cover
Contact Name
Hari Susanto
Contact Email
p3m.banten@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
p3m@poltekpel-banten.ac.id
Editorial Address
JL. Raya No.1, Karang Serang, Kec. Sukadiri, Tangerang, Banten 15330
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Marine Inside
ISSN : 27162656     EISSN : 29859638     DOI : 10.62391/ejmi
Core Subject : Engineering,
Jurnal Marine Inside adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dan dikelola oleh Politeknik Pelayaran Banten. Jurnal ini merupakan media sarana publikasi berbagai macam penelitian dan pengembangannya di bidang Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi laut.
Articles 142 Documents
Analisis Yuridis dan Tanggung Jawab Hukum atas Kelalaian Survey Kelaikan Kapal: Studi Kasus pada Pelayaran Nasional M Aji Luhur Pambudi; Aditya Mutiara Dewi; Akhmad Ndori
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.170

Abstract

Kelalaian dalam pelaksanaan survei kelaikan kapal merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan laut di pelayaran nasional. Dalam praktiknya, lemahnya pengawasan dan belum optimalnya pertanggungjawaban hukum terhadap surveyor dan lembaga klasifikasi menyebabkan kapal yang tidak memenuhi standar teknis dan keselamatan tetap dinyatakan layak laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tanggung jawab hukum atas kelalaian dalam survei kelaikan kapal serta menilai efektivitas mekanisme hukum yang berlaku dalam menjamin keselamatan pelayaran. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelalaian dalam survei kelaikan kapal dapat menimbulkan tanggung jawab hukum perdata, pidana, dan administratif. Namun demikian, pengaturan mengenai akuntabilitas personal surveyor dan lembaga survei independen masih belum diatur secara tegas dan komprehensif dalam hukum nasional. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi, peningkatan fungsi pengawasan, serta harmonisasi hukum nasional dengan standar internasional guna meningkatkan akuntabilitas dan menjamin keselamatan pelayaran. Negligence in the conduct of ship seaworthiness surveys is a significant factor contributing to maritime accidents in national shipping. In practice, weak supervision and inadequate legal accountability of surveyors and classification bodies allow vessels that fail to meet technical and safety standards to be declared seaworthy. This study aims to analyze the forms of legal liability arising from negligence in ship seaworthiness surveys and to assess the effectiveness of existing legal mechanisms in ensuring maritime safety. This research employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and case study approaches. The findings indicate that negligence in seaworthiness surveys may result in civil, criminal, and administrative liability. However, the legal framework governing the personal accountability of surveyors and independent survey institutions remains insufficient and lacks clarity. This study recommends strengthening regulatory frameworks, enhancing supervisory mechanisms, and harmonizing national laws with international maritime standards to improve accountability and ensure maritime safety.
Kajian Yuridis terhadap Green Shipping Practices Berdasarkan Instrumen Hukum Maritim Internasional Akhmad Ndori; Aditya Mutiara Dewi; M Aji Luhur Pambudi
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.171

