cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025" : 11 Documents clear
Gambaran Klinis Pasien Trauma Palpebra di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2021-2023 Freegaito, Adhycahyo; Hendriati; Irawati, Lili
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1340

Abstract

Latar Belakang:  Trauma palpebra merupakan cedera periokular yang sering ditemukan dan dapat memengaruhi fungsi proteksi okular, drainase air mata, serta estetika wajah. Keterlibatan kanalis lakrimal dapat menyebabkan epifora dan komplikasi jangka panjang apabila tidak ditangani secara tepat. Data mengenai karakteristik klinis dan keterlibatan kanalis lakrimal masih terbatas meskipun trauma palpebra merupakan salah satu cedera mata paling umum. Objektif: Mengetahui gambaran klinis, mekanisme cedera, lokasi laserasi, dan pola keterlibatan kanalis lakrimal pada pasien trauma palpebra di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2021 - 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder rekam medis. Sebanyak 68 sampel pasien trauma palpebra yang memenuhi kriteria inklusi diolah dengan teknik total sampling. Hasil: Mayoritas pasien merupakan kelompok dewasa (61,8%) dan didominasi oleh laki-laki (67.6%) dengan mekanisme cedera terbanyak akibat benda tumpul (83.8%) dengan lokasi kejadian paling sering adalah jalan raya (63.2%). Trauma banyak terjadi di regio palpebra superior (35.3%), sebagian besar tanpa keterlibatan margo maupun kanalis lakrimal (63,2%), namun semua trauma yang mengenai margo palpebra melibatkan kanalis lakrimalTatalaksana terbanyak adalah penjahitan palpebra  (63.2%). Kesimpulan: Trauma palpebra paling banyak dialami oleh laki-laki usia produktif terutama akibat trauma tumpul yang terjadi di jalan raya dengan regio superior sebagai lokasi utama tanpa kerusakan margo atau kanalis lakrimal. Deteksi dini keterlibatan saluran lakrimal tetap penting dilakukan untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Pencegahan trauma dapat dilakukan melalui edukasi keselamatan berkendara dan kepatuhan aturan lalu lintas. Penelitian selanjutnya disarankan mengevaluasi hasil jangka panjang dan strategi pencegahan yang lebih efektif.
Evaluasi Penggunaan Obat Antiemetik pada Pasien Kanker Ovarium Pasca Kemoterapi Putra, Xavier Novdi Tansyah; Rustam, Erlina; Ariani, Novita; Rahmatini; Muhammad, Syamel; Intan, Shinta Ayu
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1362

Abstract

Latar Belakang: Kanker ovarium merupakan kanker pada perempuan yang cukup sering terjadi dan mematikan. Penggunaan kemoterapi dalam pengobatan dapat menyebabkan mual muntah sehingga diperlukan penggunaan obat yang efektif dan rasional. Objektif: Untuk mengevaluasi penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020-2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data rekam medis dikumpulkan dengan teknik total sampling. Sampel yang memenuhi inklusi berjumlah 45 sampel. Hasil: Hasil penelitia­­n didapatkan karakteristik terbanyak pada kelompok usia 41-60 tahun (48,9%), berpendidikan SLTU (75,6%), dan pekerjaan ibu rumah tangga (55,6%). Jenis obat kemoterapi yang paling banyak digunakan adalah paklitaksel-karboplatin (42,2%). Sebagian besar pasien mendapatkan antiemetik pra-kemoterapi berupa deksametason-difenhidramin-ondansetron-ranitidin (71,1%) serta pasca kemoterapi berupa metoklopramid-ranitidin dalam 3 siklus (74,8%). Rasionalitas penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi yaitu kesesuaian indikasi 93,3%, kesesuaian obat 62,2%, kesesuaian dosis 91,1%, kesesuaian pasien 97,8% dan potensi interaksi obat 2,2%. Kesimpulan: Karakteristik pasien kanker ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020-2022 sering terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun, pendidikan SLTU, dan pekerjaan ibu rumah tangga. Sebagian besar pasien mendapatkan obat kemoterapi paklitaksel-karboplatin dan obat antiemetik pra-kemoterapi deksametason-domperidon-ondansetron-ranitidin serta pasca kemoterapi metoklopramid-ranitidin. Rasionalitas penggunaan obat antiemetik pada pasien kanker ovarium pasca kemoterapi sebagian besar sudah sesuai. Kata kunci: antiemetik, kanker ovarium, kemoterapi, rasionalitas
Perbandingan Metode Boiling Dan Kit Komersial Untuk Ekstraksi DNA TB, Tinjauan Dari Aspek Kualitas, Kuantitas, Dan Integritas DNA. Taufiqulhakim, Muhammad Rafi; Linosefa; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Putra, Andani Eka
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1399

