cover
Contact Name
Hadi Riyadi
Contact Email
jurnalgizidietetik@apps.ipb.ac.id
Phone
+628984223735
Journal Mail Official
jurnalgizidietetik@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia, 16680
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik
ISSN : -     EISSN : 28300890     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik (Journal of Nutritional Science and Dietetics) merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan berbagai artikel penelitian tentang ilmu gizi dan dietetik, yang berhubungan dengan aspek biokimia gizi, gizi klinik, gizi masyarakat, gizi olahraga, dietetik, komponen pangan untuk kesehatan, suplementasi dan fortifikasi gizi, ketahanan pangan dan gizi, pendidikan dan konseling gizi, serta aspek sosioekonomi dan budaya gizi, termasuk regulasi dan informasi gizi dan dietetik.
Articles 140 Documents
Laporan Kasus: Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Anak dengan Langerhans Cell Histiocytosis (Lch) Multi Sistem on Kemoterapi Initial Treatment, Gizi Buruk Perawakan Sangat Pendek : Case Report: Nutrition Care Process in Child with Langerhans Cell Histiocytosis (LCH) Multi System on Chemotherapy Initial Treatment, Severe Malnutrition with Stunting Andi Nur Rahmah Kurnia, Sari; Nofi, Lora Sri; Fitrianti, Suci; Damayanthi, Evy
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 2 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.2.78-84

Abstract

Langerhans Cell Histiocytosis (LCH) merupakan kondisi idiopatik yang ditandai dengan proliferasi sel langerhans yang abnormal. Gizi buruk yang disebabkan oleh penyakit berdampak terhadap kehilangan zat gizi secara abnormal, peningkatkan pengeluaran energi, atau penurunan nafsu makan. Kasus adalah seorang anak laki-laki berusia 2 tahun yang didiagnosis malnutrisi berat setelah menderita LCH setahun yang lalu. Asupan makanan SMRS tidak adekuat (65% RDA), dan status gizi buruk (Z-Skor LiLA/U <-3SD). Hasil asesmen menunjukkan adanya anemia, hipoalbuminemia dan diare. Terdapat kehilangan masa lemak dan otot, muka terlihat lebih tua, baggy pant yang sesuai dengan kondisi marasmus. Diberikan formula yang mengandung protein terhidrolisis ekstensif 8x75 mL dari, namun karena diare memburuk sehingga diberikan TPN karena dicurigai terjadi malabsorbsi. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan asupan masih tidak adekuat namun cenderung meningkat, frekuensi diare menurun menjadi 2 kali sehari dan masih terlihat tanda klinis malnutrisi. Walaupun belum mencapai tujuan intervensi namun kondisi pasien lebih baik dibandingkan sebelum intervensi.
Analisis Sensori dan Kadar Polifenol Minuman Fungsional Teh Bunga Telang (Clitoria ternatea L) dan Kurma (Phoenix dactylifera L) : Sensory analysis and polyphenol content of functional drinks of butterfly pea flower tea (Clitoria ternatea L) and date palm (Phoenix dactylifera L) Anwar, Khoirul; Khoirunnisaa , Tasya
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 2 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.2.120-127

Abstract

Functional drinks are drinks that contain elements of nutrients or non-nutrients and can have a positive effect on the health of the body. Polyphenols are a component of functional drinks that have physiological functions for the body. This study aims to determine the levels of polyphenols in tea from butterfly pea flower and date palm. The design used in this study was a completely randomized design with one factor and five levels of three replications. The treatment factor was the ratio of butterfly pea flower tea and date palm extract 70:30, 60:40, 50:50, 40:60 and 30:70 (v/v). The materials used for the manufacture of the product are butterfly pea flowers, dates and water. Tests carried out on tea from butterfly pea flower and date palm products were color intensity test, pH test, total polyphenol test and sensory analysis. The study used the ANOVA statistical test with a significance of ρ=0.05. The results of the polyphenol content test showed that the tea from butterfly pea flower and date palm formulation with a ratio of 40:60 had the highest polyphenol content with a value of 375.7 mg/kg. The formulation of the tea from butterfly pea flower and date palm with a ratio of 70:30 is the best formula with an L* value of 5.178, a* value -1.688, b* value of 1.185, pH value of 7.47, polyphenol content of 203.7 mg/kg, deep bluish green color, strong butterfly pea flower aroma, and a slightly sweet taste. The formulation of tea from butterfly pea flower and date palm with a ratio of 40:60 has the highest levels of polyphenols and has a deep bluish green color, strong butterfly pea aroma, and a slightly sweet taste.
Pengembangan Biskuit Substitusi Tepung Kulit Singkong dan Labu Kuning sebagai Camilan Tinggi Serat Penderita Diabetes Melitus: Development of Biscuit with The Substitution of Cassava Peel Flour and Pumpkin Flour as a High-Fiber Snack for Diabetes Mellitus Patients Saputra, Aldi Ananda; Dewi, Risti Kurnia; Elnovriza, Deni
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.175-182

