cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Perbandingan Efektifitas Bisoprolol 2,5 mg dan Bisoprolol 5 mg dalam Mengontrol Denyut Jantung pada Pasien Sepsis di Ruang Rawat Intensif Pohan, Alfindy Maulana; Lubis, Bastian; Lubis, Andriamuri Primaputra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.339

Abstract

Latar Belakang: Sepsis merupakan keadaan disfungsi organ yang mengancam jiwa di mana terjadi disregulasi respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis dikaitkan dengan pelepasan katekolamin endogen masif yang memberikan hasil klinis buruk. Takikardia merupakan prognostik yang buruk pada pasien sepsis. Pasien sepsis dengan takikardi yang mendapat terapi beta-blocker dihubungkan dengan penurunan angka kematian. Bisoprolol merupakan antagonis selektif-ß1 yang mempunyai efek kronotropik negatif. Penggunaan beta-blocker dapat berkontribusi pada perlindungan sistemik dari lonjakan katekolamin yang terjadi selama sepsis. Bisoprolol menurunkan denyut jantung sehingga dapat mengurangi kontraktilitas miokard, lalu mengurangi kebutuhan oksigen miokard yang meningkat pada pasien sepsis.Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial (RCT) dengan double blind. Pengumpulan data dengan metode prospektif dilaksanakan di RSUP. H. Adam Malik Medan periode Desember 2022 – Februari 2023. Pemilihan sampel dengan consecutive sampling yang memenuhi kriteria inkusi dan eksklusi. Semua sampel akan diambil data denyut jantung, tekanan darah, tekanan arteri rata-rata (MAP), dan laktat yang nantinya akan dilakukan perhitungan secara statistik. lanjut dengan secara statistik.Hasil: Dengan uji T Independent pada denyut jantung, tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, dan MAP pada 2 jam dan 12 jam setelah perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan, didapatkan nilai p < 0,05. Hasil serupa didapatkan pada pemeriksaan laktat pada 24 jam setelah perlakuan, terdapat perbedaan yang signifikan, nilai p < 0,05.Simpulan: Berdasarkan hasil studi kami, terdapat perbedaan yang bermakna antara pemberian bisoprolol 2,5 mg dan bisoprolol 5 mg. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian bisoprolol 5 mg lebih efektif dibandingkan dengan bisoprolol 2,5 mg dalam menurunkan denyut jantung pada pasien sepsis
Pengendalian Urine Output pada Diabetes Insipidus Sentral dengan Hipernatremia Berat Pasca Traumatic Brain Injury Pratana, Yolanda Jenny; Suarjaya, I Putu Pramana; Senapathi, Tjokorda GA; Sinardja, Cynthia Dewi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.347

Abstract

Pendahuluan: Diabetes insipidus sentral (DIS) merupakan komplikasi cedera sekunder pada traumatic brain injury (TBI). Cedera neurohipofisis menyebabkan insufisiensi hipofisis posterior untuk mensekresi arginine vasopressin (AVP) dalam kondisi hiperosmolalitas. Prevalensi hipernatremia pada pasien dengan TBI lebih dari 35% dengan kemungkinan penyebab dehidrasi dan hipovolemia dengan tingkat mortalitas mencapai 86,8%.Ilustrasi Kasus: Kami melaporkan sebuah kasus dari pria berusia 20 tahun dengan DIS dan hipernatremia berat pasca TBI. Pasien menjalani operasi pemasanganan ventriculoperitoneal shunt dengan perawatan pasca operasi di ruang rawat intensif. Ditemukan poliuria dengan urine output 3,2 ml/kg/jam dengan kadar natrium 190 mmol/L. Koreksi hipernatremia dengan KA-EN 3B intravena dan intake cairan per oral diberikan sebagai pengganti free water deficit. Desmopressin oral diberikan sebagai kompensasi defisiensi AVP untuk mengurangi kehilangan cairan yang berlangsung. Respon baik tercapai pada hari kedua perawatan, ditunjukkan dengan penurunan urine output hingga 1,4 ml/kg/jam dan penurunan kadar natrium dengan target 10-12 meq/L/hari. Efek samping pemberian desmopressin tidak ditemukan pada pasien ini.Simpulan: Kasus ini menunjukkan bahwa pemantauan ketat dan terapi yang sesuai menghasilkan luaran yang baik pada pasien DIS dengan hipernatremia berat pasca TBI.
Perbandingan antara Anestesi Tanpa Opioid (ATO) dengan Anestesi Berbasis Opioid (ABO) Terhadap Kejadian Mual dan Muntah Pascabedah Mastektomi Radikal Modifikasi dan Lama Rawat di Unit Perawatan Pascaanestesi Winanda, Haris; Gaus, Syafruddin; Husain, Alamsyah Ambo Ala; Arif, Syafri Kamsul; Salahuddin, Andi; Adil, Andi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.355

