cover
Contact Name
Ali Rahmat
Contact Email
ali.rahmat@limnologi.go.id
Phone
+6282278231661
Journal Mail Official
opescitech@gmail.com
Editorial Address
Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Open Science and Technology
ISSN : 2776169X     EISSN : 27761681     DOI : http://dx.doi.org/10.33292/ost
Open Science and Technology diterbitkan oleh Research and Social Study Institute sebagai sarana untuk mempublikasikan hasil penelitian, artikel review dari peneliti-peneliti dibidang Ilmu alam, Ilmu pertanian, ilmu Kehutanan, Ilmu Keteknikan, Teknologi, dan Aplikasinya. Jurnal ini terbit dua kali setahun (April dan Oktober). Jurnal ini diterbitkan secara online dan cetak. Open Science and Teknologi memilki filosofi bahwa jurnal ini terbuka untuk siapa saja baik mahasiswa, dosen, peneneliti, konsultan, praktisi di bidang ilmu sains dan teknologi secara umum untuk menerbitkan hasil studi atau penenlitiannya di jurnal ini. Jurnal ini diharapkan pula dapat menjadi jurnal yang fast respone, fast review dan fast publication. Dan kedepan dapat terakreditasi secara nasional dan terindek secara global. Open Science and Technology telah ber P-ISSN 2776-169X dan E-ISSN 2776-1681
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 69 Documents
Study on agronomical characteristics of several introduced cucumber (Cucumis sativus L.) genotypes Sumiahadi, Ade; Adiwijaya, Adiwijaya
Open Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2023): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v3i2.104

Abstract

Cucumber is one of the fruit vegetables favored by the Indonesian people. Its development prospect of commercial cultivation and agribusiness management has been very promising, because the marketing opportunities are not only available domestically, but also abroad. Plant introduction is a process of introducing plants from their place of origin into a new region. This study aims to examine the agronomic characteristics of several introduced cucumber genotypes, and was conducted from October to December 2022 at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Jakarta Muhammadiyah University. Randomized Complete Group Design (RCGD) was used with five cucumber genotypes: three introduced genotypes (MIT001, MIT002, and MIT003) and two comparator domestic varieties (Ronaldo and Mercury). The results show that the introduced genotypes produced similar vegetative growth characters to those of their comparator varieties. However, several yield components produced are lower than those of their comparator varieties, as seen from several significantly different parameters. MIT001 and MIT003 produced shorter fruit length than that of their comparator variety (Ronaldo), while MIT002 produced lower plant dry weight and fruit weight per plant than those of its comparator variety (Mercury). MIT003 was able to produce the yield components closest to those of its comparator variety. Mentimun merupakan salah satu sayuran buah yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Prospek pengembangan budidaya mentimun secara komersial dan pengelolaannya dalam skala agribisnis semakin cerah, karena peluang pemasaran tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Introduksi tanaman merupakan suatu proses memperkenalkan tanaman dari tempat asal tumbuhnya ke suatu daerah (negara) baru. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik agronomis beberapa genotipe mentimun hasil introduksi. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Desember 2022 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan lima taraf genotipe mentimun, yaitu tiga genotipe introduksi (MIT001, MIT002, dan MIT003) dan dua varietas nasional sebagai pembanding (Ronaldo dan Merkuri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap genotipe introduksi yang diujikan secara umum memiliki karakter pertumbuhan vegetatif yang sama dengan varietas pembandingnya, namun memiliki beberapa karakter komponen produksi yang lebih rendah dari varietas nasional pembandingnya. Genotipe introduksi MIT001 dan MIT003 memiliki panjang buah yang lebih pendek dari varietas nasional pembandingnya (Ronaldo), sedangkan MIT002 menghasilkan bobot kering tanaman dan bobot buah per tanaman yang lebih rendah dari varietas nasional pembandingnya (Merkuri). Genotipe MIT003 adalah genotipe introduksi yang mampu menghasilkan produksi yang paling mendekati varietas pembandingnya.
Effect of application frequency of oil palm fronds (Elaeis guineensis Jacq.) local microorganisms on the growth of Eucalyptus grandis CGP 105 seedlings Azmi, Yudia; Batu, Melfa Sulvia Lumban; Arrozi, Nursyam
Open Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2023): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v3i2.105