Abstract

Transisi menuju pelayaran berkelanjutan menuntut penerapan green shipping practices sebagai respons atas meningkatnya emisi dan degradasi lingkungan laut. Instrumen hukum maritim internasional—termasuk MARPOL, UNCLOS, ISM Code, serta regulasi IMO—telah membentuk kerangka normatif yang mengatur pengendalian pencemaran, efisiensi energi, dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. Meski demikian, efektivitas penerapannya di banyak negara masih terhambat oleh ketidaksinkronan regulasi nasional, kapasitas penegakan hukum yang terbatas, serta rendahnya kesiapan infrastruktur dan industri untuk beradaptasi. Kajian ini menganalisis kesesuaian serta kecukupan instrumen hukum internasional dalam mendukung green shipping, sekaligus mengidentifikasi tantangan implementasi di tingkat nasional. Dengan menggunakan pendekatan yuridis-normatif melalui analisis dokumen hukum dan literatur, penelitian ini menemukan bahwa kerangka internasional telah cukup komprehensif, tetapi keberhasilan implementasi bergantung pada harmonisasi regulasi domestik, transformasi digital, dan komitmen industri pelayaran terhadap kepatuhan lingkungan. Temuan ini menegaskan perlunya integrasi hukum–teknologi dan peningkatan kapasitas negara untuk memastikan pelayaran berkelanjutan dapat diwujudkan secara konsisten.   The transition toward sustainable shipping requires the adoption of green shipping practices in response to increasing emissions and marine environmental degradation. International maritime law instruments—such as MARPOL, UNCLOS, the ISM Code, and various IMO regulations—establish the normative framework governing pollution control, energy efficiency, and environmentally friendly technologies. However, their effectiveness remains constrained by gaps in national regulatory harmonization, limited enforcement capacity, and the maritime industry's uneven readiness to adapt. Using a normative juridical approach through legal document and literature analysis, this study evaluates the adequacy of international regulations in supporting green shipping and identifies key implementation challenges at the national level. The findings indicate that although the international framework is comprehensive, successful implementation depends on national regulatory alignment, digital transformation, and strong industry commitment. This study underscores the need for integrated law–technology governance and strengthened institutional capacity to realize sustainable maritime operations.
Digitalisasi Layanan Tiket Di Pelabuhan Merak: Analisis Implementasi, Dampak, Dan Evaluasi Statistik Terhadap Efisiensi Operasional Fauhidzi Zulistian; Syairi Anwar; Rahmat Santoso; Yollanda Octavitri
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.172

Abstract

Digitalisasi layanan tiket penyeberangan menjadi instrumen penting dalam peningkatan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan transportasi laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi sistem tiket digital di Pelabuhan Merak serta menganalisis pengaruhnya terhadap kecepatan pelayanan, kepuasan pengguna, dan efektivitas operasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 210 responden pengguna jasa penyeberangan Merak–Bakauheni. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan observasi waktu antrean, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas, analisis faktor eksploratori, korelasi Pearson, serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan tiket digital secara nyata mampu mempercepat proses pelayanan, mengurangi waktu antrean, serta meningkatkan akurasi data manifest dan transparansi layanan. Variabel kemudahan penggunaan, keandalan sistem, dan kecepatan layanan terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna, dengan kecepatan layanan sebagai faktor dominan. Meskipun demikian, keterbatasan infrastruktur jaringan dan variasi tingkat literasi digital pengguna masih menjadi tantangan dalam implementasi layanan digital secara optimal. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengelola pelabuhan dan pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi penguatan layanan digital penyeberangan yang inklusif dan berkelanjutan. The digitalization of ferry ticketing services has become a critical mechanism for improving operational efficiency and service quality in maritime transportation. This study aims to evaluate the implementation of a digital ticketing system at Merak Port and examine its effects on service speed, user satisfaction, and operational effectiveness. A quantitative approach was employed by involving 210 ferry passengers on the Merak–Bakauheni route. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and queue-time observations, and analyzed using validity and reliability tests, exploratory factor analysis, Pearson correlation, and multiple linear regression. The findings indicate that digital ticketing significantly enhances service efficiency by reducing queue times, improving manifest data accuracy, and increasing service transparency. Ease of use, system reliability, and service speed were found to have a significant influence on user satisfaction, with service speed emerging as the most dominant factor. However, limitations related to network infrastructure and varying levels of digital literacy among users remain key challenges. This study provides practical insights for port operators and policymakers in developing inclusive and sustainable digital ferry service strategies.
Efektivitas digitalisasi proses impor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam penguatan pengawasan rokok ilegal di Indonesia Sandy Wahyu Purnomo; Pramudyasari Nur Bintari; Boedi Prihandono; Mahendra Nur,Alif Pramuditya; Ragil Freyhan Mahandika; Wulan Aisyah Pratiwi; Galio Brema Surbakti
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.173

