cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 214 Documents
TONGGAK AWAL LAHIRNYA DEMOKRASI LIBERAL: MENELISIK SEJARAH PEMILU PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 1955 Didin Aryanto
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i42025p251-262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah lahirnya demokrasi liberal yang didalamnya ditandai dengan adanya pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, yang artinya hasil dari penelitian ini akan dijelaskan secara deskriptif menggunakan kata-kata. Pemilihan metode kualitatif-deskriptif ini bertujuan untuk mendapatkan rangkuman sejarah lahirnya demokrasi liberal yang didalamnya ditandai denganadanya pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. secara deskriptif guna memperkuat pengetahuan sejarah dalam bentuk kata, bahasa ilmiah, dan metode ilmiah yang jelas. Hasil dari penelitian ini merupakan pengetahuan tentang sejarah lahirnya demokrasi liberal yang didalamnya ditandai denganadanya pemilu pertama di Indonesia tahun 1955.
Kemerdekaan sebagai pembebasan kelas: refleksi marx atas perjuangan indonesia Asrar Ernas
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p126-135

Abstract

Abstract This study examines Indonesia's struggle for independence through the lens of Karl Marx, emphasizing class conflict between the colonial powers and the indigenous population. It situates the nationalist movement within a broader socio-economic context, revealing that independence was not solely a political project, but part of a prolonged class struggle from the early 20th century until the post-independence era. Using historical methods grounded in the framework proposed by Kuntowijoyo (2003), this research analyzes archival and secondary literature to uncover how colonial exploitation structured Indonesian society along class lines. The findings highlight how figures such as Soekarno, Hatta, and Tan Malaka integrated class consciousness into national resistance, and how post-1945 Indonesia continued to grapple with inherited social and economic inequalities. This study offers a new perspective to view independence as a process of class liberation, reflecting on how the fight for political freedom intertwined with the quest for economic justice.. Abstrak Studi ini meneliti perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan melalui lensa Karl Marx dengan penekanan pada konflik kelas antara kekuatan kolonial dan penduduk pribumi. Penelitian ini menempatkan gerakan nasionalis dalam konteks sosial-ekonomi yang lebih luas, menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan semata perjuangan politik, melainkan juga perjuangan kelas yang berlangsung sejak awal abad ke-20 hingga pascakemerdekaan. Dengan menggunakan metode sejarah sebagaimana dikembangkan oleh Kuntowijoyo (2003), penelitian ini menganalisis literatur primer dan sekunder untuk mengungkap bagaimana eksploitasi kolonial membentuk struktur sosial Indonesia berdasarkan kelas. Temuan penelitian menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka mengintegrasikan kesadaran kelas dalam perlawanan nasional, serta bagaimana Indonesia pasca-1945 terus berjuang melawan ketimpangan sosial-ekonomi yang diwariskan kolonialisme. Studi ini menawarkan sudut pandang baru yang melihat kemerdekaan sebagai proses pembebasan kelas yang kompleks, di mana perjuangan politik dan keadilan ekonomi saling terkait.  
Kontribusi Persekutuan Umat Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dalam Bidang Kesehatan di Ponorogo 1948-1974 Fahri Ahmad Fadhilah; Iqbal Rizki Sucahyo
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v6i22026p131-150

