cover
Contact Name
Mikha Widiyanto
Contact Email
mikha.agus08@gmail.com
Phone
+628115422254
Journal Mail Official
mikha.agus08@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sentosa Dalam II A. RT. 78 Samarinda, Kalimantan Timur
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen
ISSN : 28290135     EISSN : 2828951X     DOI : 10.55967
Core Subject : Religion, Education,
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen is a scientific and peer-reviewed journal published by Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda. Manthano covers the result of academic and scientific study in Christian Education, empiric or conceptual. This journal is open to authors, lecturers, students, practitioners and researchers in line and relevant to the scope covered. Focus and Scope Manthano: 1. Christian Education Theology 2. Learning Strategy and Curriculum 3. Education Management 4. Educational Leadership 5. Philosophy of Christian Education 6. Educational Measurement, Assessment and Evaluation 7. Learning Thecnology 8. Family Education 9. Christian Character Education
Articles 50 Documents
Mengukur Tingkat Spiritualitas Siswa di SMP Kristen Makedonia Ngabang:: Menggunakan Youth Spirituality Scale (YSS) Wiyono, Slamet; Hanock, Edward E.; Danny; Pitriani, Sinta
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.81

Abstract

Abstract: Christian education plays a vital role in shaping students' spirituality amidst modern challenges. This study assesses the spirituality levels of students at SMP Kristen Makedonia Ngabang across four dimensions: spiritual beliefs, moral behavior, religious practices, and gratitude, employing a quantitative descriptive approach with the Youth Spirituality Scale (YSS) on 26 ninth-grade students. The results reveal that the students' spirituality levels fall under the very high category (average score: 102.42), with Spiritual Beliefs and Gratitude as the most dominant dimensions, reflecting strong connections with God and positive life attitudes. However, weaknesses in honesty within the Moral Behavior dimension highlight the need for strengthening character education. This study affirms the effectiveness of holistic Christian education through activities such as prayer, worship, and mentoring. Recommendations include integrating spiritual values into curricula, adopting personalized approaches, and fostering moral discussions to support student development. Future research is suggested to explore the long-term impacts of spirituality on students' psychosocial and academic outcomes. Abstrak: Pendidikan Kristen berperan penting dalam membentuk spiritualitas siswa di tengah tantangan modern. Penelitian ini mengevaluasi tingkat spiritualitas siswa SMP Kristen Makedonia Ngabang melalui empat dimensi: keyakinan spiritual, perilaku moral, praktik keagamaan, dan rasa syukur, menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan Youth Spirituality Scale (YSS) pada 26 siswa kelas 9. Hasil menunjukkan tingkat spiritualitas siswa berada pada kategori sangat tinggi (rata-rata 102,42), dengan dominasi pada dimensi Keyakinan Spiritual dan Rasa Syukur, yang mencerminkan hubungan siswa yang kuat dengan Tuhan serta sikap hidup positif. Namun, kelemahan pada aspek kejujuran dalam Perilaku Moral mengindikasikan perlunya penguatan pendidikan karakter. Penelitian ini menegaskan keberhasilan pendidikan Kristen holistik melalui kegiatan doa, ibadah, dan mentoring. Direkomendasikan integrasi nilai spiritual dalam kurikulum, pendekatan personal, dan diskusi moral untuk pengembangan siswa. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi dampak spiritualitas terhadap psikososial dan akademik siswa.
Pendidikan Kristen dan Moralitas di Dunia Digital:: Integrasi Teologi dalam Pembentukan Etika di Era Teknologi bagi Generasi Alpha Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.83

