cover
Contact Name
Nur Evira Anggrainy
Contact Email
nur.bahrain@iain-manado.ac.id
Phone
+6285398951811
Journal Mail Official
jiva.pi@iain-manado.ac.id
Editorial Address
JL. Dr.S.H. Sarundajang Kawasan Ring Road I, Malendeng, Manado 95128
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health
ISSN : -     EISSN : 27234363     DOI : http://dx.doi.org/10.30984/jiva
JIVA: Journal of behavior and mental health adalah jurnal peer-reviewed yang diterbitkan dua kali dalam setahun oleh Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Program Studi Psikologi Islam. JIVA merupakan kumpulan artikel yang memuat hasil-hasil penelitian maupun buah pikiran yang berdasarkan keilmuan psikologi. Keilmuan psikologi mengkaji tentang perilaku manusia serta hubungan manusia dengan sekitarnya. Oleh karena itu, JIVA hadir sebagai jurnal yang akan meneliti dan mengkaji masalah maupun fenomena yang dihadapi oleh manusia. JIVA menerima tulisan yang mengkaji keilmuan psikologi, dan setiap naskah tulisan yang masuk kepada para editor diminta untuk mengikuti format yang telah ditentukan. Semua naskah yang masuk, telah melalui peer-reviewer sebelum diterbitkan.
Articles 80 Documents
EFEKTIFITAS PERIKSA FAKTA DALAM MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS GEN Z Suryani, Cahya; Wiryadigda, Puradian; Marwa, Mentari
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v4i2.2846

Abstract

ABSTRACTThis research aims to measure the effectiveness of checking facts in improving Gen Z's critical thinking skills. The theory used in the research is digital literacy from Gilster which consists of four aspects, information search, hypertextual content evaluation, and knowledge compilation. The research design uses a pre-experiment, with a one-group pretest post-test design type. Data collection used a purposive sampling technique. The research results showed that there was an increase in pretest and posttest scores after gaining knowledge of fact-checking. Critical thinking as reflective and productive thinking emits the necessary evidence to be skeptical of all information received on the internet.Keywords: Critical Thinking, Fact Checking, Gen Z ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengukur efektifitas periksa fakta dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis Gen Z. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah literasi digital dari Gilster yang terdiri dari empat aspek, pencarian informasi, hypertextual evaluasi konten, dan penyusunan pengetahuan. Desain penelitian menggunakan pre- eksperimen, dengan tipe one group pretest posttest design. Pengambilan data menggunakan metode Teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan nilai pretest dan posttest setelah mendapatkan pengetahuan periksa fakta. Berpikir kritis sebagai berpikir reflektif dan produktif serta mengevaluasi bukti yang ada dibutuhkan agar skeptis terhadap semua informasi yang diterima di internet.Kata Kunci: Berpikir Kritis, Periksa Fakta, Gen Z
PERBEDAAN PENGAMBILAN RISIKO WIRAUSAHA DITINJAU DARI JENIS MOTIVASI BERWIRAUSAHA Mathar, Andi Muthmainnah; Muis, Ismarli; Hamid, Andi Nasrawaty
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i1.3010