Abstract

This study aims to determine the effect of application frequency of oil palm fronds’ local microorganisms (LMO) on the growth of Eucalyptus grandis CGP 105 seedlings, and to determine the application frequency that produce the best growth on Eucalyptus grandis CGP 105 plants. This study applied Randomized Block Design consisting of 5 treatments and 4 replications, namely P0: without LMO (control), P1: 1 time of application (7 days after planting/DAP), P2: 2 times of application (7 and 14 DAP), P3: 3 times of application (7, 14, and 21 DAP), and P4: 4 times of application (7, 14 , 21, and 28 DAP). The parameters observed were plant height (cm), leaf length (cm), leaf width (cm), number of leaves (strands), and stem diameter (mm). Based on ANOVA results at the 5% level, the application of oil palm fronds’ LMO on Eucalyptus grandis CGP 105 seedlings had a significant effect on all measured parameters. The best application frequency of oil palm fronds’ LMO is P4 treatment, which resulted in the average of plant height of 25.83 cm, leaf length of 7.47 cm, leaf width of 3.54 cm, number of leaves of 13.25 strands, and stem diameter of 2.45 mm. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh frekuensi pemberian mikroorganisme local (MOL) pelepah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pertumbuhan bibit Eucalyptus grandis CGP 105, serta mengetahui frekuensi pemberian MOL yang menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tanaman Eucalyptus grandis CGP 105. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P0: tanpa MOL (kontrol), P1: 1 kali pemberian (7 hari setelah tanam/HST), P2: 2 kali pemberian (7 dan 14 HST), P3: 3 kali pemberian (7, 14, dan 21 HST), dan P4: 4 kali pemberian (7, 14, 21, dan 28 HST). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), panjang daun (cm), lebar daun (cm), jumlah daun (helai), dan diameter batang (mm). Hasil uji ANOVA pada taraf 5% menunjukkan bahwa pemberian MOL pelepah kelapa sawit pada bibit Eucalyptus grandis CGP 105 berpengaruh terhadap semua parameter yang diamati. Frekuensi pemberian MOL pelepah kelapa sawit terbaik adalah perlakuan P4, yang menghasilkan rerata tinggi tanaman 25,83 cm, panjang daun 7,47 cm, lebar daun 3,54 cm, jumlah daun 13,25 helai, dan diameter batang 2,45 mm.
Hypothermia first aid application using android based monitoring system Budihartono, Eko; Nurohim, Nurohim; Nugroho, Irfan; Prananda, Andrean
Open Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2023): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v3i2.106

Abstract

This study was motivated by the urgency to address hypothermia, a serious condition that can be fatal due to a drastic decrease in body temperature, especially in the context of mountain climbing with limited access to medical equipment that is not easily portable. This study aims to create an Android-based hypothermia first aid application for the management and prevention of hypothermia during outdoor activities. The device utilizes NodeMCU, Esp8266, pulse sensor, and DSI8B20 sensor to measure body temperature, heart rate, and oxygen levels, while employing a heating blanket as the main output. The Waterfall method was used, comprised analysis, designing, implementation, testing, and maintenance. The device was tested on mountain climbers and was declared capable of detecting hypothermia in real-time, providing first aid by activating blanket warming. Additionally, the use of a microcontroller-based hypothermia monitoring system application was implemented with main menu options such as Home, Monitoring, and Data, thus facilitating users to monitor body conditions and take appropriate first aid actions. These findings indicate that this application can advance medical technology, reduce the mortality rate due to hypothermia, and significantly contribute to the effectiveness of medical reporting and response systems. The analysis on 50 mountain climbers as participants regarding the use of Android-based hypothermia first aid application resulted in a conformity level of 96%. Studi ini dilatarbelakangi oleh urgensi menangani hipotermia, kondisi serius yang dapat bersifat fatal akibat penurunan suhu tubuh secara drastis, terutama dalam konteks pendakian gunung dengan keterbatasan peralatan medis yang tidak mudah dibawa. Studi ini bertujuan membuat aplikasi pertolongan pertama hipotermia berbasis Android untuk menangani dan mencegah hipotermia saat beraktivitas di luar ruangan. Alat ini menggunakan NodeMCU, Esp8266, sensor detak jantung, dan sensor DSI8B20 untuk mengukur suhu tubuh, detak jantung, dan kandungan oksigen, dengan memanfaatkan selimut pemanas sebagai output utama. Metode yang digunakan adalah metode waterfall, mencakup analisis, desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Alat telah diuji coba kepada pendaki gunung dan mampu mendeteksi hipotermia secara real-time, yakni memberikan pertolongan pertama dengan mengaktifkan blanket warming. Selain itu, penggunaan aplikasi sistem monitoring hipotermia berbasis mikrokontroler juga telah dilakukan dengan menu utama Home, Monitoring, dan Data, yang memudahkan pengguna untuk memantau kondisi tubuh dan mengambil tindakan pertolongan pertama yang tepat. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi ini dapat meningkatkan teknologi medis, mengurangi tingkat kematian akibat hipotermia, serta memberikan kontribusi signifikan dalam efektivitas sistem pelaporan dan penanganan medis. Analisis terhadap 50 pendaki gunung sebagai partisipan dalam penggunaan aplikasi pertolongan pertama hipotermia berbasis Android menghasilkan tingkat kesesuaian sebesar 96%.
Isolation and identification of arbuscular mycorrhizal fungi (amf) microscopically in the rhizosphere of peanut plants Swandi, Fradilla; Sulyanti, Eri; Darnetty, Darnetty
Open Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2023): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v3i2.108

