cover
Contact Name
Panggea Ghiyats Sabrian
Contact Email
panggea@ft.unmul.ac.id
Phone
+6281281796175
Journal Mail Official
teknikgeologi@ft.unmul.ac.id
Editorial Address
Department of Geological Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Mulawarman Jl. Sambaliung No.9 Samarinda, Kalimantan Timur, 75119
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 24433012     EISSN : 29642299     DOI : -
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi is a peer-reviewed scientific journal that was established in 2018, covering "Geology, Mining, Applied Geophysics and Related Topics". It is published by Department of Geology, Faculty of Engineering, Universitas Mulawarman, East Kalimantan, Indonesian, twice a year (January and July). JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi provides an opportunity for the publication of research from all fields of solid earth geosciences. Papers, which discuss the interaction between the solid earth, atmosphere, and water bodies, are also welcome. JTGEO publishes peer-reviewed articles and reviews. Original scientific articles should be written in good Bahasa Indonesia, of a maximum length of 15 printed pages. All articles are peer reviewed by at least two researchers expert in the field of the submitted paper.
Articles 60 Documents
PENENTUAN POTENSI COAL BED METHANE MELALUI PERHITUNGAN GAS CONTENT PADA SEAM BATUBARA FORMASI MUARAENIM Reinaldi Juniarto; Okta Dwi Puspita
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.108 KB) | DOI: 10.30872/jtg.v5i1.5435

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang bersifat terbarukan maupun non terbarukan. Salah satu sumber saya yang non terbarukan tetapi jumlahnya melimpah di Indonesia adalah batubara. Batubara di Indonesia sebagian besar tersebar di pulau Sumatra dan juga Kalimantan. Untuk di pulau sumatera, tepat nya di sumsel, batubara melimpah di formasi muara enim. Adapun batubara di muara enim sebagian besar merupakan kualitas rendah, sedangkan sisanya adalah kualitas tinggi. Batubara kualitas tinggi biasanya digunakan guna pembangkit listrik tenaga uap. Seiring berjalannya waktu, batubara kualitas tinggi semakin habis. Diperlukan inovasi guna memanfaatkan batubara kualitas rendah yang melimpah tersebut. Yaitu dengan coal bed methane. CBM merupakan gas Methane yang terdapat dan terbentuk pada Batubara selama terjadi aktivitas mikrobial (biogenic) atau panas (thermogenic) dalam proses pembentukan Batubara. Gas ini terbentuk selama proses pematangan dari batubara. Salah satu hal yang berperan besardalam cbm adalah nilai gas content (GC) dan gas in place (GIP). gas content merupakan banyaknya kandungan gas meterkubik per ton,sedangkan gas in place merupakan jumlah gas yang terkandung pada area tertentu. nilai gas content di dapatkan dari perhitungan metode kim menggunakan data proksimat batubara sedangkan gas in place didapatkan dari perhitungan rumus mavor&netson. Berdasarkan perhitungan formula kim dan rumus mavor&netson lokasi penelitian berpotensi sebagai pengembangan Coal Bed Methane.
GEOLOGI DAN ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PEMUKIMAN BERDASARKAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI DAN METODE AHP DI BUKIT PINANG, SAMARINDA ULU, KOTA SAMARINDA Hamzah Umar; Resty Intan Putri; Adjie Zunaid Tualeka; Utari Alifia
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.581 KB)

Abstract

Lokasi penelitian berada di Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah arahan peruntukan lahan permukiman yang sudah ada di lokasi penelitian sudah sesuai dengan kriteria - kriteria peruntukan lahanya berdasarkan pendekatan geomorfology. Adapun metode analisis yang digunakan ialah metode Proses Hirarki Analitik (AHP), yang digunakan untuk mencari nilai bobot dari parameter litologi, morfologi, kemiringan lereng, tingkat kebasahan lahan, dan tingkat tutupan lahan. serta menggunakan penentuan klasifikasi kesesuaian lahan menurut FAO 1976 untuk kategori sub-kelas. Hasilnya terdapat 3 kelas wilayah di daerah penelitian yaitu lahan sesuai, merupakan daerah yang memilki tingkat kemampuan lahan tinggi dan baik untuk dibangun atau dikembangkan lahan pemukiman, lahan sesuai bersyarat merupakan daerah yang memilki tingkat kemampuan sedang atau kurang untuk dikembangkan sebagai lahan pemukiman, lahan tidak sesuai merupakan daerah yang memilki tingkat kemampuan lahan yang buruk untuk dikembangkan sebagai lahan pemukiman.
STUDI FASIES PENGENDAPAN FORMASI PULAU BALANG DAERAH BENANGA LEMPAKE KECAMATAN SAMARINDA UTARA, KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Hamzah Umar; Muhammad Dahlan Balfas; Ilham Wahyudi; Ikhzan .
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.097 KB)

