cover
Contact Name
Ferawati Suzalin
Contact Email
ferawati@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6281377677902
Journal Mail Official
jpharm@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Farmasi Jl. Sukabangun 1 No.1159, Suka Bangun, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30151
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Farmasi
ISSN : 28293711     EISSN : 28292162     DOI : https://doi.org/10.36086/jpharm.v4i2.1238
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kesehatan Farmasi JKPharm diterbitkan oleh Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Articles 150 Documents
EKSPLORASI HERBAL NUSANTARA SEBAGAI KANDIDAT ANTIOKSIDAN UNTUK SISTEM PENGHANTARAN EMULGEL Sholikhah, Mar'atus; Sarmadi, Sarmadi; Suzalin, Ferawati
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3436

Abstract

Latar Belakang: Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah termasuk tanaman obat yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Sejumlah penelitian telah melaporkan potensi antioksidan dari berbagai tanaman Nusantara seperti teh putih, minyak biji delima, daun kelor, kulit buah kakao, daun pepaya, daun juwet, dan daun jambu air. Artikel review ini bertujuan untuk meninjau potensi berbagai herbal Nusantara sebagai kandidat antioksidan sekaligus mengeksplorasi tantangan formulasi dalam pengembangan sistem penghantaran emulgel. Metode: Metode kajian yang digunakan berupa studi pustaka dengan penelusuran literatur melalui Google Scholar dan PubMed. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi yang meliputi tahun terbit publikasi, jenis publikasi ilmiah, kesesuaian topik, serta ketersediaan naskah dalam akses terbuka (open access). Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa formulasi emulgel dari berbagai sumber bahan alam telah diformulasi dalam bentuk emulgel dan menunjukkan karakteristik fisik yang baik. Namun, aktivitas antioksidan emulgel tersebut umumnya lebih rendah dibandingkan ekstrak. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga stabilitas serta bioavailabilitas senyawa aktif.Kesimpulan: Perlu optimalisasi formulasi dan penerapan strategi penghantaran yang lebih tepat agar potensi aktivitas antioksidan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam sediaan emulgel.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Obat Tradisional Kemasan Pada Masyarakat Desa Sambirejo Kabupaten Rejang Lebong Mindawarnis, Mindawarnis; tedi, Tedi; Maryanti, Lilis; Ariska, Melda Via
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3539

Abstract

Latar Belakang : Penggunaan obat tradisional semakin meningkat dengan kecenderungannya hidup kembali ke alam. Faktor yang menyebabkan masyarakat menggunakan obat tradisional salah satunya adalah harganya yang terjangkau dan aman karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit daripada obat modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional pada masyarakat Desa Sambirejo Kabupaten Rejang Lebong. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional. Metode pengambilan dengan metode simple random sampling. Hasil : Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada pengaruh antara pendapatan (p value 0,003), sikap (p value 0,004) dan sumber informasi (p value 0,001) dengan penggunaan obat tradisional kemasan. Kesimpulan : Perlunya peningkatan program promosi kesehatan seperti penyuluhan tentang penggunaan obat tradisional kemasan serta memberikan wawasan baru tentang efek samping mengingat masih banyak peran obat tradisional dalam pengobatan. Kata Kunci : Penggunaan, Obat tradisional
A EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BRONKOPNEUMONIA ANAK DI RSUD MUKOMUKO 2024 Mutiara, Elsa Febria; Efmisa, Ariesta Kirana; Rosi, Devahimer Harsep
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3612