Abstract

Latar Belakang: Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Prevalensi penyakit tuberkulosis pada tahun 2023 meningkat dari tahun 2022, hal ini juga disebabkan karena lamanya diagnosis dari penyakit tuberkulosis. Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan salah satu teknologi molekular yang berkembang untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan ekstraksi DNA TB dengan menggunakan metode boiling dan kit komersial, yang ditinjau dari aspek kualitas, kunatitas, dan integritas DNA. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik. Penelitian ini dilakukan di Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang pada periode bulan Juli 2023 - Maret 2024. Hasil: Pada aspek kualitas DNA, ekstraksi DNA dengan menggunakan metode boiling memiliki rata-rata sekitar 1.47 dan kit komersial memiliki rata-rata sekitar 1.79. Pada aspek kuantitas DNA, ekstraksi DNA dengan menggunakan metode boiling memiliki rata-rata 7.1 ng/µl dan kit komersial memiliki rata-rata sekitar 17.1 ng/µl. Pada aspek integritas DNA metode boiling dapat memvisualisasikan 28 sampel positif  dan kit komersial 22 sampel positif. Kesimpulan: pada penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan antara metode boiling dan kit komersial pada aspek kualitas dan kuantitas DNA, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara metode boiling dan kit komersial pada aspek integritas DNA. Kata kunci:  Mycobacterium tuberculosis, Ekstraksi, DNA, Boiling, PCR  
Gambaran Hasil MCQ Blok Angkatan 2019 dan 2020 Pada Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Putri, Rauffi Hayatul; Firdawati; Yulistini; Mulyana , Roza; Amir , Arni; Rahmatini
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1428

Abstract

Latar Belakang: Multiple Choice Question (MCQ) merupakan salah satu bentuk penilaian sumatif yang dilakukan tiap akhir blok pada pendidikan kedokteran. Penilaian ini berguna untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa sehingga dapat menghasilkan dokter yang kompeten. Objektif: Untuk mengetahui gambaran hasil MCQ blok angkatan 2019 dan 2020 pada program studi kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Metode: Jenis penelitian ini berupa deskriptif dengan studi cross-sectional. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilandata sekunder yaitu nilai MCQ blok. Teknik pengambilan data dengan total sampling sebanyak 466 orang. Hasil: Nilai rata-rata MCQ tertinggi Angkatan 2019 yaitu blok 4.1 Gangguan Neonatus, Anak, Remaja, dan Lansia serta Angkatan 2020 yaitu blok 4.2 Kegawatdaruratan. Sedangkan, nilai rata-rata terendah pada kedua angkatan terdapat pada blok 1.3 Hormon dan Persarafan. Nilai rata-rata tertinggi pada kedua angkatan terdapat pada jalur masuk SNMPTN. Kesimpulan: Kesimpulan pada penelitian ini nilai rata-rata MCQ tertinggi diperoleh ketika mahasiswa berada pada tingkat akhir dan terendah pada tahun pertama.
Hubungan Diabetes Melitus dengan Kematian dan Rehospitalisasi Pasien STEMI Pasca IKPP Sylvia; Elfi, Eka Fithra; Putri, Biomechy Octomalio; Ilhami, Yose Ramda; Anggraini, Fika Tri
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1467

