cover
Contact Name
Ida Leida Maria
Contact Email
hjph.unhas@gmail.com
Phone
+628114440454
Journal Mail Official
hjph.unhas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, 90245
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Hasanuddin Journal of Public Health
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : 27212408     DOI : https://doi.org/10.30597/hjph.v1i1
Core Subject : Health,
Aims and Scope Hasanuddin Journal of Public Health: Epidemiology Health Education and Promotion Environmental Health Occupational Health and Safety Health Administration and Policy Biostatistics Reproductive Health Hospital Management Nutrition Science Health Information System
Articles 180 Documents
MENELISIK KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES TIPE 2: SEBUAH STUDI DI RSUD TENRIAWARU BONE TAHUN 2024 Nabila Ramadhani Arsyad Arsyad; Ida Leida Maria
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.44120

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang dapat menyebabkan terganggunya produktivitas pada penderitanya yang selanjutnya berdampak pada kualitas hidup pada penderita. Diabetes Melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada kualitas hidup penderitanya, terutama di wilayah dengan prevalensi tinggi seperti Kabupaten Bone. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien Diabetes Melitus tipe 2 di RSUD Tenriawaru Bone tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 200 responden yang diambil secara simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF, MSPSS, GPAQ, ZSAS, serta rekam medis yang telah teruji valid dan reliabel (Cronbach’s alpha >0,70). Analisis data dilakukan menggunakan SPSS melalui uji Chi-square. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–April 2025 di RSUD Tenriawaru Bone. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, pendapatan, lama menderita, komplikasi, dukungan sosial dan kecemasan berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup pasien dengan nilai p-value berturut-turut sebesar (p = 0,001), (p = 0,014), (p = 0,001), (p = 0,001), (p = 0,005), (p = 0,000).   Sementara itu, umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai (p=0,657), (p=0,495), (p=0,374). Kesimpulan: Faktor pendidikan, pendapatan, durasi penyakit, komplikasi, dukungan sosial, dan kecemasan berperan penting dalam kualitas hidup pasien DM tipe 2, sehingga perlu adanya intervensi terfokus untuk meningkatkan kesejahteraan pasien.
KESENJANGAN KOMPETENSI DIGITAL SEBAGAI DASAR ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN TENAGA PROMOSI KESEHATAN DI PROVINSI NTB: PENDEKATAN MIXED METHODS Arif Rahman
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.48068

Abstract

Latar Belakang: Tenaga promosi kesehatan memiliki peran penting untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjalani gaya hidup sehat. Sehingga, kompetensi mereka juga perlu diperkuat terutama dalam aspek digital agar mampu menjawab tantangan promosi kesehatan di era teknologi. Tujuan: Mengevaluasi kesenjangan kompetensi digital tenaga promosi kesehatan sebagai dasar analisis kebutuhan pelatihan dalam mendukung pelaksanaan peran penyuluhan kesehatan di Provinsi NTB. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods deskriptif, di mana data kuantitatif digunakan untuk memetakan tingkat kompetensi digital dan kebutuhan pelatihan, sedangkan data kualitatif digunakan untuk menggali secara mendalam pengalaman dan tantangan tenaga promosi kesehatan dalam menjalankan peran penyuluhan kesehatan. Hasil: Kebutuhan pengembangan tenaga promosi kesehatan bersifat multidimensional. Sebanyak 51% responden menyatakan butuh pelatihan terstruktur, 49% membutuhkan peningkatan kompetensi, dan 47% membutuhkan peningkatan keterampilan teknis, responden dapat memilih lebih dari satu kategori kebutuhan. Bidang pelatihan yang paling dibutuhkan meliputi literasi digital dan keterampilan pengelolaan media sosial kesehatan (50%), kemampuan public speaking (40%), serta kompetensi advokasi kebijakan kesehatan (10%). Adapun keterampilan media yang secara spesifik dibutuhkan mencakup desain grafis dasar (40%), pembuatan video edukasi kesehatan (40%), manajemen media sosial (10%), editing audio (5%), dan pembuatan animasi sederhana (5%). Sementara itu, keterbatasan kompetensi digital, rendahnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan promosi kesehatan, serta keterbatasan alat bantu dan sarana pendukung menjadi gambaran utama kondisi kompetensi tenaga promosi kesehatan saat ini. Kesimpulan: Adanya kesenjangan signifikan antara kompetensi digital yang dimiliki tenaga promkes dan tuntutan peran mereka dalam pelaksanaan promosi kesehatan berbasis teknologi di Provinsi NTB. Kesenjangan tersebut terutama terlihat pada aspek literasi digital, komunikasi publik, dan pemanfaatan media digital kesehatan. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya perencanaan program pelatihan yang lebih terarah dan berbasis kebutuhan nyata, dengan prioritas pada penguatan literasi digital, keterampilan komunikasi kesehatan, serta produksi konten media edukatif. Pemerintah daerah dan organisasi profesi perlu menjadikan hasil penelitian ini sebagai dasar dalam penyusunan kurikulum pelatihan dan alokasi sumber daya pengembangan kapasitas tenaga promosi kesehatan guna meningkatkan efektivitas layanan promosi kesehatan di NTB.
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BAYI 6–12 BULAN DI PUSKESMAS KASSI-KASSI Alief Rezki Rinaldy; Stang Stang
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.48682