Abstract

Latar Belakang: Bronkopneumonia adalah kondisi inflamasi paru-paru yang berdampak pada satu atau lebih lobus, ditandai dengan tambalan infiltratif yang dihasilkan dari bakteri, virus, jamur, dan zat asing.Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran dan analisa ketepatan penggunaan antibiotik. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis. Penelitian ini melakukan sampling terhadap 58 rekam medis pasien bronkopneumonia anak yang dirawat inap dan mendapat terapi antibiotik. Analisis kualitatif menggunakan metode Gyssens untuk menilai ketepatan indikasi, pemilihan jenis, dosis, interval, dan lama terapi. Analisis kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD untuk menghitung konsumsi antibiotik per 100 pasien-hari Hasil: Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (53,4%), sefotaksim (27,6%), dan meropenem (19,0%). Evaluasi Gyssens menunjukkan 79,3% penggunaan rasional (kategori 0), 19% kategori IV A, dan 1,7% kategori III B. Total konsumsi antibiotik sebesar 25,57 DDD/100 hari rawat dengan nilai tertinggi seftriakson (18,06 DDD/100 hari). Sedangkan nilai terendah terlihat untuk Meropenem sebesar 2,09 DDD per 100 hari dan Sefotaksim sebesar 5,42 DDD per 100 hari rawat inap. Kesimpulan: Sebagian besar penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia anak di RSUD Mukomuko sudah rasional dan efektif, namun diperlukan pengawasan berkelanjutan untuk mencegah resistensi dan meningkatkan mutu pelayanan.
GAMBARAN PENGGUNAAN CEFTRIAXONE SEBAGAI TERAPI DEMAM TIFOID DI RSUD M.M DUNDA LIMBOTO GORONTALO Husain, Gustirandawati; Abdulkadir, Widy Susanti; Ahmad, Hidayat; Akuba, Sitti Rahmadiana; Munafri, Nur Alifia Karina; Ismail, Mohamad Agil R; Eyato, Dhea Aulia
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3681

Abstract

Latar Belakang: Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi, dengan angka kejadian tinggi di Indonesia. Penanganan klinis yang tepat sangat penting guna mencegah komplikasi serius. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan terapi antibiotik ceftriaxone pada pasien demam tifoid di RSUD Dunda Gorontalo Melalui studi kasus retrospektif terhadap seorang pasien perempuan berusia 20 tahun. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan penunjang, serta respons terhadap terapi. Pasien didiagnosis dengan demam tifoid berdasarkan hasil tes widal dan gejala klinis yang sesuai. Terapi yang diberikan meliputi ceftriaxone intravena, omeprazole, antrain, serta sucralfate dan dilanjutkan dengan antibiotik oral cefixime saat pasien dipulangkan. Hasil: Hasil menunjukkan adanya respons positif terhadap terapi dengan perbaikan klinis signifikan dalam waktu lima hari. Kesimpulan: Studi ini mendukung penggunaan ceftriaxone sebagai terapi lini pertama yang efektif untuk pasien demam tifoid dengan gejala sedang hingga berat, serta pentingnya pendekatan terapi kombinasi yang disesuaikan dengan kondisi klinis pasien untuk mendukung pemulihan optimal. Kata Kunci: Antibiotik, Ceftriaxone, Demam Tifoid
EVALUASI PENERAPAN STANDAR PELAYANAN FARMASI PADA RUMAH SAKIT PEMERINTAH TIPE C DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH S., Dedent Eka Bimmaharyanto; Umboro, Recta Olivia; Apriliany, Fitri
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3696

