cover
Contact Name
Wahyu Tri Astuti
Contact Email
astuti.wahyutri@yahoo.co.id
Phone
+6285292885982
Journal Mail Official
jurnalkaryabhakti@gmail.com
Editorial Address
Jl. A Yani Gg.Barito II Km.1 Sidotopo, Magelang
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti
ISSN : 24771414     EISSN : 27160785     DOI : https://doi.org/10.56186/jkkb
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti (JKKB) is an open access journal that publishes research results for educators and researchers in nursing studies. JKKB invites researchers to contribute ideas on the main scope of Medical Surgical Nursing, Maternity Nursing, Pediatric Nursing, Emergency Nursing, Nursing Management, Psychiatric Nursing, Community Nursing, and Holistic Nursing.
Articles 153 Documents
Terapi Rendam Kaki Dengan Air Hangat Jahe Untuk Menurunkan Nyeri Akut Pada Lansia Penderita Hipertensi Indira Zulkarnain, Fahdina Nia; Anisah, Retno Lusmiati; Parmilah, Parmilah
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.163

Abstract

AbstrakHipertensi adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas tingkat normal, yaitu melebihi 140/90 mmHg. Prevalensi global hipertensi tahun 2019 adalah mencapai 34,1%, meningkat dari 25,8% pada seorang dewasa (30-79 tahun). Dampak hipertensi adalah palpitasi, kelelahan, ansietas, tremor otot, nyeri kepala, epistaksis pandangan kabur atau ganda, sulit tidur, dan nyeri akut. Salah satu penyebab nyeri akut adalah tekanan darah meningkat. Salah satu tindakan non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri yang berfokus pada terapi rendam kaki dengan air hangat jahe. Jahe merah mengandung berbagai komponen seperti lemak, protein, zat pati, oleoresin (gingerol), dan minyak atsiri, bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan memberikan efek relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Tujuan penelitian untuk memberikan gambaran tentang efektivitas terapi rendam kaki dengan air hangat jahe untuk menurunkan nyeri akut pada lansia penderita hipertensi.Metode penelitian ini menggunakan studi kasus. Hasil penelitian kedua responden setelah diberikan terapi rendam kaki dengan air hangat jahe selama 7 hari, mengalami mengalami penurunan tekanan darah penurunan tingkat nyeri. Responden 1 dari tekanan darah 146/98 mmHg dengan skala nyeri 5 menjadi 125/85 mmHg dengan skala nyeri 2 sedangkan responden 2 dari tekanan darah dan 158/110 mmHg dengan skala nyeri 6 menjadi 112/85 mmHg dengan skala nyeri. Kesimpulannya, pemberian terapi rendam kaki dengan air hangat jahe efektif untuk menurunkan nyeri akut pada lansia penderita hipertensi. Kata Kunci : Hipertensi; Lansia; Nyeri Akut; Rendam Kaki Air Hangat Jahe AbstractHypertension is a condition where a person experiences an increase in blood pressure above normal levels, namely exceeding 140/90 mmHg. The global prevalence of hypertension in 2019 was 34.1%, an increase from 25.8% in adults (30-79 years). The effects of hypertension are palpitations, fatigue, anxiety, muscle tremors, headaches, blurred or double vision epistaxis, difficulty sleeping, and acute pain. One of the causes of acute pain is increased blood pressure. One non-pharmacological action that can be taken is pain management which focuses on foot soak therapy with warm ginger water. Red ginger contains various components such as fat, protein, starch, oleoresin (gingerol), and essential oils, which are useful for lowering blood pressure and providing a relaxing effect so that it can reduce pain. The aim of the research is to provide an overview of the effectiveness of foot soak therapy with warm ginger water to reduce acute pain in elderly people with hypertension.This research method uses a case study. The research results of the two respondents, after being given foot soak therapy with warm ginger water for 7 days, experienced a decrease in blood pressure and a decrease in pain levels. Respondent 1 from blood pressure 146/98 mmHg with a pain scale of 5 to 125/85 mmHg with a pain scale of 2 while respondent 2 from blood pressure and 158/110 mmHg with a pain scale of 6 to 112/85 mmHg with a pain scale.In conclusion, providing foot soak therapy with warm ginger water is effective in reducing acute pain in elderly people with hypertension. Keyword : Hypertension; Elderly; Acute Pain; Ginger Warm Water Foot Soak Therapy
Pola Pemberian Makan Mempengaruhi Kejadian Stunting Pada Anak Umur 24 – 59 Bulan Ardiansyah, Muhammad Ivan; Setyarini, Tri Kartika; Fuad, Wijayanti
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.165