Abstract

Abstract: The development of digital technology has brought significant changes in social and cultural life and spirituality, especially for the Alpha generation who grew up in the digital era and the globalisation of the internet of thoughts. The influence of social media, digital content, and virtual interaction in the gadget world has affected their mindset and moral behaviour. Therefore, Christian education, which is supposed to shape character and morality based on the teachings of Christ, is faced with great challenges in teaching ethical values in the midst of the rapid development of cyberspace which often contradicts moral principles and Christian values. This research aims to examine the role of Christian education in shaping the morality of the Alpha generation in the digital world, with a focus on the integration of theology in relevant theological ethical teaching. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach. The conclusion of this study shows that the integration of theological teachings in Christian education can strengthen the foundation of Alpha generation morality, by emphasising biblical values in their digital life. Such as the paradigm of the concept of Christian morality and ethics in the digital context and the existence of morality issues in the digital world for the alpha generation that must be resolved. So that Christianity has an educational role in shaping morality in the digital world, which is based on theology-based Christian education for ethical formation in the digital era. Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya serta spiritualitas, khususnya bagi generasi Alpha yang tumbuh dalam era digital dan globalisasi internet of thinks. Pengaruh media sosial, konten digital, dan interaksi virtual dalam gawai telah memengaruhi pola pikir dan perilaku moral mereka. Maka itu pendidikan Kristen, yang seharusnya membentuk karakter dan moralitas berdasarkan ajaran Kristus, dihadapkan pada tantangan besar dalam mengajarkan nilai-nilai etika di tengah pesatnya perkembangan dunia maya yang seringkali bertentangan dengan prinsip moral dan nilai kekristenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan Kristen dalam membentuk moralitas generasi Alpha di dunia digital, dengan fokus pada integrasi teologi dalam pengajaran etis teologis yang relevan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ajaran teologi dalam pendidikan Kristen dapat memperkuat dasar moralitas generasi Alpha, dengan menekankan nilai-nilai alkitabiah dalam kehidupan digital mereka. Moralitas dan etika kristen dalam konteks digital dan adanya persoalan moralitas dalam dunia digital bagi generasi alpha yang harus diselesaikan. Sehingga kekristenan memiliki peran pendidikan dalam membentuk moralitas di dunia digital, yang mana ini didasarkan pada pendidikan Kristen berbasis teologi untuk pembentukan etika di era digital.
Kalosara dan Pendidikan Kristen sebagai Fondasi Kepemimpinan Transformasional untuk Perdamaian dan Harmoni Sosial di Masyarakat Tolaki Zalukhu, Amirrudin
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.85

Abstract

Abstract: Transformational leadership plays a crucial role in fostering peace and social harmony, particularly in multicultural societies. In the context of the Tolaki community, the concept of Kalosara—emphasizing unity, justice, and cooperation—serves as a fundamental cultural value that can inform and strengthen ethical leadership. This study explores how Kalosara, combined with Christian education, provides a solid foundation for transformational leadership that promotes peace and social cohesion. Christian teachings on servant leadership, justice, and reconciliation align with Kalosara’s principles, forming a unique framework for leaders who prioritize the well-being of others and foster inclusive communities. The research aims to examine the integration of these values into leadership models that contribute to societal peace and harmony. This study offers significant academic contributions by bridging local cultural wisdom and Christian values with modern leadership theory, providing practical insights for leaders in both religious and community contexts, and emphasizing the potential of culturally rooted leadership in promoting sustainable peace. Abstrak: Kepemimpinan transformasional memainkan peran penting dalam menciptakan perdamaian dan harmoni sosial, terutama di masyarakat multikultural. Dalam konteks masyarakat Tolaki, konsep Kalosara—yang menekankan persatuan, keadilan, dan kerja sama—berfungsi sebagai nilai budaya yang mendasar yang dapat menginformasikan dan memperkuat kepemimpinan berbasis etika. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Kalosara, yang dipadukan dengan pendidikan Kristen, memberikan fondasi yang kokoh untuk kepemimpinan transformasional yang mendorong perdamaian dan kohesi sosial. Ajaran Kristen tentang kepemimpinan hamba, keadilan, dan rekonsiliasi sejalan dengan prinsip-prinsip Kalosara, membentuk kerangka kerja yang unik bagi pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan orang lain dan membangun komunitas yang inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi nilai-nilai ini ke dalam model kepemimpinan yang berkontribusi pada perdamaian dan harmoni sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik yang signifikan dengan menjembatani kebijaksanaan budaya lokal dan nilai-nilai Kristen dengan teori kepemimpinan modern, memberikan wawasan praktis bagi pemimpin di konteks agama dan komunitas, serta menekankan potensi kepemimpinan yang berakar pada budaya dalam mempromosikan perdamaian yang berkelanjutan.
Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majamuk: Prinsip-prinsip untuk Mewujudkan Harmoni dan Toleransi Prang, Stella Lady; Tafonao, Talizaro
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.86

