cover
Contact Name
Siti Aisyah Saridu
Contact Email
jsalamata@poltekkpbone.ac.id
Phone
+6285396483654
Journal Mail Official
jsalamata@poltekkpbone.ac.id
Editorial Address
Kampus Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone Jl. Sungai Musi Km 9 Kelurahan Waetuwo Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Salamata
ISSN : 26155753     EISSN : 29636493     DOI : http://dx.doi.org/10.15578/salamata
Jurnal Salamata menerbitkan artikel atau karya ilmiah hasil penelitian dalam lingkup perikanan tangkap, budidaya perikanan, manajemen sumber daya perikanan, sosial ekonomi perikanan
Articles 65 Documents
PEMETAAN VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A BERBASIS CITRA AQUA MODIS DI PERAIRAN SPERMONDE, SELAT MAKASSAR Anisa Aulia Sabilah; Hawati Hawati; Ismail Ismail; Khairul Jamil; Wahira Wahira
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.20349

Abstract

Suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a merupakan parameter oseanografi penting yang mencerminkan kondisi produktivitas perairan dan berpengaruh terhadap distribusi sumber daya ikan. Variabilitas musiman kedua parameter tersebut di Perairan Spermonde perlu dipahami untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial dan temporal SPL serta klorofil-a dan mengkaji hubungan keduanya di Perairan Spermonde selama Januari–Desember 2024 menggunakan data citra Aqua MODIS Level 3 beresolusi spasial 4 km. Data diolah dan dianalisis untuk memperoleh pola sebaran musiman kedua parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPL tertinggi terjadi pada Musim Peralihan II dengan kisaran 30,64–31,33°C, sedangkan SPL terendah ditemukan pada Musim Timur sebesar 29,56–30,09°C. Sebaliknya, konsentrasi klorofil-a tertinggi terjadi pada Musim Timur mencapai 0,50–0,69 mg/m³ dan terendah pada Musim Peralihan II sebesar 0,26–0,35 mg/m³. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan negatif yang kuat antara SPL dan klorofil-a dengan koefisien korelasi sebesar -0,88 (p<0,05). Penurunan SPL berkaitan dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a yang diduga dipengaruhi oleh suplai nutrien akibat proses upwelling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabilitas oseanografi musiman berperan penting dalam menentukan tingkat kesuburan perairan dan dapat menjadi dasar dalam identifikasi daerah penangkapan ikan potensial di Perairan Spermonde.Sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a are important oceanographic parameters that reflect water productivity conditions and influence the distribution of fish resources. Understanding the seasonal variability of these two parameters in the Spermonde Waters is essential for supporting the management of marine resources. This study aims to analyze the spatial and temporal distribution patterns of SST and chlorophyll-a and to examine the relationship between the two in the Spermonde Waters during January–December 2024 using Aqua MODIS Level 3 imagery with a spatial resolution of 4 km. The data were processed and analyzed to determine the seasonal distribution patterns of both parameters. The results show that the highest SPL occurred during Transition Season II, ranging from 30.64–31.33°C, while the lowest SPL was found during the East Monsoon at 29.56–30.09°C. Conversely, the highest chlorophyll-a concentration occurred during the East Monsoon, reaching 0.50–0.69 mg/m³, and the lowest during the Second Intermonsoon at 0.26–0.35 mg/m³. Pearson’s correlation analysis revealed a strong negative relationship between SPL and chlorophyll-a, with a correlation coefficient of -0.88 (p < 0.05). A decrease in SPL is associated with an increase in chlorophyll-a concentration, which is believed to be influenced by nutrient supply resulting from upwelling processes. The results of this study indicate that seasonal oceanographic variability plays a significant role in determining water fertility levels and can serve as a basis for identifying potential fishing grounds in the Spermonde Waters.
PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RISIKO KESELAMATAN KERJA PADA AKTIVITAS OPERASIONAL KAPAL PERIKANAN Yasmin Humaira Rahmad; Suci Asrina Ikhsan; Alek Topani Lubis; Tata Irfadinata; Juniawan Preston Siahaan; M. Zaki Latif Abrori; Bobby Demeianto; Mula Tumpu
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.18197