Abstract

Abstrak Stunting dapat disebabkan faktor langsung (bayi Berat Badan Lahir Rendah, penyakit infeksi, jenis kelamin, riwayat anemia ibu) serta faktor tidak langsung (imunisasi tidak lengkap, status ekonomi keluarga, pola pemberian makan anak). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat anemia ibu hamil dan pola pemberian makan anak terhadap kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di kelurahan Geneng kecamatan Batealit, Jepara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Metode pengambilan sampel secara simple random sampling. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 85 responden. Uji statistik menggunakan uji chi – square untuk analisis bivariat dan uji multiple logistic regression untuk analisi multivariat. Responden yang mengalami stunting sebesar 56,5%, dan ibu yang memiliki riwayat anemia sebesar 55,3%, sedangkan ibu dengan pola pemberian makan anak tidak baik sebesar 62,4%. Riwayat anemia ibu dan pola pemberian makan anak berpengaruh terhadap kejadian stunting anak umur 24–59 bulan di kelurahan Geneng, kecamatan Batealit, Jepara (p=0,002 dan p=0,000). Pola pemberian makan anak merupakan faktor yang lebih berpengaruh terhadap kejadian stunting dibandingkan riwayat anemia ibu. Terdapat hubungan antara riwayat anemia ibu dan pola pemberian makan anak terhadap kejadian stunting. Kata Kunci: Pola pemberian makan; Riwayat anemia ibu; Stunting Abstract Failure to achieve maximum growth is the definition of stunting, calculated based on height for age (TB/U) with a limit value of less than minus 2 SD. Globally, according to the United Nations Children's Fund, in 2018 there were 22.2% of children experiencing stunting, or 1 in 4 children aged 0 to 5 years in the world had a stunting problem. Stunting can be caused by direct factors (low birth weight babies, infectious diseases, gender, history of maternal anemia) and indirect factors (incomplete immunizations, family economic status, child feeding patterns). This study aims to analyze the relationship between a history of anemia in pregnant women and child feeding patterns to the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Geneng village, Batealit sub-district, Jepara. This research is an analytic observational study with a cross sectional approach. The sampling method is simple random sampling. The research sample used was 85 respondents. Statistical test using chi-square test for bivariate analysis and multiple logistic regression test for multivariate analysis. This study was conducted after obtaining ethical approval. Respondents who experienced stunting were 56.5%, and mothers who had a history of anemia were 55.3%, while mothers with poor child feeding patterns were 62.4%. History of maternal anemia and child feeding patterns affect the incidence of stunting in children aged 24–59 months in Geneng sub-district, Batealit sub-district, Jepara (p=0.002 and p=0.000). Child feeding pattern is a more influential factor on the incidence of stunting than the history of maternal anemia. There is a relationship between a history of maternal anemia and child feeding patterns on the incidence of stunting.. Keywords: Stunting; history of maternal anemia; feeding patterns.
Penerapan Pendidikan Kesehatan Tentang Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi Untuk Mengatasi Masalah Utama Defisit Pengetahuan Pada Ibu Postpartum Spontan Bulan Susanti, Evy Tri; Munayarokh; Dewi Nur Solikha
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.167

