cover
Contact Name
Ferawati Suzalin
Contact Email
ferawati@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6281377677902
Journal Mail Official
jpharm@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Farmasi Jl. Sukabangun 1 No.1159, Suka Bangun, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30151
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Farmasi
ISSN : 28293711     EISSN : 28292162     DOI : https://doi.org/10.36086/jpharm.v4i2.1238
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kesehatan Farmasi JKPharm diterbitkan oleh Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Articles 136 Documents
Kepatuhan Pelaporan Obat yang Mengandung Prekursor di Apotek Kota Palembang Sumatera Selatan Rulianti, Mona Rahmi; Tedi, Tedi; Maryanti, Lilis; Natasyah, Natasyah
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i1.1688

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Kesalahan dalam proses pengelolaan obat yang mengandung prekursor dapat menjadi penyebab terjadinya penyalagunaan yang berdampak pada keselamatan pasien. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan maka Apotek perlu menerapkan proses pengelolaan obat yang mengandung prekursor yang termasuk dalam Pedoman Pengelolaan Prekursor Farmasi Dan Obat Mengandung Prekursor Farmasi. Penelitian telah dilakukan mengenai Kepatuhan Pelaporan Obat Yang Mengandung Prekursor Di Apotek Kota Palembang Sumatera Selatan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dengan cara mengisi lembar kuesioner menggunakan alat pengumpulan data berupa lembar kuisioner yang selanjutnya dianalisis berdasarkan pedoman (BPOM,2013). Hasil : Hasil penelitian pada 54 Apotek yang diteliti menunjukkan bahwa 54 (100%) Apotek sudah patuh dalam melaksanakan pencatatan pemasukan obat yang mengandung prekursor, tetapi masih terdapat Apotek yang tidak mencantumkan beberapa kelengkepan pencatatan pemasukan. 50 (92,60%) Apotek sudah patuh dalam melaksanakan pencatatan penggunaan obat yang mengandung prekursor, sedangkan 4 (7,40%) Apotek masih belum melaksanakan pencatatan penggunaan obat yang mengandung prekursor. 40 (74,07%) Apotek sudah patuh dalam melaksanakan pelaporan obat yang mengandung prekursor, tetapi masuk dalam penilaian kurang baik. Kesimpulan : Pelaksanaan pencatatan obat yang mengandung prekursor sudah baik, namun masih terdapat Apotek yang melakukan pencatatan hanya pada kartu stok, tetapi tidak pada buku khusus obat yang mengandung prekursor dan pencatatan obat yang mengandung prekursor masih tergabung dengan obat yang tidak mengandung prekursor. Pelaksanaan pelaporan obat yang mengandung prekursor masuk dalam penilaian kurang baik, Apoteker di Apotek belum melakukan pelaporan obat yang mengandung prekursor.
Profil Penggunaan Obat Pada Pasien Gout Arthritis Dengan Penyakit Penyerta Di Rumah Sakit Umum Gorontalo Nurkamiden, Firman S.; abdulkadir, widy susanti; Tululi, Rahmatiya; Jahja, Bariq; Datu, Yunita; Yambese, Alpiani; Utami, Sri
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1902