Abstract

Penyakit diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penyakit komplikasi bahkan kematian. Jumlah penderita diabetes melitus diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya. Upaya untuk pencegahan diabetes melitus yaitu mengonsumsi makanan dengan kandungan tinggi serat dan tinggi beta-karoten. Hal tersebut dapat menjaga kadar gula darah penderita diabetes melitus. Penelitian ini dilakukan untuk untuk mendapatkan formula terbaik biskuit tepung kulit singkong dan tepung labu kuning untuk menjaga kadar gula darah penderita diabetes melitus. Desain penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Produk dibuat dengan empat taraf perlakuan yang terdiri dari F0) (formula standar), F1 (25% tepung kulit singkong), F2 (30% tepng kulit singkong), dan F3 (35% tepung kulit singkong). Variabel dalam penelitian ini yaitu uji organoleptik dan kandungan gizi. Uji organoleptik melibatkan 30 orang panelis semi terlatih. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan ANOVA dilanjutkan dengan Uji Mann Whitney sebagai uji lanjut pada data yang menunjukkan perbedaan nyata. Berdasarkan hasil uji organoleptik, formula yang paling disukai panelis adalah F1 dengan karakteristik mutu warna agak terang, aroma agak harum, rasa agak gurih dan tekstur agak renyah. Berdasarkan uji kandungan zat gizi, formula pada F1 memenuhi klaim yang diharapkan yaitu produk berpotensi sebagai pangan tinggi serat dan tinggi beta-karoten dengan kandungan protein 5,32%, lemak 35,31%, karbohidrat 42,76%, serat 4,26%, dan beta-karoten 6303,47 mcg/100 g. Oleh sebab itu, formula pada F1 adalah formula terbaik yang memiliki kandungan tinggi serat dan beta-karoten yang dapat menjaga kadar gula darah untuk penderita diabetes melitus.
Pengembangan Biskuit dengan Penambahan Biji Rami Sebagai Finger Food Bagi Baduta dengan Defisiensi Omega-3: Development of Biscuits with the Addition of Flax Seeds as Finger Food for Toddlers with Omega-3 Deficiency Ekayanti, Ikeu; Maherarti, Alexandra Regna Rosari Angger
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.164-174

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk biskuit dengan penambahan biji rami sebagai finger food bagi baduta dengan defisiensi Omega-3 Penelitian berupa experimental study dengan rancangan acak lengkap terdiri dari tiga formula dengan perbandingan shortening: biji rami giling F0 (100%:0%), F1 (93%:7%), serta F2 (87%:13%). Prosedur penelitian uji organoleptik, analisis proksimat, serta analisis profil asam lemak dilakukan untuk menentukan formula terpilih dengan hasil F1. Biskuit formula terpilih mengandung kadar air 3,17%, kadar abu 1,36%, lemak 31,17%, protein 5,13%, karbohidrat 59,14%, omega-3 0,64 g/100 g biskuit, serta omega-6 23,64 g/100 g biskuit. Satu takaran saji biskuit setara 2 keping (37,6 g) memberikan kontribusi energi 15% (203 kkal) terhadap Angka Kecukupan Energi (AKE) anak usia 1-3 tahun.
Hubungan Tingkat Stres, Emotional Eating, dan Pengetahuan Gizi dengan Konsumsi Makanan Cepat Saji Mahasiswa IPB: Correlation between Stress Level, Emotional Eating, and Nutritional Knowledge with Fast Food Consumption among IPB Students Kamilah, Larissa; Riyadi, Hadi
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.156-163

