cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
KAJIAN FONOLOGI BAHASA JAWA BERDASARKAN TINJAUAN DIAKRONIS Wijayanti, Kenfitria Diah
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1174

Abstract

Comparative historical linguistics can show changes in languages that have kinship relationships. Analysis carried out on comparative historical linguistics can be both synchronous and diachronic. Diachronically the Javanese language has changed from time to time, namely Old Javanese, Middle Javanese, and New Javanese which are still actively used by the speakers. This article focuses on examining changes in phonological aspects of Javanese based on a diachronic review. To analyze the innovation and phonological retention of Proto Austronesian in Javanese, the historical-comparative method is used. The findings contained in this article are: (1) the PAN phoneme reflex can produce regular phoneme change rules (primary rules) in addition to sporadic rules (secondary rules) ); (2) there is some retention and innovation on PAN etymon. The retention of the Javanese phoneme to PAN appears in several consonant phonemes such as * / p /, * / b /, * / z /, * / j /, and / q /, and some vowels such as / a /, / i /, and / u /. Meanwhile, other phonemes are experiencing innovation, both innovation in the form of substitution, split, metathesis, mergers, dissimilation, protesis, and reduplication. Phonological and lexical innovations are significantly more dominant than retention.Linguistik historis komparatif dapat menunjukkan perubahan-perubahan pada bahasa yang memiliki hubungan kekerabatan. Analisis yang dilakukan pada linguistik historis komparatif dapat secara sinkronis maupun diakronis. Secara diakronis bahasa Jawa mengalami perubahan dari masa ke masa yakni dimulai bahasa Jawa Kuno, kemudian bahasa Jawa Tengahan, dan sekarang berkembang bahasa Jawa Baru yang hingga kini masih aktif digunakan oleh penuturnya. Artikel ini berfokus mengkaji perubahan aspek-aspek fonologis pada bahasa Jawa berdasarkan tinjauan diakronis. Metode historis-komparatif digunakan dalam menganalisis fenomena yang terdapat dalam Bahasa jawa terkait inovasi dan retensi fonologis Proto Austronesia. Temuan yang terdapat dalam artikel ini berupa: (1) refleks fonem PAN dapat menghasilkan kaidah perubahan fonem yang teratur (kaidah primer) di samping kaidah sporadis (kaidah sekunder); (2) terdapat beberapa retensi dan inovasi terhadap etimon PAN. Retensi fonem Jawa terhadap PAN tampak pada beberapa fonem konsonan seperti */p/, */b/, */z/, */j/, dan /q/, serta beberapa vokal seperti /a/, /i/, dan /u/. Sementara itu, fonem- fonem lainnya mengalami inovasi, baik inovasi berupa substitusi, split, metatesis, merger, disimilasi, protesis, dan reduplikasi. Secara signifikan inovasi fonologis dan leksikal mendominasi daripada retensi.
SYMPTOMS AND HEALING PRINCIPLES OF PTSD DEPICTED IN THE MOVIE “REDEEMING LOVE” Murtasia, Siti; Novitasari, Nine Febrie; Firdaus, Ahmad Yusuf
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1359