Abstract

Abstract: Christian Religious Education in Indonesia faces various challenges in fostering harmony and tolerance within a diverse society. Issues such as religion-based conflicts, intolerance, and a lack of understanding of diversity serve as major obstacles. This study aims to explore the principles of Christian Religious Education that contribute to the development of tolerance and social harmony. The research employs a descriptive qualitative method with a literature review approach to identify relevant Christian Religious Education values within the context of pluralism. The findings indicate that the implementation of values such as respect for differences, the principle of equality, interfaith dialogue, empathy, mutual cooperation, and social solidarity plays a crucial role in creating a harmonious environment. Christian Religious Education not only functions as an instrument for the spiritual formation of individuals but also as a medium for building bridges of understanding and interfaith interaction. Thus, this study underscores the importance of applying these principles in educational practices to support the creation of a more inclusive and peaceful society. Abstrak: Pendidikan Agama Kristen di Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan harmoni dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam. Permasalahan seperti konflik berbasis perbedaan agama, intoleransi, serta minimnya pemahaman terhadap keberagaman menjadi faktor penghambat utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi prinsip-prinsip dalam Pendidikan Agama Kristen yang berkontribusi terhadap pembentukan sikap toleransi dan kerukunan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari berbagai sumber literatur, termasuk buku, jurnal akademik, artikel ilmiah, serta dokumen yang relevan dengan Pendidikan Agama Kristen dan pluralisme. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis isi (content analysis) guna mengidentifikasi dan mengkaji nilai-nilai Pendidikan Agama Kristen yang berkontribusi dalam mewujudkan keharmonisan dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai seperti penghormatan terhadap perbedaan, prinsip kesetaraan, dialog antaragama, empati, semangat gotong royong, dan solidaritas sosial berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembentukan spiritualitas individu, tetapi juga sebagai medium dalam membangun jembatan pemahaman dan interaksi lintas agama. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam praktik pendidikan untuk mendukung terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan damai.
Strategi Pendidikan Agama Kristen dalam Membangun Moderasi Beragama Hura, Martin Putra; Bakti Sarono, Timotius
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.87

Abstract

Abstract: Religious issues cannot be separated from society because religion plays an important role in social life. Empirically, religion is closely related to problems in society. Religion can be used to defend political and economic interests, especially if the religion has formed a social or political identity. In addition, interfaith relations are often plagued by factors such as historically rooted divergent views, negative perspectives on other religions, and competition to expand influence and convert people to their respective religions. This study aims to explore the various strategies used in Christian religious education and how they can contribute to the development of moderate attitudes among religious believers. The research method used in this article is a qualitative method with a library research approach. In the world of research, qualitative research is a method that focuses on understanding and explaining social phenomena through the perspective of individuals or groups. The essence of the discussion of this article states the importance of balance in the practice and understanding of religion, as well as preventing extreme and violent actions. The principles of moderation include justice, kindness, wisdom and consistency, which support the strengthening of tolerance in society. Christian Religious Education has a crucial role in fostering a tolerant attitude by teaching the value of love and forgiveness, and emphasizing the importance of respecting diversity. Abstrak: Permasalahan agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena agama berperan penting dalam kehidupan sosial. Secara empiris, agama erat hubungannya dengan persoalan di masyarakat. Agama dapat digunakan untuk membela kepentingan politik dan ekonomi, terutama jika agama tersebut sudah membentuk identitas sosial atau politik. Selain itu, Hubungan antar agama juga seringkali diganggu oleh beberapa faktor seperti pandangan-pandangan berbeda yang telah mengakar secara historis, perspektif negatif terhadap agama lain, serta kompetisi dalam memperluas pengaruh dan mengajak orang masuk dalam agama masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai strategi yang digunakan dalam pendidikan agama Kristen, serta bagaimana strategi-strategi tersebut dapat berkontribusi pada pengembangan sikap moderat di kalangan umat beragama. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Dalam dunia penelitian, penelitian kualitatif adalah metode yang fokus pada pemahaman dan penjelasan fenomena sosial melalui perspektif individu atau kelompok. Inti dari pembahasan artikel ini menyatakan pentingnya keseimbangan dalam praktik dan pemahaman agama, serta mencegah tindakan ekstrim dan kekerasan. Prinsip-prinsip moderasi meliputi keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, dan konsistensi, yang mendukung perkuatan toleransi di dalam masyarakat. Pendidikan Agama Kristen memiliki peran krusial dalam menumbuhkan sikap toleran dengan mengajarkan nilai cinta dan pengampunan, serta menekankan pentingnya menghargai keberagaman.
Merdeka Belajar dan Teologi Pembebasan: : Analisis Komparatif atas Nilai-nilai dan Praktiknya dalam Pendidikan Tinggi Teologi Bella, Wesli Irma Desniati; Panjaitan, Firman
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.91