Abstract

Latar Belakang: Anestesi umum seimbang telah bergantung hampir secara eksklusif pada opioid untuk mengelola nosiseptif intraoperatif dan nyeri pascabedah. Anestesi tanpa opioid (ATO) sekarang mulai diminati sebagai strategi potensial dalam mengurangi penggunaan opioid perioperatif. Penggunaan ATO diketahui dapat menurunan konsumsi total opioid perioperatif dan penurunan lama rawat di Unit Perawatan Pascaanestesi (UPPA). Di Indonesia, belum ada penelitian mengenai pengaruh ATO pada pembedahan mastektomi radikal modifikasi (MRM) terhadap kejadian mual muntah pascabedah (MMPB) dan lama perawatan di UPPA. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ATO dengan anestesi berbasis opioid (ABO) pada pembedahan mastektomi radikal modifikasi (MRM) dan efeknya terhadap kejadian mual dan muntah pascabedah (MMPB) dan lama perawatan di UPPA.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian uji acak tersamar tunggal. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani prosedur pembedahan MRM elektif di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit jejaring pendidikan. Sampel penelitian dibagi menjadi kelompok ABO dan kelompok ATO. Setelah operasi selesai pasien dipindahkan ke UPPA dan dicatat lama rawat dan kejadian mual dan muntah hingga 2 jam pascabedah.Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna lama perawatan di UPPA pada kedua kelompok (p=0,184).Terdapat perbedaan bermakna pada kejadian mual dan muntah pada kedua kelompok (p=0,044 dan p=0,02).Simpulan: Kejadian MMPB pada kelompok ATO lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ABO.
Bleeding Following Pediatric Liver Transplantation: A Brief Overview Gunawan, Ferriansyah; Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.382

Abstract

End-stage liver disease (ESLD) occasionally needs liver transplantation (LT) as a life-saving treatment. In pediatric population, LT procedure is more complicated than adults, since they are mainly caused by extrahepatic cholestasis, has a variety of age groups, and has various infection susceptibilities. Furthermore, there is a complication related to LT, such as bleeding, which cannot be disregarded because it may aggravate patients’ conditions and necessitate reoperation. Moreover, in the case of hepatic artery thrombosis and portal vein thrombosis, which is caused by severe bleeding, patients and grafts’ survival may be significantly reduced. In this review, we are discussing bleeding following LT phenomena from the basic introduction, pathophysiology, prevention, monitoring, and treatment
A Meta-Analysis of Dextrose Infusion as Perioperative Strategy on Preventing Postoperative Nausea and Vomiting Nabiel Erisadana, Rifaldy; Pratama, Muhamad Rizal Hadi; Muhammad, Faliqul Bahar; Gemawan, Taufiq; Fatmarita, Lia; Ekawaty, Uli Artha; Danar Sumantri, Syahrul Mubarak
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.384

Abstract

Introduction: Dextrose infusion was introduced as a non-pharmacological perioperative strategy to decrease the PONV incidence. However, current published studies reported remain inconsistent and debatable results regarding the efficacy. This research was conducted to improve the evidence-based perioperative strategies of administering dextrose infusion to prevent PONV. Method: A literature search was conducted for randomized controlled trial studies (RCTs) in patients who administered dextrose infusion compared to other infusion fluid perioperatively. A quantitative analysis using Review Manager 5.4 was performed with a 95% confidence interval that was visualized in the forest plot graph using the fixed-effects or random-effects model based on the heterogeneity. Results: A total of 18 RCTs studies analyzed demonstrated there were significant differences in composite PONV (RR, 0.66, 95% CI 0.60, 0.74; P < 0.00001; I2=46%), patients with postoperative antiemetic rescue requirements (RR, 0.67, 95% CI 0.53, 0.86; P < 0.001; I2=68%), and postoperative blood glucose levels (SMD, 2.63, 95% CI 1.76, 3.50; P < 00001; I2=97%). However, there were insignificant results in PONV severity (SMD, -0.94, 95% CI -2.20, 0.31; P = 0.14; I2=97%), patients with analgesic requirements (RR, 0.84, 95% CI 0.60, 1.19; P = 0.33; I2=81%), dose of analgesic requirements (SMD, -2.31, 95% CI -5.76, 1.14; P = 0.19; I2=99%), and PACU stay (MD, -24.73, 95% CI -66.07, 16.61; P < 0.24; I2=99%). Conclusion: This meta-analysis demonstrated that administering dextrose infusion perioperatively prevents both the PONV incidence and postoperative rescue antiemetic requirements, and also increase postoperative blood glucose levels. However, dextrose infusion is not associated with reducing the PONV severity, postoperative analgesic requirements, a dose of postoperative analgesic use, and PACU stay. .
Disfungsi Ventrikel Kanan Perioperatif Bedah Jantung Dewasa M. Solihin, Guido; Istanti Nurcahyo, Widya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.392