Abstract

Latar Belakang: Postpartum spontan merupakan masa setelah plasenta dan janin lahir melalui pervaginam, dengan kekuatan ibu sendiri dan berakhir ketika alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama kurang lebih 6 minggu. Masalah yang timbul pada ibu postpartum spontan bisa beragam, salah satunya defisit pengetahuan tentang alat kontrasepsi. untuk meningkatkan masalah defisit pengetahuan dapat diatasi dengan memberikan pendidikan kesehatan. Tujuan: Menggambarkan pendidikan kesehatan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi dapar meningkatkan pengetahuan ibu postpartum spontan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian 2 pasien menggunakan non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling pada ibu postpartum di Ruang Bougenville RSUD Tidar Kota Magelang. Instrumen yang digunakan SAP, leaflet, kuesioner untuk mengukur pengetahuan yang terdiri dari 15 pertanyaan, lembar balik, lembar observasi pre dan post test dan format asuhan keperawatan maternitas. Hasil: Kedua responden memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan subjek studi kasus, pengkajian keperawatan didapatkan hasil kedua responden Ny. S dan Ny. Y telah melahirkan secara spontan, belum menggunakan alat kontrasepsi, pengetahuan tentang alat kontrasepsi masih berada di kategori kurang, tidak mengalami perubahan psikologis postpartum. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan pada Ny. S dan Ny. Y adalah defisit pengetahuan tentang jenis alat kontrasepsi berhubungan dengan kurang terpapar informasi. Kondisi sebelum pelaksanaan tindakan tingkat pengetahuan Ny. S dan Ny. Y kategori kurang, dapat menjawab 8 dari 15 pertanyaan (53%). Pelaksanaan tindakan berdasarkan perencanaan keperawatan yaitu edukasi keluarga berencana dengan penerapan pendidikan kesehatan. Simpulan: Kondisi setelah diberikan pendidikan kesehatan didapatkan hasil responden mengalami tingkat pengetahuan meningkat, Ny. S tingkat pengetahuan cukup dengan mampu menjawab 11 dari 15 pertanyaan (73%) dan Ny. Y tingkat pengetahuan baik dengan mampu menjawab 13 dari 15 pertanyaan (87%). Background: Postpartum Spontaneous is the period after the placenta and fetus are born vaginally, by the mother's own strength and ends when the uterus returns to its pre-pregnancy state which lasts for approximately 6 weeks. The problems that arise in spontaneous postpartum mothers can be varied, one of which is a deficit in knowledge about contraceptives. To improve the problem of knowledge deficit, it can be overcome by providing health education. Objective: Describing health education about the types of contraceptives can increase knowledge of spontaneous postpartum mothers. Method: This research is a qualitative descriptive research with a case study approach. The research subjects were 2 patients using non probability sampling with approach purposive sampling on mother postpartum in the Bougenville Room of Tidar Regional Hospital, Magelang City. The instruments used by SAP are leaflets, questionnaires to measure knowledge consisting of 15 questions, feedback sheets, observation sheets pre and post test and format of maternity nursing care. Results: Both respondents met the inclusion criteria to be used as case study subjects. The results of the nursing assessment were obtained by the two respondents, Mrs. S and Mrs. Y has given birth spontaneously, has not used contraception, knowledge about contraceptives is still in the deficient category, has not experienced postpartum psychological changes. The nursing diagnosis made to Mrs. S and Mrs. Y is a knowledge deficit about types of contraception related to lack of exposure to information. Conditions before implementing the action Mrs. S and Mrs. Y in the poor category, can answer 8 of 15 questions (53%). Implementation of actions based on nursing planning, namely family planning education with the application of health education. Sconclusion: Conditions after being given health education showed that respondents experienced an increased level of knowledge, Mrs. S's level of knowledge was sufficient to be able to answer 11 of 15 questions (73%) and Mrs. Y has a good level of knowledge and was able to answer 13 of 15 questions (87%).
PEMBERIAN MOBILISASI DINI UNTUK MENURUNKAN RASA NYERI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA Prayoga, Fajar; Yunia, Eva Anita
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.171

