Cakradonya Dental Journal
Cakradonya Dental Journal (CDJ) is a scientific journal publishes twice a year, on February and August. CDJ publishes conceptual articles from original research results that are relevant to the fields of medicine, dental care, oral health, general dentistry, dental materials, and public health. CDJ also publishes literature reviews and case reports.
Articles
524 Documents
EFEKTIFITAS PELATIHAN PENANGANAN KEDARURATAN TRAUMA DENTAL DENGAN METODE SIMULASI
Bertha Aulia;
Sri Wahyuni;
Annisa Indita Riami
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13626
Latar Belakang: Trauma dental yang terjadi di sekolah sering kali tidak ditangani dengan baik.Menurut data 97,55% kejadian tidak dirawat dan akhirnya menyebabkan kecacatan. Dokter kecilsebagai kader kesehatan sekolah diharapkan dapat melakukan prosedur penanganan kegawatdaruratantrauma dental sebelum dirujuk ke tenaga medis profesional, sehingga diperlukan pelatihankegawatdaruratan bagi mereka. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pelatihan dokter kecil dalampenanganan kedaruratan trauma dental dengan metode simulasi. Metode: Jenis penelitian ini adalahquasi experiment. Penelitian ini adalah eksperimetal semu dengan rancangan pre-test and post-testgroup. Subjek penelitian adalah 60 dokter kecil yang dibagi menjadi 2 kelompok; 30 dokter kecilkelompok metode simulasi, dan 30 dokter kecil kelompok metode demonstrasi. Analisis datamenggunakan uji T berpasangan. Hasil: Metode simulasi meningkatkan rata-rata pengetahuan dokterkecil sebesar 55,6%, sedangkan kelompok metode demonstrasi sebesar 44,6%. Hasil uji Tberpasangan pada perbandingan metode simulasi dan demonstrasi didapatkan nilai p=0,03 (pvalue0,05). Kesimpulan: Pelatihan penanganan kedaruratan trauma dental dengan metode simulasilebih efektif dibandingkan metode demonstrasi dalam meningkatkan pengetahuan dokter kecil.Kata Kunci: trauma dental, dokter kecil, metode simulasi
REHABILITASI RONGGA MULUT PADA ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL
Ulfa Yasmin;
Eriska Riyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13627
Disabilitas intelektual atau yang sebelumnya disebut dengan retardasi mental merupakan suatugangguan cacat umum adaptif dan fungsi intelektual yang berhubungan dengan onset usiaperkembangan seharusnya. Prevalensi disabilitas intelektual pada anak-anak di bawah umur 18 tahundi negara maju diperkirakan mencapai 0,5-2,5% sedangkan di negara berkembang berkisar 4,6%.Laporan kasus ini memaparkan seorang anak perempuan usia 12 tahun yang menderita disabilitasintelektual dengan keadaan kebersihan mulut yang sangat buruk. Pemeriksaan intra oral menunjukkanbanyaknya gigi persistensi, nekrosis gigi molar pertama permanen kiri rahang bawah disertai kistaradikalis, serta gingivitis marginalis kronis rahang atas dan bawah. Pasien selalu mengeluarkan air liur(drooling) secara berlebihan sehingga selalu membuat baju serta barang disekitarnya menjadi basah.Pasien mendapatkan perawatan dibawah anestesi umum dikarenakan banyaknya tindakan pencabutanyang harus dilakukan dan pasien tidak dapat mengikuti instruksi dokter gigi. Edukasi diberikankepada pasien dan orangtua mengenai cara pemeliharaan rongga mulut dan latihan myofungsionaluntuk mengurangi drooling yang terjadi. Kerjasama dokter gigi, orangtua dan pasien sangat pentingdalam perawatan anak disabilitas intelektual dengan tujuan menjaga kebersihan rongga mulut anak.Kata Kunci : Rehabilitasi, disabilitas intelektual, anastesi umum, drooling.