Abstract

Lingkungan pengendapan adalah karakteristik dari suatu tatanan atau sistem geomorfik dengan proses fisik, kimia, dan biologi berlangsung akan menghasilkan suatu jenis endapan sedimen tertentu. Lingkungan pengendapan secara umur dibagi menjadi 3 macam yaitu lingkungan pengendapan darat, transisi dan laut.Fasies  merupakan suatu  tubuh  batuan  yang  memiliki  kombinasi  karakteristik dilihat  dari litologi, struktur sedimen dan biologi yang memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang ada di bawah, atas dan di sekitarnya. Metode yang digunakan dalam melakukan analisis fasies dengan cara pengamatan struktur sedimen pada litogi yang ada, tekstur sedimen dengan melakukan sayatan tipis pada sampel batuan dan melakukan pengamatan kehadiran fosil jejek pada litologi.Dari hasil analisis yang telah dilakukan pada daerah penelitian didapatkan 4 asosiasi fasies dan 2 ichnofasies, dari data tersebut didapatkan 2 lingkungan pengendapan yaitu dataran pasang surut (Tidal Flat) merupakan lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh arus pasang-surut (tidal) dan pantai (Shoreface-0ffshore) yang merupakan lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh gelombang.
GEOLOGI DAN BIODIVERSITAS DAERAH KAWASAN BUKIT BIRU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Muhammad Ali Sodikin; Heriyanto .; Koeshadi Sasmito; Puspa Indah Rindawati
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtg.v4i1.6780

Abstract

Kawasan Bukit Biru dikenal sebagai daerah subur dan menyimpan beragam potensi, baik dari geodiversity, biodiversity dan cultural diversity. Berdasarkan hal inilah yang menjadikannya berpotensi menjadi salah satu daerah aspek lokasi geowisata dan menjadikan sebagai kawasan geowisata kreatif yang baru di Indonesia. Kawasan ini memiliki kondisi tatanan geologi yang didominasi oleh bentang alam struktural dan dataran fluvial yang disusun oleh satuan Batupasir Sedang hingga satuan Batupasir Sangat Halus serta endapan alluvial. Metode penelitian yang digunakan adalah penilaian kuantitatif dari penilaian biodiversitas berdasarkan identifikasi objek yang didapat. Penelitian terbagi 3 tahap yaitu pra-lapangan, lapangan dan pasca lapangan. Berdasarkan penelitian, terdapat 2 biodiversitas, yaitu Bothrobelum Rugosum yang merupakan hewan asli hutan kalimantan yang mirip dengan kaki seribu, namun relatif bertubuh pendek dibandingkan dengan kebanyakan kaki seribu lainnya, dengan hanya sebelas hingga tiga belas segmen tubuh dan mampu berguling menjadi bola saat diganggu, sebagai pertahanan melawan predator. Selanjutnya adalah Eutropis Multifasciata merupakan kadal berukuran agak kecil, panjang antara 18 hingga 22 cm dengan sekitar 60% dari panjangnya adalah panjang ekor. Kepalanya berbentuk lancip dengan leher yang sangat pendek. Badannya berbentuk persegi atau kotak. Tubuh bagian atas berwarna coklat tua atau cokelat keabu-abuan mengkilap dengan sisi tubuh berwarna keemasan di dekat leher.
GEOLOGI DAN ANALISIS BAHAYA TANAH LONGSOR DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI DESA TANAH DATAR KECAMATAN MUARA BADAK KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Hamzah Umar; Heriyanto .; Pramudita Pradya Syilvana; Friska Hutapea
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.506 KB)

Abstract

Secara administratif daerah penelitian terletak di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanengara, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi meliputi tatanan geologi baik kondisi geomorfologi, struktur geologi, stratigrafi dan mekanisme struktur geologi, maupun analisis bahaya longsor dari daerah penelitian dan dipetakan pada peta berskala 1:10.000. Metode yang digunakan dalam analisis ini yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan bantuan software ArcGIS. Beberapa data yang digunakan yaitu data geologi dan beberapa data sekunder seperti peta curah hujan dan peta penggunaan lahan. Analisis pada penelitian ini yaitu analisis geologi dari hasil pemetaan geologi kemudian dilanjutkan dengan analisis bahaya longsor dengan metode AHP yang diolah dengan mencari bobot serta konsistesi rasio terhadap nilai eigen. Kemudian, dilakukannya pembobotan dan sistem overlay terhadap data–data seperti peta litologi, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan, dan peta curah hujan. Hasil penelitian untuk menentukan keadaan geologi di daerah penelitian terdapat 2 satuan batuan yaitu satuan batuan batupasir Tanah Datar dan satuan batuan batulempung Batu–batu. Struktur Geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah antiklin, sinklin, dan kekar. Sedangkan geomorfologi daerah penelitian termasuk bentuk asal denudasional. Bentuk asal denudasional dengan bentuk lahan perbukitan terkikis dengan simbol D1. Pada analisis bahaya tanah longsor didapatkan zona bahaya dari daerah penelitian yang terdiri dari 4 kelas yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
GEOLOGI DAN IDENTIFIKASI AKUIFER DENGAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI DIPOLE- DIPOLE DAERAH BHUANA JAYA, KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG, KALIMANTAN TIMUR Muhammad Amin Syam; Heriyanto . .; Koeshadi . Sasmito; Adam Mulya Ghifary; Gabriel Denny Lambe
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.742 KB) | DOI: 10.30872/jtg.v4i1.5942

