cover
Contact Name
Hari Susanto
Contact Email
p3m.banten@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
p3m@poltekpel-banten.ac.id
Editorial Address
JL. Raya No.1, Karang Serang, Kec. Sukadiri, Tangerang, Banten 15330
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Marine Inside
ISSN : 27162656     EISSN : 29859638     DOI : 10.62391/ejmi
Core Subject : Engineering,
Jurnal Marine Inside adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dan dikelola oleh Politeknik Pelayaran Banten. Jurnal ini merupakan media sarana publikasi berbagai macam penelitian dan pengembangannya di bidang Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi laut.
Articles 114 Documents
Assessing the role of the Automatic Identification System (AIS) in navigational safety: A case study of the General Cargo Vessel MV Guhi Mas Rahmawati, Tanti Diyah; Wahyuni, Anak Agung Istri Sri; Septia, Tika
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.122

Abstract

Shipping safety is fundamental to the maritime industry, and navigational systems are central to safe operations. In line with IMO/SOLAS requirements, the Automatic Identification System (AIS) supports collision avoidance, ship traffic services, navigational aids, search and rescue, and accident investigation. AIS continuously broadcasts a vessel’s identity, position, course, speed, and navigational status, enabling other ships and coastal stations to track targets and anticipate risk. Integrated with ECDIS, radar, and ARPA, AIS enhances situational awareness in meeting, crossing, and overtaking situations by providing parameters such as CPA (Closest Point of Approach) and ETA (Estimated Time of Arrival). This study analyzes the role of AIS in navigational safety on a general cargo vessel (MV Guhi Mas). The findings indicate that AIS is critical to safe navigation: it improves target identification around the vessel, facilitates real-time data exchange with VTS, strengthens decision-making on the bridge, and contributes to incident prevention and post-event analysis. Regulatory carriage requirements further underscore AIS as an essential instrument for reducing maritime accidents.   Keselamatan pelayaran merupakan fondasi industri maritim, dan sistem navigasi berperan sentral dalam operasi yang aman. Selaras dengan persyaratan IMO/SOLAS, Automatic Identification System (AIS) mendukung pencegahan tubrukan, layanan lalu lintas kapal, sarana bantu navigasi, pencarian dan penyelamatan (SAR), serta investigasi kecelakaan. AIS menyiarkan secara kontinu identitas kapal, posisi, haluan, kecepatan, dan status navigasi, sehingga kapal lain dan stasiun pantai dapat melacak target dan mengantisipasi risiko. Terintegrasi dengan ECDIS, radar, dan ARPA, AIS meningkatkan kesadaran situasional pada situasi berhadapan, bersilangan, dan menyalip dengan menyediakan parameter seperti CPA (Closest Point of Approach) dan ETA (Estimated Time of Arrival). Studi ini menganalisis peran AIS dalam keselamatan navigasi pada kapal general cargo (MV Guhi Mas). Temuan menunjukkan bahwa AIS krusial bagi navigasi aman: meningkatkan identifikasi target di sekitar kapal, memfasilitasi pertukaran data waktu nyata dengan VTS, memperkuat pengambilan keputusan di anjungan, serta berkontribusi pada pencegahan insiden dan analisis pascakejadian. Persyaratan pemasangan wajib dalam regulasi semakin menegaskan AIS sebagai instrumen esensial untuk menurunkan kecelakaan maritim.
Analisis bergesernya container saat pelayaran menggunakan metode fishbone pada kapal KM. Tanto Senang Maulana, David Maulana Salsabilla; Prasetyo, Anugrah Nur; Ratnaningsih, Dyah; Anak Agung Ngurah Ade Dwi Putra Yuda
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.124

