cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
ONOMATOPE MANUSIA DALAM WEBTOON LOKAL PASUTRI GAJE SEASON 1 KARYA ANNISA NISFIHANI Rahmawati, Rahmawati; Suhandano, Suhandano
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1670

Abstract

 Humans as living beings are very productive in creating imitations of sounds from activities, feelings, and circumstances they experience. This study aims to describe the form, meaning, and function of human onomatopoeia contained in the local Webtoon Pasutri Gaje Season 1 by Annisa Nisfihani. The theory used in this study is Hanada's (2016) onomatopoeia theory. The data is in the form of onomatopoeias produced by humans, either from activities, feelings, or circumstances. The data were collected using documentation technique with four stages of analysis, namely (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) data conclusion. Based on the analysis of onomatopoeic forms and meanings, the results of this study show that (1) different onomatopoeic forms often have the same meaning, but are used in the same context of use and (2) the same onomatopoeic forms often have different meanings and describe different contexts. This shows that the meaning of human onomatopoeia is highly dependent on the context in which it is used. Meanwhile, the function of human onomatopoeia in this Webtoon is expressive.Manusia sebagai makhluk hidup sangat produktif dalam menciptakan tiruan-tiruan bunyi dari kegiatan, perasaan, dan keadaan yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi onomatope manusia yang terdapat dalam Webtoon lokal Pasutri Gaje Season 1 karya Annisa Nisfihani. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori onomatope dari Hanada (2016). Data berupa onomatope-onomatope yang dihasilkan oleh manusia, baik yang dihasilkan dari kegiatan, perasaan, maupun keadaan. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dengan empat tahap analisis, yaitu (1) pengumpulan data, (2) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) penyimpulan data. Berdasarkan hasil analisis bentuk dan makna onomatope, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk onomatope yang berbeda kerap kali memiliki makna yang sama, tetapi digunakan dalam konteks penggunaan yang sama dan (2) bentuk-bentuk onomatope yang sama kerap kali memiliki makna yang berbeda dan menggambarkan konteks yang berbeda pula. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap bentuk onomatope manusia sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Sementara itu, fungsi onomatope manusia dalam Webtoon ini adalah fungsi ekspresif.
TOKOH PANAKAWAN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN WACANA KRITIK SOSIAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI MEDIA YOUTUBE Prakoso, Imam
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1179

Abstract

The presence of panakawan in the shadow puppet show with its own dynamics. Now they are no longer limited as complementary instruments in the dramatic structure of wayang performances. Panakawan is now also interpreted as a reformer in wayang presentation, such as the use of characters who are naive, witty, and sometimes talk as they are. The identification of his figure which is interpreted as a small people also provides a new color for the development of wayang kulit performances. This study discusses the discourse of social criticism that is built from the language style of the panakawan figures. The style of language that is seen is from the use of figure of speech, the strategy of sentence structure, and the selection of diction. The results of this study indicate that there is social criticism that discusses problems in the realm of development, education, law, dirty political behavior of public officials, culture, and morals. The criticism is conveyed both explicitly and implicitly through the use of figure of speech, scrutinizing sentence structure, and choice of diction. All these criticisms were conveyed by panakawan who were represented as small people against other figures such as kings or gods who were represented as leaders or public officials.Kehadiran panakawan di dalam pertunjukan wayang kulit diwarnai dengan dinamikanya tersendiri. Kini mereka tidak lagi sebatas instrumen pelengkap di dalam struktur dramatik pertunjukan wayang. Panakawan kini juga dimaknai sebagai sosok pembaharu dalam sajian wayang, seperti pe-manfaatan karakter yang lugu, jenaka, dan terkadang berbicara apa adanya. Identifikasi terhadap sosoknya yang dimaknai sebagai rakyat kecil juga memberikan warna baru bagi perkembangan pertunjukan wayang kulit. Penelitian ini membahas tentang wacana kritik sosial yang dibangun dari gaya bahasa pada tokoh panakawan. Adapun gaya bahasa yang dilihat yaitu dari pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pemilihan diksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kritik sosial yang membahas permasalahan dalam ranah pembangunan, pendidikan, hukum, perilaku politik kotor para pejabat publik, budaya, serta moral. Kritik tersebut disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit melalui pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pilihan diksi. Seluruh kritik tersebut disampaikan oleh panakawan yang direpresentasikan sebagai rakyat kecil terhadap tokoh lain, seperti raja atau dewa yang direpresentasikan sebagai pe-mimpin atau pejabat publik.
“RAYA AND THE LAST DRAGON” ANIMATION FILM: A SOURCE OF INSPIRATION FOR THE DEVELOPMENT OF INDONESIA'S CULTURE-BASED CREATIVE INDUSTRY Yono, Sri; Satiyoko, Yohanes Adhi; Sumiyardana, Kustri; Wibowo, Eko Cahyo Kusumo; Suwondo, Tirto
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1667