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) menjadi fasilitator dalam mewujudkan dan melaksanakan pelayanan kefarmasian yang berkualitas berfokus pada penyediaan obat-obatan yang aman, efektif, tepat waktu, dan menjamin keberlangsungan keselamatan pasien. Sebagai salah satu RS Tipe C dan menjadi tempat rujukan pertama bagi 1.099.211 jiwa masyarakat di Lombok Tengah, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya berkewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan kefaramsian yang bertanggung jawab dan berkualitas.Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penerapan standar pelayanan farmasi di RSUD Praya Kab. Lombok Tengah mengacu pada Permenkes RI No.72 Tahun 2016 yang meliputi: standar pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, bahan medis habis pakai; pelayanan farmasi klinis; dan Sumber Daya Manusia (SDM) kefarmasian. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan penelaahan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelaksanaan aspek manajemen farmasi baru terlaksana secara maksimal sebanyak 7 (78%) aspek layanan; aspek farmasi klinis sebanyak 7 (63.36%) aspek layanan di IFRS Rawat Inap dan 5 (45.45%) aspek layanan di IFRS Rawat Jalan, selanjutnya pada aspek SDM kefarmasian sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa RSUD Praya belum menerapkan Permenkes RI No.72 tahun 2016 secara maksimal yang disebabkan beberapa kendala diantaranya keterbatasan jumlah tenaga farmasi, ketidaklengkapan dokumen dan fasilitas yang belum memadai. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan crosectional untuk mengevaluasi standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Tipe C. Sampel diambil menggunakan teknik sampel jenuh yang melibatkan seluruh tenaga kefarmasian, termasuk Apoteker Kepala Instalasi dan Apoteker Penanggung Jawab Unit Kerja. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner berskala Guttman, lembar persetujuan, serta alat perekam. Data yang terkumpul kemudian diberi skor berdasarkan jawaban Ya dengan skor 1 atau Tidak dengan skor 0 dan dihitung persentase kesesuaiannya sesuai kategori penilaian yang berlaku. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelaksanaan aspek manajemen farmasi baru terlaksana secara maksimal sebanyak 7 (78%) aspek layanan; aspek farmasi klinis sebanyak 7 (63.36%) aspek layanan di IFRS Rawat Inap dan 5 (45.45%) aspek layanan di IFRS Rawat Jalan, selanjutnya pada aspek SDM kefarmasian sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa RSUD Praya belum menerapkan Permenkes RI No.72 tahun 2016 secara maksimal yang disebabkan beberapa kendala diantaranya keterbatasan jumlah tenaga farmasi, ketidaklengkapan dokumen dan fasilitas yang belum memadai. Kesimpulan: Standar pelayanan farmasi di RSUD Praya Kabupaten Lombok Tengah belum terlaksana secara maksimal, terlihat dari nilai persentase kesesuaian beberapa aspek manajemen farmasi dan farmasi klinis yang masih di bawah 100% untuk pengelolaan sediaan farmasi, alkes, dan BMHP, serta di bawah 50% dengan kategori kurang baik untuk aspek pelayanan farmasi klinis, yang disebabkan oleh tidak maksimalnya proses evaluasi pelayanan, keterbatasan tenaga farmasi terlatih, ketidaklengkapan dokumentasi, dan fasilitas rumah sakit yang belum memadai. Kata kunci : Evaluasi, penerapan, standar pelayanan farmasi, rumah sakit pemerintah, tipe c
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS BALAI AGUNG SEKAYU TAHUN 2025 Suzalin, Ferawati; Wahyudi, Achmad; Afriliza, Dini; Lestari Setia Ningrum, Estu
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3707

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari sistem kesehatan. Tingkat kepuasan pasien menjadi indikator penting dalam menilai mutu layanan kefarmasian. Penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Balai Agung Sekayu serta menganalisis hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepuasan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 responden dipilih menggunakan rumus Slovin dari populasi pasien rawat jalan. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Tingkat kepuasan pasien berada pada kategori sangat puas, dengan dimensi tangible (86,95%), assurance (86,81%), empathy (86,00%), reliability (84,69%), dan responsiveness (82,42%). Uji bivariat menunjukkan p > 0,05, yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah kunjungan, dan penyakit) dengan kepuasan pasien. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas Balai Agung Sekayu telah memenuhi standar kepuasan pasien pada seluruh dimensi. Evaluasi rutin, penyusunan SOP, serta peningkatan keterampilan petugas diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan mutu layanan.
Evaluasi Interaksi Obat Pasien Hipertensi Dengan Komplikasi Diabetes Melitus Pada Pasien Lansia Di Rsud Lahat Putri, Anggy Utama; Regianti, Devi; Prasetyo, Dani
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v8i1.3615