Abstract

Pergerakan atau pergeseran kontainer selama pelayaran merupakan permasalahan serius yang dapat mengancam keselamatan kapal, muatan, dan awak, sekaligus menimbulkan kerugian finansial maupun operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor utama penyebab pergeseran kontainer pada KM. Tanto Senang serta merumuskan rekomendasi pencegahan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Fishbone Diagram untuk mengidentifikasi akar masalah. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, studi dokumentasi, serta telaah laporan operasional kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran kontainer dipicu oleh keterbatasan jumlah lashing gear, lemahnya pengawasan cargo watch, serta penerapan metode pemuatan yang tidak sesuai standar keselamatan. Rekomendasi yang diberikan mencakup inspeksi rutin terhadap lashing gear, peningkatan pencahayaan di area kerja, dan penerapan prosedur pemuatan sesuai standar operasional pelayaran.   Container shifting during sea voyages is a serious issue that can threaten the safety of the vessel, cargo, and crew, as well as cause significant financial and operational losses. This study aims to analyze the main factors contributing to container shifting on MV Tanto Senang and to provide preventive recommendations. A descriptive qualitative method was employed, utilizing a Fishbone Diagram to identify root causes. Data were collected through field observations, interviews, document reviews, and analysis of the vessel’s operational reports. The findings indicate that container shifting was caused by an insufficient number of lashing gear, inadequate cargo watch supervision, and unsafe loading practices. Recommendations include conducting regular inspections of lashing gear, improving lighting in work areas, and ensuring that loading procedures comply with maritime safety standards.
Evaluasi proses kepabeanan ekspor: Studi pengaruh kebijakan INSW terhadap efisiensi dan transparansi Prihandono, Boedi; Tumanggor, Arief Hidayat; Asnawi; Magdalena, Susiarni; Fadhillah, Muhammad Dhika Rizqi; Faiq, Dzaki Muzhaffar; Aisyah, Rif’at Zulian
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak implementasi kebijakan Indonesia National Single Window (INSW) terhadap efisiensi dan transparansi proses kepabeanan ekspor di Indonesia. Menggunakan pendekatan campuran (mixed-method), studi ini mengombinasikan analisis kuantitatif terhadap data waktu clearance dan biaya administrasi, serta pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pelaku usaha dan otoritas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi INSW mampu menurunkan rata-rata waktu penyelesaian kepabeanan dari 48 jam menjadi 36 jam, serta mengurangi biaya administrasi hingga 28%. Selain itu, peningkatan transparansi tercermin dari skor kepuasan pengguna terhadap akses informasi yang mencapai rata-rata 4,2 dari 5, meskipun masih terdapat kendala dalam kejelasan prosedur. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi kesiapan infrastruktur digital dan rendahnya tingkat pemahaman pelaku usaha terhadap sistem. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan peningkatan infrastruktur teknologi, penguatan literasi digital, dan penyederhanaan prosedur sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan penerapan INSW secara berkelanjutan.   This study aims to evaluate the impact of the implementation of the Indonesia National Single Window (INSW) policy on the efficiency and transparency of export customs processes in Indonesia. Utilizing a mixed-method approach, the research combines quantitative analysis of clearance time and administrative costs with qualitative insights gathered through interviews with business actors and relevant authorities. The findings reveal that the implementation of INSW successfully reduced the average customs clearance time from 48 hours to 36 hours and lowered administrative costs by up to 28%. Additionally, the system enhanced information accessibility, reflected in an average user satisfaction score of 4.2 out of 5, although some issues remain regarding procedural clarity. The main challenges identified include limited digital infrastructure readiness and low user understanding of the system. Accordingly, this study recommends strengthening technological infrastructure, improving digital literacy, and simplifying procedures to optimize the long-term implementation of the INSW policy.
Analisis tubrukan KM Leuser saat proses olah gerak labuh jangkar di Teluk Lamong Nursyamsu; Tumanggor, Arief Hidayat; Sutryani, Henni; Anggeranika, Vidiana; Agustien, Puspa Gina
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.126