Abstract

Nowadays, many psychological cases have occurred in Indonesia and are spread out almost every day on social media such as sexual abuse, rape, and sexual harassment. Those make people aware and put a concern about their trauma-related issues. People who suffer traumatic events in long-term memory are called experiencing Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Analyzing people with PTSD in movies is one example of how to get familiarized with the symptoms and how to cure PTSD, as we know that as a literary work, movies represent human’s life. This descriptive research studied the symptoms and healing principles undergone by Angel in the movie “Redeeming Love” (2022). The data analysis was done by referring to Kring et. al’s theory (2012) to analyze the symptoms of PTSD and Schiraldi’s (2009) theory to analyze the healing principles of PTSD. The result of this research reveals that the symptoms occurring are intrusive, avoidance, negative mood changes, and arousal. Angel managed the symptoms through some healing principles, they are: manage symptoms, integrated memories, confronting avoidance, feeling safety, intact boundaries, and acceptance feeling. Saat ini, banyak kasus psikologis-traumatis yang terjadi di Indonesia yang tersebar hampir setiap hari di media sosial seperti pelecehan seksual, dan pemerkosaan. Dari peristiwa tersebut, manusia mulai waspada dan peduli tentang hal-hal yang berkaitan dengan trauma. Orang yang mengalami kejadian traumatis dalam ingatan jangka panjang disebut mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mempelajari orang dengan PTSD dalam film adalah salah stau cara untuk mengetahui lebih dekat bagaimana gejala dan cara penyembuhannya karena kita tahu bahwa sebagai suatu bentuk karya sastra, film merepresentasikan kehidupan manusia. Penelitian deskriptif ini menganalisis gejala dan prinsip penyembuhan PTSD oleh Angel dalam film Redeeming Love (2022). Proses analisis data yang dilakukan mengacu pada teori Kring dkk (2012) tentang gejala PTSD dan teori Schiraldi (2009) tentang prinsip penyembuhan PTSD. Dari penelitian ini ditemukan bahwa gejala PTSD yang muncul pada Angel adalah intrusive, penghindaran, perubahan mood dan kognisi negatif, dan arousal. Angel menyembuhkan gejala PTSD yang dialaminya dengan beberapa prinsip penyembuhan yaitu mengelola gejala, menyatukan ingatan, menghadapi penghindaran, merasakan kemananan, batasan yang utuh, dan perasaan menerima.
RESEPSI PEMBACA PERANAKAN TIONGHOA PADA CERPEN “CLARA ATAWA WANITA YANG DIPERKOSA” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Alayya, Syamila Isyqi; Muthmainnah, Atikah; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1491

Abstract

The May 1998 incident has become a historic event for the Indonesian nation, especially the Chinese race, who at that time were victims of the atrocities of the rioting of the indigenous masses. The pain of being a victim then became a collective memory for the Chinese ethnic group which continues to live on to this day. “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” by Seno Gumira Ajidarma is a short story that contains this collective memory. Thus, this study tries to examine the psychology of a Chinese descent reader when they read the short story of “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. There is one reader respondent, who is a Chinese descent female student. In this study, the method used is descriptive qualitative method with data sources derived from readers and literature related to Norman Holland's Reader Response Criticism and the history of the events of May 1998. The method of collecting data is through interviews and interview transcripts. The results obtained are in the form of reception by the Chinese descent reader which is based on collective memories of events happened in May 1998. Apart from reader's past experiences which shape the responds psychologically, reader reception is in the form of rejection of the injustice received by Chinese people which is represented in the short story "Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Peristiwa Mei 1998 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama ras Tionghoa yang pada saat itu menjadi korban kekejaman amuk massa pribumi. Rasa sakit hati menjadi korban pada saat itu lalu menjadi memori kolektif bagi etnis Tionghoa yang terus hidup hingga saat ini. “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” karya Seno Gumira Ajidarma merupakan cerpen yang memuat memori kolektif tersebut. Maka, kajian ini mencoba menelisik kejiwaan pembaca peranakan Tionghoa ketika membaca cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Responden pembaca berjumlah dua orang, yaitu mahasiswi peranakan Tionghoa. Dalam kajian ini, metode yang dipakai adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berasal dari pembaca dan literatur terkait resepsi sastra Norman Holland serta sejarah peristiwa Mei 1998. Metode pengumpulan data melalui wawancara dan transkrip wawancara tersebut. Hasil yang didapat berupa penerimaan pembaca Tionghoa yang didasari pada memori kolektif peristiwa kerusuhan Mei 1998. Selain pengalaman-pengalaman pembaca di masa lalu yang membentuk penerimaannya secara psikologis, resepsi pembaca berupa penolakan terhadap ketidakadilan yang diterima orang Tionghoa yang direpresentasikan dalam cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”.
KEMANFAATAN DAN MAKNA KOSAKATA JAWA KUNO/SANSKERTA DI RUANG PUBLIK Nardiati, Sri; Riani, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1338