Abstract

Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan jamur yang bersimbiosis dengan perakaran tumbuhan tingkat tinggi. FMA dapat berperan sebagai agen biokontrol dan biofertilizer. Studi ini bertujuan mengetahui jenis-jenis FMA pada rhizosfer tanaman kacang tanah di Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar dan sebagai tahapan awal dalam pemanfaatan FMA sebagai agen biokontrol dan biofertilizer. Sebanyak lima sampel tanah diambil menggunakan teknik purposive random sampling. Sampel tanah yang diperoleh disaring menggunakan teknik penyaringan basah. Identifikasi spora FMA dilakukan hingga tingkat genus berdasarkan karakteristik morfologi, yakni bentuk, warna, serta ornamentasi spora. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah spora FMA tertinggi pada rhizosfer tanaman kacang di Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar adalah dari genus Glomus (3 tipe), yakni Glomus sp-1 sebanyak 15 spora, Glomus sp-2 sebanyak 12 spora, dan Glomus sp-3 sebanyak 74 spora (total 101 spora). Jumlah tertinggi kedua adalah dari genus Acaulospora (1 tipe) sebanyak 27 spora, sementara jumlah spora FMA terendah adalah dari genus Gigaspora (1 tipe) sebanyak 9 spora per 100 gr sampel tanah. Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) are fungi that have a symbiotic relationship with the roots of higher plants. AMF can act both as biocontrol agent and biofertilizer. This study aims to determine the types of AMF in the rhizosphere of peanut plants in Nagari Sawah Tangah, Pariangan Subdistrict, Tanah Datar Regency, as an initial stage in the application of AMF as a biocontrol agent and biofertilizer. Five soil samples were taken using a purposive random sampling technique. The soil samples obtained were then filtered using a wet filtration technique. Identification of AMF spores was carried out at the genus level based on their morphological characteristics, namely shape, color, and spore ornamentation. The results reveal that the highest number of AMF spores in the rhizosphere of peanut plants in Nagari Sawah Tangah, Pariangan Subdistrict, Tanah Datar Regency is from the genus Glomus (3 types), namely Glomus sp-1 with 15 spores, Glomus sp-2 with 12 spores, and Glomus sp-3 with 74 spores (a total of 101 spores). The second highest number is from the genus Acaulospora (1 type) with 27 spores, and the lowest number of AMF spores is from the genus Gigaspora (1 type) with 9 spores per 100 gr of soil sample.
Added value analysis of citronella oil processing using the hayami method Yulianto, Kiki; Anugrah, Teguh Mizwarni; Santosa, Santosa
Open Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i1.109

