cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Peleburan Kejawen dengan Kekristenan dalam Lingkup Kemangunggalan Aser Lasfeto; David Michael Gerungan; Gideon Hery Susanto; Rut Rut; Junifrius Gultom; Joseph Moris
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.775 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1037

Abstract

ABSTRACT Culture in Java is hereditary and tied to everyday life which is known as Kejawen. Kejawen is not only related to culture, but also related to beliefs that are held from generation to generation. Cultural encounters with Kejawen beliefs are important to explore, so that Christianity can find strategies for delivering the gospel that are contextual, constructive, and free from syncretism. Because traditions existed before the spread of religion in Java, people tend to continue existing traditions even though they are not in accordance with the teachings of the Bible. Therefore, various methods emerged to create followers as religious and cultured individuals. The purpose of this study is to analyze the theological-practical relationship between Kejawen and Christian faith. This research was conducted by analyzing the life of the Christian congregation in Dusun Bendungan Kulon, Desa Ngablak, Kecamatan Wates. This study employs an ethnographic qualitative approach. The results of the study indicate that by incorporating tradition (Kejawen) into Christianity, a person's level of faith can increase, especially when using the concept of kemanunggalan (oneness). Kemanunggalan as understood in Javanese culture does not actually contradict the teachings of the Bible. Oneness can be practiced as a way to get closer to God which can create calm when doing worship. Keywords: Kejawen, Christianity, Kemanunggalan   ABSTRAK Budaya di Jawa bersifat turun-menurun dan mengikat pada kehidu­pan sehari-hari yang kemudian dikenal sebagai Kejawen. Kejawen tidak hanya berkaitan dengan buda­ya, melainkan kepercayaan yang dipegang turun temurun. Pertemuan budaya dengan kepercayaan Kejawen inilah yang penting ditelusuri agar Kekristenan dapat menemukan strategi penyampaian Injil yang kontekstual, konstruktif, dan tidak terjebak pada sinkretisme. Dikarenakan tradisi sudah ada sebelum penye­baran agama di Jawa, masyarakat cen­derung meneruskan tradisi yang ada meskipun tidak sesuai dengan ajaran Injil. Oleh sebab itu, muncullah berbagai metode yang diguna­kan untuk menjadikan manusia sebagai pribadi yang taat beragama dan berbudaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meanganalisis hubungan Kejawen dengan iman Kristen secara teologis-praktis. Penelitian ini dilakukan dengan analisis peng­amatan terhadap kehidupan jemaat Kristen di Dusun Bendungan Kulon, Desa Ngablak, Kecamatan Wates. Metode yang digunakan adalah kuali­tatif et­no­­grafi. Hasil penelitian me­nun­jukkan bahwa dengan meleburkan tradisi (Keja­wen) ke dalam ajaran Kristen, tingkat keimanan seseorang dapat menjadi lebih tinggi, terutama ketika meng­gunakan konsep kemanunggalan. Kemanunggalan sebagai­mana dipahami di kultur Jawa sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Injil. Kemanunggalan dapat dipraktikkan sebagai cara mendekatkan diri kepada Tuhan yang dapat menimbulkan ketenangan saat melakukan peribadatan.  Kata Kunci: Kejawen, Kekristenan, Kemanunggalan.
Prinsip-Prinsip Ekonomi Dalam Budaya Tunjuk Ajar Melayu Daharmi Astuti; Ag Maulana; Boy Syamsul Bakhri; Mona Fairuz Ramli
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.509 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1038