POTENSI ANTIMIKROBA PHOTO ACTIVATED DISINFECTION TERHADAP Enterococcus faecalis PADA PERAWATAN SALURAN AKAR GIGI
Sinta Deviyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13623
Disinfeksi sistem saluran akar gigi sangat penting dalam perawatan saluran akar gigi. Instrumenmekanik dan agen desinfeksi atau larutan irigasi seperti NaOCL tidak efektif mengurangi jumlahbakteri di dalam saluran akar yang terinfeksi karena anatomi akar gigi yang kompleks. Kegagalanperawatan endodontik sering meninggalkan bakteri di sistem saluran akar gigi. Enterococcus faecalismerupakan salah satu mikroorganisme terpenting yang bertanggungjawab pada kegagalan perawatansaluran akar gigi. Bakteri ini kebal terhadap agen antimikroba dan mampu berkoloni membentukbiofilm di saluran akar gigi. Saat ini perangkat baru seperti photoactivated disinfection telah dicobauntuk disinfeksi saluran akar gigi. Photoactivated disinfection merupakan strategi antimikroba yangmenggunakan energi laser berkekuatan rendah untuk mengaktivasi suatu pewarna tidak toksik yangdiaktivasi sinar (photosensitizer). Energi yang dipindahkan dari photosensitizer teraktivasi ke oksigenyang tersedia, akan membentuk oksigen singlet sebagai spesies oksigen toksik. Spesies oksigen yangsangat reaktif secara kimia ini dapat merusak membran dan DNA bakteri patogen. Beberapapenelitian menunjukkan bahwa photoactivated disinfection dapat efektif mengurangi E.faecalis didalam saluran akar selama prosedur antimikroba bila digunakan bersama dengan prosedur disinfeksikonvensional untuk sterilisasi saluran akar. Photoactivated disinfection merupakan pendukung untukprotokol standar disinfeksi saluran akar gigi.Kata kunci: photoactivated disinfection, Enterococcus faecalis, perawatan saluran akar.
EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica) TERHADAP PERTUMBUHAN Enterococcus faecalis SECARA IN-VITRO
Cut Soraya;
Sunnati -;
Fenny Wulandari
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13624
Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan untuk mempertahankan gigi agar dapatberfungsi di lengkung gigi selama mungkin. Penyebab dominan dari kegagalan perawatan endodontikadalah adanya bakteri di dalam saluran akar. Bakteri yang paling sering ditemukan pada isolasi darigigi yang mengalami kegagalan perawatan saluran akar adalah Enterococcus faecalis (E.faecalis).Salah satu jenis tanaman herbal yang memiliki sifat antibakteri yang tinggi adalah tanaman mimba(A.indica). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efek antibakteri ekstrak daun mimba (A.indica)terhadap pertumbuhan E. faecalis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorisdengan desain penelitian true experimental posttest only control group. Penelitian dilalukan denganmenguji ekstrak daun mimba (A.indica) pada konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%terhadap pertumbuhan E. faecalis yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas KedokteranHewan (FKH) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Hasil uji fitokimia yang dilakukan menunjukkanbahwa ekstrak daun mimba (A. indica) positif mengandung triterpenoid, phenolic compound, tanin,steroid dan saponin yang berperan sebagai antibakteri. Hasil uji efek antibakteri ekstrak daun mimba(A. indica) menunjukkan adanya pembentukan zona hambat di sekitar kertas cakram pada setiapkonsentrasi. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak daun mimba memiliki efek antibakteri yangmemiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan E. faecalis. Uji statistik digunakanmenggunakan one way ANOVA. Kemudian dilakukan uji lanjut (Post hoc test) menggunakan LeastSignificant Difference untuk menganalisis perbedaan efek antibakteri ekstrak daun mimba (A. indica)dalam konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% terhadap pertumbuhan E.faecalis.Kesimpulan penelitian ini ekstrak daun mimba (A. indica) berpotensi menghambatpertumbuhan E. faecalis.Kata Kunci: Azadirachta indica, Enterococcus faecalis, perawatan saluran akar.