Abstract

Makanan cepat saji merupakan makanan yang memiliki kandungan kalori, lemak, garam, dan gula yang tinggi tetapi rendah akan protein dan mikronutrien. Semakin meningkatnya beban akademik dapat membuat makanan cepat saji yang praktis menjadi pilihan menarik bagi kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stres, emotional eating, dan pengetahuan gizi dengan konsumsi makanan cepat saji pada mahasiswa gizi dan non gizi di IPB. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan melibatkan 30 mahasiswa gizi serta 30 mahasiswa non gizi. Data karakteristik subjek, tingkat stres, emotional eating, pengetahuan gizi, dan frekuensi konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Sebagian besar subjek berada pada tingkat stres sedang, yaitu 73,3% pada mahasiswa gizi dan 70,0% pada mahasiswa non gizi. Mayoritas mahasiswa gizi termasuk dalam kategori emotional eater (66,7%), sementara mayoritas mahasiswa non gizi termasuk dalam kategori non emotional eater (56,7%). Sebagian besar subjek memiliki pengetahuan gizi yang baik, yaitu 56,7% pada mahasiswa gizi dan 50,0% pada mahasiswa non gizi. Frekuensi konsumsi makanan cepat saji lebih tinggi pada mahasiswa gizi (37,00±18,45) dibandingkan mahasiswa non gizi (34,60±17,92). Terdapat perbedaan signifikan antara mahasiswa gizi dan non gizi pada tingkat stres dan pengetahuan gizi. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara tingkat stres dengan emotional eating serta antara tingkat stres dan pengetahuan gizi dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji (p>0,05). Namun, terdapat hubungan positif yang signifikan antara emotional eating dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji (p<0,05).
Budaya Pantangan dan Pola Asuh Makan dengan Keragaman Pangan dan Status Gizi Balita di Suku Dayak: Cultural Taboos and Eating Patterns with Food Diversity and Nutritional Status of Toddlers in the Dayak Tribe Kartika, Tri Setia Candra; Tanziha, Ikeu
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.147-155

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan balita sangat dipengaruhi oleh kualitas gizi yang diberikan. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tumbuh kembang anak adalah status gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan budaya pantangan makan dan pola asuh makan dengan keragaman pangan dan status gizi balita di Suku Dayak Provinsi Kalimantan Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023 pada 100 balita bersuku Dayak. Penelitian telah lolos kaji etik dengan nomor 1098/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2023. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga metode yaitu wawancara, pengisian kuesioner, dan pengukuran antropometri secara langsung. Penelitian menunjukkan sebagian besar subjek tidak melakukan budaya pantangan makan (80%). Hampir seluruh subjek memiliki pola asuh makan yang tepat (97%). Keragaman pangan subjek sebagian besar terkategori sedang (50%). Status gizi subjek sebagian besar normal, tetapi masih terdapat balita dengan status gizi underweight (18%), stunting (24%), dan wasting (17%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan keragaman pangan (p=0,006). Selain itu, didapatkan hubungan yang signifikan antara keragaman pangan dengan status gizi balita TB/U (p=0,020). Tetapi, tidak ditemukan hubungan signifikan antara budaya pantangan makan dan pola asuh makan dengan keragaman pangan dan status gizi pada indikator lain yang tidak disebutkan.
Cream Soup Instan Substitusi Tepung Cangkang Udang dalam Upaya Meningkatkan Kadar Kalsium sebagai Selingan MP-ASI: Instant Cream Soup with Shrimp Shell Flour Substitution to Increase Calcium Levels for A Weaning Food Bella, Shinta; Wiranda, Yosva; Ilhamy, Fitri Aidina; Firdaus, Firdaus
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.191-198

Abstract

Stunting is a condition of chronic malnutrition caused by inadequate nutritional intake over a long period of time due to the provision of food that does not meet nutritional needs. One way that can be done to prevent stunting is through food fortification. Food fortification that can be carried out includes the use of shrimp raw materials by using their shells. Shrimp shells are known to contain high levels of calcium which is good for the growth and development of children. The research aims to determine the sensory quality characteristics and nutritional content of instant cream soup products with the addition of shrimp shell flour. The experimental study used a Completely Randomized Design (CRD). The design consisted of 4 treatments with the ratios F0 (100% wheat flour:0% shrimp shell flour), F1 (75% wheat flour:25% shrimp shell flour), F2 (50% wheat flour:50% shrimp shell flour), F3 (25% wheat flour:75% shrimp shell flour). Statistical tests were used to analyze the data, including the Kolmogorov-Smirnov test to assess the normality of the data and the Kruskal Wallis test to compare the treatments. The best formulation selected was F3 which has hedonic qualities, namely a slightly yellow color, a pleasant and not fragrant aroma, a slightly thick texture, and a slightly savory taste. The nutritional content of F3 instant cream soup includes water content 7.26%, ash 8.64%, protein 15.35%, fat 24.43%, carbohydrates 44.32% and calcium 54.39%.
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Junk Food dan Faktor Lainnya dengan Kejadian Gizi Lebih pada Remaja di SMK 39 Jakarta: Relationship between Junk Food Consumption Habits and Other Factors with the Incidence of Overnutrition in Adolescents at State Vocational School 39 Jakarta Nugraha, Patra; Yunieswati, Wilda
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.209-215