Abstract

Latar Belakang: Masalah gizi pada bayi masih menjadi isu kesehatan prioritas di Indonesia. Wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi mencatat prevalensi stunting 22,92% pada tahun 2024. ASI eksklusif menjadi intervensi kunci pada periode 1000 HPK, namun cakupannya masih berfluktuasi dan faktor yang memengaruhi praktik menyusui belum banyak diteliti secara lokal. Tujuan: Menilai hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 120 ibu dan bayi yang dipilih menggunakan perhitungan besar sampel dengan rumus Slovin berdasarkan populasi terjangkau. Data dikumpulkan melalui kuesioner BSES-SF, lembar observasi, dan data sekunder puskesmas. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan stratifikasi berdasarkan efikasi diri menyusui, keterpaparan informasi, pekerjaan ibu, serta pendapatan keluarga menggunakan Aplikasi JASP. Hasil: Pemberian ASI eksklusif menunjukkan hubungan signifikan dengan status gizi bayi (p = 0,029). Analisis stratifikasi menunjukkan hubungan signifikan pada kelompok ibu dengan efikasi diri cukup (p = 0,008), keterpaparan informasi baik (p = 0,012), dan ibu tidak bekerja (p = 0,018). Pendapatan keluarga tidak menunjukkan hubungan signifikan. Proporsi gizi baik lebih tinggi pada bayi yang memperoleh ASI eksklusif (91,4%) dibandingkan bayi tanpa ASI eksklusif (74,0%). Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan, terutama ketika didukung kapasitas ibu dan lingkungan yang mendukung praktik menyusui. Penguatan edukasi, dukungan keluarga, dan kebijakan ramah ibu menyusui diperlukan untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
BODY SHAMING SEBAGAI STRESOR: PENILAIAN STRESS DAN COPING PADA REMAJA PEREMPUAN DI PALU Khairunnisaa Khairunnisaa; Ummu Kamilah; Rendhar Putri Hilintang; Amilah Ekaputri; Rifka Haristantia; Sahrul Sahrul; Nur Azizah Azzahra
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.48722