Abstract

Abstract: This study analyzes the integration between Freedom of Learning and Liberation Theology in the context of Theological Higher Education in Indonesia. In the midst of complex social, political, and economic challenges, Theological Higher Education is required to be more responsive to the needs of the community. Freedom of Learning offers a new paradigm that emphasizes curriculum flexibility and student autonomy, while Liberation Theology focuses on social justice and liberation from oppression. This study aims to evaluate the potential integration of these two approaches in curriculum design and learning practices, as well as identify challenges that may arise. The research method used is qualitative with comparative analysis design, which involves the analysis of policy documents, curriculum, and academic literature. The findings suggest that this integration can create a more inclusive, critical, and transformative theological education. Students are empowered to take an active role in learning through social projects and participatory learning. However, the challenges of resistance to change and resource constraints must be overcome to achieve successful integration. This research is expected to contribute to the development of Theological Higher Education curriculum that is more relevant and responsive to social dynamics. Abstrak: Penelitian ini menganalisis integrasi antara merdeka belajar dan teologi pembebasan dalam konteks Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia. Di tengah tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks, Pendidikan Tinggi Teologi dituntut untuk menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Merdeka belajar menawarkan paradigma baru yang menekankan fleksibilitas kurikulum dan otonomi mahasiswa, sementara teologi pembebasan berfokus pada keadilan sosial dan pembebasan dari penindasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi integrasi kedua pendekatan ini dalam desain kurikulum dan praktik pembelajaran, serta mengidentifikasi tantangan yang mungkin muncul. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain analisis komparatif, yang melibatkan analisis dokumen kebijakan, kurikulum, dan literatur akademik. Temuan menunjukkan bahwa integrasi ini dapat menciptakan pendidikan teologi yang lebih inklusif, kritis, dan transformatif. Mahasiswa diberdayakan untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran melalui proyek sosial dan pembelajaran partisipatif. Namun, tantangan resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan sumber daya harus diatasi untuk mencapai keberhasilan integrasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan kurikulum Pendidikan Tinggi Teologi yang lebih relevan dan responsif terhadap dinamika sosial
Model Pendidikan Agama Kristen Moderasi Intra-Agama Berbasis Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15 Yuwono, Stefanus Christianto; Agus Marulitua Marpaung
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.92