Abstract

Keselamatan kerja awak kapal penangkap ikan menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan usaha perikanan tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko dan menyusun prosedur kerja aman dengan mengintegrasikan metode HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) dan JSA (Job Safety Analysis) pada kapal penangkap ikan. Pendekatan deskriptif-kualitatif digunakan melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen keselamatan terhadap tiga area utama kapal: dek penangkapan (deck area), kamar mesin (engine room), dan ruang penyimpanan hasil tangkap (fish hold). Analisis HIRADC mengidentifikasi 15 aktivitas utama dengan risiko bervariasi dari rendah hingga tinggi. Lima kegiatan dengan tingkat risiko tertinggi yaitu menarik jaring, mengoperasikan winch, pemeriksaan oli dan filter, pengisian bahan bakar, dan pengambilan hasil tangkapan di palka. Selanjutnya dilakukan dianalisis menggunakan metode JSA untuk menentukan langkah pengendalian spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kontrol teknis, administratif, dan penggunaan alat pelindung diri mampu menurunkan tingkat risiko kerja hingga dua kategori dalam matriks penilaian. Integrasi metode HIRADC dan JSA menghasilkan sistem pengendalian risiko yang komprehensif dan aplikatif, meningkatkan kesadaran keselamatan (safety awareness), memperkuat budaya keselamatan di kapal serta mendukung penerapan standar internasional.Occupational safety for fishing vessel crews is a crucial aspect in ensuring the sustainability of capture fisheries operations. This study aims to analyze occupational risks and develop safe working procedures by integrating HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) and JSA (Job Safety Analysis) methods on fishing vessels. A descriptive qualitative approach was employed through observation, interviews, and document review focusing on three main vessel areas: the deck area, engine room, and fish hold. The HIRADC analysis identified 15 major activities with varying levels of risk, ranging from low to high. Five high-risk activities hauling nets, operating winches, checking oil and filters, refueling, and unloading fish in the hold were further analyzed using the JSA method to determine specific control measures. The results indicate that implementing engineering, administrative, and personal protective equipment controls effectively reduced work risks by up to two categories in the risk matrix. The integration of HIRADC and JSA provides a comprehensive and practical risk control system, enhances safety awareness, strengthens the onboard safety culture, and supports compliance with international standards.
ANALISIS KOMPARATIF PEMASARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) ANTARA PEMBUDIDAYA DAN NELAYAN DI KABUPATEN SOPPENG Andi Nadia Mughsita Sani; Dian Islamia Muhtar; Dewi Virgiastuti Jarir; Fina Fatwa Sari; Muhammad Rijal Kasim; Riswan Riswan
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.17047