Abstract

Insiden tubrukan kapal masih menjadi salah satu permasalahan serius dalam keselamatan pelayaran, khususnya pada perairan sempit dan area labuh jangkar dengan lalu lintas padat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya tubrukan KM Leuser saat proses olah gerak labuh jangkar di Teluk Lamong, Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data primer berupa wawancara dengan nakhoda dan awak kapal serta observasi langsung, dan data sekunder berupa dokumen, berita acara, serta literatur terkait keselamatan pelayaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insiden tubrukan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor alam berupa arus dan angin kencang, serta faktor human error yang meliputi perencanaan pelayaran yang kurang optimal dan pengambilan keputusan saat olah gerak. Selain itu, kondisi kepadatan area labuh jangkar turut memperbesar risiko terjadinya tubrukan beruntun. Penelitian ini menekankan pentingnya perencanaan olah gerak yang matang, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta koordinasi yang efektif dengan pihak terkait untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi dalam upaya peningkatan keselamatan pelayaran, khususnya pada proses labuh jangkar di perairan sempit. Ship collision incidents remain a critical issue in maritime safety, particularly in narrow waters and congested anchorage areas. This study aims to analyze the contributing factors to the collision involving KM Leuser during anchoring maneuver operations in Lamong Bay, Surabaya. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing primary data obtained through structured interviews with the ship’s master and crew, as well as direct onboard and situational observations. Secondary data were collected from official incident reports, logbooks, regulatory documents, and relevant maritime safety literature. The findings reveal that the collision was primarily influenced by two major factors: environmental conditions, notably strong currents and high wind intensity, and human factors, including suboptimal voyage planning and inadequate decision-making during maneuvering operations. Additionally, high traffic density within the anchorage area significantly increased the likelihood of chain-reaction collisions. This study underscores the importance of comprehensive maneuvering and anchoring planning, enhancement of seafarers’ competence, and effective coordination with port authorities and related stakeholders. The results are expected to provide practical insights for improving navigational safety and risk mitigation during anchoring operations in narrow and congested waters.
Identifikasi kerusakan kontainer pada saat pengiriman menggunakan Kapal MV Ifama Mas Rikardo, Dapid; Octavitri, Yollanda; Fajrin, Mohammad Navy Afrian
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.128

Abstract

Penelitian ini mengkaji penyebab kerusakan kontainer pada MV Ifama Mas di Pelabuhan Belawan serta merumuskan langkah pencegahan operasional. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus melalui observasi lapangan, wawancara kru/tenaga bongkar muat, dan telaah dokumen prosedur. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengidentifikasi pola kerusakan dan faktor pemicunya. Hasil menunjukkan sebagian besar kerusakan telah terjadi pra-pemuatan—terutama sejak tahap gate-in/handling di pelabuhan asal (Tanjung Priok)—akibat pengganjalan (chocking) yang keliru, minim inspeksi awal, dan proses bongkar muat yang tergesa-gesa. Jenis kerusakan yang dominan meliputi penyok, lubang akibat korosi, dan kelemahan struktural pada panel/ujung kontainer. Di sisi lain, penerapan standar IMO serta kriteria IICL untuk inspeksi dan lashing belum optimal sehingga memperbesar risiko kerusakan saat penanganan dan penumpukan. Rekomendasi yang diusulkan meliputi pemeriksaan awal yang lebih ketat (gate-in checklist dan pre-lift survey), optimalisasi rencana penumpukan/stowage, pelatihan operator crane dan checker, serta pengawasan lashing yang disiplin sesuai standar internasional. Implementasi langkah-langkah tersebut diharapkan menurunkan insiden kerusakan, meningkatkan keselamatan kargo, dan memperbaiki efisiensi bongkar muat.   This study examines the causes of container damage on MV Ifama Mas at Belawan Port and proposes operational prevention measures. A qualitative case-study approach was used, combining field observations, crew/stevedore interviews, and a review of handling procedures. Descriptive analysis identified damage patterns and causal factors. Findings show that most damage occurred pre-loading—notably from the gate-in/handling stage at the origin port (Tanjung Priok)—due to incorrect chocking/blocking, insufficient pre-inspection, and rushed handling. Predominant damage types include dents, corrosion holes, and structural weaknesses on panels and end frames. Moreover, IMO standards and IICL criteria for inspection and lashing were not applied optimally, elevating risk during handling and stacking. Recommended actions include stricter pre-entry and pre-lift inspections (gate-in checklists and surveys), optimized stowage/yard stacking plans, targeted training for crane operators and checkers, and disciplined lashing oversight aligned with international standards. Implementing these measures is expected to reduce damage incidents, improve cargo safety, and enhance handling efficiency.
Analisis Light Weight Tonnage (LWT) kapal penangkap ikan tipe longline berbahan fiberglass (Studi kasus: Dinas Perikanan Kabupaten Buton Selatan) Samaluddin, Samaluddin; Djunuda, Rahmawati; Mubarak, Azhar Aras; Gamsir, La Ode Abdul
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.129

