cover
Contact Name
Siti Aisyah Saridu
Contact Email
jsalamata@poltekkpbone.ac.id
Phone
+6285396483654
Journal Mail Official
jsalamata@poltekkpbone.ac.id
Editorial Address
Kampus Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone Jl. Sungai Musi Km 9 Kelurahan Waetuwo Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Salamata
ISSN : 26155753     EISSN : 29636493     DOI : http://dx.doi.org/10.15578/salamata
Jurnal Salamata menerbitkan artikel atau karya ilmiah hasil penelitian dalam lingkup perikanan tangkap, budidaya perikanan, manajemen sumber daya perikanan, sosial ekonomi perikanan
Articles 60 Documents
Efektivitas Pemanfaatan Probiotik Terhadap Pertumbuhan, Sintasan dan Stress Resisten Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Sucipto, Sucipto; Novilyasari, Dian
Jurnal Salamata Vol 6, No 2 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i2.14784

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah jenis udang yang potensial dikembangkan dan merupakan jenis udang yang banyak dipelihara di tambak. Untuk meningkatkan produksi udang vaname salah satu yang factor penting adalah mutu pakan yang diberikan. Salah satu strategi yang paling banyak digunakan khususnya pada kegiatan budidaya udang secara intensef untuk meningkatkan kualitas dan kemanfaatan pakan yaitu dengan penggunaan probiotik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai November 2023. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Basah, Politeknik KP Bone. Hewan uji yang digunakan dalam percobaan adalah udang vaname dengan berat 1±0,5 g yang dipelihara sebanyak 20 ekor/wadah. Penelitian dilakukan menggunakan racangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu kontrol, Bi Klin, Pro Equilibrium, dan Bio N Plus. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa penambahan probiotik berpengaruh signifikan (p<0,05) pada pertumbuhan, sintasan, dan ketahanan stres. pertumbuhan tertinggi yaitu 9,07%, sintasan tertinggi yaitu 93,33% dan stress resisten tertinggi pada perlakuan B yaitu menit 135 dan hari ke 20.
Pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan Udang Vaname yang Dipelihara pada Sistem Bioflok Menggunakan Ampas Tebu (Saccharum officinarum Linn.) Sebagai Sumber Karbon Anton, Anton; Alauddin, Muhammad Hery Riyadi; Yunarty, Yunarty; Renitasari, Diana Putri; Hardianto, Toto; Kurniaji, Ardana
Jurnal Salamata Vol 6, No 2 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i2.14071

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah salah satu komoditas budidaya perikanan yang bernilai ekonomistinggi. Pengembangan budidaya udang vaname saat ini mengarah pada intensifikasi dengan sistem bioflok.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan ampas tebu sebagai sumber karbon terhadappertumbuhan dan rasio konversi pakan (RKP) udang vaname. Penelitian menggunakan tiga perlakuan dan tigaulangan yakni aplikasi ampas tebu sebagai sumber karbon bioflok (AmpT), aplikasi tepung terigu sebagaisumber karbon bioflok (TpgT) dan kontrol tanpa bioflok (Kontrol). Ampas tebu diperoleh dari perusahaan pabrikgula di Kabupaten Bone. Tepung ampas tebu dipreparasi dengan oven 60oC dan digiling dengan mesin penepung.Udang vaname berukuran 18 g/ekor diperoleh dari Tambak Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone. Pemeliharaandengan sistem bioflok dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ampas tebusebagai sumber karbon dapat meningkatkan laju pertumbuhan spesifik (LPS) sebesar 0,57±0,01% (AmpT)dibandingkan kontrol 0,33±0,14%. LPS tertinggi diamati pada perlakuan tepung terigu yakni 1,39±0,51% (TpgT).Aplikasi ampas tebu juga dapat menghasilkan RKP lebih rendah yakni 1,36±0,06 (AmpT) dibandingkan kontrol1,69±0,08. Penelitian ini menunjukkan potensi ampas tebu digunakan sebagai sumber karbon pada budidayaudang vaname berbasis sistem bioflok.
Evaluasi Sistem Produksi Induk dan Calon Induk Ikan Bermutu di Instansi Pemerintah Kholidin, Edy Barkat; Effendi, Irzal
Jurnal Salamata Vol 6, No 2 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i2.13633