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar dengan permintaan yang terus meningkat, baik untuk konsumsi lokal maupun distribusi ke luar daerah. Peningkatan produksi tersebut menuntut sistem pemasaran yang efisien agar keberlanjutan usaha perikanan dapat terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemasaran ikan nila secara komparatif antara pembudidaya dan nelayan di Kabupaten Soppeng. Metode penelitian menggunakan survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, melibatkan 27 pembudidaya, 35 nelayan, serta pedagang pengumpul dan pengecer melaluii snowball sampling. Analisis mencakup margin pemasaran, biaya pemasaran, dan efisiensi pemasaran dengan rumus marketing margin dan farmer’s share. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua bentuk saluran pemasaran, yaitu saluran (I) langsung (produsen–konsumen) dan saluran (II) tidak langsung (produsen–pengumpul–pengecer–konsumen). Biaya pemasaran tertinggi terdapat pada nelayan saluran II sebesar Rp3.249,44/kg, sedangkan biaya terendah pada pembudidaya saluran I sebesar Rp632,8/kg. Margin pemasaran nelayan lebih tinggi (Rp20.000/kg) dibandingkan pembudidaya (Rp5.000/kg). Nilai efisiensi pemasaran <1 menandakan bahwa seluruh saluran tergolong efisien, dengan efisiensi tertinggi pada nelayan sebesar 0,06%. Temuan ini mengindikasikan bahwa saluran pemasaran yang lebih pendek mampu meningkatkan efisiensi dan keuntungan produsen serta memperkuat keberlanjutan usaha perikanan.Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the most promising freshwater fish commodities with increasing demand for both local consumption and interregional distribution. This growing demand requires an efficient marketing system to ensure the sustainability of aquaculture and capture fisheries. The present study aims to comparatively analyze the marketing system of Nile tilapia between fish farmers and fishermen in Soppeng Regency. The research employed a survey method with a descriptive quantitative approach, involving 27 farmers, 35 fishermen, as well as collectors and retailers selected using snowball sampling. Data analysis covered marketing margins, marketing costs, and marketing efficiency using the marketing margin and farmer’s share formulas. The findings reveal two marketing channels: direct (producers–consumers) and indirect (producers– collectors–retailers–consumers). The highest marketing cost was recorded in fishermen channel II at IDR 3,249.44/kg, while the lowest was in farmers channel I at IDR 632.8/kg. Marketing margins were higher for fishermen (IDR 20,000/kg) compared to farmers (IDR 5,000/kg). Marketing efficiency values were <1, indicating that all channels are efficient, with the highest efficiency found in fishermen’s channels at 0.06%. These results suggest that shorter marketing channels improve efficiency, increase producers’ profitability, and strengthen the sustainability of the fishery sector.
DINAMIKA PERUBAHAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DAN STRATEGI PENGELOLAAN BERKELANJUTAN DI PULAU PANNIKIANG Lizha Dwi Mulya Putri; Muh. Isman; Dinda Mardiana Lubis; Rudiansyah Rudiansyah
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.19227

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan salah satu komponen penting di wilayah pesisir tropis karena memiliki fungsi ekologis sebagai habitat, daerah asuhan (nursery ground), dan sumber pangan bagi berbagai biota laut, sekaligus bernilai ekonomis sebagai penopang aktivitas perikanan tangkap maupun pariwisata bahari. Namun, kondisi padang lamun di banyak wilayah Indonesia menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan akibat kombinasi faktor alami dan antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan luasan padang lamun di Pulau Pannikiang, Kabupaten Barru, dalam periode 2013–2018, serta menyusun strategi pengelolaan berkelanjutan yang melibatkan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan. Data yang digunakan meliputi citra satelit SPOT 6 tahun 2013 dan Sentinel-2A tahun 2015–2018 yang kemudian diolah melalui analisis klasifikasi supervised serta didukung oleh data lapangan. Hasil analisis menunjukkan penurunan luasan lamun dari 240,91 ha pada tahun 2013 menjadi hanya 15,04 ha pada tahun 2018, dengan total kehilangan seluas 225,87 ha. Penurunan tersebut didorong oleh faktor alami, seperti arus dan gelombang kuat, serta aktivitas manusia, seperti destructive fishing, pembuangan limbah, peningkatan sedimentasi, dan tekanan wisata bahari. Analisis SWOT mengungkapkan bahwa strategi prioritas pengelolaan yang dapat diterapkan antara lain penetapan alat tangkap ramah lingkungan, penguatan pengawasan kawasan, konservasi berbasis masyarakat, pelatihan ekowisata dan kebun bibit lamun, serta penataan zona pemanfaatan yang adaptif. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas sektor dan berbasis data ilmiah dalam upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem lamun. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, masyarakat lokal, maupun stakeholder lain dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir di Pulau Pannikiang.Seagrass ecosystems are an important component of tropical coastal ecology because they serve as habitats, nursery grounds, and food sources for various marine biota, as well as providing economic value as a support for fishing activities and marine tourism. However, the condition of seagrass meadows in many regions of Indonesia shows a significant downward trend due to a combination of natural and anthropogenic factors. This study aims to analyze the dynamics of changes in seagrass meadow area on Pannikiang Island, Barru Regency, during the period 2013–2018, and to develop a sustainable management strategy involving the participation of the community and stakeholders. The data used include SPOT 6 satellite imagery from 2013 and Sentinel-2A from 2015–2018, which are then processed through supervised classification analysis and supported by field data. The analysis showed a decline in seagrass area from 240.91 ha in 2013 to only 15.04 ha in 2018, with a total loss of 225.87 ha. This decline was driven by natural factors, such as strong currents and waves, as well as human activities, such as destructive fishing, waste disposal, increased sedimentation, and marine tourism pressure. The SWOT analysis revealed that priority management strategies that could be implemented include establishing environmentally friendly fishing gear, strengthening area surveillance, community-based conservation, ecotourism training and seagrass nurseries, and structuring adaptive utilization zones. This study emphasizes the importance of a collaborative, cross-sectoral approach based on scientific data in efforts to protect and manage seagrass ecosystems. The resulting recommendations are expected to serve as a reference for local governments, local communities, and other stakeholders in maintaining the sustainability of coastal resources on Pannikiang Island.
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN MAGGOT, PELET DAN KOMBINASI TERHADAP PERFORMA PRODUKSI IKAN LELE (Clarias sp.) Adang Kasmawijaya; Otie Dylan Soebhakti Hasan; Moh Rahmat; Ai Setiadi; Lakonardi Nuraditya; Dinno Sudinno
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.20125