Abstract

Perancangan kapal penangkap ikan menuntut ketepatan dalam penentuan berat kapal, khususnya berat kapal kosong (light weight tonnage / LWT), karena berpengaruh langsung terhadap displacement, stabilitas, dan performa operasional kapal. Pada praktiknya, perancangan kapal bantuan pemerintah masih sering mengabaikan analisis LWT secara komprehensif, terutama pada kapal berbahan fiberglass. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan nilai light weight tonnage (LWT) kapal penangkap ikan tipe longline berbahan fiberglass di Dinas Perikanan Kabupaten Buton Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, pengukuran langsung dimensi kapal, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur. Perhitungan berat dilakukan dengan mengacu pada komponen utama LWT, yaitu berat konstruksi kapal, berat perlengkapan dan peralatan kapal, serta berat mesin penggerak berdasarkan kaidah perhitungan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai light weight tonnage kapal sebesar 950,18 kg, yang terdiri atas berat konstruksi kapal 415,83 kg, berat perlengkapan dan peralatan 175,30 kg, serta berat mesin penggerak 359,05 kg. Nilai LWT yang diperoleh menunjukkan pengaruh signifikan terhadap performa kapal, khususnya terkait stabilitas, olah gerak, dan kapasitas operasional saat berlayar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi teknis dalam perancangan kapal penangkap ikan berbahan fiberglass serta sebagai dasar evaluasi desain kapal bantuan pemerintah di sektor perikanan. Ramp door failure on Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) vessels can directly affect loading and unloading The design of fishing vessels requires accurate determination of ship weight, particularly the light weight tonnage (LWT), as it directly affects displacement, stability, and operational performance. In practice, the design of government-assisted fishing vessels often lacks comprehensive LWT analysis, especially for fiberglass vessels. This study aims to analyze and determine the light weight tonnage (LWT) of a fiberglass longline fishing vessel operated by the South Buton District Fisheries Service. A quantitative descriptive method was employed, with data collected through field observation, direct measurement of vessel dimensions, interviews, documentation, and literature review. The LWT calculation was conducted based on the main components, namely hull construction weight, equipment and outfitting weight, and propulsion machinery weight, in accordance with the rules of the Indonesian Classification Society (BKI). The results indicate that the vessel’s light weight tonnage is 950.18 kg, consisting of hull construction weight of 415.83 kg, equipment and outfitting weight of 175.30 kg, and propulsion machinery weight of 359.05 kg. The obtained LWT value significantly influences the vessel’s performance, particularly in terms of stability, seakeeping behavior, and operational capacity. The findings of this study are expected to serve as a technical reference for the design of fiberglass fishing vessels and as an evaluation basis for government-assisted vessel design in the fisheries sector.
Analisis kinerja sistem pembangkit listrik tenaga surya pada prototipe robot pengangkut sampah perairan Nugraha, Rizki; Apriani, Yosi; Fadila, Fadila; Anwar, Wiwin Armoldo Oktaviani; Saleh, Zulkiffli
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.130