Abstract

Latar Belakang: Gout arthritis merupakan kondisi pembengkakkan pada area persendian yang disebabkan oleh tingginya tingkat asam urat pada tubuh (hiperurisemia), Faktor risiko yang mengakibatkan seseorang terkena asam urat antara lain riwayat keluarga/genetik, hipertensi, gagal ginjal, konsumsi alkohol yang berlebihan, kegemukan (obesitas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat pada pasien gout arthritis dengan penyakit penyerta dirumah sakit umum gorontalo Metode: Penelitian menggunakan teknik pengambilan data rekam medis pasien gout arthritis disertai penyakit penyerta yang dirawat diinstalasi rawat inap pada periode September – Desember 2022 Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita gout artritis terbanyak berdasarkan kelompok umur yaitu 65-74 tahun (34,8%), karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin paling banyak pada pria yaitu sebanyak 16 pasien (69,6%) sedangkan wanita 7 pasien (30,4%), kadar asam urat tinggi pada pasien pria memiliki presentase 56,6% dibandingkan dengan wanita hanya 21,7 % dan penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi dengan presentase 21,6% dengan jumlah 5 pasien. Pasien menerima berbagai obat, sebagian besar termasuk dalam golongan obat NSAID yang digunakan dengan presentase 14,9% dibandingkan dengan pengobatan gout atrithis Xanthine Oxide Inhibitor (12,3%) & Colchicine (11,6%). Kesimpulan: Pasien dengan penggunaan terapi obat gout artritis paling banyak adalah golongan NSAID dengan presentase 14,9% dan penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi dengan presentase 21,6%
Studi Penggunaan Kortikosteroid Pada Pasien Dermatitis Atopik di RSUD Toto Kabila Gorontalo Ismail, Delvita; Hiola, Faramita; Salamanya, Ahmad Hayun; Goni, Latifa
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1936

Abstract

Dermatitis atopik (DA) adalah peradangan yang terjadi pada kulit bersifat kronik dan residif, dengan gatal yang berhubungan dengan atopi. Penyakit ini selalu berhubungan dengan tingginya serum IgE dan adanya riwayat atopi, rhinitis alergi dan asma pada penderita atau keluarganya, umumnya muncul pada waktu bayi, anak-anak ataupun dewasa. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis penggunaan kortikosteroid pada pasien dermatitis atopik di RSUD Toto Kabila Provinsi Gorontalo tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode rancangan deskriptif bersifat retrospektif dan total sampling. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien dermatitis atopik di instalasi rawat jalan yang mendapat pengobatan di RSUD Toto Kabila Provinsi Gorontalo pada tahun 2022. Hasil penelitian menunjukan kejadian dermatitis atopik di RSUD Toto Kabila Provinsi Gorontalo paling banyak ditemui pada pasien pria dibandingkan dengan pasien wanita, dengan presentasi pasien laki-laki sebanyak 76% dan pasien perempauan sebanyak 24%. Penderita dermatitis atopik paling banyak ditemui pada pasien yang tergolong dalam usia lansia akhir yaitu sebanyak 23%. Penggunaan obat kortikosteroid merupakan obat yang sering digunakan dalam pengobatan dermatitis atopik. Pasien dermatitis atopik di RSUD Toto Kabila untuk pengobatannya sering menggunakan obat golongan kortikosteroid yaitu deksosimetason topikal sebanyak 41%.
Uji Kualitatif dan Kuantitatif Kandungan Nitrit pada Produk Makanan Kemasan Olahan Daging yang Beredar di Super Market Kota Jambi Zahra, Fitrah Annisa; Elisma, Elisma; Rifqi, M
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1966

Abstract

Sodium nitrite is one of the permitted food preservatives that are widely used in meat. This study aims to identify and determine the level of sodium nitrite with samples used in the form of corned beef sausage and nuggets. Identification of sodium nitrite cadarn was done by UV-Vis Spectrophotometry method. The results showed that of the 9 samples tested, all were positive for sodium nitrite. From all samples, it was found that all food samples met the standards set by the Regulation of the Head of the Food and Drug Administration Number 36 of 2013, the maximum use limit of sodium nitrite preservative in processed meat products is 30 mg/kg.
Kandungan Kadar Beta Karoten dalam Buah Melon Orange dan Hijau (Cucumis Melo Linn) Secara KCKT Mangunsong, Sonlimar -; Simamora, Sarmalina; Taswin, Muhamad; Puspita, Dinda
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1969