Abstract

The success of the animated film "Raya and The Last Dragon" which blends Southeast Asian culture is one proof of the new power of the economy that relies on creativity. This study aims to analyze aspects of art-literature-culture in the film that have the potential to be an inspiration for the development of culture-based creative industries (economy) in Indonesia. Using the basic concepts of creative economy theory and cultural anthropology, data collection in this descriptive-qualitative study is carried out by document study methods. The main data source of this study is the animated film "Raya and The Last Dragon" and secondary data sources are obtained from written, audio, and video materials. The data collected in this study refers to the scope of culture, namely ideas or opinion, cultural activities, and the results of cultural creativity contained in this animated film. The data that have been identified and classified are further analyzed using the concepts of creative (industrial) economic theory and cultural anthropology. The results of the study show that the work process and aspects of art-culture such as content creation based on local mythology, introduction of cultural values through stories, multi-cultural content creation, cultural tourism, cultural collaboration and creative industries, creative training, and innovation are important factors that inspire creators to develop culture-based creative industries in Indonesia. This study contributes to the development of interdisciplinary studies between humanities (art-culture-literature) and economics. Kesuksesan film animasi “Raya and The Last Dragon” yang meramu budaya Asia Tenggara menjadi salah satu bukti kekuatan baru ekonomi yang bertumpu pada kreativitas. Kajian ini bertujuan menganalisis aspek-aspek seni-sastra-budaya dalam film tersebut yang berpotensi menjadi inspirasi bagi pengembangan industri (ekonomi) kreatif berbasis budaya di Indonesia. Dengan menggunakan konsep dasar teori ekonomi kreatif dan antropologi budaya, pengumpulan data dalam kajian deskriptif-kualitatif ini dilakukan dengan metode studi dokumen. Sumber data utama kajian ini adalah film animasi “Raya and The Last Dragon” dan sumber data sekunder diperoleh dari bahan-bahan tertulis, audio, dan video. Data yang dikumpulkan dalam kajian ini merujuk pada ruang lingkup budaya, yaitu ide atau gagasan, aktivitas budaya, dan hasil dari kreativitas budaya yang terdapat dalam film animasi ini. Data yang telah diidentifikasi dan diklasifikasi selanjutnya dianalisis dengan menggunakan konsep teori ekonomi (industri) kreatif dan antropologi budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses kerja dan aspek-aspek seni-budaya seperti pembuatan konten berbasis mitologi lokal, pengenalan nilai budaya melalui cerita, pembuatan konten multi budaya, pariwisata budaya, kolaborasi budaya dan industri kreatif, pelatihan kreatif, dan inovasi menjadi faktor penting yang menginspirasi kreator untuk mengembangkan industri kreatif berbasis budaya di Indonesia. Kajian ini berkontribusi bagi pengembangan kajian interdisipliner antara humaniora (seni-budaya-sastra) dan ekonomi.
PARALELISME TOKOH RASUS DAN PAMBUDI DALAM DUA KARYA AHMAD TOHARI RONGGENG DUKUH PARUK DAN DI KAKI BUKIT CIBALAK Nirmalawati, Widya; Fauzan, Akhmad; Khristianto, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1135