Abstract

Pemanfaatan energi terbarukan menjadi salah satu solusi strategis dalam mendukung teknologi ramah lingkungan, khususnya untuk penanganan permasalahan sampah di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diterapkan pada prototipe robot pengangkut sampah perairan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental kuantitatif, dengan melakukan pengukuran langsung terhadap parameter kelistrikan sistem, meliputi tegangan, arus, dan daya keluaran panel surya, serta kinerja sistem pengisian baterai. Sistem PLTS terdiri atas panel surya polikristalin berkapasitas 10 Wp, solar charge controller tipe PWM, dan baterai VRLA 12 V sebagai penyimpan energi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kebutuhan daya total robot sebesar 27,82 W, dengan arus operasi sekitar 2,28 A pada tegangan baterai 12,2 V, sehingga robot mampu beroperasi selama ±1 jam per siklus kerja. Panel surya menghasilkan daya maksimum sebesar 7,70 W pada kondisi cuaca cerah sekitar pukul 11.00 WIB, sedangkan solar charge controller mampu menjaga kestabilan tegangan pengisian pada 14,4 V dengan daya keluaran maksimum mencapai 20,73 W. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem PLTS mampu mendukung operasional prototipe robot melalui mekanisme pengisian baterai, namun kapasitas panel surya masih memiliki keterbatasan untuk suplai daya langsung. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sistem PLTS yang lebih optimal pada aplikasi robot lingkungan perairan. The utilization of renewable energy represents a strategic solution to support environmentally friendly technologies, particularly in addressing waste problems in aquatic environments. This study aims to analyze the performance of a Solar Power Generation System (SPGS) applied to a prototype of an aquatic waste-collecting robot. A quantitative experimental method was employed by conducting direct measurements of the system’s electrical parameters, including voltage, current, and power output of the solar panel, as well as the performance of the battery charging system. The SPGS consists of a 10 Wp polycrystalline solar panel, a PWM-type solar charge controller, and a 12 V VRLA battery as the energy storage unit. The experimental results indicate that the robot requires a total power of 27.82 W, with an operating current of approximately 2.28 A at a battery voltage of 12.2 V, enabling the robot to operate for approximately 1 hour per working cycle. The solar panel produced a maximum power output of 7.70 W under clear weather conditions at around 11:00 a.m., while the solar charge controller successfully maintained a stable charging voltage of 14.4 V with a maximum output power of 20.73 W. The performance analysis shows that the SPGS is capable of supporting the robot’s operation through battery charging; however, the solar panel capacity remains insufficient for direct power supply. This study provides a foundation for further optimization of solar power systems in aquatic environmental robotics applications.
Evaluasi kelayakan fasilitas di PPN Palabuhanratu: Tinjauan terhadap dukungan infrastruktur bagi sistem logistik ikan nasional Gifarullah, Raqian Gilar; Farizhi, Azwin Jahid Al; Amelia, Aura Suci; Nazar, Alifa Fatimatun; Raihan, Bangbang; Desipa, Nova; Efendi, Maruf
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.131