Abstract

Maggot salah satu sumber pakan dalam kegiatan budidaya ikan baik sebagai pakan hidup maupun sebagai sumber bahan baku pakan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan pakan berupa larva maggot dalam kegiatan budidaya ikan lele. Perlakuan yang diberikan yaitu larva maggot (P1), pelet (P2) serta kombinasi larva maggot dan pelet (P3) masing-masing 3 ulangan dan lama pemeliharaan dilakukan selama 35 hari dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pada akhir pemeliharaan, pertumbuhan ikan lele menunjukan perbedaan pertumbuhan yang signifikan (p < 0,05). Pertumbuhan ikan lele yang diberikan pakan pelet sebesar 9,0 ± 1,8 g tidak berbeda nyata dengan pakan kombinasi maggot dan pelet yaitu sebesar 10,0 ± 1,0 g sedangkan berbeda nyata dengan pakan maggot hidup sebesar 5,2 ± 0,7 g. Tingkat pertumbuhan biomas spesifik (W-SGR) untuk perlakuan kombinasi maggot dan pelet memiliki tingkat pertumbuhan yang paling tinggi yaitu sebesar 4,59 ± 0,29 % dibandingkan dengan perlakuan pelet sebesar 4,25 ± 0,6 % dan maggot sebesar 2,68 ± 0,43 %. Sementara itu, tingkat pertumbuhan panjang spesifik yang tertinggi dihasilkan dari perlakukan pakan pelet yaitu sebesar 2,05% ± 0,28, diikuti oleh pakan kombinasi pelet dan maggot sebesar 1,35 ± 0,33 % dan yang terendah pakan maggot sebesar 0,89 ± 0,5%. Penelitian ini menyimpulkan kombinasi pelet dan maggot dapat meningkatkan pertumbuhan ikan lele.Black Soldier fly (BSF) larvae are one of many sources of feed in fish farming, both as live feed and as raw materials for artificial feed. This study aimed to assess the use of live maggot feed in catfish cultivation. The treatments used were BSF (P1), pellets (P2), and a mix feed (BSF and pellets) (P3), with three replications for each. The rearing period lasted 35 days using a completely randomised design (CRD). At the end of the period, catfish growth showed significant differences. Catfish fed with pellet feed of 9.0 ± 1.8 g did not significantly differ from those fed with the combination of BSF and pellets, which was 10.0 ± 1.0 g, but both were significantly different from fish fed live BSF larvae at 5.2 ± 0.7 g. The specific biomass growth rate (W-SGR) was highest in the maggot and pellet combination treatment at 4,59 ± 0,29 %, compared to 4,25 ± 0,6 % for pellets and 2,68 ± 0,43 % for maggots. Similarly, the highest specific length growth rate was achieved with pellet feed at 2,05 ± 0,28 %, followed by the combination at 1,35 ± 0,33 %, and the lowest with maggots at 0,89 ± 0,5 %. Overall, this research demonstrates that combining pellets and maggots significantly improves catfish growth.