Abstract

Latar Belakang: Body shaming merupakan stresor sosial yang kerap dinormalisasi dalam relasi dekat dan berpotensi memicu distress serta coping berisiko pada remaja perempuan usia 18–24 perempuan. Tujuan: Penelitian ini mengeksplor body shaming sebagai stresor pada remaja perempuan di Kota Palu melalui proses primary–secondary appraisal, strategi coping, dan dampak psikologisnya. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus menggunakan kerangka Transactional Model of Stress and Coping. Informan berjumlah 17 remaja perempuan usia 18–24 tahun yang pernah mengalami body shaming, direkrut secara purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis dengan analisis tematik. Hasil: Body shaming dialami sebagai stresor relasional yang berulang, terutama dari teman sebaya dan keluarga. Pada primary appraisal, pengalaman awal dimaknai sebagai candaan namun berkembang menjadi ancaman terhadap harga diri ketika terjadi berulang. Secondary appraisal menunjukkan keterbatasan sumber daya coping, sehingga strategi yang digunakan didominasi emotion-focused coping, dengan sebagian informan melakukan problem-focused coping berupa kontrol tubuh pada spektrum adaptif hingga maladaptif. Dampak yang muncul meliputi distress berkelanjutan, ruminasi, gangguan tidur dan pola makan, serta penarikan sosial. Kesimpulan: Body shaming berfungsi sebagai stresor sosial persisten yang membentuk lintasan appraisal coping menuju luaran psikologis merugikan. Perlunya intervensi promotif-preventif melalui penguatan norma anti–body shaming serta dukungan sebaya dan konseling ramah remaja guna mendorong coping adaptif.
EFISIENSI BIAYA PROGRAM KESEHATAN KELUARGA DAN P2P BERDASARKAN DANA KAPITASI JKN PUSKESMAS UMBULHARJO II KOTA YOGYAKARTA Firman Firman; Ade Yusfia Wardani; Putri Dina Solikhah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.48874

Abstract

Latar Belakang: Efisiensi pembiayaan layanan kesehatan primer merupakan aspek penting dalam memperkuat sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), karena Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dituntut mengelola dana kapitasi secara rasional untuk mendukung program promotif, preventif, dan kuratif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi biaya program Kesehatan Keluarga (Kesga) serta Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Puskesmas Umbulharjo II berdasarkan pemanfaatan dana kapitasi JKN. Metode: Penelitian menggunakan desain evaluasi ekonomi deskriptif dengan pendekatan Cost-Effectiveness Ratio (CER) dan memanfaatkan data sekunder dari laporan keuangan serta capaian program tahun 2024. Nilai CER dihitung dengan membandingkan total biaya terhadap output program sebagai indikator efisiensi operasional berbasis produktivitas. Hasil: Total biaya pelaksanaan program mencapai Rp337.017.000 atau 72,4% dari dana operasional kapitasi. Program skrining HIV dan skrining PTM menunjukkan nilai CER terendah dan berada di bawah rata-rata kapitasi per peserta per bulan (Rp3.765), sedangkan program pengendalian vektor dan pemberian makanan tambahan (PMT) memiliki nilai CER tertinggi dan berada di atas Rp3.765, yang menunjukkan biaya per unit luaran relatif lebih besar. Secara fiskal, sebagian besar program tetap berada dalam batas pagu operasional kapitasi, terutama kegiatan promotif dan preventif yang proporsional terhadap kapasitas anggaran. Kesimpulan: Pemanfaatan dana kapitasi di Puskesmas Umbulharjo II relatif efisien secara fiskal dan operasional berdasarkan benchmark kapitasi lokal. Diperlukan penguatan manajemen pembiayaan, terutama untuk program dengan kebutuhan logistik tinggi agar tetap berada dalam batas efisiensi yang rasional.
HUBUNGAN SELF-MANAGEMENT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Nasrullah Nasrullah; Rosa Devitha Ayu; Jumriani Ansar; Rizky Chaeraty Syam
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.49731

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. Puskesmas Kassi-Kassi mencatat jumlah kasus penderita diabetes melitus tipe 2 terbanyak kedua di 2024 di Kota Makassar. Orang dengan diabetes melitus tipe 2 berisiko menurunkan kualitas hidup pada aspek fisik, psikologis, sosial dan lingkungan. Keberhasilan pengelolaan diabetes melitus tipe 2 sangat bergantung pada self-management dan dukungan keluarga. Tujuan: Menganalisis hubungan antara self-management dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Metode: Jenis penelitian ini berupa observasional analitik menggunakan desain cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 terdiagnosa oleh dokter yang terdaftar dan berkunjung ke puskesmas. Sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow berjumlah 104 responden diabetes melitus tipe 2 dan dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan November hingga Desember 2025 di Puskesmas Kassi-Kassi dengan mengguna-kan kuesioner sebagai instrumen. Selanjutnya, data dianalisis secara univariat dan bivariat melalui uji chi-square. Hasil: Analisis penelitian mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara self-management dengan kualitas hidup penderita (p = 0,005). Demikian pula, dukungan keluarga juga terbukti memiliki hubungan yang signifikan terhadap kualitas hidup mereka (p = 0,016). Kesimpulan: Self-management dan dukungan keluarga memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe 2. Oleh karena itu, penderita diabetes melitus tipe 2 disarankan untuk meningkatan self-management dan memperkuat dukungan keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup yang lebih optimal.
EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS AIR SALOBAR 2022-2024 Ivy Violan Lawalata; Virginio Junus Paulus Sihasale; Pollan Versilia Wuritimur; Riki Wiryawan Samson; Bellytra Talarima
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.49950

