cover
Contact Name
Wahyu Wijaya Widiyanto
Contact Email
wahyuwijaya@poltekindonusa.ac.id
Phone
+6285717292915
Journal Mail Official
jhimi@poltekindonusa.ac.id
Editorial Address
Perumahan Griya Bhina Karya A40, Tlogorejo, Bulakan, Sukoharjo Politeknik Indonusa Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal Health Information Management Indonesian
ISSN : -     EISSN : 28296435     DOI : https://doi.org/10.46808/jhimi.v1i1
Core Subject : Health,
The field of Health Information Management in question consists of the scope of nursing, public health, pharmacy, Medical Laboratory Technology, recorders and health information, midwifery, health analysts, nutrition, psychology, and other health sciences.
Articles 93 Documents
FAKTOR RESIKO TERJADI DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Jayanto, Deni Luvi
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 1 (2025): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i1.165

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di berbagai negara, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati, Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi, faktor risiko, dan pola pengelolaan Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati pada tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita DM sejumlah 167orang yang diambil menggunakan teknik totalsampling. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner melalui wawancara, selanjutnya data dianalisis secara univariat menggunakan table distribusi frekuensi. Hasil penelitian adalah penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati ditemukan mayoritas perempuan 122 orang (73,1%), berusia antara 56 sampai 65 tahun sebanyak 68 orang (40,7%), sebanyak 72 orang (43,1%)melakukan aktivitas fisik dengan kategori rendah, sebanyak 66 orang (39,5%)mengalami obesitas, sebanyak 87 orang (52,1%)mengkonsumsi gula secara berlebihan. Sebagian besar responden melakukan aktivitas berisiko meliputi melakukan aktivitas fisik yang rendah dan mengkonsumsi gula secara berlebihan
ANALISIS STRATEGI INTEGRASI RME RAWAT JALAN DENGAN ELEKTRONIK KLAIM BPJS KESEHATAN DI RS AISYIYAH MUNTILAN Arifin, Agus Ahmad; Sukmaningsih, Wahyu Ratri; Perwirani, Resia
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 1 (2025): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i1.168

Abstract

Abstrak — Unit Pelayanan Rawat Jalan di Rumah Sakit Aisyiyah Muntilan telah menggunakan rekam medis elektronik, sehingga pada pelayanan rawat jalan, sudah tidak lagi disiapkan berkas rekam medis kertas. Namun dalam pengajuan klaim BPJS Kesehatan, masih menggunakan berkas manual. Hal ini dikarenakan belum adanya integrasi rekam medis elektronik dengan elektronik klaim BPJS Kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi integrasi rekam medis elektronik rawat jalan dengan elektronik klaim BPJS Kesehatan berdasarkan elemen sistem dan elemen aktor dalam dukungan internal rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian ini, ditemukan kendala pada elemen sistem dalam dukungan integrasi. Rekam medis elektronik rawat jalan sebagai elemen sistem belum sepenuhnya mengakomodir persyaratan pengajuan klaim BPJS Kesehatan yang terdiri dari surat elegilibilitas peserta (SEP) dan formulir bukti pelayanan. Kendala yang ditemukan yaitu dual sistem rekam medis elektronik berupa rekam medis elektronik berbasis desktop dan rekam medis elektronik berbasis web, belum adanya bridging system rekam medis elektronik terhadap INACBG, serta tidak tersedianya kolom diagnosa pada rekam medis elektronik. Sedangkan pada elemen aktor, pimpinan rumah sakit mendukung adanya integrasi rekam medis elektronik dengan elektronik klaim BPJS Kesehatan.
Analisis Kedisiplinan Petugas Rekam Medis Dalam Melaksanakan Standar Operasional Prosedur Penyimpanan di Unit Filing RSAU dr.Siswanto Lanud Adi Soemarmo Karunia Budhi Putri Hapsari; Sri Suparti; Mustainul Habibi
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 1 (2025): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i1.180