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi sistem produksi Induk dan calon induk bermutu yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sistem Produksi Ikan di Indonesia meliputi produksi calon induk dan induk bermutu. Selain itu, juga dikelompokkan ke dalam habitatnya, yaitu kelompok ikan air tawar, kelompok ikan air laut, dan kelompok ikan air payau. Instansi pemerintah yang bertugas untuk menyediakan ikan bermutu, baik Induk maupun benih adalah unit-unit pelaksana teknis yang ada dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu unit pelaksana teknis air tawar yang ada di wilayah Sumatera adalah Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam. Balai ini mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan calon induk dan induk bagi pembudidaya, unit pembenihan rakyat (UPR) dan pemerintah daerah atau stakeholder terkait melalui penyaluran bantuan induk dan calon induk. Evaluasi proses pelaksanaan program menunjukkan sebagian besar pelaksanaan program sudah sesuai dengan perencanaan, dimana Balai telah bisa menghasilkan varietas induk unggul baru untuk ikan Patin (Pangasianodon hypopthalmus) yang diberi nama Induk Ikan Patin Pustina. Kelebihan induk Pustina ini memiliki pertumbuhan yang cepat, ketahanan terhadap penyakit (Edwardsiella ictaluri dan Aeromonas hydrophyla), efisiensi dalam pakan, ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk (karena amonia) dan bisa dibudidayakan di lahan gambut dengan pH yang rendah.
Pemetaan Luasan Sebaran Lamun di Desa Barugaia Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar Rombe, Katarina Hesty; Patta, Trisnawati; Surachmat, Agus; Amiluddin, Muchtar; Arafat, Yasser; Mustafa, Mustafa; Hawati, Hawati
Jurnal Salamata Vol 6, No 2 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i2.13723

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan memiliki wilayah yang sebagian besar adalah wilayah pesisir dengan mempunyai potensi yang kaya akan keanekaragaman hayati juga sumberdaya alam pada daerah pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir yang memberikan kontribusi yang tinggi dalam lingkungan pesisir, yakni ekosistem padang lamun. Desa Barugaia merupakan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang memiliki padang lamun yang tersebar hampir merata di wilayah perairannya. Sebagai wilayah pesisir yang masyarakatnya sebagian besar bergantung pada laut untuk sumber penghidupan, keberadaan ekosistem lamun di Desa Barugaia dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi ekonomi lokal, khususnya bagi sektor perikanan.Tujuan penelitian ini untuk menghitung sebaran dan luasan padang lamun di Desa Barugaiya Kepulauan Selayar. Dalam penelitian ini digunakan citra Sentinel 2A yang kemudian dilakukan proses koreksi atmosferik lalu diolah menggunakan ArcGis 10.8. Penentuan titik koordinat dilakukan menggunakan Google Earth Pro. Sentinel 2A membawa berbagai petak-resolusi tinggi imager multispektral dengan 13 band spectral. Hasil penelitian menunjukkan luas sebaran padang lamun pada Desa Barugaia adalah sebesar 37,36 ha. Dimana yang paling dominan di tumbuhi lamun adalah wilayah bagian sebelah selatan, dan yang kurang di dapati adalah wilayah bagian timur
DETEKSI MOLEKULER VIRAL NERVOUS NECROSIS (VNN) PADA NENER IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI BULELENG, PROVINSI BALI Anwar, Anwar; Safitri, Diah Ayu; Budiyati, Budiyati
Jurnal Salamata Vol 6, No 1 (2024): Juni
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i1.14189

