Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Profil titer antiserum-inhibin hasil induksi inhibin 32 kDa pada kelinci sebagai kandidat vaksin untuk induksi superovulasi= Profile of antibody titre against inhibin in rabbit following induction of inhibin 32 KDA ... T.N.Siregar .; Aulanni'am .; Y. Linggi; G. Riady; Hamdan .; T. Armansyah
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2821.946 KB) | DOI: 10.22146/jsv.351

Abstract

ujuan penelitian ini adalah mempelajari profil anti-inhibin hasil induksi inhibin 32 kDa dari sel granulosa folikel ovarium kambing pada kelinci. Penelitian ini dilakukan dilakukan dalam 2 tahap yaitu 1) isolasi dan karakterisasi inhibin dari sel granulosa folikel ovarium kambing dan 2) karakterisasi anti-inhibin sebagai respon imun akibat induksi oleh inhibin. Karakterisasi inhibin dilakukan menggunakan teknik sodium dodecyl sulphonat polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dan anti-inhibin dikarakterisasi menggunakan teknik blotting (dot blot dan Western blot) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Imunisasi 200 p.1 inhibin dilakukan dengan penambahan ill 200 Complete Freund's Adjuvant (CFA) dan 200111 Incomplete Freund's Adjuvant (IFA) masing-masing untuk imunisasi primer dan booster. Serum dikoleksi setiap minggu selama 10 kali setelah booster I. Hasil SDS-PAGE menunjukkan bahwa inhibin sel granulosa folikel ovarium kambing mempunyai BM 32 kDa. Imunisasi primer yang diikuti 2 kali booster menginduksi respon imun humoral yang ditandai dengan biosintesis anti-inhibin. Titer optimum dicapai pada pengambilan darah ke-8 (65 hari pasca imunisasi primer).
EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa) MENINGKATKAN AKTIVITAS FAGOSITOSIS MAKROFAG MENCIT SWISS YANG DIINFEKSI Lysteria monocytogenes Akrom A; Andi Widjaya; T. Armansyah
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.861 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2807

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol biji jintan hitam (EEBJH) terhadap aktivitas fagositosis dan sekresi reactive oxygen intermediates (ROI) makrofag peritoneal mencit Swiss yang diinfeksi Lysteria monocytogenes (L. monoytogenes). Dalam penelitian ini digunakan 72 ekor mencit jantan galur Swiss dengan berat antara 20-30 g. Mencit dibagi ke dalam enam kelompok, masing-masing terdiri atas 12 ekor. Kelompok 1 (kelompok kontrol negatif), diberi akuades secara per oral. Kelompok II (kelompok kontrol positif), hewan uji diberi imboost per oral. Kelompok III, IV, V, dan VI sebagai kelompok perlakuan, masing-masing diberi EEBJH dengan dosis 1, 5, 25, dan 125 mg/kg bobot badan/hari per oral selama 14 hari. Pada hari ke-15, semua mencit diinfeksi L. monocytogenes. Aktivitas fagositosis makrofag peritoneal diamati dengan metode lateks sedangkan aktivitas sekresi ROI diamati dengan metode nitro blue tetrazolium (NBT) reduction assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EEBJH meningkatkan aktivitas fagositosis dan sekresi ROI makrofag peritoneal yang diinfeksi L. monocytogenes. Angka kematian hewan uji pada kelompok perlakuan lebih rendah dari kelompok negatif. Aktivitas fagositosis dan sekresi ROI makrofag tertinggi terdapat pada hari ke-14. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa EEBJH memiliki efek meningkatkan aktivitas fagositosis dan sekresi ROI makrofag mencit Swiss yangdiinfeksi L. monocytogenes. Kelompok perlakuan dengan dosis 5 mg/kg bobot badan EEBJH memiliki aktivitas fagositosis dan sekresi ROI tertinggi.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Muslim Akmal; Aulanni’am A; M. Aris Widodo; Sutiman B. Sumitro; Basuki B. Purnomo; Tongku Nizwan Siregar; Muhammad Hambal; Amiruddin A; Syafruddin S; Dwinna Aliza; Arman Sayuti; Mulyadi Adam; T. Armansyah; Erdiansyah Rahmi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.745 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
3. An Immunohistochemical Study of Alpha Estrogen Receptor (ERα) Development in Ovary and Uterus of Rat (Rattus norvegicus) Sri Wahyuni; Chintya Desfariza; Hamny Hamny; Muslim Akmal; Gholib Gholib; T. Armansyah
Jurnal Medika Veterinaria Vol 13, No 1 (2019): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v13i1.4100

