cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 43 No 2 (2025): Juni" : 11 Documents clear
Hubungan Mean Platelet Volume dengan Skor Sequential Organ Failure Assessment pada Pasien Sepsis Nasution, Putra Fajar; Primaputra Lubis, Andriamuri; Hanafie, Achsanuddin
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.344

Abstract

Latar Belakang: Sepsis adalah suatu disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh kelainan regulasi respon host terhadap infeksi. Skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit berdasarkan derajat disfungsi organ secara serial. Mean platelet volume (MPV) adalah salah satu parameter trombosit di mana trombosit turut berperan dalam proses inflamasi penyakit infeksi akut dan kronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode pengumpulan data secara kohort – prospective. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif terhadap pasien penderita sepsis di ICU yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis korelasi nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis menggunakan uji korelasi Pearson. Semua uji statistik dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna.Hasil: Hasil penelitian didapatkan rerata nilai MPV H1 sebesar 9,20± 1,72 dengan skor SOFA H1 sebesar 7,81 ± 2,66. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai r > 0,522 dengan nilai p<0,002. Rerata nilai MPV H3 sebesar 9,47±1,39 dengan skor SOFA H3 sebesar 7,96 ± 2,49. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai r > 0,441 dengan nilai p <0,010. Temuan ini mengartikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara MPV dengan skor SOFA dengan kekuatan korelasi yang kuat.Simpulan: Terdapat peningkatan nilai MPV pada pasien sepsis seiring dengan peningkatan skor SOFA, serta ditemukan hubungan nilai MPV dengan skor SOFA pada pasien sepsis baik di hari pertama maupun hari ketiga.
Perbandingan Efektivitas Pemberian Antibiotik Empiris Ceftriaxone dan Levofloxacin pada Pasien Sepsis dengan Community Acquired Pneumonia (CAP) di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2020-2022 Siregar, Ahmad Habibi; Lubis, Bastian; Solihat, Yutu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.380

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 40-50% pasien yang dirawat di ICU dengan sepsis menunjukkan sumber infeksi pernapasan. Community acquired pneumonia (CAP) merupakan penyebab paling umum dari sepsis pada banyak kasus yang dilaporkan. Pemberian terapi antibiotik empiris yang tepat pada sepsis adalah salah satu faktor yang paling penting untuk outcome yang lebih baik dari pasien sepsis dengan CAP. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas levofloxacin dan ceftriaxone pada terapi antibiotik empiris karena kedua obat ini merupakan obat yang paling sering digunakan sebagai terapi empiris sesuai pola kuman dan kepekaannya terhadap antibiotik di RSUP H. Adam Malik Medan.Metode: Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan sumber data sekunder yang diperoleh dari rekam medis di RSUP H. Adam Malik Medan periode tahun 2020-2022. Populasi penelitian adalah semua pasien sepsis dengan CAP yang menjalani perawatan di RSUP H. Adam Malik. Pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi.Hasil: Tidak dijumpai adanya perbedaan nilai mortalitas subjek penelitian yang menggunakan levofloxacin dan ceftriaxone dengan p value 0,107. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada lama rawatan antara kelompok pemberian antibiotik levofloxacin dan ceftriaxone dengan p value 0,90.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efektivitas penggunaan levofloxacin dan ceftriaxone terhadap pasien sepsis dengan CAP di RSUP H. Adam Malik.
Pengaruh Amlodipin sebagai Adjuvan Analgetik terhadap Kadar IL-6, Konsumsi Opioid, dan Skor Nyeri Pascabedah pada Operasi Timpanomastoidektomi Hasmirah; Wirawan, Nur Surya; Datu, Madonna D.; Bahar, Burhanuddin; Tanra, Andi Husni; Nurdin, Haizah; Irwan, Andi Alamsyah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.383