Abstract

Currently, the Javanese Kuno or Sanskrit language has been used to name several government buildings in the Special Region of Yogyakarta. However, the vocabulary is no longer used in daily communication because it is pressed by the use of Javanese, Indonesian, and foreign languages. In fact, the Kuno Javanese language is a cultural heritage that needs to be preserved. For this reason, this study aims to describe the categories, structure, and meaning of Javanese Kuno vocabulary as the name of an institution or institution in DIY. Research data in the form of names of institution/ institutions in the DIY area. Data is collected by photographing and then transliterated. Structural theory with its qualitative approach, distribution method, and technique for direct elements (BUL) is used to analyze data. Based on the results of the analysis, it is known that all names of institutions with elements of classical vocabulary (Javanese, Kuno, and Sanskrit) are categorized as nominal phrases. Elements that are positioned on the far left have the status of being explained, elements that are in the order on the right have the status of explaining, for example Grha Wana Bhakti Yasa. Names in public spaces that use classical vocabulary add at least two elements, such as Sabha Pramana, while the most complex number six elements, such as Kunda Niti Mandala and Tata Sasana. There are three elemental meaning relationships, namely the function meaning relationship, the hope meaning relationship, and the identity meaning relationship. The results of this study can be used as material for determining self-naming policies, implementing conservation, and revitalizing the Kuno Javanese language.Saat ini bahasa Jawa Kuno atau Sanskerta telah dimanfaatkan untuk menamai beberapa gedung pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, kosakata tersebut tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari karena terdesak oleh penggunaan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Padahal, bahasa Jawa Kuno merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kategori, struktur, unsur, dan hubungan makna antarunsur  kosakata Jawa Kuno sebagai nama Lembaga atau institusi  di DIY. Data penelitian berupa nama-nama lembaga/institusi di wilayah DIY. Data dikumpulkan dengan cara difoto kemudian ditransliterasikan. Teori struktural dengan pendekatan kualitatif, metode agih, dan teknik bagi unsur langsung (BUL) digunakan untuk menganalisis data. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa semua nama lembaga yang berunsur kosakata klasik (bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta) berkategori frasa nominal. Unsur yang berposisi di urutan paling kiri berstatus diterangkan, unsur yang berada di urutan sebelah kanan berstatus menerangkan, misalnya Grha Wana Bhakti Yasa. Nama di ruang publik yang menggunakan kosakata klasik sekurang-kurangnya berjumlah dua unsur, misalnya Sabha Pramana, sedangkan yang paling kompleks berjumlah enam unsur, misalnya Kunda Niti Mandala sarta Tata Sasana. Hubungan makna unsurnya ada tiga, yaitu hubungan makna fungsi, hubungan makna harapan, dan hubungan makna identitas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penentuan kebijakan pemberian nama diri, pelaksanaan konservasi, dan revitalisasi bahasa Jawa Kuno.
UNEN-UNEN AJARAN KARMAPHALA DALAM NASKAH KETHOPRAK “DARAH PRAMBANAN” DENGAN PERSPEKTIF FALSAFAH HIDUP BUDDHISME-JAWA Mardhina, Ani; Endraswara, Suwardi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1518