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang sering dialami oleh pasien lanjut usia. Kondisi ini terjadi karena pasien lanjut usia umumnya memiliki beberapa penyakit kronis yang membutuhkan terapi kombinasi, sehingga meningkatkan risiko interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas maupun keamanan terapi. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bentuk serta mekanisme interaksi obat yang terjadi, serta menilai hubungan antara jenis kelamin, usia, jumlah obat, jenis dan golongan obat antihipertensi, obat antidiabetik, serta kombinasi obat dengan kejadian interaksi obat pada pasien lanjut usia di RSUD Lahat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien rawat inap di RSUD Lahat periode Januari–Desember 2024. Sempel sebanyak 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dianalisis mencakup karakteristik pasien (jenis kelamin dan usia), jumlah obat yang digunakan, serta jenis dan golongan obat antihipertensi dan antidiabetes untuk mengidentifikasi potensi interaksi berdasarkan mekanisme farmakodinamik dan farmakokinetik. Tingkat keparahan interaksi serta hubungan antara jumlah, jenis, dan kombinasi obat terhadap kejadian interaksi diuji menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 responden laki-laki (55%) dan 18 perempuan (45%) dengan kelompok usia terbanyak 60–69 tahun 16 responden (40%), diikuti 70–79 tahun 15 responden (36%) dan 80–90 tahun 9 responden (23%). Sebagian besar menggunakan dua obat 23 responden (58%), diikuti tiga obat 14 responden (35%) dan empat obat 3 responden (8%), dengan Amlodipin 14 responden (35%) serta Candesartan 10 responden (25%) sebagai antihipertensi, dan Metformin 21 responden (52,5%) sebagai antidiabetes utama. Kombinasi Amlodipin–Metformin 9 responden (22,5%) paling sering menimbulkan interaksi, diikuti Candesartan–Insulin Aspart 7 responden (15%) serta Furosemide–Glimepiride 4 responden (10%). 23 responden (58%) mengalami interaksi obat dengan mekanisme farmakodinamik 17 responden (73,9%) dan farmakokinetik 6 responden (26,1%), seluruhnya pada tingkat keparahan sedang (moderate). Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jumlah obat (p = 0,003), jenis/golongan obat (p < 0,001), dan kombinasi obat (p < 0,001) terhadap kejadian interaksi, sedangkan usia (p = 0,408) dan jenis kelamin (p = 0,318) tidak memiliki hubungan signifikan. Kesimpulan: Di RSUD Lahat, interaksi obat pada pasien lansia yang menderita hipertensi dan diabetes melitus sangat tinggi, dan ini dipengaruhi oleh jumlah dan kombinasi obat yang diberikan.
HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI LANJUT USIA PUSKESMAS SUKARAMI PALEMBANG warnis, Minda; tedi, Tedi; Maryanti, Lilis; Afriyanti, Rini
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v8i1.3733

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Lansia memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi, dan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Persepsi lansia sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya karena dapat meningkatkan motivasi pengobatan dan meningkatkan kepatuhan minum obat untuk mencapai keberhasilan terapi sehingga tekanan darah terkontrol dan tidak terjadi komplikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi lanjut usia Puskesmas Sukarami kota Palembang. Metode: Jenis penelitan non-ekperimen dengan rancangan analitik Cross-Sectional. Sampel yang digunakan seluruh pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukarami kota Palembang sebanyak 121 responden menggunakan teknik total sampling, dan dilakukan wawancara serta pengisian kuesioner. Hasil: Mayoritas responden pada usia 55-78 tahun, didominasi perempuan (64,5%) dengan pendidikan terakhir SMA (57,9%). Lamanya menderita pada 1-10 tahun, sebesar (89,3%) ≤ 5 tahun dan amlodipine sebagai terapi tunggal terbanyak dalam pengobatan. Uji Chi-Square nilai P-Value = (0,000 ≤ 0,05) menunjukkan Ho ditolak, yang artinya ada hubungan secara signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi. Kesimpulan: Ada hubungan secara signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Sukarami kota Palembang. Kata kunci : Hipertensi, kepatuhan minum obat, lansia, persepsi ABSTRACT Background: Older adults are at a higher risk of developing hypertension and often demonstrate low levels of medication adherence. Older adults’ perceptions play a crucial role in influencing their health status, as they can enhance treatment motivation and improve adherence to antihypertensive medication, thereby contributing to therapeutic success, optimal blood pressure control, and the prevention of complications. This study aimed to examine the relationship between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication among older adults attending the Sukarami Primary Health Center in Palembang City. Methods: This study employed a non-experimental design with a cross-sectional analytic approach. The sample consisted of all elderly patients with hypertension attending Sukarami Primary Health Center in Palembang City, totaling 121 respondents, selected using a total sampling technique. Data were collected through interviews and the administration of questionnaires. Results: The majority of respondents were aged 55–78 years, predominantly female (64.5%), with the highest level of education being senior high school (57.9%). Most respondents had been diagnosed with hypertension for 1–10 years, with 89.3% having a disease duration of ≤5 years. Amlodipine was the most commonly used single-agent therapy. The Chi-square test yielded a p-value of 0.000 (p ≤ 0.05), indicating that the null hypothesis was rejected, which suggests a statistically significant association between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication. Conclusion: There is a statistically significant association between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication at Sukarami Primary Health Care Center, Palembang City. Keywords : Hypertension, medication adherence, older adults, perceptions
Hubungan Kejadian DRP dan Outcome Klinis Pasien Pediatri Vinando, Vinando; Simanjuntak, Nerly Juli Pranita; Bangar, Roy Indrianto
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v8i1.3741