Abstract

Berbagai penyakit baru ditemukan merebak di Indonesia menjadi kendala dalam keberlangsungan usaha budidaya perikanan, termasuk budidaya nener bandeng yang penyebarannya telah menjangkau pasar nasional hingga pasar Asia. Dampak yang dapat timbul akibat infeksi penyakit pada budidaya ikan dapat ditekan dengan penerapan praktik cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan biosekuriti. Analisis resiko skala laboratorium perlu dilakukan sebelum proses distribusi, untuk mendeteksi infeksi Viral Nervous Necrosis (VNN) pada nener bandeng dari hatchery di wilayah Buleleng, Bali.  Data pada kajian ini di kumpulkan dari Laboratorium Pengujian Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai KIPM) Denpasar selama rentang waktu 2022-2023. Metode molekuler yang digunakan untuk mendiagnosis VNN yaitu metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Metode analisis data yang digunakan yaitu penghitungan prevalensi. Berdasarkan data hasil analisis infeksi VNN, prevalensi VNN menunjukkan hasil nol atau tidak ada kasus positif nener terjangkit VNN. Sampel bandeng yang diperiksa tidak menunjukkan gejala klinis, yang mengindikasikan bahwa bandeng bukan merupakan inang spesifik penyebaran virus VNN. Prosedur biosekuriti yang dilakukan yaitu sterilisasi peralatan, sterilisasi lingkungan pemeliharaan, treatment biota, dan sterilisasi area pembenihan. Manajemen pakan dan lingkungan yang terkontrol menjamin kualitas benih yang dihasilkan berkualitas baik sehingga memenuhi standar ekspor. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nener dari hatchery di Bali aman terjangkit VNN sebagai dampak dari penerapan prosedur biosekuriti yang baik.
HUBUNGAN PENGGUNAAN TRY NET TERHADAP JUMLAH HASIL TANGKAPAN UTAMA JARING HELA UDANG BERKANTONG Tjarles, Lay; Suruwaky, Amir Mahcmud; Gunaisah, Endang; Rahmatang, Rahmatang; Hidayat, Akmal
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.18851

Abstract

Perairan Laut Arafura merupakan sentra utama penangkapan udang di Indonesia, sehingga efisiensi operasi jaring hela udang berkantong menjadi sangat penting mengingat ketidakpastian lokasi stok sering memicu pemborosan bahan bakar, waktu towing, serta meningkatnya risiko bycatch. Penggunaan try net sebagai alat tes awal semakin umum untuk memperkirakan keberadaan dan kepadatan udang sebelum jaring utama dioperasikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara hasil try net dan hasil tangkapan jaring utama serta mengevaluasi bagaimana informasi tersebut memengaruhi pengambilan keputusan nakhoda di lapangan. Penelitian dilakukan secara on board pada KM. Binama 02 di Laut Arafura (Januari–Maret 2024) dengan mengumpulkan 90 pasang data hasil try net dan jaring utama. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk menilai hubungan kedua variabel, disertai observasi pola keputusan nakhoda menggunakan pendekatan decision analysis. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif signifikan antara hasil try net dan tangkapan utama (r = 0,642; R² = 0,4127). Persamaan regresi Y = 146,02 + 8,61X mengindikasikan bahwa setiap tambahan satu ekor pada try net berpotensi meningkatkan 8–9 ekor tangkapan utama. Keputusan nakhoda terbagi dalam tiga pola: mempertahankan haluan saat hasil tinggi, mengubah haluan kecil saat hasil menurun, dan putar balik ketika try net kosong. Penelitian ini menegaskan try net sebagai indikator operasional efektif yang meningkatkan efisiensi penangkapan dan mendukung strategi navigasi adaptif dalam pengelolaan perikanan udang secara berkelanjutan.The Arafura Sea is Indonesia’s primary shrimp fishing ground, making the efficiency of bagged shrimp trawl operations critically important, as uncertainty regarding stock location often leads to fuel waste, extended towing time, and increased bycatch risk. The use of a try net as a preliminary testing gear has become increasingly common to estimate the presence and density of shrimp before deploying the main net. This study aims to analyze the relationship between try-net results and the main trawl catch, and to evaluate how this information influences skippers’ decision-making in the field. The research was conducted on board KM. Binama 02 in the Arafura Sea (January–March 2024) by collecting 90 paired observations of try-net and main-net catches. Simple linear regression analysis was applied to assess the relationship between the two variables, supplemented by observations of skipper decision patterns using a decision-analysis approach. The findings revealed a significant positive correlation between try-net results and main-net catches (r = 0.642; R² = 0.4127). The regression equation Y = 146.02 + 8.61X indicates that each additional shrimp caught in the try net potentially increases the main catch by 8–9 shrimp. Skippers’ decisions were categorized into three patterns: maintaining course when results were high, making minor course adjustments when results declined, and reversing course when the try net yielded no shrimp.
EVALUASI KESESUAIAN KUALITAS AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME SUPRAINTENSIF DENGAN STANDAR OPTIMUM (STUDI KASUS DI DESA JALANGE, KECAMATAN MALLUSETASI, KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN) Suleman, Gabriella Augustine; Nyompa, Achmad Husein; Takwin, Bagus Ansani; Suriadi S, La; Suleman, Yakub
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.17360