Abstract

Introduction: Sectio caesarea is an operation to help with childbirth through an incision (incision) in the abdominal wall (laparotomy) and uterus (hysterectomy) to deliver the fetus. One of the nursing interventions that can be given is early mobilization for post-operative patients. Mobilization is the main factor in speeding up recovery and preventing post-surgical complications. Early mobilization can increase blood circulation which can reduce pain, prevent thrombophlebitis, provide nutrition for the healing of the wound area and improve smooth kidney function are important goals in the treatment process. These benefits will be felt by patients if they mobilize early after surgery. Method: The research design that will be used is descriptive research. Sampling in this research will use purposive sampling technique. The number of samples that will be used in this research is 2 respondents with cases After Caesarean Section in the inpatient room at TK IV Army Hospital 01.04.07 Pematangsiantar, in April 2024. Results: Based on the results of the implementation that has been carried out, there is a reduction in the intensity of pain in mothers post section caesarea after being given early mobilization techniques Suggestion: Suggestions given for the research that has been carried out are that nurses should be able to innovate in developing nursing knowledge, especially in caring for clients who experience it after caesarean section by providing early mobilization measures to reduce pain in the mother.
IMPLEMENTASI PEMBERIAN TEKNIK FOOT MASSAGE PADA ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA HIPERTENSI UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH Silviana, Risma; Adelina Pasaribu, Yohanna
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.172

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi merupakan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg. Prevelensi Hipertensi sekitar 1,28 miliar orang manula 30-79 tahun diseluruh dunia. Teknik non farmakologis yaitu teknik foot massage untuk menurunkan tekanan darah. Tujuan : menerapkan teknik foot massage untuk menurunkan tekanan darah pada pasien Hipertensi di Puskesmas Kartini Kota Pematangsianatar. Metode : Desain penelitian deskriptif melalui pendekatan studi kasus. Sampel dalam penelitian sebanyak 2 responden yaitu penderita Hipertensi di Puskesmas Kartini Pematangsiantar. Hasil : hasil studi kasus menunjukkan bahwasanya nyeri pada daerah kepala karena peningkatan tekanan darah pada anggota keluarga yang menderita Hipertensi  dapat diturunkan menggunakan teknik foot massage. Kata Kunci:   Implementasi; foot massage; Tekanan Darah; Hipertensi   Abstract Background: Hypertension is a systolic pressure greater than or equal to 160 mmHg and a diastolic pressure equal to or greater than 95 mmHg. Hypertension prevalence is about 1.28 billion people aged 30-79 years worldwide. Non-pharmacological techniques are foot massage techniques to lower blood pressure. Objective: applying foot massage techniques to reduce blood pressure in hypertensive patients at the Kartini Health Center in Pematangsianatar City. Methods: Descriptive research design through a case study approach. The sample in the study were 2 respondents, namely patients with hypertension at the Kartini Health Center in Pematangsiantar. Results: the results of the case study show that pain in the head area due to increased blood pressure in family members suffering from hypertension can be reduced using foot massage techniques. Keywords: Implementation; foot massage; Blood Pressure; Hypertension
Penerapan Relaksasi Benson Untuk Mengatasi Masalah Utama Nyeri Akut Pada Pasien Post Apendiktomi Emah, Emah Marhamah; Sugiarto, Kurniawan Bagus; Kusumastuti, Rachma
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.174