Abstract

Unen-unen (expressions) of Javanese philosophy, which contain many teachings, are currently unconsciously less preserved. In fact, these unen-unen can be used as a guideline. In life, this guideline is expected to create goodness for oneself and others. This goodness can be achieved if a person does a good thing as well, and vice versa. Generally, Javanese people are familiar with the term “ngundhuh wohing pakarti” or what is often called the law of karmaphala in Buddhist beliefs. A description that shows human life coherently and contains many teachings is the kethoprak manuscript. A script that is superior and contains many teachings, especially the karmaphala teachings and contains Javanese wisdom values that are relevant to the unen-unen of Javanese philosophy is a kethoprak manuscript, entitled “Darah Prambanan” by Brian Riangga Dhita. Thus the purposes of this research are to 1) describe the types of karmaphala based on where the karma is fruitful and to describe the philosophical expressions of Javanese in the script “Darah Prambanan”; 2) describe the expressions and the actions of the characters in the script “Darah Prambanan” which the Buddism-Javanese perspective; 3) describe the function of karmaphala teachings in life according to the script. The researcher will collect data and present the results descriptively with an ethnographic approach through data cards which will later be analyzed using the content analysis method. So that the reader will know the words and actions of the characters in the kethoprak script “Darah Prambanan” which contains elements of the teachings of karmaphala with the Javanese-Buddhism philosophy perspective of life. This study found 13 conversational sentences and 1 description that contain karmaphala teachings with 6 types of kusala kamma (good karma) and 7 types of akusala kamma (bad karma). While the unen-unen of Javanese philosophy of life that is found is about the philosophy of life when complacent, namely 1) adigang, adigung, adiguna; and 2) sak begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada. When facing trials, namely 1) bandha titipan, pangkat sampiran, nyawa gadhuhan; 2) sumebar ron-ronaning kara; 3) nrima ing pandum, and the unen-unen of Javanese philosophy at the time of becoming a ruler are takwa, alert purba wasesa, gemi nastiti, ambeg parama arta, prasaja, satya, blaka, legawa. So from this description, Buddhist and Javanese beliefs both have guidelines for carrying out life. In addition, the teachings of life that is found in this study are responsibility, fairness, patience, and not arbitrary.Unen-unen (ungkapan) falsafah Jawa yang memuat banyak ajaran dewasa ini secara tidak sadar kurang dilestarikan. Padahal, unen-unen tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah pedoman. Dalam kehidupan, pedoman ini diharapkan dapat menciptakan suatu kebaikan bagi diri manusia itu sendiri maupun orang lain. Kebaikan ini dapat dicapai apabila seseorang melakukan sebuah kebaikan pula, begitupun sebaliknya. Umumnya, masyarakat Jawa mengenal dengan istilah “ngundhuh wohing pakarti” atau yang sering disebut dengan hukum karmaphala dalam kepercayaan Buddhis. Sebuah gambaran yang menunjukkan kehidupan manusia secara runtut dan memuat banyak ajaran adalah naskah kethoprak. Naskah kethoprak yang unggul dan memuat banyak ajaran terutama ajaran karmaphala serta memuat nilai-nilai kearifan Jawa yang relevan dengan unen-unen falsafah Jawa adalah naskah kethoprak dengan judul “Darah Prambanan” karya Brian Riangga Dhita. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mendeskripsikan jenis karmaphala berdasarkan tempat karma itu berbuah dan unen-unen falsafah Jawa yang terdapat dalam naskah “Darah Prambanan”; 2) mendeskripsikan keterkaitan ungkapan dan tindakan dari tokoh dalam naskah tersebut dengan perspektif Buddhisme-Jawa; dan 3) mendeskripsikan fungsi ajaran karmaphala dalam kehidupan sesuai dengan naskah tersebut. Peneliti mengumpulkan data dan memaparkan hasilnya secara deskriptif dengan pendekatan etnografi melalui kartu data yang dianalisis dengan metode analisis konten. Sehingga pembaca akan mengetahui ucapan dan tindakan dari tokoh dalam naskah “Darah Prambanan” yang memuat unen-unen ajaran karmaphala dengan perspektif falsafah hidup Buddhisme-Jawa. Dari penelitian ini ditemukan 13 kalimat percakapan dan 1 keterangan yang memuat ajaran karmaphala dengan jenis kusala kamma (karma baik) berjumlah 6 buah dan akusala kamma (karma buruk) berjumlah 7 buah. Sedangkan unen-unen falsafah hidup Jawa yang ditemukan adalah mengenai falsafah hidup pada saat terlena, yakni 1) adigang, adigung, adiguna; dan 2) sak begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada. Saat menghadapi cobaan yakni 1) bandha titipan, pangkat sampiran, nyawa gadhuhan; 2) sumebar ron-ronaning kara; 3) nrima ing pandum, dan unen-unen falsafah Jawa pada saat menjadi penguasa adalah takwa, waspada purba wasesa, gemi nastiti, ambeg parama arta, prasaja, satya, blaka, legawa. Sehingga dari uraian tersebut, dalam kepercayaan Buddhis dan Jawa sama-sama memiliki pedoman untuk melaksanakan kehidupan. Selain itu, ajaran hidup yang ditemukan dalam penelitian ini adalah tanggung jawab, adil, sabar, dan tidak semena-mena. 
JAVENGLISH (WHEN JAVANESE SPEAK ENGLISH WITH A JAVANESE ACCENT): AN ANALYSIS OF SOCIAL MEDIA POSTS Fitria, Tira Nur
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1189