Abstract

Abstract: This article outlines a model of Christian Religious Education (CRE) that emphasizes the actual principle of intra-religious moderation, based on a case study of the Council of Jerusalem in Acts 15. The phenomenon of plurality necessitates an approach to religious moderation, both inter-religious and intra-religious. The Council of Jerusalem serves as a historical and theological guide for managing internal diversity within Christianity, resolving debates between Jewish and Gentile Christians regarding the implementation of circumcision and the Mosaic Law for salvation. Through historico-critical, exegetical, systematic-theological, and pedagogical analysis,this article identifies the principles of intra-religious moderation from the Council of Jerusalem: dialogue, respect for differences, focus on the essence of faith, agape love, communal consensus, and flexibility. These principles have pedagogical implications for CRE's content, methods, value inculcation, the role of teachers, and evaluation. This model offers opportunities to foster Christian tolerance, enrich the CRE curriculum, position the church as a peacemaker, and serve as a universal moderation model. Although facing challenges such as institutional resistance and educator competency, implementing this model is crucial for producing an inclusive and moderate Christian community. Abstrak: artikel ini menguraikan model Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang menekankan prinsip aktual moderasi intra-agama, berlandaskan studi kasus Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Fenomena pluralitas menuntut pendekatan moderasi beragama, baik antar-agama maupun intra-agama. Konsili Yerusalem berfungsi sebagai panduan historis dan teologis untuk mengelola keragaman internal dalam Kristen, menyelesaikan perdebatan antara Kristen Yahudi dan non-Yahudi mengenai implementasi sunat dan hukum Taurat demi keselamatan.Melalui analisis historis-kritis, eksegetis, teologis-sistematis, dan pedagogis, artikel ini mengidentifikasi prinsip-prinsip moderasi intra-agama dari Konsili Yerusalem: dialog, penghormatan perbedaan, fokus esensi iman, kasih agape, konsensus bersama, serta fleksibilitas. Prinsip-prinsip ini berimplikasi pedagogis pada materi, metode, penanaman nilai, peran guru, dan evaluasi PAK. Model ini menawarkan peluang untuk membentuk toleransi Kristiani, memperkaya kurikulum PAK, menempatkan gereja sebagai pembawa damai, dan menjadi model moderasi universal. Walau menghadapi tantangan seperti resistensi institusi dan kompetensi pendidik, implementasi model ini krusial untuk menghasilkan umat Kristen yang inklusif dan moderat.
Panggilan Gereja di Era Digital:: Menjawab Kebutuhan Jemaat dengan Pendekatan Kurikulum Maria Harris Sirongo, Binamonika; Essuy K. A Pit’ay; Degunias Ton; Dyoys Anneke Rantung; Stepanus Daniel
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.93

Abstract

Abstract: This study examines the relevance and implementation of Maria Harris's curriculum as a church's response to the challenges of ministry in the digital age. Maria Harris's curriculum, which focuses on five dimensions—didaskē (teaching), leitourgia (liturgy), koinonia (fellowship), kerygma (proclamation), and diakonia (service)—is considered relevant for holistically shaping the character, faith, and spirituality of the congregation. Using a qualitative approach with a literature study method, this article analyzes existing literature regarding the application of these five curriculum dimensions in digital contexts, such as online worship, digital biblical classes, and social media-based ministry platforms. The research findings indicate that integrating digital technology with the dimensions of the Maria Harris curriculum can significantly enhance the church's effectiveness in meeting the spiritual and existential needs of modern congregations. This article contributes to the theoretical and practical understanding of the church's adaptation in the digital age through a structured curriculum framework. Abstrak: Penelitian ini mengkaji relevansi dan implementasi kurikulum Maria Harris sebagai respons gereja terhadap tantangan pelayanan di era digital. Kurikulum Maria Harris, yang berfokus pada lima dimensi—didaskē (pengajaran), leitourgia (liturgi), koinonia (persekutuan), kerygma (pewartaan), dan diakonia (pelayanan)—dipandang relevan untuk membentuk karakter, iman, dan spiritualitas jemaat secara holistik. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, artikel ini menganalisis literatur terkait penerapan kelima dimensi kurikulum tersebut dalam konteks digital, seperti ibadah daring, kelas biblika, dan platform pelayanan berbasis media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dengan dimensi kurikulum Maria Harris dapat secara signifikan meningkatkan efektivitas gereja dalam memenuhi kebutuhan rohani dan eksistensial jemaat modern. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman teoretis dan praktis mengenai adaptasi gereja di era digital melalui kerangka kurikulum yang terstruktur.
PAK dan Teologi Martabat Manusia:: Integrasi Imago Dei dalam Moralitas dan Etis Generasi Muda Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.98