Abstract

Nyeri post apendiktomi terjadi karena setiap prosedur pembedahan mengakibatkan terputusnya jaringan (luka) yang mengeluarkan prostaglandin dan leukotriens kemudian diteruskan ke spinal cord untuk menghasilkan impuls nyeri. Nyeri post apendiktomi dapat dikontrol dengan penatalaksanaan farmakologis dan non farmakologis. Salah satu penatalaksanaan non farmakologis dengan melakukan relaksasi Benson. Tujuan : menggambarkan penerapan relaksasi Benson untuk mengatasi masalah nyeri akut pada pasien post apendiktomi. Metode : deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian 2 pasien menggunakan non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling pada pasien post apendiktomi di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Umum Tidar Kota Magelang, Tindakan dilakukan selama 3 hari dengan melakukan pemberian relaksasi Benson selama 10-20 menit, mengukur skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Hasil : kedua responden memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan subjek studi kasus, pengkajian keperawatan didapatkan hasil pada pasien Ny. Z mengeluh nyeri setelah 6 jam post apendiktomi, nyeri terasa saat pasien berganti posisi dan berkurang saat berbaring, kualitas nyeri seperti tersayat-sayat, nyeri pada perut kanan bawah bekas operasi, nyeri skala 6 dan nyeri hilang timbul berdurasi kurang lebih 8 menit. Pada pasien Tn. M mengeluh nyeri post apendiktomi H+0, nyeri bertambah ketika pasien bergerak dan berkurang saat pasien istirahat, seperti ditusuk-tusuk, nyeri pada perut kanan bawah bekas operasi, nyeri dengan skala 5 dan nyeri hilang timbul berdurasi selama kurang lebih 5 menit Diagnosa keperawatan yang ditegakkan adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur operasi). Kondisi sebelum pelaksanaan tindakan pada Ny. Z nyeri dengan skala 6 dan Tn. M nyeri dengan skala 5. Pelaksanaan tindakan berdasarkan perencanaan keperawatan yaitu penerapan relaksasi Benson selama 3 hari berturut-turut, diberikan 2 kali dalam sehari dengan durasi waktu 10 sampai dengan 20 menit. Simpulan : Kondisi setelah pelaksanaan hasilnya menunjukkan bahwa tingkat nyeri pada kedua responden mengalami penurunan. Ny. Z dari tingkat nyeri 6 menjadi 3 dan pada Tn. M mengalami penurunan tingkat nyeri dari 5 menjadi 3. Penerapan relaksasi Benson terbukti efektif karena mampu menurunkan tingkat nyeri pada kedua responden post apendiktomi.
Profil Status Gizi Dan Kualitas Hidup Anak Penderita Talasemia Purnamasari, Ika; Peperawati, Pratiwi Rita; Astuti, Wahyu Tri
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.177

Abstract

Abstrak Talasemia merupakan kelainan genetik yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan dapat mempengaruhi aspek pertumbuhan dan kualitas hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil status gizi dan kualitas hidup anak penderita talasemia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan seluruh pasien anak talasemia di RSUD Temanggung berjumlah 15 pasien. Pengambilan data dengan kuesioner profil pertumbuhan dan instrumen Pediatric Quality of Life Inventory 4.0 Generic Core Scales (PedsQL). Data dianalisis secara deskriptif dengan distribusi frekuensi, penghitungan status gizi dan skoring instrumen PedsQL. Hasil penelitian menunjukkan responden berjumlah 15 pasien anak dengan usia sebagian besar pada kelompok usia sekolah (9,3 th). Kadar hemoglobin (Hb) pra tranfusi rata-rata 8,11 gr/dl dan 80% responden melakukan tranfusi setiap 4 minggu. Usia diagnosis paling banyak terjadi pada usia 3 tahun. Profil status gizi berdasarkan IMT dijumpai 20% status gizi gemuk, 20% status gizi kurus dan 60% status gizi normal. 80% responden memiliki riwayat berat dan panjang lahir normal. Berdasarkan analisis PedsQL laporan anak, terdapat 33,3% anak memiliki kualitas hidup buruk dengan skor rata-rata 56,1 dan 66,7% memiliki kualitas hidup baik dengan skor rata-rata 88,8. Sedangkan berdasarkan laporan orang tua, 26,7% memiliki kualitas hidup buruk dengan skor 63,9 dan 73,3 % memiliki kualitas hidup baik dengan skor 84,3. Adapun skor terendah berada pada fungsi sekolah yaitu sebesar 69,7 (buruk). Profil status gizi berdasarkan IMT sebagian besar anak berstatus gizi normal. Kualitas hidup anak talasemia pada kategori baik berdasarkan laporan anak dan orang tua. Hasil ini sebagai dasar bagi perawat dalam memberikan intervensi keperawatan. Kata Kunci: anak talasemia; kualitas hidup; profil status gizi Abstract Thalassemia is a genetic disorder that requires long-term treatment and can affect aspects of a child's growth and quality of life. This study aims at describing the nutritional status profile and quality of life of children with thalassemia. This research was a descriptive study with a cross-sectional approach involving all 15 thalassemia pediatric patients at Temanggung Regional Hospital. Data were collected using a growth profile questionnaire and the Pediatric Quality of Life Inventory 4.0 Generic Core Scales (PedsQL) instrument. Data were analyzed descriptively using frequency distribution, calculating nutritional status and scoring the PedsQL instrument. The research results showed that the respondents were 15 pediatric patients, most of them were in the school age group (9.3 years). Pre-transfusion hemoglobin (Hb) levels averaged 8.11 gr/dl and 80% of respondents underwent transfusions every 4 weeks. The most common age of diagnosis was 3 years old. The growth profile based on BMI found 20% fat nutritional status, 20% thin nutritional status and 60% normal nutritional status. 80% of respondents had a history of normal birth weight and length. Based on PedsQL analysis of children's reports, 33.3% of children had poor quality of life with an average score of 56.1 and 66.7% had good quality of life with an average score of 88.8. Meanwhile, based on parent reports, 26.7% had a poor quality of life with a score of 63.9 and 73.3% had a good quality of life with a score of 84.3. The lowest score was for school function, namely 69.7 (bad). The nutritional status profile based on BMI of most children has normal nutritional status. The quality of life of thalassemia children is in the good category based on child and parent reports. These results as the basis data for nurses in providing nursing interventions. Keywords : children with thalassemia, quality of life, profile of nutrition status
Literatur Review Pola Asuh Orang Tua Untuk Menunjang Perkembangan Remaja Widiastuti, Triana; Mustaghfiroh, Lailatul
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.178