Abstract

Ketersediaan infrastruktur pelabuhan perikanan yang memadai merupakan faktor kunci dalam mendukung efektivitas Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN), khususnya dalam menjamin kelancaran distribusi, mutu hasil tangkapan, dan keberlanjutan sektor perikanan. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu berperan sebagai simpul distribusi strategis di wilayah selatan Pulau Jawa. Namun, peningkatan aktivitas perikanan dan kompleksitas logistik menuntut evaluasi kelayakan fasilitas pelabuhan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kelayakan infrastruktur PPN Palabuhanratu dalam mendukung efisiensi SLIN. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi non-partisipatif, dokumentasi lapangan, dan analisis data sekunder. Evaluasi dilakukan terhadap fasilitas pokok, fungsional, dan penunjang dengan mengacu pada regulasi dan standar teknis pelabuhan perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas inti, seperti dermaga, kolam pelabuhan, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), kantor syahbandar, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBUN), telah berfungsi secara operasional. Namun demikian, keterbatasan kapasitas dermaga, belum optimalnya fasilitas penyimpanan dingin, lemahnya integrasi sistem digital, serta belum tersedianya fasilitas pengelolaan limbah menjadi kendala utama yang berpotensi menurunkan efisiensi logistik ikan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas infrastruktur, penguatan sistem rantai dingin, penerapan digitalisasi layanan pelabuhan, serta pengembangan fasilitas penunjang berwawasan lingkungan guna memperkuat peran PPN Palabuhanratu sebagai simpul logistik ikan yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan dalam kerangka Sistem Logistik Ikan Nasional. The availability of adequate fishing port infrastructure is a key factor in supporting the effectiveness of the National Fish Logistics System (SLIN), particularly in ensuring smooth distribution, maintaining product quality, and promoting sustainability in the fisheries sector. The Palabuhanratu Nusantara Fishing Port (PPN Palabuhanratu) serves as a strategic distribution node in the southern region of Java Island. However, increasing fishing activities and logistical complexity require a comprehensive evaluation of port infrastructure feasibility. This study aims to evaluate the feasibility of infrastructure at PPN Palabuhanratu in supporting the efficiency of SLIN. A descriptive qualitative method was employed, utilizing non-participant observation, field documentation, and secondary data analysis. The evaluation covered core, functional, and supporting facilities, referring to relevant regulations and technical standards for fishing ports. The findings indicate that most core facilities, including docks, harbor basins, fish auction facilities, the harbor master office, and fuel stations for fishermen, are operational and functioning adequately. Nevertheless, limited dock capacity, insufficient cold storage facilities, suboptimal digital system integration, and the absence of wastewater management facilities remain major constraints that potentially reduce fish logistics efficiency. This study recommends infrastructure capacity enhancement, strengthening cold chain systems, implementing port service digitalization, and developing environmentally oriented supporting facilities to reinforce the role of PPN Palabuhanratu as an efficient, adaptive, and sustainable fish logistics hub within the framework of the National Fish Logistics System.
Strategi pencegahan overpressure di jalur manifold melalui pengelolaan cargo heater di VLGC Rubra Kismantoro, Tri; Atlantic, Fikri Bahri
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.132