Abstract

ABSTRACT   This paper is motivated by the lack of studies in Malay Economic system which rich cultural trea­sure, one of which is called Tunjuk Ajar. This term means teaching, advice, and rules in life for the Malays. One of the figures who wrote Tunjuk Ajar Melayu was a culturalist, Tenas Effendy. The research problem to be addressed is how the economic values in Malay teaching and learning are correlated with Islamic values. This paper hence explores Islamic principles in Malay community's economy and culture. The method used is library research with historical and philosophical approaches. The study found that there are eleven economic principles in the Tunjuk Ajar that are in line with the concept of Islamic Economics: trustworthy and accountable, fair and equitable, independent, anti-monopoly, self-confident and faithful, tolerant, balance between worldly and hereaf­ter profit, alternate, broad-minded, social solidarity, and saving. This paper adds to literature on treasures of Malay culture, not only from a cultural perspective but also from an economic perspective as a work ethic for the Malay community. Keywords: Tunjuk Ajar, Malay, Economy, Islam.   ABSTRAK Artikel ini ini dilatarbelakangi oleh minimnya kajian tentang per­eko­no­mian orang Melayu yang kaya akan khazanah, salah satunya disebut Tunjuk Ajar. Istilah ini berarti “pengajaran, nasihat serta aturan-aturan dalam berkehidupan bagi orang Melayu”. Salah satu tokoh yang menu­liskan Tunjuk Ajar Melayu adalah budayawan Tenas Effendy. Permasa­lahan yang dibahas dalam artikel ini adalah bagaimana nilai-nilai ekonomi dalam Tunjuk Ajar Melayu berkorelasi dengan nilai-nilai Islam. Tulisan ini menggali prinsip-prinsip Islam dalam ekonomi dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Melayu dan menggali korelasi antara nilai-nilai ekonomi dalam Tunjuk Ajar Melayu dengan nilai-nilai Islam. Metode yang digunakan library research dengan pendekatan historis dan filosofis. Hasil pembahasan ditemukan bahwa ter­da­pat sebelas prinsip ekonomi dalam Tunjuk Ajar Melayu dan memiliki hubungan simetris dan sejalan dengan konsep Ekonomi Islam yaitu: amanah dan menepati janji, adil dan merata, kemandirian, anti monopoli, percaya diri serta tawakkal, tenggang rasa, keseimbangan antara laba dunia dan akhirat, berpada-pada, berwa­wasan luas, kesetiakawanan sosial, hemat cermat dan pantang menyerah yang diterapkan dalam kehidupan orang Melayu. Tulisan ini menyorot khazanah budaya Melayu tidak hanya dari segi buda­ya, tetapi juga dari segi ekonomi dan membangun etos kerja masyarakat Melayu yang sesuai dengan syariat Islam.  Kata kunci: Tunjuk Ajar, Melayu, ekonomi, Islam.  
TITAH TRANSFORMASI IDEOLOGI DARI ANIMISME KE ISLAMISME (Alih Aksara dan Penyuntingan Teks Naskah Piagam Kerinci) Darti Busni; Mhd. Rasidin; D.I. Ansusa Putra; Doli Witro; Nisaul Fadillah; Muhamad Taufik Kustiawan
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.038 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1039

Abstract

ABSTRACT This study analyzes the manuscripts of Piagam Kerinci (Sultan Kerinci charter) and letter stored in the collection of National Library of the Republic of Indonesia. The purposes of this study are (1) to describe the contents of the charter and letters, (2) to explain the development of Islam in Kerinci as reflected on the content of the manuscript, and (3) to reveal the message contained in the manuscript. This study uses a philological approach through historical writing analysis. Several concepts and theories are used as a tool to analyze the historical phenomena studied. The data collected are the Piagam Kerinci manuscripts and letters (three manuscripts) with the code ML 396 D. The study found that the Kerinci Charter, both Charter A, B, and C contain orders to obey Allah and to embrace Islam. In addition, there is an order for the people of Kerinci to establish Islamic syarak (sharia) and leave unruly behaviors in Islam such as: cock fighting, stealing, alcohols, tree/stone worshipping (as of animistic beliefs and practices). The presence of orders in these manuscripts suggests that there was an ideological transformation from animist to Islam belief in the Kerinci community. Keywords: Ideological Transformation, Animism, Islam, Kerinci Charter.    ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada teks naskah piagam dan surat Sultan Kerinci yang terdapat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dengan memaparkan suntingan teks. Tujuan penelitian ini adalah (1) men­des­kripsikan isi piagam dan surat-surat sultan Kerinci, (2) menjelaskan perkembangan Islam di Kerinci sehingga perkembangan khazanah inte­lektual religius di sana dapat terlihat dengan jelas berdasarkan isi teks, dan (3) mengungkapkan pesan moral yang terdapat dalam teks. Penelitian ini menggu­na­kan metode pendekatan filologi melalui penulisan sejarah ana­lisis. Beberapa konsep dan teori digunakan sebagai alat untuk menganalisis t fenomena historis yang dikaji. Data yang dikumpul­kan adalah manuskrip piagam dan surat-surat Kerinci yang tersimpan di perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebanyak tiga lembar naskah dengan kode ML 396 D. Penelitian telah menunjukkan bahwa Piagam Kerinci, baik piagam A, B, dan C memuat perintah untuk taat kepada Allah  dan untuk masuk ke dalam agama Islam. Selain itu terdapat juga perintah kepada masyarakat Kerinci untuk mendirikan syarak (syariah) agama Islam dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam Islam seperti menyabung ayam, mencuri, minum minuman keras, menyembah pohon atau batu besar yang meru­pakan bentuk kepercayaan animisme. Adanya perintah dalam naskah me­nunjukkan adanya transformasi ideologi dari kepercayaan animisme kepada agama Islam pada masyarakat Kerinci.  Kata Kunci: Transformasi Ideologi, Animisme, Islam, Piagam Kerinci
The Tension of Religious-Traditions and the Ideas of Women's Liberation in Dreams of Trespass’ Novel by Fatima Mernisi Asmarani, Dini; Monica, Sarah; D. Ratri, Sari
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.218 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1040