Abstract

Abstrak Pola asuh orang tua atau juga bisa disebut sebagai parenting merupakan sebuah cara didik orang tua terhadap anak baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pola asuh ini menyangkut semua perilaku orang tua sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini mengkaji pola asuh orang tua untuk menunjang perkembangan remaja. Penelitian ini adalah penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam tinjauan ini dengan literature review. Literature review yang digunakan dalam penelitian ini kami lakukan dengan mencari sumber dari berbagai artikel dan jurnal penelitian terindeks nasional seperti Pubmed, Science direct, ProQuest, EBSCO, Taylor & Francis, Google Scholar, batas maksimal publikasi artikel penelitian dalam kurun waktu 5 tahun terakhir periode tahun 2019-2023. Artikel penelitian yang didapatkan sebanyak 7 artikel, dianalisis dan disintesis dalam format tabel berisi judul, penulis, tahun, metodologi, dan hasil. Pembentukan pembentukan remaja yang memiliki identitas dan mandiri melibatkan kebersamaan baik dari remaja maupun orang tua. Setiap Gaya pola asuh yang berbeda mempunyai peranan yang berbeda pula dalam pembentukan perkembangan seorang remaja. Kata Kunci: Pola Asuh Orang Tua, perkembangan, remaja. Abstract Parenting or also known as parenting is a way of educating parents about their children, either directly or indirectly. This parenting style concerns all daily parental behaviors. The purpose of this study is to examine parental parenting to support adolescent development. This research is a research The research method used in this review is a literature review. The literature review used in this study was conducted by looking for sources from various nationally indexed articles and research journals such as Pubmed, Science direct, ProQuest, EBSCO, Taylor & Francis, Google Scholar, the maximum limit for the publication of research articles in the last 5 years of the 2019-2023 period. The research articles obtained were 7 articles, analyzed and synthesized in a table format containing titles, authors, years, methodology, and results. The formation of adolescents who have an identity and are independent involves togetherness from both adolescents and parents. Each different parenting style has a different role in shaping the development of a teenager. Keywords: Development, parenting, adolescents
Penerapan Latihan Asertif Untuk Mengatasi Masalah Utama Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Di Wisma Abiyasa Soerojo Hospital Magelang Rusminah, Rusminah; Murti, Fajar Wisnu; Siswanto, Siswanto
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.181

