cover
Contact Name
Didik Sumanto
Contact Email
jipmi@unimus.ac.id
Phone
+6282221586617
Journal Mail Official
jipmi@unimus.ac.id
Editorial Address
Jalan Kedungmundu Raya No. 18 Tembalang Kota Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA
ISSN : -     EISSN : 28295617     DOI : https://doi.org/10.26714/jipmi
Jurnal Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JIPMI) mewadahi publikasi kegiatan pengabdian masyarakat dan temuan inovasi teknologi terapan diutamakan yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 4 (2024): Oktober" : 14 Documents clear
Keberadaan Seni Warok di Tengah Perkembangan Modern di Desa Larangan Luwok Purwanti, Annisa; Anggraini, Arnetta Diah; Fatimah Az Zahra; Febriyanti, Endah; Sulaiman, Hengki; Citra, Salsa Dewi Permata; Maulida, Ilham; Febbianto, Mohammad; Sumarno, Radiktyo Nindyo
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.359

Abstract

Latar belakang: Indonesia kaya akan seni dan budaya yang mencerminkan keberagaman daerahnya. Salah satu contohnya adalah seni Warok dan Kuda Lumping, yang mempresentasikan asal daerahnya dengan baik. Kesadaran budaya, atau cultural awareness, penting untuk mengenali dan memahami nilai-nilai dalam masyarakat. Desa Larangan Luwok di Kota Temanggung, Jawa Tengah, merupakan salah satu desa yang melestarikan seni Warok. Meskipun dihadapkan pada perkembangan modern, kesenian ini tetap eksis dan dilestarikan dengan baik. Tujuan: Supaya kelestarian seni Warok di Desa Larangan Luwok terjaga Metode: Penyediaan wadah penampilan pentas seni dalam upaya memberikan motivasi kepada generasi muda khususnya anak-anak Desa Larangan Luwok pada pagelaran ataupun pementasan kesenian yang ada di dalamnya untuk dapat melestarikan seni tradisi setempat. Hasil: Pentas budaya Seni Warok dan Kuda Lumping disambut dengan sangat meriah dan antusias oleh masyarakat. Anak-anak sebagai peserta kegiatan ini menyambut dan memeriahkan acara tersebut dengan penuh semangat serta totalitas dalam penampilannya Kesimpulan: Desa Larangan Luwok di Kabupaten Temanggung dikenal dengan budaya dominan yang kuat, terutama melalui seni Warok dan Kuda Lumping sebagai simbol identitasnya. Meskipun seni ini berkembang, wadah ekspresi bagi anak-anak dirasa masih kurang sehingga perlu menjadi perhatian. Perlu dukungan berbagai pihak dalam menyediakan wadah bagi penampilan seni agar mendorong motivasi pada generasi muda. Kata kunci: budaya, kesenian, kuda lumping, tari, warok _____________________________________________________________________ Abstract Background: Indonesia is rich in arts and culture that reflect the diversity of its regions. One example is the art of Warok and Kuda Lumping, which present their regional origins well. Cultural awareness is important for recognizing and understanding the values ​​of society. Larangan Luwok Village in Temanggung City, Central Java, is one of the villages that preserves Warok art. Despite modern developments, this art still exists and is well preserved. Objective: To maintain the preservation of Warok art in Larangan Luwok Village. Method: Provide a place for performing arts performances to motivate the younger generation, especially children of Larangan Luwok Village, in the performances or art performances in to be able to preserve local traditional arts. Result: The community welcomed the cultural performances of Warok and Kuda Lumping Arts vivacious and enthusiastically. Children as participants of this activity welcomed and enlivened the event with enthusiasm and totality in their performances. Conclusion: Larangan Luwok Village in Temanggung Regency is known for its strong dominant culture, especially through the art of Warok and Kuda Lumping as symbols of its identity. Although this art is developing, the medium of expression for children is still lacking so it needs attention. Support from various parties is needed in providing a medium for art performances to encourage motivation in the younger generation. Keywords: art, culture, dance, kuda lumping, warok
Pemanfaatan Buku Saku “Gigit Beras” Untuk Peningkatan Perilaku Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Failasufa, Hayyu; Adiwinarno , Bawa; Wardhana, Erdianto
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.360