Abstract

 This study aims to describe the parallelism of the male characters Rasus in the novel Ronggeng Dukuh Paruk and Pambudi in the novel Di Kaki Bukit Cibalak by Ahmad Tohari. The method used in this research is textual research, which uses text in the novel to understand and interpret the text to connect the text to a broader social, political, and cultural. The results of the study, both male characters, Rasus and Pambudi, moved from a traditional environment to a more modern one, namely the city. Mobility became the driving force for transformation into a new individual. However, each of the stories' male protagonists' indecisiveness turns out to be a weakness. Rasus struggles with his "love" for Srinthil and his "longing" for Biyung. Pambudi was hesitant to alter Sanis and Mulyani. Indecisiveness serves as a framework for the two protagonists as well as an implicit call to action for readers (males) to dare to make choices and dare to leave their community in order to forge themselves into tough individuals.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis paralelisme tokoh Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Pambudi dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Untuk mengungkap pola paralelisme  dalam kedua novel penelitian ini digunakan teori strukturalisme dari Levi Strauss. Metode yang digunakan adalah penelitian tekstual yaitu menggunakan data teks dalam novel untuk memahami dan memaknai teks dengan konteks sosial dan budaya yang melingkupinya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kedua tokoh, Rasus dan Pambudi, melakukan mobilitas dari lingkungan tradisional desa ke kancah yang lebih modern yaitu kota. Mobilitas menjadi motor penggerak untuk bertransformasi menjadi pribadi yang baru. Meskipun demikian, “kegamangan” menjadi tema dari dua tokoh laki-laki dalam kedua cerita tersebut. Rasus memiliki kegamangan dalam menghadapi “cinta” pada Srintil dan “kerinduan” pada Biyung. Sementara Pambudi gamang untuk menyunting Sanis dan Mulyani. Kegamangan menjadi bingkai bagi kedua tokoh sekaligus menjadi pesan tersirat bagi pembaca (laki-laki) supaya berani mengambil keputusan dan berani keluar meninggalkan komunitasnya dalam rangka menempa diri menjadi tangguh.
PATTERNS OF CODESWITCHING IN JAVANESE CULTURE ONLINE FORUM Nursanti, Emi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1307

Abstract

This study specifically aims at 1) finding and interpreting the frequencies of the interrelation between the codeswitching types and functions, and 2) describing the communication features of a Javanese culture online forum based on the codeswitching patterns.  By using a mixed-method design, this study used qualitative data to explain the quantitative results. The data were multilingual utterances in a webinar. The study found that 1) some frequent codeswitching patterns occur in the webinar are: insertion-referential (40.4%), tag-expressive (20.1%), congruent lexicalization-referential (18.0%), congruent lexicalization-expressive (9.5%), intersentential-directive (2.8%), insertion-metalingual (2.1%), congruent lexicalization-metalingual (1.8%), insertion-directive (0.5%), insertion-expressive (0.5%), alternation-expressive (0.3%), congruent lexicalization-phatic (0.3%), and tag-phatic (0.2%). 2) Those patterns suit the nature of the events and the sociocultural background of the people involved. The dominant employment of cultural terms with no equivalent translations and the hierarchical and non-egalitarian Javanese society were the factors motivating the dominant occurrence of the referential and expressive functions of codeswitching.Kajian ini secara spesifik bertujuan untuk 1) menemukan dan menginterpretasikan frekuensi interelasi antara jenis dan fungsi alih kode, dan 2) mendeskripsikan fitur komunikasi forum daring kebudayaan Jawa berdasarkan pola alih kode tersebut. Dengan desain metode campuran, penelitian ini menggunakan data kualitatif untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Datanya adalah ujaran multibahasa dalam sebuah webinar. Hasil penelitian menemukan bahwa 1) beberapa pola alih kode yang sering terjadi adalah: insertion-reference (40.4%), tag-expressive (20.1%), congruent lexicalization-reference (18.0%), congruent lexicalization-expressive (9.5%), intersentential-directive (2.8%), insertion-metalingual (2.1%), congruent lexicalization-metalingual (1.8%), insertion-directive (0.5%), insertion-expressive (0.5%), alternation expressive (0.3%), congruent lexicalization-phatic (0.3%), dan tag-phatic (0.2%). 2) Pola tersebut sesuai dengan karakter peristiwa tutur dan latar belakang sosial budaya masyarakat yang terlibat. Penggunaan istilah-istilah budaya yang dominan tanpa terjemahan yang setara dan masyarakat Jawa yang hirarkis dan non-egaliter menjadi faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya fungsi alih kode referensial dan ekspresif yang dominan.
KEHADIRAN MOTIF CERITA MADAME BOVARY (1856) KARYA GUSTAVE FLAUBERT DALAM HIKAYAT SITI MARIAH (1910--1912) KARYA HADJI MOEKTI: KAJIAN SASTRA BANDINGAN Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1133