Abstract

An accent is a way of pronouncing something unique in a particular language, and specific to a country, region, or social class. Recently, the 'Javanese accent' trend has been buzzing on social media. The viral Java accent began when a content creator from Surabaya, East Java, made a video that featured Javanese accents in several words. This research investigates the phenomenon of Javenglish which occurs when Javanese people speak English with a Javanese accent in Instagram Reels @natkenira. This research employs a descriptive qualitative approach. The analysis shows that 60 English words from 7 Reels videos are pronounced with a Javanese accent. Indonesian speakers of English can be influenced by the accent/dialect of their mother tongue when speaking English. This causes variations of letter sounds, both consonants and vowels. Javanese style in speaking English is sometimes related to the “medok” accent as the most recognizable characteristic of the Javanese language. This character may be difficult to remove because of genetic inheritance. An accent is a characteristic form distinctive by pronunciation, style, and features of a certain language often linked with certain social groups, usually, people hope members and groups of this social language use style or speech characteristics. There are 60 words with Javenglish pronunciation in the social media content of Instagram Reels @natkenira. Similar research is still possible to conduct and can provide input for this research. In further research, the number of research subjects can be added to get maximum results. Baru-baru ini, tren 'aksen Jawa' sedang ramai di media sosial. Awal mula viralnya aksen Jawa adalah ketika seorang content creator asal Surabaya, Jawa Timur membuat video yang menampilkan aksen Jawa dalam beberapa kata. Penelitian ini menyelidiki fenomena Javenglish (ketika orang Jawa berbicara bahasa Inggris dengan Aksen Jawa) di Reels Instagram @natkenira. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa 60 kata bahasa Inggris dari 7 video Reels diucapkan dengan aksen Jawa. Penutur bahasa Inggris Indonesia dapat dipengaruhi oleh aksen/dialek bahasa ibu mereka dalam berbicara bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan variasi bunyi huruf baik konsonan maupun vokal. Gaya bahasa Jawa dalam berbicara bahasa Inggris terkadang dikaitkan dengan aksen “medok” sebagai ciri khas bahasa Jawa yang paling mudah dikenali. Karakter ini mungkin sulit dihilangkan karena pewarisan genetik. Aksen adalah suatu bentuk ciri yang khas melalui pelafalan, gaya, dan ciri-ciri bahasa tertentu yang sering dikaitkan dengan kelompok kelompok sosial tertentu, biasanya orang berharap anggota dan kelompok sosial ini menggunakan gaya atau ciri tutur. Aksen sebagai cara mengucapkan sesuatu yang unik dalam bahasa tertentu, dan khusus untuk suatu negara, wilayah, atau kelas sosial. Terdapat 60 kata yang mengandung Javenglish di media sosial Reels Instagram @natkenira. Penelitian serupa masih dimungkinkan untuk menambah dan memberikan masukan bagi penelitian ini. Pada penelitian selanjutnya, jumlah subjek penelitian dapat ditambah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
POLA PERUBAHAN FONOLOGI ANTARA BAHASA MINANGKABAU UMUM DAN SUBDIALEK MINANGKABAU SELAYO Razin, Thariq; Subiyanto, Agus
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1719