Abstract

ABSTRACT Entrepreneurship is an activity that involves risk, so a risk-taking attitude is required for entrepreneurs to develop a business. Previous studies have confirmed that entrepreneurs' risk-taking is affected by individuals' motivation to start businesses. However, most studies focused on two types of motivation - necessity-based or opportunity-based or pulled and pushed - even though individual entrepreneurial motivations vary. This research aims to fill the gap by examining the risk-taking in 100 entrepreneurs regarding six types of motivation (Reluctant entrepreneurs, convenience entrepreneurs, economically driven entrepreneurs, social entrepreneurs, learning and earning entrepreneurs, and prestige and control entrepreneurs). Participants are 100 entrepreneurs in South Sulawesi who are founders, run their businesses every day, and are willing to participate in the research. The effects of examination suggest a distinction in the risk-taking of entrepreneurs based on their motivation. Prestige and control entrepreneurs are the highest risk-takers, while social entrepreneurs are the lowest. Research also suggests that the effect of education on risk-taking is significantly different. However, the difference in risk-taking among male and female entrepreneurs is insignificant. Our research has potential practical benefits to assist policymakers or business advisors in mapping risks according to business development potential based on an entrepreneur's entrepreneurial motivation categories, help women to increase their confidence in taking risks for their businesses, and encourage entrepreneurs to continue to learn and improve their abilities in both formal and informal environments.Keywords: entrepreneur, entrepreneurial motivation, entrepreneurial risk-taking ABSTRAKKewirausahaan merupakan suatu kegiatan yang memiliki risiko, sehingga diperlukan sikap berani mengambil risiko bagi wirausaha dalam mengembangkan usahanya. Penelitian sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa pengambilan risiko wirausaha dipengaruhi oleh motivasi individu untuk memulai bisnis. Namun, sebagian besar penelitian berfokus pada dua jenis motivasi – berdasarkan kebutuhan (necessity-based) atau berdasarkan peluang (opportunity-based) atau pulled and pushed – meskipun motivasi berwirausaha individu berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji pengambilan risiko pada 100 wirausaha mengenai enam jenis motivasi, yaitu reluctant entrepreneurs, convenience entrepreneurs, economically driven entrepreneurs, social entrepreneurs, learning and earning entrepreneurs, dan prestige and control entrepreneurs. Responden penelitian adalah 100 wirausaha di Sulawesi Selatan yang merupakan pendiri, menjalankan usahanya setiap hari dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Dampak dari pemeriksaan ini menunjukkan adanya perbedaan dalam pengambilan risiko yang dilakukan wirausaha berdasarkan motivasi mereka. Prestige and control entrepreneurs merupakan pengambil risiko tertinggi, sedangkan social entrepreneurs merupakan pengambil risiko paling rendah. Penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan terhadap pengambilan risiko berbeda secara signifikan. Namun, perbedaan pengambilan risiko antara wirausaha laki-laki dan perempuan tidak signifikan. Penelitian ini mempunyai potensi manfaat praktis untuk membantu pengambil kebijakan atau penasihat bisnis dalam memetakan risiko sesuai potensi pengembangan usaha berdasarkan kategori motivasi wirausaha seorang wirausaha, membantu perempuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil risiko bagi usahanya, dan mendorong wirausaha untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuannya baik di lingkungan formal maupun informal.Kata Kunci: motivasi berwirausaha, pengambilan risiko, wirausaha
PENGARUH BIG FIVE PERSONALITY TRAITS TERHADAP MARITAL SATISFACTION PADA PASANGAN TA’ARUF Hapsari, Rifani Nadya; Faradiba, Andi Tenri
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i1.3188

Abstract

ABSTRACTRecently, ta'aruf is one of the practices for Indonesian Moslems to find a life partner. Choosing the right life partner is necessary because personality characteristics are a determining factor in marital satisfaction. This study aims to determine how much the influence of big five personality traits on marital satisfaction in ta'aruf couples. This research approach is a quantitative approach with a cross-sectional research design. Respondents in this study were married couples, aged 20-59 years, who have been married for at least one year and underwent ta'aruf for a maximum of three months, which were obtained using an accidental sampling technique. The instruments used in this study are the Skala Kepuasan Pernikahan Pasangan Urban with 38 items (reliability = 0.77) and NEO-FFI-3 with 61 items (reliability = 0.95 – 0.97) which analyzed by simple linear regression technique. The results showed that there was an effect of extraversion (35.4%), openness to experience (31%), conscientiousness (19.4%), and agreeableness (13.7%) on marital satisfaction (p<0.05). However, neuroticism (2.5%) was found to have no effect (p>0.05) on marital satisfaction. The results of the ANOVA test show that there is a difference in average marital satisfaction at the level of income per month owned by the respondents. The results of this study focus on the importance of cultivating personality characteristics that can increase marital satisfaction in ta'aruf couples, both before marriage and after marriageKeywords: adulthood, arranged marriages, marital satisfaction, big five personality traits, marital relationship, ta’aruf,  ABSTRAKSaat ini, ta’aruf menjadi salah satu cara yang dilakukan individu beragama Islam di Indonesia untuk mencari pasangan hidup. Memilih pasangan hidup menjadi penting karena karakteristik kepribadian menjadi faktor penentu dalam marital satisfaction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara big five personality traits terhadap marital satisfaction pada pasangan ta’aruf. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Responden penelitian ini adalah pasutri yang menikah dari proses ta’aruf, berusia 20-59 tahun, sudah menikah minimal satu tahun dan menjalani ta’aruf maksimal tiga bulan, yang diperoleh menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, Skala Kepuasan Pernikahan Pasangan Urban dengan 38 item (reliabilitas = 0.77) dan NEO-FFI-3 dengan 61 item (reliabilitas = 0.95 – 0.97) yang dianalisa dengan teknik regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh extraversion (35.4%), openness to experience (31%), conscientiousness (19.4%), dan agreeableness (13.7%) terhadap marital satisfaction (p<0.05). Namun, neuroticism (2.5%) ditemukan tidak memiliki pengaruh (p>0.05) terhadap marital satisfaction. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa ada perbedaan rata – rata marital satisfaction pada tingkat penghasilan per bulan yang dimiliki responden. Hasil penelitian ini berfokus pada pentingnya untuk menumbuhkan karakteristik kepribadian yang dapat meningkatkan marital satisfaction pada pasangan ta’aruf, baik sebelum menikah maupun setelah menikah.Kata Kunci: arranged marriages, kepribadian big five, kepuasan pernikahan, ta’aruf, usia dewasa.
BERKEBUN DAN SUBJECTIVE WELL-BEING WARGA NEGARA INDONESIA Paramita, Anindya Dewi; Faradiba, Andi Tenri
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v4i2.2847