Abstract

The presence of Madame Bovary's story motif (1856) in Indonesian literature, especially Hikayat Siti Mariah (1910--1912) provides evidence that there is a reception of similar between French and Dutch colonial or Indonesian. This paper aims to (1) find out the ideas of the two texts in displaying similar story motif, (2) the form of respons from Madame Bovary (1856) in the Hikayat Siti Mariah (1910--1912), and (3) the significance of Madame Bovary's presence (1856) in the Hikayat Siti Mariah (1910--1912) as a social response. This paper uses a comparative literary point of view by considering the social context as a response. The objects are Madame Bovary (1856) by Gustave Flaubert and Hikayat Siti Mariah (1910--1912) by Hadji Moekti and the significance of the presence of Madame Bovary in Indonesian literature. The research data consists of the content or ideas of the two texts, the spirit of age, and the social context. Data interpretation is done by comparing the content or ideas of the two texts by considering the social context of each text. The results obtained are (1) the two texts present ideas against the bourgeois class resistance by using symbols of women and sexuality, (2) the Hikayat Siti Mariah (1910--1912) takes the motive of the story to attack the Dutch capitalists and liberal groups who construct the identities of the colonized subjects, and (3) the presence of the text of Madame Bovary (1856) in Indonesian literature shows a global anti-colonial spirit. Kehadiran motif cerita Madame Bovary (1856) dalam sastra Indonesia terutama Hikayat Siti Mariah (1910--1912) memberikan bukti terdapat resepsi atas semangat dan persoalan yang serupa antara masyarakat Prancis dan tanah jajahan Belanda atau Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk (1) mengetahui gagasan kedua teks tersebut dalam menampilkan motif cerita yang serupa, (2) mengetahui wujud sambutan dari Madame Bovary (1856) dalam teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912), dan (3) mengetahui makna kehadiran Madame Bovary (1856) dalam teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912) sebagai satu respon sosial. Tulisan ini mengunakan sudut pandang sastra bandingan dengan mempertimbangkan konteks sosial sebagai satu respon. Objek tulisan ini adalah Madame Bovary (1856) karya Gustave Flaubert dan Hikayat Siti Mariah (1910--1912) karya Hadji Moekti dan  makna kehadiran teks Madame Bovary dalam sastra Indonesia. Data penelitian ini terdiri atas isi atau gagasan dari kedua teks, semangat zaman, dan konteks sosial. Interpretasi data dilakukan dengan membandingkan isi atau gagasan kedua teks dengan mempertimbangkan konteks sosial masing-masing teks. Hasil yang diperoleh adalah (1) kedua teks menghadirkan gagasan terhadap perlawanan kelas borjuis dengan memanfaatkan simbol perempuan dan seksualitas, (2) teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912) mengambil motif cerita untuk menyerang kaum kapitalis dan golongan liberal Belanda yang mengkonstruksi identitas  subjek terjajah, dan (3) kehadiran teks Madame Bovary (1856) dalam sastra Indonesia menunjukan semangat anti penjajahan yang mengglobal terutama kolonialisme. 
KEARIFAN LOKAL LAMAHOLOT DALAM ANTOLOGI CERPEN KUNTUM KEROKO DI KAKI BUKIT KARYA MAHASISWA PBSI IKTL Wissang, Imelda Oliva
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1466

Abstract

This research aims to describe Lamaholot’s   local wisdom in the form of knowledge, traditions,  and local values in the Anthology of Short Stories Keroko Florests On The Mountain Slope by PBSI IKTL Students. Local wisdom with the noble values contained in it must be protected and maintained, preserved, including preservation through literary works as a creative and aesthetic innovation to maintain and preserve local wisdom as a characteristic and identity of the Lamaholot community. The approach used in this research is a qualitative descriptive approach and the method used is a qualitative method. The results of this research show that there is local wisdom of Lamaholot in the short story anthology Keroko Florests On The Mountain Slope by  PBSI IKTL students, namely (1) local wisdom of farming, (2) local wisdom of ecology, (3) local wisdom of kawen gate, (4) local wisdom of kakan dike-arin sare, (5) gewayan-gelekat local wisdom, and (6) religious local wisdom.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud kearifan lokal Lamaholot berupa pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai lokal dalam Antologi Cerpen Kuntum Keroko di kaki Bukit karya Mahasiswa PBSI IKTL. Kearifan lokal dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya harus dijaga dan dipertahankan, dilestarikan, termasuk pelestarian melalui karya sastra sebagai inovasi yang kreatif dan estetik  untuk tetap mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai  ciri, identitas masyarakat Lamaholot. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yakni pendekatan deskripstif kualitatif dan metode yang diguanakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat kearifan lokal Lamaholot dalam antologi cerpen Kuntum Keroko di kaki Bukit karya Mahasiswa PBSI IKTL, yakni (1) kearifan lokal perladangan, (2) kearifan lokal ekologi, (3) kearifan lokal kawen gate, (4) kearifan lokal kakan dike-arin sare,  (5) kearifan lokal gewayan-gelekat, dan (6) kearifan lokal religius.
FENOMENA SOSIAL DALAM LAGU-LAGU KARYA NURBAYAN: ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK Saragupita, Angela Tanjung; Triyono, Sulis
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1404

