cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Machine Learning as Our Weapon to Become Anesthesiologist 5.0 Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra; Sucandra, MA Kresna; Aryasa, Tjahya; Sutawan, IB Krisna Jaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.319

Abstract

Machine learning is one of the most renowned things that have emerged in the last five years in medicine. The machine is made as if it has the cognitive ability to think independently, is able to distinguish incoming inputs and get the desired output. Along with the development of statistical and computer science, machine learning has evolved into a distinct subfield within the broader domain of data science, with far-reaching implications for various sectors, including healthcare. In medical science, technology and artificial intelligence are starting to take over anesthetic services. This paradigm shift necessitates a fundamental change in the role of future anesthesiologists A future anesthesiologist will need to continuously monitor and evaluate the performance of data science and artificial intelligence systems, and make adjustments when necessary to improve impact on patient care and outcomes. Anesthesiologists of the future will need to harness the power of data science and artificial intelligence to enhance patient care continually, emphasizing adaptability and collaboration as key elements in delivering improved healthcare outcomes.
Quadratus Lumborum Block (QLB) pada Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL): Tinjauan Sistematik dan Meta-Analisis Hadiwijono, Vanessa Juventia; Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.320

Abstract

Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) merupakan metode endoskopik untuk manajamen nefrolitiasis yang lebih tidak invasif, namun tetap bisa menyebabkan nyeri pasca operatif yang mempengaruhi morbiditas. Quadratus lumborum block (QLB) adalah blok pada posterior dinding abdominal. Hingga kini, blok ini sudah dimodifikasi menjadi empat pendekatan serta dilakukan pada beragam pembedahan seperti pembedahan sesar, muskuloskeletal, hingga nefrolitotomi. Melalui tinjauan ini penulis hendak meringkas efikasi dari QLB pada PCNL dilihat dari penggunaan morfin dan nilai Visual Analog Scale (VAS) 24 jam pasca operatif dan ke depannya dapat diaplikasikan secara klinis. Tinjauan sistematis ini dibuat berdasarkan Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) dan dianalisis dengan Review Manager (versi 5.4). Lima Randomized Control Trial (RCT) dari tahun 2018-2023 dilibatkan. Risiko bias dianalisis dengan plot funnel dan tes I2 untuk heterogenitas. Perbedaan standar rata-rata dilaporkan bermakna apabila p<0,05 dengan interval kepercayaan 95%. Hasil analisis komparatif pada penggunaan opioid (SMD=2,44 IK95%=2,09-2,79 p<0,00001 I2=94%) dan VAS (SMD=2,10 95% IK95%=1,74-2,45 p<0,00001 I2=93%) 24 jam pasca operatif menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Studi ini mendapatkan perbedaan rata-rata yang signifikan pada penggunaan opioid dan penilaian VAS 24 jam pasca operasi pada pasien yang menjalani PCNL dengan QLB. Namun, pertimbangan ulang diperlukan untuk implentasi klinis mengingat heterogenitasnya yang cukup tinggi. ditambah dengan parasetamol 1000 mg.
Prediktor Luaran Pada Cedera Kepala: Laporan Kasus Berbasis Bukti Firdaus, Riyadh; Yunda, Girhanif Amri; Devani, Krissa; Gunanta, Yohanes
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.366