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas digitalisasi proses impor yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam memperkuat pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari laporan resmi DJBC, publikasi pemerintah, serta dokumen kebijakan terkait digitalisasi kepabeanan dan penindakan barang kena cukai. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif dengan membandingkan kinerja pengawasan sebelum dan setelah penerapan sistem digital kepabeanan, seperti Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), electronic seal (e-seal), Auto Gate System, serta teknologi pemindaian berbasis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi proses impor terbukti efektif dalam meningkatkan akurasi pengawasan, efisiensi administrasi, serta kualitas penindakan terhadap rokok ilegal. Hal ini tercermin dari peningkatan signifikan jumlah rokok ilegal yang disita, meskipun jumlah penindakan secara kuantitas mengalami penurunan, yang mengindikasikan peningkatan kualitas dan ketepatan sasaran pengawasan. Selain itu, digitalisasi berkontribusi pada peningkatan transparansi layanan kepabeanan dan penguatan sinergi lintas instansi. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur teknologi dan kapasitas sumber daya manusia, yang masih perlu ditingkatkan untuk memastikan keberlanjutan efektivitas sistem digital kepabeanan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik dan kebijakan dalam pengembangan sistem kepabeanan berbasis digital guna memperkuat pengawasan barang kena cukai dan melindungi penerimaan negara. This study aims to analyze the effectiveness of import process digitalization implemented by the Directorate General of Customs and Excise (DGCE) in strengthening the supervision of illegal cigarette distribution in Indonesia. The research adopts a quantitative approach using secondary data obtained from official DGCE reports, government publications, and policy documents related to customs digitalization and excisable goods enforcement. Data analysis is conducted through descriptive and comparative methods by examining supervisory performance before and after the implementation of digital customs systems, including the Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), electronic seals (e-seal), Auto Gate Systems, and data-based scanning technologies. The findings indicate that import process digitalization has proven effective in enhancing monitoring accuracy, administrative efficiency, and the quality of enforcement against illegal cigarettes. This effectiveness is reflected in a significant increase in the volume of seized illegal cigarettes, despite a decrease in the number of enforcement actions, suggesting improved targeting and enforcement precision. Furthermore, digitalization contributes to greater transparency in customs services and stronger inter-agency coordination. Nevertheless, challenges remain, particularly related to technological infrastructure limitations and human resource capacity, which require further improvement to ensure the sustainable effectiveness of digital customs systems. This study is expected to serve as an academic and policy reference for advancing digital-based customs systems to strengthen excisable goods supervision and safeguard state revenue.
OPTIMALISASI PENGGUNAAN PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT PADA KARYAWAN UNTUK MENUNJANG KESELAMATAN KERJA DI PT. SAVANA CHARTA INDONESIA Zainal Arifin; Arief Hidayat Tumanggor; Antaris Fahrisani; Djibril Tri Bayu Pamungkas
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.185