Abstract

ABSTRACT This article aims to analyze the literary work entitled "Dreams of Trespass: Tales of a Harem Girlhood," which reflected Fatima Mernissi's critical viewpoint in the struggle for gender equality. Utilizing a literature review and textual analysis, this study attends to how Mernissi told a story of women's liberation discourses in her literary work. Mernissi's work cannot be seen as entirely fictional, as it incorporated Mernissi's own experiences in growing up within a harem-living family. The findings reveal that Mernissi’s work is a reflection on reality, as well as, an aspiration for the ideal future in which women and men would have equal responsibilities and rights. This article concludes that Mernissi's critical feminism must be placed in the context of the life in which the work was written and the historical time it tells, namely, the 20th century of Arabic culture and Islamic religiosities in Morocco. At that time, the world had transitioned from the colonization period to the rise of global nationalism in conquered nations, including Morocco. This transition resulted in the clash of religion-tradition and modernity that affects women's thinking and perceptions about gender equality based on universal humanism principles and Qur'anic religious interpretations. Therefore, this article provides an alternative outlook in viewing literary work as a representation of the experiences and developments of thought of Fatima Mernissi.  Keywords: Fatima Mernissi, Gender equality, Literary work, Muslim feminist, Textual analysis.   ABSTRAK Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji novel berjudul “Perempuan-perempuan Haremku” sebagai sebuah karya sastra yang menampilkan pemikiran kritis Fatima Mernissi dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Artikel ini menggunakan metode kajian literatur dengan analisis teks untuk melihat bagaimana Mernissi menarasikan wacana pembebasan perempuan melalui karya sastra yang tidak sepenuhnya bersifat fiksi. Hasil temuan kami menunjukkan bahwa karya Mernissi juga berangkat dari pengalaman sang penulis yang berasal dan besar dari kehidupan keluarga di dalam harem. Karya tersebut merupakan sebuah refleksi atas realitas, sekaligus aspirasi masa depan yang ideal untuk kesetaraan peran dan hak antara perempuan dan laki-laki. Para penulis artikel ini berkesimpulan, pemikiran kritis feminisme Mernissi harus ditempatkan pada konteks kehidupan di mana karya tersebut ditulis dan waktu sejarah yang dikisahkan di dalamnya, yakni terkait dengan kultur Arab dan keberagamaan Islam di Maroko pada abad 20. Dalam konteks periode tersebut, dunia sedang mengalami peralihan dari masa kolonialisme ke gerakan nasionalisme global di negara-negara terjajah termasuk Maroko. Sehingga ada perbenturan tradisi dan modernitas yang mewarnai gagasan-gagasan perempuan dan tentang perempuan terkait kesetaraan gender berdasarkan nilai humanisme universal serta tafsir keagamaan dalam kitab suci Islam. Dengan demikian, artikel ini menawar­kan pemikiran alternatif dalam melihat karya sastra sebagai representasi pengalaman dan perkembangan pemikiran seorang tokoh Fatima Mernissi. Kata kunci: Analisis Teks, Fatima Mernissi, Feminis Muslim, Karya Sastra, Kesetaraan Gender.
THE EXISTENCE OF THE WAPAUWE OLD MOSQUE IN THE VILLAGE OF KAITETU AS A TRACE OF THE SPREAD OF ISLAM IN MALUKU Pattiasina, Johan; Kisiya, Efilina; Sopacua, Jems; Judy Manuputty, Christofer
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.713 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1067