Abstract

Peningkatan kebutuhan energi global telah menjadikan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai salah satu komoditas utama dalam sektor transportasi maritim. Namun, proses pengangkutan LPG memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang mudah terbakar dan tekanan tinggi yang dapat membahayakan keselamatan operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Standard Operating Procedure (SOP) pada sistem cargo heater selama kegiatan ship-to-ship transfer di kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Rubra, khususnya dalam mencegah lonjakan tekanan pada jalur manifold. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama pelaksanaan praktik laut. Analisis dilakukan menggunakan diagram sebab-akibat (fishbone diagram) untuk mengidentifikasi akar masalah yang meliputi kerusakan pada komponen flow tube cargo heater serta kurangnya pemahaman kru terhadap prosedur pembongkaran LPG. Temuan penelitian menunjukkan bahwa korosi dan keterbatasan perawatan rutin menjadi penyebab utama kerusakan sistem, sedangkan kurangnya pelatihan teknis menyebabkan kesalahan dalam pengoperasian cargo heater. Penelitian merekomendasikan penerapan SOP secara lebih disiplin dan penyusunan program pelatihan terstruktur bagi kru kapal untuk meningkatkan kompetensi teknis dan keselamatan kerja. Kesimpulannya, penerapan SOP yang tepat pada sistem cargo heater terbukti efektif dalam mencegah peningkatan tekanan pada jalur manifold, meningkatkan keselamatan operasional, serta mendukung kelancaran proses bongkar muat LPG secara keseluruhan.   The increasing global demand for energy has positioned liquefied petroleum gas (LPG) as a key commodity in the maritime transportation sector. However, the transportation of LPG presents specific challenges due to its flammable nature and the high pressure involved, which can pose serious safety risks. This study aims to evaluate the implementation of the Standard Operating Procedure (SOP) for the cargo heater system during ship-to-ship transfer operations on the Very Large Gas Carrier (VLGC) Rubra, with a particular focus on preventing pressure surges in the manifold line. A qualitative approach was employed, utilizing direct observation, in-depth interviews, and documentation during sea practice activities. Data were analyzed using a fishbone diagram to identify the root causes of problems, including damage to the cargo heater flow tube and insufficient crew understanding of LPG unloading procedures. The findings reveal that corrosion and inadequate maintenance are the primary causes of equipment failure, while a lack of technical training contributes to operational errors. The study recommends stricter SOP implementation and the development of structured training programs to enhance crew competence and operational safety. In conclusion, proper application of SOPs for cargo heaters is proven to be effective in preventing pressure increases in the manifold line, enhancing operational safety, and ensuring the smooth execution of LPG unloading operations.
Analisis SWOT dalam pengoperasian AIS dan protocol TCP/IP pada VTS Kasim Marine Terminal Satria, Budi; Simanjuntak, Marihot; Malau, April Gunawan; Fahcruddin, Imam
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.133

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kinerja sistem Vessel Traffic Service (VTS) di Kasim Marine Terminal, sebuah terminal lepas pantai strategis yang berlokasi di Selat Sele dan dikelola oleh Petrogas (Basin) Ltd. VTS ini didukung oleh teknologi AIS, protokol TCP/IP, serta pemantauan cuaca terintegrasi untuk mendukung keselamatan dan kelancaran navigasi. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam studi ini, dengan metode analisis SWOT yang didasarkan pada data dari 56 responden, terdiri atas operator VTS dan pengelola terminal. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengidentifikasi kekuatan utama pada posisi geografis yang strategis, kompetensi personel, dan pemanfaatan teknologi yang memadai. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi mencakup belum tersusunnya standar operasional prosedur (SOP), keterbatasan infrastruktur, dan minimnya pemahaman publik terhadap keberadaan VTS. Pemetaan posisi strategi menunjukkan bahwa sistem VTS berada pada kuadran Strengths–Opportunities (SO), yang mendorong pengembangan strategi pertumbuhan melalui pemanfaatan keunggulan internal dan peluang eksternal. Studi ini merekomendasikan penyusunan SOP, peningkatan dukungan regulasi, serta perbaikan teknis berkelanjutan guna mengoptimalkan fungsi VTS dan meningkatkan keselamatan pelayaran di wilayah operasional yang terpencil.   This study evaluates the operational effectiveness of the Vessel Traffic Service (VTS) implemented at Kasim Marine Terminal, a strategic offshore facility located in the Sele Strait and operated by Petrogas (Basin) Ltd. The VTS system incorporates AIS technology, TCP/IP protocols, and integrated weather monitoring to enhance maritime safety and navigation efficiency. A quantitative approach was employed using SWOT analysis, supported by data from 56 respondents consisting of VTS operators and terminal managers. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and document analysis. The findings highlight key strengths such as strategic location, competent personnel, and adequate technological integration. However, challenges remain, including the absence of formal standard operating procedures (SOPs), limited infrastructure, and low public awareness of the VTS system. The SWOT mapping places the system in the Strengths–Opportunities (SO) quadrant, suggesting a growth strategy by leveraging internal strengths and external opportunities. The study recommends developing operational standards, enhancing policy support, and investing in ongoing technical improvements to optimize the role of VTS in ensuring navigational safety at remote terminals.

Page 9 of 12 | Total Record : 114