Abstract

Latar Belakang: Opioid merupakan agen antinosiseptif yang paling efektif untuk mengatasi nyeri pascabedah, tetatpi penggunaannya dapat menimbulkan efek samping. Adjuvan diberikan untuk meningkatkan efek analgetik dan meminimalkan konsumsi opioid sehingga mengurangi efek samping opioid. Penghambat kanal kalsium (CCB) seperti amlodipin dapat digunakan sebagai adjuvan karena dapat mengurangi sinyal nyeri dengan cara yang berbeda dari opioid. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh amlodipin terhadap kadar IL-6, konsumsi opioid, dan skor nyeri setelah operasi timpanomastoidektomi. Metode: Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, RS Universitas Hasanuddin, dan rumah sakit jejaringnya. Sampel terdiri dari pasien yang menjalani operasi timpanomastoidektomi, yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok I (amlodipin) dan kelompok II (plasebo). Data yang dicatat meliputi konsumsi opioid, efek samping pascaoperasi, kadar IL-6, tekanan darah, denyut nadi, dan nyeri. Hasil: TTerdapat perbedaan signifikan pada skor VAS 6 jam setelah operasi, dengan skor lebih rendah di kelompok I. Tidak ada pasien yang membutuhkan opioid tambahan. Rerata tekanan arteri juga berbeda bermakna, lebih rendah pada kelompok I selama periode pengamatan. Kadar IL-6 lebih tinggi di kelompok II pada 6 dan 24 jam pascaoperasi. Terdapat perbedaan signifikan antara kelompok pada perubahan kadar IL-6 dari T6 ke T24 dan dari T0 ke T24. Ditemukan korelasi lemah antara kadar IL-6 dan skor VAS pada 6 dan 24 jam, dengan nilai r masing-masing 0,373 dan 0,401. Simpulan: Amlodipin dapat digunakan sebagai adjuvan analgetik karena dapat menurunkan skor nyeri pascabedah dan konsumsi opioid.
Perbandingan Pemberian Injeksi Vitamin D dan Tiamin terhadap Kadar Prokalsitonin pada Pasien Sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Lubis, Bastian; Aulia Kamal Ansari; Muhammad Ihsan; Yuki Yunanda
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.399

Abstract

Pendahuluan: Sepsis merupakan sindrom respons inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi. Kadar prokalsitonin sering digunakan sebagai biomarker untuk menilai keparahan dan respons terapi. Vitamin D dan tiamin diketahui memiliki efek imunomodulator yang dapat berperan dalam menurunkan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin D dan tiamin terhadap penurunan kadar prokalsitonin pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis dengan desain kuasi-eksperimental. Sebanyak 30 pasien sepsis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi menjadi dua kelompok secara acak, tiap kelompok terdiri dari 15 orang. Satu kelompok mendapatkan vitamin D dan kelompok lainnya mendapat tiamin. Kadar prokalsitonin diukur pada hari pertama (H-1) dan hari ketiga (H-3). Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Rerata kadar prokalsitonin pada kelompok vitamin D menurun secara signifikan dari 17,1 ± 17,6 ng/mL pada H-1 menjadi 12,4 ± 10,6 ng/mL pada H-3 (p=0,025). Pada kelompok tiamin, kadar prokalsitonin juga menurun dari 26,3 ± 33,7 ng/mL menjadi 20,6 ± 31,1 ng/mL, namun tidak signifikan secara statistik (p=0,112). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada H-1 maupun H-3 (masing-masing p=0,576 dan p=0,575). Simpulan: Pemberian vitamin D menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam menurunkan kadar prokalsitonin dibandingkan tiamin pada pasien sepsis di ICU, meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. Vitamin D berpotensi menjadi terapi adjuvan dalam penatalaksanaan sepsis.
Perbandingan Efektivitas Kombinasi Ketamin dan Bupivakain terhadap Bupivakain Tunggal pada Anestesi Spinal Kanugrahan, Dicko; Tasrif Hamdi; Rommy Fransiskus Nadeak
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.405

Abstract

Latar Belakang: Anestesi spinal memblok saraf di ruang subarakhnoid menggunakan obat anestetik lokal. Durasi anestesi lokal diperpanjang dengan menambahkan adjuvan seperti ketamin. Ketamin dapat mempercepat mula kerja dan mengurangi dosis obat anestesi lokal yang diperlukan. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas kombinasi ketamin 10 mg dan bupivakain 0,5% 15mg dengan bupivakain 0,5% 15mg pada anestesi spinal, dengan menggunakan desain Randomized Clinical Trial dengan double blind. Sampel dibagi menjadi: kelompok A (adjuvan ketamin) mendapatkan Bupivakain hiperbarik 0,5% 15mg dengan adjuvan Ketamin 10mg dan kelompok B (Bupivakain) mendapatkan Bupivakain 0,5% 15mg. Data dianalisis dengan uji T tidak berpasangan atau uji Mann-Whitney. Hasil: Terdapat 54 sampel dengan distribusi 27 sampel pada setiap kelompok. Terdapat perbedaan yang signifikan pada onset sensorik dan motorik (p<0,001) serta durasi sensorik, motorik, dan analgesia (p<0,001) antara kelompok A dan B. Tidak dijumpai perbedaan pada TDS (p=0,483), TDD (p=0,710), HR (p=0,505), RR (p=0,328), dan SpO2 (p=0,290) pada pemeriksaan awal (T0). Pada pemeriksaan menit ke-5 (T1), didapati perbedaan signifikan TDS dan HR (p<0,001), namun tidak pada TDD (p=0,169), RR (p=0,842), dan SpO2 (p=0,142). Pada pemeriksaan menit ke-10 (T2), didapati perbedaan signifikan TDS, TDD, dan HR (p<0,001), namun tidak pada RR (p=0,898), dan SpO2 (p=0,423). Diketahui efek samping dijumpai lebih banyak pada kelompok B (n=28), dengan kejadian efek samping terbanyak adalah hipotensi, sedangkan pada kelompok A (n=8) kejadian efek samping terbanyak adalah sedasi. Simpulan: Kombinasi ketamin 10 mg dengan bupivakain 15 mg lebih baik daripada bupivakain 15 mg tunggal untuk anestesi spinal bedah ekstremitas bawah dalam hal onset, durasi, dan hemodinamik.
Perbandingan Efektivitas Phenylephrine sebagai Pencegahan Spinal Anesthesia-Induced Hypotension pada Pasien Seksio Sesarea Thibri, Muhibbut; Wijaya, Dadik Wahyu; Bisono, Luwih
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.407