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan minyak serai wangi menggunakan Metode Hayami. Minyak serai wangi merupakan komoditas penting dalam industri parfum dan kosmetik dengan nilai komersial yang signifikan. Metode Hayami digunakan sebagai alat evaluasi untuk mengukur efisiensi dan dampak ekonomi dari proses pengolahan minyak serai wangi. Melalui survei lapangan, pengumpulan data, dan analisis statistik, penelitian ini mengidentifikasi berbagai tahap dalam proses pengolahan minyak serai wangi dan mengukur nilai tambah yang dihasilkan pada setiap tahap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan minyak serai wangi adalah Rp1.000/kg. Marjin yang diperoleh didistribusikan untuk masing-masing faktor, yaitu keuntungan sebesar 88%, tenaga kerja sebesar 12%, dan sumbangan input lain sebesar 0%. Temuan ini memberikan wawasan tentang manfaat ekonomi dari pengolahan minyak serai wangi dan memberikan informasi bagi perencanaan pengembangan industri berbasis serai wangi serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, menciptakan peluang ekonomi baru, serta mendukung pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan. This study aims to analyze the value-added generated from citronella oil processing using the Hayami Method. Citronella oil is an important commodity in the perfume and cosmetics industry with significant commercial value. The Hayami Method was used as an evaluation tool to measure the efficiency and economic impact of citronella oil processing. Through field survey, data collection, and statistical analysis, this study identified the various stages in the citronella oil processing stages and measured the value-added generated at each stage. The value-added resulted from citronella oil processing was IDR1,000/kg. The margins obtained were distributed to each factor, namely business profit at 88%, labor wages at 12%, and contribution of other inputs at 0%. The findings of this study provide insight into the economic benefits of citronella oil processing and inform development planning for citronella-based industries as well as efforts to improve the welfare of local communities, create new economic opportunities, and support the sustainable growth of this sector.
Seed germination and adaptation of several national and introduced varieties of spinach plants (Spinacia oleracea L.) in tropical lowlands Ade Sumiahadi; Dirgahani Putri; Tanjung, Dian Diani; Refa Firgiyanto; Abi Mayu Wisesa; Muhammad Rafi Wahyu Putra
Open Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i1.111

Abstract

Studi ini bertujuan mempelajari perkecambahan dan adaptasi beberapa varietas nasional dan introduksi tanaman horenso yang ditanam di dataran rendah tropis. Penelitian dilaksanakan pada September–November 2023 di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penelitian terdiri atas dua percobaan: percobaan pertama adalah uji perkecambahan dan daya adaptasi empat varietas tanaman pada tray semai menggunakan media tanam organik. Percobaan ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan perlakuan varietas yang terdiri atas empat varietas horenso, masing-masing terdiri dari enam ulangan. Percobaan kedua adalah uji perkecambahan pada dua media perkecambahan yang berbeda, yaitu tanah organik dan tisu basah. Kedua percobaan menggunakan empat varietas yang sama, yakni dua varietas nasional (Kiara F1 dan Okezo 009) dan dua varietas introduksi (Mozart F1 dan Autumn Big-Leaf). Parameter yang diamati adalah persentase perkecambahan biji dan waktu kematian bibit setelah berkecambah. Pengamatan dilakukan pada 0–21 hari setelah semai. Hasil studi ini menunjukkan bahwa semua genotipe tanaman horenso yang digunakan tidak mampu beradaptasi dengan iklim tropis dataran rendah. Semua varietas tanaman memiliki persentase perkecambahan yang rendah, berkisar 0–38%, dan semua benih yang berkecambah mengalami kematian di usia 0–14 hari setelah semai. The study aims to examine the germination and adaptation of several national and introduced varieties of spinach plant in tropical lowlands. This study was carried out on September to November 2023 at the experimental field of Faculty of Agriculture, Jakarta Muhammadiyah University. This study consisted of two experiments: the first experiment was a test of germination and adaptability of four spinach varieties on seedling trays using organic growing media. The experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with the treatments of spinach verieties consisted of four varieties, each with six replications. The second experiment was a germination test in two different germination media, namely organic soil and moistened tissue. Both experiments used the same four varieties, namely two national varieties (Kiara F1 and Okezo 009) and two introduced varieties (Mozart F1 and Autumn Big-Leaf). The parameters observed were seeds germination percentage and seedlings death time after germination. The observation was carried out at 0 to 21 days after sowing. The results show that all spinach plant genotypes used could not adapt to the climate conditions of tropical lowlands. All four varieties produced low germination percentages, ranging from 0–38%, and all seeds that germinated died within 0–14 days after sowing.
Opportunities and challenges for orchid plant cultivation and development in Indonesia Ardiyanti, Kurnia Dwi; Nuraini, Latifa
Open Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i1.112