Abstract

Nurbayan's songs, such as Mangku Purel, Oplosan, Pokoke Joget, and Doremi, contain an education for the listeners. This research aims to reveal the meaning of the four songs that Nurbayan wanted to convey as the song's creator, based on library studies to deepen lyrics with qualitative descriptive methods through critical discourse analysis approaches from Teun A. van Dijk's theory. The research studies the analysis of text dimensions, which consists of macro (thematic), superstructure (schematic), and micro-structure (semantic, syntactical, stylistic, and rhetorical), social cognitive analysis, and social context analysis. The lyrics are obtained from the YouTube platform of the DC. Production channel. The data analysis, lyrics from four songs are read and associated with each component of Teun A. van Dijk's critical discourse analysis theory. The results of this research explain that the four songs of Nurbayan's creation are seen from the macro (thematic) structure to the social phenomena of night entertainment, alcohol, to gambling. Then from the microstructure there is a special explanation related to the semantics, syntax, stylistics, and rhetorical lyrics of the song. The social cognitive analysis of the lyrics of the four songs explains how Nurbayan as the song's creator provides a comedy-packed education so as not to offend any party. In terms of the social context, Nurbayan wants to illustrate how such negative and controversial actions have no benefit for mankind. Nurbayan invited through his song to self-awareness and to do positive activities for the good of the personal and also the wider community. Lagu-lagu berbahasa Jawa ciptaan Nurbayan seperti Mangku Purel, Oplosan, Pokoke Joget, dan Doremi sekilas dipandang sebagai lagu yang tidak ada artinya. Namun ternyata di dalamnya mengandung nasihat-nasihat yang mengedukasi para pendengarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap makna dari empat lagu yang ingin disampaikan oleh Nurbayan sebagai pencipta lagu. Penelitian ini berbasis studi kepustakaan untuk mendalami lirik dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan analisis wacana kritis dari teori Teun A. van Dijk. Penelitian mengkaji dimensi teks, yang terdiri atas struktur makro (tematik), superstruktur (skematik), dan struktur mikro (semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris), analisis kognisi sosial, serta analisis konteks sosial. Pengumpulan data terkait lirik lagu didapat dari platform Youtube dari saluran DC. Production. Pada tahap analisis data, lirik dari empat lagu dibaca dan dikaitkan dengan setiap komponen teori analisis wacana kritis Teun A. van Dijk. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa empat lagu ciptaan Nurbayan dilihat dari struktur makro (tematik) menceritakan fenomena sosial hiburan malam, alkohol, hingga judi. Kemudian struktur mikro terdapat penjelasan khusus terkait semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris lirik lagu tersebut. Analisis kognisi sosial pada lirik empat lagu tersebut menjelaskan bagaimana Nurbayan sebagai pencipta lagu memberikan edukasi yang dikemas secara komedi agar tidak menyinggung pihak mana pun. Pada segi konteks sosial, Nurbayan ingin mencitrakan bagaimana tindakan negatif dan kontroversial tersebut dapat menyesatkan diri dan tidak memiliki manfaat bagi manusia. Nurbayan mengajak melalui lagunya untuk sadar diri dan melakukan kegiatan positif demi kebaikan pribadi dan juga masyarakat luas.
TINDAK TUTUR KEARIFAN LOKAL YOGYAKARTA PADA FILM-FILM PENDEK DI KANAL YOUTUBE PANIRADYA KAISTIMEWAN Fatonah, Devi Umi; Nurhayati, Endang
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1706

