, nangka, langsat,dan manggis dengan masa berbunga sepanjang tahun. Kawasan penelitian memiliki keanekaragaman vegetasi pakan lebah yang cukup baik untuk mendukung budidaya Trigona sp.,meskipun perlu upaya peningkatan diversitas pada strata regeneratif. Keywords: apikultur; hutan kemasyarakatan; lebah tanpa sengat; Myristica fragrans; Shannon-Wiener
EVALUASI KUALITAS MADU DARI PAKAN SUBTITUSI CAIRAN GULA PASIR PADA LEBAH Tetragonula biroi Budiaman; Baharuddin; Muhammad Iqbal; Andi Prastiyo
Jurnal Eboni Vol. 8 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v8i1.3204

Abstract

Stingless bees, particularly Tetragonula biroi, have been widely cultivated in Sulawesi. Beekeeping in urban environments presents different vegetation conditions and sometimes lacks food sources for bees. This study aims to evaluate the quality of T. biroi honey produced by feeding liquid granulated sugar during the nectar-poor season. This study was conducted in Kampung Rimba, Makassar, South Sulawesi, from March to April 2023. Honey quality parameters were evaluated by comparing the results with the Indonesian National Standard (SNI 8664:2018). The results showed that the quality of the honey produced did not all meet SNI standards. The quality that was met was found in the sucrose, with an average of 2.47% and acidity level, with an average of 46.68% NaOH/kg. Other qualities that did not meet were moisture content, with an average of 31.04% and reducing sugar, with an average of 40.85%. These results indicate that sugar substitute feed for T. biroi bees can be used during the lean season. The use or replacement of liquid granulated sugar can only be applied when the beekeeping area lacks nectar food sources.
Impact of Land Cover Change on Erosion in the Suso Watershed Wahyuni; Maryani Sempa
Jurnal Eboni Vol. 8 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v8i1.3283

Abstract

Land cover change is primarily caused by direct land use, which, if carried out without considering conservation measures, can lead to the degradation of watershed quality, resulting in increased sedimentation and erosion with low infiltration rates. This study aims to examine land cover changes, other factors influencing erosion, and the effect of land cover on erosion in the Suso Watershed in 2018 and 2023 using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model. The study consists of three stages: 1) Analysis of land cover data for 2018 and 2023 to identify changes in land cover related to erosion hazard; 2) Analysis of other influencing factors such as slope, rainfall, and soil type; and 3) Erosion hazard modeling using SWAT. Land cover change in the Suso Watershed between 2018 and 2023 significantly affected erosion hazard levels. In 2018, the area was predominantly classified under moderate erosion hazard (60–180 tons/ha/year), while in 2023, it shifted to being dominated by the severe erosion hazard category (180–480 tons/ha/year). Other factors contributing significantly to erosion include steep slope conditions (>45%), high annual rainfall (2,700.50–2,759.06 mm in 2018), which increased to a very high category in 2023 (3,062.72–3,157.82 mm), and the predominance of inceptisol soil types. The conversion of forested land to non-forested land, along with other influencing factors, has contributed to the increase in erosion hazard levels in the Suso Watershed.
Evaluasi Kinerja DAS Warjori Berdasarkan Kejadian Banjir dan Longsor di Kampung Jim Kabupaten Pegunungan Arfak Andi Munawir; Rudi A. Maturbongs Eboni; Bernadetta M. G. Sadsoeitoeboen, Eboni
Jurnal Eboni Vol. 8 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v8i1.3388

Abstract

The Warjori Watershed is one of the strategic watersheds in West Papua that functions as a water regulation system, erosion controller, and ecological support for the surrounding communities. On May 16, 2025, flash floods and landslides occurred in Jim Village, Catubouw District, Arfak Mountains Regency, which is located within the Warjori Watershed area. This study aimed to evaluate the performance of the Warjori Watershed based on flood and landslide event parameters through the analysis of rainfall, land cover, critical land conditions, soil types, and human activities. The research employed a quantitative descriptive approach using spatial analysis and desk analysis based on the 2025 monitoring and evaluation data from BPDAS Remu Ransiki. The results showed that the Warjori Watershed has a high level of vulnerability to hydrometeorological disasters. Extreme rainfall reaching 123.44 mm/day prior to the disaster caused soil saturation and increased surface runoff. Land cover within the watershed is still dominated by primary dryland forest covering 65.95% of the area; however, critical land conditions reached 95.28%, categorized as moderately critical to very critical. In addition to natural factors, illegal gold mining activities have also intensified the risk of landslides and flooding. This evaluation indicates that the hydrological function of the Warjori Watershed has declined, thereby requiring integrated watershed rehabilitation, control of illegal activities, and strengthened disaster mitigation efforts to support sustainable watershed management in West Papua.
Fase Transisi Infiltrasi pada Tegakan Mahoni dan Akasia di Hutan Pendidikan: Pendekatan Model Horton Nurdin Dalya; Hadija; Asjulia Eboni; Wahyullah Eboni
Jurnal Eboni Vol. 8 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v8i1.3409

Abstract

Infiltration is a critical hydrological process that controls water movement into the soil and influences runoff generation, groundwater recharge, and watershed stability in forest ecosystems. This study aimed to analyze the infiltration transition phase under mahogany and acacia stands using the Horton infiltration model in an educational forest area. Field observations were conducted under approximately 60-year-old stands consisting of three observation plots for each stand. Infiltration measurements were recorded for 30 minutes in each plot. The results showed that infiltration rates in both stands followed an exponential decline pattern consistent with the Horton model. However, distinct differences in infiltration transition behavior were identified between mahogany and acacia stands. Acacia stands exhibited a rapid infiltration decline and reached the transition phase faster, generally within the first 6–8 minutes, indicating a quicker shift toward quasi-steady infiltration conditions. In contrast, mahogany stands demonstrated a more gradual decline, with a longer infiltration persistence, during which the transition phase occurred around 10–15 minutes before approaching stable conditions. The findings suggest that mahogany stands exhibit greater hydrological resilience and higher temporary water storage capacity than acacia stands. In addition, infiltration variability among plots revealed substantial micro-site heterogeneity despite similar stand ages. These results emphasize the importance of stand characteristics in controlling temporal infiltration dynamics and hydrological functions in tropical plantation forests.
Analisis Kepuasan Pengunjung dalam mendukung Pengembangan Ekowisata Pattunuang Kabupaten Maros Muliana Djafar; Nirawati Eboni; Andi Nurul Mukhlisa Eboni; Nurzaman; Dea Ekaputri Andraini
Jurnal Eboni Vol. 8 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v8i1.3500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pengunjung terhadap Objek Wisata Alam Pattunuang di Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pengembangan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel sebanyak 72 responden yang dipilih melalui teknik *purposive sampling* dan *accidental sampling*. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Guttman yang mencakup lima dimensi penilaian: daya tarik, fasilitas, minat untuk berkunjung kembali, aksesibilitas, dan kualitas layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengunjung secara keseluruhan tergolong tinggi, dengan persentase kepuasan tertinggi terlihat pada indikator minat untuk berkunjung kembali (97,2%) dan daya tarik (98,6%). Namun, beberapa aspek masih memerlukan perbaikan, khususnya aksesibilitas jaringan komunikasi (dengan tingkat ketidakpuasan sebesar 75,0%) dan kebersihan fasilitas toilet. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan ekowisata berkelanjutan melalui peningkatan kualitas layanan, pengembangan infrastruktur akses digital, pemeliharaan fasilitas secara berkala, serta pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ekowisata yang berbasis pada kepuasan pengunjung di kawasan karst Maros-Pangkep.