EFEKTIVITAS INFUSUM DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans
Murniwati -;
Defriman Djafri;
Berlian Kurniawati;
Susi -;
Minarni -
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13622
Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) bersifat antibakteri karena mengandung zat flavonoid, tanin,saponin dan alkaloid yang berpotensi digunakan sebagai biomaterial penghambat pertumbuhanStreptococcus mutans. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan efektifitas daun belimbing wuluhterhadap pertumbuhan Streptococcus mutans, dengan cara membandingkan berbagai konsentrasi infusumdaun ini (25%, 50%, 75% dan 100%). Penelitian eksperimental ini dilakukan secara in vitro meggunakan6 cakram mengandung infusum yang direndam dan ditanamkan pada media agar darah yang ditumbuhiS. mutans. S. mutans yang ditumbuhkan pada medium mengandung etanol 70% dan pada mediummengandung aquades, masing-masing digunakan sebagai kontrol (+) dan kontrol (-). Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata zona hambat infusum daun belimbing wuluh pada konsentrasi 100% adalah 11,46mm dan pada konsentrasi 5% adalah 7,43 mm. Pada Kelompok perlakuan dengan konsentrasi infusum50% dan 25% tidak teramati adanya zona hambat. Uji Kruskal wallis menunjukkan terdapat perbedaanyang bermakna (p=0.001) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Infusum daun belimbingwuluh efektif dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, dan efektifitas ini tergatung padapeningkatan konsentrasi uji. Konsentrasi 100% adalah konsentrasi yang paling efektif dalam menghambatpertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Diperlukan penelitian lanjut khususnya eksperimen in vivomenggunakan hewan coba untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini.Kata kunci: Daun belimbing wuluh , Streptococcus mutans
DAYA HAMBAT KUNYIT (Curcuma longa linn) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans
Zaki Mubarak;
Basri A Gani;
Mutia -
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13621
Kunyit (Curcuma longa linn) merupakan bahan herbal mengandung senyawa aktif Curcuminoid yangterdiri atas Curcumin, Bisdementhoxycurcumin dan Dementhoxycurcumin yang mempunyai sifat antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis daya hambat ekstrak kunyit terhadappertumbuhan Candida albicans, in vitro. Uji daya hambat pada penelitian ini menggunakan metodedifusi agar (Kirby-Bauer) dengan nistatin 100g sebagai kontrol positif dan kertas cakram kosongsebagai kontrol negatif. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA satu arah (One Way Analysisof Varians) dengan taraf kepercayaan 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ekstrak kunyit dengan pelarut etanol 96% pada konsentrasi 12,5%, 25%, 50%,75% dan 100% dapat menghambat pertumbuhan C.albicans. Diameter zona hambat terbesar terlihatpada konsentrasi ekstrak kunyit 100% yaitu 10,3 mm, dan diameter terkecil terlihat pada konsentrasi12,5% yaitu 6,6 mm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kunyit dapatmenghambat pertumbuhan C.albicans, dengan demikian berpotensi untuk digunakan sebgai bahanherbal anti-C.albicans. Namun potensi in vivo herbal ini perlu ditetapkan melalui studi lanjut padahewan coba.Kata kunci: Kunyit, Candida albicans, difusi agar
PENGARUH TEKNIK PENCETAKAN FISIOLOGIS TERHADAP CACAT PERMUKAAN CETAKAN
Putri Welda Utami Ritonga;
Nafsani Fauzia
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v10i2.11714
Prosedur penting yang harus dilakukan untuk mendapatkan cetakan dan membuat model kerja yang akurat adalah pemilihan dan penggunaan teknik pencetakan dan bahan cetak yang tepat. Pada pembuatan model kerja gigi tiruan cekat perlu diperhatikan kualitas permukaannya untuk mendapatkan model yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik pencetakan fisiologis terhadap cacat permukaan cetakan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini adalah hasil pencetakan model induk dengan bahan elastomer, model induk berukuran 6,33 mm untuk ukuran mesiodistal, 8,02 mm untuk ukuran oklusogingival dan 28,25 mm untuk ukuran interabutment berjumlah 30 buah pada masing-masing teknik dan diperiksa cacat permukaan cetakannya dengan menggunakan kaca pembesar. Setelah itu, hasil dari cacat permukaan diuji menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara teknik pencetakan putty wash one-step dan two-step terhadap cacat permukaan. Dapat disimpulkan, kedua teknik pencetakan putty wash one-step dan two-step dapat digunakan untuk mendapatkan cetakan yang baik.
PERBANDINGAN TINGKAT KEBOCORAN MIKRO ANTARA RESIN KOMPOSIT DAN GLASS IONOMER CEMENT SEBAGAI BAHAN PENUTUPAN FISURA (EVALUASI IN-VITRO SETELAH SATU BULAN APLIKASI)
Iin Sundari;
Viona Diansari;
Eka Julianti
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v10i2.11713
Penutupan fisura merupakan metode pencegahan non-invasif yang efektif pada permukaaan gigi dengan pit dan fisura yang dalam dan sempit untuk mencegah terjadinya karies. Bahan penutupan fisura yang sering digunakan adalah resin komposit dan Glass Ionomer Cement (GIC). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang perbandingan tingkat kebocoran mikro antara resin komposit dan GIC sebagai bahan penutupan fisura melalui evaluasi in vitro setelah satu bulan aplikasi. Spesimen penelitian berjumlah 16 gigi premolar rahang atas dengan pit dan fisura yang dalam dan sempit. Spesimen ini dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan. Kelompok pertama menggunakan resin komposit (3M ESPE Clinpro) dan kelompok kedua menggunakan GIC (Fuji VII). Spesimen dilakukan pengkondisian selama satu bulan didalam inkubator dan direndam dalam larutan methilene blue 5% selama 24 jam. Spesimen kemudian diamati dengan menggunakan stereo mikroskop dan diukur tingkat kebocorannya. Skor kebocoran mikro menggunakan penetrasi dye dengan tiga kriteria skor yaitu 0, 1, dan 2. Data dianalisis menggunakan statistik nonparametrik (uji Mann Whitney). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan skor kebocoran mikro yang signifikan antara bahan penutupan fisura resin komposit dan GIC (p0,05). Kelompok penutupan fisura dengan resin komposit memiliki rerata skor kebocoran mikro lebih kecil (0,25) dibandingkan kelompok penutupan fisura dengan GIC (1,875) setelah penutupan fisura satu bulan.