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the history of the Wapauwe Old Mosque including the architectural aspects and the objects in it. The study employed archaeological approach using a systematic procedure based on four main steps, namely: heuristics, criticism, interpretation, and historiog­raphy. His­to­rical approach was taken to describe the historical background of the mosque. At the same time, the archaeological process was used to describe the physical structure of the mosque building. This study found that the Wapauwe Mosque is one of the oldest historical mosques in Maluku, located in Kaitetu State, Central Maluku Regency, Maluku Province. It was built in 1414 by an Islamic preacher, namely Perdana Jamilu. Wapauwe Mosque’s ancient characteristics can be seen from thatched leaves as the roof and gaba-gaba (sago fronds) as walls. The mosque was built without using nails in each connection segment. The function of pins was substi­tuted by ties from ropes or gamuttu. At the four corners of the mosque's tributary, there was wood carved with calligraphy written: Muhammad (north-south corner) and Allah Muhammad (east-west junction). This study contributes to the literature of Islamic heritage in Nusantara by adding data about historic old mosques in Indonesia. This study promoted localized Islamic history to the people of Maluku as material for consideration and to the government to maintain maintain the Islamic heritage. Keywords: Ambon, Indonesia, Islam, Old Mosque, Wapauwe   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan sejarah perkem­bangan Masjid Tua Wapauwe yang meliputi waktu, pendiri, serta kondisi masyarakat di sekitar saat itu dan aspek arsitekturnya serta benda-benda yang ada di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah dengan menggunakan prosedur sistematis yang bertumpu pada empat langkah utama yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dengan menggunakan pendekatan arkeologi. Pendekatan historis dilaku­kan untuk mendeskripsikan latar belakang sejarah masjid yang dianalisis secara kritis. Sedangkan pendekatan arkeologis dilakukan untuk mendes­krip­sikan struktur fisik bangunan Masjid. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa Masjid Wapauwe merupakan salah satu masjid tertua bersejarah di Maluku yang terletak di Negeri Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, Pro­vinsi Maluku. Dibangun pada tahun 1414 oleh seorang penyebar agama Islam yakni Perdana Jamilu. Berdasarkan penelusuran, Masjid Wapauwe memperlihatkan ciri-ciri kekunoannya pada bentuknya yang bercorak tradisional dengan menyisipkan model piramida terpancung pada atapnya yang terbuat dari daun rumbia dan penggunaan gaba gaba (pelepah sagu) sebagai dinding. Kontruksi bangunan dibangun tanpa menggunakan paku pada setiap ruas sambungan, fungsi paku pada bangunan disubtitusi dengan menggunakan ikatan dari tali atau dalam istilah lokal disebut gamuttu. Selain itu pada keempat sudut tritisan masjid terdapat kayu yang diukir dengan motif kaligrafi. Dalam kaligrafi bertuliskan Muhammad (sudut utara-selatan) dan Allah Muhammad (sudut timur-barat). Kajian ini bermanfaat bagi pengembangan khazanah keislaman di Nusantara serta dapat menambah data infromasi tentang masjid tua bersejarah di Indonesia dan secara praktis, penlitian ini sebagai wahana untuk memper­kenalkan sejarah Islam yang bersifat lokalitas kepada masyarakat Maluku, sebagai bahan pertimbangan kepada pemerintah agar tetap melestarikan serta menjaga cagar keagamaan dan kebudayaan.  Kata kunci: Ambon, Indonesia, Islam, Masjid tua, Wapauwe
NAHDLATUL ULAMA IN FACING THE GUIDE DEMOCRACY 1959-1965: An Overview of Social and Political Factors Hidayat, Asep Achmad; Nurjaman, Andri; Ahmad, Jafar; Witro, Doli; Alghani, Raid
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.687 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1069