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling sering dijumpai, suatu sindrom yang ditandai dengan adanya perubahan kognitif, persepsi, emosi dan aspek lain seperti perilaku. Perubahan perilaku yang dapat membahyakan baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan disebut dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan dapat dikontrol dengan penatalaksanaan farmakologi dan non-faramakologi. Salah satu penatalaksanaan non-farmakologi dengan memberikan latihan asertif. Tujuan: mengetahui penurunan tanda dan gejala perilaku kekerasan pada Tn. H dan Tn. M sebelum dan sesudah latihan asertif dan dilakukan penerapan latihan asertif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan strategi studi kasus, menggunakan 2 responden yaitu pasien yang mengalami perilaku kekerasan di Wisma Abiyasa Soerojo Hospital Magelang. Tindakan dilakukan selama 4 hari dengan pemberian penerapan latihan asertif selama 30 menit, mengukur tanda dan gejala perilaku kekerasan pada pre test dan post test dan wawancara. Hasil: Latihan asertif dapat menurunkan tanda dan gejala perilaku kekerasan pada Tn. H sebesar 2 dan Tn. M sebesar 1. Simpulan: penerapan latihan asertif efektif untuk menurunkan tanda dan gejala perilaku kekerasan namun hal ini dapat terjadi karena pemberian terapi farmakologi yang teratur. Kata Kunci: Latihan Asertif., Perilaku Kekerasan., Skizofrenia Abstract Background: Schizophrenia is one of the most common mental disorders, a syndrome characterized by changes in cognition, perception, emotions and other aspects such as behavior. Changes in behavior that can harm oneself, others or the environment are called violent behavior. Violent behavior can be controlled with pharmacological and non-pharmacological management. One non-pharmacological treatment involves providing assertive training.Objective: to determine the reduction in signs and symptoms of violent behavior in Mr. H and Mr. M before and after assertive training and applying assertive training. Method: This research is a qualitative descriptive study with a case study strategy, using 2 respondents, namely patients who experienced violent behavior at Wisma Abiyasa Soerojo Hospital Magelang. The action was carried out for 4 days by providing assertive training for 30 minutes, measuring signs and symptoms of violent behavior in the pre-test and post-test and interviews. Results: Assertive training can reduce signs and symptoms of violent behavior in Mr. H is 2 and Mr. M is 1. Conclusion: the application of assertive training is effective in reducing signs and symptoms of violent behavior, but this can occur due to regular pharmacological therapy. Keywords: Assertive Training., Schizophrenia., Violent Behavior.
Penerapan Aromaterapi Lavender untuk Mengatasi Masalah Utama Nyeri Akut pada Pasien Paska Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Wijayanti, Novida Prima; Rianawaty, Ida; Sugiarto, Kurniawan Bagus; Choirunnisa, Rizka
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56186/jkkb.182

Abstract

Background: Open Reduction Internal Fixation (ORIF) is a surgical procedure to manipulate broken bone fragments or fractures so that they return to their original state. The impact after this procedure is that a person can feel acute pain. Acute pain after Open Reduction Internal Fixation (ORIF) can be controlled with pharmacological and non-pharmacological management. One non-pharmacological treatment involves administering lavender aromatherapy. Objective: To understand the description of Mr. D and Mr. S before and after doing lavender aromatherapy and knowing the application of lavender aromatherapy. Method: This research is a qualitative descriptive study with a case study strategy, using 2 respondents, namely patients who experienced pain after Open Reduction Internal Fixation (ORIF). The procedure was carried out for 2 days by administering lavender aromatherapy for 15 minutes which was divided into 2 stages, measuring the pain scale before and after the procedure. Results: Lavender aromatherapy can reduce the pain scale, namely Mr. D before the procedure experienced pain on a scale of 5 and after the procedure his pain decreased to a scale of 3 and Mr. S experienced pain scale 6 before the procedure and after the procedure the pain decreased to scale 3. Conclusion: Lavender aromatherapy is effective in reducing the pain scale which is also supported by the provision of analgesics. Keywords: Acute pain; Lavender aromatherapy; ORIF