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Analisis epidemiologi pada tingkat layanan primer diperlukan untuk memahami distribusi kasus secara mikro dan mendukung pengendalian berbasis wilayah. Tujuan: Mendeskripsikan dan menganalisis pola distribusi kasus tuberkulosis berdasarkan variabel orang, tempat, dan waktu sebagai bagian dari kajian epidemiologi deskriptif di wilayah kerja Puskesmas Air Salobar, Kota Ambon pada tahun 2022–2024. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder dari register TB dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) periode 2022–2024. Populasi sekaligus sampel adalah penderita TB tercatat selama periode penelitian (n=289) dengan teknik total sampling. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan karakteristik epidemiologi kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat, dengan penyajian dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, serta interval kepercayaan 95% pada proporsi utama. Hasil: Sebanyak 289 kasus TB tercatat selama periode 2022–2024. Jumlah kasus meningkat dari 75 kasus (2022) menjadi 83 kasus (2023) dan 131 kasus (2024). Pada tahun 2024 terjadi pergeseran proporsi tertinggi ke kelompok usia 0–15 tahun sebesar 36,6% (95% CI: 28,4–44,9), meningkat dibandingkan tahun 2022 sebesar 18,7% (95% CI: 9,8–27,5). Secara keseluruhan, dominan kasus pada laki-laki (54%) dan kelompok tidak bekerja (51%). Kelurahan Kudamati secara konsisten menyumbang proporsi kasus tertinggi selama tiga tahun pengamatan. Kesimpulan: Distribusi kasus tuberkulosis di Puskesmas Air Salobar menunjukkan tren peningkatan disertai pergeseran proporsi ke kelompok usia anak pada tahun 2024 serta konsentrasi spasial pada wilayah tertentu. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan skrining aktif dan pelacakan kontak serumah dalam pengendalian TB di tingkat layanan primer.
PENGARUH EDUKASI CROSSWORD PUZZLE TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP MENJAGA KEBERSIHAN MENSTRUASI PADA SISWI SMPN 6 SAMARINDA Indah Wardatul Jannah; Dian Ardyanti; Andry Rachmadani; Joko Sapto Pramono
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.49956

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran reproduksi di Indonesia mencapai 90-100 kasus per 100.000 penduduk per tahun yang didominasi oleh remaja putri, hal ini disebabkan oleh menstrual hygiene yang masih buruk. Crossword puzzle merupakan salah satu media promosi kesehatan yang digunakan sebagai alat bantu untuk menyampaikan informasi tentang kebersihan menstruasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh media crossword puzzle dengan metode teams game tournament terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap menjaga kebersihan menstruasi pada remaja putri di SMPN 6 Samarinda. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental. Sampel penelitian berjumlah 58 responden yang dipilih menggunakan teknik propotional random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang terdiri dari variabel pengetahuan dengan pilihan jawaban benar-salah, dan variabel sikap dengan skala likert. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis univariat serta uji Wilcoxon untuk analisis bivariat.  Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan sikap responden setelah penerapan intervensi menggunakan media crossword puzzle, dengan nilai -value 0,0001 (< 0,05). Kesimpulan: Terdapat peningkatan signifikan setelah intervensi dengan media crossword puzzle terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri di SMPN 6 Samarinda terkait menjaga kebersihan menstruasi dan bagi penelitian lanjutan disarankan untuk melengkapi penelitian dengan kelompok kontrol dan dapat meneruskan hingga tahap observasi jika penelitian yang dilakukan menggunakan variabel yang sama.
PROFIL PARAMETER BIOKIMIA DARAH PADA MAHASISWA USIA DEWASA MUDA Ghea Fricillia Sambe
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.50002