Abstract

Latar belakang: Penyebab permasalahan sebagai faktor resiko tingginya masalah kesehatan gigi mulut di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu adalah kurangnya pemahaman tentang pentingnya kesehatan gigi dan kebiasaan merawat gigi yang buruk. Hal ini bisa berupa perilaku menyikat gigi yang kurang tepat terutama di tingkat usia anak. Tujuan: Tujuan dari kegiiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan perilaku menyikat gigi yang tepat pada anak-anak dengan Pemanfaatan Buku Saku “Gigit Beras”. Metode: Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini meliputi pembuatan buku saku “Gigit Beras”, edukasi teknik menyikat gigi yang tepat sesuai buku saku serta melakukan evaluasi perilaku menyiklat gigi pada anak. Target partisipasi masyarakat yang ditetapkan adalah 50 orang yang terdiri dari ibu dan anaknya. Hasil: Terjadi perubahan yang signifikan dalam perilaku menyikat gigi anak setelah penggunaan buku saku. Proporsi anak yang tidak sesuai dalam menyikat gigi mereka menurun drastis dari 84% menjadi 12%, sedangkan proporsi anak yang sesuai meningkat dari 16% menjadi 88%. Kesimpulan: Buku saku “Gigit Beras” merupakan alat yang efektif dalam upaya meningkatkan kesehatan gigi anak dan mempromosikan perilaku yang lebih baik dalam perawatan gigi. Kata kunci: buku saku, gigit beras, kesehatan gigi anak, sikat gigi _____________________________________________________________________________ Abstract Background: The cause of the problem as a risk factor for the high prevalence of oral health issues in the Puskesmas Kedungmundu working area is a lack of understanding of the importance of oral health and poor dental care habits. This can manifest as improper teeth brushing behavior, especially among children. Objective: This community engagement initiative aims to improve proper teeth brushing behavior in children by utilizing the "Gigit Beras" Pocket Book. Method: The methods employed in this community engagement endeavor include the creation of the "Gigit Beras" Pocket Book, education on the correct teeth brushing techniques by the content of the pocketbook, and the evaluation of teeth brushing behaviors in children. The target participation is 50 individuals, comprising mothers and their children. Result: There was a significant change in children's tooth-brushing behavior after using the pocketbook. The proportion of children not following proper teeth brushing practices has dropped dramatically from 84% to 12%, while the proportion of those following correct practices has increased from 16% to 88%. Conclusion: The "Gigit Beras" pocketbook effectively enhances children's oral health and promotes better dental care behaviors. Keywords: pocketbook, gigit beras, children's dental health, toothbrushing
Skrining Pre Diabetes Pada Masyarakat Usia Remaja di Poltekkes Kemenkes Palangka Raya Dwitanta, Sucipto; Sulistyowati, Reny; Arestini, Tri Ratna; Purba, Maria Magdalena; Rizkya, Annisa Berliana; Kurniawan, Denny; Siagian, Esther Magdalena; Nurjanah, Eva; Kornedi, Gloria Natalina; Putri, Yola Amelia
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.362