Abstract

Latar Belakang: Spinal anesthesia-induced hypotension (SAIH) adalah respons fisiologis selama seksio sesarea dengan anestesi spinal berkontribusi terhadap mual, muntah, pusing, dan bahkan kolaps kardiovaskular pada ibu. Phenylephrine adalah agonis-reseptor-α-adrenergik telah dikaitkan pencegahan hipotensi maternal dan variabilitas tekanan darah. Dengan dosis yang tepat dapat mengurangi resiko hipotensi dan mempertahankan aliran uteroplasenta sehingga mengurangi resiko efek samping hipotensi pada ibu dan neonatal.Metode: Penelitian ini menggunakan desain randomized clinical trial dengan double blind. Sampel dibagi berdasarkan dosis phenylephrine: kelompok 1 (50μg), kelompok 2 (75μg), dan kelompok 3 (100μg). Data akan dianalisis uji Annova atau uji Kruskal Wallis. Kemudian dilakukan uji post hoc untuk melihat perbedaan antar kelompok.Hasil: Terdapat 47 sampel dengan distribusi 16 sampel kelompok 1, 16 sampel kelompok 2, dan 15 sampel kelompok 3. Pada analisis variabel usia, tinggi badan, berat badan, dan IMT diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antar kelompok perlakuan (p=0,950, p=0,468, p=0,763, dan p=0,647). Didapati bahwa data tekanan darah sistolik dan diastolik memiliki perbedaan yang signifikan pada pengukuran T1 (p=0,020 dan p=0,004) dan T2 (p=0,018 dan p=0,046). Didapati bahwa data MAP memiliki perbedaan yang signifikan pada pengukuran T1 (p=0,004), T2 (p=0,046), dan T6 (0,035). Didapati bahwa data nadi pada pengukuran T5 (p=0,017) memiliki perbedaan yang signifikan.Simpulan: Dalam penelitian ini ditemukan dosis phenylephrine yang paling efektif dalam mencegah kejadian SAIH secara klinis adalah dosis 75 μg, 50 μg, dan 100 μg.
Innovation of a Three-Dimensional (3D) Printed Video Laryngoscope for Difficult Airway Management in a Rural Setting Hadiwijono, Vanessa Juventia; Muhammad, Emerald
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.414

Abstract

Background: Managing difficult airways remains a critical challenge in anesthetic practice, particularly in resource-limited settings. While modern video laryngoscopes are effective, their high cost and limited availability hinder their use in peripheral areas.Case Illustration: We report a 41-year-old woman with an abscess colli sinistra, classified as ASA III, who presented with a difficult airway requiring general anesthesia for surgical debridement. Due to anticipated intubation difficulty and limited access to advanced equipment, we employed an innovative 3D-printed video laryngoscope made of polyethylene terephthalate glycol (PETG), equipped with a endoscopic camera. The device facilitated successful endotracheal intubation without complications.Conclusion: TThis case highlights the potential of affordable, customizable 3D-printed video laryngoscopes as an alternative airway management tool in low-resource settings.
Manajemen Anestesi Perioperatif pada Pembedahan Skoliosis Yahya, Corry Quando; Elizeus Hanindito; Hori Hariyanto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.436