Abstract

This study aims to formulate the rules that apply to the pattern of phonological changes between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language subdialect based on distinguishing features in the study of generative transformation phonology. This research is a comparative descriptive of sound changes in general Minangkabau language and Selayo Minangkabau language subdialect. This research took three stages, namely collection, analysis, and presentation. Collection includes observation and interview. Analysis includes reduction. Presentation includes the use of International Phonetics Alphabeth symbols and narration. The results of the analysis show that there are sound differences that occur between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language in the form of vowel changes and deletions. Vowel changes occur in the form of alternation of the vowel /a/ in general Minangkabau then becomes the vowel /e/ in Selayo Minangkabau. This vowel change occurs in two positions, namely the end of the word before the consonants /k/ and /h/ and the end of the word without any consonants or vowels. Sound deletion occurs in the form of the removal of the vowel /i/ in general Minangkabau and then becomes /Ø/ in Selayo Minangkabau. Therefore, Selayo Minangkabau always emphasizes the vowel /u/ at the end of words because the deletion of the vowel /i/ always occurs after the vowel /u/ in Selayo Minangkabau.Penelitian ini bertujuan merumuskan kaidah yang berlaku terhadap pola perubahan fonologi antara bahasa Minangkabau umum dan subdialek bahasa Minangkabau Selayo berdasarkan fitur pembeda dalam kajian fonologi transformasi generatif. Penelitian ini merupakan deskriptif komparatif perubahan bunyibahasa Minangkabau umum dan subdialek bahasa Minangkabau Selayo. Penelitian ini menempuh tiga tahap, yaitu pengumpulan, analisis, dan penyajian. Pengumpulan meliputi observasi dan wawancara. Analisis meliputi reduksi. Penyajian meliputi penggunaan simbol International Phonetics Alphabeth dan narasi. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan bunyi yang terjadi antara bahasa Minangkabau umum dan bahasa Minangkabau Selayo berupa perubahan vokal dan pelesapan. Perubahan vokal terjadi dalam bentuk pergantian vokal /a/ dalam bahasa Minangkabau umum kemudian menjadi vokal /e/ dalam bahasa Minangkabau Selayo. Perubahan vokal ini terjadi di dua posisi, yaitu akhir kata sebelum konsonan /k/ dan /h/ dan akhir kata tanpa ada konsonan maupun vokal. Pelesapan bunyi terjadi dalam bentuk penghilangan vokal /i/ dalam bahasa Minangkabau umum kemudian menjadi /Ø/ dalam bahasa Minangkabau Selayo. Oleh sebab itu,bahasa Minangkabau Selayo selalu menonjolkan vokal /u/ di akhir kata karena pelesapan vokal /i/ selalu terjadi setelah vokal /u/ dalam bahasa Minangkabau Selayo.This study aims to formulate the rules that apply to the pattern of phonological changes between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language subdialect based on distinguishing features in the study of generative transformation phonology. This research is a comparative descriptive of sound changes in general Minangkabau language and Selayo Minangkabau language subdialect. This research took three stages, namely collection, analysis, and presentation. Collection includes observation and interview. Analysis includes reduction. Presentation includes the use of International Phonetics Alphabeth symbols and narration. The results of the analysis show that there are sound differences that occur between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language in the form of vowel changes and deletions. Vowel changes occur in the form of alternation of the vowel /a/ in general Minangkabau then becomes the vowel /e/ in Selayo Minangkabau. This vowel change occurs in two positions, namely the end of the word before the consonants /k/ and /h/ and the end of the word without any consonants or vowels. Sound deletion occurs in the form of the removal of the vowel /i/ in general Minangkabau and then becomes /Ø/ in Selayo Minangkabau. Therefore, Selayo Minangkabau always emphasizes the vowel /u/ at the end of words because the deletion of the vowel /i/ always occurs after the vowel /u/ in Selayo Minangkabau.
NOSTALGIA, JATI DIRI, DAN SIMBOL SAKRAL EMPAT PUISI PADI DALAM PERSPEKTIF EKOKRITIK Dewi, Novita
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1157

