cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
ISSN : -     EISSN : 26866404     DOI : -
Core Subject : Education,
Seminar nasional Pascasarjana merupakan kegiatan rutin yang dilakasanakan oleh Pascasarjana UNNES. Tahun 2018 adalah kali ke 5 pelaksanan yang diselenggarakan oleh Kampus yang telah berubah alamat dari lokasi di Kampus Bendan Ngisor berpindah di Kampus Kelud Utara III Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang. Kegiatan akademik ini merupakan kerjasama yang sinergi antar enam Kampus Pascasarjana LPTK di Indonesia.
Articles 830 Documents
Peran Media Massa dan Wanita dalam Olahraga Woodball S. M. Fernanda Iragraha; Soegiyanto Soegiyanto; Hari Setijono; Sugiharto Sugiharto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang unik dan adaptif. Munculnya era revolusi industri 4.0 dan era society atau masyarakat 5.0 membuat setiap bangsa harus menyiapkan sumber daya manusianya. Sumber daya manusia (SDM) yang disiapkan bukan saja dalam bidang pendidikan, olahraga, dan idustri tetapi hendaknya negara hadir untuk segera mundukung pembentukan dan pengembangan sumber daya manusia yang kompleks. Olahraga memiliki peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pentingnya peran olahraga dalam kehidupan, tetap membutuhkan peran media massa sebagai pengorbitnya. Media massa sebagai teks yang merepresentasikan makna, baik makna yang berasal dari realitas empiris maupun yang diciptakan oleh media. Keterlibatan wanita dalam olahraga saat ini memiliki peran yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semakin luasnya kesempatan wanita dalam kegiatan-kegiatan yang dulunya lebih didominasi oleh kaum pria. Wanita adalah bagian dari sekelompok masyarakat, sehingga sudah selayaknya wanita dijadikan objek yang penting dan pantas dilibatkan dalam olahraga apapun, seperti olahraga woodball. Bahkan dalam perhelatan Olimpiade, saat ini setiap negara diwajibkan mengirim satu atlet wanitanya untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut. Untuk mengatasi permasalahan gender dalam dunia olahraga,media massa memiliki peranan yang sangat penting untuk menjembatani ketimpangan berpikir yang ada selama ini dan olahraga woodball dapat menjadi jembatan bagi para wanita untuk aktif terlibat dan berprestasi dalam dunia olahraga.
Higher Order Thinking Skills (HOTS): Kemampuan Memecahkan Masalah, Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Seni untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 pada Era Society 5.0 Samsul Alam
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Society 5.0 muncul sebagai antisipasi terhadap tren global yang diakibatkan oleh munculnya Revolusi Industri 4.0 yang telah melahirkan berbagai macam inovasi dalam dunia industri dan masyarakat. Society 5.0 merupakan era di mana masyarakat menjadi penyeimbang antara ruang maya dan ruang nyata.Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreatif dalam pendidikan seni untuk menghadapi revolusi industri 4.0 pada era society 5.0. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan yaitu menggunakan berbagai sumber rujukan baik yag berasal dari hasil penelitian maupun hasil pemikiran penulis lainnya. Pendidikan seni harus mempersiapkan pembelajarn agar peserta didik siap dan mampu beradaptasi dengan masa depan. Peserta didik harus diajarkan cara berpikir analitis, kritis dan kreatif yang disebut Higher Order Thinking Skills. Aneka model pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan nalar kritis yaitu discovery learning, project based learning, problem based learning dan inquiry learning. Penggunaan HOTS agar merasakan langsung dunia nyata supaya mengenal berbagai permasalahan yang kompleks seperti lingkungan hidup, kesehatan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.