Abstract

Latar Belakang: Masa dewasa muda merupakan fase transisi gaya hidup yang berisiko memengaruhi status kesehatan biokimia. Mahasiswa sering kali memiliki pola makan tidak teratur yang berdampak pada parameter darah seperti hemoglobin, glukosa, dan asam urat. Tujuan: Memberikan gambaran profil parameter biokimia darah (hemoglobin, glukosa darah sewaktu, dan asam urat) pada mahasiswa usia dewasa muda. Metode: Penelitian deskriptif ini melibatkan 59 mahasiswa. Pengambilan data dilakukan melalui pemeriksaan darah tepi untuk mengukur kadar Hemoglobin (Hb), Glukosa Darah Sewaktu (GDS), dan asam urat. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan rerata. Hasil: Mayoritas responden adalah perempuan (94,9%). Rerata kadar hemoglobin adalah 11,72 ± 2,08 g/dL dengan prevalensi anemia mencapai 50,8%. Rerata kadar GDS sebesar 90,47 ± 16,48 mg/dL dengan 93,2% responden dalam kategori normal. Rerata kadar asam urat adalah 4,32 ± 1,26 mg/dL dengan 6,8% responden memiliki kadar asam urat tinggi (hiperurisemia). Sub-analisis menunjukkan prevalensi anemia yang persisten pada kelompok usia ≤ 20 tahun (47,2%) maupun ≥ 20 tahun (52,4%). Kesimpulan: Lebih dari separuh mahasiswa mengalami anemia, meskipun profil glukosa dan asam urat sebagian besar masih dalam batas normal. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi gizi spesifik, terutama untuk mengatasi defisiensi zat besi pada mahasiswa.
MINDFUL EATING, EMOTIONAL EATING, DAN KONTROL IMPULS BERBASIS FOOD JOURNAL Rifa&#039;atul Mahmudah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.50028

Abstract

Latar Belakang: Perilaku makan pada dewasa muda dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan psikologis yang berinteraksi dalam menentukan kualitas diet. Penelitian mengenai integrasi aspek psikologi makan seperti mindful eating, emotional eating, dan refleksi makan dengan food journal masih terbatas pada populasi mahasiswa, khususnya di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pola perilaku makan berbasis food journal yang mencakup alasan makan, refleksi makan, intensitas emosi, dan waktu makan pada mahasiswa gizi. Metode: Penelitian observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada 29 mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Megarezky. Data dikumpulkan menggunakan food journal 7 hari yang mencatat episode makan, alasan makan, refleksi makan, jenis makanan, waktu makan, dan intensitas emosi. Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 29 mahasiswa (89,7% perempuan; rerata usia  20) tahun berpartisipasi dengan mayoritas memiliki status gizi normal (82,8%). Frekuensi makan didominasi kategori sedang (51,7%), diikuti tinggi 27,6%) dan rendah (20,7%). Episode makan paling banyak terjadi pada periode larut malam (32,6%, diikuti siang hari (24,0%), sedangkan sore hari menunjukkan proporsi terendah (8,4%). Sebagian besar responden menunjukkan intensitas emosi pada tingkat sedang (58,6%), meskipun proporsi emosi tinggi tetap signifikan (37,9%). Pola konsumsi menunjukkan dominasi makanan sehat (65,2%), namun konsumsi makanan berisiko juga signifikan (34,8%). Mayoritas responden menunjukkan refleksi makan yang positif (69,0%), sementara proporsi refleksi negatif relatif kecil (6,9%).  Kesimpulan: Perilaku makan mahasiswa gizi dipengaruhi oleh interaksi faktor fisiologis, emosional, dan regulasi diri. Temuan ini mendukung pentingnya pendekatan psikologi gizi dalam intervensi perilaku makan pada mahasiswa.

Page 9 of 18 | Total Record : 180