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan prioritas utama dalam operasional industri maritim dan logistik, termasuk pada PT Savana Charta Indonesia. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang konsisten dan tepat oleh karyawan menjadi faktor kunci dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sosialisasi, kenyamanan APD, dan pengawasan terhadap keselamatan kerja dengan mediasi optimalisasi penggunaan APD. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda (SPSS) dengan melibatkan karyawan PT Savana Charta Indonesia sebagai responden. Hasil uji simultan (Uji F) menunjukkan bahwa variabel sosialisasi, kenyamanan APD, dan pengawasan berpengaruh signifikan terhadap keselamatan kerja dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,684 menunjukkan bahwa 68,4% variasi keselamatan kerja dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Secara parsial, sosialisasi merupakan variabel paling dominan (B=0,35; Sig. 0,000) dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan APD, diikuti oleh pengawasan (B=0,31; Sig. 0,001) dan kenyamanan APD (B=0,29; Sig. 0,002). Meskipun demikian, terdapat tantangan signifikan terkait kenyamanan, di mana 27% responden menyatakan bahwa APD yang tersedia kurang ergonomis, sehingga berpotensi menurunkan tingkat kepatuhan. Penelitian ini merekomendasikan perusahaan untuk mengevaluasi kualitas serta spesifikasi APD, mengintensifkan sosialisasi berkelanjutan, dan memperketat pengawasan di lapangan guna mencapai target Zero Accident secara efektif.   Occupational Safety and Health (K3) is a top priority in the maritime and logistics industry operations, including at PT Savana Charta Indonesia. Consistent and appropriate use of Personal Protective Equipment (PPE) by employees is a key factor in preventing workplace accidents. This study aims to analyze the influence of socialization, PPE comfort, and supervision on occupational safety through the mediation of PPE use optimization. The research method used is a quantitative approach through multiple linear regression analysis (SPSS) involving PT Savana Charta Indonesia employees as respondents. The results of the simultaneous test (F Test) show that the variables of socialization, PPE comfort, and supervision have a significant effect on occupational safety with a significance value of 0.000. The coefficient of determination (R2) value of 0.684 indicates that 68.4% of the variation in occupational safety is explained by these three variables. Partially, socialization is the most dominant variable (B=0.35; Sig. 0.000) in increasing compliance with PPE use, followed by supervision (B=0.31; Sig. 0.001) and PPE comfort (B=0.29; Sig. 0.002). However, there are significant challenges related to comfort, where 27% of respondents stated that the available PPE is less ergonomic, thus potentially reducing the level of compliance. This study recommends companies to evaluate the quality and specifications of PPE, intensify ongoing socialization, and tighten supervision in the field to effectively achieve the Zero Accident target.
ANALISIS IMPLEMENTASI PENGAWASAN KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN OLEH KANTOR KESYAHBANDARAN DAN OTORITAS PELABUHAN KELAS I BANTEN Asnawi; Arief Hidayat Tumanggor; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Ahmad Shulhany; Chairiyah Chair
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.187

Abstract

Pelabuhan Ciwandan, Banten, merupakan simpul transportasi strategis yang dikelola oleh PT Pelindo, dengan fungsi pengawasan operasional yang berada di bawah tanggung jawab Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten. Sinergi antara regulator (KSOP) dan operator (Pelindo) sangat krusial untuk menjamin kinerja pelabuhan yang efisien dan berdaya saing global. Namun, dalam praktiknya masih terdapat kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia pengawas, integrasi sistem Inaportnet yang belum optimal, serta tantangan koordinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pengawasan (administratif, teknis, dan keselamatan) oleh KSOP, mengidentifikasi hambatan yang ada, serta merumuskan strategi peningkatan efektivitas pengawasan terhadap kinerja operasional pelabuhan. Metode yang digunakan adalah pendekatan mixed method (kualitatif dan kuantitatif) dengan melibatkan responden dari pihak KSOP, PT Pelindo, dan stakeholder terkait. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear berganda melalui perangkat lunak SPSS terhadap 30 sampel responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengawasan administratif, teknis, dan keselamatan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja operasional ($F=42,518$; $Sig=0,000$). Koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,709 mengindikasikan bahwa 70,9% variasi kinerja dipengaruhi oleh ketiga variabel pengawasan tersebut. Faktor pengawasan keselamatan dan keamanan terbukti menjadi variabel paling dominan dengan koefisien regresi tertinggi ($B=0,402$) dan korelasi terkuat ($r=0,741$). Selain itu, rata-rata Berth Occupancy Ratio (BOR) sebesar 30,34% menunjukkan kategori "Baik" (di bawah standar UNCTAD <70%), yang mengindikasikan bahwa kapasitas dermaga masih tersedia secara luas untuk peningkatan kunjungan kapal.   Ciwandan Port, Banten, is a strategic transportation hub managed by PT Pelindo, with operational supervision under the authority of the Harbor Master and Port Authority Office (KSOP) Class I Banten. Synergy between the regulator (KSOP) and the operator (Pelindo) is crucial to ensure efficient and globally competitive port performance. However, practical challenges remain, such as limited supervisory human resources, suboptimal integration of the Inaportnet system, and coordination issues. This study aims to analyze the implementation of supervision (administrative, technical, and safety) by KSOP, identify existing obstacles, and formulate strategies to improve the effectiveness of supervision on port operational performance. A mixed-method approach (qualitative and quantitative) was employed, involving respondents from KSOP, PT Pelindo, and relevant stakeholders. Data were analyzed using descriptive statistics and multiple linear regression via SPSS with a sample of 30 respondents. The results show that administrative, technical, and safety supervision variables simultaneously have a significant effect on operational performance ($F=42.518$; $Sig=0.000$). The coefficient of determination ($R^2$) of 0.709 indicates that 70.9% of performance variation is explained by these three supervisory variables. Safety and security supervision is proven to be the most dominant factor, with the highest regression coefficient ($B=0.402$) and the strongest correlation ($r=0.741$). Furthermore, the average Berth Occupancy Ratio (BOR) of 30.34% falls into the "Good" category (below the UNCTAD standard of <70%), indicating that there is still significant idle capacity for increased vessel traffic.
STUDI KASUS KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT DI PELABUHAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP LOGISTIK DI PT. KRAKATAU BANDAR SAMUDRA BANTEN Arief Hidayat Tumanggor; Asnawi; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Budi Purnomo; Ahmad Shulhany; Yudha Prawira; Eka Sutrisno
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.188