Abstract

Lokasi penelitian berada di Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah pada lokasi penelitian terdapat airtanah serta jenis akuifernya berdasarkan data geologi dan data geolistrik. Adapun metode analisis yang digunakan ialah metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole yang digunakan untuk mencari nilai resistivitas pada lapisan di bawah permukaan. Nilai resistivitas tersebut kemudian dikonversi menjadi penampang sehingga didapatkan hasil interpretasi untuk mencari keberadaan airtanah serta jenis akuifernya. Hasilnya terdapat 3 (tiga) lintasan pada lokasi penelitian dan masing-masing lintasan ditemukan beberapa titik keberadaan airtanah berdasarkan hasil interpretasi pada penampang 2D yang telah diolah. Pada lintasan 1 (satu) dan lintasan 3 (tiga), didapatkan keberadaan airtanah dengan jenis akuifer tertekan (confined aquifer). Pada lintasan 2 (dua) didapatkan keberadaan airtanah dengan jenis akuifer bebas (unconfined aquifer).
POTENSI AIR TERJUN DANGGANG SAPAYA SEBAGAI OBJEK GEOWISATA KABUPATEN GOWA, SULAWESI SELATAN Yusrin Annisa; Rifnaldo Karangan; Titien Haryani; Nur Hikmah
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.195 KB) | DOI: 10.30872/jtg.v5i1.5350

Abstract

Air terjun merupakan fenomena bentang alam yang menarik, karena biasanya berkaitan dengan struktur geologi (patahan). Air terjun sendiri memiliki formasi aliran air yang jatuh dari ketinggian tertentu serta mengalir melalui sebuah formasi batuan yang mengalami macam-macam erosi. Di Indonesia terdapat banyak air terjun yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri, banyak air terjun yang sudah dijadikan sebagai tempat wisata alam serta masih banyak pula air terjun yang masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat, salah satunya adalah air terjun Danggang Sapaya. Air terjun Danggang Sapaya dapat dijadikan sebagai objek geowisata karena memiliki kekayaan struktur geologi yang unik sehingga menjadikannya tempat yang menarik untuk dikunjungi, dan jika dijadikan objek geowisata diharapkan dapat menjadi salah satu nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kecamatan Bongaya kabupaten Gowa serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Penelitian yang digunakan dengan melakukan pengamatan secara langsung mengenai potensi kekayaan alam dari air terjun Danggang Sapaya itu sendiri dan pemanfaatannya sebagai objek geowisata. Metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data lapangan melalui kegiatan penelitian untuk mengetahui keadaan dan kondisi geologi dari air terjun Danggang Sapaya selanjutnya melakukan analisis data secara kualitatif yang mengacu pada klasifikasi kelayakan dan kesiapan air terjun sebagai objek geowisata dan deskriptif kuantitatif yang mengacu pada penilaian potensi geowisata (nilai edukasi, ekonomi, konservasi dan nilai tambahan). Hasil yang akan diperoleh dari air terjun Danggang Sapaya adalah kelayakannya sebagai objek geowisata yang akan dikunjungi masyarakat serta potensi yang akan dirasakan oleh masyarakat kecamatan bongaya yang bernilai ekonomi dan sebagai objek wisata yang dikunjungi masyarakat diluar Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
GEOLOGI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK MORFOTEKTONIK DAN MORFOMETRI UNTUK PENENTUAN SUBDAS PRIORITAS UNTUK PENANGGULANGAN BANJIR DAERAH TANJUNG BATU KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Heriyanto .; Muhammad Amin Syam; Aditya Pratama; Mahfuzh Qoid
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.837 KB)