Abstract

ABSTRACT Nahdlatul Ulama is one of the Islamic political parties that took part in the national political arena during President Soekarno's time from parliamentary democracy to the transition period from parliamentary democ­racy to guided democracy. NU's progress was closely related to its social and political factors which required NU to accept and integrate into President Soekarno's new government system. This paper aims to reveal the social and political factors that enabled NU to face and then accept guided democracy. This article employed a qualitative approach, particu­larly the historical study method. In tracing the socio-religious history in this study, the stages of heuristics, criticism, interpretation and historiog­raphy were taken. The results showed that NU's social factors in dealing with guided democracy were due to the presence of the PKI which was so strong in national politics and so close to President Soekarno. To deal with the PKI, like it or not, NU had to enter the government in order to resist the PKI and divert President Soekarno's inclination towards NU. Mean­while, the political factor was to maintain NU's position in government, where had always received a share. NU efforts were done solely to protect Muslims, especially ahlussunnah waljamaah an-nahdliyah. Keywords: Guided Democracy, Nahdlatul Ulama, Socio-Political Factors.  ABSTRAK Nahdlatul Ulama merupakan salah satu partai politik Islam yang berkiprah di kancah perpolitikan nasional masa Presiden Soekarno sejak demokrasi parlementer bahkan mampu bertahan pada masa transisi dari demokrasi parlementer ke demokrasi terpimpin. Hal ini karena ada faktor sosial dan politik yang mengharuskan NU menerima dan masuk pada sistem pemerintahan baru Presiden Soekarno. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap faktor sosial dan politik yang memungkiakan NU mengha­dapi dan kemudian menerima demokrasi terpimpin. Artikel ini mengguna­kan pendekatan kualitatif, dengan metodi studi sejarah. Dalam menelu­suri sejarah sosial keagamaan dalam penelitian ini, ditempuh tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunju­kan bahwa faktor sosial NU dalam menghadapi demokrasi terpimpin karena adanya eksistensi PKI yang begitu kuat dalam politik nasional dan kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Untuk menghadapi PKI maka NU mau tidak mau harus masuk dalam pemerintahan dalam rangka membendung PKI dan mengalihkan kecenderungan Presiden Soekarno kepada NU. Sedangkan faktor politik adalah untuk mempertahankan kedudukan NU di pemerintahan yang sejak zaman demokrasi parlementer NU selalu mendapatkan jatah, hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga dan melindungi umat Islam khususnya ahlisunnah waljamaah an-nahdliyah.  Kata kunci: Demokrasi Terpimpin Faktor Sosial-Politik, Nahdlatul Ulama.
MAKNA SIMBOLIK DALAM TEKS AJI SARASWATI TRADISI SIWAISME JAWA DAN BALI: SUATU STUDI PERBANDINGAN Wijayanto, Muhammad Heno; Suparta, I Made
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.196 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1079

Abstract

ABSTRACT This study aims to compare the texts of Aji Saraswati (AS) from three texts of Shivaism's traditions in Java and Bali. The data sources used in this study are the texts of Aji Saraswati (AS), Bhimaswarga (BhS), and Jatawedana (JW), which are ancient manuscripts and have transformed into text editions. Philological work steps were carried out to process data in the form of ancient manuscripts and literature studies to collect data in the form of text editions of previous studies. In data analysis, this research used comparative or comparative literature studies. This study found that there are comparisons in the form of similarities and differences in symbolical meaning in structure, written media, and mysticism in Aji Saraswati in various texts from Java to Bali. This comparison can be evidence of the transmission of texts to various regions from Java to Bali. It then rebuts common assumption that this Shivaism literature was originated in Bali and transmitted to the other regions in Indonesia. Keywords: Aji Saraswati, Balinese, Compa­rative Studies, Javanese, Symbolical Meaning,   ABSTRAK    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbandingan pada teks Aji Saraswati (AS) dari tiga tradisi teks keagamaan Siwa di Jawa dan Bali. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks Aji Saraswati (AS), Bhimaswarga (BhS), dan Jatawedana (JW), baik manus­krip kuno maupun yang sudah menjadi edisi teks. Langkah kerja filologi dilakukan untuk mengolah data yang berupa manuskrip kuno dan studi pustaka untuk mengumpulkan data berupa edisi teks penelitian-penelitian sebelumnya. Dalam analisis data, penelitian ini menggunakan studi sastra bandingan atau komparatif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbandingan berupa persamaan dan perbedaan makna simbolik dari struktur, media tulis, maupun mistisme dalam Aji Saraswati di berbagai teks dari Jawa hingga Bali. Perbandingan tersebut dapat menjadi bukti adanya transmisi teks ke berbagai daerah dari Jawa hingga Bali. Studi ini membantah asumsi bahwa literatur Siwaisme berasal dari Bali dan tersebar ke wilayah lain di Indonesia.  Kata kunci: Aji Saraswati, Bali, Jawa, Makna simbolik, Sstudi Perbandingan.
BATAMAT: THE RECEPTION OF DAYAK TO THE QUR'AN Akhmad Supriadi, Akhmad Supriadi; Faridatunnisa, Nor; Akbar, Ali; Mualimin, Mualimin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1121.886 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1081