Supervisi Tiga Tahap Penggunaan Laboratorium IPA Strategi Praktikum Bersama Dosen, Guru dan Siswa Santiani Santiani; Endah Peniati; Ani Rusilowati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Supervisi pelaksanaan praktikum IPA di SMA s NU Palangka Raya dengan tiga tahap. Tahap pertama pra observasi dengan hasil rekomendasi kepala sekolah dan guru untuk pelaksanaan praktikum dan pengelolaan laboratorium IPA. Tahap kedua kegiatan observasi meliputi kegiatan supervisi yang diawali dengan kegiatan penataan laboratorium yang menghasilkan laboratorium IPA yang dapat digunakan untuk praktikum. Kegiatan praktikum dimulai dengan perencanaan dengan menyusun RPP praktikum yang melibatkan guru dengan kinerja perencanaan guru yang meningkat dari siklus satu ke siklus kedua. Kegiatan supervisi pelaksanaan praktikum yang diobservasi oleh peneliti menunjukan bahwa ada peningkatan kinerja guru dari praktikum pertama ke praktikum kedua. Tahap ketiga adalah wawancara pasca supervisi kepada tiga orang guru IPA dengan kesimpulan sangat terbantu dengan kegiatan ini dan mengharapkan mendapatkan pendampingan pengelolaan dan penggunaan laboratorium IPA secara berkelanjutan.
Digital Pedagogy sebagai Pendekatan Pembelajaran di Era Industri 4.0 Septi Purfitasari; Masrukhi Masrukhi; Titi Prihatin; Sungkowo Edy Mulyono
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan maraknya pemanfaatan teknologi di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Data Pustekkom Kemendikbud menunjukkan kesenjangan antara guru dan siswa dalam penggunaan teknologi dan hanya 40% guru non TIK yang siap dengan teknologi. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran lebih dimaknai secara dangkal sebatas penggunaan alat atau media, misalnya power point, internet, dan ebook. Penggunaan teknologi lebih dimanfaatkan untuk transfer of knowledge bukan transfer of values. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual mengenai digital pedagogy sebagai alternatif solusi dalam pembelajaran era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa digital pedagogy merupakan pendekatan yang tidak sekedar berbasis pada keterampilan guru menggunakan teknologi namun bagaimana guru sebagai fasilitator memanfaatkan teknologi untuk membangun kemampuan berpikir sekaligus mengembangkan aspek afektif siswa. Pembelajaran terpusat pada siswa dan pemanfaatan teknologi digunakan untuk menumbuhkan suasana belajar yang dinamis, bersifat inquiri dan siswa mengamati kemudian mengkonstruksi realitas yang ada. Hal ini akan membangun sikap kritis, rasa ingin tahu, empati, dan mengupayakan solusi atas realitas sehingga bukan sekedar membangun pengetahuan namun juga kecerdasan sosial. Dapat disimpulkan bahwa digital pedagogy dapat menjadi alternatif solusi pada pembelajaran era digital yang bertujuan menghasilkan generasi muda yang kritis, adaptif, dan memiliki kecerdasan sosial dalam menghadapi tuntutan era industri 4.0.
Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Disrupsi (Dampak dan Konsekuensi Inovasi) Siti Fitriana
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan dampak disrupsi ini sudah merambah ke semua aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan tinggi.Akibat pengaruh era disrupsi, anak-anak muda Indonesia ditengarai telah kehilangan identitas.Sementara itu menunjukkan bahwa posisi bangsa ini makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam kompetisi global terutama dalam hal pendidikan.Oleh karena itu perguruan tinggi, sebagai salah satu lembaga pendidikan, membutuhkan transformasi untuk mendukung mahasiswanya dalam pembentukan identitas.Perguruan tinggi diharapkan mampu mencari jalan keluar dan bersama-sama masyarakat menggalang upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa.Disamping itu juga diharapkan perguruan tinggi dapat meningkatkan mutu akademiknya ditengah keterbatasan sumber daya yang ada.Pendidikan tinggi diharapkan mampu menjadi ujung tombak terhadap perubahan bangsa sebenarnya sudah berlangsung sejak lama.Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat. Memposisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing.Selanjutnya dikatakan bahwa tantangannya sebagai institusi, sebagai komunitas yang kompleks, adalah belajar bagaimana bekerjasama untuk menyediakan lingkungan dimana perubahan seperti itu tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang yang menantang dan menyenangkan untuk terlibat dalam aktivitas utama di universitas, yaitu belajar.Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategiyang unggul.Untuk mewujudkannya perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi.Perguruan tinggi merupakan lembaga yang dibangun dengan komunitas akademik yang bersifat kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa. Ini yang membedakannya dengan organisasi lain. Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi pendidikan di perguruan tinggi. Salah satu contoh konsekuensi inovasi dalam pendidikan adalah pemanfaatan sarana teknokogi informasi dalam bidang pendidikan.Beberapa perguruan tinggi yang berdomisili didaerah terpencil juga belum mampu memanfaatkan program pendidikan jarak jauh padahal saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan. Adanya program SPADA yang ditawarkan pemerintah, sistem hybrid learning untuk mahasiswa PPG juga mengalami kendala.