Abstract

Abstract: The moral crisis and decline in human values affecting the younger generation demand a renewal in educational approaches, particularly in Christian religious education. Education that focuses solely on cognitive and doctrinal aspects has proven insufficient in shaping the character and ethical awareness of students in a holistic manner. The absence of a strong theological foundation in the design of Christian religious education has caused the educational process to lose its transformative power. The phenomenon of the decline in human values and morality, and the loss of empathy among the younger generation, reinforces the urgency of a more humanistic and spiritual approach. This study aims to integrate the values of Imago Dei into the design of moral learning as a form of implementing the theology of human dignity in Christian religious education. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that the Imago Dei as the theological foundation of moral education must be strong to prevent a moral crisis among the younger generation, as this is a contextual challenge for Christian religious education in this era. The need to integrate the theology of human dignity into moral education design will bring a more humanising face to Christian religious education. This serves as an ethical and pastoral implication for the church and school. Abstrak: Krisis moralitas dan nilai kemanusiaan yang melanda generasi muda menuntut adanya pembaharuan dalam pendekatan pendidikan, khususnya dalam PAK. Pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif dan doktrinal terbukti tidak cukup membentuk karakter dan kesadaran etis peserta didik secara utuh. Ketidakhadiran fondasi teologis yang kuat dalam desain pembelajaran PAK menjadikan proses pendidikan kehilangan daya transformatifnya. Fenomena dekadensi nilai kemanusiaan dan moralitas, dan hilangnya empati di kalangan generasi penerus, memperkuat urgensi pendekatan yang lebih humanistik dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Imago Dei dalam desain pembelajaran moralitas sebagai bentuk implementasi teologi martabat manusia dalam PAK. Menggunkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat dinyatakan kesimpulan bahwa imago dei sebagai dasar teologis pembelajaran moral dalam PAK harus kuat supya tidak terjadi krisis moralitas di generasi muda, sebab ini adalah  tantangan kontekstual pendidikan agama Kristen di era ini. perlunya integrasi teologi martabat manusia dalam desain pembelajaran moralitas akan membawa wajah PAK yang memanusiakan. ini sebagai bagian implikasi etis dan pastoral bagi gereja dan sekolah.
Pedagogia Humanitatis:: Transformasi Paradigmatik PAK sebagai Counter-Hegemony terhadap Diskriminasi Religius dalam Masyarakat Multikultural Indonesia Rantung, Djoys A.
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.108

Abstract

  Abstract: This study aims to re-examine the role of Christian Religious Education (PAK) within Indonesia’s pluralistic society by proposing the paradigm of Humanitarian Religion. This paradigm emphasizes love, empathy, solidarity, and commitment to social justice as the foundation of Christian praxis. The research employs a library-based method with an interdisciplinary approach that integrates public theology, critical pedagogy, theories of justice, and studies on religious pluralism. The findings suggest that PAK can gain renewed relevance when directed toward interfaith dialogue, social case-based learning, and the promotion of universal humanitarian values. The implication of this study highlights the necessity for PAK to shift from a dogmatic model toward a humanistic praxis that nurtures church members as agents of peace, tolerance, and social justice. The novelty of this research lies in offering a conceptual framework of PAK grounded in Humanitarian Religion, which remains underexplored in the context of Christian religious education studies in Indonesia. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia dengan menawarkan paradigma Humanitarian Religion. Paradigma ini menekankan kasih, empati, solidaritas, serta komitmen terhadap keadilan sosial sebagai landasan praksis iman Kristen. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan teologi publik, teori pendidikan kritis, filsafat keadilan, serta studi tentang pluralisme agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa PAK dapat memperoleh relevansi baru apabila diarahkan pada pembelajaran yang berbasis dialog lintas iman, studi kasus sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pergeseran PAK dari model dogmatis ke arah praksis humanis yang membentuk warga gereja sebagai agen perdamaian, toleransi, dan keadilan sosial. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada tawaran kerangka konseptual PAK berbasis Humanitarian Religion yang belum banyak dieksplorasi dalam kajian pendidikan agama Kristen di Indonesia.