cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 452 Documents
Analisis Interaksi Sosial Antara Tenaga Kesehatan Dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan Ahmad Hilal; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to analyze social interaction between healthcare workers and patients in healthcare services. Social interaction plays a crucial role in determining service quality and patient satisfaction. This research uses a qualitative descriptive approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The results show that effective communication, empathy, and professional attitudes of healthcare workers significantly influence patient trust and comfort. Social interaction occurs in both verbal and nonverbal forms, where clear explanations and supportive body language enhance patient understanding. However, several barriers were identified, including limited consultation time, high workload, and differences in social and cultural backgrounds. Furthermore, the findings indicate a significant relationship between the quality of social interaction and patient satisfaction, as supported by a Chi-Square analysis. Good interaction improves patient compliance, reduces anxiety, and enhances overall healthcare outcomes. Therefore, improving interpersonal communication skills among healthcare workers is essential to achieve better healthcare service quality. Keywords: Communication, Social Interaction, Patient Satisfaction, Healthcare Workers Abstrak Interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, faktor, serta dampak interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang baik ditandai dengan adanya komunikasi dua arah, empati, serta penghargaan terhadap pasien. Sebaliknya, interaksi yang kurang optimal dipengaruhi oleh beban kerja tinggi dan kurangnya pelatihan komunikasi. Dampak dari interaksi yang baik adalah meningkatnya kepuasan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas komunikasi dalam pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Komunikasi Kesehatan, Interaksi Sosial, Kepuasan Pasien, Tenaga Medis
Hubungan Beban Kerja Dengan Burnout Perawat Rsu Diponegoro Dua Satu Klaten Yosi Murtiwi; Ratna Ratna; Yeni Rusyani
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Nurses providing nursing services can experience workloads that cause stress, which can lead to burnout syndrome. The purpose of this study was to determine the relationship between workload and burnout among nurses at Diponegoro Dua Satu Klaten General Hospital. This study used a cross-sectional approach with proportional random sampling as the sampling technique. The instruments used were a workload questionnaire and a burnout questionnaire, and the analysis method employed was Kendall's tau B. The study found that 42 nurses (75%) had high workload and 36 nurses (64.3%) had low burnout. The statistical test yielded a P-value of 0.001, where P-value < α-value (0.05). The workload experienced by nurses is classified as high, while the burnout level is low; however, the burnout level falls within the low category. It is recommended that respondents establish work hour limits, take breaks when tired, and make optimal efforts in their work. Keywords: Workload, Burnout, Nurses ABSTRAK Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat menimbulkan beban kerja dan mengakibatkan stress kepada perawat yang dapat mengakibatkan burnout syndrome. Tujuan penelitian ini untuk menetahui hubungan beban kerja dengan burnout perawat RSU Diponegoro Dua Satu Klaten. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan menggunakan teknik sampling yaitu proportional random sampling, instrumen yang digunakan adalah kuesioner beban kerja dan kuesioner burnout, serta analisis yang digunakan yaitu Kendal tau B. Penelitian ini didapatkan 42 beban kerja tinggi (75%) dan 36 burnout rendah (64,3%). Hasil Uji statistik diperoleh nilai P value = 0.001 maka p value < nilai α (0.05). Beban kerja yang dialami perawat berada pada beban kerja tinggi dan tingkat burnout rendah namun untuk tingkat burnout berada dalam kategori redah. Diharapkan kepada responden agar menetapkan batasan jam bekerja, istirahat jika lelah, dan melakukan usaha yang optimal dalam pekerjaannya. Kata Kunci : Beban Kerja, Burnout, Perawat
Analisis Ketersediaan Dan Kondisi Sarana Prasarana Di Puskesmas Gotowasi Kecamatan Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur Susmito Haruna; Eyastuti Eyastuti; Sudirman Sudirman
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i2.1260

Abstract

ABSTRACT Limited infrastructure in remote community health centers remains a barrier to improving the quality of health services, while studies specifically evaluating their availability, condition, and compliance with the latest standards are still limited. This study aims to analyze the availability, condition, and compliance of infrastructure at the Gotowasi Community Health Center in South Maba District based on Ministry of Health standards. This study uses a quantitative descriptive approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The research instrument is a checklist prepared based on community health center infrastructure and facilities standards. The results show that the level of infrastructure availability is in the sufficient category with a percentage of 68%. The condition of infrastructure in general is in