Abstract

Setiap individu, baik di dalam maupun di luar organisasi, harus memiliki kedisiplinan. Semua orang wajib mematuhi aturan yang ada dan telah disepakati sebelumnya. Namun, dalam pelaksanaan prosedur filing di RSAU dr. Siswanto Lanud Adi Soemarmo, masih terdapat ketidakdisiplinan dalam mengikuti SOP. Hal ini terjadi karena petugas tidak tersedianya tracer meskipun sudah diatur dalam SOP. Petugas merasa bahwa mencatat di buku distribusi sudah cukup. Tujuan penelitian: untuk menganalisis kedisiplinan petugas dalam melaksanakan standar operasional prosedur, dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan diskriptif. Metode penelitian : ini menggunakan objek SOP penyimpanan filing dan subjek penelitian terdapat 10 petugas, data yang terkumpul diolah dan dianalisis. Hasil penelitian: ditemukan beberapa indikator yang mempengaruhi kedisiplinan petugas yaitu pengetahuan, masa kerja dan sikap pada hasil penelitian pada indikator pengetahuan dengan 3 (30%) responden dengan tingkat pengetahuan paham, 7 (30%) responden dengan tingkat pengetahuan tidak paham dan masuk ke kriteria tidak disiplin. Pada indikator masa kerja didapatkan 6 (66%) responden yang memiliki masa kerja diatas 2 tahun sedangkan 4 (34%) responden belum memiliki masa kerja 2 tahun dan dari indikator sikap didapatkan 9 (90%) responden dengan sikap baik dan menyelesaikan tugasnya dengan tepat waktu serta 1 (10%) responden dengan sikap kurang baik. Kesimpulan: dari penelitian ini belum terbangun kedisiplinan petugas dalam standar operasional prosedur penyimpanan berkas rekam medis karena tidak adanya hukuman jika petugas tidak menjalankan pekerjaannya sesuai dengan standar operasional prosedur penyimpanan.
Analisis Penggunaan Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) Terhadap Efektivitas Pelayanan Di RSUP Surakarta Ratna, Amelia Ratna Vitriani
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 1 (2025): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i1.227

Abstract

Pelayanan kesehatan yang efektif menjadi tuntutan utama dalam sistem pelayanan publik, termasuk di rumah sakit. Inovasi digital seperti Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelayanan bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan APM terhadap efektivitas pelayanan di RSUP Surakarta yang diukur melalui lima indikator, yaitu produktivitas, efisiensi, fleksibilitas, keunggulan, dan kepuasan pasien. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif asosiatif dengan metode survei, menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan penggunaan APM tergolong mudah (70,5%). Analisis regresi menunjukkan bahwa APM berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pelayanan dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,536 dan nilai signifikansi 0,000. Kelima indikator efektivitas juga menunjukkan hasil signifikan dengan nilai F hitung > F tabel dan p-value < 0,05. Indikator kepuasan mencatat pengaruh tertinggi, sedangkan produktivitas memiliki nilai pengaruh paling rendah. Dapat disimpulkan bahwa APM memiliki kontribusi positif dalam meningkatkan efektivitas pelayanan di rumah sakit. Rumah sakit diharapkan dapat terus meningkatkan fasilitas, edukasi penggunaan APM, dan memperluas implementasi teknologi digital lainnya guna menciptakan pelayanan yang lebih cepat, efisien, dan berkualitas.
Pengaruh Length Of Stay (LOS) Dan Kelas Perawatan Terhadap Diskrepansi Tarif Bpjs Di Rsup Surakarta annora
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 1 (2025): April (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i1.228

Abstract

Abstrak — Pembiayaan dalam sektor kesehatan memiliki peran strategis dalam mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia, sistem pembayaran berbasis Indonesia Case-Based Groups (INA-CBGs) diterapkan sebagai mekanisme pembiayaan dalam Program JKN. Namun demikian, penerapannya kerap memunculkan ketidaksesuaian antara tarif yang ditetapkan dengan biaya nyata yang dikeluarkan rumah sakit, terutama pada layanan rawat inap. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lama rawat inap (Length of Stay/LOS) dan kelas perawatan terhadap diskrepansi tarif BPJS di RSUP Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausal dengan menganalisis 1401 dokumen klaim rawat inap pasien BPJS pada triwulan IV tahun 2024 yang dipilih secara purposive. Diskrepansi tarif ditetapkan sebagai variabel dependen, sedangkan LOS dan kelas perawatan menjadi variabel independennya. Hasil analisis statistik melalui uji Wald menunjukkan bahwa LOS memiliki pengaruh signifikan terhadap diskrepansi tarif BPJS (thitung = 78,909 > ttabel = 1,9617; p = 0,000 < 0,05). Sementara itu, kelas perawatan tidak memberikan dampak signifikan (p = 0,673 > 0,05). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa lamanya pasien menjalani perawatan merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap terjadinya selisih tarif, yang berpotensi memengaruhi efisiensi pengelolaan keuangan rumah sakit Kata kunci – Length Of Stay, Kelas Perawatan, diskrepansi tarif, INA-CBGs
Analisis Kelengkapan Formulir Transfer Pasien Guna Pemenuhan Standar AKP 4 STARKES 2022 Putri Lestari, Adriana; Pradiska Budi, Agustyarum; Wijaya Widiyanto, Wahyu
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i2.163