Abstract

This research aims to reveal the types, characteristics and functions of speech acts that show Yogyakarta local wisdom in short films on the Paniradya Kaistimewan YouTube channel. This research uses a sociopragmatic approach with descriptive qualitative research methods. The data in this research is speech in the form of words, phrases, clauses or sentences that show the local wisdom of Ngayogyakarta in short films on the Paniradya Kaistimewan YouTube channel. How to collect data by listening, making transcriptions and writing speeches. The research tool used is the researcher himself, assisted by data cards. How to validate data using semantic validity, theoretical triangulation, and stability reliability. The results of the research show: 1) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "nuwun sewu" and the request directive function, 2) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "nyuwun pangapunten" and the expressive function "nyuwun pangapunten", 3) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "matur nuwun" and the expressive function of saying thank you, 4) direct literal with the characteristics of using the word "mangga" and the directive function of giving orders, 5) direct literal with the characteristics of using the word "injih ” and the representative function of providing an explanation, and 6) directly not literal with the characteristics of using the word “mango” and the directive function of request.Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis, ciri-ciri, dan fungsi tindak tutur yang menunjukkan kearifan lokal Yogyakarta pada film pendek di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiopragmatik dengan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data pada penelitian ini tuturan yang berwujud kata, frasa, klausa, atau kalimat yang menunjukkan kearifan lokal Ngayogyakarta pada film-film pendek di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan. Cara mengumpulkan data dengan menyimak, membuat transkripsi, dan menulis tuturan Alat penelitian yang digunakan yaitu peneliti sendiri dibantu kartu data. Cara mengesahkan data menggunakan validitas semantis, triangulasi teori, dan reliabilitas stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: 1) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “nuwun sewu” dan fungsi direktif permintaan, 2) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “nyuwun pangapunten” dan fungsi ekspresif “nyuwun pangapunten”, 3) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “matur nuwun” dan fungsi ekspresif mengucapkan terima kasih, 4) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “mangga” dan fungsi direktif memberi perintah, 5) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “injih” dan fungsi representatif memberi penjelasan, serta 6) langsung tidak literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “mangga” dan fungsi direktif permohonan.
TIPOLOGI KLAUSA RELATIF BAHASA JAWA RAGAM KRAMA DIALEK SURAKARTA Azizah, Nurul
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1350

Abstract

This study reveals the typology of relative clauses of the Javanese language variety of Surakarta dialect in terms of the theory of relative clauses of Keenan & Comrie (1977). This type of research is descriptive qualitative with three stages of research, namely data collection, data analysis, and presentation of the results of data analysis. Data collection was carried out using an introspective method based on the researcher's knowledge as a Javanese native speaker. Data analysis uses the distribution method. Presentation of data analysis using informal methods. The theory used is the theory of grammatical relations, namely the relative clause (Keenan & Comrie, 1977). The results of this research show that the Javanese krama (BJK) corresponds to the universality of the relative clauses of Keenan & Comrie (1977) which classifies Javanese as a relative subject language (SU). If in a language there is only one relative constituent, that constituent is the subject. This statement is also in accordance with BJK which can only relativize SU. As for relativization in a non-subject position, it is achieved passively. This study investigated the relativization of beneficial, locative, instrumental, and patient SU. Based on the study, the results show that each SU has implications for the presence/absence of dipun words and affixes –aken or –ake. Relation with actors I, II, III also has its own characteristics, especially in relation to the presence of the word dipun and affixes –aken or –ake.Penelitian ini mengungkap tipologi klausa relatif bahasa Jawa ragam krama dialek Surakarta ditinjau dari teori klausa relatif Keenan & Comrie (1977). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan tiga tahap penelitian, yakni pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode introspektif berdasarkan pengetahuan peneliti sebagai penutur jati bahasa Jawa. Analisis data menggunakan metode distribusional atau disebut juga dengan metode agih. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Teori yang digunakan adalah teori grammatical relations, yakni relative clause (Keenan & Comrie, 1977). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa krama (BJK) sesuai dengan keuniversalan klausa relatif Keenan & Comrie (1977) yang mengelompokkan bahasa Jawa sebagai bahasa perelatif subjek (SU). Jika dalam sebuah bahasa hanya terdapat satu konstituen yang direlatifkan, konstituen tersebut adalah subjek. Pernyataan itu sesuai juga dengan BJK yang hanya dapat merelatifkan SU. Adapun perelatifan pada posisi non-subjek ditempuh dengan pemasifan. Penelitian ini mengamati perelatifan SU benefaktif, lokatif, instrumental, dan pasien. Berdasarkan kajian, diperoleh hasil bahwa masing-masing SU berimplikasi pada hadir/tidaknya kata dipun dan afiks –aken atau –ake. Perelatifan dengan aktor I, II, III juga memiliki karakteristik tersendiri terutama dalam kaitannya dengan kehadiran kata dipun dan afiks –aken atau –ake.