Abstract

Pendahuluan: Cedera kepala masih menjadi tantangan besar di dunia. Jumlahnya menyumbang mortalitas dan morbiditas lebih banyak dibandingkan dengan jenis trauma lain. Pada cedera kepala, prakiraan luaran merupakan satu hal yang sering didebatkan dan prediksi luaran pasien penting untuk menentukan keputusan klinis dokter. Pencarian literatur dilakukan sesuai pertanyaan klinis dan terstruktur menggunakan Cochrane Library® dan PubMed®. Presentasi Kasus: Seorang laki-laki 28 tahun dibawa ke instalasi gawat darurat dengan keluhan utama ditemukan tidak sadar di jalan selama 3 jam karena kecelakaan lalu lintas. Nilai GCS saat datang ke instalasi gawat darurat (IGD) E1M2V2. Pada saat penanganan di IGD terjadi perbaikan GCS menjadi E2M4Vett setelah pemberian manitol. Dilakukan CT scan (Computed Tomographic scan) ditemukan perdarahan epidural, perdarahan subdural dengan herniasi subfalcine 0,7 cm, dan fraktur multipel wajah. Selanjutnya diputuskan untuk tindakan kraniotomi dekompresi dan debridement. Pasien diintubasi dan diberikan cairan kristaloid serta transfusi darah selama persiapan preoperatif hingga hemodinamik stabil. Dilakukan pembiusan umum dan pasien diposisikan terlentang dengan elevasi kepala 30 derajat. Selama intraoperatif, hemodinamik pasien dijaga dengan kecukupan cairan maintenance dan produk darah tanpa menggunakan obat topangan. Pascaoperasi pasien dirawat di intensive care unit (ICU) selama 7 hari. Simpulan: Luaran buruk dan mortalitas cedera kepala dapat diprediksi secara klinis dengan melihat adanya hipotensi, perdarahan epidural, pembengkakan cisterna, skor Full Outline of Unresponsiveness (FOUR), Glasgow Coma Scale (GCS) terutama motorik, Abbreviated Injury Scale – Head (AIS-H), skoring radiologis CT (Computed Tomographic) dengan skor Marshall atau Rotterdam, serta uji yang sudah divalidasi dengan International Mission on Prognosis and Analysis of Clinical trials in Traumatic brain injury Extended (IMPACT-E). Kata kunci: cedera kepala; Evidence-based Medicine; mortalitas; penilaian klinis; prediktor luaran.
Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) pada Acute Kidney Injury (AKI) : Jebakan Biomarka Serbaguna Cindryani, Marilaeta
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 3 (2023): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i3.379

Abstract

Pada masa sekarang ini di mana kebutuhan akan terapi yang menyesuaikan dengan individu yang semakin presisi, keberadaan marka atau suatu penanda akan gejala penyakit sedini mungkin akan sangat membantu untuk mendeteksi penyakit dan ketepatan terapi. Unit rawat kritis (Intensive Care Unit/ICU) menjadi salah satu unit yang memerlukan kecepatan dan ketepatan usulan terapi yang didasarkan pada diagnosis sedini mungkin. Unit ini menjadi lokasi di mana terdapat penggunaan banyak biomarka demi pemantauan dan diagnostik berkelanjutan. Kendala dari pemakaian biomarka adalah variabilitas biomarka yang berlimpah, kurangnya familiaritas terhadap pemakaian dan keterbatasan sediaan di seluruh tempat yang dirasakan memerlukan. Sebab semakin sederhana dan efisien suatu biomarka akan sangat membantu demi efektivitas layanan dan terapi, sehingga pencarian akan biomarka yang bersifat serbaguna dan multipotensial masih menjadi tantangan dunia kedokteran sampai saat ini.1
Hubungan Faktor Gender dan Saturasi Oksigen dengan Mortalitas Pasien COVID-19: Studi Cross-Sectional di RS Elim Rantepao 2020-2021 Iskandar, Yosia
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.298

Abstract

Latar belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), penyakit yang menyebabkan pandemik dan krisis global, memiliki jumlah kasus dan angka mortalitas yang semakin bertambah. Penelitian mengenai faktor- faktor yang berhubungan dengan kematian pasien COVID-19 saat perawatan di Toraja Utara, salah satu daerah perifer di Indonesia, sangat terbatas. Metode: Studi ini merupakan studi cross-sectional, observasional di Rumah Sakit Elim Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sampel penelitian merupakan pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dilakukan rawat inap pada tahun 2020-2021. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif untuk data-data deskriptif serta Independent T-Test, Mann Whitney serta analisa Chi Square Hasil: Dari data hasil penelitian, didapatkan ada perbedaan hubungan bermakna antara jenis kelamin dan angka mortalitas dengan angka p = 0.005. Selain itu, didapatkan juga hubungan antara angka SpO2 dengan angka mortalitas dengan hasil analisis menggunakan Independent-samples T test Mann-Whitney Test didapatkan hasil p=0.001. Kriteria COVID-19 juga memiliki hasil analisa signifikan p= 0 menandakan bahwa terdapat hubungan antara kriteria COVID-19 yang digunakan memiliki hubungan dengan angka mortalitas. Simpulan: Dari penelitian ini, jenis kelamin, angka saturasi saat masuk Rumah Sakit, kriteria gejala COVID-19 merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian dalam perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat inap di RS Elim Rantepao tahun 2020-2021.
Uji Diagnostik EuroSCORE II Sebagai Prediktor Mortalitas Pasca Operasi CABG Mochammad Riyadi; Hisbullah; Adil, Andi; Seweng, Arifin; Arif, Syafri K.; Salahuddin, Andi; Nurdin, Haizah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.308