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian parameter kualitas air pada tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) sistem supraintensif di Desa Jalange, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Pengamatan dilakukan selama satu siklus pemeliharaan (104 hari) pada kolam berukuran 900 m² dengan padat tebar 600 ekor/m². Parameter kualitas air yang diamati meliputi fisika (suhu, kecerahan, ketinggian air, warna air, dan cuaca), kimia (pH, salinitas, oksigen terlarut, amonium, amonia, nitrit, nitrat, fosfat, hidrogen sulfida dan total bahan organik), dan biologi (total bakteri dan bakteri Vibrio). Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil pengukuran terhadap kisaran optimal yang direkomendasikan oleh Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air masih berada pada rentang yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang, meskipun terdapat beberapa kondisi yang perlu diantisipasi, seperti peningkatan pH pada sore hari. Sementara itu, hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi amonium (NH4), amonia bebas (NH3), nitrit (NO2), dan nitrat (NO3) mengalami fluktuasi selama masa pemeliharaan, dengan beberapa nilai berada di atas ambang optimal. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa sebagian besar kualitas air tambak masih sesuai untuk budidaya. Namun peningkatan pengawasan dan pengendalian terhadap amonium, nitrat, dan nitrit direkomendasikan untuk mencegah akumulasi senyawa toksik yang berpotensi menghambat performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname.This study aimed to analyze the suitability of water quality parameters in a super-intensive white shrimp (Litopenaeus vannamei) pond system located in Jalange Village, Mallusetasi District, Barru Regency, South Sulawesi. Observations were conducted over one production cycle (104 days) in a 900 m² pond stocked at a density of 600 individuals m-2. The monitored water quality parameters included physical variables (temperature, water transparency, water depth, water color, and weather conditions), chemical variables (pH, salinity, dissolved oxygen, ammonium, unionized ammonia, nitrite, nitrate, phosphate, hydrogen sulfide, and total organic matter), and biological variables (total bacterial count and Vibrio spp.). The data were analyzed descriptively by comparing the measured values with the optimal ranges recommended by the Regulation of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (Permen KP) No. 75 of 2016. The results showed that most water quality parameters remained within ranges that support shrimp growth and survival, although certain conditions required attention, such as elevated pH levels during the afternoon. Furthermore, the concentrations of ammonium (NH4), unionized ammonia (NH3), nitrite (NO2), and nitrate (NO3) fluctuated throughout the culture period, with several measurements exceeding the optimal thresholds. In conclusion, the overall water quality of the pond was generally suitable for shrimp culture. However, enhanced monitoring and control of ammonium, nitrite, and nitrate are recommended to prevent the accumulation of toxic compounds that may adversely affect the growth performance and survival of white shrimp.
POLA PEMANFAATAN EKOSISTEM LAMUN OLEH MASYARAKAT PESISIR DI KABUPATEN BUTON SELATAN S, La Suriadi; Riyadi, Farid Mukhtar; Sugiarto, Sugiarto; Thamrin, Meliyanti; Djai, Suhaiba
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.17590