Abstract

Kualitas rekam medis dipengaruhi oleh kelengkapan pengisian. Standar kelengkapan pengisian rekam medis setelah selesai pelayanan adalah 100%. Studi pendahuluan didapatkan persentase ketidaklengkapan formulir transfer pasien antar ruangan 74,19% bulan Januari 2023 dan 90,32% bulan Februari 2023. Ketidaklengkapan formulir transfer pasien akan berdampak pada kualitas pelayanan, keselamatan pasien di rumah sakit, capaian laporan analisis rekam medis, akreditasi rumah sakit khususnya dalam elemen penilaian AKP 4. Penelitian bertujuan menganalisis persentase kelengkapan formulir transfer pasien antar ruangan dari Instalasi Gawat Darurat ke Wisma Intensif guna pemenuhan elemen penilaian standar AKP 4 STARKES 2022 dan menganalisis faktor ketidaklengkapan khususnya faktor manusia. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Langkah awal analisis kuantitatif lembar transfer dengan cek list hasilnya rata-rata persentase. Selanjutnya dilakukan wawancara mendalam responden. Hasil penelitian persentase kelengkapan formulir transfer pasien sebesar 89,67%. Keterlibatan manajemen belum efektif dalam menumbuhkan kedisiplinan PPA. Pengetahuan PPA baik, namun masih ditemukan ketidaksesuaian antara SPM internal dan SPM nasional terkait waktu pengisian rekam medis rawat inap serta belum mengetahui dengan program kerja dari atasan langsung. Perlu komitmen dari manajemen dan PPA dalam memperbaiki mutu kelengkapan rekam medis dan usulan perbaikan SPM. Peningkatkan kedisiplinan melalui full Electronic Medical Records. Pengembangan penelitian selanjutnya analisis kuantitatif dan analisis kualitatif rekam medis.
Hubungan Kelengkapan Anamnesa IGD dengan Ketepatan Kode External cause di RSUD Sunan Kalijaga Demak Faizatu Fithriah
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i2.249

Abstract

Perkembangan transportasi telah memberikan dampak positif terhadap mobilitas dan kualitas hidup, namun hal ini juga menyebabkan peningkatan kejadian kecelakaan lalu lintas. Kesalahan pengkodean eksternal pada rekam medis memegang peranan penting dalam menjamin keakuratan data kesehatan dan kualitas pelayanan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kelengkapan anamnesa di instalasi gawat darurat dengan keakuratan pengkodean penyebab eksternal pada kasus kecelakaan lalu lintas di RSUD Sunan Kalijaga Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain cross sectional . Sebanyak 210 dokumen rekam medis menjadi sampel yang diperoleh melalui teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah dokumen dan observasi, kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Fisher Exact . Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 5,7% formulir anamnesis yang lengkap dan 7,6% pengodean penyebab eksternal yang sesuai. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan riwayat dengan ketepatan pengodean (p= 0,605). Meskipun tidak ditemukan hubungan secara statistik, penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan prosedur standar operasional (SOP) dalam pengodean dan peningkatan kualitas dokumentasi untuk mendukung keakuratan data dan kualitas pelayanan rumah sakit.
PENGARUH MATA KULIAH KODIFIKASI SISTEM REPRODUKSI TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN PENYAKIT SISTEM REPRODUKSI WANITA PADA MAHASISWA MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN POLITEKNIK INDONUSA SURAKARTA Novratilova, Sinta
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i2.252