Abstract

Latar Belakang: Jenis melon dapat membedakan kandungan beta karoten. Betakaroten merupakan salah satu isomer dari karotenoid yang dapat ditemukan pada buah-buahan berwarna hijau tua atau kuning tua, serta sayuran, berfungsi sebagai antioksidan dan berperan dalam fungsi tubuh. Pada penelitian ini digunakan buah melon orange dan melon hijau yang diekstraksi dengan pelarut etil asetat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar beta karoten pada daging buah melon orange dan melon hijau (Cucumis melo Linn) yang dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan melakukan ekstraksi terhadap buah melon orange dan hijau selanjutnya hasil ekstrak dijadikan sebagai sampel kemudian diukur dengan cara sampel disuntik sebanyak 20 µl ke dalam alat KCKT dengan menggunakan fase gerak kloroform:methanol (95:5) dan aju alir 1,0 ml/menit dengan detektor cahaya tampak (visibel) pada panjang gelombang 450 nm. Hasil: Kadar beta karoten yang dihasilkan dari ekstrak buah melon orange sebesar 50,62 mg/100 gram dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi dan kadar beta karoten ekstrak buah melon hijau sebesar 3,6 mg/100 gram dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Kesimpulan: Kadar beta karoten pada ekstrak buah melon orange jauh lebih besar dibandingkan dengan kadar beta karoten ekstrak buah melon hijau yang diukur dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Kata kunci: Beta Karoten, Melon Orange, Melon Hijau, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.
Kajian Terapi Penggunaan Obat Pasien Glaukoma Terhadap Penurunan TIO Pada Rumah Sakit Di Provinsi Gorontalo Bumulo, Mohamad Ramdan Rahmat; Papeo, Dizky Ramadani Putri; Mubaraq, Fajar Saril; Kahar, Oktaviani; Adati, Agnesia; Wahyuni, Sri; Begali, Musdhalifah M.
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1988

Abstract

Latar Belakang: Glaukoma adalah penyakit mata dimana terjadinya kerusakan saraf optik yang disebabkan oleh hambatan pengeluaran cairan bola mata (Humor Aquous) . Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan monoterapi timolol dan terapi kombinasi timolol-acetazolamide pada pasien glaukoma di RSUD dr. Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo. Metode: Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yaitu berdasarkan data-data rekam medik yang sudah ada tanpa melakukan perlakuan ataupun wawancara langsung kepada subjek uji. Hasil: Pada pemberian monoterapi timolol diperoleh hasil pemeriksaan pertama pasien pada tahun 2020 dengan TIOD (Tekanan Intraokular Dextra ) 15,1 mmHg dan TIOS (Tekanan Intraokular Sinistra ) 16,0 mmHg, hingga pemeriksaan terakhir pasien pada tahun 2022 dengan hasil pemeriksaan TIOD 14, 1 dan TIOS 15,6, sedangkan pada pemberian terapi kombinasi timolol-acetazolamide diperoleh hasil pemeriksaan pertama pasien pada tahun 2022 dengan TIOD 31,3 mmHg dan TIOS 17,5 mmHg, hingga pemeriksaan terakhir pasien pada tahun 2022 dengan hasil pemeriksaan TIOD 24,7 dan TIOS 14,2. Kesimpulan: terjadi penurunan Tekanan Intraokular (TIO) pada pemberian monoterapi timolol dan kombinasi terapi timolol-acetazolamide, dimana penurunan tekanan intraokular yang paling signifikan adalah pada pemberian kombinasi terapi timolol dan acetazolamide.
Pengkajian Rasionalitas Antibiotika Pada Pasien Ispa Dengan Metode Gyssens Di Puskesmas Wilayah Surakarta Waty, Carolina Eka; Aditya P, Avianti Eka Dewi; Keswara, Yane Dila
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.2038