Abstract

Pentingnya fungsi ventrikel kanan bagi anestesi kardiovaskular telah diketahui dalam beberapa tahun terakhir ini. Disfungsi ventrikel kanan merupakan faktor prognostik dan penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada operasi jantung. Pengenalan pasien risiko tinggi dan tata laksana dini dapat menurunkan angka kejadian disfungsi ventrikel kanan menetap pasca operasi. Hal ini penting diperhatikan pada pasien yang menjalani operasi risiko tinggi seperti bedah pintas arteri koroner dan operasi katup jantung. Kemajuan dalam penatalaksanaan disfungsi ventrikel kanan antara lain seperti penggunaan vasodilator paru inhalasi profilaksis, pengaturan ventilasi, topangan vasopressor dan inotropik, serta proteksi miokardium, diharapkan akan meningkatkan angka kesembuhan pada disfungsi ventrikel kanan. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk menelaah secara kritis dan komprehensif penelitian, studi, literatur yang ada terkait disfungsi ventrikel kanan pada periode perioperatif dalam bedah jantung
Sulit intubasi: Tantangan dan Masa depannya Firdaus, Riyadh
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.397

Abstract

Intubasi merupakan prosedur medis yang umum dijumpai dengan risiko seperti nyeri dan trauma. Sulit intubasi, disebabkan oleh faktor anatomi atau patologis, merupakan tantangan serius dalam praktik klinis. Sulit intubasi dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian. Evaluasi pra-anestesi penting untuk mendeteksi potensi sulit intubasi dengan menggunakan prediktor klinis seperti skor Mallampati dan Cormack-Lehane. Integrasi teknologi medis terkini, seperti video laringoskop, dapat meningkatkan keberhasilan dan keamanan prosedur. Namun, pemilihan alat harus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pengembangan metode baru, seperti penggunaan 3D imaging, sedang diteliti untuk meningkatkan pemahaman dan penanganan sulit intubasi.
Opioid-Free Anesthesia yang Menjanjikan Tantri, Aida Rosita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.412

Abstract

Anestesia tanpa opioid (ATO) semakin populer sebagai strategi manajemen anestesi multimodal yang menghindari penggunaan opioid. ATO bertujuan mengurangi efek samping opioid, seperti mual muntah pascabedah, gangguan motilitas gastrointestinal, ketergantungan fisik, dan hiperalgesia. Konsep analgesia multimodal menggunakan kombinasi analgesik dari berbagai kelas dan teknik anestesi regional untuk optimalisasi nyeri. Agen non-opioid dalam ATO meliputi ketamin, lidokain, magnesium sulfat, NSAID, deksametason, serta agonis alfa-2 seperti dexmedetomidine dan klonidin. Pemilihan obat, dosis, dan cara pemberian disesuaikan untuk menghindari efek samping. Lidokain efektif mengurangi nyeri pascabedah, mempercepat rehabilitasi, dan mempersingkat masa rawat inap. Magnesium sulfat mengurangi variabilitas detak jantung dan hemodinamik intraoperatif. NSAID dan deksametason mengurangi penggunaan opioid dan insiden PONV. Dexmedetomidine memberikan efek sedasi dan analgesik dengan stabilitas hemodinamik, meskipun memiliki risiko hipotensi dan bradikardia. Penelitian menunjukkan kombinasi dexmedetomidine dengan analgesik lain dalam ATO memberikan analgesia yang baik dan menurunkan risiko PONV. ATO diharapkan semakin direkomendasikan di masa depan dengan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan regimen anestesi yang aman dan efektif.
Perbandingan Hemodinamik Pasca-Intubasi Operasi Bedah Saraf pada Penggunaan Lidokain 10% Spray dan Lidokain 2% Intravena di RSUP H. Adam Malik Medan Juliara, Faura Dwika; Irina, Rr Sinta; Lubis , Bastian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.337