Abstract

Latar belakang: Pre diabetes suatu kondisi dimana keadaan gula darah lebih tinggi dari normal tetapi masih belum bisa dikatakan Diabetes Mellitus, sehingga kondisi ini akan berubah menjadi Diabetes Mellitus tipe 2 dan bisa menyebabkan komplikasi Penyakit Kardiovaskular apabila tidak segera dicegah. Tujuan: Tujuan dari pengabdian ini dari mengedukasi dan mendeteksi dini remaja dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit diabetes dan Pre diabetes. Metode: Pengabdian masyarakat dilaksanakan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah serta edukasi langsung terkait dan mengelola penyakit Pre diabetes dan diabetes serta melakukan pre test dan post test. Hasil: Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian masyarakat ditemukan hasil gula darah sewaktu (GDS) tinggi 3%, Indeks Massa Tubuh (IMT) normal 40,6%, skor risiko Pre diabetes tidak berisiko 34,4%, pengetahuan Pre diabetes baik 85%. Kesimpulan: Edukasi menggunakan powerpoint dan leaflet terbukti dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang topik pencegahan diabetes. Kata kunci: mahasiswa, pradiabetes, remaja, skrining __________________________________________________________________ Abstract Background: Pre-diabetes is a condition where blood sugar is higher than normal but cannot yet be said to be Diabetes Mellitus, so this condition will turn into Type 2 Diabetes Mellitus and can cause complications of Cardiovascular Disease if not immediately prevented. Objective: This community service aims to educate and detect teenagers early in the prevention and management of diabetes and Pre-diabetes. Method: Community service is carried out through checking blood glucose levels as well as direct education regarding and managing Pre diabetes and diabetes as well as conducting pre-tests and post-tests. Result: Based on the results of community service activities, it was found that random blood sugar results were high at 3%, normal Body Mass Index (BMI) at 40.6%, Pre diabetes risk score at no risk at 34.4%, and good Pre diabetes knowledge at 85%. Conclusion: Education using PowerPoint and leaflets has been proven to increase student's knowledge about the topic of diabetes prevention. Keywords: adolescents, Pre diabetes, screening, students
Pencegahan Penyakit Tidak Menular Pada Lansia Melalui Penyuluhan dan Pemeriksaan Kesehatan Desa Penyangkringan, Weleri, Kendal Putri, Gela Setya Ayu; Agita, Serly; Romantir, Maya; Putri, Aisya
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.363

Abstract

Latar belakang: Penyakit tidak menular (PTM) atau disebut penyakit degeneratif adalah tipe penyakit yang muncul akibat penurunan atau perubahan fungsi sel-sel pada tubuh. Dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga PTM banyak muncul pada lanjut usia seperti hipertensi dan diabetes. Tujuan: Melakukan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan skrining PTM pada warga lansia untuk meningkatkan kesadaran warga khususnya lansia terhadap resiko PTM. Metode: Kegiatan dilakukan di Balai Desa Penyangkringan, Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah dengan sasaran kegiatan adalah seluruh lansia yang tinggal di Desa Penyangkringan RT 01 RW 03. Tahapan kegiatan meliputi pendekatan, persiapan, penyuluhan tentang PTM dan pemeriksaan kesehatan berupa cek tekanan darah dan cek gula darah, serta evaluasi. Hasil: Dari 26 partisipan terdapat peningkatan nilai rerata sebesar 35 poin (40,2%) pada warga lansia setelah pemaparan materi. Rerata tekanan darah partisipan 160/94mmHg (tekanan darah tinggi), sedangkan rerata gula darah adalah 179g/dL (gula darah tinggi). Kesimpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang PTM. Tekanan darah dan gula darah warga lansia di Desa Penyangkringan didominasi dengan hasil diatas nilai normal dengan rerata 160/94mmHg untuk tekanan darah dan 179g/dL untuk gula darah. Kata kunci: gula darah, lansia, penyakit tidak menular, tekanan darah ______________________________________________________________________ Abstract Background: Noncommunicable diseases (NCDs), often known as degenerative diseases, are diseases that develop as a result of a decrease or change in the activity of cells in the body. As people age, their physiological capabilities decline, resulting in the appearance of several NCDs such as hypertension and diabetes. Objective: Conduct health education and PTM screening examinations for elderly residents to raise awareness of the risks of PTM among residents, particularly the elderly. Method: The program was held at the Penyangkringan Village Hall in Weleri District, Kendal Regency, Central Java Province, to reach out to all elderly residents of Penyangkringan Village RT 01 RW 03. The activity stages included approach, preparation, NCD education, health tests such as blood pressure and blood glucose checks, and evaluation. Result: After receiving the educational materials, 26 participants' average score increased by 35 points (40.2%). The individuals' average blood pressure was 160/94mmHg (high blood pressure), and their average blood glucose level was 179g/dL (high blood glucose). Conclusion: There was an increase in knowledge after health education about NCDs was carried out. The elderly residents of Penyangkringan Village has blood pressure and blood sugar levels that are above normal, with an average of 160/94mmHg for blood pressure and 179g/dL for blood glucose. Keywords: blood sugar, elderly, noncommunicable disease, blood pressure
Pemeriksaan Infeksi Kecacingan dan Edukasi Cuci Tangan Yang Benar Pada Siswa Sekolah Dasar Fristiani, Arista Kurniasari Budi; Salamah, Ummi; Salmiati, Wiwi; Suharman, Reski Aulia; Latifah, Ainun; Novrizal, Yudha Pratama; Ratnadiningrat, Riki
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.368