Abstract

 This qualitative-interpretative research aims to uncover the imagination and meaning of rice in four poems from Southeast and East Asian countries: Vietnam, Singapore, Indonesia, and Korea. Rice is an essential part of Asian culture. It has become a significant and spiritual symbol for the people in this region, serving as more than simply a basic meal. The study seeks to investigate whether the cultural and spiritual values of rice have resonance and dynamics with the current world concerns, such as the deterioration of social life and the devastation of the natural environment. The data in the form of words from the following poems, i.e., “The Poem I Can’t Yet Name” by Nguyễn Phan Quế Mai, Eileen Chong’s “Burning Rice”, “Padi yang Tak Berputik” by Ni Wayan Kristina, and “Spoonful of Rice” by Hi-Dong Chai are procured from both printed and internet sources. The analysis is carried out using techniques that are commonly employed in poetry analysis, i.e., reading, inferring, and interpreting. Insights from ecocritical perspectives are also taken into account in the analysis. The results showed that (1) Locality colored each poem in accordance with the different backgrounds of the poets; (2) Rice emerges as nostalgia, identity, and a symbol of sacred culture. Even if it may be diminished with time, modernity, and environmental damage, the varied imaginations and meaning-making of rice are still treasured here.Penelitian kualitatif-interpretatif ini bertujuan menguak imajinasi dan makna padi dalam puisi dari empat negara di Asia Tenggara dan Asia Timur, yakni Vietnam, Singapura, Indonesia, dan Korea. Padi menjadi bagian penting dalam kehidupan bangsa Asia. Lebih dari sekadar sumber makanan pokok, padi menjadi simbol yang hakiki dan suci bagi masyarakat di kawasan ini. Kajian ini hendak melihat apakah nilai-nilai kultural dan spiritual padi relevan dan berdinamika dengan tantangan global saat ini, antara lain rusaknya lingkungan alam dan merosotnya kehidupan sosial. Data penelitian yang dipakai adalah larik-larik puisi berikut yang diambil dari sumber cetak dan internet: “The Poem I Can’t Yet Name” [Puisi Tanpa Nama] karya Nguyễn Phan Quế Mai, “Burning Rice” [Nasi Gosong] oleh Eileen Chong, “Padi yang Tak Berputik” karya Ni Wayan Kristina, dan “Spoonful of Rice” [Sesendok Nasi] karya Hi-Dong Chai. Analisis data dilakukan melalui metode yang lazim dipakai dalam mengkaji puisi, yakni pembacaan, penafsiran, dan pemaknaan. Perspektif teori ekokritik juga dipakai dalam analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Lokalitas mewarnai setiap puisi sesuai dengan latar belakang masing-masing penyair; (2) Padi direpresentasikan dan dimaknai sebagai nostalgia, identitas, dan penanda kultural yang sakral. Beragam imaginasi dan pemaknaan tentang padi ini tetap dirawat meskipun mungkin melesap bersama waktu, modernitas, dan kerusakan lingkungan.
KETIDAKSANTUNAN BAHASA LARANGAN DI RUANG PUBLIK Rahmawati, Laili Etika; Rohmah, Rahayu Dwi; Ariyanto, Zahy Riswahyudha
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.922

Abstract

Language impoliteness in public spaces is clearly illustrated by the use of language that tends to be rude, threatening the interlocutor, and insulting. This impolite language behavior is usually caused by the speaker's emotions to have a psychological impact on the interlocutor. The purpose of this study is to describe the form of impoliteness of forbidden language in public spaces. The research method used is descriptive qualitative. The techniques used in data collection are listening techniques and note-taking techniques. The data analysis technique in exploring the problem is using the referential agih and equivalent methods. The results show that the form of impoliteness in the language of prohibition includes the language of prohibition of littering with a total of nineteen impolitenesses, while the language of prohibition precedes while driving amounts to eight impolitenesses. Speeches are not accidentally carried out to provide a psychological threat so that the interlocutor is aware of the impact that will be obtained when violating the forbidden language.Ketidaksantunan berbahasa di ruang publik tampak jelas digambarkan dengan adanya penggunaan bahasa yang cenderung kasar, mengancam lawan tutur, dan menghina. Perilaku bahasa yang tidak santun ini biasanya disebabkan oleh emosi penutur untuk memberikan dampak psikologis kepada lawan tutur. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk ketidaksantunan bahasa larangan di ruang publik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik, teori pragmatik untuk mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa di ruang publik. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini merupakan sumber data tulis yang berwujud pernyataan atau tuturan diungkapkan melalui gambar, spanduk, baliho, dan media lainnya. Sumber data yang digunakan didapat dari hasil riset di lapangan. Data dari penelitian ini berupa wujud tuturan ketidaksantunan bahasa larangan di ruang publik dilihat dari bentuk kebahasaan yang digunakan. Tahapan penelitian ini di antaranya (1) pengumpulan data, (2) identifikasi bentuk-bentuk ketidaksantunan bahasa larangan, (3) klasifikasi dan kategorisasi, (4) analisis data ketidaksantunan bahasa larangan, (5) penafsiran makna, (6) penyajian hasil, dan (7) penyimpulan. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data yakni teknik simak dan teknik catat. Teknik analisis data dalam menggali permasalahan yaitu menggunakan metode agih dan padan referensial. Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teori. Hasil penelitian ini di antaranya: (1) ketidaksantunan bahasa larangan meliputi bahasa larangan membuang sampah sembarangan sejumlah sembilan belas ketidaksantunan, (2) bahasa larangan mendahului saat berkendara berjumlah delapan ketidaksantunan. Tuturan tersebut dilakukan secara sengaja untuk memberikan ancaman psikologis agar lawan tutur menyadari konsekuensi yang akan diterima jika melanggar bahasa larangan.
VOKAL NASAL BAHASA ACEH DALAM KAMUS KEMARITIMAN ACEH-INDONESIA Rusli, Herman; Wildan, NFN; Nuthihar, Rahmad; Mukhlis, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1242