Disposisi Matematis pada Pembelajaran Creative Problem Solving dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siti Munafiah; Rochmad Rochmad; Dwijanto Dwijanto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kreativitas matematika adalah salah satu aset terbesar suatu bangsa. Karena dengan kreatifitas dapat membantu siswa dalam menghadapi era industri 4.0 seperti saat ini. Namun faktanya, kreatifitas siswa masih kurang karena kurang mendapatkan perhatian guru dalam pembelajaran. Salah satu upaya dalam peningkatan kreatifitas matematis siswa adalah dengan disposisi matematis. Disposisi matematis merupakan nilai karakter dalam matematika dalam melihat sikap kepercayaan diri, rasa ingin tahu dan menghargai kegunaan matematika. Sehingga dengan disposisi yang baik diharapkan siswa dapat mencintai matematika dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Salah satu pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan berpikir kreatif dan disposisi siswa adalah creative problem solving karena berorientasi pada dua aspek yaitu berpikir kreatif dan pemecahan masalah.
Struktur Bahasa Indonesia dalam Gaya Berkomunikasi: Kajian Berdasarkan Ancangan Retorika Tekstual dan Aspek Kebahasaan Karangan serta Implikasinya bagi Pembelajaran Menulis di SMA Sri Wahyuni; Ida Zulaeha; Subiyantoro Subiyantoro; Hari Bhakti
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian berkaitan dengan struktur bahasa siswa SMA dalam menulis karangan yang berhubungan dengan cara berkomunikasi. Kekacauan antara struktur bahasa dan cara berkomunikasi yang bersifat verbal itu dijumpai pada karangan siswa SMA. Ketika menulis sebuah karangan sering tidak memperhatikan struktur dalam gaya berkomunikasi. Mereka cenderung mengungkapkan gagasannya dengan bebas tanpa memperhatikan aspek kebahasan dalam sebuah karangan, terutama dalam bahasa tulis. Menurut Nababan (1992:156), bahasa dan nalar menyatakan bahwa struktur bahasa menentukan struktur logika pikiran. Menurut Sapir dan Whort (Sampson, 1980:10), dunia realita manusia itu ditentukan semata-mata oleh bahasa dalam menciptakan dunia realitas bagi manusia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Ciri-ciri apakah yang menandai struktur bahasa pada bentuk ungkapan tulis Bahasa Indonesia Siswa SMAN 4 Semarang yang dikaji berdasarkan ancangan retorika tekstual dan aspek kebahasan karangan?(2) Prinsip retorika tekstual dari aspek kebahasaan karangan yang manakah yang mewarnai struktur bahasa pada bentuk ungkapan tulis Bahasa Indonesia siswa SMAN 4 Semarang? (3) Apa sajakah implikasi hasil penelitian ini bagi pembelajaran menulis pada siswa SMAN 4 Semarang yang merupakan reprensentasi bentuk ungkapan pikiran, persepsi, gagasan, dan perasaannya? Pembahasan karangan dalam ancangan retorika tekstual menganalisis karangan berdasarkan (1) prinsip prosesibilitas, (2) prinsip kejelasan, (3) prinsip ekonomi, dan (4) prinsip ekspresivitas. Pembahasan karangan dalam aspek kebahasaan menganalisis (1) struktur kalimat, (2) fungsi unsur awal kalimat, (3) ragam bahasa, (4) Ejaan, dan (5) diksi. Karangan siswa itu dihasilkan dengan menggunakan analisis ancangan retorika tekstual dan aspek kebahasaan digunakan untuk membekali siswa memiliki keterampilan menulis.