Abstract

Latar belakang: Kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya parasit cacing kedalam tubuh manusia.  Nematoda usus penyebab kecacingan umumnya berasal dari golongan Soil Transmitted Helminths (STH). Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dalam beberapa teknik diantaranya adalah pemeriksaan molekuler yang merupakan keberlanjutan pemeriksaan mikroskopis untuk mengatasi adanya perkembangan mutasi genetik yang terjadi.  Anak Sekolah Dasar memiliki rentang umur 6-13 tahun. Anak sekolah dasar belum memiliki tingkat kematangan berfikir yang baik. Pengenalan tentang perilaku hidup bersih sehat sangat perlu dilakukan sejak dini agar dapat menanamkan perilaku hygiene dan peduli terhadap kesehatan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan tentang infeksi kecacingan serta cara mencegahnya kepada siswa sekolah dasar agar dapat menerapkan perilaku hidup bersih sehat dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten. Metode: Melakukan kegiatan edukasi pada anak sekolah dasar tentang perilaku hidup bersih sehat, cara mencuci tangan yang baik dan benar, pencegahan infeksi kecacingan, dan pemeriksaan mikroskopis cacing. Penyampaian edukasi menggunakan media PowerPoint (PPT), leaflet, dan cacing awetan. Hasil: Diperoleh peningkatan skor rata-rata pengetahuan antara pre-test dan post-test dari skor 9,07 menjadi 9,76. Jumlah partisipan yang mendapatkan skor pengetahuan maksimal semula hanya 13 siswa namun di akhir edukasi meningkat menjadi 31 siswa. Kesimpulan: Terjadi peningkatan skor pengetahuan pada siswa sekolah dasar tentang cara cuci tangan yang benar, pencegahan kejadian kecacingan serta pemeriksaan laboratorium. Kata kunci: cuci tangan, diagnosis kecacingan, hygiene perorangan, kecacingan ______________________________________________________________________ Abstract Background: Helminthiasis are caused by the entry of parasitic worms into the human body. Intestinal nematodes that cause worms generally come from the Soil Transmitted Helminths (STH) group. Laboratory examinations can be carried out in several techniques, including molecular examinations which are a continuation of microscopic examinations to overcome the development of genetic mutations that occur. Elementary school children have an age range of 6-13 years. Elementary school children do not yet have a good level of maturity in thinking. Introduction to clean and healthy living behaviors is very necessary from an early age to instill hygiene behaviors and care for health. Objective: Increase knowledge about worm infections and how to prevent them in elementary school students so that they can apply clean and healthy living behaviors in their daily lives consistently. Method: Conduct educational activities for elementary school children about clean and healthy living behaviors, how to wash hands properly, prevention of worm infections, and microscopic examination of worms. The delivery of education uses PowerPoint (PPT), leaflets, and preserved worms. Results: An increase in the average knowledge score between the pre-test and post-test was obtained from a score of 9.07 to 9.76. The number of participants who obtained the maximum knowledge score was initially only 13 students but at the end of the education it increased to 31 students. Conclusion: There was an increase in knowledge scores in elementary school students about how to wash hands properly, preventing worms and laboratory examinations. Keywords: hand washing, helminthiasis diagnosis, personal hygiene, helminthiasis
Sosialisasi Risiko Bahaya Kesehatan Penggunaan Gadget Pada Siswa SMP Boarding School Nurullita, Ulfa; Fariz Bin Seh Abubakar, Sayid; Arif Rahman, Muhammad
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.394