Abstract

ABSTRACTThe “stay-at-home” policy to prevent the spread of  COVID-19 outbreak make individuals involved in several that can be done at home, one of them is gardening. The reason is simple, to prevent boredom. Gardening was found to reduce stress and depression and boost positive emotion. This study aims to explore the relationship between gardening activities and subjective well-being in people who work their garden out. Gardening activities were examined by several questions about their gardening activities carried out, meanwhile the level of subjective well-being was measured by two questions developed by ONS (Waldron, Tinkler & Hicks, 2010). There were as many as 868 participants involved voluntarily whose data were collected online. The result showed that the amount of time spent in the garden and the time spent doing the garden (gardening) is significantly positively related to evaluative and eudemonic components of well-being. The more time spent exposing themselves to greenery, individuals tend  to feel more satisfied with their lives and feel their lives is meaningful.Keywords: gardening, subjective well-being, covid-19 ABSTRAKKebijakan berdiam diri di rumah untuk mencegah merebaknya wabah corona membuat individu terlibat dalam beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di rumah, salah satunya adalah berkebun. Alasannya sederhana, yaitu mencegah rasa bosan. Akan tetapi, aktivitas berkebun ditemukan dapat menurunkan stress dan depresi dan meningkatkan emosi positif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara aktivitas berkebun dengan subjective well-being. Aktivitas berkebun diukur dengan memberikan pertanyaan terbuka tentang kegiatan berkebun yang dilakukan sedangkan dua pertanyaan yang dikembangkan oleh ONS (Waldron, Tinkler, dan Hicks, 2010) digunakan untuk mengetahui tingkat subjective well-being. Ada sebanyak 868 partisipan yang terlibat secara sukarela dalam penelitian yang pengumpulan datanya menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring. Hasilnya menunjukkan bahwa banyaknya waktu yang dihabiskan di kebun dan juga untuk berkebun berhubungan positif signifikan dengan komponen evaluative maupun eudemonic well being. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memaparkan diri dengan area hijau, individu cenderung merasa puas dengan hidupnya dan merasa hidupnya bermanfaat.Kata Kunci: Aktivitas berkebun, subjective well-being, Covid-19
ANALISIS PERKEMBANGAN BAHASA ANAK SINDROM DOWN Ashari, Novita; Azis, Andi Sri Ramadana; Nadia, Nadia
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i1.3153