Abstract

Background: The irrational use of antibiotics in upper respiratory tract infections is one of the causes of the high rate of resistance in the community. Antibiotics are a treatment that is still often used in prescription by doctors even though most of the causes of upper respiratory tract infections are viruses. The success of ARI therapy really depends on the accuracy of using antibiotics. The purpose of this study was to evaluate the use of antibiotics with the Gyssens method in patients with ARD in outpatient pharmacy installations in the Surakarta health center. Methods: Non-experimental research with cross sectional design with retrospective data collection techniques from patient medical records at the Surakarta Regional Health Center. Results: The results showed 76.4% of the rationality of the accuracy of the use of antibiotics in patients with ARD at the outpatient pharmacy installation at the Surakarta health center and 23.6% of the use of antibiotics was irrational which consisted of inappropriate doses and intervals, and there were alternative drugs that were more effective and cheaper. Antibiotics were also incorrectly dosed by 23%. Conclusion: The rationality for the appropriate use of antibiotics in patients who met the inclusion criteria was 516 patients. The highest use of antibiotics in ISPA patients was Amoxicillin, 442 patients, namely 85.7%, the second highest was Cefadroxil, namely 8.7%, 45 people and the third highest was Cefixime, namely 3.3%, 17 people. The accuracy of antibiotic use in outpatient ISPA patients in the Surakarta regional health center using the Gysens method was 76.4%, as many as 394 people used antibiotics rationally, and the inappropriate use of antibiotics was 23.6%, consisting of 9.3% of inappropriate antibiotic use, incorrect interval 0.2%, cheap and effective alternative drugs 10.3%, alternative drugs cheaper, effective but with inappropriate dosage 3.3%, alternative cheap, effective drugs and inappropriate intervals 0.4%, alternative cheap, effective drugs and inappropriate doses and intervals of 0.2%. Keywords : Antibiotic, ISPA, Drug accuracy, Accuracy of dosage
Uji Mutu Fisik Dan Stabilitas Body Scrub Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea Canephora) Suzalin, Ferawati; Rahmania, Dhea; Wilsya, Mayaranti
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.2062

Abstract

Kopi robusta (Coffea canephora) telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya Sumatera Selatan sebagai bahan pangan, obat tradisional, dan kosmetika. Kopi robusta memiliki senyawa metabolit yang memiliki peran sebagai antioksidan dan sebagai pelembab kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Formulasi yang baik untuk membuat Body Scrub dari Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) yang telah memenuhi syarat uji mutu fisik dan stabilitas sesuai dengan standar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Eksperimental. Hasil dari penelitian akan dilakukan pengujian meliputi Uji organoleptik, Uji homogenitas, Uji daya sebar, Uji Daya Lekat, Uji jenis emulsi, Uji pH, Uji Stabilitas, dan Uji Hedonik. Hasil dari Uji Organoleptik menunjukkan bahwa masing-masing formula tidak mengalami perubahan warna, aroma dan tekstur. Hasil dari Uji Homogenitas menunjukkan tidak terlihat adanya gumpalan dan warna pada sediaan yang merata. Hasil Uji Daya Sebar menunjukkan bahwa daya sebar yang baik ada pada Formulasi III yaitu 5,1 cm. Hasil Uji Daya Lekat menunjukkan semua formulasi memenuhi syarat daya lekat yang baik. Hasil Uji Jenis Emulsi menunjukkan bahwa sediaan ini termasuk dalam Jenis emulsi Minyak dalam Air (O/W). Hasil Uji pH menunjukkan semua formula masuk dalam persyaratan Uji pH yang baik. Uji Stabilitas menunjukkan seluruh formulasi stabil dalam suhu 4°C and 40°C. Uji Hedonik menunjukkan hasil bahwa Formula III paling banyak disukai panelis. Formulasi sediaan Body Scrub Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) telah memenuhi karakteristik uji Mutu Fisik Body Scrub dan Stabilitas yang meliputi Uji Organoleptik, Uji Homogenitas, Uji Daya Sebar, Uji Daya Lekat, Uji Jenis Emulsi, Uji pH, Uji Stabilitas sediaan Body Scrub, dan Uji Hedonik.
Perbandingan Daya Hambat Antibakteri Metronidazole Tablet Dengan Nama Dagang dan Generik terhadap Bakteri Escherichia coli Bacteria Sapada, Edy; Suzalin, Ferawati; Mustika, Mustika; Asmalinda, Wita
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.2067