Abstract

Keanekaragaman hayati di Indonesia, terutama anggrek sebagai tanaman hias, memiliki sebaran luas. Indonesia memiliki tidak kurang dari 6.000 spesies anggrek, namun sering menghadapi tantangan terkait konservasi dan budidayanya. Dalam menjaga kekayaan keanekaragaman hayati ini, program konservasi anggrek belum dikelola secara optimal sebagai bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan untuk mempertahankan kualitas kehidupan manusia dan alam. Metode penelitian dalam studi ini bersifat kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif terhadap objek penelitian, yaitu model analisis SOAR. Analisis ini berfokus pada kekuatan (strengths), peluang (opportunities), aspirasi (aspirations), dan hasil (results) melalui studi pustaka dari beberapa buku atau jurnal ilmiah terpublikasi dengan batasan tahun. Budidaya dan pengembangan anggrek akan berfokus pada kekuatan dan peluang terutama yang berkaitan dengan pelestarian keanekaragaman anggrek sehingga kelemahan dan ancaman dapat berkurang. Tantangan budidaya yang dihadapi dalam hal perbanyakan generatif anggrek akan diatasi dengan memanfaatkan teknik kultur in vitro agar budidaya dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat dengan hasil yang lebih banyak. Teknik kultur in vitro dapat digunakan pula untuk mempertahankan berbagai spesies anggrek alam sebagai salah satu upaya konservasi. Biodiversity in Indonesia, especially orchids as ornamental plants, is widespread. Indonesia has no less than 6,000 orchid species, but often faces challenges related to orchid conservation and cultivation. In maintaining this wealth of biodiversity, orchid conservation programs have not yet been managed optimally as a part of sustainable development effort to sustain the quality of human life and nature. This study employed a qualitative method through a descriptive approach on the research object, namely the SOAR analysis model. This analysis focused on strengths, opportunities, aspirations, and results through literature studies using several books or published scientific journals with year restriction. The cultivation and development of orchids will focus on the strengths and opportunities, especially concerning the preservation of orchid diversity so that the weaknesses and threats can be reduced. The cultivation challenge faced in terms of orchid generative propagation will be overcome by utilizing in vitro culture techniques so that the cultivation can be carried out in a shorter duration and produce larger yields. In vitro culture technique can also be carried out to maintain various nature orchid species as one of the conservation efforts.
Effectiveness of kipahit (Tithonia diversifolia) leaf extract on pests, diseases, and green spinach plant production Sukrianto, Sukrianto; Tanjung, Dian Diani; Urrahman, Syifa
Open Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i1.113