Abstract

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan merupakan salah satu mata rantai krusial dalam sistem logistik nasional. Efisiensi proses ini sangat menentukan kelancaran arus barang, efektivitas biaya operasional, serta keandalan rantai pasok industri. Namun, keterlambatan bongkar muat masih sering terjadi dan berpotensi meningkatkan biaya logistik, mengganggu operasional industri, hingga menurunkan daya saing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab keterlambatan bongkar muat serta dampaknya terhadap sistem logistik di PT Krakatau Bandar Samudra (KBS) Banten. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode studi kasus, didukung oleh data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap 75 responden. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, korelasi Pearson, serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknis, sumber daya manusia (SDM), administratif, dan cuaca berpengaruh signifikan terhadap keterlambatan bongkar muat. Faktor teknis menjadi variabel paling dominan (Beta=0,402; Sig=0,000), diikuti oleh faktor SDM, administratif, dan cuaca. Secara simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh signifikan (Sig=0,000) dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,490. Keterlambatan bongkar muat terbukti berdampak langsung terhadap logistik, yaitu menyebabkan kongesti pelabuhan, peningkatan biaya demurrage dan storage, serta terganggunya jadwal distribusi industri. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan keandalan peralatan melalui preventive maintenance, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi administrasi pelayanan kapal, serta penguatan sistem mitigasi cuaca guna meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja rantai pasok di PT Krakatau Bandar Samudra Banten.   Loading and unloading activities at ports are a critical link in the national logistics system. The efficiency of these processes significantly determines the flow of goods, operational cost-effectiveness, and industrial supply chain reliability. However, loading and unloading delays still occur, potentially increasing logistics costs, disrupting industrial operations, and reducing company competitiveness. This study aims to analyze the factors causing these delays and their impact on the logistics system at PT Krakatau Bandar Samudra (KBS), Banten. A descriptive approach with a case study method was employed, supported by primary data gathered through observation, interviews, and questionnaires from 75 respondents. Quantitative data were analyzed using SPSS through validity, reliability, normality, Pearson correlation, and multiple linear regression tests. The results indicate that technical factors, human resources (HR), administrative, and weather factors significantly affect loading and unloading delays. Technical factors are the most dominant (Beta=0.402; Sig=0.000), followed by HR, administrative, and weather factors. Simultaneously, all factors have a significant effect (Sig=0.000) with an R^2 value of 0.490. These delays are proven to have a direct negative impact on logistics, causing port congestion, increased demurrage and storage costs, and disruptions to industrial distribution schedules. This study recommends improving equipment reliability through preventive maintenance, strengthening HR competencies, digitalizing vessel service administration, and enhancing weather mitigation systems to improve operational efficiency and supply chain performance at PT Krakatau Bandar Samudra Banten.
Correlation analysis between engine power and bollard pull of tugboats in Indonesia Rachmad Tri Soelistijono; Urip Mudjiono; Catur Rakhmad Handoko; Hendro Agus Widodo; Joessianto Eko Poetro
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.189