Abstract

Komunitas Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Ponorogo tidak dapat dipisahkan dari dunia kesehatan. Pembentukan komunitas ini berawal dari para tenaga kesehatan Kristen yang bertugas sebagai asisten medis dan bidan di Rumah Sakit Umum (RSU) Ponorogo. Kondisi tersebut memicu lahirnya berbagai bentuk layanan kesehatan swasta yang merespons dinamika permasalahan kesehatan secara lebih luas di Ponorogo. Kendati demikian, penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada sejarah umum jemaat. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji keterlibatan dan kontribusi jemaat GKJW dalam bidang kesehatan di Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, dengan memanfaatkan sumber-sumber sejarah kontemporer seperti arsip, dokumen, surat kabar, serta para pelaku dan saksi sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat GKJW di Ponorogo berperan penting dalam membantu pencegahan masalah kesehatan. Sejak awal kehadirannya, para tenaga kesehatan tiba di Ponorogo untuk merawat banyak pasien di rumah sakit yang terdampak perang. Pada awal tahun 1950-an, para tenaga kesehatan dari komunitas GKJW mulai membuka layanan kesehatan di rumah mereka masing-masing secara filantropis. Pada tahun 1956, jemaat secara bersama-sama mendirikan klinik bersalin yang menjadi wadah kontribusi kesehatan GKJW di Ponorogo. Tahun 1970 menjadi puncak kontribusi mereka, ketika lembaga kesehatan ini mulai bekerja sama dengan pemerintah dalam Program Keluarga Berencana (KB) dan menjadi salah satu pelaku utamanya.
Pengaruh Dinamika Politik dan Fenomena Geografis Terhadap Bangkit-Jatuhnya Kota Pelabuhan Jepara Pada Abad ke 16-18 M Reza Khoirul Huda; Ilham Putra Pratama; Iqbal Rizki Sucahyo
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i42025p273-289

Abstract

This study examines the historical fluctuation of the Port City of Jepara from the 16th to the 18th century AD. Unlike studies focusing solely on socio-economic aspects, this research analyzes the interplay between political dynamics and geomorphological changes as primary determinants. Utilizing the historical method, comprising heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, this study examines primary sources such as Tome Pires' Suma Oriental and John Stockdale's records, alongside relevant secondary sources. The findings indicate that Jepara's rise as a major entrepot was driven by the hegemony of the Demak Sultanate and the silting of the Muria Strait, which shifted maritime traffic from Demak to Jepara. Meanwhile its decline was triggered by three simultaneous factors, the agrarian-inland political orientation of the Mataram Islamic Kingdom which suppressed coastal autonomy, the trade monopoly penetration by the VOC, and geographical phenomena in the form of extreme sedimentation connecting protective islands (such as Kelor Island) to the mainland. This siltation rendered the harbor inaccessible to large vessels, effectively ending Jepara's maritime supremacy.
Pengaruh media kartu merah putih terhadap pemahaman siswa pada materi proklamasi kemerdekaan Indonesia kelas XI IPS SMAN 2 Sumenep Fatah Riski Alan Nurin; Dewa Agung Gede Agung; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i32025p189-202

Abstract

This study aims to determine the use of media in the implementation of learning, namely, the simple media of red and white cards combined with the jigsaw method in the classroom in improving students' understanding of class XI IPS SMA Negeri 2 Sumenep. The method used is an experimental research method and uses a quantitative approach. The control class is XI IPS 1 and the experimental class is XI IPS 2. XI IPS 1 uses the same socio-drama learning method as teaching teachers usually do and XI IPS 2 uses red and white card media in collaboration with the jigsaw method. This study refers to a conclusion that the use of simple media, red and white cards, does not significantly influence the understanding of XI IPS students at SMAN 2 Sumenep. Because from the Mann Whitney test, the mean rank of the control class is 24.11 and the experimental class is 24.76. The significance of the Mann Whitney test from the post-test results for the control class and the experimental class was 0.871, which was greater than 0.05 (>0.05). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan media dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu, media sederhana kartu merah dan putih yang dikombinasikan dengan metode jigsaw di dalam kelas dalam meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Sumenep. Metode yang digunakan adalah metode peneltian eksperimen serta menggunakan pendekatan kuantitatif. Kelas kontrol adalah XI IPS 1 dan kelas ekperimen adalah XI IPS 2. XI IPS 1 memakai metode pembelajaran sosio drama sama seperti yang biasa guru pengajar lakukan dan XI IPS 2 memakai media kartu merah dan putih yang dikolaborasikan dengan metode jigsaw. Penelitian ini merujuk pada suatu kesimpulan bahwasanya penggunaan media sederhana kartu merah dan putih secara signifikan tidak terlalu memberikan pengaruh besar terhadap pemahaman siswa XI IPS SMAN 2 Sumenep. Sebab dari uji Mann Whitney nilai mean rank kelas kontrol ialah 24.11 serta kelas eksperimen ialah 24.76. Signifikansi Uji Mann Whitney dari hasil post-test kelas kontrol dan kelas eksperimen sebesar 0.871 lebih besar dari 0.05 (>0.05).
Rekaman Jiwa Zaman dan Nilai-Nilai Intelektual Kiyai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes Melalui Kitab Siraj al-Thalibin dan Kitab Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurbi al-Qahwah wa al-Dukhan (1901–1952) Muhammad Ngaqib Al Faaiziin; Arif Subekti
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v6i12026p44-55