Abstract

ABSTRACTDown syndrome children have problems in language development because they have communication difficulties. The purpose of this study is to analyze language development in children with Down syndrome. The method used by researchers in qualitative research with a case study approach. Data collection techniques used are interview techniques, documentation, and observation. This research was conducted in class 2 SLB Negeri 1 Parepare City. The subjects in this study had the initials AN and SY. AN is 13 years old while SY is 9 years old. The results showed that AN had not been able to learn about the contextual meaning of punctuation marks, had not been able to use polite language and had not been able to compare language styles. While SY is not yet able to speak, is not brave enough to appear in public with effective grammar skills, is not interested in visual media and is not yet able to have adult-like speech patterns.Keyword:  Language Development, Down Syndrome ABSTRAKAnak sindrom down mempunyai permasalahan dalam perkembangan bahasa karena memiliki kesulitan pada komunikasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis perkembangan bahasa pada anak sindrom down. Metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Teknik wawancara, dokumentasi, dan observasi. Penelitian ini dilakukan di kelas 2 SLB Negeri 1 Parepare. Subjek dalam penelitian ini berinisial AN dan SY. AN 13 tahun sementara SY berusia 9 tahun. Hasil penelitian menujukkan bahwa AN belum mampu belajar mengenai makna konteks tanda baca, belum mampu menggunakan bahasa yang sopan dan belum mampu membandingkan gaya bahasa. Sementara SY belum mampu dalam berbicara, belum cukup berani tampil di depan umum dengan mampu memiliki pola bicara yang seperti orang dewasa.Kata kunci: Perkembangan Bahasa, Sindrom Down
HUBUNGAN KECEMASAN SOSIAL DENGAN PENGUNGKAPAN DIRI DIMODERATORI DUKUNGAN SOSIAL ONLINE PADA INDIVIDU PENGGUNA MEDIA SOSIAL Dinar, Lativa; Fakhri, Nur Fitriany; Ridfah, Ahmad
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v4i2.2843

Abstract

ABSTRACTIndividuals experience various events when disclosing themselves in the real world which trigger social anxiety so that social support is needed so that individuals can disclose themselves both in the world and on social media. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between social anxiety and self-disclosure moderated by online social support for individuals who use social media. The subjects in this study were 310 individual social media users in South Sulawesi obtained using the accidental sampling technique. Self-disclosure was measured using the Revised Self Disclosure Scale, social anxiety was measured using the Social Anxiety Scale for Adolescents and online social support was measured using Online Social Support. The data analysis used in this study is the process test from Hayes. The results showed that there was a significant relationship between social anxiety and self-disclosure moderated by online social support for individual social media users. Online social support strengthens the relationship between social anxiety and self-disclosure in individual social media users.Keywords: online social support, self disclosure, social anxiety, social mediaABSTRAKIndividu mengalami berbagai peristiwa saat melakukan pengungkapan diri di dunia nyata yang memicu kecemasan sosial sehingga dibutuhkan dukungan sosial agar individu dapat melakukan pengungkapan diri baik di dunia maupun di media sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kecemasan sosial dengan pengungkapan diri dimoderatori dukungan sosial online pada individu pengguna media sosial. Subjek dalam penelitian ini adalah 310 individu pengguna media sosial di Sulawesi Selatan didapatkan menggunakan teknik accidental sampling. Pengungkapan diri diukur menggunakan Revised Self Disclosure Scale, kecemasan sosial diukur menggunakan Social Anxiety Scale for Adolescents dan dukungan sosial online diukur menggunakan Online Social Support. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji process dari Hayes. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kecemasan sosial terhadap pengungkapan diri dimoderatori dukungan sosial online pada individu pengguna media sosial. Dukungan sosial online menguatkan hubungan antara kecemasan sosial terhadap pengungkapan diri pada individu pengguna media sosial.Kata Kunci: Dukungan sosial online, kecemasan sosial, media sosial, pengungkapan diri
KETANGGUHAN GURU KELAS INKLUSI: HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DAN SELF-EFFICACY PADA GURU SEKOLAH DASAR DI MAKASSAR Haeba, Nurhaerani; Rasmuddin, Rasmuddin; Usman, Usman; Firdaus, Firdaus
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i2.3382