Abstract

ABSTRACT This article aims to describe the shifts and changes in the reception model of the Qur'an among the Bakumpai Dayak tribe in Central Kalimantan in the tradition of khatam al-Qur'an (batamat). Batamat is carried out in several important moments, namely when completing Al-Qur'an lessons for children, at weddings, tadarrus at the end of Ramadan, and at death ceremonies. This research employed a qualitative descriptive study of the living Qur'an through fieldwork. The phenomenological approach was used, with Qur'an reception theory as a basis for analysis. The results of the study indicated that in Bakumpai Dayak community, Batamat has an aesthetic function and a performative function. Furthermore, there has been a shift in the performative function of the Al-Qur'an from initially being a pure guidebook and ritual, to indicating social status in society and promoting egalitarian values ​​between men and women. Keyword: Batamat, Dayak Bakumpai, Performative Function, Quran Reception.   ABSTRAK Artikel ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pergeseran dan perubahan yang terjadi dalam model resepsi Al-Qur’an di kalangan suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Tengah dalam tradisi khataman Al-Qur’an (batamat). Batamat dilaksanakan dalam beberapa momen penting, yaitu saat menyelesaikan pelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak dan remaja, saat pernikahan, tadarus pada akhir bulan Ramadhan, serta saat kema­tian. Penelitian ini merupakan penelitian kaualitatif living Qur’an dalam bentuk penelitian lapangan dengan metode kualitatif deskriptif. Pende­katan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologis dengan menggu­nakan teori resepsi Al-Qur’an sebagai pijakan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam masyarakat Dayak Bakumpai, Batamat memiliki fungsi estetika dan fungsi performatif. Lebih jauh, terdapat adanya perubahan dalam fungsi performatif atas Al-Qur’an dari yang awalnya menjadi kitab petunjuk dan ritual murni, kemudian bergeser menjadi penunjuk status sosial dalam masyarakat dan promosi nilai egalitarian antara laki-laki dan perempuan.  Kata kunci: Batamat, Dayak Bakumpai, Fungsi performatif, Resepsi Al-Quran,
THE READING OF NEW TESTAMENT BIBLE MANUSCRIPTS IN THE BYZANTINE TEXT Simanjuntak, Ferry; Suwandi, Markus; A. Usmanij, Petrus
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1492.158 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1082

Abstract

ABSTRACT This article aims to apply intertextual reading in the science of herme­neutical exegesis, especially in the New Testament (NT) which are narrative in nature. The messages of the Bible are often misunderstood becau­se readers only rely on translations that are inadequate and lack the depth of meaning of the original text. Hebrew is one of three languages along with Aramaic, and Koine Greek in which God chose to communicate His Word. Reading the New Testament in its original text will reveal a deeper meaning than the translated version. This paper uses a descriptive qualitative method approach with literature study as the main method. The original text analyzed is the canonical text of the Byzantine NT. Through a hermeneutic approach, this text is read to understand and comprehend theological mes­sages in a comprehend­sive perspective. The results of this study conclude that reading the original text of the New Testament provides a more contextual and applicable theolo­gical understanding and understand­ding related to Christian doctrine. Keywords: Bizantine Text, Canon, Koine Greek, Manuscript, New Testament. ABSTRAK Tujuan artikel ini menerapkan pembacaan intertektualitas dalam ilmu eksegese hermeneutika, khususnya pada genre teks di Perjanjian Baru (PB) yang bersifat naratif. Pesan-pesan Alkitab seringkali disalahpahami karena pembaca hanya mengandalkan terjemahan yang kurang mencukupi dan memiliki kedalaman makna dari teks aslinya. Bahasa Ibrani adalah salah satu dari tiga bahasa bersama Aram, dan Yunani Koine di mana Allah memilih untuk mengkomunikasikan Firman-Nya. Pembacaan Kitab PB dalam teks originalnya akan mengungkapkan makna mendalam yang Allah ungkapkan pada pembaca dalam konteks saat ini. Tulisan ini menggunakan pendekatan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur sebagai basis datanya. Teks original yang dianalisa adalah teks Byzantine PB yang kanon. Melalui pendekatan hermeneutic, teks ini dibaca untuk mengerti dan memahami pesan-pesan teologis dalam perspektif yang benar. Hasil peneli­tian ini menyim­pulkan bahwa pembacaan teks original PB menghasilkan pengertian, dan pemahaman teologis yang lebih kontekstual serta aplikatif terkait dengan doktrin Kristen.  Kata Kunci: Kanon, Manuskrip, Perjanjian Baru, Teks Byzantium, Yunani Koine,
MULTIDIMENSIONAL PARADIGM OF MAQASID SHARIA IN THE BOOK OF “NAHWA TAF'ILI MAQASHID SHARIA” BY JAMALUDDIN ATHIYYAH Aminuddin Shofi, Muhammad; Hidayatullah, Sahrul; Hamid, Abdul
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 2 (2022): Bahasa Inggris
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.65 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i2.1085