Abstract

This research aimed to observe and identify the development of estrogen receptor alpha (ERα) in the ovary and uterus of rats (Rattus norvegicus) at various age levels using immunohistochemistry (IHC). The ovary and uterus were collected from eight female rats aged 2, 4, 6, and 12 months and processed histologically and stained with IHC staining. This research showed, the intensity of ERα expression was found in high abundance (+++) in stroma and the corpus luteum and was weakly found (+) in the theca cells, blood vessels, oocytes and germinal epithelium of rats aged 2 months. Additionally, ERα expression in rats aged 4 months had similarities with rats aged 2 months, but the intensity of ERα had increased (++) in ovarian theca cells, blood vessels, and oocytes. In ovaries of rats aged 6 and 12 months, ERα expression had decreased (++) in the stroma and the corpus luteum and had a low expression (+) in the blood vessel and oocytes. The uterus of rats aged 2 months had low expression of ERα (+) in the stroma and luminal epithelium, moderate (++) in the myometrium, but was not found in the uterine glands. Furthermore, the expression in the uterus of rats at the age of 4 months had increased in the stroma and luminal epithelium (++) and uterine glands (+).  At the age of 6 months, it found excessively (+++) in the stroma, myometrium, and luminal epithelium, moderate expression (++) in the uterine glands.  The expression of ERα in uterus aged 12 months was almost equal to the uterus of rats aged 6 months, but the expression in the myometrium and epithelial luminal had decreased (++). It can be concluded that the development and distribution pattern of ERα in the ovaries and uterus of rats are different at each age levels, it may be related to the growth and development of reproductive organs and also closely related to the estrus cycles of rats.
PENGARUH PEMBERIAN KACANG PANJANG (Vigna unguiculata) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ALOKSAN (Effect of Long Bean (Vigna unguiculata) on Blood Glucose Level of Mice (Mus musculus) Induced by Alloxan) Intan Fitri Aprila; M. Nur Salim; Razali Daud; T. Armansyah; Nuzul Asmilia; Faisal Jamin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 2 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i2.3983

Abstract

The aim of this research was to find out the effect of long bean (Vigna unguiculata) on level of blood glucose on mice (Mus musculus) induced by alloxan. Twelve mice with the weigh of 25-40 grams and clinically healthy were used in this research. All mice were randomly divided into 4 treatment groups, 3 mice each. K0 was negative control group, only given aquadest. K1, K2, and K3 groups were induced by alloxan 0.5 ml. K1 group was positive control. K2 group was fed with 100 grams long bean mixed with 50 ml distilled water. K3 group was fed with 100 grams long bean mixed with 100 ml distilled water. Long bean was fed orally 0.5 ml every morning and evening for 7 consecutive days. On day eight the examination of blood glucose level was performed. The average level of blood glucose were K0 (142.00±23.39), K1 (167.00±10.54), K2 (122.67±12.50), dan K3 (154.67±16.26) mg/dL. In conclusion, the administration of long bean for seven consecutive days does not decrease blood glucose level on mice induced by alloxan.Key words: blood glucose, alloxan, long bean
ANALISIS PROKSIMAT KADAR KOLESTEROL IKAN NILA YANG DIBERI SUPLEMEN DAUN JALOH DAN DIKOMBINASI DENGAN KROMIUM DALAM PAKAN SETELAH PEMAPARAN STRES PANAS M. Isa; Herrialfian -; Subhan -; Rinidar -; T. Armansyah; Hamdan -
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2991

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar proksimat kolesterol ikan nila yang diberi suplemen tepung daun jaloh yang dikombinasikan dengan kromium dan diberi pemaparan stres panas. Sebanyak 30 ekor ikan nila dengan panjang 1,3-1,5 cm, dibagi menjadi enam perlakuan dengan lima kaliulangan yang terdiri dari pakan komersil pada suhu 29±1° C (P1S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 29±1º C (P2S1), pakan komersil yang dikombinasikan dengan tepung daun jaloh dan kromium suhu pada 29±1º C (P3S1), pakan komersil pada suhu 35±1° C (P1S2), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 35±1° C (P2S2), dan pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium pada suhu 35±1° C (P3S2). Setelah 22 hari, kadar proksimat kolesterol dihitung dengan menggunakan metode Liebermann-Burchad. Rata-rata kadar kolesterol ikan nila setelah diberikan perlakuan adalah P1S1 (1,125±0,086), P2S1 (1,007±0,015), P3S1 (0,763±0,026), P1S2 (1,190±0,0115), P2S2 (0,679±0,016), dan P3S2 (0,974±0,018). Hasil statistik menunjukkan bahwa kombinasi pakan berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap kadar kolesterol ikan nila. Pemberian kombinasi pakan dapat menurunkan kadar kolesterol ikan nila. Kesimpulan, pakan komersil yang dikombinasikan daun jaloh dengan kromium dapat menurunkan kadar kolesterol ikan nila yang terpapar stres panas.
NILAI INHIBITION CONCENTRATION (IC50) EKSTRAK METANOL DAUN SERNAI (Wedelia biflora) TERHADAP Plasmodium falciparum YANG DIINKUBASI SELAMA 32 dan 72 JAM Rinidar -; M. Isa; T. Armansyah
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2908