Abstract

Artikel ini akan membahas bagaimana rekaman jiwa zaman beserta dengan nilai-nilai intelektual kiyai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes terhitung sejak tahun 1901 sampai dengan tahun 1952, dengan menggunakan sumber-sumber yang berasal dari kitab kuning karangan kiyai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes, buku dan artikel jurnal. Dengan harapan dengan adanya artikel ini dapat dijadikan sebagai sebuah referensi bahwasannya kita perlu untuk menjaga dan melestarikan tradisi yang telah kita miliki. Sehingga dapat dilakukan langkah yang tepat untuk menjaga dan melestarikan tradisi kitab kuning tersebut. Dan dapat memberikan kontribusi bagi keilmuan sejarah sebagai referensi di masa lalu untuk menjadi bekal dalam menghadapi perkembangan zaman di masa yang akan datang.
Candi Badut dan potensinya sebagai sumber belajar di Kota Malang Rosy Ayu Fraditasari; Arif Subekti
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i42025p263-272

Abstract

Di Kota Malang terdapat banyak sekolah. Sekolah-sekolah ini tentu memerlukan sumber belajar, karena sumber belajar merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Pada Artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Malang juga memiliki banyak situs bersejarah, dimana situs ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Salah satu candi di Malang adalah Candi Badut. Sebagai situs bersejarah tentu Candi Badut dapat digunakan sebagai sumber belajar mata pelajaran sejarah. Namun Candi Badut juga berpotensi sebagai sumber belajar pada mata pelajaran lain seperti seni budaya untuk membuat desain motif batik. Candi Badut juga berpotensi sebagai sumber belajar pada beberapa jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan. Beberapa SMK di Malang terdapat beberapa jurusan yang dapat menggunakan Candi Badut sebagai sumber belajar. Pada jurusan Kriya Kreatif Kayu, Kriya Kreatif Keramik dan Kriya Kreatif Tekstil. Relief dan arca Candi Badut dapat dikembangkan sebagai ide desain. Pada jurusan Desain Grafika dan Produksi Grafika dapat mengembangkan desain dan produk yang terinspirasi dari Candi Badut. Candi badut dapat digunakan sebagai latihan untuk mengurus suatu perjalanan wisata, oleh karena itu dapat digunakan sebagai sumber belajar pada jurusan Usaha Perjalanan Wisata.
Perkembangan Representasi Perempuan Indonesia dalam Politik Parlemen, 1971-2009 Desi Susanti; Fauzan Syahru Ramadhan
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i22025p136-152