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the concept of maqashid syariah formulated by Jamaluddin Athiyyah, especially as presented in his book Nahwa Taf'ili Maqashid Syariah. Athiyyah’s concept is unique because it divides maqashid sharia into four practical areas of life. This research combines descriptive analysis with a literature review. The primary data was collected from the book by Athiyyah, and the secondary data included books and literature from academic journals that are relevant to the research topic. Research findings indicate that Athiyyah's maqashid sharia carries a strong human spirit, which later becomes Athiyyah's rationality in developing maqashid sharia from five to twenty-four and summarized in four different dimensions: individual, family, public sphere, and humanity. The Athiyyah concept facilitates the application of maqashid sharia as a method of legal research or legal istinbath, thus can be used as a philosophical foundation (ideal norm) to analyze whether a draft law is in accordance with the objectives of Islamic law. Theoretically, this study calls for a more systematic and practical study of Athiyyah's ideas, so as to enrich the progressive and objective paradigm of Islamic law. It is recommended for Islamic law researchers to use this paradigm in empi­rical studies, both for enriching insights and for a test tool to what extent the effectiveness and objectivity of this theory is in the context of legal studies in Indonesia. Keywords: Humanity, Jamaluddin Athiyyah, Law, Maqashid Sharia.   ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep maqashid sya­riah Jamaluddin Athiyyah, khususnya yang disajikan dalam buku “Nahwa Taf'ili Maqashid Syariah”. Konsep Athiyyah menjadi khas karena mem­bagi maqahid syariah dalam empat bidang kehidupan yang lebih praktis. Riset ini menggabungkan analisis deskriptif dengan tinjauan pustaka. Sumber data primer  adalah buku karya Athiyyah yang didukung dengan buku dan literatur dari jurnal-jurnal ilmiah yang relevan dengan topik riset. Temuan riset menunjukkan bahwa maqashid syariah Athiyyah membawa semangat kemanusiaan yang kuat, yang kemudian menjadi rasionalitas Athiyyah dalam mengembangkan maqashid syariah dari lima menjadi dua puluh empat dan terangkum dalam empat dimensi yang berbeda: individu, keluarga, ruang publik, dan kemanusiaan. Konsep Athiyyah memudahkan penerapan maqashid syariah sebagai metode riset hukum atau istinbath hukum, paradigma ini dapat digunakan sebagai landasan filosofis (norma ideal) untuk mengetahui apakah suatu ran­cangan undang-undang yang dikembangkan telah sesuai dengan tujuan hukum Islam. Implikasi riset secara teoretis adalah perlu adanya kajian lebih sistematis dan praktis tentang gagasan Athiyyah, sehingga dapat memperkaya paradigma hukum Islam yang progresif dan objektif. Direkomendasikan kepada para peneliti hukum Islam untuk menggunakan paradigma ini dalam kajian empiris, di samping untuk memperkaya wawasan, juga sebagai alat uji sejauh mana efektivitas dan objektivitas teori ini dalam konteks kajian hukum di Indonesia.  Kata Kunci: Hukum, Jamaluddin Athiyyah, Kemanusiaan, Maqashid Syariah.

Filter by Year

2012 2025