Abstract

 This article discussed the distribution of nasal vowels in the Acehnese language in the Maritime Dictionary of Aceh-Indonesia. The nasal vowels included were /ã/, /ĩ/, /ũ/, /ɛ/̃, /ɔ̃/, /ʌ/̃, and /ɯ̃/. The data source for this research was the Aceh-Indonesia Dictionary, published by the Aceh Provincial Language Center, Ministry of Education and Culture Research and Technology, in 2021. This study employed a phonological approach with the theory of distinctive features. The research detailed the distribution of nasal vowels, including their frequency of occurrence and syllable positions. To achieve high accuracy in terms of nasal vowel occurrence frequency and syllable positions, the data was processed using the Antconc software. The research findings showed that maritime domain nasal vowels in the Acehnese language consisted of noun (n) and verb (v) word classes. There were eight nasal vowels in the noun class and two nasal vowels in the verb class. Among all nasal vowels in the Acehnese language, the vowels /ɛ/, /ɔ̃/, and /ɯ̃/ were not found in the Maritime Dictionary of Aceh-Indonesia. The research results also demonstrated that some nasal vowels were formed due to reduplication and onomatopoeia. In terms of syllable position, Acehnese nasal vowels were only found in the middle and at the end of syllables. Nasal vowels in the initial syllable position of the Acehnese language could not form words related to maritime matters. Consequently, it could be concluded that nasal vowels were not productive in the maritime vocabulary of the Acehnese la-nguage.Artikel ini membahas distribusi vokal nasal bahasa Aceh dalam Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia. Vokal nasal dimaksud meliputi /ã/, /ĩ/, /ũ/, /ɛ/̃, /ɔ̃/, /ʌ/̃, dan /ɯ̃/. Sumber data penelitian ini adalah Kamus Aceh-Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh, Kemdikbudristek, tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan fonologi dengan teori fitur distingtif. Penelitian ini menjabarkan distribusi vokal nasal yang meliputi frekuensi kemunculan vokal nasal dan melihat posisi silabel. Untuk memperoleh hasil keakuratan yang tinggi terkait frekuensi kemunculan vokal nasal dan posisi silabel, data diolah dengan perangkat lunak Antconc. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vokal nasal bidang kemaritiman dalam bahasa Aceh terdiri atas kelas kata nomina (n) dan verba (v). Terdapat delapan vokal nasal pada kelas nomina dan dua vokal nasal pada kelas verba. Dari semua vokal nasal dalam bahasa Aceh, vokal /ɛ/, /ɔ̃/, dan /ɯ̃/ tidak ditemukan dalam Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia. Hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa beberapa vokal nasal terbentuk akibat reduplikasi dan onomatope. Ditinjau dari posisi silabel, vokal nasal bahasa Aceh hanya berada di tengah silabel dan di akhir silabel. Vokal nasal pada posisi awal silabel bahasa Aceh tidak dapat membentuk kata yang berkaitan dengan kemaritiman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa vokal nasal tidak produktif dalam perbendaharaan kosakata bahasa Aceh bidang maritim.