Abstract

Abstract This article focuses on examining the representation of Indonesian women in parliamentary politics 1971-2009. There are many problems faced by women in the field of politics in Indonesia, it turns out that women are still not properly represented. In addition, there is a phenomenon of inequality between men and women who are not fairly included as elements in the role of civil society in a democratic system. Therefore, this article aims to find out how women can develop and participate in the world of parliamentary politics in 1971-2009. This article uses a historical method that includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that the development of Indonesian women's representation in parliament is influenced by domestic political dynamics and several factors become obstacles to the implementation of gender quotas. Women's organizations and civil society play a central role in encouraging greater involvement and representation for women in the public, political, and parliamentary spheres. All of this is done as part of an advocacy effort to create gender-responsive political policies. Abstrak Artikel ini fokus mengkaji tentang representasi perempuan Indonesia dalam politik parlemen 1971-2009. Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi oleh perempuan dalam bidang politik di Indonesia, ternyata kaum perempuan masih belum terwakilkan dengan sepatutnya. Selain itu, muncul fenomena ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak diikutsertakan secara adil sebagai elemen dalam peranan masyarakat sipil dalam sebuah sistem demokrasi. Oleh sebab itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perempuan dapat berkembang dan ikut serta dalam dunia politik parlemen pada 1971-2009. Artikel ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa perkembangan representasi perempuan Indonesia dalam parlemen dipengaruhi oleh dinamika politik dalam negeri dan beberapa faktor menjadi kendala implementasi kuota gender. Organisasi perempuan dan masyarakat sipil memainkan peran sentral untuk mendorong keterlibatan dan keterwakilan yang lebih besar bagi perempuan dalam ranah publik, politik, dan parlemen. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari upaya advokasi pembuatan kebijakan politik yang responsif gender.  
Pendar, Prestise, dan Kekuasaan: Relasi Budaya dan Teknologi antara Mangkunegaran dan Eropa melalui Lampu Gantung dan Listrik pada Abad ke-19 Ilham Putra Pratama; Muthia Zahri Mardhiyah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v6i22026p73-87

Abstract

Penerangan dan listrik tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi simbol modernitas, prestise, dan relasi kuasa pada masa kolonial. Di Jawa, penggunaan teknologi penerangan turut merefleksikan stratifikasi sosial, dari obor dan ublik pada masyarakat umum hingga lampu bergaya Eropa dan listrik di lingkungan elite. Kajian mengenai penerangan di kalangan bangsawan Jawa, khususnya Pura Mangkunegaran, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan Mangkunegaran dengan Eropa serta pengaruhnya terhadap perkembangan teknologi penerangan dan pembentukan prestise praja. Penelitian menggunakan metode sejarah melalui heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi dengan memanfaatkan arsip, surat kabar sezaman, dan dokumentasi visual. Konsep mimikri Homi K. Bhabha digunakan untuk menganalisis adopsi unsur Eropa sebagai bentuk representasi dan negosiasi posisi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Mangkunegaran dengan Eropa sejak masa Mangkunegara II membuka akses terhadap modernitas yang berkembang dalam bidang ekonomi, arsitektur, dan teknologi. Lampu bergaya Eropa, lampu minyak, dan listrik di Pura Mangkunegaran tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga merepresentasikan modernitas dan prestise. Adaptasi tersebut menghasilkan kebudayaan hibrid yang memadukan unsur Eropa dengan identitas Jawa dalam negosiasi posisi Mangkunegaran di tatanan kolonial.
PANTAI BARAT SUMATRA DALAM KRISIS ABAD KE-19 EKSPANSI POLITIK, PERANG PADRI, DAN BAJAK LAUT Muhammad Faiz Qasthalani; Ilzam Alzier Dianis Purbaya
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v5i42025p312-325

Abstract

This article examines the historical development of the West Coast of Sumatra in the early nineteenth century by analyzing the impact of Malacca’s fall, shifting maritime trade patterns, Dutch and British intervention, the rise of piracy, and the establishment of rust en orde. Using a narrative-historical approach based on colonial archives and key scholarly works, this study shows that the weakening of traditional coastal authorities, intensified by the Padri War and expanding Dutch political interests, created conditions that reshaped power relations in the region. The disruption of established trade networks contributed to the emergence of prominent pirate leaders such as Panglima Mentawe, Sidi Mara, and Po Id, whose activities threatened maritime security and colonial economic control. In response, the Dutch implemented strict maritime surveillance, administrative consolidation, and military action to impose rust en orde, integrating the coastal region more firmly into the Netherlands Indies’ political and economic system. Overall, the article argues that the transformations of the West Sumatran coast were driven not only by conflict, but by broader maritime and colonial restructuring that redefined regional stability and authority in the Indian Ocean world.