the sufficient to good category, with the highest scores in the electricity indicator (88%), service space (85%), and sanitation (84%), and the lowest scores in the health information system (60%) and medical waste management (63%). In addition, the analysis results show that the facilities and infrastructure do not fully meet national standards, especially in the aspects of the health information system, medical waste management, and the availability of service transportation. These findings indicate the need to prioritize strengthening information technology infrastructure, medical waste management systems, and more targeted policy and budget support to improve the quality of health services in remote areas. Keywords: Facilities And Infrastructure, Community Health Centers, Availability, Facility Condition, Health Services ABSTRAK Keterbatasan sarana prasarana di puskesmas daerah terpencil masih menjadi kendala dalam peningkatan mutu layanan kesehatan, sementara kajian yang secara spesifik mengevaluasi ketersediaan, kondisi, dan kesesuaiannya dengan standar terbaru masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan, kondisi, serta kesesuaian sarana prasarana di Puskesmas Gotowasi Kecamatan Maba Selatan berdasarkan standar Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa lembar checklist disusun berdasarkan standar sarana dan prasarana puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan sarana prasarana berada pada kategori cukup dengan persentase sebesar 68%. Kondisi sarana prasarana secara umum berada pada kategori cukup hingga baik, dengan nilai tertinggi pada indikator kelistrikan (88%), ruang pelayanan (85%), dan sanitasi (84%), serta nilai terendah pada sistem informasi kesehatan (60%) dan pengelolaan limbah medis (63%). Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa sarana dan prasarana belum sepenuhnya memenuhi standar nasional, terutama pada aspek sistem informasi kesehatan, pengelolaan limbah medis, dan ketersediaan transportasi pelayanan. Temuan ini mengindikasikan perlunya peningkatan prioritas pada penguatan infrastruktur teknologi informasi, sistem pengelolaan limbah medis, serta dukungan kebijakan dan anggaran yang lebih terarah guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di wilayah terpencil. Kata Kunci: Sarana Prasarana, Puskesmas, Ketersediaan, Kondisi Fasilitas, Pelayanan Kesehatan
Hubungan Kepemilikan Jamban Sehat Dengan Kejadian Diare Di Wilayah Pedesaan Lorensius Lonik; Djunaedi Djunaedi; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Diarrhea remains a significant public health problem in rural areas and is closely associated with environmental sanitation conditions. Ownership of healthy latrines is an important factor in preventing environmentally related diseases, including diarrhea. Limited access to proper sanitation facilities increases the risk of environmental contamination and water source pollution, facilitating the spread of diarrhea-causing microorganisms. This Community Service Program aimed to improve community knowledge regarding the importance of healthy latrine ownership and utilization as a strategy for diarrhea prevention in rural areas. The methods included health education, household sanitation observations, family assistance, and knowledge evaluations through pre-tests and post-tests. The program involved 40 household heads from a rural community. The results showed an increase in the average knowledge score from 58.5 before the intervention to 84.2 after the intervention. Furthermore, observational findings indicated that households with healthy latrines experienced lower rates of diarrhea compared to those without healthy latrines. This program positively contributed to raising community awareness regarding environmental sanitation and the importance of healthy latrine use. Sustainable efforts through education, community assistance, and multisectoral collaboration are needed to improve access to adequate sanitation in rural areas. Keywords: Healthy Latrine, Diarrhea, Environmental Sanitation, Rural Area ABSTRAK Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan di wilayah pedesaan dan berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan. Kepemilikan jamban sehat merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan penularan penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare. Kurangnya akses terhadap jamban sehat dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan sumber air sehingga mempermudah penyebaran mikroorganisme penyebab diare. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan dan penggunaan jamban sehat sebagai upaya pencegahan diare di wilayah pedesaan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, observasi kondisi sanitasi rumah tangga, pendampingan keluarga, dan evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 40 kepala keluarga di wilayah pedesaan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dari nilai rata-rata 58,5 menjadi 84,2 setelah edukasi. Selain itu, hasil observasi menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki jamban sehat cenderung memiliki riwayat kejadian diare yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi lingkungan dan penggunaan jamban sehat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui edukasi, pendampingan, dan dukungan lintas sektor untuk meningkatkan akses sanitasi yang layak di wilayah pedesaan. Kata Kunci: Jamban Sehat, Diare, Sanitasi Lingkungan, Pedesaan