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyakit kompleks yang sering dialami oleh anak-anak adalah penyakit saluran pernafasan. Tenaga kesehatan sering mengalami masalah dalam pelayanan kesehatan seperti pemberian dosis obat yang tepat, sediaan obat yang tepat, dan lain sebagainya. Sehingga menyebabkan suatu kejadian yang mengganggu hasil kesehatan penyakit saluran napas yang berhubungan dengan pengobatan yang diberikan sering dikaitkan dengan masalah terkait obat atau dikenal dengan Drug Related Problems (DRP). Drug Related Problems (DRP) mempunyai pengaruh terhadap outcome klinis terapi pasien. Sehingga peneliti ingin meninjau lebih lanjut kemungkinan kejadian DRP yang dapat terjadi serta melakukan evaluasi hubungan kejadian DRP dengan hasil klinis pada pasien pediatric yang menderita penyakit saluran pernafasan pada instalasi rawat inap. Metode: Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dan dilakukan teknik total sampling dalam pengambilan sampe dimana sampel yang diambil hanya memenuhi kriteria inklusi. Setelah dilakukan pengambilan sampel dianalisis DRP berdasarkan pedoman American Society of Health Pharmacist (ASHP). Jumlah DRP yang didapatkan dikorelasikan dengan hasil klinis pasien menggunakan uji statistic. Uji statistic yang digunakan adalah metode chi-square dan didapatkan nilai p-value untuk mengetahui signifikansi kedua hubungan tersebut. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan jumlah kasus yang sesuai dengan syarat inklusi adalah 114 kasus. Jumlah kejadian DRP adalah 445 dari keseluruhan dimana setiap DRP yang ada terhitung satu. Uji chi-square didapatkan nilai p-value dengan hasil 0.000 yang menandakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah DRP dengan penurunan outcome klinis yang diterima pasien. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah DRP dengan penurunan hasil klinis ehingga perlu dilakukan peninjauan kembali oleh tenaga kefarmasian untuk mendapatkan outcome klinis yang baik oleh pasien.
The PROFIL PERESEPAN OBAT ISPA NON-PNEUMONIA DALAM PELAYANAN MTBS DI PUSKESMAS PENGANDONAN KOTA PAGAR ALAM Astuti, Vera; Solikhah, Mar'atus; Tedi, Tedi; Anis, Delvi
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v8i1.3746

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) non-pneumonia pada balita merupakan kasus yang sering ditemukan di layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peresepan obat ISPA non-pneumonia pada balita dalam pelayanan MTBS di Puskesmas Pengandonan Kota Pagar Alam. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data rekam medis 87 pasien balita. Analisis meliputi karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin), jenis dan bentuk sediaan obat, penggunaan antibiotik, serta ketepatan dosis. Hasil: Mayoritas pasien berusia 3–5 tahun (70,11%) dan berjenis kelamin perempuan (60,92%). Jenis obat yang paling banyak diresepkan adalah kombinasi parasetamol, CTM, dan guaifenesin (50%). Bentuk sediaan terbanyak berupa puyer (46,67%) dan sirup amoksisilin (39,39%). Penggunaan antibiotik ditemukan pada 74,71% resep, dengan ketepatan dosis sebesar 97,70% dan lama pemberian obat terbanyak selama 5 hari (81,60%). Kesimpulan: Pola peresepan secara umum telah sesuai dengan pedoman MTBS, namun penggunaan antibiotik masih tergolong tinggi