Abstract

Ekosistem lamun memiliki peran vital bagi keberlanjutan pesisir, baik sebagai penyedia pangan, pelindung habitat, maupun penopang sosial-ekonomi masyarakat. Namun, pemanfaatannya yang tidak seimbang berpotensi menurunkan daya dukung ekosistem. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pemanfaatan ekosistem lamun oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Buton Selatan pada dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan ekologi, serta menilai faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Juni 2024 di Pulau Siompu, Pulau Kadatua, dan Teluk Lande dengan pendekatan survei rumah tangga, wawancara, dan pemantauan lapangan. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan metode deskriptif, ANOVA satu arah, serta transformasi MSI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan lamun masih rendah, dengan dominasi pada dimensi ekonomi berupa konsumsi dan penjualan ikan, sedangkan pemanfaatan sosial-budaya dan ekologi belum berkembang optimal. Terdapat perbedaan signifikan antar lokasi, di mana masyarakat di wilayah kepulauan (Siompu dan Kadatua) lebih intensif memanfaatkan lamun dibandingkan Teluk Lande. Sementara itu, tingkat pendidikan formal tidak berpengaruh nyata terhadap pola pemanfaatan, yang lebih banyak dipengaruhi kebutuhan subsisten, pengalaman praktis, dan tradisi lokal. Temuan ini menegaskan bahwa strategi pengelolaan lamun perlu mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi masyarakat setempat agar dapat mendukung keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan pesisir.Seagrass ecosystems play a crucial role in supporting coastal sustainability by providing food resources, protecting habitats, and sustaining the socio-economic life of local communities. However, unbalanced utilization threatens their ecological resilience and long-term productivity. This study aims to describe the utilization patterns of seagrass ecosystems by coastal communities in South Buton Regency across economic, sociocultural, and ecological dimensions, as well as to identify the influencing factors. The research was conducted from March to June 2024 in Siompu Island, Kadatua Island, and Lande Bay through household surveys, key informant interviews, and field monitoring. Data were collected using Likert-scale questionnaires and analyzed with descriptive statistics, one-way ANOVA, and MSI transformation. The findings reveal that seagrass utilization remains relatively low, dominated by economic activities such as fish consumption and sales, while sociocultural and ecological uses are still underdeveloped. Significant differences were found among locations, with island communities (Siompu and Kadatua) utilizing seagrass more intensively than those in Lande Bay. Furthermore, formal education level did not significantly affect utilization patterns, which were mainly shaped by subsistence needs, practical experience, and local traditions. These results highlight the importance of integrating socio-economic contexts into seagrass management strategies to ensure ecosystem sustainability and enhance coastal community livelihoods.
KINERJA PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA SULTANA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERIKAN PROBIOTIK KOMERSIAL Nurrafa, Nazla Wafi; Ramadhani, Dian Eka; Sulistiawati, Erni; Mulya, Muhammad Arif; Iskandar, Andri; Hendriana, Andri
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.15856

Abstract

Penyakit ikan merupakan salah satu permasalahan pada usaha budidaya ikan nila karena memengaruhi pertumbuhan ikan dan produktivitas panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian probiotik komersial terhadap pertumbuhan ikan nila sultana Oreochromis niloticus. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dengan tiga ulangan diantaranya K (tanpa probiotik), A (probiotik A 15 mL kg-1) dan B (2 mL kg-1). Probiotik komersial yang digunakan yaitu A (Bacillus subtilis 106 CFU mL-1) dan B (Bacillus subtilis 106 CFU mL-1, Bifidobacterium bifidum 106 CFU mL-1, Bifidobacterium longum 106 CFU mL-1, Saccharomyces cerevisiae CFU mL-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik komersial B merupakan hasil terbaik dengan nilai pertumbuhan bobot mutlak 7,4 g, pertumbuhan panjang mutlak 3,5 cm, specific growth rate (SGR) 4,3% hari-1 dan sintasan 90%.Fish diseases are one of the challenges in Nile tilapia farming as they affect fish growth and harvest productivity. This study aims to evaluate the administration of commercial probiotics on the development of sultana Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The research was conducted at the West Java Sukabumi Fish Hatchery Center (BBI). This study used a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments and three replications: K (without probiotics), A (probiotic A at 15 mL kg-1), and B (probiotic B at 2 mL kg-1). The commercial probiotics used were A (Bacillus subtilis 10v CFU mL-1) and B (Bacillus subtilis 106 CFU mL¹, Bifidobacterium bifidum 106 CFU mL-1, Bifidobacterium longum 106 CFU mL-1, and Saccharomyces cerevisiae CFU mL-1. The results showed that commercial probiotic B produced the best outcome: an absolute weight gain of 7,4 g, an absolute length increase of 3,5 cm, a specific growth rate (SGR) of 4,3% per day, and a survival rate (SR) of 90%.
STRATEGI BERBASIS SWOT UNTUK MENINGKATKAN BIOSEKURITI PADA PERUSAHAAN IMPORTIR IKAN KOI (Cyprinus carpio) Syah, Irvan Firman; Akbarurrasyid, Muhammad; Pietoyo, Atiek; Aldiansyah, Rafli; Priyana, Rico
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.18182