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care (ANC) Arnita Rapang; Rizqy Wahyuni Imran; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is a physiological process that requires regular monitoring to detect complications that may endanger both the mother and fetus. Pregnant women's knowledge regarding danger signs during pregnancy plays an important role in increasing awareness and compliance with Antenatal Care (ANC) visits. This study aimed to determine the relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with Antenatal Care visits. This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on knowledge of pregnancy danger signs and observation sheets of ANC visit compliance based on maternal and child health records. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%. The results showed that most respondents had good knowledge levels (56%) and were compliant with ANC visits (70%). The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p < 0.05), indicating a significant relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with ANC visits. It can be concluded that better knowledge regarding pregnancy danger signs is associated with higher compliance in attending ANC visits. Therefore, health education programs should be strengthened to improve maternal awareness and utilization of ANC services. Keywords: Knowledge, Pregnancy Danger Signs, Pregnant Women, Antenatal Care, ANC Compliance ABSTRAK Kehamilan merupakan proses fisiologis yang memerlukan pemantauan secara rutin untuk mendeteksi adanya komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur melalui pelayanan Antenatal Care (ANC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan dan lembar observasi kepatuhan kunjungan ANC berdasarkan buku KIA. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 28 orang (56%) dan patuh melakukan kunjungan ANC sebanyak 35 orang (70%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan ANC. Disimpulkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan maka semakin tinggi tingkat kepatuhan dalam melakukan kunjungan ANC. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan kepada ibu hamil untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan ANC. Kata Kunci: Pengetahuan, Tanda Bahaya Kehamilan, Ibu Hamil, Antenatal Care, Kepatuhan ANC
Pengaruh Pendampingan Kehamilan Terhadap Kesiapan Persalinan Dan Perawatan Bayi Di Masa Nifas Jean Christy Ade Putri; Nur Fatimah; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pregnancy assistance is an important effort in improving maternal readiness for childbirth and postpartum infant care. Assistance provided by healthcare workers, family members, and community health volunteers can offer physical, psychological, and educational support during pregnancy. This study aimed to determine the effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and infant care during the postpartum period. This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 third-trimester pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on pregnancy assistance, childbirth readiness, and infant care readiness. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most respondents received good pregnancy assistance (64%). A total of 72% of respondents demonstrated good readiness for childbirth and infant care. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.002 (p < 0.05), indicating a significant effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and postpartum infant care. It can be concluded that pregnancy assistance positively influences maternal readiness for childbirth and infant care during the postpartum period. Keywords: Pregnancy Assistance, Childbirth Readiness, Infant Care, Postpartum Period, Pregnant Women ABSTRAK Pendampingan kehamilan merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan dan masa nifas. Pendampingan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga, maupun kader kesehatan dapat memberikan dukungan fisik, psikologis, dan informasi kesehatan yang dibutuhkan selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendampingan kehamilan terhadap kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pendampingan kehamilan dan kesiapan persalinan serta perawatan bayi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh pendampingan kehamilan yang baik sebanyak 32 responden (64%). Sebanyak 36 responden (72%) memiliki kesiapan persalinan dan perawatan bayi yang baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pendampingan kehamilan dengan kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas. Disimpulkan bahwa pendampingan kehamilan berpengaruh positif terhadap kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dan merawat bayi setelah melahirkan. Kata Kunci: Pendampingan Kehamilan, Kesiapan Persalinan, Perawatan Bayi, Masa Nifas, Ibu Hamil