Abstract

Latar belakang: Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan prosedur standar yang digunakan dalam menangani kasus penyempitan pembuluh darah koroner. Kemajuan dalam skrining pra operasi dapat menurunkan risiko mortalitas operasi jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara EuroSCORE II terhadap mortalitas pada pasien post operasi CABG. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan retrospektif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada seluruh pasien yang menjalani operasi CABG yang dirawat di ICU Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar mulai Januari 2017 - Juni 2022. Pasien dikelompokkan menjadi survive dan non survive. EuroSCORE II dihitung dengan kalkulator online aplikasi EusroSCORE II. Hasil: Prevalensi mortalitas pasien post operasi CABG sebesar 16%. Rerata EuroSCORE II pasien post operasi CABG non survive sebesar 3,87 ± 2,65 lebih besar dibandingkan pasien survive sebesar 0,89 ± 0,37. EuroSCORE II menjadi prediktor mortalitas yang baik pada pasien post operasi CABG. EuroSCORE II mempunyai diskriminasi yang baik dan kalibrasi yang baik dengan diperoleh cut-off sebesar 1,30% dengan sensitivitas 100% dan spesifisitas 91,4%. Penyebab mortalitas pasien post operasi CABG meliputi syok hipovolemik, syok kardiogenik dan syok sepsis dimana penyebab kematian terbesar adalah syok kardiogenik Simpulan: EuroSCORE II menjadi prediksi mortalitas yang baik pada pasien post operasi CABG.
Sevoflurane Insufflation Technique in Retinopathy of Prematurity Patients Underwent Intraocular Laser Photocoagulation: A Serial Case Report Muhamad Adli; Irawati, Dian; Fitri Yadi, Dedi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.313

Abstract

Introduction: Retinopathy of Prematurity (ROP) is a developmental abnormality of the retina and vitreous due to abnormal angiogenesis. The anesthetic considerations in the preterm neonate were based on the physiological immaturity of the various organ systems, associated congenital disorders, which may result in poor tolerance to anesthetic drugs, and also considerations regarding the use of high oxygen concentrations. Case Illustration: We are reporting six cases of ROP patients who underwent intraocular laser photocoagulation under Volatile Induction and Maintenance Anesthesia (VIMA) using a nasal cannula. The youngest patient at the time of the procedure was 32 weeks postmenstrual age, and the oldest patient was 36 weeks postmenstrual age, with the lowest weight of 1480 grams and the highest weight of 2770 grams. A gas mixture of oxygen, nitrous oxide, and 3-5 vol% sevoflurane was delivered through a nasal cannula delivered from an anesthesia machine for anesthesia induction and maintenance throughout the procedure. The anesthesia effect was achieved less than five minutes after gas mixture delivery in all patients. Five of six patients showed satisfactory results without any serious adverse effects during and after the procedures, and one of the patients was intubated due to repeated apnea and conversion of the surgical procedure from intraocular laser photocoagulation to vitrectomy. There was no adverse event observed after the procedure. Conclusion: The Effective induction and maintenance of anesthesia achieved through sevoflurane insufflation via nasal cannula suggest its viability as a practical and opiod-free alternative for volatile induction and maintenance anesthesia in pediatric procedures.
Olive Oil and Vegetable Extract in Modified Hospital Enteral Formula Improves Glycemic Variability in Critically-Ill Diabetic Ketoacidosis Obese Patient: A Case Report Anindhita, Bintari; Singal, Anna Maurina; Wardhani, Wahyu Ika; Manikam, Nurul Ratna Mutu; Aditianingsih, Dita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.315

Abstract

Background: Severe hyperglycemia in diabetic ketoacidosis may elevate pro inflammatory cytokines, oxidative stress, and metabolic disruptions, impacting the nutritional status of critically ill patients. Diabetes-specific formula (DSF) administration is linked to favorable glycemic control, but research on the role of modified hospital enteral formulas in diabetic critical illness is lacking. Case Description: An obese 29-year-old male at risk of malnutrition, presented to the emergency room with decreased level of consciousness due to metabolic encephalopathy, diabetic ketoacidosis due to suspected type 1 diabetes mellitus, hypertension, and acute kidney injury. Medical nutritional therapy was provided via enteral route according to recent ESPEN, ASPEN and ADA recommendation. The administered enteral formula was a modified hospital-based enteral formula, consisting of a special kidney hospital-based enteral formula mixed with olive oil as source of monounsaturated fatty acid (MUFA) and vegetables as source of fibers. During the first week of hospitalization, the patient’s coefficient of variation (%CoV) of glycemic variability ranged between 17–61%, in addition, at the beginning of the second week of treatment there was also an increase in glycemic variability to 53%. This could be influenced by several factors. However, improvement in glycemic variability was observed in the following days. This improvement was in line with the gradual increase in MUFA and fiber intake, which reached its highest intake during the second week of hospitalization. Conclusion: Hospital-based enteral formula modified with olive oil and vegetable extract can be made to resemble the nutrients composition of diabetes specific formula and has a favorable effect on glycemic variability.
Erector Spinae Plane Block Menunjang Stabilitas Hemodinamik dan Analgesia pada Video-Assisted Thoracoscopy Surgery: Sebuah Laporan Kasus Rahmawati, Prameita; Tirta, Ian; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.318