Abstract

Latar Belakang: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) tetap menjadi tantangan kesehatan utama dengan risiko kematian dan rehospitalisasi yang lebih tinggi pada pasien dengan diabetes melitus (DM). Meskipun intervensi koroner perkutan primer (PPCI) efektif menurunkan angka kematian dibandingkan terapi fibrinolitik, pasien DM menghadapi risiko komplikasi lebih besar karena kerusakan vaskular dan hiperglikemia. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan DM dengan kematian dan rehospitalisasi padapasien STEMI pasca IKPP di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik obsevasioal dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik pasien dan  menggunakan media telepon. Teknik pegambilan sampel adalah total sampling dengan 104 subjek memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Dari 104 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 89 laki-laki, usia dominan 45–64 tahun (n=62), 69 memiliki IMT ≥23, 39 dengan lokasi infark anterior, 69 perokok, 101 mengalami penurunan kadar HDL, 71 mengalami peningkatan kadar LDL, dan 85 memiliki faktor risiko ganda. Terdapat 9 kasus kematian (8 dengan DM) dan 19 kasus rehospitalisasi (14 dengan DM), dengan korelasi signifikan antara DM dengan kematian (p=0,015) serta rehospitalisasi (p=0,034). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pasien STEMI didominasi laki-laki, usia 45-64 tahun, dengan IMT ≥23, penurunan HDL, peningkatan LDL, lokasi infark anterior, faktor risiko ganda, dan merokok. Kejadian kematian dan rehospitalisasi lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, dengan hubungan signifikan terhadap peningkatan risiko keduanya
Hubungan antara Lama Menjalani Terapi Hemodialisis dengan Kualitas Hidup pada Pasien Chronic Kidney Disease di RS M. Djamil Padang Nabilah, Hanifah; Afriant, Rudy; Yaunin, Yaslinda; Wahid, Irza; Sauma, Eldi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1475

Abstract

Latar Belakang: Penyakit chronic kidney disease (CKD) merupakan abnormalitas struktur dan fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) atau kadar glomerulus kurang dari 60 mL/menit/1,73m2 yang bersifat ireversibel. Salah satu terapi yang digunakan sebagai pengganti fungsi ginjal adalah hemodialisis. Terapi hemodialisis ini digunakan pada pasien CKD stadium akhir dan berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pasien chronic kidney disease di RS M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan wawancara kepada pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RS. M. Djamil Padang. Hasil: Kasus CKD lebih banyak terjadi pada wanita (50,2%), dengan kelompok umur rentang 46-65 tahun, pendidikan terakhir terbanyak SMA serta 63,1% pasien tidak bekerja. Lama pasien menjalani HD terbanyak >24 bulan dan memiliki kualitas hidup cukup. Hasil uji Chi-square p=0,193 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pada pasien chronic kidney disease di RS. M. Djamil Padang. Kata kunci:  Chronic Kidney Disease, Terapi Hemodialisis,Kualitas Hidup.
Perbedaan Rerata Kadar Albumin Pasien Lupus Eritematosus Sistemik berdasarkan Derajat Aktivitas Penyakit di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ulti, Zifa Amanda; Elvira, Dwitya; Firdawati; Efrida; Raveinal; Aliska, Gestina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1478

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kompleks yang dapat menyerang berbagai pertahanan sistem tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan pembentukkan autoantibodi sehingga dapat menyebabkan inflamasi kronis yang berujung pada kerusakkan jaringan tubuh. Aktivitas Penyakit LES diduga dapat mempengaruhi kadar albumin di dalam tubuh.    Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata kadar albumin pasien LES berdasarkan derajat aktivitas penyakit di RS M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel penelitian berjumlah 59 pasien LES rawat jalan dan rawat inap di RS M. Djamil Padang yang dikumpulkan secara consecutive sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji one way annova. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan mayoritas pasien LES berada di rentang usia 26−35 tahun (44,1%), berjenis kelamin perempuan (100%). Lebih dari setengah pasien LES mengalami hipoalbuminemia (76,3%), sebagian besar pasien memiliki derajat aktivitas penyakit sedang (39%). Rerata kadar albumin terendah ditemukan pada pasien dengan derajat aktivitas penyakit berat sebesar 2,25 g/dL. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada rerata kadar albumin pasien LES. Rerata kadar albumin terendah pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit berat. Rerata kadar albumin tertinggi pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit ringan.
Characteristics of Breast Cancer Patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang Ahmad Aqeed Izreen; Darwin, Eryati; Khambri , Daan
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1531