Abstract

Remaja merupakan kelompok rentan untuk mengalami masalah gizi. Salah satu masalah gizi pada remaja adalah kelebihan berat badan dan obesitas yang disebabkan oleh penumpukan lemak yang berlebihan didalam tubuh yang ditandai dengan kelebihan berat badan. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi junk food, kebiasaan olahraga, dan pengetahuan gizi seimbang, dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMK Negeri 39 Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 55 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja di SMK Negeri 39 Jakarta memiliki IMT/U dalam rentang lebih sebanyak 55,7%. yang mengalami gizi lebih pada variabel konsumsi junk food dengan kategori sering >3x/minggu sebanyak 57,1% (p-value=0,000). Selanjutnya pada variabel kebiasaan olahraga dengan kategori <3x/minggu sebanyak 61,8% (p-value=0,000). Variabel terakhir yaitu pengetahuan gizi dengan kategori kurang baik (<80) sebanyak 52,9% (p-value=0,000). Dari hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa status gizi lebih mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel konsumsi junk food, kebiasaan olahraga, dan pengetahuan gizi.
Hubungan Mindful Eating dan Tingkat Stres dengan Status Gizi pada Siswa SMA Global Persada Mandiri School: Correlation between Mindful Eating and Stress Level with Nutritional Status in Global Persada Mandiri High School Students Maharani, Triayu; Khomsan, Ali
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.199-208

Abstract

Emotional eating is a coping strategy for stress management that can lead to excessive food intake, while mindful eating is a preventive measure. This study aims to analyze the correlation between mindful eating and stress levels with the nutritional status of Global Persada Mandiri (GPM) High School students. This research design used a cross-sectional design involving 113 GPM high school students. Subject characteristics, mindful eating, and stress levels were obtained through questionnaires and interviews. Anthropometry data were obtained by direct measurement. Most of the research subjects had low mindful eating practices (90.27%) and moderate stress level (83.19%). The nutritional status of research subjects was dominated by good nutrition (61.06%). The results of the Spearman Rank correlation test showed no significant correlation between the MEQ total score and MEQ domains, awareness, distraction, disinhibition, and external cues with nutritional status (p>0.05). There is a significant negative correlation between the MEQ domain, emotional response, and nutritional status (p<0.05). No significant correlation was found between stress levels and nutritional status (p>0.05). However, the correlation test results for energy intake and nutritional status showed a significant positive correlation (p<0.05).
Pendidikan Pola Hidup Sehat dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia Hipertensi: Education on Healthy Living Patterns to Improve the Quality of Life for Elderly Hypertension Patients Syahputra, Bagas Dwi; Nurrohmah, Aisyah; Septiani, Citra; Nabilah, Intan; Sentosa, Risya Rismayasari Putri Budi; Ramadina, Wyanda Aurellia; Septia Rosdiana, Delita
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2024.3.3.223-228

Abstract

Proses penuaan merupakan siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan menurunnya berbagai fungsi organ dalam tubuh yang ditandai dengan rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit. Salah satu penyakit yang sering dialami lansia adalah penyakit hipertensi. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi tentang hipertensi terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pra-lansia serta lansia. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif dengan instrumen yaitu kuesioner pre test dan post test. Partisipan pada kegiatan ini sebanyak 26 pra lansia dan lansia dalam Komunitas Ibu-ibu Senam yang ada di Komplek Girimande RT 08 RW 04 Kec. Mandalajati Kel. Karang Pamulang, Cikadut, Kota Bandung. Analisis data menggunakan IBM SPSS Statistics 21 dengan uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon nilai pre test dan post test pengetahuan dan sikap pra-lansia dan lansia mengenai hipertensi yaitu mengalami kenaikan sebesar 96,2% dan 69,2%, sedangkan nilai pre test dan post test perilaku pra-lansia dan lansia mengenai hipertensi tidak mengalami kenaikan maupun penurunan. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan mengenai hipertensi pada pra-lansia dan lansia secara umum sudah cukup baik. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pada aspek sikap, dimana mayoritas responden memiliki sikap kurang sebelum mendapatkan edukasi gizi. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang baik belum tentu diikuti oleh sikap yang positif terkait hipertensi.

Page 10 of 14 | Total Record : 140