Abstract

Latar belakang: Sekolah moodel boarding school membatasi siswa dalam menggunakan gadget. Bagi siswa baru yang pertama memasuki model boarding school akan merasakan pengalaman yang berbeda karena harus membatasi penggunaan gadget. Ini dapat menimbulkan gangguan kecemasan karena terpisah dari gadgetnya. Maraknya bahaya yang ditimbulkan gadget khususnya pada anak dan remaja, mendorong perlunya penyuluhan bahaya penggunaan gadget pada anak sekolah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMP tentang penggunaan gadget dan risiko bahayanya pada kesehatan. Metode: Pengabdian masyarakat ini menggunakan metode penyuluhan serta diskusi interaktif dengan materi berupa pengertian dan jenis gadget, berbagai bahaya kesehatan yang ditimbulkan, upaya pencegahan, dan pengendaliannya. Alat bantu yang digunakan adalah LCD proyektor, materi power point, dan leaflet. Hasil: Skor pengetahuan sebelum penyuluhan minimum 40, maksimum 80, dengan standar deviasi 11,389 sedangkan sesudah penyuluhan skor pengetahuan minimum 70, dan maksimal 100, dengan standar deviasi 11,293. Hasil analisis Wilcoxon didapatkan nilai p = 0,000. Kesimpulan: Penyuluhan tentang bahaya penggunaan gadget terhadap kesehatan pada siswa SMP dapat meningkatkan pengetahuan siswa. Terdapat pemahaman yang lebih baik dari siswa mengenai jenis gadget yang menimbulkan bahaya yang selama ini dianggap tidak berbahaya. Saran bagi orang tua siswa untuk membatasi penggunaan gadget khususnya saat siswa berada di rumah. Kata kunci: bahaya kesehatan, gadget, sosialisasi ___________________________________________________________________ Abstract Introduction: Boarding school models limit students from using gadgets. New students entering the boarding school model for the first time will experience a different experience because they have to limit the use of gadgets. This can cause anxiety disorders because they are separated from their gadgets. The increasing dangers posed by gadgets, especially to children and teenagers, have prompted the need to educate school children about the dangers of using gadgets. Objective: To increase junior high school students' knowledge about the use of gadgets and the risks they pose to health. Method: This community service uses counseling methods and interactive discussions with material in the form of understanding and types of gadgets, various health hazards they cause, and prevention and control efforts. The tools used are LCD projectors, PowerPoint materials, and leaflets. Result: The knowledge score before counseling was a minimum of 40, and a maximum of 80, with a standard deviation of 11.389, while after counseling the minimum knowledge score was 70, and a maximum of 100, with a standard deviation of 11.293. The results of the Wilcoxon analysis obtained a p-value = 0.000. Conclusion: Education about the dangers of using gadgets on health for junior high school students can increase students' knowledge. There is a better understanding from students about the types of gadgets that cause danger that were previously considered harmless. Advice for parents of students to limit the use of gadgets, especially when students are at home. Keywords: health hazards, gadgets, socialization
Upaya Pelayanan Kesehatan Remaja di SMP Muhammadiyah Rawalo Annisa, Rully; Ching Cing, Marta Tania Gabriel; Noveni, Nia Anggri
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.401