Abstract

Anestesi pada pembedahan skoliosis merupakan tantangan tersendiri. Skoliosis mempengaruhi banyak organ seperti gangguan muskuloskeletal, penurunan densitas tulang, serta penurunan fungsi jantung dan paru. Koreksi skoliosis adalah operasi mayor yang terkait dengan komplikasi serius seperti perdarahan masif, atelektasis, kesulitan penyapihan ventilator dan nyeri kronik. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam terhadap implikasi dari skoliosis merupakan kunci dalam mempersiapkan tatalaksana secara holistik. Penanganan dan target optimalisasi pada pasien yang akan menjalani pembedahan skoliosis mulai dari fase praoperatif, intraoperatif hingga pascaoperatif akan disajikan pada ulasan artikel ini.
Magnesium as Immediate Management for Suspected Intraoperative Malignant Hyperthermia Crisis: A Case Report from Indonesia Farida Soenarto, Ratna; Kusuma Manggala, Sidharta; Montolalu, Gabriela; Listyana, Tia; Kurniawan, Celine
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.437

Abstract

Background: Malignant hyperthermia (MH) is a life-threatening disorder triggered by certain anesthetics and characterized by a hypermetabolic state in skeletal muscles. Magnesium sulfate is gaining recognition as a crucial adjunct in the immediate management of MH, particularly when dantrolene is not readily available. This case report presents a successful use of magnesium during an MH crisis, emphasizing its potential as a life-saving intervention in resource-limited settings. The report adds to the growing evidence supporting magnesium's role in early MH management, especially when there is a delay in dantrolene administration.Case Illustration: A 2-year-old healthy boy underwent Achilles tendon lengthening under general anesthesia. Post-induction, the patient developed signs of increased sympathetic activity, muscle rigidity, and hypercarbia. Due to dantrolene unavailability, 400 mg of magnesium sulfate was administered, which successfully reduced muscle rigidity and stabilized hemodynamics. Dantrolene was later given, further improving the patient's condition. The patient was extubated 28 hours later and fully recovered, highlighting the critical role of magnesium in managing this crisis.Conclusion: Early detection and management of MH are crucial for patient survival. In the absence of dantrolene, MgSO4 serves as an effective alternative for immediate intervention. This experience underlines the importance of having alternative treatment strategies in resource-limited settings and stresses the need for continued education and preparedness for MH crises.
Korelasi Mean Arterial Pressure terhadap Renal Resistive Index, Serum Kreatinin, dan Produksi Urin pada Pasien Operasi Tulang Belakang yang Dilakukan Pembiusan Umum dengan Teknik Hipotensi Terkendali di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah I Made Prema Putra; Sidemen, IGP Sukrana; Kurniyanta, I Putu; Tjokorda Gde Bagus Mahadewa; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 2 (2025): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i2.440

Abstract

Latar Belakang: Teknik hipotensi terkendali dilakukan pada beberapa operasi mayor termasuk pada operasi tulang belakang. Perlu untuk mengetahui rentang mean arterial pressure (MAP) pada hipotensi terkendali yang dapat mempertahankan laju filtrasi glomerulus dengan mengevaluasi renal resistive index (RRI), serum kreatinin, dan produksi urin. Metode : Penelitian analitik korelatif ini dilakukan selama empat bulan. Semua pasien yang memenuhi kriteria eligibilitas dan memberikan persetujuan dimasukkan dalam studi. Data primer dikumpulkan saat pasien berada di ruang rawat inap, meliputi usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), produksi urin, serum kreatinin, dan nilai RRI. Selama operasi, dicatat nilai rentang dan rerata MAP selama anestesi umum dengan teknik hipotensi terkendali. Pemeriksaan RRI, serum kreatinin, dan produksi urin diulang pascaoperasi. Hasil: Terdapat korelasi negatif kuat antara rerata MAP dan RRI, dengan koefisien korelasi (r) -0,625 (p < 0,001), yang menunjukkan bahwa semakin rendah rerata MAP, semakin tinggi nilai RRI, dan sebaliknya. Korelasi positif sedang ditemukan antara rerata MAP dan produksi urin (r = 0,433; p <0,001), serta korelasi negatif rendah antara MAP terendah dan serum kreatinin (r = -0,243; p = 0,040). Analisis kurva ROC menunjukkan AUC sebesar 0,916. Cut-off MAP optimal untuk mempertahankan nilai RRI normal adalah ≥ 52,5 mmHg (sensitivitas 0,955 dan 1-spesifisitas 0,560). Simpulan : Terdapat korelasi negatif kuat yang signifikan antara rerata MAP dan RRI, korelasi negatif rendah yang signifikan antara rerata MAP dan serum kreatinin, serta korelasi positif sedang yang signifikan antara rerata MAP dan produksi urin pada pasien yang menjalani operasi tulang belakang.

Page 1 of 2 | Total Record : 11