Abstract

This study aims to analyze the correlation between engine power (horsepower) and bollard pull capacity of tugboats operating in Indonesian ports. The empirical data utilized in this research was gathered from online tugboat specifications, encompassing a sample of 12 tugboats with diverse propulsion systems and engine power ratings. A correlational analysis was employed to determine the relationship between engine power and bollard pull capacity. The analytical estimates demonstrate a strong positive correlation (β = 0.0125; R2 = 0.936), indicating that 93.6% of the variation in bollard pull can be explained by variations in engine power. These findings provide precise guidance for selecting tugboats that align with the operational requirements of Indonesian ports. Furthermore, the results suggest that strategic tugboat fleet planning, based on the relationship between engine power and bollard pull, is essential for improving port operational efficiency. This study is expected to enrich the literature regarding tugboat capacity in Indonesia and contribute to port technical and operational planning.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara tenaga mesin (horsepower) dan kapasitas bollard pull pada kapal tunda (tugboat) yang beroperasi di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Data empiris dalam penelitian ini diperoleh dari spesifikasi teknis kapal tunda yang tersedia secara daring, mencakup sampel sebanyak 12 kapal tunda dengan berbagai jenis sistem propulsi dan daya mesin. Analisis korelasional digunakan untuk menentukan hubungan antara tenaga mesin dan kapasitas bollard pull. Estimasi analisis menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat kuat (β = 0,0125; R2 = 0,936), yang mengindikasikan bahwa 93,6% variasi dalam bollard pull dapat dijelaskan oleh variasi daya mesin. Temuan ini memberikan panduan yang lebih akurat dalam pemilihan kapal tunda yang sesuai dengan kebutuhan operasional pelabuhan di Indonesia. Selain itu, hasil penelitian ini menyarankan perlunya perencanaan armada kapal tunda yang didasarkan pada hubungan antara daya mesin dan bollard pull guna meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur terkait kapasitas kapal tunda di Indonesia serta berkontribusi dalam perencanaan teknis dan operasional pelabuhan.
Analisis Risiko Bahaya Kebakaran di KM. Sabuk Nusantara 108 Mashudi Rofik; Awel Suryadi; Nisa Hasna Fadhilah
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.194