Abstract

Latar belakang: Remaja merupakan sebagian kecil dari penduduk tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Memahami masa remaja menjadi penting karena mereka adalah pilar masa depan setiap masyarakat. Di sektor kesehatan, sekitar 900 ribu anak di Indonesia mengalami gizi buruk. Remaja juga menunjukkan perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba, risiko HIV/AIDS, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Kasus HIV/AIDS mencapai 8.914, di mana setengahnya terjadi pada kelompok remaja (15-19 tahun sebanyak 2,7%, 20-29 tahun sebanyak 54,7%). Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi menjadi krusial bagi remaja agar mereka mampu menjaga kesehatan tubuh dan diri mereka dengan baik. Sebagai wujud tanggung jawab sosial dalam membimbing remaja dan mengatasi berbagai permasalahannya, penting untuk memiliki sistem pembentukan karakter remaja yang mencakup perspektif terhadap kesehatan dan pengembangan kualitas diri. Tujuan:  Untuk membentuk remaja yang memiliki kesehatan baik, unggul, dan berakhlak mulia, sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat Islam yang sesungguhnya. Metode: Metode yang digunakan adalah edukasi dan pelayanan kesehatan meliputi pengukuran IMT, Hemoglobin, dan menyediakan pos konsultasi kesehatan umum, gizi, dan psikologi bagi remaja. Hasil: Sebagian besar remaja mempunyai IMT dengan kategori kurus berat sebanyak 31 remaja (32,30%) dan sebanyak 71 remaja (74,74%) mempunyai kadar hemoglobin normal. Masih ada remaja yang mengalami anemia ringan yaitu sebanyak 14 remaja (14,73%). Kesimpulan: Perlu upaya peningkatan status gizi dan kesehatan siswa karena lebih dari sepertiga masih dalam status kurus berat dan sebagian dalam kondisi anemia. Kata kunci: edukasi, kesehatan remaja, pelayanan kesehatan remaja, remaja _______________________________________________________________________ Abstract Background: Adolescents are a small part of the population but have a large impact. Understanding adolescents is important because they are the pillars of the future of every society. In the health sector, around 900 thousand children in Indonesia experience malnutrition. Adolescents also exhibit risky behaviors such as drug use, risk of HIV/AIDS, and unwanted pregnancies. HIV/AIDS cases reached 8,914, half of which occurred in the adolescent group (15-19 years old as much as 2.7%, 20-29 years old as much as 54.7%). Knowledge about reproductive health is crucial for adolescents to maintain their physical and personal health well. As a form of social responsibility in guiding adolescents and overcoming their various problems, it is important to have a character formation system that includes a health and self-development perspective. Objective: To form adolescents who have good health, are superior, and have noble morals, as part of an effort to realize a truly Islamic society. Method: The method used is education and health services including measuring BMI and hemoglobin, and providing general health, nutrition, and psychology consultation posts for adolescents. Result: Most adolescents have a BMI in the underweight category, as many as 31 adolescents (32.30%) and 71 adolescents (74.74%) have normal hemoglobin levels. Some adolescents still experience mild anemia, namely 14 adolescents (14.73%). Conclusion: Efforts are needed to improve students' nutritional and health status because more than a third are still underweight and some are anemic. Keywords: education, adolescent health, adolescent health services, adolescents
Pendampingan dan Kehalalan Produk Pangan Dilakukan Kepada Peserta Pemilik UMKM di Kelurahan Wirobrajan Yogyakarta Salamah, Nina; Pradini, Ni Komang Virginia; Pora, Yohana Laura Silfia; Wulandari
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.403