Analisis Risiko Perdarahan Postpartum Akibat Atonia Uteri Pada Ibu Pasca Persalinan Jean Christy Ade Putri; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Postpartum hemorrhage remains one of the leading causes of maternal mortality worldwide. Uterine atony is the most common cause of postpartum hemorrhage due to the inability of the uterus to contract effectively after delivery. This condition can result in excessive blood loss and may threaten maternal survival if not managed promptly and appropriately. This study aimed to analyze the risk of postpartum hemorrhage caused by uterine atony among postpartum mothers. This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. A total of 45 postpartum mothers were selected through purposive sampling. Data were collected from medical records and observation sheets. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a 95% confidence level. The results showed a significant relationship between risk factors for uterine atony and the occurrence of postpartum hemorrhage (p=0.002). The dominant risk factors included prolonged labor, multiparity, multiple pregnancy, and fetal macrosomia. Mothers with these risk factors had a greater likelihood of experiencing postpartum hemorrhage than those without such risk factors. In conclusion, uterine atony is a major contributing factor to postpartum hemorrhage. Early detection and proper management of risk factors are essential to prevent complications and reduce maternal mortality. Keywords: Postpartum Hemorrhage, Uterine Atony, Postpartum Mothers, Risk Factors, Maternal Health ABSTRAK Perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia. Atonia uteri menjadi penyebab paling sering terjadinya perdarahan postpartum karena kegagalan uterus berkontraksi secara adekuat setelah persalinan. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar yang berpotensi mengancam keselamatan ibu apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko perdarahan postpartum akibat atonia uteri pada ibu pasca persalinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 45 ibu pasca persalinan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko atonia uteri dengan kejadian perdarahan postpartum (p=0,002). Faktor risiko yang paling dominan adalah persalinan lama, multiparitas, kehamilan ganda, dan makrosomia. Ibu dengan faktor risiko tersebut memiliki kemungkinan lebih besar mengalami perdarahan postpartum dibandingkan ibu tanpa faktor risiko. Disimpulkan bahwa atonia uteri merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya perdarahan postpartum. Deteksi dini dan penanganan faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian ibu. Kata Kunci: Perdarahan Postpartum, Atonia Uteri, Ibu Pasca Persalinan, Faktor Risiko, Kesehatan Maternal
Analisis Pemantauan Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar Kepala, Dan Tanda Vital Pada Anak Usia 0–5 Tahun Cakrawati R Cakrawati R; Naomi Malaha
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Monitoring children's growth and health status is essential to ensure optimal development during the first five years of life. Anthropometric measurements such as weight, height, and head circumference, along with vital sign assessments, are important indicators for evaluating children's growth and overall health conditions. This study aimed to analyze the monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs among children aged 0–5 years. This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. The sample consisted of 50 children aged 0–5 years selected using purposive sampling. Data were collected through anthropometric measurements and vital sign examinations, including body temperature, pulse rate, respiratory rate, and blood pressure. Data were analyzed using descriptive and univariate statistical methods. The results showed that most children had normal growth status based on weight-for-age, height-for-age, and head circumference indicators. Vital sign assessments also revealed that the majority of respondents were within normal physiological ranges according to their age groups. Regular monitoring was found to be effective in identifying growth disorders and health problems at an early stage. In conclusion, routine monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs is essential to support optimal growth and development among children aged 0–5 years. Keywords: Body Weight, Height, Head Circumference, Vital Signs, Child Growth, Early Childhood ABSTRAK Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0–5 tahun merupakan indikator penting dalam menilai status kesehatan anak. Pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara rutin diperlukan untuk mendeteksi dini gangguan pertumbuhan, perkembangan, maupun masalah kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital pada anak usia 0–5 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 50 anak usia 0–5 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan tanda vital yang meliputi suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. Analisis data dilakukan secara univariat dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status pertumbuhan dalam kategori normal berdasarkan indikator berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan lingkar kepala sesuai usia. Hasil pemeriksaan tanda vital juga menunjukkan sebagian besar responden berada dalam rentang normal sesuai kelompok usia. Pemantauan rutin terbukti penting dalam mendeteksi gangguan kesehatan dan pertumbuhan anak sejak dini. Disimpulkan bahwa pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara berkala sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak usia 0–5 tahun. Kata Kunci: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, tanda vital, anak usia dini, pertumbuhan anak