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women in Indonesia and worldwide. Among the proven risk factors are age, age of menarche, age of menopause, history of hormonal birth control use, number of parities, breastfeeding history, family history of breast cancer and smoking history. Objective: This study was conducted to determine the risk factors and distribution of breast cancer patients based on risk factors at Dr. M. Djamil Padang Hospital in 2022-2023. Methods: This study is a retrospective descriptive study. The study sample was breast cancer patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang and was selected using consecutive sampling technique. Data was taken from the patient's medical record and processed using the SPSS application to obtain a distribution of patients based on risk factors. Results: The results of the study obtained a sample according to the inclusion and exclusion criteria were 52 people. The majority of patients were aged 40–49 (40.4%), menarche at the age of 13 and 14(50%), not yet menopause (26.9%), using hormonal birth control for 5 years and more (42.3%), having 2 children (34.6%), breastfeeding for 24 to 35 months (50%), not having a family with breast cancer (88.5%) and never smoked but was a passive smoker (92.3%). Conclusions:  Exposure to risk factors increase the incidence rate of breast cancer. Keyword: reproductive period, family history, smoking
Patofisiologi Patent Ductus Arteriosus Kino; Hariyanto, Didik; Perdana, Rully; Byant, Nadhila Annisa
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1596

Abstract

Background: Patent ductus arteriosus (PDA) is a congenital heart defect resulting from the failure of the ductus arteriosus to close after birth. This condition leads to a left-to-right shunt between the aorta and the pulmonary artery, which may cause increased pulmonary blood flow, pulmonary hypertension, and heart failure if left untreated. Physiological closure of the ductus arteriosus after birth depends on postnatal circulatory changes and the regulation of molecular mediators, particularly prostaglandin E2 and nitric oxide, with additional contributions from genetic factors. Objective: To describe the role of molecular mechanisms and genetic factors in the pathophysiology of PDA and to highlight their implications for diagnostic and therapeutic approaches. Methods: This article is based on a narrative review of the scientific literature addressing the pathophysiology of PDA, with particular emphasis on the roles of prostaglandins, nitric oxide, and genetic factors such as the TBX1 gene and the Notch signaling pathway. Results: The literature indicates that persistent prostaglandin E2 levels and ongoing nitric oxide activity contribute to the maintenance of ductal patency after birth, especially in preterm neonates. Moreover, dysregulation of the TBX1 gene and alterations in the Notch signaling pathway are associated with impaired development and reduced contractility of ductus arteriosus smooth muscle, thereby hindering normal physiological closure. These findings provide a mechanistic basis for the use of prostaglandin-inhibiting pharmacological therapy in the management of PDA. Conclusion: Patent ductus arteriosus is a multifactorial condition driven by complex interactions between molecular mediators and genetic determinants. A comprehensive understanding of these mechanisms is essential for optimizing PDA management through more precise, pathophysiology-based therapeutic strategies.
Sindrom Hipoventilasi Obesitas (Pickwickian Syndrome): Laporan Kasus Novia, Juvita; Ida Bagus, Aditya Nugraha; Wira, Gotera
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1623

Abstract

Background: Obesity hypoventilation syndrome (OHS) or Pickwickian syndrome is a chronic respiratory disorder characterized by the combination of obesity, daytime hypercapnia, and sleep-related breathing disturbances. This condition is often underdiagnosed and may increase the risk of morbidity and mortality. Case: A 30-year-old male presented with complaints of shortness of breath, snoring during sleep, frequent nighttime awakenings, fatigue, and headaches. The patient was severely obese and had a history of hypertension, type 2 diabetes mellitus, and a 15-year history of smoking one pack of cigarettes daily. He was diagnosed with severe community-acquired pneumonia (CAP) with sepsis, right heart failure, and OHS. The patient received ventilatory support, diuretics, antibiotics, blood glucose regulation with insulin, and physiotherapy. Discussion: During hospitalization, the patient had difficulty weaning from the ventilator due to OHS. The diagnosis was based on three main criteria: a body mass index >30 kg/m², daytime PaCO₂ >45 mmHg, and sleep-disordered breathing in the absence of other causes of alveolar hypoventilation. Conclusion: OHS should be promptly recognized and managed through a multidisciplinary approach to reduce morbidity and mortality. Education and clinical awareness of this syndrome must be improved, as it is frequently underdiagnosed. Keywords: obesity, hypoventilation, pickwickian syndrome, sleep disorder

Page 1 of 2 | Total Record : 11