Abstract

Pulau Kalimantan merupakan bagian dari kerak Sunda (Sundaland). Morfologi Pulau Kalimantan didominasi oleh perbukitan hingga perbukitan terjal pada bagian tengahnya, sedangkan dataran terdapat pada daerah sepanjang pantai. Morfologi perbukitan hingga perbukitan terjal tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier, sedangkan morfologi dataran tersusun oleh batuan berumur Kuarter. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Geologi daerah sekitar, morfotektonik dan morfometri di daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data vektor jaringan sungai dan peta topografi. Hasil penelitian menunjukan dari segi morfometri bahwa DAS Pulau Jawan yang memiliki nilai prioritas pengelolaan lebih tinggi, diikuti DAS Landap kemudian DAS Loa Lepu dan DAS Tuwayan, dan dari segi morfotektonik diperoleh bahwa daerah penelitian tersebut merupakan tektonik tidak aktif.
INTERPRETASI SEISMIK REFRAKSI 2D UNTUK MENGIDENTIFIKASI GEOMETRI MUD VOLCANO DI DAERAH BERAMBAI, SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Muhammad Amin Syam; Muhammad Dahlan Balfas; Hamzah Umar; Yoga Tri Wardana
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1609.812 KB)

Abstract

Lokasi penelitian terletak di Cekungan Kutai dengan luas wilayah pemetaan geologi 6,25 km2. Fenomena geologi yang dapat dijumpai di lokasi penelitian sebagai efek tektonik di masa lampau adalah mud volcano yang terbentuk di perbukitan antiklin. Analisis yang digunakan adalah dengan melakukan interpretasi lapisan batuan di bawah permukaan yang terekam oleh alat seismik refraksi. Mekanisme akuisisi seismik refraksi di lapangan adalah dengan menentukan lintasan geophone yang berada di sekitar mud volcano. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan software geosstru easyrefract diperoleh nilai cepat rambat gelombang pada tiap lapisan batuan. Lapisan pertama memiliki kecepatan rambat gelombang 194.6 m/s - 379.6 m/s diinterpretasi sebagai lapisan sand (unsaturated), lapisan kedua memiliki kecepatan rambat gelombang 500.8 m/s - 857.2 m/s yang diinterpretasi sebagai lapisan sand and gravel saturated, dan lapisan ketiga memiliki kecepatan rambat gelombang 1006.0 m/s - 1130.3 m/s diinterpretasi sebagai lapisan clay. Geometri mud volcano yang dapat diinterpretasi tersusun atas 3 lapisan batuan yang mengindikasikan lapisan dari mud volcano dengan kedalaman maksimal yang mampu dicapai adalah 38 meter di bawah permukaan.
GEOLOGI DAN EVALUASI TATA GUNA LAHAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAERAH LOA BAKUNG KECAMATAN SUNGAI KUNJANG KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Resty Intan Putri; Koeshadi Sasmito; Diana Rahmawati; Endix Syaiqul Aqsha
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.429 KB) | DOI: 10.30872/jtg.v4i1.7083

Abstract

Secara administratif daerah penelitian terletak di Kelurahan Loa Bakung dan Loa Buah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Dan secara geografis daerah penelitian ini terletak pada koordinat 0°31'32.74" LS dan 117°5'34.15" BT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi meliputi tatanan geologi baik kondisi geomorfologi struktur geologi, stratigrafi dan evaluasi tata guna lahan dari segi kebencanaan terkhususnya banjir pada daerah penelitian dan dipetakan pada peta berskala 1:10,000. Metode pengambilan data difokuskan pada pengambilan data-data geologi permukaan, yang terdiri atas studi literatur, pengambilan data, analisa data dan hasil yang pada akhirnya menjadi sebuah tulisan ilmiah berupa skripsi. Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 2 (dua) bentuk asal yakni, bentuk asal Struktural, dan bentuk asal fluvial. Dari beberapa bentuk asal, bentuk asal Struktural dengan bentuk lahan lembah sinklin S1 dan perbukitan homoklin S2, kemudian untuk bentuk asal Fluvial bentuk lahan tubuh sungai F1 dan dataran alluvial F2. Di daerah penlitian terdapat 3 satuan batuan yaitu satuan batuan batulempung loa bakung, satuan batuan batupasir loa bakung dan endapan alluvial. Struktur Geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah sinklin loa bakung dan sesar naik loa bakung. Kondisi banjir pada kelurahan loa bakung sebesar 22% wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir yang tergolong tidak rawan dengan luas 337 Ha. Sebesar 11% wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir yang tergolong kurang rawan dengan luas 170 Ha. Sebesar 26% wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir yang tergolong rawan dengan luas 397 Ha. Sebesar 8% wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir yang tergolong tidak cukup rawan dengan luas 118 Ha. Sebesar 33% wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir yang tergolong sangat rawan dengan luas 489 Ha. Evaluasi dari tata guna lahan pada daerah loa bakung adalah perlu adanya peninjauan Kembali terkain perencanaan tata ruang yang di lihat dari segi kebencanaan terutama banjir masih banyak area baik pemukiman, industri, dan perdaganagan dan jasa yang masuk kedalam area sangat rawan banjir.