Abstract

ABSTRAKRegulasi pendidikan inklusi di Indonesia bertujuan untuk memberikan akses setara bagi semua anak dalam memperoleh pendidikan. meskipun manfaat pendidikan inklusif diakui efektif, namun implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesiapan dan kompetensi guru. Dalam konteks ini, self-compassion dan self-efficacy dapat menjadi faktor penting dalam penguatan dan pemberdayaan guru di kelas inklusi, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan self-efficacy guru kelas inklusi pada beberapa Sekolah Dasar yang tersebar di kota Makassar. Penelitian ini melibatkan 59 guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus, terdiri dari 18 guru laki-laki (30,51%) dan 41 guru perempuan (69,49%) dengan lama pengalaman partisipan mengajar di kelas inklusi berkisar antara 2 hingga 18 tahun. Penelitian ini meggunakan uji korelasi dengan teknik analisis Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,467 (p<0.05), yang mengindikasikan adanya hubungan positif antara self-compassion dan self-efficacy dimana semakin tinggi self-compassion maka semakin tinggi pula self-efficacy guru. Penelitian memperlihatkan ketangguhan guru dalam menghadapi tantangan di lingkungan pendidikan, terutama dalam dukungannya terhadap siswa berkebutuhan khusus.
PENGARUH DEPRIVASI RELATIF MASYARAKAT TERHADAP INTENSI DISKRIMINASI PADA PEDAGANG ETNIS TIONGHOA DI KOTA MAKASSAR Piara, Muhrajan; Nurdin, Muhammad Nur Hidayat
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i2.3383

Abstract

ABSTRAKKehidupan sosial masyarakat tidak terlepas dari proses psikologis seperti perbandingan sosial, prasangka dan sterotip terhadap kelompok tertentu, hingga perilaku diskriminasi. Berbagai faktor memungkinkan individu untuk melakukan diskriminasi terhadap kelompok yang dianggap berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh deprivasi relatif terhadap intensi untuk melakukan diskriminasi terhadap pedangan etnis Tionghoa di kota Makassar. Partisipan penelitian ini berjumlah 88 orang yang terdiri dari 27 laki-laki dan 61 perempuan. Hasil dari penyebaran self-report menunjukkan bahwa deprivasi relatif individu tidak berpengaruh terhadap intensi untuk melakukan diskriminasi. Deprivasi relatif salah satunya dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi individu di lingkungannya, sedangkan tindakan diskriminasi, khususnya terkait ras sangat kuat dipengaruhi oleh fenomena atau kejadian traumatis.
PERILAKU SEKSUAL ANAK SEKOLAH DASAR YANG TERPAPAR PORNOGRAFI Ningrum, Puspita Sari Setya; Taufani, Taufani
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i2.3380

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran An pada anak sekolah dasar yang terpapar pornografi serta mengetahui perbedaan perilaku seksual anak sekolah dasar sebelum dan setelah terpapar pornografi. Metode pengambilan  data penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yang ditemukan dari  paparan pornografi pada anak-anak sekolah dasar dapat mempercepat munculnya perilaku seksual meskipun mereka belum memiliki pemahaman yang matang tentang seksualitas. Anak-anak yang terpapar sering meniru perilaku seperti berciuman atau masturbasi tanpa memahami secara benar hubungan seksual, yang mengarah pada pemahaman yang keliru tentang seksualitas serta adanya perbedaan yang mencolok antara perilaku anak sebelum dan setelah terpapar pornografi.
KESEPIAN PADA LANJUT USIA DI PANTI WERDHA Anastasia, Dwi; Baba, Mastang Ambo
JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v5i2.3381

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesepian yang dialami lanjut usia di Panti Werdha Kota Manado. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Teknik pengambilan subjek atau sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik purposive sampling. Metode pengambilan data diperoleh dengan melakukan wawancara dan observasi serta dokumentasi. Informan utama penelitian adalah 3 orang lansia dengan kriteria penelitian adalah lansia berusia 60 atau 65 tahun ke atas atau sampai 90 tahun, jauh dari keluarga, kehilangan pasangan cerai atau mati, dan terisolasi dari hubungan pertemanannya sedangkan informan pendukung penelitian adalah pengasuh dan staf Panti. Berdasarkan hasil penelitian lansia mengalami kesepian yang terlihat dari 3 aspek kesepian oleh Russel yaitu trait loneliness, social desirability loneliness dan depression loneliness. Gambaran kesepian pada Lanjut Usia di Panti Werdha karena kurangnya kepercayaan dan perilaku menghindar berpengaruh pada kualitas hubungan yang dijalani setelah berada di lingkungan barunya serta dihinggapi perasaan sedih, murung merupakan respon yang terjadi pada lansia yang mengalami kesepian. Kehilangan pasangan hidup atau berpisah dan jauh dari keluarga berpengaruh pada bagaimana lansia menjalani kehidupan barunya tanpa keintman dan kelekatan dengan figur terdekat mereka.