Abstract

Implementasi biosekuriti dalam akuakultur merupakan komponen kunci dalam produksi ikan yang sehat, efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Biosekuriti dapat dijadikan perangkat manajerial praktis dalam meminimalisir kejadian wabah penyakit pada industri budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi biosekuriti pada perusahaan yang bergerak di bidang impor ikan Koi (Cyprinus carpio). Ruang lingkup penelitian meliputi observasi dan wawancara pemangku kepentingan aspek input, proses maupun output produksi. Selain observasi, pada penelitian ini dilakukan analisis SWOT untuk perbaikan kinerja penerapan biosekuriti. Analisis SWOT dilakukan melalui identifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan), identifikasi faktor eksternal (peluang dan ancaman) penyusunan Matriks SWOT dan perumusan strategi. Hasil analisis tersebut dapat dijadikan panduan dalam pengambilan keputusan penggunaan strategi efektif dalam pencapaian tujuan perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan telah mengimplementasikan biosekuriti sesuai dengan Standar Nasional Indonesia maupun Cara Karantina Ikan yang Baik dalam manajemen akses, manajemen kesehatan ikan, sanitasi dan hygiene serta pengelolaan limbah. Hasil analisis SWOT menunjukkan nilai kumulatif kekuatan dan kelemahan pada sumbu Y sebesar +1,78 sedangkan nilai kumulatif peluang dan ancaman pada sumbu X sebesar 0,84. Nilai tersebut mengindikasikan implementasi biosekuriti perusahaan berada berada pada kuadran 1 (growth oriented strategy). Hal ini mendorong penggunaan strategi agresif dengan memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal agar kesehatan ikan optimal, produktivitas meningkat, berdaya saing dan berkelanjutan. Implementasi biosekuriti memerlukan perbaikan dalam aspek peningkatan kompetensi personel, pengembangan laboratorium diagnostik dan penggunaan desinfektan yang lebih aman serta ramah lingkungan.Aquaculture biosecurity practices are a key component in healthy, efficient, environmentally friendly, and sustainable fish production. Biosecurity can be used as a practical managerial tool to minimize the occurrence of disease outbreaks in the aquaculture industry. This study was undertaken to analyze the biosecurity practices in a distributor of imported Koi fish (Cyprinus carpio) company. The scope of the research includes observation and stakeholder interviews regarding input, process and production output aspects. In addition to observations, this study conducted a SWOT analysis to improve biosecurity practices performance. The SWOT analysis was conducted by identifying internal factors (strengths and weaknesses), identifying external factors (opportunities and threats), compiling a SWOT Matrix, and formulating a strategy. Based on the research results, the company has implemented biosecurity in accordance with the Indonesian National Standards and Good Fish Quarantine Practices in access management, fish health management, sanitation and hygiene, and waste management. The SWOT analysis results show a cumulative value of strengths and weaknesses on the Y-axis is +1.78, while the cumulative value of opportunities and threats on the X-axis is 0.84. These values indicate that the company’s biosecurity practices are in quadrant 1 (growth-oriented strategy). This encourages the use of an aggressive strategy by leveraging internal strengths and external opportunities to optimize fish health, increase productivity, and achieve competitiveness and sustainability. Biosecurity practices require improvements in personnel competency, the development of diagnostic laboratories, and the use of safer and more environmentally friendly disinfectants.