Abstract

Latar belakang: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar utama dalam struktur perekonomian Indonesia. Namun, banyak pemilik UMKM menghadapi tantangan dalam memastikan produk pangan mereka memenuhi standar kehalalan yang ditetapkan. Proses sertifikasi halal tidak hanya membutuhkan biaya besar, tetapi juga pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Tujuan: untuk memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan oleh UMKM di Kelurahan Wirobrajan, Yogyakarta, memenuhi standar kehalalan yang ditetapkan. Metode: Pendekatan partisipatif digunakan, meliputi sosialisasi untuk memastikan pemahaman dan penerapan yang efektif tentang kehalalan produk pangan. Hasil: Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pemilik UMKM tentang keamanan pangan dan kehalalan produk setelah mengikuti sosialisasi. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Hal ini mengindikasikan bahwa program pendampingan ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemilik UMKM. Selain itu, observasi lapangan juga menunjukkan adanya perubahan dalam praktik produksi pangan, di mana pemilik UMKM telah mulai menerapkan prinsip-prinsip kehalalan dalam setiap tahapan produksi. Mereka juga menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk mengajukan sertifikasi halal bagi produk-produk mereka. Kesimpulan: Program pendampingan berhasil meningkatkan pemahaman pemilik UMKM mengenai kehalalan produk pangan, terbukti dari peningkatan skor rata-rata pemahaman dari 25% menjadi 75%. Pendampingan juga membantu UMKM memahami proses sertifikasi halal yang sebelumnya dianggap rumit dan mahal, dengan memberikan bimbingan praktis dalam menyusun dokumen dan persyaratan sertifikasi. Kata kunci: kehalalan, produk pangan, UMKM, Wirobrajan ________________________________________________________________________ Abstract Background: Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) are the main pillars in the structure of the Indonesian economy. However, many MSME owners face challenges in ensuring their food products meet established halal standards. The halal certification process not only requires large costs, but also in-depth knowledge and understanding. Objective: To ensure that the food products produced by MSMEs in Wirobrajan Village, Yogyakarta, meet the established halal standards. Method: A participatory approach is used, including outreach to ensure effective understanding and implementation of halal food products. Result: Activities show an increase in MSME owners' understanding of food safety and halal products after participating in the socialization. Based on statistical analysis, there is a significant difference between the pre-test and post-test scores. This indicates that this mentoring program is effective in increasing the knowledge and skills of MSME owners. Apart from that, field observations also show changes in food production practices, where MSME owners have begun to apply halal principles in every stage of production. They also show high enthusiasm for applying for halal certification for their products. Conclusion: The mentoring program was successful in increasing the understanding of MSME owners regarding halal food products, as evidenced by the increase in the average understanding score from 25% to 75%. Assistance also helps MSMEs understand the halal certification process which was previously considered complicated and expensive, by providing practical guidance in compiling documents and certification requirements. Keywords: halal, food products, MSMEs, Wirobrajan
Bersih-bersih Telinga Anak Sekolah Dalam Rangka Peringatan Hari Pendengaran Dunia 2024 Primasari, Astin; Martono, Wahyu Budi; Ratnaningrum, Kanti; Novitasari, Andra; Kurniati, Ika Dyah
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.414

Abstract

Latar belakang: Menurut World Health Organization (WHO) gangguan pendengaran pada anak-anak di negara-negara berkembang, 60% disebabkan oleh kurangnya tindakan pencegahan. Hal tersebut berdampak pada pemahaman bicara, bahasa dan perkembangan sosial, yang akan mempengaruhi pencapaian akademik seperti kesulitan membaca, ejaan yang buruk, dan keterampilan menulis. Serumen impaksi berhubungan dengan kejadian gangguan pendengaran. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya preventif untuk menurunkan angka gangguan pendengaran pada anak usia sekolah. Metode: Sasaran kegiatan ini adalah siswa SD Muhammadiyah 08 kelas 3, sebanyak 66 siswa. Seluruh peserta dilakukan pemeriksaan THT secara umum untuk menilai kesehatan telinga. Apabila didapatkan adanya kotoran teinga, maka dilanjutkan dengan tindakan mengambil serumen dengan menggunakan aplikator dengan kapas, serumen spoon ataupun serumen hook serta metode irigasi. Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagian besar peserta adalah laki -laki 37 orang (56%), serta berdasarkan kebersihan telinganya mayoritas terdapat serumen dengan konsistensi lunak maupun keras, sebanyak 46 orang (70%). Kesimpulan: Mayoritas peserta dilakukan tindakan ekstraksi serumen. Masalah yang dijumpai pada kegiatan ini adalah serumen obsturans. Kata kunci: gangguan pendengaran, ketulian, membersihkan telinga, serumen ______________________________________________________________________ Abstract Background: According to the World Health Organization (WHO), 60% of hearing loss in children in developing countries is caused by a lack of preventive measures.It has an impact on speech understanding, language and social development, which will affect academic achievement such as reading difficulties, poor spelling and writing skills.Impacted cerumen is associated with hearing loss. Objective: This activity aims to be a preventive measure to reduce the rate of hearing loss in school-aged children. Method: The target of this activity is SD Muhammadiyah 08 grade 3 students, totaling 66 students. All participants underwent a general ENT examination to assess ear health. If ear discharge is found, then proceed with the action of collecting cerumen using a cotton applicator, cerumen spoon or cerumen hook as well as the irrigation method. Result: Based on the results of the examination, most of the participants were men, 37 people (56%), and based on the cleanliness of their ears, the majority had cerumen with a soft or hard consistency, as many as 46 people (70%). Conclusion: The majority of participants underwent cerumen extraction procedures. The problem encountered in this activity was cerumen obsturans. Keywords: cerumen, deafness, ear cleaning, hearing disorder
Pelatihan Tatalaksana Penetasan Telur dan Pembesaran Larva Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Tingkat I di Pokdakan Sarekat Berkah Mandiri Rusman, Ade; Diniatik, Diniatik; Suyadi, Aman
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 3 No 4 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v3i4.502