Abstract

Penelitian ini bertujuan menilai  aktivitas antiplasmodium ekstrak metanol daun Wedelia biflora terhadap Plasmodium falciparum pada ikubasi 32 dan 72 jam secara in vitro. Kultur Plasmodium  menggunakan metode candle jar dan uji aktivitas antiplasmodium dilakukan dengan metode mikrokultur seacara in vitro. Aktivitas antiplasmodium dinyatakan dengan nilai inhibition concentration (IC50) yaitu   kemampuan menghambat 50% pertumbuhan Plasmodium.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  nilai IC50  pada kultur selama 32 dan 72 jam berturut-turutsebesar 5,253 dan 276,142 µg/ml. Disimpulkan bahwa ekstrak dari daun sernai (Wedelia biflora) mempunyai aktivitas sebagai antiplasmodium dan daya kerjanya paling baik pada kultur 32 jam.
PENGARUH EKSTRAK ETANOL SARANG SEMUT (Myrmecodia sp.)LOKAL TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN HIPERKOLESTEROLEMIA Roslizawaty -; Rusli -; Sastika Rani; Zuraidawati -; T. Armansyah; Zuhrawaty -; Arman Sayuti
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2992

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut (Myrmecodia sp.) terhadap kadar kolesterol darah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih jantan umur tiga bulan yang secara klinis dinyatakan sehat. Secara acak, seluruh tikus dibagi menjadi 4 perlakuan, masing-masing terdiri atas lima ekor tikus. Perlakuan K1 adalah kelompok kontrol negatif, K2 adalah kelompok kontrol positif yang diinduksi pakan hiperkolesterolemia, K3 adalah kelompok yang diberi pakan hiperkolesterolemia dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 100 mg, dan K4 adalah kelompok yang diberi pakan hiperkolesterolemia dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Rata-rata kadar kolesterol setelah perlakuan pada K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 11,88±0,94; 26,30±1,37; 14,66±1,50; dan 10,86±0,17 mg/dl. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian estrak etanol sarang semut berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap penurunan kadar kolesterol tikus putih yang diinduksi pakan hiperkolesterolemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol sarang semut 100 dan 200 mg dapat menurunkan kadar kolesterol tikus putih jantan. Dosis 200 mg lebih baik dalam menurunkan kadar kolesterol tikus putih jantan yang mengalami hiperkolesterolemia.
EFEK PEMBERIAN MINYAK JELANTAH TERHADAP GAMBARANHISTOPATOLOGIS HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Siti Aisyah; Hamdani Budiman; Dessy Florenstina BR. G; Dwinna Aliza; M Nur Salim; Ummu Balqis; T. Armansyah
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2989

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari gambaran histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus) akibat mengonsumsi minyak jelantah.  Duapuluh ekor tikus berumur 3 bulan dengan bobot badan ±250 g dibagi atas 4 kelompok perlakuan dan setiap kelompok terdiri at as 5 ekor. Perlakuan K1 (minyak goreng curah), K2, K3, dan K4 (minyak jelantah 3x, 6x, dan 9x pemakaian). Perlakuan dilakukan selama 60 hari, dan pada hari ke 61 dilakukan eutanasia yang dilanjutkan dengan nekropsi. Hati tikus diambil dan difiksasi dalam larutan buffered neutral formaline 10%untuk diproses sediaan histopatologis dan diwarnai dengan hematoksilin dan eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hati berwarna coklat kehitaman, bengkak, dan ditemukan nodul multi fokal dengan konsistensi padat. Secara histopatologi terjadi peningkatan kongesti, degenerasi cloudy swelling, dan nekrosis sel