Abstract

Latar Belakang: Fenomena di Masyarakat perkotaan menganggap bahwa mutu obat antibiotika generik jauh dibawah obat dengan nama dagang. Metronidazole termasuk dalam golongan obat antibakteri anaerob Escherichia coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan daya hambat antibakteri Metronidazoke tablet dengan nama dagang dan generik terhadap bakteri Escherichia coli. Metode: Design penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan kelompok pembanding. Sampel dalam penelitian ini adalah sediaan tablet metronidazole. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independent adalah sediaan tablet metronidazole dan variabel dependen adalah daya hambat antibakteri Encherichia coli. Tahapanan penelitian terdiri dari pembuatan stok sampel, persiapan sampel, sterilisasi alat dan bahan dan uji aktivitas antibakteri Metronidazole Data yang didapat diolah menggunakan aplikasi SPSS dengan menerapkan pengujian One-way ANOVA. Hasil: Hasil uji dua kelompok independent didapatkan hasil p=0,385 > α. Ho gagal ditolak yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan daya hambat antibakteri yang signifikan antara tablet metronidazole generik dengan nama dagang. Hasil uji anova pada enam kelompok sampel didapatkan hasil p=0,417 > α. Ho gagal ditolak yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada daya hambat antibakteri Metronidazole tablet antara 6 kelompok obat. Kesimpulan: Metronidazole tablet baik generik maupun nama dagang memiliki daya hambat bakteri Escherichia yang tidak berbeda jauh.
FORMULASI DAN EVALUASI PASTA GIGI EKSTRAK DAUN GEDI HIJAU (Abelmoschus manihot L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI Na CMC SEBAGAI PENGIKAT Rulianti, Mona Rahmi; tedi, Tedi; Maryanti, Lilis; Oktavia, Eci
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v6i1.2194

Abstract

Latar Belakang: Pasta gigi adalah detergen kosmetik ringan yang digunakan untuk membersihkan gigi, menyegarkan napas dan melindungi permukaan gigi dari kerusakan yang disebabkan oleh bakteri mulut tanpa merusak gigi atau membran mukosa mulut. Hal yang perlu diperhatikan dalam pasta gigi yaitu sifat kekentalan sediaan atau viskositas sediaan. Penggunaan Na CMC sebagai bahan pengikat mampu menstabilkan dan mempercantik pasta gigi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Na CMC yang mampu menghasilkan sediaan pasta gigi yang stabil dan sesuai persyaratan dengan menggunakan daun gedi hijau (Abelmoschus manihot L.) sebagai zat aktifnya. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan sampel yang digunakan yaitu ekstrak daun gedi hijau (Abelmoschus manihot L.) sebagai zat aktif sebanyak 8% dengan memvariasikan Na CMC 3% dalam formula I, 4% dalam formula II dan 5% dalam formula III. Selanjutnya akan dilakukan evaluasi sediaan selama 28 hari penyimpanan suhu kamar dan 12 hari uji dipercepat (Cycling Test) meliputi pH, viskositas, tinggi busa, daya sebar, homogenitas dan perubahan warna, bau dan rasa. Hasil: Rendemen ekstrak daun gedi hijau sebesar 20,72%. Hasil evaluasi pasta gigi menunjukkan bahwa pH, tinggi busa dan daya sebar mengalami kenaikan pada kedua uji penyimpanan dan viskositas mengalami penurunan selama penyimpanan namun masih memenuhi persyaratan. Semua sediaan tergolong homogen dan tidak mengalami perubahan warna, bau dan rasa. Pasta gigi berwarna hijau, bau khas dan mint, dan rasa pedas. Kesimpulan: Ekstrak daun gedi hijau (Abelmoschus manihot L.) dapat diformulasikan menjadi sediaan pasta gigi yang stabil dan memenuhi persyaratan kestabilan fisik dengan konsentrasi Na CMC yang paling optimal pada formula II sebesar 4%. Kata Kunci: Pasta gigi, daun gedi hijau, natrium cmc, bahan pengikat, uji kestabilan fisik