APEKSIFIKASI DAN INTRACORONAL BLEACHING PADA GIGI INSISIVUS SENTRAL KANAN MAKSILA
Reni Nofika
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v10i2.11712
Trauma pada gigi permanen imatur akan mengganggu apeksogenesis sehingga apeks tetap terbuka dan bisa terjadi diskolorasi jika gigi telah nekrosis. Kasus ini melaporkan perawatan pada gigi nekrosis dengan apeks masih terbuka dan mengalami diskolorasi. Pasien laki-laki usia 22 tahun datang ke klinik konservasi gigi RSGM Prof Soedomo FKG UGM karena gigi 1.1 atasnya patah di usia 12 tahun akibat jatuh dan merasa gigi tersebut berubah warna. Pada pemeriksaan klinis gigi 1.1 fraktur pada sepertiga insisal distal melibatkan dentin dan mengalami diskolorasi. Tes perkusi dan palpasi positif, tes termal negatif, dan tidak ada kegoyangan gigi. Pada radiograf periapeks terlihat apeks terbuka dan radiolusensi di periapeks dengan batas difus. Diagnosisnya adalah nekrosis pulpa dengan abses apikalis kronis disertai apeks terbuka dan diskolorasi intrinsik. Rencana perawatan adalah apeksifikasi dilakukan dengan menempatkan bahan MTA pada ujung akar, dilanjutkan prosedur intracoronal bleaching (walking bleach) dan direstorasi dengan resin komposit kelas IV diperkuat dengan pasak fiber siap pakai. Evaluasi pasca restorasi menunjukkan tidak ada keluhan sakit dan kondisi klinis baik. Kesimpulannya penutupan apeks menggunakan MTA dilanjutkan dengan intracoronal bleaching pada kasus nekrosis pulpa dengan abses apikalis kronis disertai apeks terbuka dan diskolorasi intrinsik menunjukkan kesuksesan.
GAMBARAN PH SALIVA DARI PEROKOK AKTIF DAN PASIF PADA MASYARAKAT KECAMATAN MESJID RAYA ACEH BESAR
Dewi Saputri;
Diana Setya Ningsih;
Ridha Rosmarna Dewi
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v10i2.11711
Saliva adalah cairan kompleks yang sangat penting untuk kesehatan rongga mulut Asap rokok mengandung berbagai komposisi beracun yang mengakibatkan perubahan saliva secara struktural maupun fungsional. Asap rokok mengandung nikotin yang bekerja pada reseptor kolinergik tertentu di otak yang dapat menyebabkan aktivasi saraf sehingga terjadi perubahan sekresi dan pH saliva. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran pH saliva pada perokok aktif dan pasif. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Metode pengambilan sampel dengan cara non probability sampling pada 80 subjek yang terdiri dari dua kelompok, yaitu 40 subjek perokok aktif dan 40 subjek perokok pasif. Hasil analisis univariat menunjukkan semua perokok aktif, 40 orang atau 100%, mempunyai pH saliva bersifat asam, sedangkan pada perokok pasif hanya 13 orang (32,5%). Sisa subjek perokok pasif yaitu sebanyak 27 orang (67,5%) mempunyai pH saliva bersifat normal. Sebagai kesimpulan penelitian ini adalah pH saliva yang bersifat asam ditemukan pada semua perokok aktif, sedangkan pada perokok pasif lebih banyak didapatkan pH saliva normal. Juga pH saliva perokok aktif lebih asam (6,15) daripada pH saliva perokok pasif (6,81).Kata Kunci: Perokok aktif, perokok pasif, pH saliva