Abstract

Latar Belakang: Tindakan pembedahan video-assisted thoracoscopic surgery (VATS) memiliki nyeri yang tidak cukup dikendalikan menggunakan agen analgesik intravena dan hemosinamik tidak stabil intraoperatif. Dalam laporan kasus ini kami menambahkan teknik regional erector spinae plane block (ESPB) dengan menggunakan anestesi lokal dosis rendah dan terbukti memperbaiki kualitas nyeri dan hemodinamik intraoperatif.Ilustrasi Kasus: Laki-laki berusia 51 tahun dengan diagnosis tumor paru sinistra malignansi dan tuberkulosis paru diterapi fase lanjutan. Rontgen toraks pneumonia dan fibrosis zona atas kiri. Pasien status fisik ASA III dengan VATS menggunakan anestesia umum (GA-OTT DLT kiri) dan ESPB. ESPB setinggi T5 dengan anestesia lokal bupivakain 0,15% volume 15 mL. Hemodinamik durante stabil dengan fluktuasi minimal. Kondisi pasien pascaoperasi stabil dengan NRS 1.Simpulan: Analgesik multimodal ESPB menurunkan kebutuhan opioid intraoperatif dibandingkan anestesia umum tunggal. Keunggulan ESPB adalah memberikan kestabilan hemodinamik intraoperatif pada VATS.
Pengaruh Nebulisasi N-acetylcysteine Terhadap Pembentukan Biofilm Bakteri Pada Pipa Endotrakeal Pada Pasien yang Terpasang Ventilator di ICU Suryani, Shila; Widodo, Untung; Aman, Abu Tholib
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.322

Abstract

Latar belakang: Kemampuan bakteri membentuk biofilm merupakan salah satu penyebab resistensi antibiotik dan menurunkan angka keberhasilan terapi. N-acetylcysteine merupakan obat mukolitik yang juga memiliki efek menghambat produksi dari matriks polisakarida ekstraseluler, sehingga dapat mencegah pembentukan biofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nebulisasi N-acetylcysteine terhadap pertumbuhan biofilm pada pipa endotrakeal pada pasien yang terpasang ventilator. Metodologi: Rancangan penelitian ini uji klinis acak terkontrol, ketersamaran ganda. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah usia 18-70 tahun, menggunakan ventilator dengan pipa endotrakeal H-0, dan setuju menjadi subyek penelitian, kriteria eksklusi adalah pasien yang mempunyai penyakit paru sebelum intubasi dan pasien sulit intubasi, kriteria drop out adalah pipa endotrakeal (ET) ekspulsi atau autoextubasi, meninggal < 48 jam, dan ekstubasi > 96 jam. Pasien dibagi menjadi dua kelompok. kelompok A mendapatkan nebulisasi N-acetylcysteine dan kelompok B yang mendapatkan nebulisasi akuades setiap delapan jam hingga ekstubasi. Sampel diambil berupa apusan ujung ET pasien yang terpasang ventilator 48-96 jam. Hasil: Total subjek berjumlah 122 pasien, 12 drop out. Sampel yang didapatkan berjumlah 110, 55 sampel kelompok A dan 55 kelompok B. Terdapat perbedaan karakteristik sampel pada faktor komorbid sepsis dan jenis oprasi. Tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada bakteri pembentuk biofilm ringan dan sedang, namun dijumpai perbedaan bermakna pada bakteri pembentuk biofilm kuat. Simpulan: pemberian nebulisasi N-acetylcysteine pada pasien yang menggunakan ventilator dengan pipa ET 48-96 jam tidak mencegah terbentuknya biofilm namun dapat menghambat pembentukan biofilm kuat.