Abstract

Mata kuliah Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit serta Masalah Kesehatan Terkait (KKPMT) pada sistem reproduksi merupakan bagian inti dalam kurikulum mahasiswa Manajemen Informasi Kesehatan. Mata kuliah ini membahas berbagai penyakit sistem reproduksi serta prosedur pengkodeannya berdasarkan standar ICD-10 untuk penyakit dan ICD-9CM untuk tindakan medis. Tujuan: Sebagai mahasiswa yang mempelajari KKPMT sistem reproduksi, mahasiswa diharapkan mampu memahami, menjelaskan, dan mengedukasi mengenai berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, khususnya yang berkaitan dengan wanita.. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi terdiri dari 216 mahasiswa aktif, dengan sampel sebanyak 69 orang yang dipilih secara acak. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbasis Google Form. Analisis data melibatkan uji asumsi klasik (uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas), yang kemudian dilanjutkan dengan regresi linier sederhana. Hasil: Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,013, yang lebih kecil dari 0,05. Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa dalam mata kuliah KKPMT sistem reproduksi dengan pemahaman mereka terhadap penyakit sistem reproduksi wanita.
Analisis Penerapan RME di Poliklinik Reguler Rawat Jalan RSUD Kota Salatiga Menggunakan Metode HOT-Fit Aryawan Eka Syahputra; Widiyanto, Wahyu Wijaya; Widiyoko, Aries
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i2.255

Abstract

The advancement of information systems requires every health facility to implement Electronic Medical Records (EMR) in accordance with Minister of Health Regulation No. 24 of 2022. Salatiga City Hospital has been using the EMR system since 2023, but obstacles such as system disruptions during peak hours and features that are not relevant to the needs of officers were found.The purpose of this study was to analyze the implementation of EMR in the Regular Outpatient Polyclinic of Salatiga City Hospital based on the Human, Organization, Technology, and Net Benefit (HOT-FIT) approach. This study used a quantitative descriptive method with a purposive sampling technique. With 43 respondents consisting of health workers. Data were collected through questionnaires and in-depth interviews, then analyzed using descriptive statistics. The results showed that the Human aspect had a respondent achievement rate (TCR) of 76.2% in the Good category, but the training aspect was still less than optimal and user satisfaction was not optimal due to technical constraints. The Organization aspect was 74,0% in the Good category, but management support was not optimal. Technology aspect 72.5% in the Good category, indicating a fairly good system even though errors often occur during peak hours, features that are less relevant and the ability of the person in charge is less than optimal. Net Benefit aspect 77.5% in the Good category, but there are still input errors due to human error. The conclusion of this study shows that the implementation of RME is running Well, but improvements are needed in user training and strengthening of technology infrastructure to support the success of the system.
Analisis Geospasial Sebaran Kasus Pneumonia Di Kota Bengkulu Berdasarkan Data Informasi Kesehatan Tahun 2024 A'idah Haniyah Sary; Sinta Novratilova
Journal Health Information Management Indonesian (JHIMI) Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus (Journal Health Information Management Indonesian)
Publisher : Sekretariat Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Indonusa Surakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46808/jhimi.v4i2.265

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan yang masih menjadi penyebab utama kematian balita di dunia, termasuk di Indonesia. Kota Bengkulu tercatat memiliki angka kejadian pneumonia yang fluktuatif, dengan estimasi kasus sebanyak 795 pada tahun 2024. Namun, belum terdapat pemetaan spasial secara sistematis untuk menganalisis persebaran penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran spasial kasus pneumonia di Kota Bengkulu menggunakan data rekam medis yang dikelola berdasarkan prinsip manajemen informasi kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis. Data dikumpulkan dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu berupa data register pasien pneumonia tahun 2024. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak ArcGIS, analisis autokorelasi spasial Moran’s I, serta overlay dengan data kepadatan penduduk dan sebaran fasilitas pelayanan kesehatan. Sampel diambil secara acak sebanyak 266 kasus menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola dan sebaran kasus pneumonia acak dengan nilai indeks morans’ I sebesar -0,113. Wilayah dengan kasus tertinggi berada di kecamatan padat penduduk. Serta sebaran fasyankes sudah tersebar secara merata setiap kecamatan. Dapat disimpulkan bahwa meskipun terjadi konsentrasi kasus pada wilayah tertentu, distribusinya tidak membentuk cluster. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventuf harus dilakukan secara merata di seluruh kecamatan tanpa fokus wilayah tertentu.

Page 9 of 10 | Total Record : 93