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran strategis KM Sabuk Nusantara 108 sebagai kapal perintis dalam menjaga konektivitas masyarakat di wilayah 3T, yang menuntut standar keselamatan tinggi, khususnya terhadap potensi bahaya kebakaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kebakaran, mengukur tingkat kesiapsiagaan kru, serta merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang efektif guna meningkatkan keselamatan pelayaran. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di KM Sabuk Nusantara 108. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data menggunakan diagram tulang ikan (fishbone diagram), dan penarikan kesimpulan, dengan validitas data yang diuji melalui triangulasi sumber, metode, serta teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko kebakaran di KM Sabuk Nusantara 108 dipicu oleh penempatan alat pemadam yang tidak strategis, manajemen penyimpanan barang mudah terbakar yang belum standar, rendahnya kedisiplinan kru terhadap prosedur keselamatan, serta minimnya pelaksanaan latihan keadaan darurat (drill). Kesiapsiagaan kru dinilai belum optimal akibat keterbatasan pelatihan, kurangnya familiarisasi peralatan keselamatan, serta belum terbentuknya budaya keselamatan yang kuat. Penelitian ini merekomendasikan strategi mitigasi yang komprehensif, mencakup penataan ulang fasilitas pemadam, pengelolaan material berbahaya, peningkatan disiplin personel, serta pelaksanaan latihan keadaan darurat secara rutin dan variatif untuk meminimalkan risiko kebakaran di atas kapal.   This research was motivated by the important role of KM Sabuk Nusantara 108 as a pioneer ship in supporting connectivity and the lives of people in 3T regions, alongside the increased risk to safety, particularly the potential for fires on board. Therefore, the aim of this study is to analyse the risk factors of fire, the preparedness of the crew, and the fire mitigation strategies implemented on KM Sabuk Nusantara 108 to improve maritime safety. This research used qualitative methods with data collection through direct observation, interviews, and documentation studies on KM Sabuk Nusantara 108 to gain an in-depth understanding of fire risk mitigation. The data were analyzed through data reduction, data presentation using fishbone diagrams, and conclusion drawing, with data validity tested through triangulation of sources, methods, and theories. The findings indicate that fire risks on KM Sabuk Nusantara 108 are influenced by the improper placement of firefighting equipment, inadequate management of flammable materials, low crew compliance with safety procedures, and the limited implementation of emergency drills. Crew preparedness in responding to fire emergencies remains insufficient due to limited training, lack of familiarization with safety equipment, and the absence of a strong safety culture on board. Therefore, systematic mitigation efforts are required, including improved placement of firefighting equipment, proper handling of flammable materials, enhanced crew discipline and training, and the regular implementation of varied emergency drills to reduce the impact of fire hazards on board.
Digitalisasi Tata Kelola Pelabuhan dengan menganalisis Efektivitas Sistem Inaportnet dalam Proses Clearance In dan Clearance Out pada Pelabuhan Kawasan Perdagangan Bebas. Nova Adelia Putri Aryanti; Slamet Pamujianto; Slamet Pamujianto; Vivid Dekanawati; Handoyo Widiyanto; Natal NT Nainggolan
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.195

Abstract

Implementasi sistem informasi digital dalam sektor maritim ditujukan untuk mereduksi birokrasi serta meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem Inaportnet dan Simlala dalam proses Clearance In dan Clearance Out kapal asing, dengan studi kasus pada MV. Seacon Yokohama di Pelabuhan Sarana Citra Nusa (SCN) Kabil, Batam. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif selama empat bulan, wawancara mendalam dengan praktisi keagenan kapal, serta dokumentasi sistemik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi telah mengintegrasikan berbagai dokumen administrasi melalui sistem satu pintu, efisiensi operasional masih terkendala oleh ketergantungan pada verifikasi manual serta instabilitas infrastruktur jaringan. Ditemukan pula fenomena "birokrasi digital paralel," di mana koordinasi informal melalui platform pesan instan tetap diperlukan untuk mempercepat persetujuan otoritas. Penelitian ini berkontribusi dalam memetakan tantangan transisi digital di kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone) dan merekomendasikan perlunya integrasi sistem yang lebih otonom serta penguatan infrastruktur teknologi guna meminimalkan dwelling time.   The implementation of digital information systems in the maritime sector aims to reduce bureaucracy and enhance port operational efficiency. This study evaluates the efficacy of the Inaportnet and Simlala systems in the Clearance In and Clearance Out processes for foreign vessels, focusing on the case of MV. Seacon Yokohama at Sarana Citra Nusa (SCN) Kabil Port, Batam. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, data were gathered through four months of participatory observation, in-depth interviews with ship agency practitioners, and systemic documentation. The findings indicate that while digitalization has integrated various administrative documents into a single-window system, operational efficiency remains hindered by a reliance on manual verification and network infrastructure instability. A unique phenomenon of "parallel digital bureaucracy" was identified, where informal coordination via instant messaging platforms is still required to expedite authority approvals. This research contributes to the understanding of digital transition challenges in Free Trade Zone (FTZ) ports and recommends the necessity for more autonomous system integration and strengthened technological infrastructure to minimize dwelling time.