Budaya Pelayanan Keagamaan dan Budaya Mutu di Sekolah Tinggi Teologi pada Era Disrupsi Steaven Octavianus; Y L Sukestiyarno; Rusdarti Rusdarti; Suwito Eko Pramono
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era disrupsi yang ditandai oleh revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kebutuhan akan pendidikan yang bermutu menjadi tuntutan yang tinggi bagi masyarakat. Oleh sebab itu setiap perguruan tinggi di Indonesia memiliki kewajiban untuk menerapkan budaya mutu tanpa terkecuali, Hal ini juga berlaku bagi perguruan tinggi agama termasuk juga Sekolah Tinggi Teologi (STT). Salah satu tolak ukur dari ketercapaian budaya mutu adalah peringkat akreditasi yang diperoleh perguruan tinggi. Berdasarkan data akreditasi di halaman daring BAN-PT hanya sekitar 30% STT di Indonesia yang terakreditasi di atas B. Hal ini mengindikasikan belum semua STT menerapkan budaya mutu. Penelitian ini akan mempelajari faktor apa yang menjadi penyebab belum terimplementasinya budaya mutu. Setelah dilaksanakan wawancara dan observasi terhadap pengelola STT serta kajian terhadap penelitian sebelumnya mengenai budaya pelayanan di STT maka ditemukan bahwa paradigma pengelolaan menjadi penyebab belum diimplementasikannya budaya mutu.
Peningkatan Kemampuan Kreativitas Merangkai Gerakan Senam Ritmik dengan Alat Simpai melalui Media Audio Visual pada Siswa SMP Khadijah Makassar Suastika Nurafiati; M Fransazeli Makorohim; Agung Dwi Darmawan
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas merangkai gerakan senam ritmik dengan alat simpai melalaui media pembelajaran audio visual. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research dengan prosedur penelitian dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP KhadijahMakassar yang berjumlah 28 siswa. Instrument pengumpulan data berupa observasi atau pengamatan langsung menggunakan tes kreativitas dalam merangkaigerakan senam ritmik dengan alat simpai. Analisis data dengan pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan untuk menganalisa data kreativitas siswa dalam pembelajaran senam ritmik.Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan hasil penelitian yangmenunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media audio visual mulai dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kreativitas merangkai gerak senam ritmikpada siklus Iadalah kategori kreativitas rendah 57.14% dan kategori kreativitas rerata 42,85 % dari jumlah 28 jumlah siswa. Sehingga dilanjut kesiklus berikutnya yakni siklus II. Sebagai mana yang diharapkan dengan mencapai target standar kelulusan kategori baiksimpai hingga mencapai 85% atau bahkan 100% siswa yang memenuhi syarat kelulusan atau ketuntasan. Pada siklus II meningkat dengan skala kreativitas tinggi 64,28% dan skala rerata terdapat 35,71 % dari 28 jumlah siswa.
Peningkatan Kemampuan Guru SD di Kecamatan Gajah Mungkur dalam Menyusun Soal HOTS setelah Mengikuti Pelatihan Supriyadi Supriyadi; Ani Rusilowati; Wiwi Isnaeni; Rizki Winarsih
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kemampuan guru sekolah dasar dalam menyusun soal HOTS melalui pelatihan bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru sekolah dasar yang ada di kecamatan Gajah Mungkur, kota Semarang. Keterbatasan pengetahuan guru sekolah dasar mengenai perbedaan soal HOTS dan soal LOTS, ciri-ciri soal HOTS, serta cara penyusunan dan pengembangan soal HOTS menjadi masalah utama yang dibahas. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memberikan pelatihan secara langsung kepada guru sekolah dasar mengenai prosedur penyusunan dan pengembangan soal HOTS. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7 September 2019 di gedung aula C401 Pascasarjana Universitas Negeri Semarang. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan dan pelaksanaan. Hasil yang didapatkan dari pelatihan ini yaitu terjadi peningkatan pemahaman peserta mengenai perbedaan soal HOTS dan LOTS, ciri-ciri soal HOTS, serta cara penyusunan dan pengembangan soal HOTS sebesar 0,04 dengan kategori rendah.