Abstract

Latar belakang: Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis penting karena banyak diminati oleh konsumen, mempunyai harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila, tambakan dan tawes. Kandungan gizi dan protein pada ikan gurami juga cukup tinggi yaitu 20% dibandingkan dengan ikan lele, nila dan ikan mas yang masing-masing berkisar 18,2%, 16,1% dan 16%. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Kelompok Sarekat Berkah Mandiri dalam teknik penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan gurami. Metode: Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Kelompok Sarekat Berkah Mandiri Desa Silado Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah presentasi, diskusi dan praktik. Tim pengabdian masyarakat memberikan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Setelah penyuluhan juga dilakukan pemilihan telur, penyiapan wadah penetasan telur, dan pembuatan kolam pendederan. Hasil: Hasil kegiatan pendidikan dan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan anggota kelompok dengan nilai pre-test (59,375±8,634), nilai post-test (81,25±4,432) dan t (11) = -6,375 p value = 0,00001. Kesimpulan: pendidikan dan pelatihan penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan gurami dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Pokdakan Sarekat Berkah Mandiri. Kata kunci: ikan gurami, pembesaran larva, penetasan telur, pokdakan Sarekat Berkah Mandiri ______________________________________________________________________ Abstract Background: Gourami fish (Osphronemus gouramy) is a freshwater fish commodity that has important economic value because it is in high demand by consumers, and has a relatively higher price compared to other types of freshwater fish such as carp, tilapia, tambakan, and tawes. The nutritional and protein content of gourami fish is also quite high at 20% compared to catfish, tilapia, and carp which are around 18.2%, 16.1%, and 16% respectively. Objective: To improve the knowledge and skills of members of the Sarekat Berkah Mandiri Group in egg-hatching techniques and raising gourami larvae. Method: The training activity was conducted at the Sarekat Berkah Mandiri Group, Silado Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java. The techniques used were presentation, discussion, and practice. The community service team provided a pre-test and post-test to measure the increase in participant knowledge. In addition to the extension method, egg selection, preparation of egg-hatching containers, and making of nursery ponds were also carried out. Result: The results of education and training activities increased the knowledge of group members with pre-test values ​​(59.375±8.634), posttest values ​​(81.25±4.432), and t (11) = -6.375 p value = 0.00001. Conclusion: education and training in egg hatching and rearing of gourami larvae can increase the knowledge and skills of members of the Sarekat Berkah Mandiri Pokdakan. Keywords: gourami fish, larval rearing, egg hatching, pokdakan Sarekat Berkah Mandiri

Page 1 of 2 | Total Record : 14