Abstract

Latar Belakang: Stabilitas hemodinamik pada saat tindakan intubasi sebelum tindakan operasi bedah saraf penting untuk mencegah terjadinya secondary brain injury. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbandingan hemodinamik pasca-intubasi pasien bedah saraf pada penggunaan lidokain 10% spray dan lidokain 2% intravena di RSUP H. Adam Malik Medan. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian uji klinis acak terkontrol secara random tersamar ganda pada pasien yang menjalani operasi bedah saraf di RSUP Haji Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan dan analisis data dengan program pengolah statistik dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna. Hasil: Penelitian ini melibatkan 20 subjek yang dibagi menjadi kelompok A (lidokain 10% spray) dan kelompok B (lidokain 2% intravena). Rerata tekanan darah sistolik pada kelompok A adalah 94,70 ± 4,80 dan pada kelompok B 104 ± 6,81 (p=0,01). Rerata tekanan darah diastolik pada kelompok A adalah 61,90 ± 4,30 dan pada kelompok B 68,10 ± 3,24 (p=0,02). Rerata mean arterial pressure (MAP) pada kelompok A adalah 72,70 ± 4,11 dan pada kelompok B 80,30 ± 3,46 (p=0,001). Rerata HR pada kelompok A adalah 65,70 ± 3,94 dan pada kelompok B 75,50 ± 3,89 (p=0,001). Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada perubahan tekanan darah, MAP, dan denyut jantung pada pemberian lidokain 10% dan lidokain 2% intravena pada pasien bedah saraf pasca-intubasi
Perbandingan Pemberian Fentanil dengan dan tanpa Lidokain Intravena terhadap Hemodinamik Pasca-Intubasi Endotrakeal dan Nilai Nyeri Tenggorokan Pascaoperasi di RSUP H. Adam Malik Medan Wijaya, Yudhi; Lubis, Andriamuri Primaputra; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.341

Abstract

Latar Belakang: Intubasi endotrakeal dilakukan dalam berbagai situasi seperti kegagalan ventilasi noninvasif pada pasien perawatan intensif. Nyeri tenggorokan (postoperative sore throat) dan suara serak (hoarseness) merupakan komplikasi intubasi endotrakeal yang paling sering terjadi karena menyebabkan trauma mukosa jalan napas. Insiden nyeri tenggorokan dan suara serak akibat intubasi endotrakeal berkisar antara 5,7 – 90%, di mana 14,4 – 50% keluhan nyeri tenggorokan dan suara serak tersebut muncul segera setelah operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda (randomized double blind controlled clinical trial), untuk mengetahui pemberian fentanil dengan kombinasi lidokain dan fentanil terhadap hemodinamik pasca-intubasi endotracheal tube. Hasil: Usia rerata pada kelompok A yaitu 46-55 tahun, sedangkan pada kelompok B yaitu 26-35 tahun. Penurunan hemodinamik terutama mean arterial pressure (MAP) pasca-intubasi pada kelompok A (89,79 ± 8,74 mmHg) lebih kecil dibandingkan dengan kelompok B (91,81 ± 8,39 mmHg). Peningkatan visual analogue score (VAS) pada sore throat pasca-intubasi pada kelompok B (2,05 ± 0,74) lebih besar daripada kelompok A (1,81 ± 0,68). Pada uji normalitas didapatkan MAP pre-intubasi dan pasca-intubasi, serta sore throat pasca-intubasi terdistribusi normal (p > 0,05). Rerata sore throat kelompok A adalah 1,81 ± 0,68 dan kelompok B 2,05 ± 0,74 dengan nilai p sebesar 0,284 (p > 0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna sore throat pasca-intubasi pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada hemodinamik dan penilaian nyeri tenggorokan pascaoperasi pada pemberian fentanil dengan kombinasi lidokain intravena dan fentanil intravena pasca-intubasi endotracheal tube.