Abstract

Pestisida Organik dari tanaman digunakan untuk mengurangi pencemaran dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan  pestisida kimia. Salah satunya tanaman Kipahit yang dapat bekerja sebagai antifeedant dan repellent dengan senyawa aktif flavonoid. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas interval waktu pemberian ekstrak daun Kipahit pada organisme penggangu tanaman bayam hijau yang ditanam secara hidroponik dan dampaknya pada produksi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Hidroponik Pamtasa Farm, Sawangan, Depok, Jawa Barat,  dari November – Desember 2021. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 6 perlakuan dengan masing-masing penyemprotan 500 ppm, yaitu;  P0:Tanpa Penyemprotan (Kontrol), P1:Penyemprotan 2 hari sekali, P2:Penyemprotan 3 hari sekali, P3:Penyemprotan 4 hari sekali, P4:Penyemprotan 5 hari sekali, P5:Penyemprotan 6 hari sekali. Perlakuan diulang 4 kali sehingga didapat 24 unit percobaan, 8 tanaman per unit percobaan, sehingga terdapat 192 tanaman uji. Data dianalisis menggunakan Minitab versi 16 menggunakan parameter One Way Anova.  Hasil penelitian menunjukkan penyemprotan ekstrak daun Kipahit setiap dua hari sekali dapat menekan penyakit Mosaik. Penyemprotan ekstrak daun Kipahit setiap lima hari sekali menunjukkan potensi menurunkan aktivitas larva P. xylostella. Persentase daun rusak terendah pada penyemprotan empat hari sekali yaitu sebesar 30,34%. Organic pesticides from plants as Kipahit plant can work as an antifeedant and repellent with active flavonoid compounds. This research aims to determine effectiveness of time interval for administering Kipahit leaf extract on pest on green spinach plants grown hydroponically and its impact on plant production. The research was carried out at Pamtasa Farm Hydroponic Garden, Sawangan, Depok, West Java, from November – December 2021. The research used a Randomized Complete Group Design with 6 treatments with each spraying 500 ppm, namely; P0: No Spraying (Control), P1: Spraying once every 2 days, P2: Spraying once every 3 days, P3: Spraying once every 4 days, P4: Spraying once every 5 days, P5: Spraying once every 6 days. The treatment was repeated 4 times to obtain 24 experimental units, each unit consists of 8 plants, so there were 192 test plants. Data were analyzed using Minitab version 16 using One Way Anova parameters. The research results show that spraying Kipahit leaf extract once every two days can suppress mosaic disease. Spraying Kipahit leaf extract once every five days shows the potential to reduce the activity of P. xylostella larvae. The lowest percentage of damaged leaves was sprayed once every four days, namely 30.34%.
Production response of chilli (Capsicum annuum L.) to shoot pruning and application of different mulch types Telaumbanua, Syukur F; Barus, Asil; Irmansyah, Teuku; Telaumbanua, Mareli
Open Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i1.120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon produksi cabai (Capsicum annuum L.) terhadap pemangkasan pucuk dan aplikasi berbagai jenis mulsa. Penelitian ini dilakukan di Desa Ladang Bambu, Kabupaten Medan Tuntungan, Provinsi Sumatera Utara, pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut, mulai September 2017 sampai Februari 2018. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor perlakuan. Faktor I yaitu pemangkasan pucuk diberi kode "P" dengan empat umur pemangkasan, yaitu P0: tanpa pemangkasan sebagai kontrol, P1: saat tanam, P2: dua minggu setelah tanam (WAT), P3: empat minggu setelah tanam (WAT). Faktor II yaitu penggunaan mulsa diberi kode "M" dengan empat jenis, yaitu M0: tanpa mulsa sebagai kontrol, M1: mulsa plastik hitam perak, M2: mulsa jerami padi, M3: mulsa batang jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak ada interaksi yang nyata antara pemangkasan pucuk dan aplikasi berbagai jenis mulsa terhadap produksi tanaman cabai di akhir penelitian. Pemangkasan tunas pada saat penanaman meningkatkan diameter batang, jumlah bunga, jumlah buah, dan produksi total. Perlakuan dengan mulsa plastik hitam perak meningkatkan diameter batang, jumlah bunga, jumlah buah, dan produksi total. This study aims to determine the response of chilli (Capsicum annuum L.) production to shoot pruning and application of different types of mulch. This study was conducted in Ladang Bambu village, Medan Tuntungan district, North Sumatra province, at an altitude of 30 metres above sea level, from September 2017 to February 2018. The study used a randomised block design with two treatment factors. Factor I: shoot pruning was coded "P" with four pruning ages, namely P0: without pruning as control, P1: at transplanting, P2: two weeks after transplanting (WAT), P3: four weeks after transplanting (WAT). Factor II: the use of mulch was coded "M" with four types, namely M0: without mulch as control, M1: black silver plastic mulch, M2: rice straw mulch, M3: maize stalk mulch. The results showed that, no significant interaction between pruning the shoots and the application of various types of mulch on chili plant production at the end of the study. Pruning the shoots at transplanting increased stem diameter, total number of flowers, number of fruits and total production. Treatment with black silver plastic mulch increased stem diameter, total number of flowers, number of fruits and total production.
The Effect of Palm Oil Boiler Ash on The Growth of Lettuce Plants (Lactuca sativa L.) Azmi, Yudia; Putri, Mardiani; Swandi, Fradilla; Rannando; Salmiyati
Open Science and Technology Vol. 4 No. 2 (2024): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.v4i2.122

Abstract

Limbah industri kelapa sawit yang memiliki potensi untuk dijadikan pupuk organik dan tersedia cukup banyak di Provinsi Riau adalah abu boiler. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis abu boiler kelapa sawit terhadap tanaman selada. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: P0 (Kontrol), P1 (176 g abu boiler kelapa sawit), P2 (352 g abu boiler kelapa sawit), dan P3 (528 g abu boiler kelapa sawit). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), dan lebar daun (cm). Berdasarkan hasil ANOVA pada taraf 5%, pemberian abu boiler kelapa sawit pada memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan lebar daun tanaman selada. Dosis abu boiler kelapa sawit  terbaik pada tinggi tanaman, jumlah daun, dan lebar daun  tanaman selada adalah 352 g/polybag. The industrial palm oil waste with potential to be used as organic fertilizer and abundantly available in Riau Province is boiler ash. This study aims to determine the optimal dosage of palm oil boiler ash for lettuce plants. The research employed a Randomized Block Design (RBD) consisting of 4 treatments and 3 replications, namely: P0 (Control), P1 (176 g of palm oil boiler ash), P2 (352 g of palm oil boiler ash), and P3 (528 g of palm oil boiler ash). Observed parameters included plant height (cm), number of leaves (pieces), and leaf width (cm). Based on the results of ANOVA at a 5% significance level, the application of palm oil boiler ash significantly influenced the height, number of leaves, and leaf width of lettuce plants. The optimal dosage of palm oil boiler ash for plant height, number of leaves, and leaf width was 352 g/polybag.