Hubungan Pemahaman Aspek Legal Keperawatan Dengan Kualitas Pelayanan Keperawatan Anak Marlin Eppang; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pediatric nursing care is an essential component of healthcare services that requires both clinical competence and an adequate understanding of legal nursing aspects. A good understanding of legal aspects enables nurses to provide care in accordance with professional standards, ethical principles, and applicable regulations, thereby improving the quality of nursing services. This study aimed to determine the relationship between nurses' understanding of legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care. This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 40 nurses working in pediatric wards and selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on legal nursing knowledge and observation sheets assessing the quality of pediatric nursing care. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%. The results showed that most respondents had a good understanding of legal nursing aspects (60%). Good quality pediatric nursing care was found among 67.5% of respondents. Statistical analysis revealed a p-value of 0.002 (p < 0.05), indicating a significant relationship between understanding legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care. It can be concluded that a better understanding of legal nursing aspects is associated with improved quality of pediatric nursing care. Therefore, strengthening legal nursing education is essential to enhance service quality and patient safety. Keywords: Legal Aspects Of Nursing, Service Quality, Pediatric Nursing Care, Nurses, Healthcare Services ABSTRAK Pelayanan keperawatan anak merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang memerlukan kompetensi klinis dan pemahaman aspek legal keperawatan. Pemahaman aspek legal yang baik dapat membantu perawat melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar profesi, kode etik, dan peraturan yang berlaku sehingga kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang bertugas di ruang perawatan anak dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pemahaman aspek legal keperawatan dan lembar observasi kualitas pelayanan keperawatan anak. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman aspek legal keperawatan dalam kategori baik sebanyak 24 responden (60%). Kualitas pelayanan keperawatan anak dalam kategori baik ditemukan pada 27 responden (67,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak. Disimpulkan bahwa semakin baik pemahaman perawat mengenai aspek legal keperawatan, maka semakin baik pula kualitas pelayanan keperawatan anak yang diberikan kepada pasien. Kata Kunci: Aspek Legal Keperawatan, Kualitas Pelayanan, Keperawatan Anak, Perawat, Pelayanan Kesehatan
Pengaruh Pelatihan Basic Life Support (BLS) Terhadap Kesiapsiagaan Perawat Dalam Penanganan Henti Jantung Djunaedi Djunaedi; Marlin Eppang
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Cardiac arrest is a life-threatening emergency that requires immediate and appropriate intervention to improve patient survival. Nurses, as frontline healthcare providers, play a crucial role in initiating resuscitation through Basic Life Support (BLS). BLS training is essential to enhance nurses’ knowledge, skills, and preparedness in managing cardiac arrest cases. This study aimed to determine the effect of Basic Life Support (BLS) training on nurses’ preparedness in handling cardiac arrest. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 40 nurses selected using purposive sampling. Data were collected using preparedness questionnaires and BLS skill observation sheets before and after training. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%. The results showed that the mean preparedness score increased from 65.20 ± 8.14 before training to 84.75 ± 6.32 after training. The Paired Sample t-Test yielded a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect of BLS training on nurses’ preparedness in managing cardiac arrest. In conclusion, BLS training is effective in improving nurses’ preparedness and should be conducted regularly as part of professional competency development programs. Keywords: Basic Life Support, BLS, Nurse Preparedness, Cardiac Arrest, Emergency Training ABSTRAK Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera dan tepat untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang sering berada di garis depan pelayanan memiliki peran penting dalam melakukan tindakan resusitasi awal melalui Basic Life Support (BLS). Pelatihan BLS diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi kasus henti jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan Basic Life Support (BLS) terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kesiapsiagaan dan lembar observasi keterampilan BLS sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kesiapsiagaan perawat sebelum pelatihan adalah 65,20 ± 8,14 dan meningkat menjadi 84,75 ± 6,32 setelah pelatihan. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pelatihan Basic Life Support terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung. Disimpulkan bahwa pelatihan BLS efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan perawat sehingga perlu dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pengembangan kompetensi tenaga kesehatan. Kata Kunci: Basic Life Support, BLS, Kesiapsiagaan Perawat, Henti Jantung, Pelatihan Kegawatdaruratan